2 Timotius 1:3-18
Ucapan syukur dan nasihat untuk bertekun
1:3-18
3Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. 4Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. 5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. 6Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. 7Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. 8Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. 9Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman 10dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. 11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. 12Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan. 13Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. 14Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita. 15Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes. 16Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. 17Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku. 18Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.
Penjelasan:
1. Pendahuluan: Tidak Semua Harta Berbentuk Uang
Shalom! Selamat hari Minggu bagi seluruh jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan,
Kalau kita mendengar kata harta, biasanya pikiran kita langsung tertuju pada uang, emas, tanah, rumah, kendaraan, deposito, atau mungkin warisan keluarga.
Ada orang yang begitu rajin menjaga hartanya. Pintu rumah dikunci, pagar dipasang, kamera pengawas dinyalakan, bahkan uang disimpan di beberapa tempat supaya aman.
Tetapi ada satu pertanyaan penting: Apakah kita juga serajin itu menjaga iman, keluarga, karakter, dan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita?
Ada orang yang kalau kehilangan dompet langsung panik. Kartu ATM hilang, langsung telepon bank. HP hilang, seluruh keluarga ikut mencari. Tetapi kalau doa mulai hilang, ibadah mulai ditinggalkan, dan hubungan dengan Tuhan mulai renggang, kadang-kadang kita masih bisa berkata, “Ah, nanti saja. Tuhan pasti mengerti.”
Memang Tuhan mengerti. Tetapi jangan sampai kita memakai pengertian Tuhan sebagai alasan untuk mengabaikan tanggung jawab kita.
Bayangkan kalau ada seorang bapak berkata kepada istrinya, “Ma, saya titip uang belanja untuk seminggu.”
Istrinya menjawab, “Baik, Pa.”
Tiga hari kemudian, uangnya habis untuk membeli barang yang tidak direncanakan. Ketika ditanya, jawabannya, “Tenang, Pa. Uang itu sudah saya kelola dengan penuh iman!”
Jemaat tertawa, tetapi sang suami mungkin tidak ikut tertawa.
Sebab iman bukan berarti kita boleh mengabaikan tanggung jawab. Iman justru membuat kita semakin bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepada kita.
Demikian juga dengan firman Tuhan hari ini. Rasul Paulus menulis kepada Timotius, anak rohaninya, agar ia memelihara harta yang indah yang telah dipercayakan kepadanya.
Harta itu bukan terutama kekayaan materi. Harta itu adalah Injil, iman, kasih karunia, panggilan pelayanan, dan tanggung jawab untuk hidup setia kepada Kristus.
Dan firman ini sangat relevan bagi kita, baik sebagai anggota jemaat, orang tua, pemuda, remaja, pelayan khusus, maupun setiap orang yang dipercaya memegang tanggung jawab dalam gereja dan masyarakat.
2. Latar Belakang Firman: Paulus, Timotius, dan Harta yang Harus Dijaga
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Surat 2 Timotius merupakan surat yang sangat pribadi. Paulus menulis kepada Timotius, seorang pelayan muda yang dibimbingnya dalam pelayanan Injil. Paulus sedang menghadapi penderitaan dan pemenjaraan. Ia tahu bahwa perjalanan pelayanan tidak selalu mudah.
Karena itu, Paulus menguatkan Timotius supaya tidak takut, tidak malu memberitakan Injil, dan tidak meninggalkan kebenaran yang sudah dipercayakan kepadanya.
Dalam ayat 14, Paulus memberikan pesan yang menjadi pusat khotbah kita:
“Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.”
Perhatikan tiga hal penting dari firman ini.
Ada harta yang dipercayakan. Injil, iman, karunia, panggilan, dan tanggung jawab pelayanan bukan sesuatu yang boleh diperlakukan sembarangan.
Ada tanggung jawab untuk memelihara. Kita bukan pemilik mutlak atas karunia dan jabatan pelayanan. Kita adalah orang-orang yang dipercaya Tuhan untuk mengelolanya.
Ada pertolongan Roh Kudus. Kita tidak menjaga iman hanya dengan kekuatan sendiri. Roh Kudus menolong kita agar tetap setia kepada Kristus.
Harta rohani ini tidak cukup hanya disimpan dalam hati. Harta itu harus terlihat melalui perkataan, tindakan, cara kita memperlakukan sesama, dan kesetiaan kita dalam pelayanan.
Mari kita belajar dari firman Tuhan melalui empat pesan utama.
3. Pesan Pertama: Peliharalah Iman yang Diwariskan kepada Kita
Bacaan: 2 Timotius 1:3-5
Paulus mengenang iman Timotius yang tulus. Ia juga mengingat iman yang hidup dalam diri Lois, nenek Timotius, dan Eunike, ibunya.
Ini mengingatkan kita bahwa iman sering kali bertumbuh melalui kesaksian orang-orang terdekat.
Ada seorang ibu yang mungkin tidak pernah kuliah teologi, tidak pernah berdiri di mimbar besar, dan tidak pernah menulis buku rohani. Namun, setiap pagi ia berdoa untuk anak-anaknya. Ia mengajarkan mereka berdoa sebelum makan, menghormati orang tua, berkata jujur, dan meminta maaf ketika bersalah.
Bertahun-tahun kemudian, anak itu mungkin menjadi seorang pemimpin, pengusaha, guru, pendeta, Penatua, atau Diaken. Ia membawa nilai-nilai iman yang ditanamkan oleh ibunya sejak kecil.
Itulah harta yang indah!
Saudara-saudara, warisan iman tidak selalu ditinggalkan melalui surat wasiat. Ada warisan yang disampaikan melalui kehidupan sehari-hari.
Orang tua dapat mewariskan rumah kepada anak-anaknya, tetapi jangan lupa mewariskan iman. Rumah bisa dijual, tanah bisa dibagi, uang bisa habis, tetapi teladan iman dapat terus hidup dalam generasi berikutnya.
Kadang-kadang orang tua berkata kepada anaknya, “Nak, rajinlah ke gereja. Jangan lupa berdoa!”
Anaknya menjawab, “Iya, Ma!”
Tetapi ketika hari Minggu tiba, si anak masih tidur. Ibunya membangunkan, “Nak, ayo bangun, sudah waktunya ke gereja!”
Anaknya menjawab, “Ma, Tuhan kan Mahatahu. Tuhan pasti tahu saya percaya kepada-Nya meskipun saya tidur.”
Ibunya menjawab, “Betul, Nak. Tuhan Mahatahu. Tetapi Tuhan juga tahu sekarang kamu sedang mencari alasan!”
Jemaat tertawa, tetapi pesannya serius: iman harus dihidupi, bukan hanya diakui dengan kata-kata.
Penerapan bagi jemaat GMIM
Dalam pelayanan GMIM, keluarga merupakan tempat penting untuk menanamkan iman kepada anak-anak, remaja, pemuda, dan seluruh anggota keluarga.
Jangan sampai anak-anak lebih mengenal kata sandi Wi-Fi daripada ayat Alkitab. Jangan sampai kita hafal jadwal pertandingan sepak bola, tetapi tidak menyediakan waktu untuk berdoa bersama keluarga.
Teknologi bukan musuh iman. Namun, kita perlu memastikan bahwa teknologi tidak mengambil seluruh waktu yang seharusnya kita gunakan untuk membangun hubungan dengan Tuhan dan keluarga.
Pertanyaan untuk kita: Jika anak-anak meniru cara kita beriman, apakah mereka akan semakin dekat kepada Tuhan?
Kiranya hidup kita menjadi warisan iman yang baik bagi generasi berikutnya.
4. Pesan Kedua: Jangan Takut dan Jangan Malu Melayani Tuhan
Bacaan: 2 Timotius 1:6-12
Paulus mengingatkan Timotius untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padanya. Ia juga menegaskan bahwa Allah memberikan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban, bukan roh ketakutan (ayat 7).
Timotius tidak dipanggil untuk menjadi pelayan yang sempurna tanpa kelemahan. Ia dipanggil untuk setia menggunakan karunia yang diberikan Tuhan.
Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan gereja kita.
Dalam beberapa waktu terakhir, jemaat-jemaat GMIM melaksanakan pemilihan Pelayan Khusus dan komisi pelayanan kategorial untuk periode 2027-2031. Berbagai pemberitaan mengenai proses pemilihan di jemaat-jemaat, termasuk GMIM Zaitun Lowian dan GMIM Petra Poopoh, menunjukkan bahwa kehidupan bergereja melibatkan partisipasi dan kepercayaan jemaat.
Momentum ini mengajak kita merenungkan satu hal: dipilih untuk melayani bukan sekadar mendapat jabatan, melainkan menerima kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Bagi Penatua dan Diaken yang terpilih, tugas pelayanan bukan sekadar memimpin rapat, mengatur jadwal, atau hadir dalam kegiatan gereja. Tugas itu mencakup menggembalakan, memperhatikan jemaat, menguatkan yang lemah, melayani yang membutuhkan, dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi pelayan kategorial BIPRA--Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja, dan Anak--pelayanan berarti menolong setiap generasi bertumbuh dalam iman sesuai kebutuhan dan pergumulannya.
Dan bagi seluruh anggota jemaat, pelayanan tidak berhenti pada mereka yang memegang jabatan. Setiap orang mempunyai kesempatan untuk melayani.
Ada yang pandai berkhotbah. Ada yang pandai bernyanyi. Ada yang mampu mengajar anak-anak. Ada yang terampil mengatur administrasi. Ada yang memiliki hati untuk mengunjungi orang sakit. Ada juga yang tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
Semua karunia itu berharga apabila digunakan untuk memuliakan Tuhan.
Jabatan dan pelayanan
Dalam gereja, kadang-kadang orang sangat bersemangat ketika namanya disebut dalam pemilihan.
Sebelum terpilih, katanya, “Kalau Tuhan dan jemaat mempercayakan, saya siap melayani.”
Sesudah terpilih, ketika ada rapat, ia berkata, “Aduh, minggu ini saya banyak kesibukan.”
Ketika ada kunjungan kepada anggota jemaat yang sakit, ia berkata, “Mungkin minggu depan saja.”
Ketika ada kegiatan gereja, ia bertanya, “Apakah kehadiran saya wajib?”
Saudara-saudara, jangan sampai semangat kita lebih besar saat pemilihan daripada setelah menerima tanggung jawab!
Tentu saja, setiap orang mempunyai pekerjaan, keluarga, kesehatan, dan keterbatasan waktu. Tuhan tidak meminta kita melakukan segala sesuatu sekaligus. Namun, Tuhan menghendaki agar kita melayani dengan kesungguhan, kerendahan hati, dan tanggung jawab sesuai kemampuan yang diberikan-Nya.
Jabatan pelayanan bukan mahkota untuk dibanggakan, melainkan tanggung jawab untuk dijalankan.
Jangan hanya senang ketika dipercaya; bersedialah juga berkorban ketika harus menjalankan kepercayaan itu.
Penerapan praktis
Bagi para calon dan pelayan khusus GMIM, mari kita bertanya:
Apakah saya siap melayani orang yang berbeda pendapat dengan saya?
Apakah saya tetap rendah hati ketika dipuji?
Apakah saya tetap setia ketika tidak mendapat pujian?
Apakah saya melayani demi Kristus atau demi pengakuan manusia?
Paulus sendiri mengalami penderitaan, tetapi ia tidak malu karena Injil. Ia tahu kepada siapa ia percaya.
Demikian juga kita. Ketika pelayanan terasa berat, ingatlah bahwa kita tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai dan Roh Kudus menolong kita.
5. Pesan Ketiga: Peliharalah Integritas dan Jangan Mengkhianati Kepercayaan
Bacaan: 2 Timotius 1:13-14
Paulus meminta Timotius berpegang pada ajaran yang sehat dan memelihara harta yang indah yang dipercayakan kepadanya.
Artinya, pelayanan harus dijalankan berdasarkan iman dan kasih kepada Kristus. Bukan berdasarkan kepentingan pribadi, persaingan, atau keinginan untuk mendapatkan kehormatan.
Dalam kehidupan bergereja, integritas sangat penting. Jemaat bukan hanya mendengarkan apa yang disampaikan pelayannya dari mimbar. Jemaat juga memperhatikan bagaimana pelayannya menjalani kehidupan sehari-hari.
Jika seorang pelayan mengajarkan kejujuran, tetapi ia sendiri tidak jujur, maka kesaksiannya menjadi lemah. Jika ia mengajarkan kasih, tetapi gemar mempermalukan orang lain, maka kata-katanya kehilangan kekuatan. Jika ia mengajarkan kerendahan hati, tetapi tidak mau menerima kritik, maka ia perlu kembali merenungkan firman Tuhan.
Kita semua bisa melakukan kesalahan. Pelayan Tuhan juga manusia yang memiliki kelemahan. Namun, orang yang berintegritas tidak menutupi kesalahan dengan kebohongan. Ia bersedia mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan meminta pengampunan.
Tuhan tahu isi hati
Ada seorang anggota jemaat yang berkata kepada temannya, “Saya ini orang yang sangat jujur. Kalau berjanji kepada Tuhan, saya selalu menepatinya.”
Temannya bertanya, “Contohnya?”
Ia menjawab, “Setiap malam saya berdoa, ‘Tuhan, besok saya akan lebih sabar.’”
Temannya bertanya lagi, “Lalu bagaimana hasilnya?”
Ia menjawab, “Nah, itu masalahnya. Besoknya selalu ada orang yang menguji kesabaran saya!”
Jemaat tertawa.
Saudara-saudara, memang mudah berjanji untuk menjadi lebih baik. Tantangannya adalah menjalankan janji itu ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak sependapat, menghadapi tekanan, atau mengalami kekecewaan.
Integritas bukan berarti kita tidak pernah marah. Integritas berarti kita belajar mengendalikan kemarahan. Integritas bukan berarti kita tidak pernah gagal. Integritas berarti kita tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk terus hidup dalam kesalahan.
Menghubungkan firman dengan pelayanan GMIM
Dalam proses pemilihan Pelayan Khusus untuk periode 2027-2031, jemaat memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang diharapkan mampu melayani dengan setia.
Karena itu, siapa pun yang terpilih perlu mengingat bahwa suara jemaat bukan sekadar angka dalam pemilihan. Di balik kepercayaan itu terdapat harapan agar gereja semakin bertumbuh dalam iman, kasih, persatuan, dan kesaksian.
Sebaliknya, mereka yang belum terpilih juga tetap mempunyai tempat penting dalam pelayanan. Tidak terpilih menjadi Penatua atau Diaken bukan berarti tidak berharga di hadapan Tuhan.
Jangan sampai sesudah pemilihan, orang yang berbeda pilihan menjadi saling menjauh. Jangan sampai pertemanan yang sudah terjalin bertahun-tahun rusak hanya karena hasil pemilihan tidak sesuai harapan.
Kita boleh memiliki pilihan yang berbeda, tetapi kita tetap dipanggil untuk mengasihi dalam Kristus.
Gereja bukan tempat untuk membuktikan siapa yang paling hebat. Gereja adalah tempat kita bersama-sama memuliakan Tuhan.
Pemilihan boleh selesai, tetapi persaudaraan Kristen tidak boleh berakhir.
Mari kita menjaga perkataan, menghindari fitnah, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas, dan tidak menggunakan media sosial untuk merendahkan sesama.
Harta yang indah itu harus dijaga, bukan hanya melalui pengajaran yang benar, tetapi juga melalui perilaku yang benar.
6. Pesan Keempat: Jadilah Seperti Onesiforus, yang Setia Menolong dan Menguatkan
Bacaan: 2 Timotius 1:15-18
Di bagian akhir bacaan ini, Paulus menyebut dua gambaran yang berbeda.
Ada orang-orang yang berpaling darinya, termasuk Figelus dan Hermogenes. Namun, Paulus juga mengenang Onesiforus, yang tidak malu mengunjunginya ketika ia berada di penjara dan berusaha mencarinya di Roma.
Onesiforus menunjukkan bahwa kesetiaan tidak hanya tampak ketika keadaan menyenangkan. Kesetiaan justru terlihat ketika orang yang kita bantu sedang mengalami kesulitan.
Mudah menemani orang yang sedang sukses. Mudah berfoto bersama orang yang sedang terkenal. Mudah memberikan ucapan selamat kepada orang yang sedang menerima penghargaan.
Tetapi apakah kita bersedia hadir ketika seseorang sakit, kehilangan pekerjaan, mengalami masalah keluarga, atau sedang menghadapi masa sulit?
Onesiforus memberikan teladan bahwa pelayanan bukan hanya tentang berdiri di depan banyak orang. Pelayanan juga tentang datang kepada satu orang yang sedang membutuhkan penguatan.
Menghubungkan firman dengan berita dan kehidupan masyarakat
Kita dapat melihat bentuk pelayanan yang konkret dalam kehidupan jemaat dan masyarakat Minahasa.
Ada pemberitaan tentang Dukcapil Minahasa Selatan yang mencatat empat pasangan suami istri di Gereja GMIM Betlehem Sidate. Peristiwa seperti ini mengingatkan kita bahwa pelayanan gereja juga bersentuhan dengan kehidupan keluarga, pencatatan administrasi, dan kepastian status sipil.
Ketika gereja dan pemerintah bekerja sesuai kewenangannya untuk membantu keluarga memperoleh dokumen yang diperlukan, kehidupan masyarakat dapat menjadi lebih tertib dan hak-hak warga lebih terlindungi.
Tentu saja, pelayanan pastoral gereja dan pencatatan sipil pemerintah memiliki fungsi yang berbeda. Namun, keduanya dapat saling melengkapi demi kebaikan keluarga dan masyarakat.
Di sisi lain, pemberitaan mengenai ajakan mendoakan Minahasa Utara di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan serta krisis pangan mengingatkan kita bahwa iman tidak boleh terpisah dari kepedulian terhadap lingkungan dan kebutuhan dasar masyarakat.
Doa adalah kekuatan rohani yang penting. Tetapi doa juga seharusnya menggerakkan kita untuk bertindak bijaksana: menjaga lingkungan, membantu keluarga yang kesulitan, menghindari pemborosan, dan mendukung upaya masyarakat menghadapi ancaman pangan.
Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat, pengusaha kaya, atau pemimpin besar untuk melakukan sesuatu yang baik.
Jika kita mempunyai makanan lebih, kita dapat berbagi. Jika kita mempunyai waktu, kita dapat mengunjungi orang sakit. Jika kita mempunyai pengetahuan, kita dapat membantu orang lain. Jika kita mempunyai kemampuan mendengar, kita dapat menjadi teman bagi orang yang sedang mengalami kesedihan.
Itulah semangat Onesiforus.
Pelayanan yang tidak masuk kamera
Ada orang yang rajin melayani, tetapi setiap kali melakukan sesuatu, ia bertanya, “Ada yang foto tidak?”
Kalau ada foto, ia semakin bersemangat. Kalau tidak ada foto, ia mulai bertanya, “Ini kegiatan resmi atau bukan?”
Tentu saja dokumentasi kegiatan gereja tidak salah. Foto dapat menjadi kenangan dan bahan laporan pelayanan.
Tetapi saudara-saudara, jangan sampai kita hanya bersemangat melayani ketika ada kamera!
Ada pelayanan yang paling berharga justru tidak pernah masuk berita. Menolong seorang lansia menyeberang jalan, mengantar tetangga ke rumah sakit, mendengarkan curahan hati seseorang, atau memberikan makanan kepada keluarga yang kekurangan.
Mungkin manusia tidak melihat semuanya. Tetapi Tuhan melihat hati dan perbuatan kita.
Onesiforus tidak dikenal karena jabatan yang megah. Dalam bacaan ini, ia dikenang karena kesetiaannya kepada Paulus ketika Paulus membutuhkan pertolongan.
Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari gereja?” Tanyakan juga, “Apa yang bisa saya lakukan untuk menguatkan gereja dan sesama?”
Inilah harta indah yang hidup melalui kasih.
7. Pesan Khusus bagi Generasi Muda dan Seluruh Keluarga GMIM
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kita tidak boleh melupakan anak-anak, remaja, dan pemuda. Mereka bukan hanya masa depan gereja; mereka juga bagian penting dari gereja pada hari ini.
Dunia mereka berbeda dari dunia generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah media sosial, kecerdasan buatan, informasi yang bergerak cepat, serta tekanan untuk selalu terlihat berhasil.
Ada yang merasa dirinya tidak berharga karena jumlah pengikutnya sedikit. Ada yang membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain di internet. Ada yang mudah percaya berita tanpa memeriksa kebenarannya. Ada pula yang merasa kesepian meskipun setiap hari berkomunikasi dengan banyak orang.
Di tengah keadaan seperti ini, gereja mempunyai panggilan penting: menolong generasi muda mengenal identitas mereka di dalam Kristus.
Kepada para orang tua, jangan hanya bertanya kepada anak, “Sudah belajar? Sudah mengerjakan tugas? Nilaimu berapa?”
Sesekali tanyakan juga, “Bagaimana keadaan hatimu? Ada yang sedang kamu pikirkan? Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih? Mari kita berdoa bersama.”
Kepada para pelayan kategorial BIPRA, mari ciptakan ruang pelayanan yang membuat generasi muda merasa diterima, didengarkan, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk mengembangkan karunia mereka.
Jangan cepat menghakimi ketika anak muda melakukan kesalahan. Bimbinglah mereka dengan kebenaran dan kasih. Namun, kasih juga bukan berarti membiarkan semua perilaku tanpa arahan. Kasih yang sejati menolong seseorang bertumbuh menjadi lebih baik.
Kadang-kadang orang tua berkata, “Anak zaman sekarang susah sekali diajak bicara. Kalau ditanya, jawabnya cuma satu kata.”
“Bagaimana sekolah?”
“Baik.”
“Bagaimana teman-teman?”
“Baik.”
“Bagaimana masa depanmu?”
“Lihat nanti.”
Tetapi ketika HP-nya berbunyi, tiba-tiba ia bisa mengetik panjang sekali!
Jemaat tertawa.
Mungkin persoalannya bukan semata-mata anak-anak tidak bisa berbicara. Bisa jadi kita perlu belajar mendengarkan dengan lebih sabar, tanpa langsung menghakimi.
Mari kita gunakan teknologi sebagai alat untuk membangun, bukan merusak. Gunakan media sosial untuk menyebarkan pengharapan, bukan kebencian. Gunakan kecerdasan buatan untuk membantu pekerjaan dan pembelajaran, tetapi jangan menyerahkan hati nurani, kebenaran, dan tanggung jawab moral kita kepada mesin.
Harta iman harus dipelihara di tengah perubahan zaman. Caranya bukan dengan takut terhadap segala sesuatu yang baru, melainkan dengan berpegang teguh pada Kristus sambil menggunakan kemampuan kita secara bijaksana.
8. Bagaimana Kita Memelihara Harta yang Indah Itu?
Saudara-saudara, setelah mendengar firman Tuhan, mari kita membawa pulang lima komitmen praktis.
Pertama, peliharalah firman Tuhan.
Bacalah Alkitab, berdoalah, dan jadikan firman sebagai pedoman dalam mengambil keputusan. Jangan hanya mendengar firman pada hari Minggu; hiduplah berdasarkan firman itu setiap hari.
Kedua, peliharalah kasih dan persatuan.
Jangan biarkan perbedaan pilihan dalam pemilihan Pelayan Khusus merusak persaudaraan. Belajarlah menghormati, mengampuni, dan bekerja bersama.
Ketiga, peliharalah integritas.
Jadilah orang yang dapat dipercaya. Jujur dalam perkataan, bertanggung jawab dalam pekerjaan, dan konsisten antara apa yang diajarkan dengan apa yang dilakukan.
Keempat, peliharalah semangat melayani.
Jangan menunggu jabatan untuk berbuat baik. Mulailah dari keluarga, kolom, tetangga, orang sakit, orang lanjut usia, dan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Kelima, peliharalah warisan iman bagi generasi berikutnya.
Berikan teladan kepada anak-anak dan kaum muda. Ajarkan iman bukan hanya melalui nasihat, melainkan juga melalui kasih, kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian.
Ingatlah, saudara-saudara, kita tidak diminta menyimpan harta rohani itu hanya untuk diri sendiri. Kita dipanggil untuk memeliharanya dan meneruskannya kepada orang lain.
9. Penutup: Jangan Sampai Harta Itu Hilang di Tangan Kita
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Hari ini kita telah belajar dari Paulus, Timotius, dan Onesiforus.
Dari Timotius, kita belajar untuk memelihara iman yang diwariskan kepada kita.
Dari Paulus, kita belajar untuk tidak takut dan tidak malu memberitakan Injil, sekalipun menghadapi kesulitan.
Dari Onesiforus, kita belajar bahwa kesetiaan kepada Tuhan harus diwujudkan dalam kepedulian nyata kepada sesama.
Sekarang, mari kita melihat kehidupan kita masing-masing.
Kepada para orang tua, Tuhan mempercayakan keluarga. Peliharalah keluarga itu dalam kasih dan iman.
Kepada para Penatua dan Diaken, Tuhan mempercayakan pelayanan. Jalankanlah dengan ketulusan dan integritas.
Kepada seluruh anggota jemaat, Tuhan mempercayakan karunia yang berbeda-beda. Gunakanlah karunia itu untuk membangun tubuh Kristus.
Kepada pemerintah dan siapa pun yang dipercaya memegang tanggung jawab publik, prinsip yang sama juga berlaku: kepercayaan harus dijaga melalui kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Kita tidak selalu dapat menentukan berapa lama kita akan memegang sebuah jabatan. Kita juga tidak dapat memastikan berapa banyak pujian yang akan kita terima. Namun, kita dapat memilih untuk tetap setia kepada Tuhan dalam kesempatan yang diberikan kepada kita.
Suatu hari nanti, jabatan akan berakhir. Kegiatan akan selesai. Nama kita mungkin tidak lagi disebut dalam pengumuman gereja. Foto-foto pelayanan mungkin hanya menjadi kenangan.
Tetapi kasih yang kita tunjukkan, iman yang kita wariskan, orang-orang yang kita kuatkan, dan kesetiaan yang kita jalankan demi Kristus akan tetap mempunyai arti.
Penutup
Saudara-saudara, kalau kita menyimpan emas di rumah, biasanya kita ingin memastikan emas itu aman. Kita mungkin membeli brankas, memasang kunci, bahkan menyimpan kuncinya di tempat rahasia.
Tetapi untuk menjaga iman, kita tidak bisa hanya mengandalkan brankas, pagar, atau kamera pengawas.
Kita harus menjaga hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan. Sebab kadang-kadang yang paling berbahaya bagi iman bukan orang yang berada di luar rumah kita, melainkan kebiasaan buruk yang kita biarkan tinggal di dalam hati kita sendiri.
Jadi, jangan hanya rajin mengunci pintu rumah. Rajinlah juga membuka hati bagi firman Tuhan!
Jangan hanya menjaga harta yang bisa habis. Jagalah juga harta rohani yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Mari kita pulang dengan satu tekad:
Saya akan memelihara iman saya. Saya akan menjaga kepercayaan yang diberikan kepada saya. Saya akan melayani dengan kasih dan integritas. Saya akan menolong sesama. Dan dengan pertolongan Roh Kudus, saya akan meneruskan harta iman ini kepada generasi berikutnya.
Kiranya setiap jemaat GMIM menjadi jemaat yang bukan hanya ramai dalam kegiatan, tetapi juga kuat dalam iman; bukan hanya memiliki banyak pelayan, tetapi juga pelayan yang setia; bukan hanya memiliki gedung gereja yang indah, tetapi juga kehidupan yang memuliakan Tuhan.
Sebab harta yang paling indah bukanlah apa yang kita kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan iman kepada Kristus yang kita pelihara dan kesaksian kasih yang kita teruskan kepada dunia.
10. Doa Penutup
Ya Tuhan Allah, Bapa kami yang penuh kasih,
Kami bersyukur atas firman-Mu yang telah kami dengar pada hari ini. Terima kasih karena Engkau telah mempercayakan kepada kami harta yang indah, yaitu iman, Injil keselamatan, karunia, keluarga, dan kesempatan untuk melayani-Mu.
Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih sibuk mengejar harta dunia daripada memelihara hubungan kami dengan-Mu. Ampunilah kami apabila kami lebih mudah tersinggung daripada mengampuni, lebih cepat menghakimi daripada memahami, dan lebih senang menerima pujian daripada melakukan pelayanan dengan tulus.
Ya Tuhan, kuatkanlah setiap keluarga dalam jemaat GMIM. Berikan hikmat kepada orang tua untuk mendidik anak-anak dalam iman. Lindungilah anak-anak, remaja, dan pemuda agar mereka bertumbuh dalam kebenaran, kasih, dan pengharapan kepada Kristus.
Berkatilah para Pendeta, Penatua, Diaken, serta seluruh pelayan kategorial BIPRA. Bagi mereka yang menerima kepercayaan pelayanan, berikanlah kerendahan hati, keberanian, integritas, dan kesetiaan. Tolonglah mereka agar tidak melayani demi kehormatan diri sendiri, melainkan demi kemuliaan nama-Mu.
Peliharalah persatuan jemaat-Mu. Di tengah perbedaan pendapat dan pilihan, ajarlah kami untuk tetap saling mengasihi. Jauhkanlah kami dari fitnah, iri hati, kesombongan, dan perkataan yang melukai sesama.
Kami juga berdoa bagi masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara. Berikanlah hikmat kepada pemerintah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Lindungilah masyarakat dari bencana, ancaman kebakaran hutan, kekurangan pangan, dan berbagai kesulitan kehidupan. Gerakkanlah hati kami agar tidak hanya berdoa, tetapi juga bersedia menolong mereka yang membutuhkan.
Ya Roh Kudus, tinggallah di dalam hati kami. Tolonglah kami memelihara harta yang indah yang telah Engkau percayakan kepada kami, sampai akhir perjalanan hidup kami.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat dan Kepala Gereja, kami berdoa.
Amin.