gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa
     

View : 95 kali
Download MP3 Music
1 Samuel 16:4-5
4Samuel melakukan seperti yang dikatakan Tuhan. Ketika ia sampai di Betlehem, para pemimpin kota menyambutnya dengan terkejut dan bertanya, “Apakah kunjungan Bapak membawa selamat?”
5Jawab Samuel, “Ya, benar. Aku datang untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Maka sucikanlah dirimu supaya dapat mengikuti upacara pengurbanan itu.” Isai dan anak-anaknya juga disuruhnya menyucikan dirinya masing-masing, dan diundangnya ke upacara itu.

Penjelasan:

Shalom, keluarga yang dikasihi Tuhan!
Bapak, ibu, opa, oma, anak-anak, pemuda dan seluruh keluarga yang diberkati Tuhan.
Malam ini kita berkumpul bukan karena kebetulan.
Ada banyak tempat yang sebenarnya bisa kita datangi.
Bisa ke warung.
Bisa ke rumah teman.
Bisa duduk di depan televisi.
Bisa main HP.
Bisa buka Facebook.
Bisa lihat YouTube.
Bahkan bisa bilang:
“Saya mau istirahat dulu, nanti saja ikut ibadah.”
Tetapi malam ini Tuhan mengingatkan kita:
“Kuduskanlah dirimu dan datanglah bersama-sama dengan Aku.”
Ini bukan hanya ajakan kepada Samuel.
Ini juga ajakan Tuhan kepada keluarga kita.
2. SAMUEL DATANG DENGAN MISI DARI TUHAN
Dalam 1 Samuel 16, Tuhan menyuruh Samuel pergi ke Betlehem.
Samuel datang bukan untuk jalan-jalan.
Bukan untuk wisata kuliner.
Bukan untuk mencari siapa yang paling ganteng di Betlehem.
Samuel datang karena ada tugas dari Tuhan.
Tuhan hendak memilih seorang raja baru bagi Israel.
Saul sudah ditolak Tuhan karena ketidaktaatannya.
Dan Tuhan berkata kepada Samuel:
“Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah.”
Artinya sederhana:
Samuel harus bergerak.
Iman tidak boleh hanya tinggal dalam pikiran.
Iman harus menghasilkan langkah.
Kadang-kadang kita berdoa:
“Ya Tuhan, pakailah saya.”
Tetapi Tuhan berkata:
“Bangun dulu dari tempat tidur!”
Kita bilang:
“Tuhan, berikan saya kesempatan.”
Tuhan menjawab:
“Kesempatannya sudah ada. Tinggal datang!”
Kita sering meminta Tuhan bekerja dalam keluarga.
Tetapi Tuhan juga meminta keluarga kita bersedia berjalan bersama-Nya.
3. KEDATANGAN SAMUEL MEMBUAT ORANG BETLEHEM TAKUT
Ketika Samuel datang, tua-tua kota langsung bertanya:
“Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?”
Mengapa mereka takut?
Karena Samuel adalah nabi Tuhan.
Kedatangan seorang nabi bisa berarti Tuhan sedang menyampaikan sesuatu.
Ini menarik.
Kalau sekarang pendeta datang ke rumah kita, biasanya orang berkata:
“Pendeta, silakan masuk.”
Tetapi kalau pendeta datang sambil membawa Alkitab dan berkata:
“Saya mau bicara serius dengan keluarga ini...”
Wah!
Ada yang langsung duduk tegak.
Ada yang tiba-tiba ingat dosa lama.
Ada yang mulai melihat jam.
Ada yang berkata:
“Pak Pendeta, sebenarnya kami sehat-sehat saja!”
Hahaha!
Tetapi sesungguhnya kedatangan Tuhan memang harus membuat kita berhenti sejenak.
Tuhan datang bukan untuk menakut-nakuti kita.
Tuhan datang untuk memperbaiki hidup kita.
4. “KUDUSKANLAH DIRIMU”
Inilah inti firman Tuhan malam ini:
“Kuduskanlah dirimu.”

Apa artinya?
Kudus bukan berarti kita harus menjadi manusia yang tidak pernah salah.
Kalau menunggu kita sempurna baru boleh datang kepada Tuhan, tidak akan ada seorang pun yang bisa datang.
Kudus berarti:
memisahkan diri dari dosa dan menyerahkan hidup kepada Tuhan.
Artinya kita berkata:
“Tuhan, hidup saya milik-Mu.”
Kudus bukan hanya pakaian.
Kudus bukan hanya kelihatan baik di gereja.
Kudus juga bukan hanya rajin beribadah.
Sebab seseorang bisa duduk paling depan di gereja, tetapi hatinya paling jauh dari Tuhan.
Bisa membawa Alkitab besar.
Tetapi kalau pulang dari gereja masih suka memaki istrinya, bagaimana?
Bisa hafal banyak ayat.
Tetapi kalau di rumah anak-anak takut kepada bapaknya karena bapaknya mudah marah, ada yang perlu diperbaiki.
Bisa rajin berdoa.
Tetapi masih menyimpan kebencian kepada saudara.
Karena itu kekudusan bukan sekadar penampilan luar.
Kekudusan dimulai dari hati.
5. KELUARGA HARUS DIMULAI DARI HATI
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kalau Tuhan mengatakan:
“Kuduskanlah dirimu,”
maka pertanyaannya:
Apa yang perlu kita kuduskan?
Mungkin hati kita.
Mungkin perkataan kita.
Mungkin cara kita memperlakukan pasangan.
Mungkin hubungan kita dengan anak-anak.
Mungkin hubungan dengan orang tua.
Mungkin cara kita menggunakan uang.
Mungkin HP kita.
Nah, kalau soal HP ini agak berat.
Karena ada orang kalau HP-nya hilang:
“Tuhan, tolong saya!”
Tetapi kalau Alkitabnya hilang:
“Nanti beli lagi.”
Hahaha!
Kita bisa tiga jam memegang HP.
Tetapi lima belas menit membaca Alkitab sudah merasa sangat lama.
Ini bukan berarti HP itu dosa.
HP adalah alat.
Yang menjadi masalah adalah:
siapa yang menguasai siapa?
Apakah kita menguasai HP?
Atau HP yang menguasai kita?
6. “DATANGLAH BERSAMA-SAMA DENGAN AKU”
Samuel tidak hanya berkata:
“Kuduskanlah dirimu.”
Tetapi:
“Datanglah bersama-sama dengan aku.”
Ini sangat indah.
Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk menjadi baik.
Tuhan memanggil kita untuk berjalan bersama-Nya.
Ada perbedaan antara:
mengetahui Tuhan
dan
berjalan bersama Tuhan.
Banyak orang tahu Tuhan.
Tetapi belum tentu berjalan bersama Tuhan.
Kita tahu Tuhan mengajarkan kasih.
Tetapi apakah kita mengasihi?
Kita tahu Tuhan mengajarkan pengampunan.
Tetapi apakah kita mengampuni?
Kita tahu Tuhan mengajarkan kejujuran.
Tetapi apakah kita jujur?
Kita tahu Tuhan mengajarkan kesabaran.
Tetapi ketika anak kita melakukan kesalahan untuk kelima kalinya...
kesabaran langsung pensiun!
Hahaha!
Karena itu firman Tuhan malam ini bukan sekadar:
“Ketahuilah firman.”
Tetapi:
“Datanglah bersama-Ku.”
7. JANGAN BERJALAN SENDIRIAN
Keluarga Kristen tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Ayah berjalan dengan Tuhan.
Ibu berjalan dengan Tuhan.
Anak-anak berjalan dengan Tuhan.
Pemuda berjalan dengan Tuhan.
Opa dan oma berjalan dengan Tuhan.
Kemudian semuanya berjalan bersama-sama.
Ada keluarga yang tinggal satu rumah tetapi hidupnya seperti orang asing.
Ayah di ruang tamu.
Ibu di kamar.
Anak di kamar lain.
Semuanya memegang HP.
Tidak ada komunikasi.
Akhirnya yang paling banyak bicara di rumah adalah:
notifikasi HP!
“Hahaha!”
Padahal keluarga adalah tempat pertama kita belajar kasih.
Tempat pertama kita belajar mengampuni.
Tempat pertama kita belajar berbagi.
Tempat pertama kita belajar berdoa.
Karena itu keluarga harus kembali menjadi mezbah Tuhan.
8. KUDUS DIMULAI DARI HAL-HAL KECIL
Kadang-kadang kita berpikir kekudusan itu sesuatu yang besar.
Padahal bisa dimulai dari hal sederhana.
Misalnya:
Pertama, belajar berkata jujur.
Walaupun kejujuran itu kadang tidak enak.
Kedua, belajar meminta maaf.
Jangan merasa orang tua selalu benar.
Bapak juga bisa salah.
Ibu juga bisa salah.
Anak juga bisa salah.
Dan meminta maaf tidak membuat kita rendah.
Justru membuat kita dewasa.
Ketiga, belajar mengampuni.
Jangan simpan dendam bertahun-tahun.
Ada orang kalau ditanya:
“Kenapa kamu masih marah?”
Jawabnya:
“Sudah lama.”
“Berapa lama?”
“Dua puluh tahun.”
Waduh!
Orang yang kita benci mungkin sudah lupa.
Kita sendiri yang membawa bebannya selama dua puluh tahun.
Tuhan berkata:
Lepaskan.
Keempat, belajar berdoa bersama.
Tidak perlu panjang.
Tidak perlu memakai bahasa yang terlalu tinggi.
Yang penting keluar dari hati.
9. TUHAN TIDAK MELIHAT KITA SEPERTI MANUSIA MELIHAT
Bagian berikutnya dari kisah ini sangat penting.
Samuel nanti melihat anak-anak Isai.
Ia sempat berpikir:
“Pasti yang ini.”
Karena manusia melihat penampilan.
Tetapi Tuhan berkata bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, sedangkan Tuhan melihat hati.
Ini berarti:
Tuhan tidak tertipu oleh penampilan.
Kita bisa tampil baik di depan manusia.
Tetapi Tuhan mengetahui isi hati.
Kita bisa tersenyum di gereja.
Tetapi Tuhan tahu kalau di dalam hati kita sedang marah.
Kita bisa berkata:
“Puji Tuhan!”
Tetapi Tuhan tahu apakah pujian itu benar-benar keluar dari hati.
Karena itu kekudusan bukan soal:
“Apa kata orang tentang saya?”
Tetapi:
“Apa kata Tuhan tentang hidup saya?”
10. JANGAN MENUNGGU KELUARGA SEMPURNA
Bapak, ibu dan keluarga yang dikasihi Tuhan,
Ada orang berkata:
“Nanti kalau keluarga saya sudah baik, baru kami rajin beribadah.”
Justru terbalik.
Kita datang kepada Tuhan supaya Tuhan memperbaiki keluarga kita.
Jangan menunggu suami berubah baru kita berdoa.
Jangan menunggu istri berubah baru kita mengasihi.
Jangan menunggu anak menjadi baik baru kita mendekati mereka.
Mulailah dari diri sendiri.
Bapak berkata:
“Saya akan berubah.”
Ibu berkata:
“Saya akan berubah.”
Anak berkata:
“Saya akan berubah.”
Lalu bersama-sama berkata:
“Tuhan, berjalanlah bersama keluarga kami.”
11. ILUSTRASI SEDERHANA
Bayangkan sebuah keluarga sedang bepergian.
Ayah berkata:
“Ikuti saya.”
Anak berkata:
“Papa, kita mau ke mana?”
Papa menjawab:
“Nanti juga tahu.”
Anak bertanya:
“Jalannya jauh?”
“Nanti juga tahu.”
“Sudah dekat?”
“Nanti juga tahu.”
Hahaha!
Kadang hidup kita bersama Tuhan seperti itu.
Tuhan berkata:
“Ikut Aku.”
Kita bertanya:
“Tuhan, masa depan saya bagaimana?”
Tuhan berkata:
“Ikut Aku.”
“Masalah keluarga saya bagaimana?”
“Ikut Aku.”
“Ekonomi saya bagaimana?”
“Ikut Aku.”
“Kesehatan saya bagaimana?”
“Ikut Aku.”
Kita tidak selalu tahu jalan di depan.
Tetapi kita tahu siapa yang memimpin.
Itulah iman.
12. APA ARTINYA BAGI KELUARGA KITA?
Firman Tuhan malam ini memberikan setidaknya empat panggilan.
1. Bersihkan hati
Jangan biarkan kebencian tinggal terlalu lama.
2. Kuduskan perkataan
Jangan gunakan mulut untuk menghancurkan orang yang justru paling kita kasihi.
3. Kuduskan kehidupan keluarga
Jadikan rumah sebagai tempat kasih, bukan tempat pertengkaran.
4. Berjalan bersama Tuhan
Jangan hanya datang kepada Tuhan ketika ada masalah.
Datanglah kepada Tuhan juga ketika hidup sedang baik.
Jangan hanya berdoa:
“Tuhan, tolong saya!”
Tetapi juga:
“Tuhan, terima kasih.”
13. AJAKAN UNTUK MALAM INI
Malam ini Tuhan berkata kepada kita:
“Kuduskanlah dirimu dan datanglah bersama-sama dengan Aku.”

Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah ada sesuatu yang harus saya tinggalkan?
Apakah ada kebencian?
Apakah ada kepahitan?
Apakah ada kebiasaan buruk?
Apakah ada perkataan yang harus saya hentikan?
Apakah ada orang yang harus saya ampuni?
Apakah ada anggota keluarga yang selama ini saya abaikan?
Malam ini Tuhan memanggil kita.
Bukan untuk mempermalukan.
Tetapi untuk memulihkan.
Bukan untuk menghukum.
Tetapi untuk menyelamatkan.
Bukan untuk menjauhkan.
Tetapi untuk membawa kita berjalan bersama-Nya.
PENUTUP
Keluarga yang dikasihi Tuhan,
Samuel datang ke Betlehem membawa pesan Tuhan:
“Kuduskanlah dirimu dan datanglah bersama-sama dengan aku.”
Pesan itu masih relevan bagi keluarga kita hari ini.
Dunia semakin sibuk.
Informasi semakin banyak.
Teknologi semakin maju.
Tetapi hati manusia tetap membutuhkan Tuhan.
Rumah kita mungkin tidak besar.
Penghasilan kita mungkin tidak selalu berlebihan.
Masalah keluarga mungkin masih ada.
Tetapi kalau Tuhan hadir di dalam rumah kita, ada sesuatu yang sangat berharga:
damai.
Karena itu malam ini mari kita berkata:
Tuhan, kuduskan hati kami.
Tuhan, kuduskan perkataan kami.
Tuhan, kuduskan keluarga kami.
Tuhan, ajar kami mengampuni.
Tuhan, ajar kami mengasihi.
Dan yang terutama:
Tuhan, jangan biarkan kami berjalan sendiri.
Kami mau datang bersama-Mu.
Kiranya keluarga kita bukan hanya menjadi keluarga yang tinggal serumah, tetapi menjadi keluarga yang berjalan bersama Tuhan.
Dan kalau Tuhan berjalan bersama keluarga kita, kita tidak perlu takut menghadapi hari esok.
Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Tetapi kita tahu:
Siapa yang memegang tangan kita.
Amin.
DOA PENUTUP
Mari kita berdoa.
Tuhan Allah Bapa kami yang penuh kasih, kami bersyukur untuk firman-Mu pada malam hari ini.
Engkau mengingatkan kami melalui Samuel:
“Kuduskanlah dirimu dan datanglah bersama-sama dengan Aku.”
Tuhan, kami mengakui bahwa sering kali hati kami belum kudus.
Kami masih mudah marah.
Kami masih sulit mengampuni.
Kami masih sering berkata-kata yang menyakiti.
Kami masih sering lebih dekat dengan HP daripada dengan firman-Mu.
Ampunilah kami, Tuhan.
Kuduskan hati kami.
Kuduskan rumah tangga kami.
Kuduskan anak-anak kami.
Kuduskan para orang tua.
Kuduskan opa dan oma.
Bimbing pemuda dan anak-anak kami supaya mereka tidak tersesat dalam dunia yang semakin penuh tantangan.
Ajarlah kami menjadi keluarga yang saling mengasihi, saling menguatkan, saling mengampuni dan saling mendoakan.
Ketika kami menghadapi masalah, jangan biarkan kami berjalan sendiri.
Ketika kami menghadapi sakit, kuatkan kami.
Ketika kami menghadapi persoalan ekonomi, berikan hikmat.
Ketika kami menghadapi konflik keluarga, berikan hati yang lembut.
Dan ketika kami menerima berkat, ajarlah kami tetap rendah hati.
Tuhan, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari esok.
Tetapi malam ini kami mau berkata:
Kami mau berjalan bersama-Mu.
Pimpin keluarga kami.
Pimpin GMIM.
Pimpin gereja-Mu.
Pimpin bangsa dan negara kami.
Dan biarlah rumah kami menjadi tempat di mana nama-Mu dimuliakan.
Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan mengucap syukur.
Amin.








Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
Khotbah GMIM Minggu, 18 Oktober 2026 - BERUSAHALAH SUNGGUH-SUNGGUH SUPAYA PANGGILAN DAN PILIHANMU MAKIN TEGUH - 2 Petrus 1:3-15

Sebelum:
Khotbah GMIM Minggu, 11 Oktober 2026 - Manusia Melihat Apa Yang Di Depan Mata Tetapi Tuhan Melihat Hati - 1 Samuel 16:1-13




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(58)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2026..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,