gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa
     

View : 4269 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2026
Minggu, 4 Oktober 2026

Khotbah GMIM Minggu, 4 Oktober 2026 - Bertindaklah dengan Seksama, Karena Berlaku Curang, Memihak atau Menerima Suap Tidak Ada pada Tuhan Allah Kita - 2 Tawarikh 19:4-11
I. YOSAFAT MEMPERBAIKI KEHIDUPAN BANGSANYA, II. TUHAN TIDAK MEMILIH KASIH, III. JANGAN MEMIHAK HANYA KARENA DIA ORANG KITA, IV. BERLAKU CURANG BUKAN HANYA SOAL UANG, V. TUHAN MENUNTUT ORANG YANG MEMEGANG TANGGUNG JAWAB UNTUK BERTINDAK SEKSAMA,

2 Tawarikh 19:4-11
Yosafat mengadakan pembaruan
4Raja Yosafat bertempat tinggal di Yerusalem. Tetapi ia sering mengunjungi rakyat di seluruh negeri untuk menganjurkan mereka kembali kepada Tuhan, Allah leluhur mereka. 5Di setiap kota berbenteng di Yehuda ia mengangkat hakim-hakim, 6dan memberikan perintah ini kepada mereka, “Bertindaklah bijaksana, karena kamu menghakimi bukan atas nama manusia, melainkan atas nama Tuhan. Ia mengawasi kamu pada waktu kamu memutuskan perkara. 7Kamu harus takut kepada Tuhan, dan bertindak hati-hati, sebab Tuhan Allah kita membenci orang yang berbuat curang, yang bertindak berat sebelah atau yang menerima suap.”
8Juga di Yerusalem, Yosafat mengangkat hakim-hakim dari kalangan orang-orang Lewi, imam-imam, dan tokoh-tokoh rakyat. Mereka harus memutuskan perkara-perkara yang menyangkut pelanggaran Hukum Tuhan dan perkara-perkara lainnya. 9Kepada hakim-hakim itu Yosafat memberi perintah ini, “Jalankanlah tugasmu dengan takwa kepada Tuhan. Turutilah perintah-Nya dalam segala sesuatu yang kamu lakukan. 10Apabila rekan-rekanmu dari kota lain mengajukan kepadamu suatu perkara pembunuhan, pelanggaran hukum atau pelanggaran undang-undang, hendaklah kamu memberi petunjuk kepada mereka. Dengan begitu mereka tidak bersalah terhadap Tuhan, dan Tuhan tidak akan marah kepadamu maupun kepada mereka. Lakukanlah perintah ini, maka kamu tidak akan bersalah. 11Imam Agung Amarya kuberi kekuasaan tertinggi atas segala perkara yang menyangkut hukum-hukum agama. Zebaja anak Ismael, yaitu gubernur Yehuda, kuberi kekuasaan tertinggi atas segala perkara lain. Orang-orang Lewi bertanggung jawab menjaga agar keputusan-keputusan pengadilan dilaksanakan. Ikutilah petunjuk-petunjuk ini dan bertindaklah dengan tegas. Semoga Tuhan mendampingi orang yang berlaku adil!”

Penjelasan:

Shalom!

Jemaat Tuhan yang dikasihi Yesus Kristus.

Ada satu pertanyaan sederhana untuk kita semua pagi ini.

Kalau tidak ada yang melihat kita, apakah kita masih akan melakukan yang benar?
Kalau tidak ada atasan yang melihat, kita masih bekerja dengan jujur?
Kalau tidak ada dosen yang mengawasi, mahasiswa masih mengerjakan tugas sendiri?
Kalau tidak ada polisi di jalan, kita masih menaati aturan lalu lintas?
Kalau tidak ada orang lain yang tahu, kita masih mengembalikan uang yang bukan milik kita?

Nah, di sinilah persoalannya.

Manusia sering takut kepada kamera, tetapi lupa bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan penglihatan-Nya.

Sekarang hampir di mana-mana ada CCTV.

Di toko ada CCTV.
Di bank ada CCTV.
Di kantor ada CCTV.
Di jalan ada CCTV.
Di rumah pun kadang-kadang ada CCTV.
Tetapi ada satu “CCTV” yang paling hebat.

Mata Tuhan.

CCTV manusia bisa rusak.
Listrik bisa mati.
Kamera bisa tidak merekam.

Tetapi Tuhan melihat hati manusia.

Karena itu tema kita hari ini sangat penting:
“Bertindaklah dengan Seksama, Karena Berlaku Curang, Memihak atau Menerima Suap Tidak Ada pada Tuhan Allah Kita.”

Ini bukan hanya pesan untuk hakim.
Bukan hanya untuk pemerintah.
Bukan hanya untuk polisi.
Bukan hanya untuk pengacara.
Bukan hanya untuk orang yang mempunyai jabatan.

Ini adalah pesan untuk setiap orang percaya.

I. YOSAFAT MEMPERBAIKI KEHIDUPAN BANGSANYA

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Dalam 2 Tawarikh 19 kita bertemu dengan seorang raja bernama Yosafat.

Yosafat adalah raja Yehuda.
Ia mempunyai tanggung jawab besar.

Bukan hanya mengurus keluarganya.
Bukan hanya mengurus istana.

Tetapi ia bertanggung jawab terhadap kehidupan seluruh bangsa.

Setelah mengalami berbagai peristiwa, Yosafat melakukan pembenahan.

Ia pergi ke tengah-tengah rakyat.
Ia mengangkat hakim-hakim.
Ia memberikan perintah kepada mereka supaya menjalankan tugas dengan benar.

Menarik sekali.

Yosafat tidak hanya berkata:
“Kalian harus bekerja dengan baik!”

Tetapi ia memberikan prinsip yang jelas.

Hakim harus sadar:
“Kamu tidak mengadili untuk manusia saja. Kamu mengadili di hadapan Tuhan.”

Inilah yang membuat pelayanan berbeda.

Kalau kita bekerja hanya karena manusia melihat, maka kita akan berusaha terlihat baik.

Tetapi kalau kita bekerja karena sadar Tuhan melihat, maka kita akan berusaha benar meskipun tidak ada manusia yang melihat.

II. TUHAN TIDAK MEMILIH KASIH

Dalam ayat 7 ada pesan yang sangat kuat:
“Sebab pada TUHAN, Allah kita, tidak ada kecurangan, tidak ada keberpihakan dan tidak ada penerimaan suap.”

Ini luar biasa.

Perhatikan tiga hal:
Kecurangan.

Keberpihakan.

Suap.

Tiga hal ini sangat merusak keadilan.

Mengapa?

Karena ketika seseorang menerima suap, keputusan tidak lagi berdasarkan kebenaran.

Keputusan berdasarkan:
“Siapa yang memberi lebih banyak?”

Ada humor sedikit.

Kadang-kadang manusia berkata:
“Saya tidak bisa disuap.”

Tetapi setelah itu bertanya:
“Memangnya berapa?”

Nah!

Kalau sudah bertanya begitu, berarti masalahnya bukan lagi bisa atau tidak bisa disuap.

Masalahnya adalah harga dirinya sedang dinegosiasikan.

Jemaat tertawa, tetapi ini serius.

Karena Alkitab mengingatkan:
Tuhan tidak menerima suap.
Tuhan tidak dapat dibeli.
Tuhan tidak bisa dipengaruhi dengan uang.
Tuhan tidak bisa disogok.

Kita mungkin bisa memengaruhi manusia.

Tetapi kita tidak bisa memengaruhi Tuhan dengan cara seperti itu.

III. JANGAN MEMIHAK HANYA KARENA DIA “ORANG KITA”

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Hal kedua adalah memihak.

Ini juga persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita.

Kadang-kadang kita tidak mengatakan:
“Saya tidak adil.”

Tetapi kita berkata:
“Ah, dia kan keluarga kita.”

Atau:
“Dia teman saya.”

Atau:
“Dia orang kampung kita.”

Atau:
“Dia teman dekat saya.”

Akhirnya ketika terjadi masalah, kita tidak lagi bertanya:
“Siapa yang benar?”

Kita bertanya:
“Siapa orang kita?”

Ini berbahaya.

Sebab kebenaran akhirnya kalah dengan hubungan pribadi.

Padahal orang Kristen dipanggil bukan untuk membela orang yang salah hanya karena dia dekat dengan kita.

Kita dipanggil untuk membela kebenaran dengan kasih.

Kalau anak kita salah, jangan karena anak kita lalu kita mengatakan:

“Ah, anak saya tidak mungkin salah!”

Anak kita bisa salah.
Suami bisa salah.
Istri bisa salah.
Teman bisa salah.
Pendeta bisa salah.
Penatua bisa salah.
Diaken bisa salah.
Dosen bisa salah.
Pejabat bisa salah.
Kita semua bisa salah.

Tetapi Firman Tuhan tidak boleh kita bengkokkan hanya karena yang salah adalah orang yang kita kasihi.

IV. BERLAKU CURANG BUKAN HANYA SOAL UANG

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kalau mendengar kata curang, sering kali kita langsung berpikir tentang uang.

Padahal kecurangan jauh lebih luas.

Orang bisa curang dalam pekerjaan.

Curang dalam laporan.
Curang dalam perdagangan.
Curang dalam ujian.
Curang dalam administrasi.
Curang dalam pelayanan.

Bahkan bisa curang terhadap pasangan.

Misalnya:
“Pak, tadi saya sudah datang jam tujuh.”

Padahal baru datang jam delapan.

“Kenapa terlambat?”

“Macet, Pak.”

Padahal sebenarnya bangun kesiangan.

Hehehe.

Kadang manusia memang punya kemampuan luar biasa.

Kesalahan lima menit bisa dijelaskan lima belas menit.

Tetapi Tuhan tidak melihat alasan kita.

Tuhan melihat hati kita.

V. TUHAN MENUNTUT ORANG YANG MEMEGANG TANGGUNG JAWAB UNTUK BERTINDAK SEKSAMA

Dalam bacaan kita, Yosafat memberikan tugas kepada para hakim.

Mereka harus berhati-hati.

Mereka harus menjalankan tugas dengan benar.

Mengapa?

Karena keputusan mereka dapat menentukan kehidupan orang lain.

Ini prinsip penting.

Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula tuntutan integritasnya.

Kalau seseorang dipercaya menjadi pemimpin, ia harus lebih berhati-hati.
Kalau dipercaya mengelola uang, harus lebih jujur.
Kalau dipercaya menjadi pelayan gereja, harus lebih bertanggung jawab.
Kalau dipercaya menjadi guru atau dosen, harus adil.
Kalau dipercaya menjadi pejabat, jangan menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Kalau dipercaya menjadi orang tua, harus memberikan teladan.

Karena kepemimpinan bukan hanya soal jabatan.

Kepemimpinan adalah soal pertanggungjawaban.

VI. “BERTINDAKLAH DENGAN SEKSAMA”

Inilah inti tema kita.

Bertindaklah dengan seksama.

Artinya:
Jangan asal mengambil keputusan.
Jangan asal menuduh.
Jangan asal menyebarkan berita.
Jangan asal percaya.
Jangan asal membela.
Jangan asal menghukum.
Jangan asal menerima informasi.

Dan yang sangat penting:
Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi.

Sekarang kita hidup di zaman media sosial.

Satu berita muncul.

Belum dibaca sampai selesai.

Sudah dibagikan.

Judulnya dibaca.

Isinya tidak.
Komentarnya banyak.

Faktanya belum tentu.

Hehehe.

Kadang-kadang kita lebih cepat membagikan berita daripada membaca Alkitab.

Jempol kita lebih cepat daripada pikiran kita.

Ini juga membutuhkan prinsip:
Bertindaklah dengan seksama.

Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan:

Apakah benar?

Apakah bermanfaat?

Apakah perlu?

Apakah saya sedang menyebarkan kebenaran atau hanya menyebarkan kemarahan?

Orang Kristen tidak dipanggil untuk menjadi orang pertama yang menyebarkan berita.

Orang Kristen dipanggil untuk menjadi orang yang membawa kebenaran dan damai.

VII. TUHAN MEMERLUKAN ORANG-ORANG YANG JUJUR

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Dunia kita tidak kekurangan orang pintar.

Banyak orang pintar.
Banyak orang berpendidikan.
Banyak orang mempunyai gelar.

Tetapi dunia sangat membutuhkan orang yang jujur dan berintegritas.

Karena orang pintar tanpa kejujuran bisa menjadi masalah.

Orang berkuasa tanpa integritas bisa merugikan banyak orang.

Orang kaya tanpa hati yang benar bisa menggunakan kekayaannya untuk kepentingan yang salah.

Tetapi orang sederhana yang jujur dapat menjadi berkat.

Karena itu jangan berpikir:
“Saya hanya orang biasa.”

Tidak!

Di hadapan Tuhan, kejujuran orang biasa sangat berharga.

Seorang pedagang yang tidak mengurangi timbangan adalah kesaksian.
Seorang pegawai yang tidak mengambil uang kantor adalah kesaksian.
Seorang bendahara gereja yang transparan adalah kesaksian.
Seorang pemimpin yang tidak menyalahgunakan jabatan adalah kesaksian.
Seorang anak yang mengakui kesalahannya adalah kesaksian.
Seorang suami yang jujur kepada istrinya adalah kesaksian.
Seorang istri yang jujur kepada suaminya adalah kesaksian.

Integritas tidak selalu terlihat besar, tetapi dampaknya besar.

VIII. SUAP BISA MEMBELI KEPUTUSAN MANUSIA, TETAPI TIDAK BISA MEMBELI BERKAT TUHAN


Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Alkitab dengan tegas berkata:
Pada Tuhan tidak ada penerimaan suap.

Ini berarti kita tidak boleh berpikir:
“Yang penting saya mendapatkan keuntungan.”

Sebab keuntungan yang diperoleh dengan cara yang salah bukanlah berkat.

Kadang-kadang manusia berkata:
“Yang penting rezeki.”

Tetapi pertanyaannya:
Rezeki dari mana?

Kalau diperoleh dengan menipu?
Kalau diperoleh dengan merugikan orang?
Kalau diperoleh dengan suap?
Kalau diperoleh dengan korupsi?
Kalau diperoleh dengan memanfaatkan kelemahan orang lain?

Kita tidak boleh menyebut semua keuntungan sebagai berkat Tuhan.

Karena berkat Tuhan tidak perlu kita peroleh dengan mengorbankan kebenaran.

Tuhan tidak membutuhkan kita berbuat dosa untuk memberkati kehidupan kita.

IX. TUHAN MEMANGGIL KITA UNTUK MENJADI PEMBAWA KEADILAN


Dalam ayat-ayat berikutnya, Yosafat juga memberikan tugas kepada orang-orang Lewi, imam-imam dan kepala-kepala keluarga.

Artinya, persoalan keadilan bukan hanya urusan satu kelompok.

Semua mempunyai peran.

Demikian juga dalam kehidupan gereja.

Keadilan bukan hanya tugas pendeta.

Bukan hanya tugas penatua.

Bukan hanya tugas diaken.

Bukan hanya tugas pemerintah.

Setiap orang percaya mempunyai tanggung jawab untuk hidup benar.

Mulailah dari rumah.
Mulailah dari pekerjaan.
Mulailah dari usaha.
Mulailah dari sekolah.
Mulailah dari pelayanan.
Mulailah dari cara kita berbicara.
Mulailah dari cara kita menggunakan media sosial.
Mulailah dari hal-hal kecil.

Karena integritas besar selalu dimulai dari kejujuran kecil.

X. CONTOH SEDERHANA DALAM KEHIDUPAN JEMAAT

Mari kita lihat beberapa contoh.

1. Dalam pekerjaan
Kalau jam kerja mulai pukul 08.00, jangan baru datang pukul 08.30 lalu berkata:
“Kan yang penting saya tetap datang.”
Tidak.
Kejujuran juga menyangkut waktu.

2. Dalam usaha
Kalau barang kualitasnya biasa, jangan dikatakan kualitas super.
Jangan karena ingin untung besar lalu informasi dibuat berbeda.
Kejujuran adalah modal jangka panjang.

3. Dalam pelayanan gereja
Kalau dipercaya mengelola uang gereja, catat dengan benar.
Jangan berpikir:
“Ah, cuma sedikit.”
Seribu rupiah pun kalau bukan milik kita, tetap bukan milik kita.

4. Dalam keluarga
Jangan menuntut pasangan jujur sementara kita sendiri menyembunyikan sesuatu.
Integritas harus dimulai dari rumah.

5. Dalam kehidupan bermasyarakat
Jangan membela kesalahan teman hanya karena dia teman.
Kalau salah, katakan salah.
Tetapi katakan dengan kasih.
Karena menutupi kesalahan bukan selalu tanda kasih.
Kadang-kadang kasih justru berarti berani mengatakan:
“Saudaraku, itu tidak benar. Mari kita perbaiki.”

XI. JANGAN TAKUT BERBUAT BENAR

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kadang-kadang orang yang jujur justru dianggap bodoh.

Orang berkata:

“Kalau terlalu jujur, kapan kayanya?”

Tetapi kita harus ingat:

Tujuan hidup orang Kristen bukan sekadar menjadi kaya.

Tujuan hidup orang Kristen adalah menjadi berkat dan hidup berkenan kepada Tuhan.

Kalau kejujuran membuat kita kehilangan keuntungan tertentu, jangan langsung berpikir kita kalah.

Mungkin kita kehilangan uang.

Tetapi kita mempertahankan hati nurani.

Mungkin kita kehilangan kesempatan.

Tetapi kita mempertahankan integritas.

Mungkin kita tidak mendapatkan keuntungan hari ini.

Tetapi kita tetap mempunyai sesuatu yang sangat mahal:

nama baik dan hati yang bersih di hadapan Tuhan.

XII. PERTANYAAN UNTUK KITA SEMUA

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Apakah saya sudah bertindak dengan seksama?

Ketika mengambil keputusan, apakah saya mempertimbangkan kebenaran?

Ketika mendengar berita tentang orang lain, apakah saya memeriksa kebenarannya?

Ketika memiliki jabatan, apakah saya menggunakannya dengan benar?

Ketika memegang uang yang bukan milik saya, apakah saya menjaganya?

Ketika teman saya salah, apakah saya berani mengatakan yang benar?

Ketika ada kesempatan mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak benar, apakah saya berani berkata:

“Tidak!”

Dan pertanyaan paling penting:

Kalau tidak ada seorang pun yang melihat saya, apakah saya tetap memilih untuk melakukan yang benar karena saya tahu Tuhan melihat?

Itulah integritas.

XIII. YESUS ADALAH TELADAN KITA

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kita tidak hanya belajar tentang keadilan dari Yosafat.

Kita mempunyai teladan yang jauh lebih sempurna:

Yesus Kristus.

Yesus tidak membeli kebenaran.

Yesus tidak menjual kebenaran.

Yesus tidak memihak karena kepentingan pribadi.

Yesus tidak menggunakan kuasa-Nya untuk keuntungan diri sendiri.

Bahkan ketika diperlakukan tidak adil, Yesus tetap menjalankan kehendak Bapa.

Di kayu salib kita melihat kasih dan kebenaran bertemu.

Karena itu ketika kita berbicara tentang kejujuran, keadilan dan integritas, jangan hanya berkata:

“Saya harus menjadi orang baik.”

Tetapi katakan:

“Karena Kristus telah mengasihi saya, saya mau hidup dalam kebenaran.”

Kita tidak melakukan kebaikan supaya Tuhan mengasihi kita.

Kita melakukan kebaikan karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita.


XIV. TIGA PESAN YANG HARUS KITA BAWA PULANG

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Dari 2 Tawarikh 19:4-11, mari kita bawa pulang tiga pesan.

PERTAMA:
JANGAN CURANG

Jangan mencari keuntungan dengan cara yang salah.

Keuntungan sesaat tidak sebanding dengan rusaknya integritas.

KEDUA:
JANGAN MEMIHAK

Jangan membela kesalahan hanya karena yang salah adalah orang yang kita kenal.

Kebenaran harus lebih tinggi daripada hubungan pribadi.

KETIGA:
JANGAN MENERIMA SUAP

Jangan menjual keputusan.

Jangan menjual jabatan.

Jangan menjual kebenaran.

Karena kita hidup di hadapan Tuhan.

PENUTUP

Jemaat Tuhan yang dikasihi Yesus Kristus,

Kita hidup di dunia yang penuh dengan pilihan.

Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan:

Jujur atau curang.

Adil atau memihak.

Menolak atau menerima suap.

Membela kebenaran atau membela kepentingan.

Kadang-kadang pilihan yang benar tidak mudah.

Tetapi firman Tuhan mengingatkan:

“Pada TUHAN, Allah kita, tidak ada kecurangan, tidak ada keberpihakan dan tidak ada penerimaan suap.”

Kalau Tuhan tidak curang kepada kita,

jangan kita curang kepada sesama.

Kalau Tuhan tidak memihak secara tidak benar,

jangan kita memihak secara buta.

Kalau Tuhan tidak dapat disuap,

jangan kita menjual kebenaran demi keuntungan.

Dan kalau kita dipercaya Tuhan untuk memegang sesuatu--jabatan, pekerjaan, uang, keluarga, pelayanan, pendidikan, usaha, atau tanggung jawab apa pun--

bertindaklah dengan seksama.

Sebab mungkin manusia tidak melihat.

Tetapi Tuhan melihat.

Mungkin manusia tidak tahu.

Tetapi Tuhan tahu.

Mungkin manusia memuji kita.

Tetapi yang paling penting bukan pujian manusia.

Yang paling penting adalah ketika suatu hari kita dapat berkata:

“Tuhan, saya sudah berusaha menjalankan kepercayaan yang Engkau berikan dengan jujur.”

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Mari kita menjadi orang Kristen yang bukan hanya pandai berbicara tentang kebenaran,

tetapi hidup dalam kebenaran.

Bukan hanya mengatakan:

“Tuhan itu adil,”

tetapi kita juga menjadi orang yang adil.

Bukan hanya mengatakan:

“Tuhan itu jujur,”

tetapi kita juga hidup jujur.

Bukan hanya mengatakan:

“Tuhan tidak menerima suap,”

tetapi kita juga berani berkata:

“Tidak! Saya tidak mau menjual kebenaran.”

Dan ketika kita melakukan itu, keluarga kita akan melihat.

Anak-anak kita akan belajar.

Teman-teman kita akan merasakan.

Masyarakat akan merasakan.

Dan gereja akan menjadi kesaksian.

Sebab orang Kristen bukan hanya dipanggil untuk masuk gereja.
Orang Kristen dipanggil untuk membawa nilai-nilai Kristus keluar dari gereja.

Ke tempat kerja.

Ke pasar.

Ke sekolah.

Ke kantor.

Ke masyarakat.

Ke dunia digital.

Dan ke mana pun Tuhan mengutus kita.

Maka marilah kita pegang satu kalimat ini:

“BERTINDAKLAH DENGAN SEKSAMA, HIDUPLAH DENGAN JUJUR, DAN JANGAN PERNAH MENJUAL KEBENARAN.”

Karena kita bukan hanya hidup di hadapan manusia.

Kita hidup di hadapan Tuhan.

Amin.

DOA PENUTUP


Ya Tuhan Allah Bapa kami yang penuh kasih,

Kami bersyukur untuk firman-Mu yang kami dengarkan hari ini.

Ajarlah kami untuk bertindak dengan seksama.

Jauhkan kami dari kecurangan.

Jauhkan kami dari sikap memihak karena kepentingan pribadi.

Jauhkan kami dari godaan menerima sesuatu yang dapat membuat kami mengorbankan kebenaran.

Berikan kepada kami hati yang jujur.

Berikan kepada kami keberanian untuk mengatakan yang benar.

Ketika kami memegang jabatan, ajarlah kami bertanggung jawab.

Ketika kami memegang uang, ajarlah kami setia.

Ketika kami mengambil keputusan, ajarlah kami adil.

Ketika kami mendengar berita, ajarlah kami bijaksana.

Ketika kami berhadapan dengan orang yang salah, berikan kami keberanian untuk menegur dengan kasih.

Dan ketika tidak ada seorang pun yang melihat kami, ingatkan kami bahwa Engkau selalu melihat dan mengetahui hati kami.

Tolonglah gereja-Mu agar menjadi teladan kejujuran, keadilan dan kasih di tengah masyarakat.

Tolonglah keluarga-keluarga kami.

Tolonglah pekerjaan kami.

Tolonglah usaha kami.

Tolonglah pelayanan kami.

Jadikanlah kami umat-Mu yang bukan hanya pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi sungguh-sungguh hidup dalam kebenaran.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur.

Amin.









Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Sebelum:
Khotbah GMIM Minggu, 20 September 2026 - AKU MENGENAL DOMBA-DOMBAKU DAN DOMBA-DOMBAKU MENGENAL AKU - Yohanes 10:1-21




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(54)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2026..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,