|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
![]() |
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2026 Keluaran 18:17-18Rabu, 9 September 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 9 September 2026 - Memberi Dan Menerima Nasihat Demi Kebaikan Bersama - Keluaran 18:17-18 1. MUSA ADALAH PEMIMPIN, TETAPI BUKAN BERARTI DIA BISA MELAKUKAN SEMUANYA SENDIRIAN, 2. YITRO BERANI MEMBERIKAN NASIHAT KEPADA MUSA, 3. NASIHAT YANG BAIK LAHIR DARI KEPEDULIAN, 4. MUSA MAU MENERIMA NASIHAT, 5. MASALAH KITA: KADANG LEBIH MUDAH MEMBERI NASIHAT DARIPADA MENERIMANYA, 6. BAGAIMANA MEMBERIKAN NASIHAT?, 7. JANGAN MENJADIKAN NASIHAT SEBAGAI SENJATA, 8. BAGAIMANA MENERIMA NASIHAT? 17Kata Yitro, “Tidak baik begitu. 18Dengan cara itu engkau melelahkan dirimu sendiri, dan juga orang-orang itu. Pekerjaan itu terlalu banyak untuk satu orang. Penjelasan: Shalom, selamat malam Bapak, Ibu, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Ada satu hal yang menarik dalam kehidupan manusia. Kita senang memberi nasihat, tetapi tidak selalu senang menerima nasihat. Kalau orang lain punya masalah, kita cepat sekali punya solusi. “Kalau saya jadi dia, saya akan begini…” “Kalau saya yang mengalami, gampang itu…” “Harusnya begitu!” Tetapi ketika orang lain memberikan nasihat kepada kita: “Ah, dia tidak tahu keadaan saya!” Nah… di situ masalahnya. he he Kita kadang berpikir: “Saya ini sudah besar. Saya sudah pengalaman. Saya tahu apa yang saya lakukan.” Padahal, justru karena kita tidak bisa melihat semua sisi kehidupan kita sendiri, kita membutuhkan orang lain untuk memberikan nasihat. Bahkan orang yang hebat sekalipun membutuhkan nasihat. Musa adalah pemimpin besar bangsa Israel. Tuhan sendiri memakai Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Tetapi ternyata Musa pun membutuhkan nasihat. Dan nasihat itu datang dari Yitro, mertuanya sendiri. 1. MUSA ADALAH PEMIMPIN, TETAPI BUKAN BERARTI DIA BISA MELAKUKAN SEMUANYA SENDIRIAN Mari kita lihat situasi Musa. Bangsa Israel keluar dari Mesir. Jumlah mereka sangat banyak. Dan Musa menjadi orang yang harus menyelesaikan berbagai persoalan bangsa itu. Keluaran 18 menggambarkan bahwa dari pagi sampai petang Musa duduk untuk mengadili perkara bangsa Israel. Jadi kalau ada masalah: “Musa!” Kalau ada perselisihan: “Musa!” Kalau ada yang bingung: “Musa!” Kalau ada yang bertengkar: “Musa!” Kalau ada yang punya masalah keluarga: “Musa juga!” he he Musa menjadi seperti kantor pelayanan satu pintu. Semua urusan masuk kepada Musa. Bayangkan kalau sekarang dalam satu keluarga semua masalah harus diselesaikan oleh satu orang. Ayah harus tahu semuanya. Ibu harus tahu semuanya. Anak juga bertanya: “Papa, bagaimana?” “Ibu, bagaimana?” Akhirnya kepala keluarga bisa berkata: “Tuhan, saya siap melayani… tetapi tolong tambahkan tenaga!” he he Masalah Musa bukan karena dia malas. Justru sebaliknya. Musa terlalu sibuk melayani. Dan di sinilah kita belajar sesuatu: Kesibukan tidak selalu berarti kita sedang melakukan sesuatu dengan cara yang benar. Kadang kita sibuk karena semua pekerjaan kita ambil sendiri. Kemudian Yitro melihat apa yang dilakukan Musa. Yitro berkata dalam Keluaran 18:17-18: “Tidaklah baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang bersama-sama dengan engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri.” Perhatikan kalimat Yitro: “Tidaklah baik seperti yang kaulakukan itu.” Yitro tidak sekadar mengatakan: “Musa, kamu kelihatannya capek.” Tetapi Yitro mengatakan: “Cara seperti ini tidak baik.” Mengapa? Karena kalau Musa terus melakukan semuanya sendirian, akhirnya bukan hanya Musa yang lelah. Bangsa Israel juga akan dirugikan. Ini penting. Nasihat yang baik bukan bertujuan menjatuhkan seseorang. Nasihat yang baik bertujuan menyelamatkan seseorang dari kesalahan dan kelelahan yang tidak perlu. Yitro memberikan nasihat bukan karena membenci Musa. Justru karena Yitro peduli kepada Musa. Ini pelajaran penting bagi kita dalam keluarga. Kadang orang yang paling sering menasihati kita adalah orang yang paling peduli kepada kita. Ibu berkata: “Jangan terlalu malam tidur.” Kita jawab: “Ah, Mama cerewet!” Padahal Mama peduli. he he Istri berkata kepada suami: “Jangan terlalu banyak bekerja.” Suami menjawab: “Saya kan sedang mencari uang untuk keluarga.” Istri mungkin berkata: “Iya, tapi keluarga juga membutuhkan suami yang sehat.” he he Suami berkata kepada istri: “Jangan terlalu banyak belanja.” Istri menjawab: “Ini bukan belanja, ini kebutuhan!” he he Nah, kata “kebutuhan” itu kadang sangat luas. Tas baru kebutuhan. Sepatu baru kebutuhan. Baju baru kebutuhan. Padahal di rumah masih ada yang belum pernah dipakai. he he Tetapi di balik semua itu ada satu hal: Nasihat yang benar biasanya lahir dari kepedulian. Yang menarik bukan hanya Yitro yang memberikan nasihat. Yang lebih menarik adalah: Musa mau mendengarkan. Musa bisa saja berkata: “Yitro, jangan ikut campur. Saya ini pemimpin yang Tuhan pilih.” Musa bisa saja berkata: “Saya sudah tahu apa yang saya lakukan.” Musa bisa saja tersinggung. Tetapi Musa tidak melakukan itu. Dia mendengarkan nasihat Yitro. Ini menunjukkan bahwa: Orang besar bukan orang yang tidak membutuhkan nasihat. Orang besar adalah orang yang cukup rendah hati untuk menerima nasihat. Ini berlaku bagi semua orang. Orang tua perlu nasihat. Anak perlu nasihat. Suami perlu nasihat. Istri perlu nasihat. Pemimpin perlu nasihat. Pendeta perlu nasihat. Pelayan Tuhan perlu nasihat. Bahkan orang yang sudah tua dan berpengalaman pun tetap perlu nasihat. Karena: Pengalaman membuat kita belajar, tetapi kerendahan hati membuat kita terus belajar. Ada humor sederhana. Kalau kita memberikan nasihat: “Saya bicara demi kebaikanmu.” Tetapi kalau orang lain memberikan nasihat: “Kenapa dia mengurusi hidup saya?” 😄 Ini sering terjadi. Kita merasa: “Kalau saya yang bicara, itu nasihat.” Tetapi: “Kalau dia yang bicara, itu kritik.” Padahal mungkin sama-sama benar. Karena itu, keluarga Kristen harus belajar dua hal: Pertama: belajar memberikan nasihat. Kedua: belajar menerima nasihat. Keduanya sama penting. Tidak semua nasihat bisa diterima. Mengapa? Karena cara menyampaikan nasihat sangat menentukan. Ada orang yang sebenarnya mau memberikan nasihat, tetapi cara bicaranya seperti sedang memberikan vonis pengadilan. he he Misalnya: “Kamu memang selalu begitu!” “Dari dulu tidak pernah berubah!” “Kamu ini bagaimana sih?” Akhirnya orang yang dinasihati bukan menerima nasihat. Malah sakit hati. Karena itu, nasihat harus diberikan dengan: Kasih. Efesus 4:15 mengingatkan kita untuk mengatakan kebenaran di dalam kasih. Jadi kalau kita melihat pasangan kita melakukan kesalahan, jangan langsung menyerang. Kalau melihat anak melakukan kesalahan, jangan langsung mempermalukan. Kalau melihat saudara melakukan kesalahan, jangan langsung menyebarkannya kepada orang lain. Berbicara langsung. Dengan kasih. Dengan tujuan memperbaiki. Bukan mempermalukan. Ini juga penting. Ada orang yang ketika bertengkar, mengeluarkan semua kesalahan masa lalu. “Waktu tahun 2018 kamu juga begitu!” “Waktu tahun 2021 kamu juga begitu!” “Dan tahun lalu juga begitu!” Wah… ini bukan lagi nasihat. Ini sudah seperti membuka arsip nasional keluarga. he he Padahal masalahnya cuma karena lupa membeli gula. Tetapi semua kesalahan 10 tahun terakhir keluar. Saudara-saudara, Nasihat bukan senjata untuk menyerang. Nasihat adalah alat untuk membangun. Kalau tujuan kita hanya membuat orang merasa bersalah, itu bukan lagi nasihat yang sehat. Sekarang kita masuk kepada bagian yang tidak kalah penting. Bagaimana kita menerima nasihat? Pertama: Jangan langsung tersinggung. Ketika seseorang berkata: “Kamu sebaiknya begini…” Jangan langsung: “Memangnya kamu siapa?” he he Berhenti sebentar. Dengarkan. Pikirkan. Mungkin tidak semua nasihat benar. Tetapi tidak berarti semua nasihat harus langsung ditolak. Kita bisa berkata: “Terima kasih. Saya akan pikirkan.” Itu menunjukkan kedewasaan. 9. BELAJAR MEMBEDAKAN NASIHAT DAN KRITIK Tidak semua orang yang menegur kita sedang menjatuhkan kita. Ada kritik yang membangun. Ada juga kritik yang memang bertujuan menyakiti. Karena itu kita harus memiliki hikmat. Tanyakan: “Apakah perkataan ini benar?” “Apakah ini sesuai dengan Firman Tuhan?” “Apakah orang ini menyampaikannya karena kasih?” Kalau memang benar, jangan malu mengakuinya. Kita bisa berkata: “Ya, mungkin saya salah.” Kalimat itu sederhana. Tetapi sangat sulit bagi orang yang memiliki ego besar. Sebaliknya, orang yang rendah hati bisa mengatakan: “Saya salah. Saya perlu berubah.” Dan justru di situlah pertumbuhan terjadi. Nasihat Yitro akhirnya membawa Musa kepada satu prinsip penting: Tidak semua pekerjaan harus dilakukan oleh satu orang. Musa harus mendelegasikan tugas. Ada pemimpin atas seribu orang, seratus orang, lima puluh orang dan sepuluh orang. Dengan demikian, pekerjaan menjadi lebih ringan. Ini bukan hanya prinsip organisasi. Ini juga prinsip keluarga. Dalam keluarga jangan semua pekerjaan dibebankan kepada satu orang. Ayah jangan merasa: “Semua harus saya.” Ibu jangan merasa: “Semua pekerjaan rumah harus saya.” Anak-anak juga jangan merasa: “Itu urusan Papa Mama.” Keluarga adalah kerja bersama. Kalau satu orang terlalu berat, yang lain membantu. Kalau satu orang lelah, yang lain menguatkan. Kalau satu orang salah, yang lain menasihati. Kalau satu orang berhasil, semua bersyukur bersama. Itulah keluarga. Prinsip ini juga berlaku dalam kehidupan gereja. Tidak boleh hanya satu atau dua orang yang bekerja. Pelayanan gereja bukan milik pendeta saja. Bukan milik penatua saja. Bukan milik syamas saja. Bukan milik komisi tertentu saja. Tetapi: Pelayanan adalah tanggung jawab bersama sebagai tubuh Kristus. Ada yang bisa berkhotbah. Ada yang bisa memimpin pujian. Ada yang bisa bermain musik. Ada yang bisa mengunjungi orang sakit. Ada yang bisa mengajar anak-anak. Ada yang bisa membantu administrasi. Ada yang bisa membantu kegiatan sosial. Tidak semua orang harus melakukan pekerjaan yang sama. Tetapi semua orang bisa mengambil bagian. Kita kembali kepada perkataan Yitro: “Tidaklah baik seperti yang kaulakukan itu.” Yitro menunjukkan kepada Musa bahwa cara yang sedang dilakukan bukanlah cara yang terbaik. Dan Musa belajar. Artinya: Nasihat yang benar seharusnya membawa perubahan. Kalau setelah dinasihati kita menjadi semakin keras kepala, mungkin kita belum sungguh-sungguh mendengarkan. Tetapi kalau kita berkata: “Ternyata ada benarnya.” “Saya akan memperbaikinya.” “Saya akan mencoba cara yang lebih baik.” Itulah tanda bahwa kita sedang bertumbuh. Bapak, Ibu dan Saudara sekalian, Bayangkan kalau dalam keluarga tidak boleh ada yang menasihati. Ayah tidak boleh menasihati ibu. Ibu tidak boleh menasihati ayah. Orang tua tidak boleh menasihati anak. Anak tidak boleh mengingatkan orang tua. Akhirnya semua diam. Padahal masalah ada. Itu bukan keluarga yang sehat. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang bisa berkata: “Saya sayang kamu, karena itu saya ingin mengingatkan kamu.” Dan ketika menerima nasihat, kita bisa berkata: “Terima kasih sudah mengingatkan saya.” Di atas semua nasihat manusia, ada nasihat yang paling penting: Firman Tuhan. Manusia bisa salah. Pendapat kita bisa salah. Pendapat pasangan kita bisa salah. Pendapat orang tua bisa salah. Pendapat pemimpin bisa salah. Tetapi Firman Tuhan menjadi pedoman bagi kehidupan kita. Karena itu, ketika kita memberikan nasihat, jangan hanya berdasarkan: “Menurut saya…” Tetapi mari bertanya: “Apa yang Tuhan kehendaki?” Ketika menerima nasihat, jangan hanya bertanya: “Saya suka atau tidak?” Tetapi: “Apakah ini membawa saya lebih dekat kepada Tuhan?” 15. JANGAN MENUNGGU SAMPAI TERLAMBAT UNTUK MENDENGARKAN NASIHAT Musa beruntung. Ada Yitro yang melihat masalah sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Dalam kehidupan kita pun demikian. Kadang Tuhan menggunakan orang lain untuk mengingatkan kita. Suami bisa menjadi alat Tuhan untuk mengingatkan istri. Istri bisa menjadi alat Tuhan untuk mengingatkan suami. Orang tua bisa menjadi alat Tuhan untuk mengingatkan anak. Anak juga bisa dipakai Tuhan untuk mengingatkan orang tua. Bahkan seorang teman bisa Tuhan pakai untuk membuka mata kita. Jangan langsung berkata: “Saya tidak butuh nasihat.” Mungkin justru melalui nasihat itu Tuhan sedang berbicara kepada kita. PENUTUP Bapak, Ibu dan Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Keluaran 18:17-"18 memberikan kepada kita pelajaran yang sangat sederhana tetapi sangat dalam. Pertama, kita tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Seperti Musa, kita membutuhkan orang lain. Kedua, jangan malu menerima nasihat. Musa adalah pemimpin besar, tetapi dia tetap mau mendengar Yitro. Ketiga, berikan nasihat dengan kasih. Jangan gunakan nasihat untuk mempermalukan atau menyerang. Keempat, jangan langsung tersinggung ketika dinasihati. Dengarkan, renungkan dan uji dengan Firman Tuhan. Kelima, belajar berbagi tanggung jawab. Keluarga, gereja dan masyarakat akan menjadi lebih kuat ketika setiap orang mengambil bagian. ILUSTRASI PENUTUP Saya tutup dengan satu cerita sederhana. Ada seorang bapak yang sedang memperbaiki motornya. Istrinya melihat dan berkata: “Pak, sebaiknya dibawa ke bengkel saja.” Bapak itu menjawab: “Tidak usah. Saya bisa.” Lima menit kemudian: “Hmm… kok tidak hidup?” Istrinya berkata: “Bawa ke bengkel saja.” “Tidak usah!” Setengah jam kemudian motor masih belum hidup. Akhirnya bapak itu berkata: “Coba telepon bengkel.” 😄 Kadang kita seperti itu. Tuhan sudah memberikan orang-orang di sekitar kita untuk membantu. Tetapi kita terlalu gengsi untuk berkata: “Saya membutuhkan bantuan.” Padahal tidak ada manusia yang bisa hidup sendirian. Musa belajar dari Yitro. Dan kita juga perlu belajar. Memberi nasihat dengan kasih. Menerima nasihat dengan kerendahan hati. Dan semuanya dilakukan bukan untuk menunjukkan siapa yang paling benar, tetapi supaya: Keluarga semakin kuat. Persekutuan semakin kokoh. Pelayanan semakin baik. Dan nama Tuhan semakin dimuliakan. Kiranya dalam keluarga kita masing-masing, Tuhan memberikan hati yang rendah untuk menerima nasihat, mulut yang bijaksana untuk memberikan nasihat, dan kasih yang cukup besar untuk melakukan semuanya demi kebaikan bersama. Amin. DOA PENUTUP Tuhan Allah Bapa kami yang di surga, Kami bersyukur untuk Firman-Mu yang mengingatkan kami melalui Musa dan Yitro bahwa kami tidak dapat menjalani kehidupan ini seorang diri. Ajarlah kami untuk tidak menjadi orang yang keras hati ketika dinasihati. Berikan kami kerendahan hati untuk mengakui kesalahan kami dan keberanian untuk berubah menjadi lebih baik. Tolong kami juga agar ketika memberikan nasihat kepada pasangan, anak, orang tua, saudara dan sesama, kami melakukannya dengan kasih, bukan dengan kemarahan, kesombongan ataupun keinginan untuk menyalahkan. Berkatilah keluarga-keluarga kami. Ketika ada masalah, berikan kami hikmat. Ketika ada perbedaan, berikan kami kesabaran. Ketika ada yang lemah, ajarlah kami untuk saling menguatkan. Dan ketika kami menerima nasihat, mampukan kami melihatnya sebagai kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan-Mu. Kiranya keluarga kami menjadi tempat di mana setiap orang dapat saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling mengasihi. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: Khotbah GMIM Minggu, 13 September 2026 - HENDAKLAH KAMU SEHATI SEPIKIR DALAM SATU KASIH, SATU KASIH, SATU JIWA, SATU TUJUAN - Filipi 2:1-11 Sebelum: Khotbah GMIM Minggu, 6 September 2026 - CARILAH ORANG YANG CAKAP DAN TAKUT AKAN ALLAH - Keluaran 18:13-27 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(54) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Minggu, 4 Oktober 2026 Khotbah GMIM Minggu, 4 Oktober 2026 - Bertindaklah dengan Seksama, Karena Berlaku Curang, Memihak atau Menerima Suap Tidak Ada pada Tuhan Allah Kita - 2 Tawarikh 19:4-11 Minggu, 20 September 2026 Khotbah GMIM Minggu, 20 September 2026 - AKU MENGENAL DOMBA-DOMBAKU DAN DOMBA-DOMBAKU MENGENAL AKU - Yohanes 10:1-21 Minggu, 13 September 2026 Khotbah GMIM Minggu, 13 September 2026 - HENDAKLAH KAMU SEHATI SEPIKIR DALAM SATU KASIH, SATU KASIH, SATU JIWA, SATU TUJUAN - Filipi 2:1-11 Rabu, 9 September 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 9 September 2026 - Memberi Dan Menerima Nasihat Demi Kebaikan Bersama - Keluaran 18:17-18 Minggu, 6 September 2026 Khotbah GMIM Minggu, 6 September 2026 - CARILAH ORANG YANG CAKAP DAN TAKUT AKAN ALLAH - Keluaran 18:13-27 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,