|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2025 Minggu, 26 Januari 2025 Khotbah GMIM Minggu, 26 Januari 2025 - SAAT HIDUP BERDIAKONIALAH - Lukas 16:19-31 Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin Lukas 16:19-31 Bahasa Manado: -------------------- Prumpamaan tentang orang kaya deng Lazarus yang miskin 19Yesus se cirita lei satu prumpamaan, “Ada tu satu orang kaya yang ja pake juba warna pars deng baju dari kaeng alus. Kong tiap hari dia hidop basnang-snang deng dia pe kekayaan. 20Kong ada lei satu orang miskin tu de pe nama Lazarus. Dia itu punung skali deng kado. Orang-orang bawa pa dia di muka pintu pa tu orang kaya itu pe ruma. 21Dia lapar kong suka mo makang tu makanan yang da ciri dari pa tu orang kaya itu pe meja. Kong lei katu tu anjing-anjing datang pa dia kong jilat-jilat tu de pe kado. 22Waktu tu orang miskin itu mati, tu malaekat-malaekat bawa pa dia di sabla pa Abraham. Kong tu orang kaya itu lei mati trus orang se kubur pa dia. 23Di tampa orang mati, tu orang kaya itu siksa skali. Kong dia bahaga ka atas, trus dari jao dia lia pa Abraham kong tu Lazarus ada pa Abraham pe sabla. 24Trus dia babilang deng kuat bagini, ‘Bapak Abraham, kasiang akang dang pa kita. Suru jo pa Lazarus supaya kase colo tu de pe ujung jare ka aer, trus dia se basa akang tu kita pe lida. Soalnya kwa kita so siksa skali di dalam api ini.’ 25Mar Abraham cuma da manyao bagini, ‘Ngana inga bae-bae ne, dulu waktu ngana masi hidop, ngana so trima samua tu bagus. Mar kasiang tu Lazarus waktu dia hidop, dia cuma ja trima tu besae-besae. Kong skarang dia dapa hibur di sini, ngana dapa siksa. 26Kong lei di antara pa torang deng ngana, Tuhan da beking jurang yang pe basar deng pe dolong skali, supaya tu orang yang ada di sini nyanda dapa pigi ka sana, kong tu orang yang ada di sana nyanda dapa datang kamari.’ 27Trus tu orang kaya itu bilang lei, ‘No kalu bagitu dang, kita minta tolong pa bapak supaya bapak suru akang pa Lazarus pigi pa kita pe papa pe ruma. 28Soalnya kita masi ada lima sudara laki-laki di sana. Suru jo dang pa Lazarus pi se inga akang pa dorang for bertobat, supaya nanti dorang lei nyanda maso di tampa pendritaan ini.’ 29Mar Abraham manyao, ‘Pa dorang itu so ada kitab Taurat yang dari pa nabi Musa deng tu kitab-kitab dari nabi-nabi laeng. Jadi biar jo dorang iko apa tu da tulis di kitab-kitab itu.’ 30Tu orang kaya itu manyao, ‘Ado, itu kasiang nyanda cukup bapak Abraham. Mar kalu ada satu orang yang so mati kong dia hidop ulang trus pigi pa dorang, dorang itu mo bertobat.’ 31Mar Abraham bilang pa dia, ‘Kalu dorang nyanda mo iko tu nabi Musa deng nabi-nabi laeng da bilang, dorang lei pasti nyanda mo percaya, biar lei tu da babilang itu orang yang so mati kong hidop ulang.’ ” Bahasa Indonesia: -------------------- Orang kaya dan Lazarus yang miskin 16:19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." Penjelasan: * Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin (16:19-31) Kalau perumpamaan tentang anak yang hilang memberitakan kepada kita tentang kasih karunia Injil, yang sungguh membesarkan hati kita semua, maka perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus ini memberitahukan kita tentang murka Allah yang akan datang, dan ini dimaksudkan untuk menyadarkan kita. Mereka yang tidak mau disadarkan olehnya, akan segera terlena dalam dosa. Orang-orang Farisi mengolok-olok khotbah Kristus yang menentang hal-hal duniawi. Karena itu, perumpamaan ini dimaksudkan untuk mengingatkan si pengejek-pengejek itu supaya berhati-hati. Injil Kristus bertujuan untuk membantu kita menjadi siap untuk menerima kemiskinan dan mengalami penderitaan, dan mempersenjatai kita untuk melawan godaan duniawi dan kesenangan jasmani. Nah, perumpamaan ini, yang dengan jelas mengajak kita untuk melihat akhir dari kehidupan kedua orang tersebut di dunia yang lain, memberi gambaran jauh ke depan mengenai dua tujuan utama tersebut. Perumpamaan ini berbeda dari perumpamaan-perumpamaan Kristus yang lainnya. Di dalam perumpamaan-perumpamaan lainnya, hal-hal rohani digambarkan melalui kemiripan dengan hal-hal duniawi, misalnya perumpamaan tentang si penabur dan benih gandum (kecuali perumpamaan tentang domba dan kambing), anak yang hilang, dan semua perumpamaan lainnya, kecuali perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus ini. Dalam perumpamaan ini hal-hal rohani itu sendiri digambarkan dalam bentuk cerita atau uraian dalam keadaannya yang baik dan buruk di dunia ini dan di dunia lainnya. Kita tidak menyebut perumpamaan ini sebagai suatu kisah tentang suatu kejadian tertentu, namun demikian kejadian seperti ini benar-benar merupakan kenyataan yang terjadi setiap hari, yaitu bahwa orang miskin yang hidupnya saleh sering diabaikan dan diinjak-injak orang, lalu mati meninggalkan kesengsaraan mereka dan pergi ke sorga yang penuh dengan kebahagiaan sempurna dan sukacita penuh, yang telah dibuat menjadi tempat menyenangkan bagi mereka yang sebelumnya mengalami banyak dukacita. Sebaliknya, orang kaya yang hidup dalam kesenangan dan kemewahan dan tidak pernah berbelas kasihan kepada yang miskin, ketika mati, masuk ke dalam keadaan yang penuh siksaan yang tak terkirakan, dan ini sungguh terasa sangat menyakitkan dan mengerikan bagi mereka, oleh karena sebelumnya mereka sudah terbiasa hidup dalam kesenangan duniawi. Dan tidak akan ada kelepasan dari siksaan itu. Apakah ini suatu perumpamaan? Perbandingan apa yang ditunjukkan di sini? Kisah antara Abraham dan orang kaya ini sungguh hanya merupakan sebuah gambaran saja, supaya ceritanya lebih menyentuh, seperti halnya antara Allah dan Setan dalam kisah Ayub. Juruselamat kita datang untuk memperkenalkan kita dengan dunia yang lain, dan untuk memperlihatkan kaitan yang ada antara dunia ini dengan dunia itu. Di dalam uraian ini (demikianlah kata yang saya pilih untuk menyebutnya), kita bisa mengamati: I. Kondisi yang berbeda antara orang kaya yang jahat dan orang miskin yang hidupnya benar di dalam dunia ini. Kita tahu bahwa sebagian orang, seperti orang-orang Yahudi saat itu, sudah menjadikan kemakmuran sebagai salah satu tanda yang menunjukkan gereja sejati, sebagai tanda bahwa seseorang adalah orang yang baik dan merupakan kesukaan sorga. Karena itu, orang-orang tersebut sama sekali tidak dapat menerima pemikiran-pemikiran yang baik tentang orang miskin. Akan tetapi, dalam setiap kesempatan Kristus sendiri memperbaiki kekeliruan tersebut, dan di sini dengan sangat jelas kita melihat: . Seorang yang jahat, yang akan menderita selamanya dalam kemakmurannya (ay. 19): Ada seorang kaya. Dalam bahasa Latin kita biasa menyebut orang itu Dives -- seorang yang kaya. Seperti yang diamati Uskup Tillotson, nama orang kaya tersebut tidak diberitahukan, seperti yang terjadi dengan si miskin, karena berbahaya untuk menyebut nama seorang kaya dalam uraian seperti ini, bisa memancing reaksi yang tidak baik. Namun, sebagian orang lagi mengamati bahwa Kristus tidak mau begitu menghormati orang kaya itu dengan menyebut namanya. Bila disebut, namanya akan terus dikenang. Sekarang nama si miskin tetap ada, sedangkan nama orang kaya itu terkubur tanpa diketahui. Sekarang kepada kita diceritakan mengenai orang kaya tersebut: (1) Ia selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan inilah perhiasannya. Ia memiliki kain halus untuk kesenangan pribadi, dan tanpa diragukan lagi selalu bersih, sepanjang malam dan siang. Ia memiliki jubah ungu karena statusnya yang tinggi, karena inilah jubah yang biasa dipakai oleh para raja. Ini artinya bahwa Kristus agak menyinggung Herodes di sini. Dalam setiap pemunculannya di hadapan umum Herodes selalu tampil dalam segala kebesarannya. (2) Ia makan yang enak-enak dan mewah setiap hari. Mejanya selalu dihiasi dengan segala jenis makanan yang dapat disediakan oleh alam dan karya seni. Sekeliling meja dihiasi dengan piring-piring. Para pelayannya menunggu di dekat meja, siap sedia untuk melayani. Tanpa diragukan lagi para tamu yang duduk di mejanya sangat berterima kasih atas segalanya ini, seperti yang dipikirkannya. Lalu, apa yang salah dengan semuanya ini? Menjadi kaya bukanlah dosa, memakai jubah ungu dan kain halus bukanlah dosa, memenuhi meja dengan makanan yang berlimpah ruah pun bukanlah dosa, selama kekayaan seseorang mampu menyediakan semuanya itu. Kita tidak diberitahukan bahwa orang kaya dalam perumpamaan ini mendapatkan kekayaannya dengan cara menipu, memeras, atau memaksa. Tidak, orang kaya tersebut juga tidak mabuk-mabukan atau membuat orang lain mabuk. Namun demikian: [1] Dengan perumpamaan ini Kristus hendak memperlihatkan bahwa sekalipun memiliki kekayaan berlimpah, kebesaran dan kesenangan, seseorang bisa dapat mati dan binasa di bawah murka dan kutukan Allah. Kita tidak dapat begitu saja menilai orang berdasarkan kehidupan mereka yang berlimpah bahwa Allah mencintai mereka karena Dia memberikan begitu banyak berkat kepada mereka, atau bahwa mereka mencintai Allah karena Allah telah memberikan begitu banyak berkat kepada mereka. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh hal-hal demikian. [2] Kelimpahan dan kesenangan adalah hal yang amat berbahaya, dan bagi banyak orang, hal-hal ini membawa godaan yang mematikan yang menggoda mereka untuk hidup dalam kemewahan, kenikmatan jasmani dan melupakan Allah dan dunia lain. Orang tersebut mungkin hidup berbahagia jika ia tidak memiliki begitu banyak harta kekayaan dan kesenangan. [3] Menikmati kesenangan tubuh dan kenikmatan jasmani secara berlebihan mendatangkan kehancuran bagi banyak jiwa dan segala kepentingannya. Memang benar bahwa menyantap makanan yang lezat dan mengenakan pakaian-pakaian yang indah tidaklah salah. Tetapi, juga benar bahwa hal-hal ini sering kali menjadi sumber dari kesombongan dan kemewahan, sehingga pada akhirnya mendatangkan dosa bagi kita. [4] Bahwa berpesta pora bersama sahabat-sahabat kita dan pada saat yang sama melupakan kesusahan orang-orang yang miskin dan yang menderita, sangatlah membangkitkan kemarahan Allah dan merusak jiwa. Dosa yang diperbuat orang kaya ini bukan karena pakaian yang dikenakannya atau makanan atau minuman yang disantapnya, tetapi karena semuanya itu dipakainya untuk dirinya sendiri. . Seorang yang benar yang hidupnya terpuruk dalam kesusahan dan amat menderita, namun pada akhirnya ia bahagia selamanya (ay. 20): Ada seorang pengemis bernama Lazarus. Seorang pengemis dengan nama itu, yang hidupnya saleh namun amat susah, mungkin sangat dikenal oleh orang-orang yang baik pada waktu itu: seorang pengemis seperti Eleazar atau Lazarus. Beberapa orang berpendapat bahwa Eleazar adalah nama yang cocok untuk orang miskin, karena nama tersebut berarti pertolongan Allah, yang adalah tempat pelarian ketika sudah tidak ada lagi pertolongan lain. Orang miskin ini berada dalam titik yang sangat luar biasa rendahnya, baik dalam hal kesengsaraannya maupun dalam hal-hal jasmani lainnya. Keadaannya sangat tidak wajar, di luar dari yang dapat Anda bayangkan bagaimana semestinya seseorang hidup di dunia. (1) Badannya penuh dengan borok, seperti Ayub. Tubuh yang sakit dan lemah merupakan penderitaan yang sangat luar biasa, tetapi borok-borok jauh lebih menyakitkan bagi si sakit, dan lebih menjijikkan bagi yang melihatnya. (2) Ia terpaksa mengemis meminta makanan, mengais-ngais sisa-sisa makanan di depan pintu-pintu rumah orang kaya. Ia begitu sakit dan lumpuh sehingga tidak dapat pergi ke mana-mana sendirian, dan harus digotong oleh tangan-tangan yang mengasihaninya, dan dibaringkan dekat pintu rumah orang kaya itu. Perhatikanlah, barangsiapa yang tidak dapat membantu orang miskin dengan uang, harus menolong mereka dengan pengorbanan. Barangsiapa tidak dapat meminjamkan uang sepeser pun kepada orang miskin, ia masih dapat mengulurkan tenaganya. Barangsiapa tidak dapat memberikan sesuatu untuk orang-orang miskin, ia masih bisa mengantar mereka kepada orang lain yang mampu, atau meminta bantuan atas nama mereka. Lazarus di dalam kesusahannya sama sekali tidak memiliki apa-apa untuk menanggung kebutuhan hidupnya, tidak ada sanak saudara yang dapat ia kunjungi, dan juga tidak ada jemaat di lingkungannya yang mengurusnya. Inilah contoh kemunduran jemaat Yahudi pada saat itu, sehingga orang benar seperti Lazarus harus sangat menderita meskipun hanya untuk mendapat sesuap nasi. Sekarang perhatikan baik-baik: [1] Harapan-harapan Lazarus dari meja orang kaya itu: Ia ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh (ay. 21). Ia tidak mencari sisa-sisa makanan yang tidak dimakan lagi oleh orang kaya itu, meskipun bisa saja ia mendapatkannya. Sebaliknya, ia cukup bersyukur bila hanya mendapatkan remah-remah yang tercecer di kolong meja, serpihan-serpihan makanan yang terjatuh. Lebih tepat lagi, sisa-sisa untuk makanan anjing. Orang miskin hanya bisa memohon-mohon, dan harus puas dengan apa saja yang bisa mereka dapatkan. Hal ini dicatat untuk menunjukkan, pertama, seperti apa kesusahan dan sifat orang miskin itu. Ia bukan hanya miskin, tetapi juga miskin secara rohani, dan ia menerima kemiskinannya itu. Ia tidak berbaring di pintu rumah orang kaya itu sambil mengeluh atau berteriak-teriak tidak keruan dan membuat keributan di sana, tetapi dengan tenang dan pasrah berharap untuk diberi makan dengan remah-remah yang terjatuh. Orang yang menderita ini adalah orang yang baik dan berkenan kepada Allah. Perhatikanlah, sering kali terjadi sebagian orang kudus dan para hamba kesayangan Allah hidupnya sangat menderita di dunia ini, namun sebaliknya orang-orang jahat hidupnya makmur dan hartanya berlimpah-limpah (Mzm. 73:7, 10, 14). Kita lihat di sini seorang anak hukuman dan pewaris neraka sedang duduk di dalam rumah, bersukaria dalam kemewahan, sementara seorang anak terkasih dan pewaris sorga sedang terbaring di pintu rumah mati kelaparan. Lalu, apakah keadaan kerohanian seseorang kelak akan diadili berdasarkan kondisi fisik mereka? Kedua, bagaimanakah sikap orang kaya tersebut terhadap Lazarus? Kita tidak diberitahukan apakah orang kaya tersebut menghina Lazarus, atau melarang Lazarus mendekati pintu rumahnya, atau menyakiti Lazarus. Namun, secara tidak langsung kita bisa melihat bahwa orang kaya itu tidak mengindahkan Lazarus. Ia sama sekali tidak memiliki perhatian kepadanya, tidak merawatnya. Padahal jelas-jelas ada orang yang memerlukan amal kasihnya, yang keadaannya sangat mengharukan, tanpa harus diberitahukan lagi. Semuanya diperlihatkan kepadanya di depan pintu rumahnya sendiri. Orang miskin itu memiliki karakter dan tingkah laku yang baik. Segala hal baik yang dapat dibanggakan ada padanya. Satu hal kecil dapat merupakan suatu kebaikan yang sangat berarti bagi dirinya, namun orang kaya itu tidak mengindahkan keadaannya sama sekali, ia tidak memerintahkan para bawahannya untuk membawa masuk Lazarus supaya menginap di lumbungnya atau di suatu ruangan tertentu di sekitar rumahnya. Ia membiarkan Lazarus terbaring di depan pintu rumahnya saja. Perhatikan, tidak menindas atau memeras atau menginjak-injak orang-orang miskin tidaklah cukup. Pada hari penghakiman kita akan menjadi bendahara yang tidak jujur terhadap harta milik Tuhan apabila kita tidak menolong dan membebaskan orang-orang miskin dari kemiskinan. Alasan yang diberikan untuk hukuman yang sangat mengerikan itu adalah, "Ketika Aku lapar kamu tidak memberi Aku makan." Saya merasa heran mengapa orang-orang kaya yang telah membaca Injil Kristus dan percaya kepada Injil itu dapat menjadi begitu tidak peduli akan keperluan dan penderitaan orang-orang miskin dan yang menderita. [2] Perlakuan yang diterima Lazarus dari anjing-anjing. Anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Ada kemungkinan orang kaya itu memelihara segerombol anjing pemburu atau jenis anjing lainnya sebagai hiburan untuk menyenangkan angan-angan hatinya. Anjing-anjing ini diberi makan sampai kenyang sementara Lazarus yang miskin tidak mampu memperoleh makanan yang cukup agar dia dapat bertahan hidup. Perhatikanlah, mereka yang mampu memberi makan anjing-anjing mereka namun mengabaikan orang-orang miskin, pada waktunya nanti akan dimintai jawaban mengenai hal ini. Banyak orang kaya keadaannya akan lebih buruk lagi, karena mereka tidak mau beramal, dan hanya mau memuaskan angan-angan dan kebodohan mereka daripada memenuhi kebutuhan dan menyukakan hati banyak orang Kristen yang baik namun yang hidupnya susah. Apa yang dilakukan orang-orang kaya tersebut tidak menyenangkan hati Allah, dan malahan mereka menghina keberadaan manusia karena memanjakan anjing-anjing dan kuda-kuda mereka namun membiarkan keluarga-keluarga tetangga mereka yang miskin menderita kelaparan. Begitulah, anjing-anjing itu datang dan menjilat borok Lazarus yang miskin. Hal ini dapat diartikan, pertama, keadaannya sungguh luar biasa menyengsarakan. Boroknya berdarah dan bernanah sehingga mengundang anjing-anjing datang dan menjilatinya, seperti yang terjadi dengan darah Nabot dan Ahab (1Raj. 21:19). Kita juga membaca bahwa lidah anjing-anjing mendapat bagiannya dari pada musuh (maksudnya dalam darah musuh -- pen.) (Mzm. 68:24). Anjing-anjing itu menyerang Lazarus seolah-olah ia sudah mati, sedangkan ia sendiri pun tidak berdaya mengusir mereka, dan para pembantu orang kaya itu juga tidak berupaya apa-apa. Anjing-anjing itu sama saja seperti tuan mereka, ingin berpesta pora dengan darah manusia. Atau, dapat pula dikatakan, kedua, jilatan anjing-anjing itu sedikit meringankan beban penderitaan Lazarus; alla kai, tuan dari anjing-anjing itu mengeraskan hati terhadap Lazarus, tetapi anjing-anjing itu datang dan menjilati lukanya sehingga sedikit mengurangi penderitaan dan meringankan rasa sakit pada boroknya. Di sini tidak disebutkan bahwa anjing-anjing itu menghisap borok itu, melainkan menjilatinya dan hal ini baik untuk borok-borok itu. Anjing-anjing itu memperlakukan Lazarus jauh lebih baik daripada tuan mereka. II. Kita lihat terdapat keadaan yang berbeda dari orang miskin yang saleh itu dan dari orang kaya yang kejam itu, pada saat dan setelah kematian. Sampai di sini orang kaya tersebut sepintas lebih beruntung, tetapi Exitus acta probat -- Tunggu dulu, dan mari kita lihat akhir dari semuanya ini. . Mereka berdua mati (ay. 22): Matilah orang miskin itu; orang kaya itu juga mati. Kematian adalah nasib yang pasti akan dihadapi oleh orang kaya dan orang miskin, oleh orang saleh dan orang fasik; di sanalah mereka akan bertemu. Yang seorang mati di dalam kekuatannya, dan yang lain mati di dalam kepahitan jiwanya; tetapi sama-sama mereka terbaring di dalam debu, Ayub 21:26. Kematian tidak pandang bulu apakah itu orang kaya dengan kekayaannya atau orang miskin dengan kemiskinannya. Orang-orang kudus mati, supaya mereka bisa menyudahi dukacita dan masuk ke dalam sukacita. Orang-orang berdosa mati, supaya mereka mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka. Oleh karena itu, adalah penting bagi orang kaya dan orang miskin untuk menyiapkan diri menghadapi kematian, karena kematian menanti mereka berdua. Mors sceptra ligonibus æquat -- Kematian mempersatukan tongkat kerajaan dengan peralatan kebun. ---- æquo pulsat pede pauperum tabernas, Regumque turres. Dengan langkah yang sama, nasib tidak berpihak Mengetuk pintu istana, juga pintu gubuk . Pengemis itu mati lebih dulu. Tuhan sering kali mengambil orang saleh keluar dari dunia dan meninggalkan orang jahat terus berkembang. Beruntunglah bagi si pengemis karena penderitaannya segera berakhir. Setelah selama ini tidak memiliki tempat berteduh atau beristirahat, sekarang ia bersemayam di dalam kubur dan rasa lelah menemukan tempat istirahatnya. . Orang kaya itu mati, lalu dikubur. Tidak dijelaskan bagaimana orang miskin itu dikuburkan. Orang-orang menggali sebuah lubang di mana saja, dan melemparkan begitu saja mayatnya, tidak ada upacara khidmat. Dikuburkan seperti binatang. Masih untung orang-orang yang membiarkan anjing-anjing menjilati boroknya tidak membiarkan anjing-anjing itu menggerogoti tulang-belulangnya. Tetapi orang kaya itu dimakamkan dengan megahnya, jasadnya dibaringkan dengan baik, dan diiringi oleh banyak orang yang berkabung menghantar jenazahnya ke makamnya, dan sebuah tugu peringatan didirikan di sana. Mungkin juga ada pidato pada saat pemakamannya, yang memuji-muji dia, hidupnya yang murah hati, dan mejanya yang selalu penuh, yang dinikmati oleh orang-orang yang memberi pidato pujian itu. Dikatakan mengenai orang jahat bahwa ia dibawa ke kuburan tanpa banyak keributan, dan dibaringkan di dalam makam, dan jika memungkinkan bahkan dengan nyaman ia ditutupi oleh gumpalan-gumpalan tanah di lembah (Ayb. 21:32-33). Betapa anehnya suatu upacara pemakaman yang bertujuan untuk membahagiakan orang yang sudah mati tersebut. . Orang miskin itu mati lalu dibawa oleh para malaikat ke pangkuan Abraham. Betapa besar penghormatan yang diberikan kepada jiwanya dengan iring-iringan para malaikat yang membawanya ke tempat peristirahatannya, jauh melebihi penghormatan yang diberikan kepada orang kaya itu yang mayatnya dibawa dengan begitu megahnya menuju kuburnya! Perhatikan baik-baik: (1) Jiwanya diam di tempat yang terpisah dari badannya. Jiwa ini tidak mati, atau jatuh tertidur bersama dengan jasadnya. Nyala api lilinnya tidak diambil daripadanya. Sebaliknya, ia hidup dan dapat bertindak, serta mengetahui apa yang dilakukannya dan apa yang telah dilakukan terhadapnya. (2) Jiwanya pindah ke dunia yang lain, yaitu dunia roh. Jiwanya kembali kepada Allah yang memberinya, ke negeri asalnya. Hal ini disiratkan dalam perkataan ia dibawa. Roh manusia pergi ke atas. (3) Para malaikat menjaga jiwa Lazarus; jiwanya dibawa oleh para malaikat. Para malaikat melayani roh-roh pewaris keselamatan, tidak hanya selama orang-orang tersebut masih hidup melainkan juga setelah mereka mati. Para malaikat juga bertugas atas mereka, untuk menatang mereka, bukan hanya selama perjalanan mereka di atas bumi ini, melainkan juga dalam perjalanan luar biasa mereka ketika kembali ke rumah kerinduan mereka di sorga. Para malaikat menjadi pemandu maupun penjaga mereka saat melewati wilayah-wilayah yang tidak dikenal dan tidak aman. Jiwa manusia, jika tidak terbelenggu pada bumi ini dan terikat olehnya sebagai jiwa-jiwa yang tidak kudus, sebenarnya bersifat elastis dan karena itu bisa segera mencuat ke atas begitu terpisah dari tubuh jasmani. Namun, Kristus tidak mau hal ini terjadi pada orang-orang kepunyaan-Nya, dan oleh sebab itu Ia akan mengirimkan para pesuruh-Nya untuk menangkap mereka dan membawa jiwa-jiwa itu kepada-Nya. Mungkin orang mengira bahwa satu malaikat saja sudah cukup, tetapi ternyata banyak malaikat yang mengantar Lazarus, sebanyak malaikat yang dikirim untuk Elia. Meskipun kereta perang Amasis, raja Mesir, ditarik oleh raja-raja yang ditaklukannya, namun, apalah artinya kehormatan ini? Orang-orang kudus naik ke sorga oleh karena kebangkitan Kristus, dan ditambah lagi dengan iring-iringan para malaikat ini, yang semakin menambah kemegahan dan keagungan. Orang-orang kudus akan dibawa pulang ke sorga tidak hanya dalam keadaan selamat melainkan juga dengan penuh kehormatan. Sehebat-hebatnya para pengiring si orang kaya itu, apalah artinya dibandingkan dengan para pengiring Lazarus ini? Para malaikat tidak malu menyentuh Lazarus karena boroknya hanya ada pada badannya saja dan tidak pada jiwanya. Jiwa itulah yang dipersembahkan kepada Allah tanpa noda, atau kerut, atau apa pun yang semacam itu. "Nah, para malaikat yang terberkati," kata orang benar itu ketika mengembuskan nafasnya, "datanglah sekarang dan kerjakan tugasmu." (4) Jiwa Lazarus dibawa ke pangkuan Abraham. Orang-orang Yahudi mengungkapkan kebahagiaan yang dialami orang benar pada saat kematian melalui tiga cara: mereka pergi ke taman Eden; mereka pergi menuju takhta kemuliaan; dan mereka pergi ke pangkuan Abraham. Cara ketiga inilah yang digunakan oleh Juruselamat kita di sini. Abraham adalah bapa orang beriman, jadi ke manakah jiwa orang beriman akan dikumpulkan selain kepada Abraham, yaitu seorang bapa yang lemah lembut, yang membaringkan mereka di pangkuannya, terutama pada saat mereka tiba pertama kali, untuk menyambut kedatangan mereka dan untuk menyegarkan mereka ketika baru saja terlepas dari kesedihan dan keletihan dunia ini? Lazarus dibawa ke pangkuannya, artinya, menikmati perjamuan bersamanya, karena di dalam perjamuan dikatakan bahwa para tamu saling bersandaran dada satu sama lainnya. Demikianlah orang-orang kudus di sorga duduk bersama Abraham, Ishak, dan Yakub. Meskipun Abraham adalah orang besar dan kaya raya, namun ia tidak sungkan-sungkan untuk membaringkan Lazarus di pangkuannya. Orang-orang kudus yang kaya dan yang miskin saling bertemu di sorga. Lazarus yang miskin ini, yang tidak diterima di pintu gerbang si orang kaya, diantar menuju ke ruang makan, ke dalam kamar tidur istana sorga. Ia yang tadinya dengan hina ditempatkan bersama-sama dengan anjing-anjing peliharaan orang kaya tersebut, kini terbaring dalam pangkuan Abraham. . Kabar selanjutnya yang kita dengar tentang si orang kaya itu, setelah kematian dan pemakamannya, adalah bahwa sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas (ay. 23). (1) Keadaannya sangatlah menyengsarakan. Ia ada di alam maut, di neraka, suatu tempat di mana jiwa-jiwa terpisah, dan di sanalah ia berada di tempat yang paling menderita dan benar-benar sangat menyedihkan. Bila jiwa orang-orang beriman segera setelah dibebaskan dari beban tubuh jasmani mereka akan mengalami sukacita dan sangat berbahagia, maka jiwa orang-orang jahat dan cemar segera setelah mereka dilepaskan dari kesenangan tubuh jasmani mereka melalui kematian, berada di dalam kesusahan dan kesengsaraan tanpa akhir, tidak berguna, dan tidak berdaya, dan penderitaannya akan semakin bertambah dan semakin sempurna pada saat kebangkitan orang-orang mati pada akhir zaman. Orang kaya itu telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk kesenangan dunia yang fana, seluruh hidupnya dikuasai oleh kesenangan, dan ia telah menerima semua yang menjadi bagian miliknya, dan oleh sebab itu ia sama sekali tidak layak lagi untuk mengambil bagian dalam kesenangan dunia roh. Pemikiran duniawi seperti yang ada pada orang kaya tersebut tentunya tidak disukai roh-roh itu, ia juga tidak akan merasa betah berada bersama mereka, dan karena itu tentu saja ia akan diasingkan dari roh-roh tersebut. Ini belumlah semuanya. Oleh karena ia mengeraskan hatinya terhadap orang miskin kepunyaan Allah, maka ia bukan saja diputuskan dari belas kasihan, ia juga diadili tanpa belas kasihan. Bukan saja dihukum sengsara, melainkan juga hingga binasa. (2) Kesengsaraan yang dialaminya semakin menjadi-jadi setelah ia mengetahui kebahagiaan Lazarus: Ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham dan Lazarus yang sedang duduk dipangkuannya. Jiwanyalah yang menderita sengsara di alam maut, dan mata yang melihat Lazarus adalah mata pikirannya. Sekarang ia mulai memikirkan apa yang terjadi dengan Lazarus. Ia tidak menemukan Lazarus di tempat yang sama dengan dirinya, tidak, sebaliknya dari jauh ia melihat Lazarus sedang duduk di pangkuan Abraham, jelas sekali, seakan-akan ia melihat dengan mata jasmaninya. Kesengsaraan yang amat sangat yang dialami orang-orang terkutuk seperti ini kita temui juga pada kisah sebelumnya (13:28): Kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. [1] Ia melihat Abraham dari jauh. Pastilah amat menyenangkan kalau kita bertemu dengan bapa Abraham. Namun, jangan sampai kita melihatnya dari jauh, karena hal ini sangat menyengsarakan. Orang kaya itu melihat sendiri bahwa setan-setan dan para sekutunya yang terkutuk berada di dekatnya dengan penampakan-penampakan yang mengerikan, dan sangat menyakitkan, sementara dari jauh ia melihat Abraham. Perhatikanlah, setiap apa yang tampak di neraka sangatlah mengerikan. [2] Ia melihat Lazarus di pangkuan Abraham. Lazarus yang sama yang selama di dunia ia lihat dengan rasa jijik dan hina, yang dianggapnya sama sekali tidak berharga, justru saat ini dilihatnya amat disukai, dan ini membuatnya merasa iri. Apa yang dilihatnya mengingatkannya tentang kekejamannya dan tindakannya yang tidak mengenal belas kasihan kepada Lazarus. Kebahagiaan Lazarus yang dilihatnya membuat penderitaanya semakin bertambah berat. III. Berikutnya kita melihat apa yang terjadi antara orang kaya itu dan Abraham di tempat yang terpisah satu sama lainnya. Dan keduanya bersama-sama terpisah dari dunia ini. Meski mungkin tidak akan terjadi atau terjadi dialog atau percakapan seperti ini antara orang-orang kudus yang dimuliakan dengan orang berdosa yang terkutuk, namun demikian cara seperti ini sangatlah sesuai, karena mirip dengan yang umumnya dilakukan orang ketika menguraikan sesuatu. Cara seperti ini dirancang untuk membuat hati orang berduka dan tergerak. Percakapan seperti ini menggambarkan pikiran dan perasaan masing-masing orang yang ada dalam keadaan demikian. Kita bisa menemukan kisah tentang orang berdosa terkutuk yang disiksa di depan mata Anak Domba (Why. 14:10), dan juga kisah tentang para hamba Allah yang beriman yang mencari orang-orang yang telah memberontak terhadap kovenan, di mana di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam (Yes. 66:23, 24), karena itu percakapan antara orang kaya dan Abraham seperti ini bukanlah suatu hal yang aneh. Sekarang, dalam percakapan ini kita melihat: . Permohonan orang kaya tersebut kepada Abraham agar penderitaannya dapat berkurang (ay. 24). Ketika dilihatnya Abraham dari jauh, ia berseru kepadanya, ia berteriak-teriak sekeras-kerasnya dengan suara yang memilukan. Hal ini menunjukkan bahwa ia sedang kesakitan dan menderita karena ia memohon-mohon sambil berteriak-teriak dengan keras agar permohonannya dikabulkan. Ia memperlihatkan betapa ia sangat membutuhkan belas kasihan. Orang kaya tersebut yang selama masih hidup terbiasa memberikan perintah dengan berteriak, sekarang harus memohon-mohon dengan berteriak-teriak, jauh lebih keras daripada suara Lazarus saat ia berbaring di depan pintu rumahnya. Semua permohonan yang disampaikannya dengan suara keras dan ribut itu pada akhirnya berubah menjadi ratapan. Perhatikan baik-baik di sini: (1) Sapaan yang ia gunakan untuk Abraham: Bapa Abraham. Perhatikanlah, banyak orang di neraka bisa memanggil Abraham dengan sebutan bapa, karena menurut daging, mereka memang keturunannya, malah banyak juga yang menurut nama dan pengakuan sungguh-sungguh merupakan anak-anak kovenan yang diteguhkan melalui kovenan antara Allah dan Abraham. Mungkin orang kaya ini, pada saat ia masih menikmati kesenangan jasmani, telah merendahkan dan menertawakan Abraham dan kisah Abraham seperti yang dilakukan oleh para pengejek lainnya di hari-hari terakhir; namun sekarang ia memberi Abraham sapaan kehormatan, Bapa Abraham. Perhatikanlah, akan tiba harinya orang-orang jahat dengan gembira berusaha bersahabat dengan orang-orang benar dan mengaku-ngaku bersaudara dengan mereka, walaupun saat ini mereka menyepelekan orang-orang benar itu. Dalam penjabaran ini Abraham mewakili gambaran Kristus, yang kepada-Nya segala penghakiman diberikan, dan pemikiran Kristus itulah yang diungkapkan melalui tokoh Abraham di sini. Mereka yang mengabaikan Kristus sekarang ini tidak lama lagi akan berseru-seru kepada-Nya, "Tuhan, Tuhan." (2) Penjelasan orang kaya tersebut kepada Abraham mengenai kondisinya yang sangat menyedihkan: Aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Kesakitan yang dialami jiwanyalah yang dikeluhkannya, dan api yang seperti demikian itulah yang akan membakar jiwa-jiwa. Inilah api murka Allah yang mencengkeram hati nurani yang bersalah. Api tersebut menjadi kengerian yang menakut-nakuti pikiran, menjadi celaan yang membuat hati menuduh dan mengutuki diri sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan dan lebih mengerikan terhadap tubuh selain dari siksaan oleh api. Demikianlah kesengsaraan dan penderitaan jiwa-jiwa terkutuk digambarkan di sini. (3) Permintaannya kepada Abraham, sehubungan dengan penderitaannya: Kasihanilah aku. Perhatikanlah, akan tiba saatnya mereka yang meremehkan belas kasih Ilahi akan memohon-mohon dengan sangat untuk mendapatkan belas kasih itu. Seruan, "Oh kasihanilah, kasihanilah" terus diteriakkan ketika belas kasihan sudah tidak lagi dicurahkan, dan kasih karunia sudah tidak lagi ditawarkan. Orang kaya itu yang semasa hidupnya tidak kasihan kepada Lazarus, sekarang ini justru berharap agar Lazarus mau mengasihaninya; "Sebab," pikirnya, "Lazarus jauh lebih baik hatinya dibandingkan dengan diriku sebelumnya." Pertolongan yang khusus dimintanya adalah, "Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku." [1] Di sini secara khusus ia mengeluhkan siksaan yang diderita oleh lidahnya, seakan-akan lidahnya jauh lebih tersiksa dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya. Hukuman tersebut merupakan akibat dari dosa itu. Lidah adalah salah satu dari banyak anggota tubuh yang digunakan untuk berbicara, dan melalui siksaan yang dialami oleh lidahnya maka pikirannya diingatkan kembali akan semua kata-kata jahat yang pernah diucapkannya kepada Allah dan manusia, kutukan-kutukannya, sumpah-sumpahnya, dan hujatannya kepada Allah, semua kata-katanya yang keras dan omongannya yang kasar. Oleh karena kata-katanya ia dihukum, dan oleh sebab itu melalui lidahnya itulah ia disiksa. Lidah juga termasuk salah satu organ pengecap, dan oleh sebab itu siksaan terhadap lidahnya akan mengingatkan dia akan segala kesenangan yang telah dinikmatinya hanya untuk memuaskan indra pengecapnya, yaitu yang telah ia nikmati dengan lidahnya. [2] Ia sangat ingin setetes air untuk menyejukkan lidahnya. Ia tidak berkata, "Bapa Abraham, perintahkanlah agar aku terbebas dari siksaan ini, tolong keluarkan aku dari lubang neraka ini," karena ia benar-benar telah hilang harapan untuk keluar dari tempat itu. Apa yang dimintanya hanyalah sesuatu yang paling sederhana yang dapat ia minta, yaitu setetes air untuk menyejukkan lidahnya sesaat. [3] Terkadang mungkin kita bisa curiga bahwa ia mempunyai maksud jahat terhadap Lazarus, bahwa ia berharap jika ia dapat merengkuh Lazarus dalam jangkauannya maka ia akan menahan Lazarus supaya tidak bisa kembali ke pangkuan Abraham. Hati yang dipenuhi kemarahan terhadap Allah juga akan dipenuhi kemarahan terhadap anak-anak-Nya. Tetapi, mungkin kita bisa berpikir yang lebih baik mengenai seorang pendosa yang terkutuk, dan karena itu bisa beranggapan di sini bahwa orang kaya tersebut sungguh menghargai Lazarus sebagai seorang yang bisa ia andalkan saat ini. Orang kaya itu menyebut nama Lazarus, karena ia mengenalnya, dan berpikir bahwa Lazarus pasti akan bersedia melakukan kebaikan untuknya mengingat keduanya dulu sudah saling mengenal. Negarawan Grotius mengutip uraian Plato yang menjelaskan tentang penderitaan jiwa-jiwa yang jahat, dan dari sekian banyak hal antara lain ia berkata, seperti orang gila mereka terus-menerus memanggil-manggil orang-orang yang telah mereka bunuh, atau lukai, memanggil-manggil para korban itu untuk mengampuni mereka atas segala kesalahan yang telah mereka perbuat. Perhatikanlah, akan tiba waktunya orang-orang yang sekarang membenci dan menghina umat Allah akan mencari-cari kebaikan mereka. . Jawaban Abraham atas permintaan orang kaya tersebut. Pada dasarnya, Abraham tidak memenuhi permintaannya. Ia tidak akan mengizinkannya menerima air setetes pun untuk menyejukkan lidahnya. Perhatikanlah, orang-orang terkutuk di neraka sedikit pun tidak akan berkurang atau melemah penderitaannya. Jika kita memperbaiki hari-hari kita sekarang dengan menggunakan kesempatan yang kita miliki dengan sebaik-baiknya, kita dapat sepenuhnya dan selamanya dialiri dengan belas kasih sepuas-puasnya. Namun, jika saat ini kita menampik tawaran tersebut, maka sia-sialah kita mengharapkan bahkan setetes belas kasihan pun di neraka nanti. Lihatlah sekarang bagaimana orang kaya ini menerima bayarannya kembali dengan uangnya sendiri. Orang yang menolak remah-remah, tidak akan diberikan barang setetes pun. Sekarang ini kepada kita dikatakan, Mintalah, maka akan diberikan kepadamu. Tetapi, jika kita melewatkan kesempatan ini, maka nantinya, sekalipun kita boleh minta, apa pun tidak akan diberikan kepada kita. Tetapi ini belumlah semuanya. Kalau saja Abraham hanya berkata, "Kamu tidak akan mendapat apa pun untuk mengurangi penderitaanmu," maka hal ini mungkin hanya membuatnya sedih. Namun, di sini Abraham justru mengatakan sesuatu yang malah menambah deritanya dan membuat nyala api semakin panas, karena memang segala sesuatu sangat menyiksa dalam neraka. (1) Abraham memanggil orang kaya itu dengan sebutan anak, suatu panggilan yang baik dan sopan, tetapi di sini sebutan tersebut justru lebih mengeraskan lagi penolakan atas permohonannya, yang menutup semua rasa belas kasihan seorang bapa terhadapnya. Orang kaya tersebut sebelumnya pernah menjadi seorang anak, tetapi seorang anak yang pemberontak, dan sekarang telah menjadi anak yang tersisihkan dan kehilangan harta warisan. Ketika kita melihat orang-orang di neraka, lihatlah bagaimana tololnya mereka yang hanya mengandalkan seruan, Abraham adalah bapa kita. Mereka ini dipanggil Abraham dengan sebutan anak, dan akan berada di sana selama-lamanya. (2) Abraham mengingatkan orang kaya itu di dalam pemikirannya tentang kondisinya dan kondisi Lazarus pada saat mereka masih hidup: Anak, ingatlah. Perkataan ini sungguh menusuk. Berbagai ingatan yang dialami jiwa-jiwa yang terkutuk akan bertindak sebagai para penyiksa bagi mereka sendiri. Hati nurani mereka akan dibangunkan dan didorong-dorong untuk melakukan kewajiban yang tidak mau mereka lakukan di dunia ini. Tidak ada yang dapat menambahkan minyak yang memperbesar nyala api neraka selain dari sebutan, "Anak, ingatlah." Sekarang ini orang-orang berdosa diperingatkan untuk ingat, tetapi mereka tidak menanggapinya, mereka tidak mau mematuhinya, mereka malah mencari-cari jalan untuk menghindarinya. "Anak, ingatlah akan Penciptamu, Penebusmu, ingatlah akhir hidup nanti," tetapi mereka menutup telinga terhadap peringatan-peringatan ini, dan lupa bahwa karena inilah mereka memiliki berbagai ingatan. Oleh sebab itu sudah selayaknyalah derita abadi mereka akan muncul dari peringatan Anak, ingatlah, dan mereka tidak akan mampu lagi menulikan telinga mereka terhadap peringatan ini. Sungguh amat menakutkan suara nyaring yang akan berbunyi di telinga kita, "Anak, ingatlah akan begitu banyak peringatan yang telah diberikan kepadamu agar kamu tidak sampai di tempat penyiksaan ini, tetapi kamu tidak mengindahkannya; ingatlah akan tawaran baik yang telah diberikan kepadamu mengenai kehidupan dan kemuliaan abadi, namun kamu tidak menerimanya!" Namun demikian, hal yang diingatkan kepada orang kaya ini adalah: [1] Bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu. Abraham tidak mengatakan kepada orang kaya itu bahwa dia telah menyalahgunakan segala yang baik tersebut, melainkan telah menerima segala kebaikan tersebut sebelumnya: "Ingatlah betapa besar kebaikan yang telah Allah berikan kepadamu, betapa Ia selalu siap untuk melakukan kebaikan untukmu. Oleh sebab itu kamu tidak boleh berkata bahwa Ia berutang segala sesuatu kepadamu, tidak, setetes air pun tidak. Apa yang telah Ia berikan kepadamu, engkau telah menerimanya, dan itu sudah cukup. Engkau tidak pernah memberi Dia tanda terima atas semua pemberian tersebut, dalam bentuk ucapan terima kasih atas semuanya itu, apa lagi sampai memberikan sesuatu kepada-Nya sebagai ucapan syukur atau melakukan hal-hal yang baik atas pemberian itu. Engkau telah menjadi kuburan bagi berkat-berkat Allah, di dalam dirimu semua berkat itu terkubur, dan bukan pada tempatnya yang sebenarnya. Engkau telah menerima hal-hal yang baik. Engkau menerimanya dan menggunakannya seolah-olah semuanya itu adalah milikmu sendiri, dan engkau sama sekali tidak bertanggungjawab atas berkat-berkat tersebut. Atau lebih tepatnya, semuanya itu adalah hal-hal baik yang menjadi pilihanmu sendiri, yang terbaik menurut pandanganmu sendiri, dan engkau memuaskan dirimu dengan semuanya itu dan mencukupi dirimu dengannya. Engkau mempunyai makanan, minuman, dan pakaian yang mahal-mahal dan indah-indah, dan di dalam semuanya itulah terdapat kebahagiaan hidupmu. Semuanya itu adalah ganjaranmu, penghiburanmu, upahmu yang sudah engkau setujui, dan semuanya telah engkau terima. Kamu hidup hanyalah demi segala yang baik sepanjang waktu hidupmu, dan kamu tidak memikirkan hal-hal yang lebih baik di kehidupan yang lain, dan oleh sebab itu tidak ada alasan untuk mengharapkan segala yang baik tersebut. Hari segala yang baik itu telah lewat dan berlalu bagimu, dan sekarang tibalah hari segala yang buruk, sebagai ganjaran atas semua perbuatan burukmu. Engkau telah menerima cawan-cawan belas kasihan yang terakhir seperti yang engkau harapkan untuk engkau terima menjadi milikmu, dan karena itu tidak ada lagi yang tersisa selain cawan-cawan murka, murni tanpa campuran apa pun. [2] "Ingatlah juga segala yang buruk yang telah diterima Lazarus selama hidupnya. Engkau iri dengan kebahagiaan yang diperolehnya di sini, tetapi coba pikirkan betapa berat penderitaan yang telah ia alami selama hidupnya di dunia. Engkau memiliki begitu banyak hal yang baik tetapi menjadi manusia yang begitu jahat, sedangkan Lazarus, ia memiliki begitu banyak hal yang buruk tetapi menjadi seorang yang begitu baik. Lazarus menerima yang buruk; ia menanggung semuanya itu dengan penuh kesabaran, menerima semuanya langsung dari tangan Allah seperti yang dialami Ayub (Ayb. 2:10), Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? -- Lazarus menerima semua yang buruk dalam bentuk jasmani untuk menyembuhkan penyakit-penyakit rohaninya, dan ia sungguh sembuh." Kalau orang-orang jahat menerima segala yang baik hanya selama hidup di dunia saja dan melalui kematian mereka selamanya dipisahkan dari semua yang baik, demikian juga orang-orang baik menerima segala yang buruk hanya selama hidup di dunia saja, dan melalui kematian mereka selamanya dipisahkan dari semua yang buruk tersebut. Dengan membuat orang kaya itu memikirkan semuanya ini kembali, Abraham membangunkan hati nurani si kaya itu untuk mengingatkan dia kembali mengenai perlakuannya terhadap Lazarus ketika dia sedang menikmati segala yang baik dan Lazarus mengaduh-ngaduh dalam segala yang buruk. Ia tidak dapat lupa bahwa pada saat itu ia tidak berupaya menolong Lazarus, lalu bagaimana mungkin ia mengharapkan agar Lazarus mau menolongnya sekarang? Jika Lazarus dalam kehidupan selanjutnya menjadi kaya dan sebaliknya orang kaya tersebut menjadi orang miskin, bisa saja Lazarus berpikir bahwa sudah menjadi tugasnya untuk membantu orang tersebut dan ia tidak akan membalas orang itu setimpal dengan kejahatannya. Akan tetapi, di dunia akan datang, setiap orang akan diganjar sesuai dengan perbuatannya, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan manusia. (3) Abraham membuat orang kaya itu memikirkan kebahagiaan sempurna yang dialami Lazarus sekarang ini dan kesengsaraannya sendiri. Tetapi sekarang meja diputar, dan mereka harus menerimanya sampai selama-lamanya; sekarang Lazarus mendapat kenyamanan dan engkau sangat menderita. Orang kaya itu tidak perlu diberi tahu lagi bahwa dia sedang disiksa; ia bisa merasakannya sebagai harga yang harus dibayarnya. Ia juga tahu sendiri bahwa orang yang sedang berbaring di pangkuan Abraham sudah pasti merasa nyaman di sana. Namun begitu, Abraham tetap mengingatkan orang kaya tersebut, supaya dengan membanding-bandingkan ia dapat mempelajari keadilan Allah dalam membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas umat-Nya, dan memberi kelegaan kepada mereka yang tertindas (2Tes. 1:6-7). SAAT HIDUP, BERDIAKONIALAH (Lukas 16:19-31) Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus dalam Lukas 16:19-31 mengajarkan kita tentang pentingnya menjalani kehidupan dengan kepedulian sosial atau diakonia terhadap sesama. 1. Kontras Antara Orang Kaya dan Lazarus
2. Keadaan Setelah Kematian
3. Pelajaran Tentang Diakonia dalam Hidup IniPerumpamaan ini mengajarkan bahwa kesempatan untuk berbuat baik hanya ada selama kita hidup. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk mengubah nasib.
4. Kesempatan dan Pertobatan Tidak Bisa DitundaOrang kaya meminta Abraham mengutus Lazarus untuk memperingatkan keluarganya, tetapi Abraham berkata, "Mereka mempunyai Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan mereka" (ayat 29).
Kesimpulan: Saat Hidup, BerdiaKonialah!Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat kasih hanya ada di dunia ini.
Sebagaimana Yesus mengajarkan dalam Matius 25:40, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Mari, saat hidup ini, berdiakonialah!
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2025 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: Khotbah MTPJ GMIM Minggu, 2 Februari 2025 - TUHAN itu Ajaib Dalam Keputusan dan Agung Dalam Kebijaksanaan - Yesaya 28:23-29 Sebelum: Khotbah GMIM Minggu, 19 Januari 2025 - Pilihlah Kehidupan Supaya Engkau Hidup, Baik Engkau Maupun Keturunanmu - Ulangan 30:11-20 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,