gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 598 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2025
Minggu, 2 Februari 2025

Khotbah MTPJ GMIM Minggu, 2 Februari 2025 - TUHAN itu Ajaib Dalam Keputusan dan Agung Dalam Kebijaksanaan - Yesaya 28:23-29
Allah Bertindak dengan Kebijaksanaan, dengan Tujuan yang Benar, Allah memberikan Pengajaran

Yesaya 28:23-29
Kebijaksanaan TUHAN
28:23 Pasanglah telinga dan dengarkanlah suaraku; perhatikanlah dan dengarkanlah perkataanku! 28:24 Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur? 28:25 Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya? 28:26 Mengenai adat kebiasaan ia telah diajari, diberi petunjuk oleh Allahnya. 28:27 Sebab jintan hitam tidak diirik dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat. 28:28 Apakah orang waktu mengirik memukul gandum sampai hancur? sungguh tidak, orang tidak terus-menerus memukulnya sampai hancur! Dan sekalipun orang menjalankan di atas gandum itu jentera gerobak dengan kudanya, namun orang tidak akan menggilingnya sampai hancur. 28:29 Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam; Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.

Penjelasan:

* Bertani sebagai Keterampilan Ilahi (28:23-29)

    Perumpamaan ini, yang diambil (seperti halnya banyak perumpamaan dari Juruselamat kita) dari pekerjaan seorang petani, diperkenalkan dengan kata pengantar yang khidmat yang menuntut perhatian. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar, mendengar dan mengerti (ay. 23).

I. Perumpamaan di sini cukup jelas, bahwa si petani bersusah payah dan berhati-hati dalam mengerjakan pekerjaannya, secundum artem - menurut aturan, dan sebagaimana penilaiannya menuntun dia, bekerja dengan memakai suatu cara dan mengikuti aturan.

1. Dalam membajak dan menabur: Setiap harikah orang membajak untuk menabur? Ya benar, dan ia membajak dalam pengharapan dan mengirik dalam pengharapan (1Kor. 9:10). Apakah dia mencangkul dan menyisir tanahnya? Ya benar, supaya tanah itu layak menerima benih. Dan setelah meratakan tanahnya, bukankah ia menabur benihnya, benih yang sesuai dengan tanahnya? Sebab petani tahu benih apa yang cocok untuk tanah liat dan apa yang cocok untuk tanah berpasir, dan sesuai dengan itu, ia menabur benih di tempatnya masing-masing, yaitu gandum di tempat utama (demikian dalam tafsiran yang agak luas), sebab gandum adalah biji utama, dan makanan pokok di Kanaan (Yeh. 27:17), dan jelai kehitam-hitaman (KJV: jelai di tempat yang ditentukan). Hikmat dan kebaikan Allah atas alam haruslah dicermati dalam hal ini, bahwa untuk membuat makhluk-Nya bersyukur atas berbagai macam hasil bumi, Ia telah menyesuaikan bagi mereka berbagai jenis tanah yang cocok.

2. Dalam mengirik (ay. 27-28). Ini juga dia sesuaikan dengan biji yang akan diirik. Jintan hitam dan jintan putih, karena mudah dikeluarkan dari kulit atau bulirnya, hanya diirik dengan galah dan tongkat. Tetapi gandum membutuhkan lebih banyak tenaga, dan karena itu harus diirik dengan eretan pengirik, godam berlapis besi, yang ditarik ke sana kemari, untuk mengeluarkan gandumnya. Namun orang waktu mengirik tidak memukul gandum sampai hancur, tidak pula mengirik lebih lama daripada yang diperlukan untuk mengeluarkan gandum dari sekam. Ia tidak akan menggilingnya sampai hancur, atau remuk, dengan jentera gerobaknya, atau menggilingnya sampai hancur menjadi butiran kecil dengan kudanya. Menggiling gandum disimpan untuk pekerjaan lain. Amatilah, dalam hal ini, bagaimana susahnya bukan saja untuk memperoleh, melainkan juga untuk mempersiapkan makanan yang kita butuhkan. Namun demikian, bagaimanapun juga, itu adalah makanan yang akan dapat binasa. Jadi haruskah kita menggerutu karena harus berjerih payah lebih besar lagi untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal? Gandum diremukkan. Kristus juga demikian. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan Dia, supaya Ia menjadi roti hidup bagi kita.

II. Tafsiran dari perumpamaan itu tidak begitu jelas. Sebagian besar penafsir menjadikannya sebagai jawaban lebih lanjut untuk orang-orang yang menantang penghakiman-penghakiman Allah: “Hendaklah mereka tahu bahwa sama seperti petani tidak akan selalu membajak, tetapi pada akhirnya akan menaburkan benihnya, demikian pula Allah tidak akan selalu mengancam, tetapi pada akhirnya akan melaksanakan ancaman-ancaman-Nya, dan menimpakan kepada para pendosa segala penghakiman yang pantas mereka dapatkan. Tetapi itu dilakukan dengan hikmat, dan sebanding dengan kekuatan mereka, bukan supaya mereka hancur, melainkan supaya mereka diperbarui dan dipertobatkan olehnya.” Tetapi saya berpendapat bahwa kita boleh lebih leluasa lagi dalam menjelaskan perumpamaan ini.

1. Secara umum, bahwa Allah yang memberikan kebijaksanaan ini kepada petani, tidak diragukan lagi, dengan sendirinya bijak secara tak terhingga. Allah-lah yang mengajar adat kebiasaan dan memberi petunjuk kepada petani, sebagai Allahnya (ay. 26). Para petani memerlukan kebijaksanaan untuk mengatur urusan-urusan mereka, dan tidak boleh melakukan pekerjaan itu kecuali mereka memahaminya dalam kadar tertentu. Melalui pengamatan dan pengalaman, mereka harus berusaha memperbaiki diri sendiri dalam pengetahuan tentang hal itu. Oleh karena kebutuhan raja sendiri dipenuhi dari ladang, maka memajukan keterampilan bertani berarti memberikan pelayanan umum kepada umat manusia lebih daripada mengembangkan sebagian besar keterampilan lain. Keahlian si petani berasal dari Allah, seperti halnya setiap pemberian yang baik dan sempurna. Hal ini sedikit banyak mengangkat beban dan kengerian dari hukuman yang dijatuhkan atas manusia karena dosa, bahwa ketika Allah, dalam melaksanakan hukuman itu, menyuruh manusia untuk mengolah tanah, Ia mengajarinya bagaimana melakukan itu dengan cara yang paling menguntungkan baginya. Sebab kalau tidak, dalam kebodohannya yang besar, ia bisa saja mengolah pasir di laut untuk selamanya, bekerja tanpa hasil. Dialah yang memberi manusia kemampuan untuk pekerjaan ini, kecenderungan untuk itu, dan kesukaan di dalamnya. Dan jika sebagian orang tidak dibentuk untuk itu oleh Pemeliharaan ilahi, dan dibuat bersukacita (seperti Isakhar, suku para petani itu) di tenda-tenda mereka, maka kendati dengan kerja keras dan kelelahan dalam mengerjakan pekerjaan ini, kita akan segera kekurangan penopang hidup. Jika ada sebagian orang yang lebih berhati-hati dan bijaksana daripada yang lain dalam mengelola pekerjaan ini atau pekerjaan apa saja, maka Allah harus diakui di dalamnya. Dan kepada Dia para petani harus meminta petunjuk dalam pekerjaan mereka, sebab mereka, lebih daripada orang lain, bergantung secara langsung pada Pemeliharaan ilahi. Adapun mengenai contoh lain dari apa yang diperbuat petani dalam mengirik gandumnya, dikatakan, ini pun datangnya dari TUHAN semesta alam (ay. 29). Bahkan cara kerja pancaindra dan akal budi yang paling jelas sekalipun harus diakui sebagai datang dari Tuhan semesta alam. Dan, jika oleh karena Dialah manusia melakukan hal-hal secara bijaksana dan hati-hati, maka pasti kita perlu mengakui Dia sebagai ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan. Pekerjaan Allah dilakukan sesuai kehendak-Nya. Ia tidak pernah bertindak menentang pikiran-Nya sendiri, seperti yang sering dilakukan manusia, dan ada pertimbangan dalam seluruh kehendak-Nya. Itulah sebabnya Ia agung dalam kebijaksanaan, karena Ia ajaib dalam keputusan.

2. Jemaat Allah adalah ladang-Nya (1Kor. 3:9). Jika Kristus adalah pokok anggur yang benar, maka Bapa-Nya adalah pengusahanya (Yoh. 15:1), dan Ia melalui firman dan ketetapan-ketetapan-Nya terus-menerus mengolahnya. Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya, supaya tanah itu menerima benih, dan tidakkah Allah melalui hamba-hamba-Nya menyisir tanah baru? Bukankah pembajak, apabila tanah sudah disesuaikan untuk benihnya, menaburkan benih di tanah yang tepat? Ya benar, dan begitu pula Allah yang akbar menaburkan firman-Nya melalui tangan hamba-hamba-Nya (Mat. 13:19), yang bertugas membagi-bagikan firman kebenaran dan memberi setiap orang bagiannya masing-masing. Apa pun jenis tanah dari hati kita, ada satu atau lain benih dalam firman Allah yang cocok untuknya. Dan, seperti halnya firman Allah, demikian pula tongkat Allah digunakan dengan demikian bijaknya. Penderitaan adalah alat pengirikan Allah, yang dirancang untuk melepaskan kita dari dunia, untuk memisahkan kita dari sekam kita, dan untuk mempersiapkan kita supaya berguna. Dan berkenaan dengan penderitaan ini, Allah akan memakainya jika itu dibutuhkan. Tetapi Dia akan menyesuaikannya dengan kekuatan kita. Penderitaan itu tidak akan lebih berat daripada yang diperlukan. Jika tongkat dan galah sudah bisa memenuhi tujuan, Ia tidak akan menggunakan roda gerobak dan kudanya. Dan kalaupun penderitaan ini diperlukan, seperti untuk meremukkan gandum (yang jika tidak demikian maka ia tidak akan bersih dari jerami), maka Ia tidak akan selamanya mengiriknya, tidak akan selalu menegur, tetapi kemarahan-Nya akan berlangsung hanya untuk sesaat. Tidak pula Ia akan menginjak-injak dengan kaki tawanan-tawanan di dunia. Dan dalam hal ini kita harus mengakui Dia sebagai ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.

-----

Topik "TUHAN itu Ajaib Dalam Keputusan dan Agung Dalam Kebijaksanaan" dalam Yesaya 28:23-29 mengajarkan bahwa Allah memiliki kebijaksanaan yang luar biasa dalam cara Ia bekerja, seperti seorang petani yang bijak dalam mengolah tanah dan menanam benih.

Penjelasan Yesaya 28:23-29

Dalam perikop ini, Yesaya memberikan perumpamaan tentang petani yang menggambarkan cara Allah bertindak dalam kehidupan manusia. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa:

  1. Allah Bertindak dengan Kebijaksanaan (ayat 23-26)

    • Petani tidak sembarangan membajak tanah terus-menerus, tetapi tahu kapan harus berhenti dan mulai menanam.
    • Ia menanam berbagai jenis biji sesuai dengan cara yang tepat untuk masing-masing benih.
    • Ini melambangkan bahwa Tuhan tahu cara dan waktu yang terbaik untuk menangani umat-Nya.
  2. Allah Memberikan Pengajaran (ayat 26)

    • Tuhan sendiri yang mengajar petani bagaimana bertani dengan bijak.
    • Ini menunjukkan bahwa segala kebijaksanaan yang benar berasal dari Tuhan.
  3. Allah Bertindak dengan Tujuan yang Benar (ayat 27-28)

    • Setelah panen, petani menggunakan berbagai metode untuk memisahkan biji dari sekamnya:
      • Adas dan jintan tidak dihancurkan dengan alat berat, tetapi diolah dengan lembut.
      • Gandum ditumbuk tetapi tidak sampai hancur total.
    • Ini melambangkan bahwa Allah mendisiplinkan umat-Nya dengan cara yang tepat, sesuai dengan kebutuhan mereka.
  4. Kesimpulan (ayat 29): Allah Ajaib dalam Keputusan dan Agung dalam Kebijaksanaan

    • Tuhan memiliki kebijaksanaan yang jauh melampaui manusia dalam cara Ia bertindak.
    • Segala sesuatu yang Tuhan lakukan selalu penuh hikmat, tujuan, dan keseimbangan.

Makna dan Aplikasi

  • Seperti petani yang tahu kapan dan bagaimana bertindak, demikian juga Tuhan dalam membentuk kehidupan kita.
  • Tuhan tidak bertindak secara sembarangan, tetapi dengan hikmat dan kasih yang sempurna.
  • Penderitaan atau ujian dalam hidup adalah bagian dari proses Allah membentuk kita, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menghasilkan buah yang baik.

Yesaya 28:23-29 mengajarkan bahwa Allah itu ajaib dalam keputusan-Nya dan agung dalam kebijaksanaan-Nya. Seperti petani yang bijaksana dalam mengolah tanah dan menuai hasil, demikian juga Tuhan menangani hidup kita dengan kebijaksanaan ilahi yang tak terselami.


Topik "TUHAN itu Ajaib Dalam Keputusan dan Agung Dalam Kebijaksanaan" dalam Yesaya 28:23-29 mengajarkan bahwa Allah memiliki kebijaksanaan yang luar biasa dalam cara Ia bekerja, seperti seorang petani yang bijak dalam mengolah tanah dan menanam benih.

Penjelasan Yesaya 28:23-29

Dalam perikop ini, Yesaya memberikan perumpamaan tentang petani yang menggambarkan cara Allah bertindak dalam kehidupan manusia. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa:

  1. Allah Bertindak dengan Kebijaksanaan (ayat 23-26)

    • Petani tidak sembarangan membajak tanah terus-menerus, tetapi tahu kapan harus berhenti dan mulai menanam.
    • Ia menanam berbagai jenis biji sesuai dengan cara yang tepat untuk masing-masing benih.
    • Ini melambangkan bahwa Tuhan tahu cara dan waktu yang terbaik untuk menangani umat-Nya.
  2. Allah Memberikan Pengajaran (ayat 26)

    • Tuhan sendiri yang mengajar petani bagaimana bertani dengan bijak.
    • Ini menunjukkan bahwa segala kebijaksanaan yang benar berasal dari Tuhan.
  3. Allah Bertindak dengan Tujuan yang Benar (ayat 27-28)

    • Setelah panen, petani menggunakan berbagai metode untuk memisahkan biji dari sekamnya:
      • Adas dan jintan tidak dihancurkan dengan alat berat, tetapi diolah dengan lembut.
      • Gandum ditumbuk tetapi tidak sampai hancur total.
    • Ini melambangkan bahwa Allah mendisiplinkan umat-Nya dengan cara yang tepat, sesuai dengan kebutuhan mereka.
  4. Kesimpulan (ayat 29): Allah Ajaib dalam Keputusan dan Agung dalam Kebijaksanaan

    • Tuhan memiliki kebijaksanaan yang jauh melampaui manusia dalam cara Ia bertindak.
    • Segala sesuatu yang Tuhan lakukan selalu penuh hikmat, tujuan, dan keseimbangan.

Makna dan Aplikasi

  • Seperti petani yang tahu kapan dan bagaimana bertindak, demikian juga Tuhan dalam membentuk kehidupan kita.
  • Tuhan tidak bertindak secara sembarangan, tetapi dengan hikmat dan kasih yang sempurna.
  • Penderitaan atau ujian dalam hidup adalah bagian dari proses Allah membentuk kita, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menghasilkan buah yang baik.

Kesimpulan:
Yesaya 28:23-29 mengajarkan bahwa Allah itu ajaib dalam keputusan-Nya dan agung dalam kebijaksanaan-Nya. Seperti petani yang bijaksana dalam mengolah tanah dan menuai hasil, demikian juga Tuhan menangani hidup kita dengan kebijaksanaan ilahi yang tak terselami.


***








Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2025





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
Khotbah GMIM Minggu, 16 Februari 2025 - BUANGLAH KEBODOHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP & IKUTILAH JALAN PENGERTIAN - Amsal 9:1-18

Sebelum:
Khotbah GMIM Minggu, 26 Januari 2025 - SAAT HIDUP BERDIAKONIALAH - Lukas 16:19-31




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2025..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,