gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 604 kali
Download MP3 Music
Hakim-Hakim 11:29-40
Nazar Yefta
11:29 Lalu Roh TUHAN menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. 11:30 Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, 11:31 maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran." 11:32 Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. 11:33 Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroer sampai dekat Minit -- dua puluh kota banyaknya -- dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel. 11:34 Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. 11:35 Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: "Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." 11:36 Tetapi jawabnya kepadanya: "Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu." 11:37 Lagi katanya kepada ayahnya: "Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku." 11:38 Jawab Yefta: "Pergilah," dan ia membiarkan dia pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. 11:39 Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. Dan telah menjadi adat di Israel, 11:40 bahwa dari tahun ke tah

Penjelasan:
* Nazar Yefta (11:29-40)

Dalam perikop ini kita mendapati Yefta bersorak-sorak atas kemenangan gemilang yang diraihnya, tetapi, sebagai noda dari sukacitanya itu, ia dibuat susah dan berduka oleh nazar yang dengan gegabah telah diucapkannya.

I. Kemenangan Yefta sungguh jelas, dan bersinar dengan sangat terang,
baik bagi kehormatannya, dalam membela perkara yang benar, maupun bagi kehormatan Allah, dalam mengakui perkara yang benar itu.

1. Allah memberikan roh yang luar biasa kepada Yefta, dan Yefta pun memanfaatkannya dengan berani (ay. 29). Ketika tampak, melalui suara bulat seluruh rakyat yang memilihnya sebagai kepala mereka, bahwa Yefta mendapat panggilan yang begitu jelas untuk berperang melawan bani Amon, dan, melalui kekerasan hati raja bani Amon yang menolak untuk mendengarkan permohonan damai, bahwa Yefta mempunyai alasan yang begitu benar untuk melaksanakan perang itu, pada saat itulah Roh Tuhan hinggap atasnya, dan sungguh meningkatkan segenap kemampuan ragawi yang memang sudah dimilikinya. Roh Tuhan itu memenuhinya dengan kuasa dari atas, dan membuatnya semakin berani dan semakin bijak daripada sebelum-sebelumnya, dan semakin terbakar oleh semangat yang kudus untuk melawan musuh-musuh bangsanya. Dengan ini, Allah meneguhkan Yefta di dalam tugasnya, dan memberinya jaminan keberhasilan di dalam upayanya. Setelah digerakkan seperti itu, Yefta tidak membuang-buang waktu, dan dengan tekad yang gigih segera maju ke medan perang. Diberikan perhatian khusus tentang cara yang dipakai Yefta untuk berjalan menuju perkemahan musuh, mungkin karena dipilihnya cara itu menjadi contoh dari kebijaksanaan luar biasa yang dengannya Roh Tuhan telah memperlengkapi dia. Sebab barangsiapa hidup dengan jujur menurut Roh akan dipimpin ke jalan yang benar.

2. Allah memberi Yefta keberhasilan yang gemilang, dan Yefta pun memanfaatkan pemberian itu dengan gagah berani (ay. 32): TUHAN menyerahkan bani Amon ke dalam tangannya, dan dengan demikian memberikan penghakiman atas pembelaan Yefta dengan mendukung perkara yang benar, dan membuat orang-orang yang tidak mau tunduk kepada kekuatan akal budi, merasakan kekuatan perang. Sebab Dialah Hakim yang adil, yang duduk di atas takhta. Yefta tidak menyia-nyiakan keuntungan-keuntungan yang diberikan kepadanya, tetapi terus mengejar dan menuntaskan kemenangannya. Setelah mengalahkan habis-habisan pasukan bani Amon di medan perang, ia mengejar mereka hingga ke kota-kota mereka, dan di sana ia memukul dengan mata pedang semua orang yang ditemuinya bersenjata, sehingga mereka dibuat sama sekali tidak berdaya untuk mengusik Israel (ay. 33). Akan tetapi, tidak tampak bahwa ia membinasakan bani Amon sampai habis, seperti Yosua yang telah menghabisi bangsa-bangsa yang dikhususkan untuk ditumpas, atau bahwa Yefta mengajukan dirinya untuk menjadi penguasa atas negeri itu, meskipun sikap bani Amon yang mengaku-aku memiliki negeri Israel bisa saja memberinya alasan untuk bertindak demikian. Hanya saja Yefta memastikan agar bani Amon benar-benar ditundukkan. Meskipun upaya jahat orang lain kepada kita akan membenarkan kita untuk mempertahankan hak kita, namun itu tidak memberi kita wewenang untuk menjahati mereka.


II. Nazar Yefta itu gelap, terlalu mengawang-awang dan diucapkan dengan gegabah.
Pada waktu Yefta berjalan keluar dari rumahnya untuk melaksanakan tugas berbahaya ini, di dalam doanya kepada Allah untuk menyertainya, ia mengucapkan suatu sumpah atau nazar yang rahasia namun sungguh-sungguh kepada Allah. Yaitu bahwa apabila Allah dengan penuh rahmat mau membawanya kembali pulang sebagai pemenang, maka siapa pun atau apa pun yang pertama kali keluar dari rumahnya untuk menyambutnya akan diserahkan kepada Allah, dan dipersembahkan sebagai korban bakaran. Sekembalinya pulang, oleh karena berita kemenangan Yefta telah sampai ke rumahnya mendahului dia, putri tunggalnya menyongsongnya dengan ungkapan-ungkapan sukacita yang memang pada tempatnya. Ini membuat pikiran Yefta sungguh kacau, namun semuanya sudah terlambat. Setelah mengambil beberapa saat untuk meratapi kemalangannya, putri Yefta dengan senang hati tunduk kepada nazar Yefta. Nah,

1. Ada beberapa pelajaran berharga yang dapat diambil dari kisah ini.
                (1) Bahwa bahkan di dalam hati orang yang sungguh-sungguh percaya pun tetap ada rasa tidak percaya dan keraguan. Yefta mempunyai cukup alasan untuk yakin bahwa ia akan berhasil, terutama ketika ia mendapati bahwa Roh Tuhan menghinggapinya, namun demikian, ketika ia betul-betul akan menghadapi bani Amon, ia tampak ragu (ay. 30): Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka aku akan berbuat ini dan itu. Dan mungkin perangkap yang menjerat Yefta oleh nazarnya ini dirancang untuk memperbaiki kelemahan imannya, dan keangkuhan yang dimilikinya bahwa ia tidak bisa menjanjikan dirinya sendiri kemenangan kecuali ia menawarkan sesuatu yang berharga untuk diserahkan kepada Allah sebagai gantinya.
                (2) Bahwa sekalipun begitu sangatlah baik, ketika kita sedang mengejar atau mengharapkan suatu belas kasih, untuk bernazar kepada Allah bahwa kita akan melayani-Nya dengan suatu perbuatan yang dapat diterima. Bukan sebagai bayaran dari perkenanan yang kita inginkan, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada-Nya serta kesadaran kita yang mendalam akan kewajiban-kewajiban kita untuk memberikan balasan menurut kebaikan yang dilakukan kepada kita. Perkara yang mendasari nazar khusus seperti itu (Im. 27:2) haruslah merupakan sesuatu yang secara jelas dan langsung dapat membantu meninggikan kemuliaan Allah, serta memajukan kepentingan-kepentingan kerajaan-Nya di antara manusia, atau membuat kita lebih giat dalam melayani-Nya, dan dalam melakukan apa yang sebelumnya memang sudah menjadi kewajiban kita.
                (3) Bahwa kita harus sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan sebelum membuat nazar-nazar seperti itu, supaya jangan sampai, karena menuruti perasaan yang sedang kita rasakan, sekalipun itu semangat yang penuh kesalehan, kita menjerat hati nurani kita sendiri, dan melibatkan diri kita dalam rupa-rupa kebingungan, serta pada akhirnya terpaksa berkata di hadapan utusan Allah bahwa kita khilaf (Pkh. 5:1-5). Suatu jerat bagi manusia ialah kalau ia tanpa berpikir dan terburu-buru mengatakan “Kudus” tanpa mempertimbangkan dengan semestinya quid valeant humeri, quid ferre recusent -" apa yang mampu atau tidak mampu kita laksanakan, dan tanpa menyisipkan syarat dan ketentuan yang diperlukan, yang dapat mencegah kita terjerat, dan sesudah bernazar baru menimbang-nimbang segala sesuatu yang seharusnya sudah dipertimbangkan sebelumnya (Ams. 20:25). Biarlah kemalangan Yefta ini menjadi peringatan bagi kita dalam perkara ini (lihat Ul. 23:22).
                (4) Bahwa apa yang telah kita nazarkan dengan sungguh-sungguh kepada Allah harus kita laksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab, apabila itu memang dapat dilakukan dan tidak melanggar hukum, meskipun itu sangat sulit dan menyusahkan bagi kita. Rasa tanggung jawab Yefta yang sungguh besar terhadap nazarnya itu haruslah senantiasa menjadi milik kita juga (ay. 35): “Aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur,” artinya, “Aku tidak bisa menarik nazarku sendiri, sudah terlambat, dan tidak ada kuasa apa pun di bumi yang dapat menggugurkannya, atau melepaskanku dari ikatanku.” Nazar itu milikku sendiri, dan tetap dalam kuasaku (Kis. 5:4), tetapi sekarang tidak demikian adanya. Bernazarlah dan bayarlah nazarmu itu (Mzm. 76:12). Kita menipu diri sendiri apabila kita mencoba mempermainkan Allah. Apabila kita menerapkan sikap ini pada persetujuan yang telah kita berikan dengan sungguh-sungguh, dalam nazar suci kita, terhadap kovenan anugerah yang diadakan dengan para pendosa yang malang di dalam Kristus, betapa itu akan menjadi alasan yang kuat untuk melawan segala dosa, yang melalui nazar itu kita telah mengikat diri untuk tidak melakukannya, dan betapa itu menjadi pendorong yang kuat bagi kita untuk melaksanakan kewajiban, yang melalui nazar itu kita telah mengikat diri untuk melakukannya, dan betapa itu menjadi jawaban yang siap sedia terhadap setiap godaan! “Aku telah membuka mulutku kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur. Oleh karena itu, aku harus terus maju. Aku telah bernazar, dan aku harus, aku akan, melaksanakannya. Janganlah pernah aku berani mempermainkan Allah.”
                (5) Bahwa sudah sepatutnya anak-anak dengan taat dan riang hati tunduk kepada orangtua mereka di dalam Tuhan, dan khususnya patuh terhadap tekad yang penuh kesalehan dari orangtua mereka untuk menghormati Allah dan menjaga agama di dalam keluarga mereka, meskipun orangtua mereka galak dan keras. Seperti orang-orang Rekhab, yang selama sekian banyak angkatan dengan saleh mematuhi perintah Yonadab bapa leluhur mereka untuk tidak minum anggur, dan seperti putri Yefta di sini, yang demi memuaskan tuntutan hati nurani ayahnya, dan demi kehormatan Allah serta negerinya, menyerahkan dirinya sebagai seorang yang dikhususkan untuk menjadi persembahan (ay. 36): “Perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu. Aku tahu bahwa aku ini kesayanganmu, tetapi aku siap menerima bahwa Allah harus menjadi yang lebih engkau sayangi.” Seorang ayah dapat membatalkan nazar apa pun yang diucapkan putrinya (Bil. 30:5), tetapi putrinya itu tidak dapat membatalkan atau membuat tidak berlaku nazar yang diucapkan oleh sang ayah, sekalipun itu nazar yang seperti ini. Perbuatan ini mengagungkan perintah Allah yang kelima.
                (6) Bahwa kesedihan sahabat-sahabat kita haruslah menjadi kesedihan kita. Pada waktu putri Yefta pergi untuk menangisi nasibnya yang malang, teman-temannya sesama gadis ikut pergi meratap bersamanya (ay. 38). Ia biasa bergaul dengan teman-teman perempuan sebayanya, yang sudah pasti berharap bahwa, karena sekarang ayahnya seketika menjadi orang yang begitu hebat, segera setelah ayahnya itu kembali, mereka akan menari di pesta pernikahannya. Akan tetapi mereka menjadi sangat kecewa ketika mereka diajak untuk pergi ke pegunungan bersamanya dan ikut berbagi dalam kepedihannya. Orang-orang yang hanya mau bersukaria bersama kita, dan tidak mau menangis bersama kita, tidak layak disebut sebagai sahabat.
                (7) Bahwa semangat kepahlawanan demi kehormatan Allah dan Israel, meskipun dinodai oleh kelemahan dan ketidakbijaksanaan, pantas diingat sepanjang masa. Sudah sepantasnya anak-anak perempuan Israel setiap tahun merayakan kenangan yang terhormat akan putri Yefta ini, yang bahkan tidak mengindahkan nyawanya sendiri seperti seorang pahlawan yang mulia, ketika Allah telah mengadakan pembalasan terhadap musuh-musuh Israel (ay. 36). Suatu perbuatan langka dari seseorang yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada nyawanya sendiri seperti itu tidak pernah boleh dilupakan. Kedudukannya sebagai perempuan melarangnya untuk ikut berperang, dan dengan begitu untuk ikut meregang nyawa di medan pertempuran, sehingga sebagai gantinya, ia mempertaruhkan nyawanya lebih jauh lagi untuk menyemarakkan kemenangan ayahnya. Mungkin ia melakukannya dengan penuh kesadaran, karena ia sudah tahu sedikit banyak tentang nazar ayahnya, dan melakukannya dengan sengaja, karena ayahnya berkata kepadanya (ay. 35), engkau membuat hatiku hancur luluh. Begitu gembiranya ia dengan kemenangan yang membawa kebaikan bagi semua orang itu, sehingga ia bersedia menyerahkan dirinya untuk dipersembahkan sebagai korban syukur untuk kemenangan itu, dan akan menganggap hidupnya dikorbankan untuk hal yang baik apabila diserahkan dalam peristiwa yang begitu besar itu. Putri Yefta memandang bahwa suatu kehormatan untuk mati, bukan sebagai korban pendamaian bagi dosa orang Israel karena kehormatan itu disediakan untuk Kristus semata, melainkan sebagai korban syukur atas belas kasihan terhadap orang Israel.
                (8) Dari keprihatinan Yefta pada kesempatan ini, kita harus belajar untuk tidak menganggap aneh apabila hari-hari kemenangan kita di dunia ini, karena satu atau lain alasan, ternyata menjadi hari-hari kedukaan kita, dan karena itu kita harus senantiasa bergembira dengan gentar. Kita mengharapkan datangnya hari kemenangan pada masa mendatang yang tidak akan ternodai.

2. Akan tetapi, ada beberapa pertanyaan sulit yang benar-benar muncul perihal kisah ini, yang telah menjadi perbincangan di antara para cendekiawan. Saya hanya akan membahas sedikit mengenai hal ini, karena Matthew Poole (theolog Inggris abad ke-17 -" pen.) telah mengupasnya dengan sangat mendalam di dalam bukunya, English Annotations on the Holy Bible.

(1) Sulit untuk mengatakan apa yang sesungguhnya dilakukan Yefta terhadap putrinya dalam rangka memenuhi nazarnya itu.

- Sebagian penafsir berpendapat bahwa Yefta hanya menetapkan putrinya menjadi seorang biarawati. Dan bahwa karena mempersembahkan putrinya sebagai korban bakaran, menurut salah satu bagian nazarnya karena mereka menganggap nazar itu bersifat pilihan, tidak diperbolehkan dalam hukum Taurat, maka menurut bagian yang lain dari nazarnya, Yefta menetapkan putrinya itu menjadi kepunyaan TUHAN. Artinya, putrinya itu sama sekali mengasingkan diri dari segala urusan duniawi, termasuk di dalamnya pernikahan, dan membaktikan diri sepenuhnya untuk melakukan segenap pekerjaan Allah seumur hidupnya. Pandangan ini muncul oleh sebab dikatakan bahwa putri Yefta itu menangisi kegadisannya (ay. 37-38), dan bahwa ia tidak pernah kenal laki-laki (ay. 39). Akan tetapi, apabila Yefta memang mempersembahkannya sebagai korban, maka cukup menjadi alasan bagi putrinya untuk meratapi. Bukan meratapi kematiannya, karena kematian itu dimaksudkan bagi kehormatan Allah, dan ia akan bersedia menjalaninya dengan penuh sukacita, melainkan keadaan yang tidak menyenangkan dari kematian itu, yang baginya lebih menyedihkan daripada perkara lain, karena ia merupakan anak tunggal ayahnya, harapan ayahnya untuk meneruskan namanya dan keluarganya. Yaitu bahwa ia tidak menikah, sehingga tidak meninggalkan keturunan untuk mewarisi kehormatan dan kekayaan ayahnya. Oleh karena itu, diberi perhatian secara khusus (ay. 34) bahwa selain dirinya, Yefta tidak memiliki anak laki-laki ataupun perempuan. Tetapi yang membuat saya berpikir bahwa Yefta tidak berlaku demikian untuk memenuhi nazarnya, atau lebih tepatnya untuk mengelak dari nazarnya, adalah bahwa kita tidak menjumpai adanya hukum, adat istiadat, atau kebiasaan, di dalam seluruh isi Perjanjian Lama, yang sedikit pun menyiratkan bahwa hidup selibat merupakan suatu bagian atau peraturan dalam agama. Atau bahwa siapa pun, laki-laki atau perempuan, dipandang lebih kudus, atau lebih menjadi kepunyaan Tuhan, atau dikhususkan bagi-Nya, apabila ia hidup tidak menikah. Hidup selibat juga bukan merupakan bagian dari hukum para imam atau orang nazir. Debora dan Hulda, keduanya nabiah, secara khusus dituliskan sebagai perempuan-perempuan yang menikah. Selain itu, seandainya putri Yefta hanya ditetapkan untuk menjalani hidup selibat, maka ia tidak perlu meminta waktu selama dua bulan ini untuk menangisi kegadisannya, karena ia mempunyai seumur hidupnya untuk melakukan itu, apabila ia melihat alasan untuk melakukannya. Dia pun tidak perlu bersedih seperti itu karena akan meninggalkan teman-temannya, karena orang-orang yang mendukung pandangan ini memahami bahwa apa yang dikatakan dalam ayat 40 itu merupakan kunjungan teman-temannya untuk berbicara dengan anak perempuan Yefta, seperti dalam tafsiran yang agak luas, empat hari dalam setahun.

Oleh sebab itu,
- Lebih besar kemungkinan bahwa Yefta mempersembahkan putrinya sebagai korban, persis seperti nazarnya, oleh sebab kekeliruannya memahami hukum yang berbicara tentang orang-orang yang dikhususkan untuk ditumpas oleh kutukan Allah, seakan-akan hukum itu berlaku pula bagi orang-orang yang dikhususkan untuk ditumpas oleh nazar manusia (Im. 27:29, setiap orang yang dikhususkan, yang harus ditumpas di antara manusia, tidak boleh ditebus, pastilah ia dihukum mati), dan oleh sebab kekurangtahuannya akan kuasa yang diberikan hukum Taurat kepadanya dalam perkara ini untuk menebus putrinya. Upaya Abraham untuk mempersembahkan Ishak mungkin telah mengilhami Yefta, dan membuatnya berpikir, apabila Allah tidak berkenan terhadap korban yang telah dinazarkannya ini, maka Dia pasti akan mengirim seorang malaikat untuk menghentikan tangannya, seperti yang telah diperbuat-Nya kepada Abraham. Apabila putrinya itu memang sengaja keluar untuk dijadikan korban, karena siapa tahu memang demikian adanya, mungkin Yefta berpikir bahwa hal itu akan membuat perkaranya lebih jelas. Volenti non sit injuria -" Bagi orang yang setuju bahwa ia akan terkena cedera, tidak dapat dianggap bahwa ia dicederai oleh pihak lain. Yefta mungkin berpikiran bahwa apabila tidak ada kemarahan ataupun kebencian, maka tidak ada pembunuhan, dan bahwa niat baiknya akan menguduskan perbuatan keji ini. Dan, karena ia telah membuat nazar seperti itu, ia memandang lebih baik membunuh putrinya daripada melanggar nazarnya, dan menyerahkan kesalahan kepada penyelenggaraan Allah, yang telah membawa putrinya keluar untuk menyongsongnya.

(2) Namun demikian, anggap saja bahwa Yefta betul mempersembahkan putrinya, pertanyaannya adalah apakah tindakan itu dibenarkan.
- Beberapa orang membenarkan tindakannya, dan berpendapat bahwa ia telah berbuat benar, sebagai orang yang lebih mengutamakan kehormatan Allah daripada apa yang paling dikasihinya di dunia ini. Nama Yefta disebutkan di antara orang-orang percaya yang ternama, yang oleh iman telah melakukan perkara-perkara besar (Ibr. 11:32). Dan ini termasuk salah satu perkara besar yang dilakukan Yefta. Tindakan itu dilaksanakan dengan seksama, setelah melalui waktu pertimbangan dan pemikiran selama dua bulan. Yefta tidak pernah dipersalahkan atas perbuatannya itu oleh semua penulis yang diilhami Allah. Meskipun perbuatan itu sangat menjunjung wewenang orangtua, namun itu tidak membenarkan siapa pun untuk berbuat serupa. Yefta adalah seorang yang sungguh luar biasa. Roh TUHAN menghinggapi dia. Berbagai peristiwa di seputar kejadian tersebut, yang sekarang tidak kita ketahui, bisa jadi membuat tindakannya itu betul-betul luar biasa, dan membenarkannya, namun tidak sampai sedemikian rupa hingga dapat membenarkan perbuatan serupa. Sebagian cendekiawan memandang korban ini sebagai perlambang dari Kristus sang korban agung, yang sungguh suci dan murni tanpa noda, sama halnya dengan putri Yefta yang sungguh masih gadis murni. Kristus telah dikhususkan untuk mati oleh Bapa-Nya, dan dengan begitu dijadikan kutuk atau laknat bagi kita. Kristus menyerahkan diri-Nya, seperti halnya putri Yefta, kepada kehendak Bapa-Nya: Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.

Akan tetapi,
- Kebanyakan orang mengutuk Yefta. Ia telah berbuat jahat dengan bernazar begitu gegabah, dan berbuat lebih jahat lagi dengan melaksanakannya. Ia tidak dapat terikat oleh nazarnya untuk melakukan apa yang telah dilarang Allah melalui perintah-Nya yang keenam: Jangan membunuh. Allah telah melarang korban persembahan dalam wujud manusia, sehingga perbuatan Yefta itu (menurut Dr. Lightfoot) sesungguhnya merupakan persembahan terhadap Molokh. Ada kemungkinan, alasan mengapa sang penulis kitab yang mendapat ilham ilahi ini membiarkan akhir kisah ini tidak pasti apakah Yefta pada akhirnya mengorbankan putrinya atau tidak, adalah supaya orang-orang yang di kemudian hari benar-benar mengorbankan anak-anak mereka tidak memperoleh pembenaran dari peristiwa ini. Mengenai bacaan ini dan sejumlah bacaan lain yang serupa di dalam sejarah suci, yang telah meninggalkan para cendekiawan di dalam gelap, membuat mereka terbagi-bagi pendapat, dan merasa ragu, kita tidak perlu terlalu pusing memikirkannya. Apa yang penting bagi keselamatan kita, syukur kepada Allah, sudah cukup jelas.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
Khotbah GMIM Minggu, 27 Oktober 2024- ORANG YANG TAKUT AKAN TUHAN ANAK CUCUNYA AKAN MEWARISI BUMI - Mazmur 25:1-22

Sebelum:
MTPJ GMIM Minggu, 13 Oktober 2024 - Terpujilah Tuhan Yang Telah Menyelamatkan - Keluaran 18:1-12




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2024..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,