|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2024 Minggu, 27 Oktober 2024 Khotbah GMIM Minggu, 27 Oktober 2024- ORANG YANG TAKUT AKAN TUHAN ANAK CUCUNYA AKAN MEWARISI BUMI - Mazmur 25:1-22 Ketika kita mengaku dosa, kita harus menegaskan betapa besarnya dosa kita itu. Marilah sekarang kita melihat janji-janji yang besar dan berharga yang kita miliki Mazmur 25:1-22 Doa mohon ampun dan perlindungan 25:1 Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; 25:2 Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. 25:3 Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya. 25:4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 25:5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. 25:6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. 25:7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. 25:8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. 25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. 25:10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya. 25:11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu. 25:12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. 25:13 Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi. 25:14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka. 25:15 Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring. 25:16 Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas. 25:17 Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku! 25:18 Tiliklah sengsaraku dan kesukaranku, dan ampunilah segala dosaku. 25:19 Lihatlah, betapa banyaknya musuhku, dan bagaimana mereka membenci aku dengan sangat mendalam. 25:20 Jagalah kiranya jiwaku dan lepaskanlah aku; janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung pada-Mu. 25:21 Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau. 25:22 Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya! Penjelasan: * Mzm 25:1-7 - Permohonan-permohonan yang Sungguh-sungguh Mazmur ini penuh dengan curahan perasaan yang saleh kepada Allah. Keinginan hati yang kudus mengalir mencari perkenan dan anugerah-Nya, dengan tindakan-tindakan iman yang hidup akan janji-janji-Nya. Kita dapat belajar di sini, I. Apa yang didoakan di sini (ay. 1-15). II. Apa yang harus kita doakan: pengampunan dosa (ay. 6-7, 18), petunjuk dalam melaksanakan kewajiban (ay. 4-5), belas kasihan Allah (ay. 16), pelepasan dari segala kesesakan kita (ay. 17-18), perlindungan dari musuh-musuh kita (ay. 20-21), dan keselamatan jemaat Allah (ay. 22). III. Apa yang bisa kita serukan di dalam doa: keyakinan kita kepada Allah (ay. 2-3, 5, 20-21), kesusahan kita dan kebencian musuh-musuh kita (ay. 17, 19), dan ketulusan hati kita (ay. 21). IV. Janji-janji berharga apa yang kita miliki untuk mendorong kita di dalam doa: akan bimbingan dan petunjuk (ay. 8-9, 12), keuntungan kovenan (ay. 10), dan kesenangan dalam persekutuan dengan Allah (ay. 13-14). Mudah bagi kita untuk menerapkan sejumlah bacaan dalam mazmur ini pada diri kita sendiri ketika kita menyanyikannya, karena kita sering kali mempunyai masalah, dan selalu mempunyai dosa, untuk dikeluhkan di hadapan takhta anugerah. Permohonan-permohonan yang Sungguh-sungguh (25:1-7) Di sini kita mendapati pengakuan-pengakuan Daud tentang keinginan hatinya terhadap Allah dan kebergantungannya pada-Nya. Ia sering kali memulai mazmurnya dengan pengakuan-pengakuan seperti itu, bukan untuk menggerakkan Allah melainkan untuk menggerakkan dirinya sendiri, dan untuk bersungguh-sungguh menjalani pengakuan-pengakuan itu. I. Ia memberikan pengakuan akan keinginan hatinya terhadap Allah: Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku (ay. 1). Dalam mazmur sebelumnya (ay. 4), digambarkan sifat orang benar, yaitu bahwa ia tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan (kjv: tidak mengangkat jiwanya kepada kesia-siaan -"pen.). Sebaliknya, pintu-pintu yang berabad-abad dipanggil untuk mengangkat kepala mereka supaya masuk Raja Kemuliaan(ay. 7). Sifat inilah, panggilan inilah, yang dijawab Daud di sini, “Tuhan, kuangkat jiwaku, bukan kepada kesia-siaan, melainkan kepada-Mu.” Perhatikanlah, saat menyembah Allah kita harus mengangkat jiwa kita kepada-Nya. Doa adalah mengangkat jiwa kepada Allah. Allah harus dipandang dan jiwa harus digerakkan. Ungkapan sursum corda -" angkatlah hatimu, dulu kala digunakan sebagai panggilan untuk beribadah. Dengan celaan kudus terhadap dunia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, serta dengan pikiran teguh dan iman yang giat, kita harus mengarahkan pandangan kita kepada Allah. Dengan begitu, kita boleh mengungkapkan segala keinginan hati kita kepada-Nya sebagai sumber kebahagiaan kita. II. Ia memberikan pengakuan akan kebergantungannya pada Allah dan memohon agar ia mendapat keuntungan dan penghiburan dari kebergantungannya itu (ay. 2): Allahku, kepada-Mu aku percaya. Hati nuraninya bersaksi bagi dia bahwa dia tidak menaruh percaya kepada dirinya sendiri atau kepada ciptaan mana pun, dan bahwa kepercayaannya kepada Allah atau kepada kuasa dan janji-Nya tidaklah berkurang. Hatinya senang dengan pengakuan imannya kepada Allah ini. Karena ia mempercayakan dirinya kepada Allah, dia menjadi tenang, sangat puas, dan bebas dari rasa takut terhadap bahaya. Pengakuan percaya itu ia serukan kepada Allah, yang selalu merasa terhormat untuk menolong orang-orang yang menghormati Dia dengan kepercayaan mereka kepada-Nya. Apa yang diandalkan manusia pasti akan membawa entah sukacita atau rasa malu kepada mereka, sesuai dengan apa yang terbukti nanti. Nah, di sini Daud, dengan penuh iman, berdoa dengan sungguh-sungguh, 1. Agar malu jangan sampai menimpanya: “Janganlah kiranya aku mendapat malu karena kepercayaanku kepada-Mu. Janganlah kiranya kepercayaanku goyah oleh karena ketakutan-ketakutan yang melanda, dan janganlah kiranya aku dikecewakan dengan apa yang kuandalkan daripada-Mu. Sebaliknya, Tuhan, peliharalah apa yang telah kupercayakan kepada-Mu.” Perhatikanlah, jika kita menjadikan kepercayaan kita kepada Allah sebagai penopang kita, maka kita tidak akan mendapat malu. Dan, jika kita beria-ria di dalam Dia, maka musuh-musuh kita tidak akan beria-ria atas kita, seperti yang akan mereka lakukan seandainya kita sekarang tenggelam dalam ketakutan-ketakutan kita, atau segala harapan kita kandas pada akhirnya. 2. Agar malu jangan sampai menimpa siapa saja yang percaya kepada Allah. Semua orang kudus telah memperoleh iman berharga yang sama, dan karena itu, tanpa diragukan lagi, pada akhirnya mereka akan sama-sama berhasil. Dengan demikian, persekutuan orang-orang kudus tetap dijaga, bahkan melalui saling doa satu bagi yang lainnya di antara mereka. Orang-orang kudus yang sejati akan membuat permohonan bagi semua orang kudus. Sudahlah pasti, siapa pun yang berharap kepada Allah, dengan percaya dan setia menanti-nantikan Dia, dengan percaya dan terus berharap menunggu Dia, tidak akan mendapat malu karenanya. 3. Agar malu akan menimpa para pendosa. Yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya, atau dengan sia-sia, sesuai dengan arti kata itu. (1) Tanpa dihasut. Mereka memberontak terhadap Allah dan kewajiban mereka, terhadap Daud dan pemerintahannya (begitu menurut sebagian orang), tanpa penyebab apa pun. Mereka tidak bisa menunjukkan kesalahan apa pun yang mereka temukan pada Allah, atau dalam hal apa saja Dia telah menyusahkan mereka. Semakin lemah godaan yang membuat manusia ditarik ke dalam dosa, semakin kuat kejahatan yang membuat mereka terdorong untuk berbuat dosa. Orang-orang berdosa yang paling buruk adalah mereka yang berdosa hanya demi dosa itu sendiri. (2) Tanpa hasil. Mereka tahu bahwa usaha-usaha mereka melawan Allah tidak akan membawa hasil apa-apa. Mereka membayangkan hal yang sia-sia, dan oleh sebab itu mereka akan segera dipermalukan karenanya. III. Ia memohon bimbingan dari Allah untuk melaksanakan kewajibannya (ay. 4-5). Berulang kali di sini ia berdoa kepada Allah untuk mengajarinya. Ia sendiri adalah orang yang berpengetahuan, namun demikian, orang yang paling cerdas dan paling taat sekalipun, keduanya perlu dan ingin diajar oleh Allah. Dari Dia kita harus selalu belajar. Perhatikanlah: 1. Apa yang ingin dipelajarinya: “Ajarilah aku, bukan kata-kata indah atau gagasan-gagasan yang hebat, melainkan jalan-jalan-Mu, kebenaran-Mu, jalan-jalan yang di dalamnya Engkau berjalan menghampiri manusia, yang melulu merupakan segala belas kasihan dan kebenaran (ay. 10). Ajarilah aku jalan-jalan yang Engkau ingin aku berjalan di dalamnya untuk menuju Engkau.” Orang-orang yang berhasil diajar adalah mereka yang memahami kewajiban mereka, dan mengetahui apa yang baik yang harus mereka lakukan (Pkh. 2:3). Jalan-jalan Allah dan kebenaran-Nya adalah sama. Hukum-hukum ilahi didirikan di atas kebenaran-kebenaran ilahi. Jalan perintah-perintah Allah adalah jalan kebenaran ( 119:30). Kristus adalah jalan dan kebenaran itu, dan karena itu kita harus belajar dari Kristus. 2. Apa yang diinginkannya dari Allah, supaya dia bisa belajar dari-Nya. (1) Agar Allah mencerahkan pengertiannya tentang kewajibannya: “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, dan ajarlah aku.”Ketika kita dilanda keraguan, kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah membuatnya jelas bagi kita apa yang diinginkan-Nya untuk kita lakukan. (2) Agar Allah mengarahkan kehendaknya untuk belajar pada-Nya, dan menguatkan dia selama melakukannya: “Tuntunlah aku, dan ajarilah aku.” Tidak hanya seperti kita menuntun orang yang sudah rabun mata, supaya ia tidak tersesat, melainkan juga seperti kita menuntun orang yang sakit, lemah, dan tidak berdaya, untuk membantu dia agar terus berjalan dan menjaganya agar dia tidak jatuh pingsan. Dalam perjalanan menuju sorga, kita tidak akan berjalan lebih jauh daripada apa yang dikehendaki Allah dalam menuntun dan menopang kita. 3. Apa yang diserukannya, (1) Pengharapannya yang besar dari Allah: Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku. Perhatikanlah, orang-orang yang memilih keselamatan dari Allah sebagai tujuan akhir mereka, dan yang menjadikan-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan mereka, dapat datang dengan berani kepada-Nya untuk meminta bimbingan dari-Nya supaya dituntun di dalam jalan yang menuju tujuan itu. Jika Allah menyelamatkan kita, Dia juga akan mengajar dan menuntun kita. Dia yang memberikan keselamatan pasti akan memberikan petunjuk. (2) Penantiannya akan Allah yang tanpa henti: Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Dari mana seorang hamba mengharapkan petunjuk mengenai apa yang harus dikerjakannya kecuali dari tuannya sendiri, yang dinanti-nantikannya sepanjang hari? Jika kita dengan tulus ingin mengetahui kewajiban kita, dengan tekad untuk melakukannya, maka kita tidak perlu merasa ragu lagi apakah Allah akan membimbing kita atau tidak. IV. Ia berseru kepada rahmat Allah yang tidak terbatas, dan menyerahkan dirinya pada rahmat itu, tanpa mengaku-ngaku mempunyai jasa apa pun dari dirinya sendiri (ay. 6): “Ingatlah segala rahmat-Mu ya TUHAN, dan karena segala rahmat-Mu itulah, tuntunlah dan ajarlah aku, sebab rahmat-Mu itu sudah ada sejak purbakala.” 1. “Sejak dahulu kala Engkaulah Allah yang selalu penuh rahmat. Itulah nama-Mu, itulah hakikat dan sifat-Mu, untuk menunjukkan rahmat.” 2. “Segala rencana dan rancangan rahmat-Mu sudah ada sejak dari kekekalan. Bejana-bejana rahmat-Mu, sebelum dunia dijadikan, telah dipersiapkan untuk kemuliaan.” 3. “Tindakan-tindakan rahmat-Mu kepada jemaat secara umum, dan kepadaku secara khusus, sudah ada sejak semula dari dahulu kala, dan terus ada sampai sekarang. Semuanya itu dimulai dari dulu, dan tidak akan pernah berhenti. Engkau telah mengajarku dari waktu aku muda, dan terus mengajarku sampai sekarang.” V. Ia secara khusus bersungguh-sungguh meminta pengampunan atas segala dosanya (ay. 7): “Dosa-dosaku pada waktu muda janganlah Kauingat. Tuhan, ingatlah segala rahmat-Mu (ay. 6), yang berbicara mendukung aku, dan jangan ingat dosa-dosaku, yang berbicara menentang aku.” Inilah, 1. Sebuah pengakuan dosa yang tersirat. Ia berbicara secara khusus tentang dosa-dosa masa mudanya. Perhatikanlah, segala kesalahan dan kebodohan kita pada waktu muda memang seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk bertobat dan merendahkan diri walaupun waktunya sudah lama berselang, karena waktu sekali-kali tidak akan mengikis kesalahan dosa. Orang-orang yang sudah tua haruslah meratapi kegembiraan mereka yang penuh dosa dan bersedih atas kesenangan dosa yang mereka nikmati pada masa muda mereka. Ia membesar-besarkan dosa-dosanya, dengan menyebutnya pelanggaran-pelanggarannya. Semakin kudus, adil, dan baik hukum yang telah dilanggar oleh dosa, semakin berdosalah seharusnya pelanggaran kita tampak pada kita. 2. Ungkapan permohonan akan belas kasihan, (1) Agar ia dibebaskan dari kebersalahannya: “Dosa-dosaku pada waktu muda janganlah Kauingat. Maksudnya, janganlah mengingatnya untuk melawan aku, janganlah membeberkannya untuk mendakwa aku, dan janganlah menghakimi aku karenanya.” Ketika Allah mengampuni dosa, Dia dikatakan tidak mengingatnya lagi, yang menunjukkan penghapusan secara menyeluruh. Dia mengampuni dan melupakan. (2) Agar ia boleh diterima dalam pandangan Allah: “Ingatlah kepadaku, pikirkanlah yang baik-baik untuk aku, dan datanglah pada waktunya untuk menolong aku.” Tidak ada lagi yang kita perlu inginkan untuk membuat kita bahagia selain supaya Allah mengingat kita dengan kebaikan-Nya. Seruannya adalah, “sesuai dengan kasih setia-Mu, dan oleh karena kebaikan-Mu.” Perhatikanlah, kebaikan Tuhanlah dan bukan kebaikan kita, rahmat-Nyalah dan bukan jasa kita sendiri, yang harus kita serukan untuk mendapatkan pengampunan dosa dan semua hal baik yang kita perlukan. Seruan ini harus selalu menjadi pegangan kita, seperti orang yang sadar akan kemiskinan dan ketidaklayakannya, seperti orang yang dipuaskan oleh kekayaan rahmat dan anugerah Allah. * Kebaikan dan Belas Kasihan Ilahi (25:8-14) Janji-janji Allah di sini dipadukan dengan doa-doa Daud. Ada banyak permohonan yang kita dapatkan dalam bagian awal mazmur ini, dan ada banyak juga yang akan kita dapatkan dalam bagian akhirnya. Dan di sini, di tengah-tengah mazmur ini, Daud merenungkan janji-janji itu, dan dengan iman yang hidup ia menyusu dari buah dada penghiburan ini dan dipuaskan olehnya. Sebab janji-janji Allah bukan hanya merupakan dasar terbaik bagi doa, yang memberi tahu kita apa yang harus kita doakan dan mendorong iman serta pengharapan kita di dalam doa, melainkan juga sudah merupakan jawaban langsung atas doa itu sendiri. Biarlah doa dipanjatkan sesuai dengan janji itu, maka barulah janji itu dapat dipahami sebagai jawaban atas doa tersebut. Dan kita harus percaya bahwa doa kita didengar, karena janji itu akan ditepati. Namun, di tengah-tengah janji-janji itu kita mendapati satu permohonan yang tampak diucapkan agak tiba-tiba, dan yang seharusnya ditindaklanjuti (ay. 7). Permohonan itu adalah, ampunilah kesalahanku (ay. 11). Namun, doa untuk meminta pengampunan dosa sekali-kali tidak pernah menyimpang dari pokok pembicaraan. Semua perbuatan kita sudah bercampur dengan dosa, dan oleh sebab itu doa minta ampun itu seharusnya juga dicampurkan dengan ibadah-ibadah kita. Ia menegaskan permohonan ini dengan berseru dua kali. Seruan yang pertama sangat biasa: “Oleh karena nama-Mu, ampunilah kesalahanku, karena Engkau telah menyatakan nama-Mu sebagai nama yang penuh rahmat dan berbelas kasihan, yang menghapus dosa pemberontakan demi kemuliaan-Mu, demi janji-Mu, dan demi kepunyaan-Mu” (Yes. 43:25). Tetapi seruan yang kedua sangat mengejutkan: “Ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu, dan semakin besar kesalahan itu semakin besarlah belas kasihan ilahi akan dipermuliakan dalam mengampuninya.” Adalah kemuliaan Allah yang Mahabesar untuk mengampuni dosa-dosa yang besar, untuk mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa (Kel. 34:7). “Besar kesalahan itu, dan oleh sebab itu aku akan binasa, binasa sampai selama-lamanya, jika belas kasihan yang tiada terbatas tidak turut campur untuk mengampuninya. Besar kesalahan itu, demikianlah aku melihatnya.” Semakin kita melihat kekejian dalam dosa-dosa kita, semakin pantas kita mencari belas kasihan Allah. Ketika kita mengaku dosa, kita harus menegaskan betapa besarnya dosa kita itu. Marilah sekarang kita melihat janji-janji yang besar dan berharga yang kita miliki dalam ayat-ayat ini. Perhatikanlah, I. Siapa yang memiliki janji-janji ini, dan siapa yang dapat mengharapkan keuntungan darinya. Kita ini semua orang berdosa, jadi dapatkah kita berharap mendapatkan keuntungan dari janji-janji itu? Ya (ay. 8), Dia akan menunjukkan jalan kepada orang yang sesat, meskipun mereka sesat dan berdosa. Sebab Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, dan, untuk melakukannya, Ia mengajar orang-orang berdosa dan memanggil mereka untuk bertobat. Janji-janji ini berlaku pasti bagi orang-orang yang sekarang menjalankan firman Allah meskipun sebelumnya mereka berdosa dan tersesat. Mereka ini adalah, 1. Orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya (ay. 10), yang mematuhi perintah-perintah-Nya sebagai peraturan bagi mereka, dan yang menggenggam janji-janji-Nya sebagai bagian mereka. Mereka menerima Allah sebagai Allah mereka dan hidup sesuai dengan keputusan itu. Mereka menyerahkan diri kepada-Nya sebagai umat-Nya dan hidup sesuai dengan keputusan itu. Meskipun karena kelemahan daging, mereka kadang-kadang melanggar perintah, namun, dengan pertobatan yang tulus setiap kali berbuat salah dan dengan iman yang tetap kepada Allah sebagai Allah mereka, mereka berpegang pada perjanjian itu dan tidak melanggarnya. 2. Orang yang takut akan Dia (ay. 12, dan lagi ay. 14), yang hormat pada keagungan-Nya dan menyembah-Nya dengan penuh rasa hormat, yang berserah pada wewenang-Nya dan mematuhi-Nya dengan senang hati, yang ngeri akan murka-Nya dan takut melukai hati-Nya. II. Atas dasar apa janji-janji ini diberikan, dan dorongan apa yang harus kita bangun darinya. Inilah dua hal yang mengesahkan dan meneguhkan semua janji itu: 1. Kesempurnaan sifat Allah. Kita menghargai janji itu berdasarkan sifat Dia yang membuatnya. Oleh sebab itu, kita dapat mengandalkan janji-janji Allah itu. Sebab TUHAN itu baik dan benar, maka Dia akan berlaku sebaik apa yang difirmankan-Nya. Dia begitu baik sehingga Dia tidak dapat menipu kita, begitu benar sehingga Dia tidak dapat melanggar janji-Nya. Setialah Dia yang telah berjanji, dan yang juga akan menepatinya. Dia telah berbaik hati untuk membuat janji itu, dan karena itu Dia akan benar dalam menepatinya. 2. Kesesuaian antara segala perkataan dan perbuatan-Nya dengan kesempurnaan-kesempurnaan sifat-Nya (ay. 10): Segala jalan TUHAN (yang artinya, segala janji dan pemeliharaan-Nya) adalah kasih setia dan kebenaran. Jalan-jalan-Nya itu, sama seperti Dia sendiri, baik dan benar. Semua tindakan Allah terhadap umat-Nya dilakukan sesuai dengan kasih setia dari tujuan-tujuan-Nya dan kebenaran janji-janji-Nya. Semua yang diperbuat-Nya berasal dari kasih, kasih dalam perjanjian. Dalam kasih-Nya itu umat-Nya dapat melihat kasih setia-Nya ditunjukkan dan firman-Nya digenapi. Sungguh hati orang-orang benar akan puas dengan limpahnya atas hal ini, sehingga apa pun penderitaan-penderitaan yang mereka alami, segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran, dan semua itu akan tampak kelak ketika mereka sampai pada akhir perjalanan mereka. III. Apa janji-janji itu. 1. Bahwa Allah akan mengajari dan menuntun mereka dalam melaksanakan kewajiban mereka. Hal ini paling ditekankan, karena ini merupakan jawaban bagi doa-doa Daud (ay. 4-5), “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, dan bawalah aku berjalan.” Kita harus mengarahkan pikiran-pikiran kita dan bertindak dengan iman terutama atas janji-janji yang sesuai dengan perkara yang sedang kita hadapi. (1) Ia akan menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Mereka telah berdosa, karena itu perlu ditunjukkan jalan. Ketika mereka sadar bahwa mereka sesat, dan ingin ditunjukkan jalan, maka Dia akan mengajar mereka jalan pendamaian dengan Allah, jalan yang menuju damai hati nurani yang dasarnya teguh, dan jalan yang menuju pada kehidupan kekal. Dengan Injil-Nya, Dia membuat jalan ini diketahui semua orang, dan, dengan Roh-Nya, Dia membuka pengertian dan membimbing orang-orang berdosa yang bertobat, yang mencari-cari jalan itu. Iblis membutakan mata orang dan menuntut mereka ke neraka, tetapi Allah membuat mata orang terang, menjadikan segala sesuatu di depan mereka terang benderang, dan dengan demikian Dia menuntun mereka ke sorga. (2) Ia membimbing orang-orang yang rendah hati. Ia akan mengajar orang-orang yang rendah hati, yaitu orang-orang yang merasa rendah dalam pandangan mereka sendiri, yang tidak percaya pada diri mereka sendiri, yang ingin diajar, dan yang dengan jujur bertekad untuk mengikuti bimbingan ilahi. Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar. Mereka ini akan dibimbing-Nya menurut hukum, yakni menurut aturan firman yang tertulis. Dia akan membimbing mereka mengenai apa yang mereka harus kerjakan, yang berhubungan dengan dosa dan kewajiban, sehingga mereka dapat memelihara hati nurani mereka agar tetap bersih dari segala pelanggaran. Dan Dia akan melakukannya dengan bijaksana (begitu menurut sebagian orang), yaitu, Dia akan menyesuaikan tindakan-Nya dengan perkara mereka. Dia akan mengajar orang-orang berdosa dengan hikmat, kelembutan, dan belas kasihan, dan sesuai dengan apa yang mampu mereka tanggung. Dia akan mengajar mereka jalan-Nya. Semua orang baik pasti menjadikan jalan Allah sebagai jalan mereka, dan ingin diajar tentang jalan itu. Dan mereka yang melakukannya pasti akan diajar dan dibimbing di dalam jalan itu. (3) Kepada orang yang takut akan TUHAN, Dia akan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya, entah di jalan yang akan dipilih oleh Allah atau yang akan dipilih oleh orang baik itu sendiri. Semuanya sama saja, sebab orang yang takut akan Tuhan pasti memilih hal-hal yang berkenan kepada-Nya. Jika kita memilih jalan yang benar, maka Dia yang mengarahkan pilihan kita akan membimbing langkah-langkah kita, dan akan menuntun kita dalam menjalani jalan yang benar itu. Jika kita memilih dengan bijak, maka Allah akan memberi kita anugerah untuk berjalan dengan bijak. 2. Bahwa Allah akan membuat mereka berbahagia (ay. 13): Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan, akan berdiam dalam kebaikan (menurut keterangan tambahan). Siapa berserah diri dalam rasa takut akan Tuhan, dan memberi diri untuk diajar oleh Allah, dia pasti akan berbahagia, kecuali dia sendiri berbuat salah. Jiwa yang dikuduskan oleh anugerah Allah, dan terlebih lagi yang dihibur oleh damai sejahtera Allah, menetap dalam kebahagiaan. Bahkan ketika tubuh sakit dan terbaring dalam penderitaan, jiwa dapat menetap dalam kebahagiaan di dalam Allah, dapat kembali kepada-Nya, dan beristirahat di dalam Dia. Ada banyak kejadian membuat kita tidak berbahagia, namun ada cukup banyak hal dalam kovenan anugerah yang juga dapat mengimbangi semuanya itu dan membuat kita berbahagia. 3. Bahwa Dia akan memberikan kepada mereka dan kepada keturunan mereka segala yang baik sebanyak yang ada di dunia ini: anak cucunya akan mewarisi bumi. Hal yang harus kita pedulikan berikutnya setelah jiwa kita adalah keturunan kita, dan Allah menyimpan berkat bagi keturunan orang-orang benar. Orang-orang yang takut akan Tuhan akan mewarisi bumi, akan memiliki isinya dan mendapatkan penghiburan darinya, dan keadaan anak cucu mereka akan menjadi lebih baik saat mereka telah tiada, oleh karena doa-doa mereka itu. 4. Bahwa Allah akan mengijinkan mereka ke dalam persekutuan yang rahasia dengan diri-Nya sendiri (ay. 14): TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia(kjv: rahasia Tuhan ada pada orang-orang yang takut akan Dia -" pen.). Mereka memahami firman-Nya, sebab, barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah suatu ajaran berasal dari Allah atau bukan (Yoh. 7:17). Siapa menerima kebenaran karena rasa cinta kepadanya, dan mengalami kuasanya, dialah yang paling memahami rahasia-rahasianya. Mereka mengetahui dengan lebih baik daripada orang lain arti dari pemeliharaan-Nya dan apa yang sedang diperbuat Allah terhadap mereka. Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? (Kej. 18:17). Dia tidak menyebut mereka hamba, melainkan sahabat, seperti Dia menyebut Abraham. Dari pengalaman, mereka mengetahui berkat-berkat perjanjian dan kegembiraan persekutuan yang dimiliki jiwa-jiwa yang penuh rahmat dengan Bapa dan dengan Anak-Nya Yesus Kristus. Kehormatan ini dimiliki oleh semua orang kudus-Nya. * Janji-janji yang Berharga; Permohonan-permohonan (25:15-22) Daud, terdorong oleh janji-janji yang telah direnungkannya, di sini memperbarui permohonannya kepada Allah, dan menutup mazmur ini, sama seperti dia memulainya, dengan pengakuan-pengakuan akan kebergantungannya kepada Allah dan kerinduannya akan Dia. I. Ia membeberkan kepada Allah bencana yang sedang menimpanya. Kakinya ada di dalam jaring, terjerat dan terkait, sehingga ia tidak bisa melepaskan diri dari kesulitan-kesulitannya (ay. 15). Ia sebatang kara dan tertindas (ay. 16). Adalah biasa bagi orang-orang yang tertindas untuk hidup sebatang kara, teman-teman mereka meninggalkan mereka, dan mereka lebih suka menyendiri dan berdiam diri (Rat. 3:28). Daud menyebut dirinya sebatang kara dan seorang diri karena dia tidak bergantung pada hamba-hamba dan prajurit-prajuritnya, tetapi sepenuhnya mengandalkan Allah seolah-olah dia tidak mempunyai pengharapan sama sekali akan ditolong dan dibantu oleh ciptaan mana pun. Karena sedang mengalami kesusahan, banyak kesusahan, hatinya sesak(ay. 17), semakin lama semakin sedih dan gelisah pikirannya. Perasaan akan dosa menyiksanya lebih dari apa pun. Inilah yang mematahkan dan melukai rohnya, dan membuat permasalahan lahiriahnya membebani dia dengan berat. Ia sedang berada dalam kesengsaraan dan kesukaran (ay. 18). Musuh-musuhnya yang menganiaya dia sangat banyak dan geram (mereka membencinya), dan sangat biadab. Dengan kebencian yang sangat mendalam mereka membenci dia (ay. 19). Demikian pulalah musuh-musuh Kristus dan penganiaya-penganiaya jemaat-Nya. II. Ia mengungkapkan kebergantungannya pada Allah dalam kesusahan-kesusahan ini (ay. 15): Matanya tetap terarah kepada TUHAN. Penyembah-penyembah berhala menyembah ilah-ilah yang dapat mereka lihat dengan mata jasmani mereka, dan mata mereka selalu memandang berhala-berhala mereka (Yes. 17:7-8). Namun, mata imanlah yang harus kita miliki untuk memandang Allah, yang adalah Roh (Za. 9:1, kjv). Perenungan kita akan Dia haruslah manis, dan kita harus selalu menempatkan Dia di depan kita. Dalam segala jalan kita, kita harus mengakui-Nya, dan melakukan semua demi kemuliaan-Nya. Demikianlah kita harus hidup dalam persekutuan dengan Allah, bukan hanya dalam ketetapan-ketetapan suci melainkan juga dalam pemeliharaan-pemeliharaan ilahi, bukan hanya dalam tindakan-tindakan ibadah melainkan juga dalam seluruh perilaku kita. Daud menghibur diri dengan hal ini dalam penderitaannya. Sebab, oleh karena matanya tetap terarah kepada Tuhan, ia tidak ragu bahwa Tuhan akan mengeluarkan kakinya dari jaring itu. Ia yakin Tuhan akan membebaskannya dari segala kejahatan hatinya sendiri (demikian menurut sebagian orang), dan dari rancangan-rancangan para musuhnya untuk melawannya (demikian menurut sebagian yang lain). Orang-orang yang matanya tetap terarah kepada Allah, kakinya tidak akan berlama-lama terjerat di dalam jaring. Ia mengulangi pengakuannya akan kebergantungannya pada Allah -" janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung pada-Mu(ay. 20), dan akan pengharapan-Nya kepada Dia -" aku menanti-nantikan Engkau (ay. 21). Dengan demikian, sungguh baik untuk berharap dan menantikan dengan tenang keselamatan dari Tuhan. III. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar diberi kelepasan dan pertolongan, 01. Untuk dirinya sendiri. (1) Lihatlah bagaimana ia memohon, [1] Untuk penghapusan dosa (ay. 18): Ampunilah segala dosaku. Dosa-dosanya adalah beban-bebannya yang paling berat, dan yang membawa semua beban lain kepadanya. Ia sudah memohon (ay. 7) untuk pengampunan dosa-dosa pada waktu mudanya, dan (ay. 11) untuk pengampunan satu pelanggaran khusus yang sungguh sangat besar, yang menurut sebagian orang, adalah dosanya yang berkaitan dengan Uria. Namun di sini, dia berdoa, Tuhan, ampunilah segala dosaku, hapuskanlah semua pelanggaranku. Dapat diamati bahwa, berkenaan dengan penderitaannya itu, tidak ada yang dimintanya selain perhatian Allah terhadap penderitaannya itu: “Tiliklah sengsaraku dan kesukaranku, dan perbuatlah sebagaimana Engkau menghendakinya.” Namun, berkenaan dengan dosanya, tidak ada yang dimintanya selain pengampunan seutuh-utuhnya: ampunilah segala dosaku. Apabila kita sedang dilanda masalah, kita harus lebih peduli terhadap dosa-dosa kita supaya diampuni, dan bukannya terhadap penderitaan-penderitaan kita supaya penderitaan-penderitaan itu diangkat. Demikianlah dia berdoa, [2] Untuk dipulihkannya apa yang sedang ia keluhkan. Pikirannya gelisah karena Allah mengundurkan diri darinya dan karena dia merasa bahwa Allah tidak berkenan kepadanya karena dosa-dosanya. Oleh sebab itu dia berdoa, “Berpalinglah kepadaku”(ay. 16). Dan, jika Allah berpaling kepada kita, kita tidak usah peduli siapa yang berpaling dari kita. Keadaannya terganggu, sehingga dia berdoa, “Keluarkanlah aku dari kesulitanku. Aku tidak melihat jalan kelepasan terbuka, namun Engkau pasti dapat menemukannya atau membuatnya.” Musuh-musuhnya sangat mendendam, dan karena itu dia berdoa, “Jagalah kiranya jiwaku agar tidak jatuh ke tangan mereka, atau kalau tidak, lepaskanlah aku dari tangan mereka.” (2) Empat hal diserukannya untuk menegaskan permohonan-permohonan ini, dan bersamaan dengan itu dia menyerahkan dirinya dan seruan-seruannya itu untuk dipertimbangkan oleh Allah: [1] Ia menyerukan belas kasihan Allah: Kasihanilah aku. Manusia yang berjasa besar sekalipun akan binasa jika mereka tidak mempunyai hubungan dengan Allah yang memiliki belas kasihan tiada terhingga. [2] Ia menyerukan kesengsaraannya sendiri, kesusahan yang sedang dialaminya, kesulitan dan penderitaannya, terutama kegelisahan-kegelisahan hatinya. Semuanya ini membuat dia mencari belas kasihan ilahi. [3] Ia menyerukan kesalahan musuh-musuhnya: “Tuhan, perhatikanlah mereka, betapa kejamnya mereka, dan bebaskanlah aku dari tangan mereka.” [4] Ia menyerukan kejujurannya sendiri (ay. 12). Meskipun dia sudah mengakui kebersalahannya sendiri di hadapan Allah, dan telah mengakui dosa-dosanya melawan Dia, namun, berkenaan dengan musuh-musuhnya, ia mempunyai kesaksian hati nurani bahwa ia tidak berbuat salah terhadap mereka, dan ini menghibur hatinya tatkala mereka membencinya dengan sangat mendalam. Dan dia berdoa agar hal ini dapat melindungi dia. Ini menunjukkan bahwa dia tidak berani berharap banyak untuk selamat jika dia tidak terus hidup dalam ketulusan dan kejujurannya. Dia yakin pasti selamat saat dia terus jujur dan tulus. Ketulusan hati akan menjadi keamanan kita yang terbaik pada masa-masa buruk. Ketulusan dan kejujuran akan memelihara manusia lebih daripada apa yang dapat diperbuat oleh kekayaan dan kehormatan duniawi. Hal-hal tersebut akan memelihara kita ke dalam Kerajaan Sorga. Oleh karena itu, kita harus berdoa kepada Allah meminta Dia memelihara kita untuk tetap ada dalam ketulusan dan kejujuran, dan kita bisa yakin bahwa ketulusan itu akan membuat kita terpelihara. 2. Untuk jemaat Allah (ay. 22): Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya. Daud sendiri sekarang sedang dalam kesusahan, namun ia tidak menganggapnya aneh, karena kesusahan sudah merupakan bagian dari semua umat Israel kepunyaan Allah. Mengapa satu anggota saja harus lebih beruntung daripada seluruh tubuh? Permasalahan-permasalahan Daud bertambah besar, dan dia sangat bersungguh-sungguh memohon kepada Allah untuk membebaskannya, namun ia tidak lupa pada kesusahan jemaat Allah. Demikianlah, ketika kita begitu sibuk dengan urusan kita sendiri di hadapan takhta anugerah, kita harus tetap ingat untuk berdoa bagi orang-orang lain juga. Orang-orang baik tidak begitu merasa terhibur dengan keamanan mereka sendiri bila gereja sedang dalam kesusahan dan bahaya. Doa ini merupakan sebuah nubuatan, bahwa Allah pada akhirnya akan memberi Daud ketenangan, dan bersamaan dengan itu pula akan memberi Israel ketenangan dari semua musuh yang ada di sekeliling mereka. Ini merupakan nubuatan tentang diutusnya Sang Mesias pada waktu yang tepat untuk membebaskan Israel dari segala kesalahannya ( 130:8) dan dengan demikian membebaskan mereka dari segala kesusahan mereka. Ini juga merujuk pada kebahagiaan kehidupan yang akan datang. Di sorga, dan hanya di sorga, umat Israel kepunyaan Allah akan dibebaskan secara sempurna dari segala kesusahan.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: Khotbah GMIM Minggu, 3 November 2024 - Aku Harus Berada Dalam Rumah Bapa-Ku - Lukas 2:41-52 Sebelum: Khotbah GMIM Minggu, 20 Oktober 2024 - Tepatilah Nazarmu - Hakim-Hakim 11:29-40 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,