gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 570 kali
Download MP3 Music
Tema: "Ya Bapa Ke Dalam Tangan-Mu Kuserahkan Nyawa-Ku"

Lukas 23:46-47
23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. 23:47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: "Sungguh, orang ini adalah orang benar!"

Baca Juga:


Penjelasan :
* Hukuman Salib
Setiap orang pasti akan membuat dirinya selalu aman dan bebas dari hal-hal yang dapat membahayakan hidupnya. Misalnya bila ada ancaman, pasti akan mencari cara agar ancaman itu tidak menimpa dirinya seperti menghindar dengan cara bersembunyi, atau meminta pertolongan orang lain. Bahkan melaporkan dan minta pertolongan polisi. Begitu juga dengan soal kematian. Ini adalah peristiwa yang dihindari oleh manusia. Karena itu, kalau sakit harus minum obat. Bila sakit semakin parah, maka hams dibawa ke dokter atau rumah sakit. Bahkan bagi orang yang mampu secara ekonomi, mencari dokter ahli dan rumah sakit terbaik, bila perlu berobat ke luar negeri, supaya penyakit itu jangan menjadi penyebab kematian. Akan tetapi hal seperti ini tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus. Karena dalam catatan Alkitab, Tuhan Yesus telah berkali-kali mendapat ancaman dari berbagai pihak, mulai dari Imam Kepala, Ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hanya karena mereka tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Walaupun sudah banyak mujizat yang diperbuat-Nya di depan mata mereka. Sebenarnya hal itu telah menguatkan alasan bahwa Tuhan Yesus adalah benar-benar Anak Allah. Kendati Tuhan Yesus punya kuasa untuk menghindar dari kematian, namun Ia menghadapi dan menjalani proses kematian itu. Bahkan kematian yang sangat mengerikan di kayu salib, hanya untuk satu alasan yaitu, supaya manusia dan dunia ditebus dari segala dosa dan diselamatkan.

Hari ini, semua orang percaya di seluruh dunia sedang merayakan Hari Kematian Tuhan Yesus di kayu salib yang kita sebut Jumat Agung. Secara umum di Israel, peristiwa ini sangat jauh dari keagungan, sebab bagi mereka orang yang mati di salib adalah sebuah kehinaan dan kebodohan. Karena hukuman salib selalu diuntukkan bagi mereka yang telah melakukan pelanggaran berat, antara lain terlibat dalam kasus pembunuhan berkali-kali, atau melakukan pemberontakan kepada negara dan Kaisar. Namun Tuhan Yesus terhukum bukan dengan alasan itu. Dia tidak pernah melakukan kesalahan atau pelanggaran apapun. Karena itu peristiwa ini diagungkan oleh semua orang percaya sebab di kayu salib itulah dan oleh kematian Tuhan Yesus kegelapan dan semua kecemaran karena dosa manusia dan dunia ini, ditebus dan diselamatkan. Itulah alasannya, rasul Paulus berkata: "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatann Allah" (1 Korintus 1:18).


* Yesus Mati (23:44-49)

Ada tiga hal yang diceritakan dalam ayat-ayat ini, yaitu:

I. Proses kematian Kristus dipermuliakan melalui kejadian-kejadian mengherankan yang mengiringinya:
Di sini hanya disebutkan dua hal saja, yang telah kita dapati dalam kisah Injil sebelumnya.
. Matahari yang tidak bersinar pada tengah hari. Saat itu sudah mencapai jam keenam, atau kita-kira jam dua belas siang berdasarkan penghitungan kita, dan kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Saat itu ada gerhana matahari, dan langit pun tertutup awan mendung. Kedua peristiwa tersebut mengakibatkan terjadinya gelap gulita di daerah itu seperti yang pernah terjadi di Mesir, tetapi selama tiga jam, bukan tiga hari.

. Terbelahnya tabir di Bait Suci. Keajaiban yang pertama terjadi di atas langit, tetapi yang ini terjadi di dalam Bait Suci, sebab kedua tempat ini adalah kediaman Allah, sehingga pada waktu Anak Allah dilecehkan, kediaman Allah pun bisa merasakan derita-Nya dan menunjukkan kemarahan-Nya melalui peristiwa-peristiwa tersebut. Terbelahnya tabir ini melambangkan tercabutnya hukum upacara yang sudah lama menjadi dinding pemisah antara orang Yahudi dan bukan-Yahudi, dan antara segala kesulitan dan ketidakmampuan kita untuk mendekat kepada Allah, sehingga kini kita dapat menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian.


II. Kematian Kristus dijelaskan melalui perkataan yang keluar dari mulut-Nya saat Dia melepaskan nyawa-Nya (ay. 46).
Sebelumnya, Kristus telah berseru dengan suara nyaring saat Ia berkata, "Mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Begitulah yang diceritakan dalam Matius dan Markus, dan sepertinya, di sini pun Ia berseru dengan suara nyaring untuk menunjukkan kesungguhan-Nya, supaya orang-orang memperhatikan hal itu. Inilah yang Ia katakan, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."

. Dia mengutip kata-kata bapa leluhur-Nya, Daud (Mzm. 31:6), bukan karena Dia tidak bisa mengucapkan kata-kata-Nya sendiri, tetapi karena Ia memilih untuk memakai kata-kata Daud untuk menunjukkan bahwa Roh Kristuslah yang telah disaksikan para nabi dalam Perjanjian Lama, dan bahwa Ia telah datang untuk menggenapi firman itu. Kristus mati sambil mengucapkan firman Allah. Dengan begitu, Ia telah mengajari kita untuk selalu memakai firman saat menghadap Allah.

. Dia memanggil Allah sebagai Bapa. Saat Dia mengeluh karena ditinggalkan, Dia berseru, "Eli, Eli, Allahku, Allahku." Tetapi, untuk menunjukkan bahwa penderitaan jiwa-Nya yang mengerikan itu kini telah berakhir, Dia pun memanggil Allah sebagai Bapa. Saat Ia menyerahkan hidup dan jiwa-Nya bagi kita, Dia melakukannya bagi kita dengan memanggil Allah sebagai Bapa, supaya melalui Dia kita bisa diangkat menjadi anak-anak Allah.

. Kristus sengaja memakai kalimat itu untuk menunjukkan peran-Nya sebagai Perantara.
Kini Ia hendak menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebus salah bagi kita (Yes. 53:10), untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat. 20:28), yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri (Ibr. 9:14). Dia adalah Imam dan sekaligus Korban persembahan itu. Jiwa kita ada di bawah hukuman, dan jiwa-Nya harus dijadikan tebusan untuk melepaskan penghukuman itu. Harga mahal harus dibayarkan ke tangan Allah, sebagai pihak yang dirugikan oleh pelanggaran dosa itu. Dialah yang membayar lunas semuanya itu kepada Allah. Dengan kalimat itu, Ia pun mempersembahkan korban, seolah-olah Ia mengulurkan tangan-Nya ke atas kepala korban itu dan menyerahkannya; tithemi -- "Aku meletakkannya, membayarkannya ke dalam tangan-Mu. Ya Bapa, terimalah nyawa-Ku dan jiwa-Ku sebagai ganti nyawa dan jiwa para pendosa yang Kutebus melalui kematian-Ku." Orang yang mempersembahkan korban harus memiliki animus offerentis -- niat baik dari si pemberi, supaya persembahannya itu diterima. Di sini Kristus mengungkapkan kerelaan-Nya untuk mempersembahkan diri-Nya sendiri, seperti yang ditunjukkan-Nya pertama kali ketika hal itu diajukan kepada-Nya (Ibr. 10:9-10), "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu," yang olehnya kita dikuduskan.

. Dengan demikian, Kristus memperlihatkan bagaimana Ia bersandar kepada Allah untuk dibangkitkan kembali oleh-Nya, melalui penyatuan kembali jiwa dan raga-Nya. Dia menyerahkan Roh-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya untuk diterima di taman Firdaus, dan dikembalikan lagi pada hari yang ketiga. Melalui itu semua, Tuhan kita Yesus memperlihatkan bahwa Dia benar-benar memiliki sebuah tubuh jasmani, dan juga jiwa, yang terpisah dari tubuh manusiawi-Nya. Demikianlah Ia dijadikan serupa dengan saudara-saudara-Nya yang lain. Ia menyerahkan jiwa-Nya itu ke dalam tangan Bapa-Nya, di bawah perlindungan-Nya, untuk beristirahat dalam pengharapan bahwa jiwa-Nya tidak akan dibiarkan terus di dalam dunia orang mati (hades) saat terpisah dari tubuh-Nya. Tidak, Dia tidak dibiarkan di sana lama-lama sampai tubuh-Nya membusuk.

. Kristus telah memberi kita contoh dengan menerapkan kata-kata Daud itu untuk menunjukkan maksud kematian para orang kudus, dan menyucikan kata-kata tersebut untuk digunakan sebagaimana mestinya. Saat ajal mendekat, jiwa kitalah yang harus lebih diperhatikan, dan hal terbaik yang dapat kita lakukan bagi jiwa kita adalah menyerahkannya sekarang ke dalam tangan Allah, sebagai Sang Bapa, untuk disucikan dan dikuasai oleh Roh dan kasih karunia-Nya, dan nanti, saat ajal kita datang, kita harus menyerahkan jiwa kita ke dalam tangan-Nya untuk disempurnakan di dalam kekudusan dan kebahagiaan. Kita harus menunjukkan kerelaan hati kita untuk mati, dan percaya dengan sungguh-sungguh akan kehidupan setelah kematian, serta menginginkan kehidupan itu, dengan berkata, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."


III. Kematian Kristus sangat berkesan dalam diri orang-orang yang menyaksikannya.
. Kepala pasukan yang berkuasa atas para penjaga sangat tersentuh dengan semua yang dilihatnya (ay. 47). Dia seorang Romawi, seorang bukan-Yahudi, seorang yang asing dengan perkara penghiburan bagi Israel. Namun, ia memuliakan Allah. Dia belum pernah menyaksikan contoh kuasa ilahi yang benar-benar menakjubkan seperti itu, sehingga Ia pun memakai kesempatan itu untuk menyembah Allah sebagai Yang Maha Kuasa. Karena itulah, ia memberi kesaksian mengenai Dia yang telah menderita dengan sabar itu: "Sungguh, orang ini adalah orang benar, dan Dia tidak layak dihukum mati." Cara nyata Allah dalam memperlihatkan kuasa-Nya untuk memuliakan Kristus saat itu adalah bukti kuat mengenai ketidakbersalahan Kristus. Dalam Injil Matius dan Markus, kesaksian kepala pasukan itu lebih jauh lagi: Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah. Tetapi inti dan maknanya sama saja. Sebab, jika Kristus itu adalah orang benar, maka Ia pasti tidak berdusta sewaktu Ia mengaku bahwa Dia adalah Anak Allah, sehingga kesaksian-Nya mengenai diri-Nya sendiri itu harus diakui, sebab jika tidak begitu, Kristus pasti tidak akan disebutnya sebagai orang benar.

. Para penonton yang semula tak acuh kini menjadi prihatin.

Hal tersebut hanya dicatat di sini saja (ay. 48), Seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, seperti yang biasa terjadi setiap kali ada peristiwa seperti itu, melihat apa yang terjadi itu, dan menjadi gelisah karenanya, siapa pun mereka itu, sehingga mereka pun pulang sambil memukul-mukul diri.

(1) Saat itu, hati mereka benar-benar terpukul. Mereka menganggap hukuman mati yang telah dijatuhkan kepada Kristus itu adalah sebuah hal yang teramat jahat, sehingga mereka pun resah memikirkan penghakiman Allah atas bangsa mereka karena tindakan jahat yang telah mereka lakukan itu. Mungkin saja mereka ini adalah orang-orang yang sebelumnya berteriak, "Salibkanlah Dia, salibkanlah Dia," lalu ikut mencaci dan menghujat-Nya saat Ia dipakukan di kayu salib. Tetapi kini, mereka sangat ketakutan melihat kegelapan, gempa bumi, serta cara kematian-Nya yang luar biasa. Bukan hanya mulut mereka saja yang ternganga, tetapi hati nurani mereka juga ikut tertegun, sehingga mereka pun memukul-mukul diri, memukul-mukul dada mereka, seperti yang dilakukan si pemungut cukai itu, untuk menunjukkan bahwa mereka merasa marah kepada diri mereka sendiri. Beberapa orang berpendapat, tindakan ini merupakan sebuah langkah awal yang membahagiakan, karena ada kebaikan yang kemudian bekerja dalam diri mereka, ketika hati mereka merasa sangat terharu (Kis. 2:37).

(2) Namun kelihatannya, rasa haru itu kemudian luntur. Pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. Mereka tidak menindaklanjuti kejadian itu dengan terus memperlihatkan rasa hormat terhadap Kristus, atau melakukan tindakan apa pun untuk mengenal-Nya lebih dalam lagi, tetapi mereka malah terus pulang ke rumah. Maka, wajar saja kalau kita khawatir bahwa mereka akan melupakan semua itu dalam waktu singkat. Begitulah, ada banyak orang yang ikut menyaksikan Kristus disalibkan melalui firman dan sakramen dan merasa sedikit tersentuh, tetapi hal itu tidak terus berlanjut. Mereka memukul-mukul diri, lalu kemudian pulang. Mereka melihat wajah Kristus dalam ibadah dan semua ketetapan-Nya dan mengagumi Dia, tetapi kemudian mereka pergi menjauh dan segera lupa bagaimana rupa-Nya, dan tidak ingat lagi alasan mengapa mereka seharusnya mengasihi Dia.

. Kawan-kawan dan pengikut Kristus yang lain masih menjaga jarak dari-Nya, tetapi mereka mencoba mendekat sebisa mungkin, untuk melihat apa yang terjadi (ay. 49): Semua orang yang mengenal Yesus, yang mengenal-Nya dan dikenal oleh-Nya, berdiri jauh-jauh, sebab mereka takut ditangkap sebagai orang yang memihak Kristus, jika mereka berada terlalu dekat dengan Dia. Ini memang sudah menjadi bagian dari penderitaan Kristus, seperti juga yang pernah dirasakan Ayub (Ayb. 19:13): Saudara-saudaraku dijauhkan-Nya dari padaku, dan kenalan-kenalanku tidak lagi mengenal aku (lih. Mzm. 88:19). Perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea melihat semuanya itu, namun tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak siap untuk menganggap semuanya itu sebagai awal dari kebangkitan-Nya, seperti yang seharusnya mereka lakukan. Itulah saatnya Kristus membuat suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, seperti yang pernah dinubuatkan oleh Simeon, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang (2:34-35).






Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
Khotbah Paskah GMIM - Minggu, 31 Maret 2024 - Pergi dan Katakanlah Yesus sudah Bangkit - Matius 28:1-10

Sebelum:
Khotbah GMIM Minggu, 24 Maret 2024 - Ia Akan Terhitung di Antara Orang-orang Durhaka - Markus 15:20b-32




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2024..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,