gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 4119 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2023
Minggu, 1 Oktober 2023

Khotbah GMIM Minggu, 1 Oktober 2023 - WUJUDKAN BELAS KASIHAN - Lukas 10:25-37
Orang Samaria yang murah hati, Siapakah Sesama Kita?

Lukas 10:25-37
Orang Samaria yang murah hati
10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 10:27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 10:28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" 10:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" 10:37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Penjelasan:
* Siapakah Sesama Kita (10:25-37)

Di sini kita dapati percakapan Kristus dengan seorang ahli Taurat menyangkut hati nurani, yang harus kita ketahui kebenarannya dari Kristus, sekalipun pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kepada-Nya dengan niat yang tidak baik.

I. Adalah pantas bagi kita untuk mengetahui hal baik apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini supaya kita memperoleh hidup yang kekal. Sebuah pertanyaan mengenai hal ini diajukan kepada Juruselamat kita oleh seorang ahli Taurat atau ahli hukum, hanya dengan tujuan untuk mencobai-Nya, dan bukan dengan keinginan untuk diberi pengajaran oleh-Nya (ay. 25). Ahli Taurat itu berdiri dan bertanya kepada-Nya, Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Jika memang benar Kristus mempunyai suatu petunjuk khusus untuk disampaikan, orang itu berharap mendapatkannya dari Dia melalui pertanyaannya ini, dan kemudian mungkin dia akan mengungkapkan hal buruk mengenai diri-Nya dengan petunjuk-Nya itu. Namun, jika Kristus tidak mempunyai suatu petunjuk khusus, maka dia akan menunjukkan bahwa ajaran-Nya tidak berguna, karena tidak mampu memberikan arahan lain untuk memperoleh kebahagiaan selain yang telah mereka terima selama ini. Atau, boleh jadi juga dia memang tidak mempunyai niat jahat terhadap Kristus seperti para ahli Taurat yang lain. Mungkin saja ia hanya ingin berbincang-bincang sedikit dengan-Nya, sebagaimana orang-orang pergi ke gereja untuk mendengarkan pesan yang hendak disampaikan oleh hamba Tuhan. Ini benar-benar pertanyaan yang bagus: Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Namun pertanyaan ini telah kehilangan sisi baiknya saat diajukan dengan niat buruk, atau bahkan sangat jahat. Perhatikanlah, belumlah cukup untuk sekadar membicarakan dan mengajukan pertanyaan mengenai perkara-perkara tentang Allah. Kita juga harus melakukannya dengan perhatian yang semestinya. Jika kita membicarakan hidup yang kekal dan jalan untuk memperolehnya dengan cara yang ceroboh, semata-mata sebagai bahan percakapan biasa-biasa saja, apalagi sampai dijadikan bahan pertengkaran, maka kita hanya akan menggunakan nama Allah dengan sia-sia, sama seperti yang dilakukan si ahli Taurat ini.

Nah, karena pertanyaan ini telah diajukan, maka amatilah:

Bagaimana Kristus mengarahkan si ahli Taurat itu kepada hukum ilahi dan menyuruhnya mengikuti arahnya. Walaupun Ia mengetahui jalan pikiran dan niat hatinya, Ia tidak menjawab pertanyaan itu menurut kebodohan hatinya, tetapi menurut hikmat dan kebaikan yang terkandung dalam pertanyaan yang diajukannya itu. Kristus menjawabnya dengan sebuah pertanyaan: Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana? (ay. 26). Ahli Taurat itu datang dengan maksud untuk memberikan pelajaran agama kepada Kristus dan untuk lebih mengenal-Nya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Kristuslah yang akan mengajari dia dan membuatnya mengenal dirinya sendiri. Kristus berbicara kepadanya seperti kepada seorang ahli hukum, seorang yang memang mengenal hukum dengan baik. Hal-hal yang telah dipelajarinya dalam bidang pekerjaannya itulah yang akan menjelaskan kepadanya. Biarlah ia berlaku sesuai dengan pengetahuannya, supaya dengan demikian dia tidak akan kekurangan hidup yang kekal. Perhatikanlah, dalam perjalanan kita menuju sorga, sungguh akan bermanfaat bagi kita untuk memikirkan apa yang tertulis dalam hukum dan apa yang kita baca di sana. Kita harus kembali kepada Alkitab kita, kepada hukum yang sekarang ada di tangan Kristus, dan mengikuti jalan yang ditunjukkan kepada kita di sana. Sungguh rahmat yang besar bahwa kita memiliki hukum yang tertulis, sehingga dengan demikian kita memilikinya dengan pasti dan juga dapat menyebarkannya lebih lanjut serta bertahan lebih lama. Karena sudah tertulis, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk membacanya, membacanya dengan penuh pengertian, dan menyimpan apa yang kita baca itu, sehingga ketika datang kesempatan, kita mampu menceritakan apa yang tertulis dalam hukum itu dan apa yang kita baca darinya. Inilah yang harus kita kerjakan. Dengan cara inilah kita menguji pengajaran-pengajaran hukum itu dan mengakhiri percekcokan. Inilah yang harus menjadi jawaban kita, pegangan kita, peraturan dan pedoman kita. Apa yang tertulis dalam hukum? Apa yang kita baca di situ? Jika memang ada terang dalam diri kita, maka terang itu pasti berasal dari hukum itu.

Betapa bagusnya penggambaran yang diberikan si ahli Taurat tersebut tentang hukum itu, tentang perintah-perintah utama dari hukum itu, yang harus kita laksanakan jika ingin mewarisi hidup yang kekal. Dalam memberikan jawabannya, orang ini tidak mengacu pada adat kebiasaan tua-tua, seperti yang biasa dilakukan orang Farisi umumnya. Sebaliknya, seperti layaknya seorang ahli hukum yang baik, ia berpatokan pada kedua perintah pertama dan terutama dalam hukum, karena inilah perintah-perintah yang menurutnya harus ditaati penuh secara ketat untuk memperoleh hidup yang kekal; selain itu perintah-perintah tersebut mencakup semua perintah-perintah lainnya (ay. 27).

(1) Kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, memandang-Nya sebagai yang terbaik dari antara semua yang ada, yang sangat ramah, dan luar biasa sempurna dan unggul. Terhadap-Nyalah kita memiliki kewajiban-kewajiban besar, baik dalam memberikan syukur maupun perhatian. Kita harus menjunjung tinggi Dia dan menghargai diri sendiri melalui sukacita kita terhadap-Nya. Kita harus bersukacita atas diri kita sendiri di dalam Dia, serta mengabdikan diri sepenuhnya kepada Dia. Kasih kita terhadap-Nya haruslah tulus, sepenuh hati, dan sungguh-sungguh. Kasih kita kepada-Nya harus melebihi kasih atas apa pun juga, cinta itu kuat seperti maut, tetapi harus dengan penuh pengetahuan, supaya kita dapat mempertanggungjawabkan dasar dan alasannya. Kasih kita kepada-Nya harus utuh. Dia harus memiliki segenap jiwa kita dan harus dilayani dengan segala sesuatu yang ada pada diri kita. Janganlah kita mencintai apa pun selain Dia. Apa yang kita kasihi, kita harus kasihi demi Dia dan dalam ketaatan kepada Dia.

(2) Kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, dan hal ini dapat kita lakukan dengan mudah, jika kita lebih mengasihi Allah daripada diri kita sendiri. Kita harus mengharapkan hal-hal yang baik bagi semua orang dan tidak mengharapkan yang jahat bagi siapa pun. Di dunia ini kita harus berbuat baik sedapat mungkin dan tidak menyakiti siapa pun, dan, dengan memegangnya sebagai suatu aturan, memperlakukan orang lain sama seperti kita ingin mereka memperlakukan kita. Inilah arti mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Pembenaran Kristus atas apa yang dikatakan orang itu (ay 28).
Walaupun dia datang untuk mencobai-Nya, Kristus tetap memuji perkataannya yang bagus itu: Jawabmu itu benar. Kristus sendiri memegang kedua perintah tersebut sebagai yang terutama di dalam hukum (Mat. 22:37). Jadi kedua belah pihak sama-sama setuju dalam hal ini. Orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan pujian yang sama, demikian pula orang-orang yang mengatakan hal yang baik. Sejauh ini semuanya berjalan dengan benar, namun masih ada bagian tersulit yang harus dikerjakan: "Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup. Engkau akan mewarisi hidup yang kekal."

Upaya orang itu untuk menghindari keyakinan yang sekarang akan diterapkan dalamnya. Ketika Kristus berkata, Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup, orang ini mulai menyadari bahwa Kristus bermaksud memancing pengakuannya bahwa dia belum melakukan hal ini, dan itulah sebabnya mengapa ada pertanyaan tentang apa yang harus dilakukannya, jalan mana yang harus dicarinya, supaya dosa-dosanya diampuni. Dia juga perlu mengakui bahwa dia tidak mampu melakukan hal ini dengan sempurna dengan kekuatannya sendiri, dan oleh karena itu ada pertanyaan tentang cara bagaimana ia bisa memperoleh kekuatan untuk mampu melakukannya. Namun, ia menghindari pengakuan ini dan ingin membenarkan dirinya, dan oleh sebab itu tidak mau melanjutkan percakapan itu. Sama seperti yang pernah dikatakan orang lain, ia malah berkata (Mat. 19:20), Semuanya itu telah kuturuti. Perhatikanlah, banyak orang mengajukan pertanyaan bagus hanya dengan tujuan untuk membenarkan diri dan bukannya untuk mencari penjelasan bagi diri sendiri. Dengan pongahnya mereka hanya bermaksud untuk memamerkan kebaikan yang ada pada diri mereka, dan bukannya dengan rendah hati berkeinginan untuk mencari tahu apa yang buruk dalam diri mereka.


II. Kita perlu tahu siapa sebenarnya sesama kita itu, yang menurut perintah terutama yang kedua, wajib kita kasihi. Inilah pertanyaan lain yang diajukan ahli Taurat itu, hanya supaya ia bisa mengelakkan yang pertama. Ia khawatir kalau-kalau melalui pelaksanaan hukum itu Kristus memaksanya untuk menyalahkan diri sendiri, padahal ia justru bertekad membenarkan diri sendiri. Perihal mengasihi Allah, ia tidak mau membicarakannya lebih lanjut lagi. Namun, perihal mengasihi sesama manusia, ia yakin telah melaksanakan perintah ini, sebab ia selalu bersikap baik hati dan hormat terhadap semua orang di sekitarnya.

Sekarang cermatilah:
Gagasan rusak yang dimiliki para guru Yahudi mengenai hal ini. Dr. Lightfoot mengartikan kata-kata mereka sendiri sebagai berikut: "Saat mereka berkata, Kasihilah sesamamu manusia, mereka mengecualikan semua orang bukan-Yahudi, sebab mereka bukanlah sesama kita. Yang disebut sesama kita hanyalah orang-orang yang sebangsa dan seagama dengan kita." Mereka tidak akan menghukum mati seorang Israel yang membunuh orang bukan-Yahudi, sebab dia bukanlah sesama manusia mereka. Mereka memang berkata bahwa mereka tidak boleh membunuh orang bukan-Yahudi yang tidak sedang berperang dengan mereka. Namun, apabila mereka melihat seorang bukan-Yahudi sedang sekarat, mereka tidak merasa berkewajiban untuk menyelamatkan nyawanya. Begitu jahatnya kesimpulan-kesimpulan yang mereka tarik dari perjanjian kudus yang melaluinya Allah mengkhususkan dan membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain. Namun, dengan menyalahgunakannya seperti itu, mereka telah kehilangan hak atasnya. Allah menanggapi hal ini dengan adil dan mengalihkan anugerah-anugerah perjanjian (kovenan) ini kepada kaum bukan-Yahudi yang anugerah-anugerah umumnya telah disangkal dengan kejam oleh mereka.

Bagaimana Kristus meluruskan gagasan yang tidak manusiawi ini, dan menunjukkan melalui sebuah perumpamaan, bahwa orang yang darinya kita butuh perbuatan baik mereka dan yang siap membantu kita dengan perbuatan baiknya itu, tidak bisa tidak harus kita anggap sebagai sesama manusia kita. Dan sama halnya juga, kita harus memandang sebagai sesama kita, semua orang yang memerlukan perbuatan baik kita dan yang perlu kita bantu dengan kebaikan hati kita, meskipun mereka bukan sebangsa dan seagama dengan kita.

Sekarang amatilah:

(1) Perumpamaan itu sendiri, yang menggambarkan kepada kita perihal seorang Yahudi malang yang mengalami kesulitan, yang ditolong dan diringankan bebannya oleh seorang Samaria yang baik hati.
------------------------------------------------------------
Mari kita lihat di sini:

[1] Bagaimana ia dianiaya oleh para musuhnya. Laki-laki yang tulus itu sedang melakukan perjalanan dengan tenang untuk melakukan kegiatan yang sah. Ia melewati jalan raya yang terbentang dari Yerusalem ke Yerikho (ay. 30). Disebutkannya kedua kota itu menyiratkan bahwa ini adalah kejadian yang nyata, bukan sebuah perumpamaan. Boleh jadi peristiwa itu belum lama terjadi, tepat seperti yang diceritakan di sini. Kejadian-kejadian tentang pemeliharaan ilahi akan memberi kita banyak pelajaran, asalkan kita mengamatinya dengan saksama dan memanfaatkannya. Kejadian-kejadian seperti ini bisa dirancang menyerupai perumpamaan untuk diberikan sebagai pelajaran, dan akan lebih menyentuh. Laki-laki malang ini jatuh ke tangan penyamun-penyamun. Tidak jelas apakah ini orang-orang Arab yang hidup dari barang rampasan atau penjahat keji yang sebangsa dengannya, atau serdadu Romawi yang meskipun terikat dengan peraturan tentara yang keras bisa saja telah melakukan kejahatan ini. Yang jelas, mereka ini sangat biadab. Mereka bukan saja merampas uang orang itu, tetapi juga pakaiannya, dan supaya ia tidak dapat mengejar mereka, atau sekadar untuk memuaskan nafsu jahat (karena apakah untungnya kalau darahnya tertumpah?), mereka pun memukulnya dan pergi meninggalkannya setengah mati, sekarat karena luka-lukanya. Di sini kita boleh saja merasa marah terhadap para penyamun yang sudah tidak memiliki perikemanusiaan sama sekali, berperilaku seperti binatang buas, binatang-binatang pemangsa, yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Namun, pada saat yang sama kita tidak bisa tidak juga patut berbelas kasihan terhadap orang-orang yang jatuh dalam tangan orang-orang yang begitu jahat dan tidak berakal seperti ini. Rasanya kalau kita punya kekuatan, kita pasti akan menolong mereka. Kita patut bersyukur kepada Allah bila kita telah dipelihara-Nya dari kejahatan para perampok!

[2] Bagaimana ia diabaikan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi sahabat-sahabatnya, yang bukan saja sebangsa dan seagama, tetapi juga seorang imam dan yang satu lagi seorang Lewi, tokoh-tokoh masyarakat dengan kedudukan penting. Mereka bahkan dianggap suci oleh orang. Tugas mereka mewajibkan mereka harus bersikap lemah-lembut dan penuh belas kasihan (Ibr. 5:2). Mereka mengajar orang lain untuk membebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Dr. Lightfoot mengatakan kepada kita bahwa banyak kelompok imam bertempat tinggal di Yerikho, dan dari sana mereka pergi ke Yerusalem ketika tiba giliran mereka untuk bertugas di situ, kemudian pulang kembali. Ini artinya bahwa ada banyak imam yang pulang pergi melalui jalan itu, beserta orang-orang Lewi para pembantu mereka. Mereka melewati jalan itu, dan melihat orang malang yang terluka itu. Mungkin mereka mendengar rintihannya dan tidak bisa tidak pasti tahu bahwa jika tidak segera ditolong, ia pasti akan tewas. Orang Lewi itu bukan saja menoleh kepadanya, tetapi datang ke tempat itu dan melihat orang itu (ay. 32). Namun, keduanya melewatinya dari seberang jalan. Ketika melihat kejadian yang menimpa orang itu, mereka menjaga jaraknya sejauh mungkin, seakan-akan mau berdalih, "Sungguh, kami tidak tahu hal itu." Sungguh menyedihkan bila orang-orang yang seharusnya menjadi teladan kemurahan hati justru berperilaku sangat jahat. Mereka yang seharusnya menunjukkan rahmat Allah dan menyatakan belas kasihan terhadap orang lain, malah menahan diri.

[3] Bagaimana ia ditolong dan dirawat oleh seorang asing, seorang Samaria, dari suku bangsa yang paling dianggap hina dan dibenci oleh orang-orang Yahudi yang tidak mau berurusan dengan mereka. Orang ini masih memiliki perikemanusiaan dalam dirinya (ay. 33). Imam itu mengeraskan hatinya terhadap salah seorang dari bangsanya sendiri, tetapi orang Samaria itu membuka hati terhadap salah seorang dari bangsa lain. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan sama sekali tidak mempermasalahkan kebangsaannya. Walaupun korbannya seorang Yahudi, dia tetap saja seorang manusia, manusia yang berada dalam penderitaan, dan orang Samaria itu telah diajar untuk menghormati semua orang. Dia tidak tahu kapan kejadian yang menimpa orang malang tersebut akan menimpa dirinya sendiri. Oleh sebab itu ia menaruh iba terhadapnya, sama seperti dia ingin dikasihani seandainya mengalami kejadian seperti ini. Bahwa kasih sebesar ini bisa ditemukan dalam diri seorang Samaria, boleh juga dianggap sama indahnya dengan iman orang Romawi dan perempuan Kanaan yang dikagumi oleh Kristus itu. Namun, sebenarnya bukan demikianlah halnya, sebab rasa iba adalah pekerjaan manusia, sedangkan iman adalah pekerjaan anugerah ilahi. Belas kasihan yang ada pada diri orang Samaria ini bukanlah belas kasihan yang berpangku tangan. Baginya, belumlah cukup untuk sekadar berkata, "Semoga cepat sembuh, semoga ada yang menolongmu" (Yak. 2:16), tetapi saat hatinya tergerak, ia mengulurkan tangannya kepada orang malang yang miskin ini (Yes. 58:7,10; Ams. 31:20). Lihatlah betapa baik hatinya orang Samaria ini.

Pertama, ia pergi kepada orang yang malang itu, yang dihindari oleh imam dan orang Lewi itu. Tidak diragukan lagi bahwa orang Samaria itu menanyakan bagaimana ia sampai berada dalam keadaan yang menyedihkan itu, dan turut merasa prihatin terhadapnya.

Kedua, ia melakukan tugas seorang tabib, karena tidak ada lagi siapa-siapa di situ. Ia membalut luka-lukanya, mungkin memakai kain lenannya sendiri, lalu menyiraminya dengan minyak dan anggur, yang mungkin dibawa olehnya. Anggur untuk membersihkan luka-luka, dan minyak untuk meredakan rasa sakit, dan setelah itu ia membalutnya. Dia berbuat sebisa-bisanya untuk meredakan rasa sakit dan mencegah bahaya yang disebabkan oleh luka-luka itu, sebagai seseorang yang turut merasakan kepedihan.

Ketiga, Ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, sementara ia sendiri berjalan kaki, dan membawanya ke tempat penginapan. Sungguh merupakan rahmat bila terdapat tempat penginapan di jalan, sehingga kita bisa memperoleh makanan dan istirahat dengan uang kita. Mungkin malam itu orang Samaria ini bisa mengakhiri perjalanannya seandainya tidak menjumpai rintangan ini. Namun, karena belas kasihannya terhadap orang malang itu, ia turut bermalam di penginapan. Ada yang berpendapat bahwa imam dan orang Lewi itu beralasan tidak dapat tinggal sejenak untuk menolong orang malang itu karena mereka sedang bergegas untuk menghadiri ibadah di Yerusalem. Namun, kita juga bisa menduga bahwa orang Samaria itu pergi untuk suatu urusan. Tetapi, meskipun demikian, ia mengerti bahwa baik urusan sendiri maupun memberikan korban kepada Allah pun harus mengalah terhadap tindakan belas kasihan semacam ini.

Keempat, Ia merawat orang itu di penginapan, membaringkannya di tempat tidur, memberikan makanan yang layak baginya, menemaninya, dan mungkin juga berdoa dengannya. Dan bukan itu saja.

Kelima, Seolah-olah orang ini adalah anaknya sendiri atau orang yang ada di bawah pemeliharaannya, saat berangkat keesokan paginya, ia menyerahkan uang kepada pemilik penginapan untuk dipergunakan bagi semua keperluan si sakit, serta menjanjikan pengembalian kelebihan uang yang akan dibelanjakan. Dua dinar pada masa itu dapat dipergunakan untuk berbagai-bagai keperluan. Namun, di sini uang sebanyak itu pun diperhitungkannya saja seolah-seolah bisa mencukupi semua keperluan orang itu. Semuanya ini sungguh-sungguh merupakan kebaikan dan kemurahan hati yang hanya bisa diharapkan bisa diperoleh dari seorang sahabat atau saudara, padahal ini dilakukan oleh seorang asing yang tidak dikenal.

Sekarang, perumpamaan ini bisa juga diterapkan untuk tujuan yang lain daripada tujuannya yang semula. Tepatlah kalau perumpamaan ini dikemukakan untuk menggambarkan kebaikan dan kasih Allah Juruselamat kita kepada manusia berdosa yang malang. Dahulu kita bagaikan orang malang yang melakukan perjalanan ini. Iblis, musuh kita, telah merampok kita habis-habisan, dan menyakiti kita. Seperti itulah celaka yang diakibatkan dosa terhadap kita. Pada dasarnya kita lebih daripada sekadar setengah mati, bahkan mati dua kali, karena melakukan pelanggaran dan dosa. Kita sama sekali tidak mampu menolong diri sendiri, karena tidak berdaya. Hukum Musa, seperti imam dan orang Lewi itu, para pelayan hukum, hanya bisa memandang kita, namun tidak berbelas kasihan kepada kita, tidak memberi kita kelepasan, dan hanya melewati kita dari seberang jalan, seakan-akan tidak memiliki rasa iba ataupun kuasa untuk menolong kita. Namun, kemudian datanglah Yesus, si orang Samaria yang baik hati itu (dan dengan nada mencela mereka mengatai Dia: Engkau orang Samaria). Dia menaruh belas kasihan terhadap kita dan membalut luka-luka kita (Mzm. 147:3; Yes. 61:1), dan menuangkan, bukannya minyak dan anggur, tetapi yang tak terkirakan lebih berharga lagi daripada itu, yakni darah-Nya sendiri. Ia merawat kita, dan meminta kita memasukkan semua pengeluaran bagi kesembuhan kita atas nama-Nya. Dan Ia melakukan semua ini meskipun Ia bukan termasuk salah satu di antara kita, bahkan Ia bersedia merendahkan diri dengan rela, padahal kedudukan-Nya sebenarnya jauh di atas kita. Hal ini semakin menunjukkan kedalaman kasih-Nya dan membuat kita semua wajib berkata, "Betapa kita ini semua sangat berutang. Apakah yang bisa kita berikan?"

(2) Penerapan perumpamaan itu.
------------------------------------------------------------
[1] Kebenaran yang terkandung di dalamnya ditarik dari mulut si ahli Taurat itu sendiri. "Sekarang katakan kepada-Ku," kata Kristus, "Siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu (ay. 36), imam, orang Lewi, atau orang Samaria itu? Siapakah dari antara mereka yang berlaku sebagai sesama manusia?" Ahli Taurat itu tidak bersedia menjawab pertanyaan ini seperti yang seharusnya dilakukan olehnya, yakni "Tidak bisa diragukan lagi, orang Samaria itulah." Sebaliknya, ia hanya berkata, "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya. Tidak diragukan lagi, dialah yang menjadi sesama yang baik, bahkan sangat baik, bagi orang itu, dan haruslah aku katakan bahwa sungguh baiklah perbuatannya itu dalam menyelamatkan orang Yahudi itu dari kematian."

[2] Kewajiban yang disimpulkan dari kata-kata tadi ditanamkan ke dalam hati nurani si ahli Taurat itu sendiri: Pergilah, dan perbuatlah demikian. Kewajiban dalam berbagai hubungan sifatnya timbal balik, saling berbalasan. Seperti yang dikatakan Grotius, sebutan teman, saudara, sesama manusia di sini berarti tōn pros ti -- sama-sama mengikat bagi kedua belah pihak. Jika salah satu pihak terikat, maka pihak yang lain tidak dapat terlepas, seperti yang disepakati dalam semua perjanjian. Bila seorang Samaria melakukan perbuatan baik yang dapat menolong orang Yahudi yang berada dalam kesukaran, sudah barang tentu seorang Yahudi tidak berbuat baik apabila ia tidak bersedia menolong orang Samaria yang sedang mengalami kesulitan. Petimusque damusque vicissim -- tugas-tugas yang mulia ini harus dilakukan secara timbal balik. "Oleh sebab itu pergilah dan perbuatlah seperti yang dilakukan orang Samaria itu, bila mendapat kesempatan: tunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolonganmu, dan lakukanlah dengan cuma-cuma, serta dengan penuh kepedulian dan rasa kasih, meskipun mereka tidak sebangsa dan seagama denganmu, atau sependapat dan sekelompok dalam bidang iman kepercayaanmu.

Biarlah kemurahan hatimu meluas sebelum engkau membangga-banggakan diri telah menjalankan perintah utama mengasihi sesamamu manusia." Ahli hukum ini menilai diri sangat tinggi karena ia belajar serta tahu banyak tentang hukum dan menyangka dapat membuat Kristus kebingungan. Ternyata Kristus menyuruhnya belajar dari seorang Samaria agar memahami kewajibannya. "Pergilah, dan perbuatlah seperti dia." Perhatikanlah, sudah menjadi kewajiban kita semua di mana pun kita berada, dan sesuai dengan kemampuan kita, untuk menopang, menolong, dan membebaskan semua orang yang sedang berada dalam kesulitan dan kekurangan, terutama para ahli hukum. Di dalam hal ini kita harus belajar untuk mengungguli orang-orang yang suka membangga-banggakan diri sebagai imam dan orang Lewi.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 2 Oktober 2023 - Ketahuilah dan Lakukanlah Perintah Utama Yesus Kristus ! - Lukas 10:26-28

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 30 September 2023 - Bermegah Menerima Pendamaian - Roma 5:10-11




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,