|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2025 Minggu, 12 Januari 2025 Khotbah GMIM Minggu, 12 Januari 2025 - INTEGRITAS HAMBA ALLAH - Daniel 3:1-30 Patung Emas Nebukadnezar, Para Pemuka Ibrani Dituduh, Kegigihan Para Pemuka Yahudi, Ketiga Orang Ibrani di Dalam Perapian, Nebukadnezar Memuliakan Allah Daniel 3:1-30 Perapian yang menyala-nyala 3:1 Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel. 3:2 Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu. 3:3 Lalu berkumpullah para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu. 3:4 Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: "Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa: 3:5 demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu; 3:6 siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!" 3:7 Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu. 3:8 Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi. 3:9 Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: "Ya raja, kekallah hidup tuanku! 3:10 Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu, 3:11 dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. 3:12 Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan." 3:13 Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja, 3:14 berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: "Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? 3:15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?" 3:16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 3:17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." 3:19 Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 3:20 Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. 3:21 Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. 3:22 Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas. 3:23 Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat. 3:24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" 3:25 Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!" 3:26 Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. 3:27 Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka. 3:28 Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. 3:29 Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu." 3:30 Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel. Penjelasan: * Patung Emas Nebukadnezar (3:1-7) Kita tidak tahu pasti tanggal kisah ini terjadi, selain bahwa jika patung yang ditahbiskan Nebukadnezar ini ada kaitannya dengan patung dalam mimpinya, maka mungkin kisah ini terjadi tidak lama sesudah itu. Ada yang memperkirakan sekitar tahun ketujuh pemerintahan Nebukadnezar, atau satu tahun sebelum Yoyakhin ditangkap bersama Yehezkiel untuk dibawa pergi. Amatilah, I. Sebuah patung emas didirikan untuk disembah. Babel sudah penuh dengan berhala-berhala, namun tidak ada yang dapat memuaskan raja congkak dan sewenang-wenang ini selain bahwa mereka harus punya satu dewa lagi. Sebab, orang-orang yang telah meninggalkan satu-satunya Allah yang hidup, dan mulai menyembah banyak dewa, akan mendapati bahwa patung-patung dewa yang telah mereka dirikan itu ternyata sangat tidak memuaskan. Hasrat mereka atas dewa-dewa tadi begitu tidak terpuaskan, hingga mereka akan terus memperbanyak dewa-dewa tanpa batas. Mereka akan terus mengejar keinginan itu tanpa henti, dan tidak pernah tahu kapan jumlahnya sudah mencukupi. Para penyembah berhala sangat menggemari hal-hal baru dan keragaman. Mereka memilih allah baru. Mereka yang sudah memiliki banyak, akan ingin memiliki lebih banyak lagi. Untuk dapat menjalankan hak istimewa kekuasaannya dan membuat allah yang dianggapnya sesuai, raja Nebukadnezar pun membuat patung ini (ay. 1). Amatilah, 1. Nilainya yang tinggi. Patung ini terbuat dari emas. Tentu saja bukan seluruhnya terbuat dari emas. Sekaya apa pun dia, mungkinkah bahwa ia tidak memiliki sebanyak itu, tetapi hanya melapisinya saja dengan emas. Perhatikanlah, para penyembah allah palsu tidak segan-segan mengeluarkan biaya dalam mendirikan patung lalu menyembahnya. Mereka mengeluarkan emas dari dalam kantong demi tujuan itu (Yes. 46:6). Namun hal ini juga sungguh mempermalukan kita yang pelit dalam menyembah Allah yang benar. 2. Ukurannya yang besar. Tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta. Ukurannya lima belas kali lebih besar daripada sosok manusia biasa (yang kira-kira hanya setinggi 1,8 meter). Seakan-akan ukuran yang amat besar mirip monster itu dapat menggantikan keadaannya yang tidak hidup. Tetapi mengapa Nebukadnezar mendirikan patung ini? Ada yang menafsirkan bahwa tindakan ini adalah untuk membersihkan dirinya dari dugaan bahwa ia telah menjadi Yahudi, sebab belum lama berselang ia memuji-muji Allah Israel dengan penuh hormat, dan memberi kedudukan tinggi kepada beberapa penyembah-Nya. Atau, boleh jadi ia membuat patung itu sebagai patung dirinya sendiri, dan dirancang supaya dia sendiri yang disembah melalui patung itu. Rajaraja yang sombong sangat menggemari agar mereka dihormati seperti layaknya seorang dewa. Aleksander juga berbuat sama, berlagak sebagai putra Zeus Olimpios. Nebukadnezar diberitahu bahwa di dalam patung yang dilihatnya dalam mimpinya itu, ia digambarkan sebagai kepala dari emas tua, dan akan digantikan oleh kerajaan-kerajaan yang dilambangkan dengan logam-logam yang bernilai lebih rendah. Namun, di sini ia melambangkan dirinya dengan seluruh patung, sebab ia membuat seluruh patung itu dengan emas. Lihatlah di sini, (1) Bagaimana kesan-kesan baik yang waktu itu tertanam pada dirinya hilang dengan cepat. Waktu itu ia mengakui bahwa Allah orang Israel sesungguhnya Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja. Namun sekarang, dengan menentang hukum Allah yang jelas itu, ia mendirikan patung untuk disembah. Tidak hanya melanjutkan kebiasaan menyembah berhala yang terdahulu, ia juga membuat yang baru. Perhatikanlah, seringkali orang diyakinkan dengan kuat akan keberdosaannya, namun hal itu tidak diiringi dengan pertobatan yang sungguh. Banyak kesakitan disebabkan oleh kekonyolan dan bahaya dosa, namun orang tetap saja berkanjang di dalamnya. (2) Bagaimana mimpi dan maknanya yang telah begitu berkesan baginya, sekarang justru berakibat sebaliknya. Dulu mimpi itu membuat sang raja sujud dengan rendah hati untuk menyembah Allah. Sekarang ia justru menjadi pesaing yang berani menantang Allah. Dulu ia senang dilambangkan dengan kepala emas dari patung itu, dan mengakui bahwa ia berutang budi kepada Allah untuk itu. Namun, ketika pikirannya melambung sesuai keadaan, ia sekarang menganggap hal itu terlampau kecil, dan ia pun melawan Allah dan pesan-Nya, ingin menjadi semua di dalam semua. II. Seluruh negeri disuruh berkumpul untuk menghadiri upacara penahbisan patung ini (ay. 2-3). Para utusan dikirimkan ke seluruh bagian kerajaan untuk mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para pembesar, dan bangsawan seluruh kerajaan, termasuk para pejabat sipil dan militer, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah. Mereka semua harus datang untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu, tanpa memedulikan penderitaan serta bahaya yang akan diakibatkannya. Raja memanggil semua pembesar demi menghormati patung ini. Oleh sebab itu ada disebutkan demi kemuliaan Kristus, bahwa raja-raja akan menyampaikan persembahan kepada-Nya. Jika Nebukadnezar dapat menyuruh mereka memberikan penghormatan kepada patung emas ini, ia yakin bahwa rakyat jelata pasti akan mengikuti. Dengan menaati perintah raja, seluruh hakim dan pejabat kerajaan besar itu pun meninggalkan tugas di daerah masing-masing, dan datang ke Babel, demi penahbisan patung emas ini. Banyak dari antara mereka yang harus melakukan perjalanan jauh yang menelan biaya besar, demi menjalankan tugas yang sangat bodoh. Namun, sama seperti patung berhala merupakan benda-benda yang mati rasa, begitu juga halnya dengan para penyembahnya. III. Maklumat dikeluarkan, memerintahkan semua orang hadir di hadapan patung itu. Begitu isyarat diberikan, mereka harus sujud dan menyembah patung yang ditahbiskan sebagai patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar. Seorang bentara mengumumkan hal ini dengan suara nyaring kepada himpunan besar pembesar berikut para pelayan dan pembantu mereka yang tidak kalah banyaknya. Tak diragukan lagi, kerumunan besar orang-orang yang tidak dipanggil juga turut hadir di sana. Mereka semua harus memperhatikan, 1. Bahwa raja menuntut dan memerintahkan dengan tegas agar semua orang sujud dan menyembah patung emas itu. Tidak peduli dewa-dewa lain apa pun yang mereka sembah pada waktu-waktu lain, sekarang mereka harus menyembah patung ini. 2. Bahwa mereka semua harus melakukan ini serentak, sebagai tanda persekutuan di antara mereka dalam upacara penyembahan berhala ini. Dan, agar upacara berlangsung khidmat seperti yang diinginkan, maka suatu pergelaran musik dimainkan, yang juga dapat melembutkan hati mereka yang enggan patuh, sehingga mereka bersedia mematuhi perintah raja. Sukaria dan keceriaan dalam acara penyembahan ini sangat cocok dengan pikiran yang dikuasai hawa nafsu. Cara seperti ini sama sekali tidak sesuai dengan penyembahan rohani yang pantas diberikan kepada Allah yang adalah Roh. IV. Kepatuhan himpunan orang banyak ini terhadap perintah raja (ay. 7). Mereka mendengar bunyi alat-alat musik, baik yang ditiup maupun yang dipetik dengan tangan, yaitu sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, dan serdam, yang bagi mereka terdengar menggairahkan. Cukup sesuai untuk menimbulkan gairah seperti yang pada masa itu mengiringi penyembahan mereka. Bagaikan prajurit yang terbiasa dilatih dengan bunyi genderang, dengan serentak orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa pun sujud menyembah patung emas itu. Maka tidaklah mengherankan bahwa saat maklumat itu diumumkan, siapa pun yang tidak sujud menyembah patung emas itu, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala yang telah disiapkan (ay. 6). Di sini kita melihat pesona musik untuk memikat hati mereka supaya patuh, dan kengerian perapian yang menyala-nyala untuk membuat mereka ketakutan sehingga bersedia patuh. Dan karena tergoda sedemikian rupa, mereka semua pun tunduk. Perhatikanlah, dengan cara itulah indra manusia mengarahkan kebanyakan orang. Tidak ada cara yang seburuk seperti dengan pertunjukan musik ini, yang mampu memikat hati dunia yang sembrono ini. Juga tidak yang seperti perapian yang menyala-nyala, yang dapat menggerakkan orang seperti ini. Dan melalui cara-cara seperti inilah penyembahan palsu selama ini telah ditegakkan dan dipelihara. * Para Pemuka Ibrani Dituduh, Kegigihan Para Pemuka Yahudi (3:8-18) Sungguh aneh mengapa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego ikut hadir di tengah perhimpunan itu, padahal mereka mungkin saja tahu untuk tujuan apa mereka semua dikumpulkan seperti itu. Sedangkan Daniel, mungkin sekali, tidak hadir, entah karena panggilan tugas atau mendapat izin dari raja untuk mengundurkan diri. Atau kita juga bisa beranggapan bahwa Daniel begitu diperkenan oleh raja hingga tidak seorang pun berani mengeluhkan ketidaktaatannya terhadap perintah raja. Apa pun itu, mengapa teman-temannya tidak menghindari perhimpunan itu? Tentu saja karena mereka hendak menaati perintah raja sejauh yang mereka bisa, dan siap memberikan kesaksian di hadapan umum bahwa mereka menolak penyembahan berhala yang teramat buruk ini. Mereka menganggap belumlah cukup untuk sekadar tidak sujud menyembah patung itu, tetapi sebagai pejabat, mereka merasa berkewajiban untuk berdiri menentang penyembahan itu, meskipun itu patung yang didirikan oleh raja tuan mereka, dan yang akan menjadi berhala emas bagi orang-orang yang menyembahnya itu. Sekarang, I. Laporan disampaikan kepada raja oleh beberapa orang Kasdim perihal ketiga orang pembesar yang tidak menaati perintah raja ini (ay. 8). Boleh jadi orang-orang Kasdim yang menuduh mereka ini adalah beberapa orang berilmu dan ahli jampi yang juga disebut orang Kasdim (2:2, 4) yang mendendam terhadap teman-teman Daniel, karena ia telah meredupkan nama mereka, dan begitu pula ketiga temannya ini. Padahal melalui doa-doa ketiga teman Daniel itu, mereka mendapat belas kasihan yang menyelamatkan nyawa orang-orang Kasdim ini. Namun lihatlah betapa mereka malah membalas kebaikan dengan kejahatan! Sebagai ganti kasih yang ditunjukkan teman-teman Daniel, mereka justru dianggap musuh orang Kasdim. Demikian jugalah Yeremia telah berdiri di hadapan Allah, untuk berbicara membela mereka yang kemudian menggali pelubang untuknya (Yer. 18:20). Janganlah kita menganggap aneh apabila berjumpa dengan orang-orang yang tidak tahu berterima kasih seperti itu. Atau, mungkin juga mereka yang melapor itu adalah orang-orang Kasdim yang begitu mengharap-harapkan kedudukan yang diberikan kepada ketiga orang muda itu, dan merasa iri dengan segala pangkat dan pencapaian hidup mereka. Tetapi siapa dapat tahan terhadap cemburu? Mereka berseru kepada raja perihal maklumat itu, dengan segenap sikap hormat kepada baginda raja dan pujian seperti biasa, Ya raja, kekallah hidup tuanku! (seolah-olah yang mereka utamakan hanyalah kehormatannya dan demi kepentingannya semata, padahal sebenarnya mereka justru menempatkan raja dalam bahaya yang dapat menghancurkan dirinya dan kerajaannya). Mereka memohon izin, 1. Untuk mengingatkan raja perihal hukum yang belum lama dibuatnya. Yaitu, bahwa semua orang tanpa membedakan bangsa ataupun bahasa, harus sujud menyembah patung emas itu. Mereka juga mengingatkan raja perihal hukuman yang harus dijatuhkan ke atas para pembangkang, bahwa mereka harus dicampakkan ke dalam perapian yang menyalanyala (ay. 10-11). Memang tidak dapat disangkal lagi bahwa inilah hukumnya, tidak peduli apakah hukum itu adil atau tidak, harus diperhatikan. 2. Untuk memberitahukan kepadanya bahwa ketiga orang ini, yaitu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, tidak mengindahkan maklumat ini (ay. 12). Ada kemungkinan bahwa Nebukadnezar tidak berencana menjerat ketiga orang ini dengan membuat hukum semacam itu. Seandainya begitu, ia pasti akan mengawasi mereka dan tidak membutuhkan laporan ini. Namun, musuh-musuh mereka yang mencari-cari kesempatan untuk mencelakakan mereka, langsung menyambar peluang ini, dan bersemangat untuk menuduh mereka. Untuk memperparah masalahnya, dan membuat raja semakin marah, (1) Mereka mengingatkannya perihal kehormatan yang telah ia karuniakan kepada ketiga pelaku kejahatan ini. Meskipun mereka adalah orang Yahudi, orang asing, tawanan, orang-orang yang berasal dari bangsa dan agama yang hina, namun kepada mereka raja telah memberikan pemerintahan atas wilayah Babel. Dan karena itu, sungguh tidak tahu berterima kasih dan tidak tahu aturan perbuatan mereka ini. Sampai hati mereka menentang perintah raja, padahal mereka telah menikmati begitu banyak kebaikan hatinya. Selain itu, kedudukan tinggi yang mereka tempati membuat pembangkangan mereka itu semakin memalukan. Itu akan menjadi contoh buruk, dan berdampak buruk terhadap orang lain. Oleh karena itu, perbuatan ini harus ditentang secara tegas. Demikianlah para penguasa yang cukup marah terhadap orang-orang yang tidak bersalah, biasanya dikelilingi terlampau banyak orang yang akan berbuat sebisanya untuk memperparah keadaan. (2) Orang-orang Kasdim itu menyarankan agar ketiga orang itu dituduh telah bertindak keji, serta menghina raja dan wewenangnya: “Mereka tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja, sebab mereka tidak memuja dewa yang tuanku sembah, dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.” II. Ketiga orang Yahudi yang saleh ini langsung dibawa menghadap raja, dan didakwa serta diperiksa berdasarkan laporan tadi. Nebukadnezar marah besar, dan dalam marahnya dan geramnya memberikan perintah untuk menangkap mereka (ay. 13). Betapa rendahnya martabat sang raja agung ini, ia berkuasa atas begitu banyak bangsa, namun pada saat yang sama tak dapat mengendalikan diri. Begitu banyak orang menjadi bawahan dan tawanannya, sementara ia sendiri menjadi budak sepenuhnya bagi berbagai nafsu rendahnya sendiri dan tertawan olehnya! Betapa tidak pantasnya dia memerintah orang-orang berakal sehat, sementara dia sendiri tidak dapat dikendalikan oleh akal sehat! Seharusnya ia tidak heran mendengar bahwa ketiga orang ini sekarang tidak menyembah dewa-dewanya, sebab ia tahu betul bahwa mereka ini tidak pernah menyembah dewa. Agama yang selama ini mereka anut melarang mereka melakukan hal itu. Tidaklah beralasan baginya untuk berpikir bahwa mereka berencana menghina kekuasaannya, sebab dalam semua hal mereka telah membuktikan diri bersikap penuh hormat dan patuh kepadanya sebagai raja mereka. Dan yang terutama sangatlah tidak pantas pada waktu seperti ini, ketika ia sedang mengikuti upacara penyembahannya, menahbiskan patung emasnya, untuk menjadi begitu marah dan geram, sehingga kehilangan kendali atas diri sendiri. Orang tentu akan berpikir bahwa akal budi setidaknya membuat seseorang panjang sabar. Ibadah yang sejati menenangkan roh, menentramkan dan melembutkannya. Sebaliknya, takhayul dan ibadah kepada allah-allah palsu akan membakar nafsu manusia, mengilhami mereka dengan amarah dan kegeraman, serta mengubah mereka menjadi orang kejam. Kemarahan raja adalah seperti raung singa muda, begitu juga amarah raja ini. Namun demikian, ketika amarahnya menyala-nyala seperti itu, ketiga orang ini pun dibawa menghadap raja, tetapi mereka tampil dengan gagah berani, sedikit pun tidak goncang hatinya. III. Duduknya persoalan disampaikan kepada ketiga orang Yahudi itu dengan singkat, dan terserah kepada mereka apakah mereka bersedia taat atau tidak. 1. Raja bertanya kepada mereka apakah benar mereka tidak menyembah patung emas seperti yang lain (ay. 14). Ada yang memahaminya sebagai berikut, “Apakah ini dilakukan dengan sengaja?” “Apakah hal itu memang sudah direncanakan dengan sengaja, atau hanya karena kecerobohan, sehingga kalian tidak memuja dewaku? Apa?! Kalian yang selama ini telah kuberi makan dan kubesarkan, yang telah dididik dan dipelihara atas tanggung jawabku, yang telah aku tunjukkan kebaikan hati dan perbuat banyak hal. Kalian yang sudah begitu terkenal dengan kebijaksanaanmu, sehingga dengan demikian seharusnya lebih mengetahui kewajiban kalian terhadap raja kalian. Apa! Apakah kalian tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?” Perhatikanlah, kesetiaan para hamba Allah terhadap Dia, sering kali mengherankan para musuh dan penganiaya mereka, yang heran, bahwa mereka tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama. 2. Raja bersedia memberi mereka kesempatan baru. Jika mereka telah dengan sengaja tidak mau menyembah, bisa saja, setelah berpikir ulang, mereka berubah pikiran. Maka kepada mereka disampaikan lagissyarat-syarat yang harus mereka penuhi (ay. 15). (1) Raja setuju musik diperdengarkan kembali demi kepentingan mereka, yakni untuk melembutkan hati mereka sehingga mau taat. Namun, bila mereka tidak menutup telinga bagaikan ular tedung tuli, tetapi bersedia mendengarkan suara para pembaca mantra dan menyembah patung emas itu, maka baguslah itu, dan kesalahan mereka pun akan diampuni. Namun, (2) Raja sudah berketetapan bahwa apabila mereka bersikeras menolak, maka mereka akan langsung dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Mereka tidak akan mendapatkan penangguhan hukuman satu jam pun. Begitulah, hanya ada dua pilihan, Berbalik, atau hangus. Karena tahu bahwa dalam penolakan itu mereka mengandalkan diri kepada Allah mereka, maka raja dengan lancang menantang Dia: “Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku? Coba saja, kalau Dia bisa.” Sekarang raja melupakan apa yang dahulu pernah diakuinya sendiri, yaitu bahwa Allah mereka adalah Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja (2:47). Orang congkak mudah sekali berkata, seperti halnya Firaun, Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya? Atau seperti Nebukadnezar, Siapakah Tuhan, sehingga aku harus takut kepada kuasa-Nya? IV. Ketiga orang itu memberikan jawaban mereka, semuanya sepakat, bahwa mereka masih berpegang pada kebulatan hati mereka untuk tidak menyembah patung emas itu (ay. 16-18). Di sini kita melihat contoh kegigihan dan kebesaran hati yang nyaris ada tandingannya. Kita menyebut mereka ketiga anak dan mereka memang orang muda. Namun, kita seharusnya menyebut mereka tiga jawara, yaitu ketiga orang pertama di antara pasukan istimewa kerajaan Allah di antara manusia. Ketiganya tidak meluap dalam amarah tanpa kendali terhadap orang-orang yang menyembah patung emas itu, tidak mencerca ataupun menghina mereka. Mereka juga tidak bertindak dengan gegabah ketika ditanyai dalam perkara itu, atau mengikuti peradilan itu untuk mati konyol. Sebaliknya, ketika mereka dihadapkan pada peradilan dengan api menyala-nyala, mereka membawa diri dengan gagah, berperilaku baik dan dengan berani seperti yang seharusnya ditunjukkan orang yang menderita karena alasan sebaik itu. Dalam membuat berhala ini, raja tidak bisa disebut pemberani dalam melakukan hal buruk, namun ketiga orang itu berani melakukan hal baik dengan memberikan kesaksian yang menentang berhala itu. Sungguh mengagumkan bagaimana mereka mampu mengendalikan perasaan sebaik itu. Mereka tidak menyebut raja sebagai raja lalim atau penyembah berhala karena perkara Allah tidak membutuhkan amarah manusia. Sebaliknya, dengan ketenangan hati dan kepala dingin yang patut dicontoh, ketiganya memberikan jawaban yang sudah mereka putuskan untuk diikuti. Amatilah, 1. Dengan hati mulia dan lapang dada mereka memandang rendah kematian, dan dengan anggun mereka abaikan kesukaran yang sedang mereka hadapi: Ya raja Nebukadnezar! Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Mereka tidak menampik untuk menjawab raja, atau menutup mulut. Sebaliknya, dengan baik-baik mereka berkata kepadanya bahwa mereka tidak mempermasalahkan hukuman raja. Tidak perlu dijawab lagi (begitulah yang dipahami sebagian orang). Mereka berketetapan untuk tidak menaati perintah itu, sedangkan raja sudah bulat hati bahwa mereka harus mati apabila tidak mau taat. Jadi, perkaranya sudah ditentukan, sehingga untuk apa lagi diperdebatkan? Tetapi mungkin bila hal ini dipahami begini, “Kami tidak ingin memberikan jawaban kepada tuanku, atau mencari-cari jawabannya. Kami siap dihukum.” (1) Mereka tidak membutuhkan waktu untuk memikir-mikirkan jawaban, sebab mereka tidak ragu sedikit pun tentang apakah mereka sebaiknya taat atau tidak. Ini menyangkut masalah hidup dan mati, jadi orang mungkin berpikir bahwa mereka telah merenungkan hal ini beberapa waktu sebelum membuat keputusan. Hidup lebih diinginkan, sedangkan kematian terasa menakutkan. Namun, ketika dosa dan kewajiban ibadah yang menyangkut perkara yang telah ditetapkan langsung dalam perintah Allah yang kedua, dan tidak ada lagi ruang untuk mempersoalkan mana yang benar, maka hidup dan mati tidak perlu dipertimbangkan lagi. Perhatikanlah, orang-orang yang hendak menghindari dosa, janganlah bertanya jawab dengan pencobaan. Apabila hal yang membuat kita merasa tergoda atau takut itu ternyata jahat, maka ajakan itu lebih baik ditolak dengan marah dan rasa jijik, daripada dipertimbangkan. Jangan berlama-lama di sekitar godaan itu, tetapi katakanlah seperti yang diajarkan Kristus kepada kita, Enyahlah Iblis. (2) Ketiganya tidak perlu berpikir lama untuk menyusun cara mengucapkannya. Ketika mereka bertindak sebagai pembicara bagi Allah, dan dipanggil untuk menjadi saksi dalam perkara-Nya, mereka tidak ragu bahwa apa yang harus mereka katakan itu akan dikaruniakan kepada mereka pada saat itu juga (Mat. 10:19). Mereka tidak berputar-putar dalam menjawab, ketika jawaban langsung diharapkan dari mereka. Tidak, mereka tampaknya juga tidak membujuk raja agar tidak bersikeras melaksanakan niatnya. Jawaban mereka pun kelihatan tidak ada yang seperti memuji-muji raja. Mereka tidak mengawali dengan kata-kata seperti yang diucapkan para penuduh mereka, Ya raja, kekallah hidup tuanku. Tidak ada perkataan licik, ad captandam benevolentiam untuk membuatnya senang. Sebaliknya, semua perkataan mereka biasa saja dan terus terang: O Nebukadnezar! Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Perhatikanlah, orang-orang yang mengutamakan kewajiban ibadah mereka tidak perlu mengkhawatirkan kejadian yang sedang mereka alami. 2. Keyakinan mereka kepada Allah dan ketergantungan mereka kepada-Nya (ay. 17). Hal inilah yang memampukan mereka untuk begitu meremehkan kematian, kematian dalam kedahsyatannya, kematian dalam seluruh kengeriannya. Mereka percaya kepada Allah yang hidup, dan dengan iman itu mereka memilih lebih baik menderita daripada berbuat dosa. Itulah sebabnya mereka tidak takut akan murka raja, tetapi tetap bertahan, sebab dengan iman mereka memusatkan pandangan kepada Dia yang tidak kelihatan (Ibr. 11:25, 27): “Jika memang harus terjadi (ay. 17, KJV), jika kami harus melalui kesukaran ini dan dicampakkan ke dalam perapian menyala-nyala kecuali kami menyembah dewa-dewa tuanku, maka ketahuilah,” (1) “Bahwa meskipun tidak menyembah dewa tuanku, kami bukanlah orang yang tidak mengenal Allah. Ada Allah yang bisa kami sebut Allah kami, dan kepada-Nya kami bertaut dengan setia.” (2) “Bahwa kami menyembah Allah ini. Kami telah membaktikan diri bagi kehormatan-Nya. Kami melayani pekerjaan-Nya, dan mengandalkan Dia untuk melindungi, memelihara, dan memberikan pahala kepada kami.” (3) “Bahwa kami sangat yakin Allah ini akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu. Entah Ia akan melakukannya atau tidak, kami yakin bahwa Ia mampu mencegah supaya kami tidak dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, atau melepaskan kami dari dalamnya.” Ingatlah, para hamba Allah yang setia akan mendapati bahwa Ia adalah Tuan yang mampu mendukung mereka dalam melayani-Nya. Ia sanggup mengendalikan dan mengalahkan semua kekuatan yang melawan mereka. Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat. (4) “Bahwa kami mempunyai alasan untuk berharap Ia akan melepaskan kami,” sebagian karena di hadapan perhimpunan penyembah berhala sebanyak itu, melepaskan mereka akan sangat memuliakan nama-Nya yang agung. Sebagian lagi karena Nebukadnezar telah menantang Dia untuk melakukannya, Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku? Adakalanya Allah tampil dengan luar biasa untuk membungkam hujatan musuh, sekaligus untuk menjawab doa-doa umat-Nya (Mzm. 74:18-22; Ul. 32:27). “Namun, seandainyapun Ia tidak melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala ini, Ia akan melepaskan kami dari dalam tanganmu.” Nebukadnezar hanya sanggup menyiksa dan membunuh tubuh, namun sesudah itu tidak ada lagi yang bisa diperbuatnya. Sesudah itu mereka akan terlepas dari jangkauannya, dibebaskan dari tangannya. Ingatlah, pikiran yang baik tentang Allah dan keyakinan penuh bahwa Ia menyertai kita sementara kita bersama Dia, akan sangat membantu kita dalam melewati penderitaan. Dan jika Ia ada di pihak kita, maka kita tidak perlu mencemaskan apa yang dapat dilakukan manusia kepada kita. Biarlah dia berbuat yang paling buruk sekalipun. Allah akan melepaskan kita dari atau melalui kematian. 3. Keteguhan hati mereka untuk mempertahankan asas yang mereka anut, apa pun akibatnya (ay. 18): “Tetapi seandainya tidak, meskipun Allah memandang tidak layak untuk melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala ini, meskipun kita tahu Ia mampu melakukannya, seandainya pun Ia mengizinkan kami jatuh ke dalam tanganmu, dan celaka oleh tanganmu, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa-dewa ini, meskipun mereka adalah dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas ini, meskipun tuanku sendiri yang telah mendirikannya.” Mereka tidak malu ataupun takut mengakui agama kepercayaan mereka, dan langsung mengatakan kepada raja bahwa mereka tidak takut kepadanya, tidak bersedia mematuhinya. Seandainya mereka meminta saran manusia biasa, pasti cukup banyak yang akan disarankan supaya mereka bersedia patuh, terutama saat tidak ada jalan lain untuk menghindari kematian, kematian yang begitu ngeri. Misalnya orang bisa menyarankan kepada mereka, bahwa (1) Mereka tidak diharuskan menyangkali Allah mereka sendiri dengan sumpah, atau meninggalkan penyembahan kepada-Nya. Tidak, mereka juga tidak diwajibkan mengakui dengan mulut bahwa patung emas ini adalah dewa. Mereka hanya diminta untuk sujud menyembahnya, yang bisa saja mereka lakukan sambil diam-diam menyediakan hati mereka bagi Allah Israel, membenci penyembahan berhala ini di dalam hati, seperti Naaman yang sujud menyembah di kuil Rimon. (2) Mereka tidak harus ikut menyembah berhala. Hanya satu tindakan saja yang diminta dari mereka, yang bisa diselesaikan dalam satu menit saja, dan bahaya pun akan berlalu. Setelah itu mereka bisa menyatakan penyesalan karena telah melakukannya. (3) Raja yang memberikan perintah itu memiliki kuasa mutlak. Mereka berada di bawah kuasanya, tidak saja sebagai bawahan, tetapi juga sebagai tawanan. Jika mereka mau melakukannya, ini semata-mata akibat diharuskan dan dipaksa, jadi bisa dimaafkan. (4) Selama itu raja telah menjadi pelindung mereka. Ia telah mendidik dan meninggikan mereka. Dan sebagai ungkapan terima kasih, sudah sepantasnya mereka berbuat semampu mereka, sekalipun harus melanggar sesuatu yang penting, yaitu pendirian hati nurani. (5) Mereka sekarang dihalau ke negeri asing. Dan bagi mereka yang dibawa keluar seperti itu, sama saja dengan diberi perintah, “Pergilah, beribadahlah kepada allah lain (1Sam. 26:19). Orang menganggap sudah pantas dalam keadaan nasib seperti itu, mereka akan beribadah kepada allah lain, dan ini dijadikan bagian dari hukuman bagi mereka (Ul. 4:28). Mereka bisa saja diampuni apabila diharuskan mengikuti arus yang begitu kuat. (6) Bukankah para raja, pemuka, dan nenek moyang mereka, bahkan imam-imam mereka juga, pernah mendirikan berhala-berhala bahkan di dalam Bait Allah dan menyembah mereka di sana? Mereka tidak saja sujud menyembah kepada patung-patung itu, tetapi juga mendirikan mezbah, membakar ukupan, dan mempersembahkan korban, bahkan anak-anak mereka sendiri kepada patung-patung itu. Bukankah kesepuluh suku itu sudah berabad-abad menyembah berhala-berhala dari emas di Dan serta Betel? Jadi masakan mereka harus lebih benar daripada nenek moyang mereka? Communis error facit jus Apa yang dilakukan semua orang pastilah benar. (7) Jika mereka mau taat, nyawa mereka akan selamat dan mereka bisa tetap menempati kedudukan mereka. Dengan demikian mereka akan lebih mampu melayani saudara-saudara mereka di Babel, dan melakukannya untuk waktu lama. Mereka masih muda dan sedang naik daun. Namun demikian, sudah cukuplah satu perkataan Allah itu, yang menjawab dan membungkam dalih-dalih ini serta banyak alasan kedagingan semacam ini, yaitu Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya. Ketiga orang muda itu tahu bahwa mereka harus menaati Allah dan bukan manusia. Lebih baik mereka menderita daripada berbuat dosa. Mereka tidak boleh melakukan kejahatan supaya yang baik bisa datang. Oleh sebab itu tidak satu pun dari alasan-alasan tadi menggoyahkan mereka. Mereka berketapan hati lebih baik mati di dalam kesetiaan iman daripada hidup di dalam perbuatan dosa. Sementarassaudara-saudara mereka yang masih tinggal di negeri sendiri pun menyembah berhala atas pilihan sendiri, mereka yang berada di Babel tidak mau melakukannya di bawah tekanan sekalipun. Tampaknya tekanan membuat mereka kuat, hingga mereka menjadi sangat bersemangat menentang penyembahan berhala di negeri para penyembah berhala itu sendiri. Dan sungguh, dari semua segi, penyelamatan mereka dari ketaatan untuk tidak berbuat dosa ini merupakan sebuah mujizat besar dalam kerajaan anugerah, seperti halnya penyelamatan mereka dari perapian yang menyala-nyala dalam kerajaan di bumi ini. Inilah orang-orang yang dahulu berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan santapan raja, dan sekarang dengan keberanian yang sama mereka berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan dewa-dewanya. Perhatikanlah, ketaatan teguh terhadap Allah dan kewajiban ibadah dengan menyangkal diri dalam hal-hal yang kurang begitu berat akan memampukan dan mempersiapkan kita menghadapi hal-hal yang lebih berat. Dan sehubungan dengan ini, kita harus berketetapan untuk tidak pernah, dengan dalih apa pun, menyembah patung-patung atau “bersekutu” dengan mereka yang melakukannya. * Ketiga Orang Ibrani di Dalam Perapian (3:19-27) Di sini diceritakan tentang, I. Bagaimana ketiga hamba Allah yang setia itu dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Nebukadnezar sendiri sudah mengakui dan tahu tentang Allah yang benar. Dengan demikian orang akan berpikir bahwa meskipun kebanggaan dan kesombongannya telah menyebabkan dia membuat patung emas ini dan mendirikannya untuk disembah, namun apa yang dikatakan ketiga orang muda ini tentu akan menyadarkannya (dan dia sendiri sebelumnya menganggap mereka lebih bijak daripada semua orang pandainya). Setidaknya bisa menggugah hatinya untuk memaafkan mereka. Tetapi yang terjadi tidaklah demikian adanya. 1. Bukannya diyakinkan oleh perkataan mereka, Ia malah sakit hati dan semakin murka (ay. 19). Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap ketiga orang ini. Perhatikanlah, bila nafsu bodoh semakin diperturutkan, maka semakin garang pulalah jadinya, dan bahkan dapat mengubah air muka, sehingga sangat membuat tercela hikmat dan akal budi manusia. Dalam amarahnya, Nebukadnezar seperti menukarkan keagungan seorang raja di takhtanya, atau kemuliaan seorang hakim di kursi pengadilan, dengan amarah menakutkan seekor lembu hutan kena jaring. Seandainya saja manusia yang sedang dikuasai nafsu mau melihat wajah mereka di cermin, maka mereka tentu akan merasa malu dengan kebodohan mereka dan mengalihkan semua rasa tidak senang mereka kepada diri sendiri. 2. Bukannya meringankan hukuman, mengingat kecakapan dan kedudukan terhormat yang mereka tempati, raja justru memerintahkan agar hukumannya ditambah, yaitu agar perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa digunakan untuk para penjahat lain. Artinya, bahan bakar yang digunakan harus tujuh kali lipat banyaknya. Meskipun tidak akan membuat kematian mereka semakin mengenaskan tetapi justru mempercepatnya, hal itu memang dirancang untuk menunjukkan bahwa raja menganggap kejahatan ketiga orang ini tujuh kali lebih keji daripada kejahatan orang lain. Dengan demikian, kematian mereka akan tampak lebih tercela. Namun, Allah justru mendatangkan kemuliaan bagi diri-Nya sendiri melalui murka raja lalim yang bodoh ini. Sebab selain tidak akan membuat kematian mereka semakin mengenaskan, cara ini justru akan membuat penyelamatan mereka semakin gemilang. 3. Raja memerintahkan agar ketiganya diikat lengkap dengan pakaian yang mereka kenakan, lalu dicampakkan ke tengah perapian yang menyalanyala, dan hal ini pun dilaksanakan sesuai perintah (ay. 20-21). Ketiga orang itu diikat supaya tidak memberontak atau melawan. Mereka diikat bersama pakaian mereka supaya tidak membuang-buang waktu, atau mungkin juga supaya mereka terbakar lebih lambat dan berangsurangsur. Namun, pemeliharaan Allah mengatur hal itu guna mempertegas mujizat itu. Pakaian mereka bahkan tidak hangus sedikit pun. Mereka diikat dengan jubah atau mantel mereka, celana, dan topi atau serban mereka, seakan-akan karena kebencian terhadap kejahatan yang dituduhkan, pakaian mereka pun harus ikut terbakar bersama pemiliknya. Alangkah mengerikannya kematian dengan cara ini, dilemparkan jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat (ay. 23). Membayangkan hal ini saja sudah bisa membuat bulu kuduk orang berdiri. Betapa mengerikan apabila harus mengalaminya. Sungguh mengherankan betapa keras hati raja lalim ini karena menjatuhkan hukuman semacam itu. Sebaliknya, sungguh mengagumkan betapa tegar ketiga orang ini, yang tetap tunduk pada hukuman itu daripada berdosa terhadap Allah. Namun, apalah artinya kematian ini bila dibandingkan dengan kematian yang kedua, dengan perapian yang ke dalamnya ikatan lalang akan dilemparkan dan dibakar, dengan lautan api yang membakar sampai selama-lamanya dengan api dan belerang? Biarlah Nebukadnezar memanaskan perapiannya semampu dia, beberapa menit saja akan mengakhiri siksaan yang dirasakan orang-orang yang dilemparkan ke dalamnya. Tetapi, api neraka memang menyiksa, namun tidak membunuh. Penderitaan orang-orang berdosa yang terkena hukuman, jauh lebih parah. Asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa tanpa istirahat, tanpa jeda dari rasa sakit, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu (Why. 14:10-11). Sebaliknya, bagi mereka yang dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala karena tidak mau menyembah binatang dari Babel dan patungnya ini, penderitaan itu akan segera lenyap. 4. Sungguh merupakan penyelenggaraan Allah yang luar biasa bahwa orang-orang itu, yakni beberapa orang yang sangat kuat yang mengikat dan mencampakkan ketiganya ke dalam perapian itu justru terbakar mati oleh api itu (ay. 22). Titah raja itu keras, supaya mereka segera membunuh ketiga orang muda itu dan memastikan agar melaksanakannya dengan sempurna. Oleh sebab itu mereka berketetapan untuk mendekat sampai ke pintu perapian, supaya bisa melemparkan ketiganya ke tengah perapian yang menyala-nyala. Namun, mereka begitu tergesa-gesa hingga tidak mengambil waktu untuk melindungi diri dengan baik. Kitab apokrif mengenai Daniel mencatat bahwa nyala api itu menjulang tinggi sampai empat puluh sembilan hasta (lebih dari dua puluh satu meter -" pen.) di atas pintu perapian. Boleh jadi Allah mengatur begitu rupa hingga angin meniup nyala api itu ke arah mereka dengan begitu kencang hingga melahap mati mereka. Demikianlah Allah segera membela perkara hamba-hamba-Nya yang diperlakukan dengan tidak adil. Ia membalas dendam bagi mereka dan menghukum para penganiaya, tidak saja saat mereka berbuat dosa, tetapi juga dengan memakai perbuatan dosa mereka itu sendiri. Namun bagaimanapun, orang-orang ini hanyalah alat kekejaman itu belaka. Dia yang memerintahkan mereka melakukannya menanggung dosa lebih besar. Namun mereka yang dipakai sebagai alat itu sudah sepantasnya mati dilahap api, karena mereka melaksanakan titah yang tidak adil dan sangat mungkin bahwa mereka melakukannya dengan senang hati karena gembira diberi tugas seperti itu. Tetapi Nebukadnezar sendiri masih dibiarkan untuk diadakan pembalasan nanti. Akan tiba waktunya ketika raja-raja lalim dan congkak akan dihukum, tidak saja atas kejahatan yang mereka lakukan, tetapi juga karena memperalat sorang-orang di sekeliling mereka untuk melakukan kekejaman, sehingga dengan demikian membuat mereka ikut kena hukuman Allah. II. Penyelamatan ketiga hamba Allah yang setia ini dari dalam perapian. Ketika mereka dicampakkan ke tengah api yang menyala-nyala dalam keadaan terikat, kita bisa saja menyangka bahwa habislah riwayat mereka, bahwa tulang-tulang mereka akan menjadi kering. Namun, sungguh mengagumkan saat kita mendapati Sadrakh, Mesakh, dan Abednego masih hidup. 1. Nebukadnezar melihat mereka berjalan di tengah api. Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera (ay. 24). Boleh jadi kematian orang-orang yang melaksanakan hukumannya itulah yang membuatnya terperanjat, sebab mungkin saja ia mempunyai alasan untuk berpikir bahwa sesudah ini akan tiba gilirannya. Atau, mungkin juga kesan yang tidak dapat dijelaskan telah mengejutkannya dan membuatnya bangun dengan segera. Ia lalu mendekati perapian untuk melihat apa jadinya dengan ketiga orang yang telah dicampakkan ke dalamnya itu. Perhatikanlah, Allah mampu mengejutkan orang-orang yang hatinya sudah teramat keras, baik terhadap Allah maupun terhadap umat-Nya. Ia yang menciptakan jiwa manusia juga mampu mendekatkan pedang-Nya kepada jiwa itu, bahkan kepada jiwa raja paling lalim sekalipun. Di dalam keheranannya, raja memanggil para menterinya dan bertanya kepada mereka. Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu? Sepertinya, perintah itu tidak saja diberikan oleh raja, tetapi juga oleh para pemuka. Mau tidak mau mereka harus setuju dengan perintah yang dipaksakan raja kepada mereka, supaya mereka juga ikut bersalah dalam kekejian itu. “Benar, ya raja!” kata mereka, “kami telah memerintahkan agar hukuman itu dilaksanakan, dan sudah terlaksana.” “Tetapi sekarang,” kata raja, “aku telah memandang ke dalam perapian dan ada empat orang kulihat berjalanjalan dengan bebas di tengah-tengah api itu” (ay. 25). (1) Ketiga orang muda itu telah terlepas dari ikatan. Api sama sekali tidak menghanguskan pakaian yang mereka kenakan, tetapi membakar tali yang mengikat mereka, sehingga mereka bebas. Demikianlah umat Allah berbesar hati melalui anugerah Allah, dan justru melalui kesukaran yang telah dirancang musuh untuk mengikat dan merintangi mereka. (2) Mereka tidak terluka, tidak mengeluh, dan tidak merasa sakit atau tidak nyaman sama sekali. Nyala api itu tidak menghanguskan mereka. Asapnya tidak menyesakkan napas mereka. Mereka tetap hidup dan baik-baik saja seperti sebelumnya di tengah api yang menyala-nyala. Lihatlah bagaimana Allah pencipta alam mampu mengendalikan kekuatan alam apabila Ia berkenan, demi melaksanakan tujuan-Nya. Sekarang telah digenapi anugerah yang telah dijanjikan itu (Yes. 43:2), apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Dengan iman mereka dapat memadamkan api yang dahsyat, memadamkan semua panah api dari si jahat. (3) Mereka berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu. Perapian itu cukup luas sehingga mereka mempunyai tempat untuk berjalan-jalan di dalamnya. Mereka tidak terluka sehingga mampu melangkah. Pikiran mereka tetap tenang sehingga mereka ingin berjalan-jalan seolah-olah berada di Firdaus atau taman yang indah. Dapatkah orang berjalan di atas bara, dengan tidak hangus kakinya? (Ams. 6:28). Betul, mereka melakukan hal itu dengan senang hati seperti raja Tirus berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahayacahaya, batu-batu permatanya yang berkilauan seperti api (Yeh. 28:14). Ketika mendapati diri tidak terluka, mereka tidak berusaha untuk keluar dari situ. Mereka berserah saja kepada Allah yang telah memelihara mereka di dalam nyala api untuk membawa mereka keluar dari situ. Mereka berjalan-jalan di tengah-tengah api itu dengan bebas. Salah satu tulisan kitab apokrif menceritakan dengan terperinci doa yang dinaikkan Azarya, salah satu dari ketiga orang itu, di tengah nyala api. Di dalam doa itu ia meratapi malapetaka dan kejahatan bangsa Israel, serta memohon perkenan Allah kepada umat-Nya. Selain itu disebutkan juga lagu pujian yang dinaikkan ketiganya di tengah api yang menyala-nyala itu. Menakjubkan bahwa mereka masih sanggup beribadah seperti itu. Namun, seperti halnya Grotius, kita mempunyai alasan untuk berpendapat bahwa doa dan lagu itu digubah seorang Yahudi pada zaman sesudah itu, dan tidak benar-benar dipanjatkan oleh ketika orang muda itu, melainkan hanya dugaan saja, dan karena kita pantas menolak tulisan ini sebagai bagian dari Kitab Suci. (4) Ada sosok keempat yang terlihat bersama mereka di dalam api. Menurut penilaian Nebukadnezar, sosok itu rupanya seperti anak dewa. Ia tampil sebagai seorang pribadi ilahi, utusan dari sorga. Bukan seorang pelayan, melainkan seorang putra. Seperti malaikat, demikianlah beberapa tafsiran menyebutnya. Dan para malaikat juga disebut anak-anak Allah (Ayb. 38:7). Di dalam uraian apokrif tentang peristiwa ini, dikatakan bahwa malaikat TUHAN turun ke dalam perapian. Di sini Nebukadnezar berkata (ay. 28), bahwa Allah telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya. Di tempat lain kita lihat juga, bahwa seorang malaikatlah yang telah mengatupkan mulut singa-singa ketika Daniel berada di dalam gua mereka (6:22). Namun, ada juga yang berpendapat bahwa itu adalah Anak Allah yang kekal, Sang malaikat kovenan, dan bukan seorang malaikat ciptaan. Ia sering kali tampil dalam kodrat kita sebagai manusia, sebelum Ia memulai tugas dalam penjelmaan-Nya. Dan belum pernah Ia tampil pada waktu yang cocok seperti ini, untuk lebih memberikan petunjuk dan tanda yang tepat tentang tugas agung-Nya di dunia ini pada waktunya nanti, ketika untuk melepaskan orang-orang pilihan-Nya dari dalam perapian, Ia datang dan berjalan bersama mereka di tengah api. Perhatikanlah,sorang-orang yang menderita bagi Kristus menemukan kehadiran-Nya yang agung di tengah penderitaan mereka, bahkan di tengah perapian yang menyala-nyala dan di lembah kekelaman. Oleh sebab itu di sana pun mereka tidak perlu takut bahaya. Demikianlah Kristus menunjukkan di sini bahwa apa yang diperbuat atas umat-Nya, dipandang-Nya sebagai diperbuat terhadap diri-Nya. Siapa pun yang mencampakkan mereka ke dalam perapian, sama saja dengan telah mencampakkan Dia ke situ. Akulah Yesus yang kauaniaya itu (Kis. 9:5). 2. Nebukadnezar memanggil mereka keluar dari perapian (ay. 26). Ia mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu, dan meminta kepada mereka, Keluarlah dan datanglah ke mari. Majulah, datanglah kemari (begitulah beberapa orang memahaminya). Ia bicara dengan sangat lembut dan prihatin, serta siap mengulurkan tangan untuk membantu mereka keluar dari situ. Nebukadnezar diyakinkan oleh pemeliharaan ajaib itu bahwa ia telah berbuat jahat dengan mencampakkan mereka ke dalam perapian. Itulah sebabnya ia tidak mau mengeluarkan mereka dengan diam-diam. Tidak mungkin demikian! Ia akan datang sendiri dan membawa mereka ke luar (Kis. 16:37). Amatilah sebutan penuh hormat yang diberikannya kepada mereka. Ketika sedang murka kepada mereka, ia mungkin saja menyebut mereka pembangkang dan pengkhianat, atau sebutan-sebutan buruk lain yang bisa ditemukannya. Tetapi sekarang ia mengakui bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang maha tinggi, Allah yang sekarang tampil sanggup melepaskan mereka dari dalam tangannya. Perhatikanlah, cepat atau lambat, Allah akan meyakinkan orang-orang yang paling congkak sekalipun, bahwa Ia adalah Allah yang mahatinggi, melebihi mereka, dan terlampau sulit mereka kalahkan, bahkan dalam hal-hal yang mereka tangani dengan congkak dan pongah (Kel. 18:11). Dengan cara sama Ia akan memberitahukan kepada mereka siapa saja yang merupakan hamba-hamba-Nya, dan bahwa Ia mengakui mereka serta mendampingi mereka. Elia berdoa (1Raj. 18:36), Biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah dan bahwa aku ini hamba-Mu. Sekarang Nebukadnezar memeluk mereka yang sebelum itu telah ditinggalkannya. Ia sangat memperhatikan keadaan mereka, setelah sadar betul bahwa mereka adalah orang-orang pilihan sorga. Perhatikanlah, apa yang telah dilakukan para penganiaya terhadap hamba-hamba Allah, harus mereka usahakan sedapat mungkin untuk membatalkannya, saat Allah membuka mata mereka. Tidak diberitahukan bagaimana orang keempat, yang rupanya seperti anak dewa itu mengundurkan diri, atau apakah Ia menghilang begitu saja atau terlihat naik ke atas. Namun, mengenai ketiga orang yang lain itu kita diberitahu, (1) Bahwa mereka keluar dari api itu, seperti Abraham, bapa leluhur mereka, keluar dari Ur (yaitu: api) Kasdim. Menurut tradisi orang Yahudi, ke dalam api Kasdim (atau Ur) inilah Abraham dicampakkan karena menolak untuk menyembah berhala, dan dari situ pulalah ia diselamatkan seperti halnya tiga orang itu. Ketika dibebaskan, ketiga anak muda ini tidak mencobai Allah dengan bertahan lebih lama di dalam perapian, tetapi keluar bagaikan kayu bakar yang tidak tersulut api. (2) Bahwa terlihat begitu jelas, sampai membuat semua orang yang melihat kejadian itu takjub, bahwa ketiga orang itu sama sekali tidak terluka sedikit pun oleh api itu (ay. 27). Semua pembesar datang berkumpul untuk menyaksikan mereka, dan mendapati bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus. Inilah pengajaran yang diberikan Juruselamat kita secara kiasan, demi meyakinkan hamba-hamba-Nya yang sedang menderita, bahwa mereka tidak akan disakiti (Luk. 21:18), Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Pakaian ketiga orang itu pun sama sekali tidak berubah warna, bahkan tidak berbau asap api. Tubuh mereka sedikit pun tidak hangus atau melepuh. Tidak, tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu. Orang-orang Kasdim menyembah api sebagai semacam bayangan matahari, dan sekarang, dengan mengekang api, Allah tidak saja memandang hina raja mereka, tetapi dewa mereka juga. Ia menunjukkan bahwa suara TUHAN menyemburkan nyala api (Mzm. 29:7) dan juga menyibakkan air laut ketika Ia hendak membuat jalan bagi umat-Nya untuk lewat. Hanya Allah kita yang bisa disebut api yang menghanguskan (Ibr. 12:29). Hanya dengan sepatah kata dari Dia saja, api lain tidak akan dapat menghanguskan. * Nebukadnezar Memuliakan Allah (3:28-30) Pengamatan saksama pun dibuat, super visum corporis -" pemeriksaan atas tubuh mereka, oleh para wakil raja dan penguasa, serta semua pembesar yang hadir di peristiwa yang dihadiri orang banyak ini. Orang-orang ini pasti saja tidak akan berpihak kepada ketiga orang percaya itu, sehingga mereka sangat berperan dalam pengungkapan mujizat ini dan dalam memuliakan kuasa serta kasih karunia Allah di dalamnya. Mereka telah mengadakan suatu mujizat yang menyolok dan kita tidak dapat menyangkalnya (Kis. 4:16). Marilah kita lihat dampak yang diakibatkan kejadian ini pada Nebukadnezar. I. Nebukadnezar memuliakan Allah orang Israel sebagai Allah yang sanggup dan bersedia melindungi orang-orang yang menyembah Dia (ay. 28): “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Kiranya Ia dimuliakan dengan kesetiaan dari pengikut-pengikut-Nya, dan atas perlindungan penuh kuasa yang diberikan-Nya kepada mereka. Kedua hal ini tidak akan dapat disamai oleh bangsa mana pun dan dewa-dewa mereka.” Raja sendiri mengakui dan memuja Dia. Ia berpendapat bahwa sudah seharusnya Ia diakui dan dipuja oleh semua orang. Terpujilah Allahnya Sadrakh. Perhatikanlah, Allah mampu memeras pengakuan orang atas diri-Nya yang patut dipuji, bahkan dari mulut mereka yang siap mencerca-Nya dengan terang-terangan. 1. Nebukadnezar memuliakan Allah karena kuasa-Nya yang mampu melindungi orang-orang yang menyembah-Nya, dari musuh yang paling kuat dan jahat sekalipun: tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu (ay. 29). Tidak, bahkan patung emas yang telah didirikannya ini. Untuk alasan inilah tidak ada allah lain yang mampu mewajibkan para penyembahnya menggantungkan diri kepadanya semata, dan lebih memilih untuk mati daripada menyembah allah lain, seperti halnya Allah Israel. Allah-allah lain ini tidak mampu menjamin untuk mendukung mereka seperti halnya Dia. Jika Allah mampu melepaskan umat-Nya seperti yang tidak dapat dilakukan allah lain, Ia tentu saja pantas menuntut ketaatan, sesuatu yang tidak dapat dilakukan allah lain. 2. Nebukadnezar memuliakan Allah atas kebaikan-Nya, bahwa Ia bersedia berbuat baik (ay. 28): Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya. Bel tidak sanggup menyelamatkan para penyembahnya dari panasnya udara di pintu perapian, tetapi Allah Israel menyelamatkan umat-Nya sehingga tidak terbakar, ketika mereka dicampakkan ke tengah perapian karena menolak untuk memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. Melalui peristiwa ini Nebukadnezar dengan jelas dibuat mengerti bahwa semua keberhasilan luar biasa yang telah dan masih akan diraihnya dalam melawan umat Israel, sesuatu yang sangat dibangga-banggakannya itu sampai mengira dirinya telah lebih kuat daripada Allah Israel, benar-benar semata-mata oleh karena dosa mereka. Seandainya seluruh bangsa Israel menggantungkan diri kepada Allah mereka sendiri dengan setia dan hanya menyembah Dia seperti halnya ketiga orang ini, mereka semua pasti telah dilepaskan dari tangan Nebukadnezar seperti ketiga orang ini. Itulah pelajaran baginya untuk saat itu. II. Nebukadnezar memuji keteguhan hati ketiga orang ini untuk terus memegang ibadah agama mereka. Ia menyebut hal itu untuk menghormati mereka (ay. 28). Ia sendiri tidak bisa diajak mengakui Allah sebagai Allahnya dan menyembah Dia. Sebab seandainya ia melakukan hal itu, ia tahu bahwa ia harus menyembah Dia saja dan meninggalkan semua allah lain. Karena itu ia menyebut Dia Allahnya Sadrakh, bukan Allahku. Walaupun demikian, ia memuji mereka bertiga karena tetap bergantung kepada-Nya dan tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. Perhatikanlah, banyak orang yang tidak beribadah kepada Allah, masih bersedia mengakui bahwa orang-orang yang saleh dan setia dalam ibadah mereka, jelas berada di pihak yang benar. Meskipun mereka ini tidak dapat dibujuk untuk ikut bergabung, mereka masih bersedia memuji orang-orang yang sudah bergabung dalam ibadah itu dan taat padanya. Jika manusia rela menyerahkan diri kepada satu-satunya Allah yang patut mereka layani, biarlah mereka mempertahankan pendirian mereka itu, dan hanya melayani Dia seorang, berapa pun harga yang harus dibayar. Kesetiaan untuk terus beribadah dalam agama yang benar seperti ini pasti mendatangkan pujian orang, bahkan dari antara orang-orang yang tidak beragama sekalipun karena sikap yang tidak teguh hati, yang berkhianat, dan tidak setia, merupakan perbuatan yang dicemooh oleh siapa saja. Nebukadnezar memuji ketiga orang itu karena mereka melakukan ini, 1. Dengan tidak mengindahkan sedikitpun nyawa mereka, yang mereka anggap tidak berharga, dibandingkan dengan kebaikan Allah dan kesaksian hati nurani yang baik. Mereka lebih suka menyerahkan tubuh mereka untuk dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala daripada meninggalkan Allah mereka dan menghina Dia dengan memberikan penghormatan kepada allah lain, yang hanya diperuntukkan bagi Dia seorang. Ingatlah, orang-orang yang lebih mementingkan jiwa daripada tubuh mereka, akan memperoleh pujian, kalau bukan dari manusia, tentu saja dari Allah. Mereka yang dipuji-Nya adalah yang lebih suka kehilangan nyawa daripada meninggalkan Dia. Orang-orang demikian yang tidak mengetahui tingginya nilai ibadah, akan menganggap penderitaan demi ibadah kepada Allah sungguh tidak layak dilakukan. 2. Ketiga orang itu melakukannya dengan menentang raja sehabis-habisnya: Mereka telah melanggar titah raja, yakni melawannya, dan dengan demikian memandang rendah titah serta ancamannya. Dan hal ini malah membuat raja menyesal dan menarik kembali titah maupun ancamannya itu. Perhatikanlah, bahkan raja-raja sekalipun harus mengakui bahwa ketika perintah mereka bertentangan dengan perintah Allah, maka Dialah yang harus dipatuhi, dan bukan mereka. 3. Ketiga orang itu melakukannya dengan keyakinan yang tiada taranya terhadap Allah mereka. Mereka menaruh percaya kepada-Nya, bahwa Ia akan mendampingi mereka dalam apa yang mereka lakukan. Ia akan membawa mereka keluar dari perapian yang menyala-nyala itu kembali ke tempat mereka di bumi. Atau, Ia bisa juga memimpin mereka melewati perapian yang menyala-nyala menuju tempat mereka di sorga. Dengan keyakinan inilah mereka tidak takut terhadap murka raja dan mengabaikan nyawa mereka sendiri. Perhatikanlah, iman yang teguh terhadap Allah akan menghasilkan kesetiaan yang teguh kepada-Nya. Nah, kesaksian penuh rasa hormat yang diberikan di depan umum oleh raja sendiri mengenai hamba-hamba Allah ini, kita duga, akan menggugah hati orang-orang Yahudi lain yang sedang atau akan ditawan di Babel. Sebab, teman-teman mereka tentu saja tidak memiliki iman untuk mendesak mereka supaya menentang perintah Allah seperti yang dilakukan ketiga saudara mereka sampai mendapat pujian raja itu. Rasa malu mereka pun tidak bisa mendorong mereka mengambil sikap seperti ketiga orang itu. Bahkan, apa yang dilakukan Allah bagi ketiga hamba-Nya ini tidak saja akan membantu orang-orang Yahudi tetap menjalankan ibadah mereka selama berada di dalam pembuangan, tetapi juga akan menjauhkan mereka dari kecenderungan untuk menyembah berhala, yang memang untuk tujuan tersebut mereka dibawa ke dalam pembuangan. Dan ketika penyelamatan ketiga orang itu berdampak baik terhadap mereka, maka mereka bisa yakin bahwa Allah juga akan menyelamatkan mereka dari perapian mereka itu, seperti halnya Ia menyelamatkan ketiga saudara mereka itu dari perapian ini. III. Nebukadnezar mengeluarkan maklumat kerajaan yang melarang siapa pun berbicara buruk tentang Allah orang Israel (ay. 29). Beralasanlah untuk menduga bahwa baik dosa-dosa maupun kesukaran orang Israel selama ini telah menimbulkan kesempatan bagi orang Kasdim untuk menghujat Allah Israel, walaupun perbuatan mereka itu tidak benar. Selain itu, mungkin juga Nebukadnezar sendirilah yang mendorong mereka melakukannya. Namun sekarang, meskipun tidak benar-benar bertobat ataupun tergerak untuk menyembah Dia, raja berketetapan untuk tidak pernah berbicara buruk tentang Dia lagi, atau membiarkan orang lain melakukannya. “Setiap orang yang mengucapkan penghinaan, berbicara keliru (begitulah yang dipahami beberapa orang), atau melontarkan celaan atau hujatan, siapa pun yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, mereka akan ditetapkan sebagai penjahat bejat, dan akan ditindak karena itu, dipenggal-penggal, seperti yang dialami Agag dengan pedang Samuel. Rumah-rumah mereka akan dirobohkan menjadi timbunan puing.” Mujizat yang sekarang dikerjakan oleh kuasa Allah yang membela para penyembah-Nya di hadapan ribuan warga Babel ini, cukup untuk membenarkan dikeluarkannya maklumat oleh raja ini. Dan maklumat ini juga akan sangat menenteramkan hati orang-orang Yahudi yang ada dalam pembuangan. Dengan adanya peraturan baru ini, mereka akan terlindung dari panah-panah berapi berupa celaan dan hujatan. Jika tidak, mereka tentu akan terus-menerus diganggu. Perhatikanlah, sungguh merupakan belas kasihan, dan juga suatu kemenangan besar bagi jemaat, apabila mulut musuh-musuhnya dibungkam dan lidah mereka kelu, meskipun hati mereka tidak berbalik. Jika raja yang kafir ini saja bisa mengendalikan bibir congkak para penghujat, maka raja-raja Kristen seharusnya lebih melakukannya lagi. Bahkan dalam peristiwa ini, kita duga, manusia sudah menjadi hukum bagi dirinya sendiri. Orang-orang yang tidak mengasihi Allah hingga tidak peduli untuk menghina Dia, hati mereka tidak pernah tergerak lagi untuk mengucapkan penghinaan terhadap Dia, karena kita yakin mereka tidak akan pernah menemukan alasan untuk itu. IV. Nebukadnezar tidak saja membatalkan hukuman ketiga orang ini, tetapi juga mengembalikan mereka kepada kedudukan mereka dalam pemerintahan dan membuat segala usahanya berhasil, dan memberikan kepercayaan yang lebih besar serta menguntungkan daripada sebelumnya: Ia memberikan kedudukan tinggi kepada mereka di wilayah Babel. Hal ini merupakan kehormatan besar bagi mereka dan juga penghiburan bagi saudara-saudara mereka di dalam pembuangan. Perhatikanlah, sungguh merupakan hikmat raja-raja apabila mereka meninggikan dan mempekerjakan orang-orang yang teguh dalam ibadah mereka. Sebab, orang-orang yang setia kepada Allah adalah yang paling mungkin setia kepada mereka. Dan lagi, keadaan mereka sangat mungkin akan baik-baik saja ketika orang-orang kesayangan Allah juga menjadi orang-orang kesayangan mereka.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2025 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: Khotbah GMIM Minggu, 19 Januari 2025 - Pilihlah Kehidupan Supaya Engkau Hidup, Baik Engkau Maupun Keturunanmu - Ulangan 30:11-20 Sebelum: Khotbah GMIM Minggu, 5 Januari 2025 - Berbahagialah Orang Yang Tidak Berjalan Menurut Nasihat Orang Fasik - Mazmur 1:1-6 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,