|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2024 Senin, 29 Juli 2024 RHK GMIM Senin, 29 Juli 2024 - Teguh Beriman Di Tengah Tekanan dan Cobaan - Daniel 6:6-11 Usaha dalam Menjatuhkan Daniel Daniel 6:6-11 6:5 (#6-#6) Maka berkatalah orang-orang itu: "Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!" 6:6 (#6-#7) Kemudian bergegas-gegaslah para pejabat tinggi dan wakil raja itu menghadap raja serta berkata kepadanya: "Ya raja Darius, kekallah hidup tuanku! 6:7 (#6-#8) Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa. 6:8 (#6-#9) Oleh sebab itu, ya raja, keluarkanlah larangan itu dan buatlah suatu surat perintah yang tidak dapat diubah, menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali." 6:9 (#6-#10) Sebab itu raja Darius membuat surat perintah dengan larangan itu. 6:10 (#6-#11) Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Penjelasan: * Usaha dalam Menjatuhkan Daniel (6:7-11) Musuh-musuh Daniel tidak dapat menarik keuntungan untuk menjatuhkan Daniel lewat hukum yang sedang berlaku. Oleh sebab itu mereka menyusun hukum baru, dengan harapan dapat menjerat dia dalam perkara yang mereka tahu pasti dapat dikenakan terhadapnya. Kesetiaannya terhadap Allahnya yang begitu rupa membuat mereka mencapai tujuan mereka. Di sini kita dapati, I. Hukum Darius mengenai perbuatan ketidaksalehan. Disebut hukum Darius, karena ia memberikan persetujuan raja untuk mengeluarkan hukum itu. Sebab, kalau tidak melalui persetujuannya, hukum itu tidak berlaku. Namun, hukum baru ini tidak sepenuhnya dari dia, sebab ia tidak menyusunnya. Ia dibujuk untuk menyetujuinya. Para pejabat tinggi dan wakil rajalah yang menyusun maklumat itu dan mengajukan permohonan itu. Melalui upaya merekalah permohonan itu disetujui oleh pemerintah, yang mungkin sedang berhimpun dalam suatu kesempatan yang dihadiri semua pejabat. Maklumat yang seharusnya dijadikan hukum resmi itu seolah-olah telah dibuat sudah dimusyawarahkan dengan matang, bahwa semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat tentang hukum itu. Bahwa mereka tidak saja menyetujuinya, tetapi bahkan mengusulkannya, demi berbagai tujuan dan pertimbangan yang baik. Mereka telah berbuat sebisa-bisanya supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja. Bahkan lebih dari itu, mereka menyiratkan kepada raja bahwa maklumat itu telah disusun nemine contradicente -" dengan suara bulat. “Semua pejabat tinggi kerajaan ini sudah sependapat.” Namun kita yakin bahwa Daniel, pemimpin ketiga pejabat tinggi itu, tidak menyetujuinya, dan cukup beralasan bahwa banyak lagi pejabat tinggi lain menganggapnya sebagai hukum yang menggelikan dan tidak masuk akal. Perhatikanlah, bukanlah hal aneh bila hal itu dengan yakin disebut mewakili pendapat seluruh bangsa, padahal sama sekali bukan demikian halnya. Dan tidaklah aneh juga jika apa yang disetujui segelintir orang, adakalanya dikatakan dengan yakin telah disetujui semua pihak. Namun, alangkah tidak patut sikap raja, yang karena mengandalkan mata dan telinga orang lain, sering kali dipaksa dengan cara menyedihkan! Orang-orang yang bersekongkol ini, dengan dalih demi kehormatan sang raja, padahal sebenarnya bermaksud menghancurkan orang kesayangan sang raja, menekan dia untuk mengesahkan aturan ini menjadi hukum dan menjadikannya ketetapan raja. Dengan begitu, maka barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, akan dihukum mati dengan cara paling biadab, yakni dilemparkan ke dalam gua singa (ay. 8). Inilah ketetapan yang telah mereka rangkai dan ajukan ke hadapan raja supaya ditandatangani dan ditetapkan sebagai hukum resmi. Sekarang, 1. Tidak ada apa pun di dalam ketetapan itu yang tampak baik, selain memuliakan raja, dan membuatnya tampak sangat agung dan baik kepada rakyatnya. Menurut mereka, hal ini akan bermanfaat baginya setelah ia kembali menjadi raja lagi belum lama ini, dan akan memperkuat semua kepentingannya. Semua orang harus dibuat percaya bahwa sang raja begitu kaya dan juga begitu siap menerima para pemohon, hingga siapa saja yang sedang kekurangan atau dalam kesulitan, tidak perlu meminta pertolongan kepada Allah atau pun manusia selain kepada raja saja. Tiga puluh hari lamanya raja akan siap menjumpai semua orang yang hendak mengajukan permohonan kepadanya. Memang sungguh merupakan kehormatan bagi seorang raja untuk menjadi pelindung bagi rakyatnya, dan untuk membuka telinga terhadap keluhan dan permintaan mereka. Namun, apabila raja menganggap diri menjadi satu-satunya pelindung rakyat dan bukannya Allah saja, dan menuntut kehormatan dari rakyatnya yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah saja, maka hal ini justru merupakan aib baginya, dan bukannya kehormatan bagi dirinya. 2. Justru sebaliknya, ada banyak segi di dalam ketetapan itu yang sepertinya justru jahat. Melarang orang untuk tidak mengajukan permohonan saja sudah cukup buruk. Masakan seorang pengemis tidak boleh meminta sedekah, atau orang memohon bantuan dari sesamanya? Jika seorang anak menginginkan roti, bukankah ia patut memintanya kepada orangtuanya? Masakan ia harus dilemparkan ke dalam gua singa apabila ia melakukan hal ini? Bahkan lebih dari itu, tidak bolehkah mereka yang berurusan dengan raja meminta tolong kepadasorang-orang di sekitarnya untuk memperkenalkan mereka? Namun, jauh lebih buruk lagi dan merupakan penghinaan kurang ajar terhadap agama apa saja jika sampai melarang orang untuk mengajukan permohonan kepada salah satu dewa. Melalui doalah kita memuliakan Allah, menerima belas kasihan dari Allah, sehingga dengan demikian memelihara persekutuan dengan Allah. Melarang orang berdoa selama tiga puluh hari, sama saja dengan merampok dari Allah penghormatan yang diberikan manusia kepada-Nya, dan juga merampok dari dari manusia segala penghiburan yang diterimanya dari Allah. Ketika terang alam mengajar kita bahwa tindakan penyelenggaraan Allah-lah yang mengatur dan menentukan semua perkara kita, bukankah hukum alam mengharuskan kita untuk mengakui dan mencari Allah melalui doa? Bukankah hati nurani setiap manusia memimpinnya agar berseru kepada Allah ketika ia sedang dalam kekurangan atau kesulitan, dan haruskah hal ini dianggap pengkhianatan berat? Kita tidak dapat hidup satu hari pun tanpa Allah, jadi mampukah orang hidup tiga puluh hari tanpa doa? Bersediakah raja sendiri ditahan selama itu untuk tidak berdoa kepada Allah? Atau, jika ia diizinkan untuk berdoa, akankah ia menjamin untuk berdoa bagi seluruh rakyatnya? Pernahkah ada bangsa yang mengabaikan dewa-dewa mereka seperti itu? Namun demikian, lihatlah bagaimana niat jahat bisa mendorong orang untuk berbuat hal-hal yang tidak masuk akal. Mereka lebih suka mendatangkan masalah bagi Daniel karena berdoa kepada Allahnya, dan membiarkan diri sendiri dan teman-teman mereka kehilangan kepuasan hati dengan berdoa kepada dewa-dewa. Andai kata mereka hanya melarang orang Yahudi berdoa kepada Allah mereka, maka Daniel akan berhasil dijerat juga. Namun, mereka tahu raja tidak akan mengeluarkan hukum semacam itu. Oleh sebab itu mereka merancang hukum yang berlaku bagi semua orang. Raja sendiri, yang termakan dengan angan-angan bagaimana hukum ini akan membuat dirinya bagaikan dewa kecil, tergila-gila dengan kehormatan dan bukannya pencapaian terbaik untuk dibangga-banggakan, sehingga ia membuat surat perintah dengan larangan itu (ay. 10). Padahal menurutsundang-undang perserikatan kerajaan Media dan Persia, begitu disahkan, surat perintah itu tidak boleh diubah atau dibatalkan karena alasan apa pun. Pelanggaran atasnya tidak akan diampuni. II. Ketidaktaatan Daniel oleh karena kesalehannya terhadap hukum ini (ay. 11). Ia tidak mengundurkan diri ke daerah pedesaan atau menghilang selama beberapa waktu, meskipun tahu bahwa hukum itu ditujukan kepadanya. Sebaliknya, karena mengetahui hal ini, ia berdiri teguh karena tahu bahwa sekarang ia justru memperoleh kesempatan bagus untuk memuliakan Allah di hadapan orang banyak, dan menunjukkan bahwa ia lebih memilih perkenan-Nya, dan kewajibannya kepada-Nya, daripada nyawanya sendiri. Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, ia bisa saja pergi menghadap raja dan bertukar pikiran mengenai hal itu. Bahkan, ia bisa juga menyanggah perintah itu, karena didasarkan atas laporan palsu bahwa semua pejabat tinggi telah mufakat, padahal ia yang adalah kepala dari semua pejabat itu tidak pernah dimintai pendapat tentang hal itu. Bukannya berbuat demikian, ia malah pergi ke rumahnya, dan melaksanakan kewajibannya, dan mempercayakan hal itu kepada Allah dengan hati gembira. Amatilah sekarang, 1. Kebiasaan tetap Daniel, yang sebelum ini tidak pernah disebutkan. Namun, kita mempunyai alasan untuk berpikir bahwa inilah kebiasaan yang lazim dilakukan orang Yahudi yang saleh. (1) Dalam kamar atasnya ia berdoa. Adakalanya seorang diri, dan terkadang bersama anggota keluarga, dan melakukannya dengan khidmat. Kornelius seorang yang juga berdoa di rumah (Kis. 10:30). Perhatikanlah, setiap rumah tidak saja boleh, tetapi seharusnya menjadi rumah doa. Di mana kita memiliki tempat tinggal, maka Allah juga patut mempunyai mezbah di situ, dan atas tempat tinggal itu kita harus mempersembahkan korban rohani. (2) Dalam setiap doa, Daniel mengucap syukur. Ketika berdoa kepada Allah memohon belas kasihan yang kita inginkan, kita harus memuji Dia atas segala sesuatu yang telah kita terima. Ucapan syukur haruslah menjadi bagian dari setiap doa. (3) Di dalam doa dan ucapan syukurnya, Daniel memandang Allah sebagai Allahnya, Allahnya menurut perjanjian, dan menyerahkan diri dalam hadirat-Nya. Ia melakukan hal ini di hadapan Allahnya, dengan mata tertuju kepada-Nya. (4) Ketika berdoa dan mengucap syukur, Daniel berlutut, yang merupakan sikap doa yang paling pantas dan sungguh menunjukkan kerendahan hati, rasa hormat, dan tunduk kepada Allah. Berlutut merupakan sikap tubuh untuk memohon. Kita datang kepada Allah sebagai pengemis, memohon-mohon bagi kehidupan kita, meminta dengan sangat. (5) Di dalam kamar Daniel terdapat tingkap-tingkap yang terbuka, sehingga pemandangan langit dapat menyentuh hatinya dengan rasa takjub terhadap Allah yang berada di sorga. Namun, bukan cuma itu. Tingkap-tingkap atau jendela-jendela itu terbuka ke arah Yerusalem, kota suci, meskipun sudah hancur, yang menandakan rasa sayangnya terhadap batu-batu dan debunya (Mzm. 102:15). Kenangannya tentang kota itu senantiasa ada dalam doa-doanya setiap hari. Demikianlah, walau tinggal sebagai orang besar di Babel, ia tetap memperlihatkan kesehatian dengan saudara-saudaranya yang paling rendah derajatnya di pembuangan, dengan cara mengingat Yerusalem dan mendahulukannya dibanding puncak sukacitanya (Mzm. 137:5-6). Yerusalem adalah tempat yang dipilih Allah untuk menempatkan nama-Nya. Ketika Bait Suci dipersembahkan, Salomo berdoa kepada Allah, bahwa jika umat-Nya yang berada di negeri musuh berdoa kepada-Nya dengan mata menghadap negeri yang telah diberikan-Nya kepada mereka, ke kota yang telah dipilih-Nya, dan ke rumah yang telah dibangun bagi nama-Nya itu, maka Ia akan mendengarkan dan memberikan keadilan kepada mereka (1Raj. 8:4849). Dengan memikirkan doa inilah Daniel menjalankan ibadahnya. (6) Daniel beribadah tiga kali sehari setiap hari, sesuai contoh yang diberikan Daud (Mzm. 55:18). Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis. Sungguh baik apabila kita menyediakan waktu untuk berdoa, bukan untuk mengikat, melainkan untuk mengingatkan hati nurani kita. Jika kita berpendapat tubuh kita perlu disegarkan dengan makanan tiga kali sehari, bisakah kita berpikir juga, bahwa akankah ibadah yang jarang baik bagi jiwa kita? Ini pastilah jumlah paling sedikit yang dimaksudkan dengan perintah untuk senantiasa berdoa. (7) Daniel menjalankan ibadah ini dengan begitu terbuka dan terus terang, hingga semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ini memang kebiasaannya. Daniel memperlihatkan kebiasaannya ini bukan karena hendak membanggakan diri (di lingkungan tempat ia tinggal, tidak ada ruang bagi godaan ini, sebab kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang dipuji orang, melainkan justru sesuatu yang tercela), melainkan karena ia tidak merasa malu untuk melakukannya. Walaupun Daniel seorang tokoh besar, ia tidak merasa hina untuk tiga kali sehari berlutut di hadapan Penciptanya dan menjadi rohaniwan bagi diri sendiri. Walaupun sudah lanjut usia, ia tidak merasa terlampau tua untuk itu. Tidak pula, meskipun hal ini sudah menjadi kebiasaannya sejak muda, ia menjadi jemu melakukan perbuatan baik ini. Meskipun ia seorang yang sangat sibuk, luar biasa sibuk, untuk melayani orang banyak, ia tidak berpikir untuk menjadikan hal ini sebagai alasan untuk tidak melaksanakan saat teduh setiap hari. Jadi, betapa sungguh tidak dapat dimaafkan bila orang-orang yang tidak banyak kesibukan di dunia ini enggan bersaat teduh bagi Allah dan jiwa mereka! Daniel terkenal sebagai seorang pendoa dan sangat berhasil dalam doa (Yeh. 14:14). Hal ini dicapainya berkat ketekunannya dalam doa dan karena menjadikan doa sebagai kebiasaan sehari-hari. Dan karena berbuat demikianlah maka Allah memberkatinya dengan begitu indah. 2. Kesetiaan Daniel dalam menjalankan kebiasaan ini, meskipun hukum yang baru itu menjadikannya sebagai suatu kejahatan besar. Ketika tahu bahwa surat perintah itu telah dibuat, ia tetap melanjutkan kebiasaan itu seperti yang biasa dilakukannya. Ia sama sekali tidak mengubahnya. Banyak orang, bahkan banyak orang baik, akan menganggap bijaksana untuk menghentikan kebiasaan itu selama tiga puluh hari ini, ketika mereka tidak bisa melakukannya tanpa membahayakan nyawanya. Orang bisa saja berdoa jauh lebih sering setelah ketiga puluh hari itu berlalu dan bahaya sudah lewat. Atau, ia juga bisa melaksanakan kewajiban itu di waktu tertentu saja dan di tempat lain, dengan diam-diam sehingga para musuhnya tidak akan mengetahuinya. Dengan demikian ia bisa menenangkan hati nurani sekaligus memelihara persekutuan dengan Allah, namun juga menghindari hukum itu serta tetap bisa bekerja. Namun, seandainya orang melakukan seperti itu, maka baik teman-teman maupun musuh-musuhnya akan menyangka bahwa ia telah melepaskan kewajibannya untuk sementara waktu, oleh karena sifat pengecut dan rasa takut yang memalukan. Dan hal ini akan justru membawa aib besar bagi Allah dan mengecilkan hati teman-temannya. Orang lain yang berada di lingkungan yang lebih rendah derajatnya bisa saja bertindak dengan hati-hati. Akan tetapi, Daniel, yang diperhatikan begitu banyak orang, harus bertindak dengan berani,slebih-lebih lagi ia tahu bahwa ketika dirancang, perintah itu terutama ditujukan untuk melawan dia. Perhatikanlah, kita tidak boleh melalaikan kewajiban karena takut menderita, atau bahkan jangan ada seorang yang dianggap ketinggalan. Dalam masa-masa kesukaran, sangatlah ditekankan agar kita mengakui Dia di depan manusia (Mat. 10:32). Kita harus waspada agar jangan sampai di balik dalih mau bertindak bijaksana, kita didapati bersalah karena sikap pengecut dalam perkara Allah. Kalaupun kita tidak berpendapat bahwa contoh tentang Daniel ini mewajibkan kita berbuat sama, saya yakin kita tidak boleh mengecam orang-orang yang melakukannya, sebab Allah mengakui Daniel dalam hal itu. Daniel sangat taat dalam melaksanakan kewajiban ibadah, sampai ia tidak pernah mencari-cari dalih untuk melalaikannya. Sebab, kalau ia mencari-cari alasan untuk itu, maka tentu saja sekarang ia harus meninggalkan ibadahnya itu, (1) Karena beribadah dilarang oleh raja yang adalah tuannya, dan juga untuk menghormati sang raja. Namun, sudah menjadi pernyataan yang tidak diragukan lagi, bahwa kita harus lebih menaati Allah daripada manusia. (2) Karena hal itu bisa saja membuat Daniel kehilangan nyawa. Namun, sudah menjadi pernyataan yang tidak bisa disangkal lagi, bahwa orang-orang yang menyia-nyiakan jiwanya, seperti yang diperbuat orang-orang yang hidup tanpa doa, demi menyelamatkan nyawanya, sebenarnya justru sangat merugikan diri. Meskipun dalam hal ini mereka, seperti halnya raja Tirus, merasa hikmat mereka melebihi hikmat Daniel, namun pada akhirnya nanti mereka akan seperti orang bodoh.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHK GMIM Selasa, 30 Juli 2024 - Menemukan Kekuatan Doa dan Iman - Daniel 6:12-15 Sebelum: Khotbah GMIM Minggu, 28 Juli 2024 - Beranilah Seperti Daniel - Daniel 6:1-29 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,