|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2024 Minggu, 28 Juli 2024 Khotbah GMIM Minggu, 28 Juli 2024 - Beranilah Seperti Daniel - Daniel 6:1-29 Daniel Ditinggikan oleh Darius; Orang-orang Ingin Menjatuhkan Daniel | Usaha dalam Menjatuhkan Daniel | Daniel di Dalam Gua Singa | Pemeliharaan dan Pembebasan Daniel | Perintah Darius Daniel 6:1-29 6:1 (#6-#2) Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; 6:2 (#6-#3) membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan. 6:3 (#6-#4) Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya. 6:4 (#6-#5) Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya. 6:5 (#6-#6) Maka berkatalah orang-orang itu: "Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!" 6:6 (#6-#7) Kemudian bergegas-gegaslah para pejabat tinggi dan wakil raja itu menghadap raja serta berkata kepadanya: "Ya raja Darius, kekallah hidup tuanku! 6:7 (#6-#8) Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa. 6:8 (#6-#9) Oleh sebab itu, ya raja, keluarkanlah larangan itu dan buatlah suatu surat perintah yang tidak dapat diubah, menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali." 6:9 (#6-#10) Sebab itu raja Darius membuat surat perintah dengan larangan itu. 6:10 (#6-#11) Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. 6:11 (#6-#12) Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya. 6:12 (#6-#13) Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: "Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?" Jawab raja: "Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali." 6:13 (#6-#14) Lalu kata mereka kepada raja: "Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya." 6:14 (#6-#15) Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya. 6:15 (#6-#16) Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: "Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!" 6:16 (#6-#17) Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" 6:17 (#6-#18) Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa. 6:18 (#6-#19) Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur. 6:19 (#6-#20) Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; 6:20 (#6-#21) dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: "Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?" 6:21 (#6-#22) Lalu kata Daniel kepada raja: "Ya raja, kekallah hidupmu! 6:22 (#6-#23) Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." 6:23 (#6-#24) Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya. 6:24 (#6-#25) Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka. 6:25 (#6-#26) Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: "Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! 6:26 (#6-#27) Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. 6:27 (#6-#28) Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa." 6:28 (#6-#29) Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu. Baca Juga: Penjelasan: * Daniel Ditinggikan oleh Darius; Orang-orang Ingin Menjatuhkan Daniel (6:2-6) Di sini dikisahkan tentang Daniel, I. Betapa agungnya dia. Ketika Darius yang berdaulat atas Babel melalui penaklukan, menata ulang pemerintahan, Ia mengangkat Daniel sebagai perdana menteri, sebagai seorang pemimpin, dan menunjuk dia sebagai pejabat tertinggi yang bertanggung jawab atas perbendaharaan dan meterai kerajaan. Wilayah kekuasaan Darius sangatlah luas. Hasil yang diperolehnya melalui penaklukan begitu banyak, sehingga bertambahlah negeri-negeri yang harus diurusnya. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan darinya selain yang hanya mampu dikerjakan oleh lebih dari satu orang, sehingga orang lain harus dipekerjakan di bawah dia. Ia mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja (ay. 2), dan menetapkan wilayah kepada mereka masing-masing, supaya mereka menjalankan keadilan di situ, memelihara ketenteraman umum, dan menarik pajak bagi pendapatan raja. Perhatikanlah, para pejabat rendah merupakan hamba-hamba Allah yang bekerja bagi kebaikan dan juga bagi pemerintahan. Oleh karena itu kita harus tunduk, baik kepada raja sebagai penguasa tertinggi dan kepada para wakil yang telah ditunjuk dan diutus olehnya (1Ptr. 2:13-14). Di atas wakil-wakil raja tadi ada tiga serangkai atau tiga pejabat tinggi, yang bertugas menerima dan mengurus persoalan-persoalan masyarakat, menerima laporan dari para wakil raja, atau keluhan perihal mereka seandainya terjadi kesalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan, supaya raja jangan dirugikan (ay. 3), tidak menerima pajak pendapatan kurang daripada seharusnya, dan supaya kuasa yang diberikannya kepada para wakilnya itu tidak disalahgunakan untuk menindas rakyat. Sebab bila ini terjadi, maka raja, baik dia menyadarinya atau tidak, akan sangat dirugikan karena kehilangan rasa sayang rakyat, dan juga memicu rasa tidak suka Allah terhadap dirinya. Dari ketiga wakil raja ini, Daniel merupakan kepalanya, sebab ia didapati melebihi mereka semua dalam segala hal menyangkut kecakapan. Daniel melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu (ay. 4), dan begitu menyukakan hati raja dengan kinerjanya hingga raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya, serta membiarkan Daniel mengangkat dan memecat seseorang sesuka hati. Sekarang, 1. Kita patut memperhatikan dan memuji sikap Darius, karena ia memilih orang semata-mata karena jasa pribadinya dan kecakapannya dalam bekerja. Para penguasa yang ingin dilayani dengan baik haruslah mengikuti aturan ini. Sebelumnya, di dalam kerajaan Babel yang telah ditaklukkan itu, Daniel telah menjadi seorang tokoh besar, sehingga bisa saja orang berpikir, bahwa ia pantas dipandang sebagai musuh, dan harus dipenjarakan atau disingkirkan. Ia berasal dari sebuah kerajaan asing, yang sudah runtuh, dan karena itu bisa saja dianggap hina sebagai orang asing dan tawanan. Akan tetapi, Darius sepertinya berpandangan tajam dalam menilai kemampuan orang, dan segera menyadari bahwa di dalam diri Daniel terdapat sesuatu yang istimewa. Oleh sebab itu, meskipun ia pasti mempunyai cukup banyak bawahan yang berharap diberi kedudukan tinggi dalam kerajaan yang baru ditaklukkan ini serta sangat mendambakannya, dan orang-orang yang sudah sejak lama merupakan orang kepercayaannya merasa yakin bahwa sekarang mereka tentu akan diangkat menjadi wakilnya, namun raja justru lebih mementingkan kesejahteraan umum. Ia mendapati Daniel melebihi mereka semua dalam hal kebijaksanaan dan kebajikan, dan mungkin juga telah mendengar bahwa Daniel diilhami roh ilahi, sehingga ia menjadikan Daniel sebagai tangan kanannya. 2. Kita harus memperhatikan, demi kemuliaan Allah, bahwa meskipun Daniel sekarang sudah sangat tua (sudah lebih dari tujuh puluh tahun berlalu sejak ia dibawa ke Babel sebagai tawanan), ia masih cakap seperti dahulu dalam melakukan pekerjaan, baik secara jasmani maupun pikiran. Ia tetap setia kepada ibadah agamanya di tengah semua pencobaan dalam pemerintahan sebelumnya, dan kini tetap dihormati dalam pemerintahan baru. Ia tegak bertahan bagaikan pohon tarbantin yang kokoh dan bukan pohon gandarusa yang lemah, terus mementingkan kebajikan dan tidak memihak kepada kejahatan. Ketulusan semacam ini merupakan kebijakan terbaik, sebab hal ini menjamin nama baik. Orang-orang yang dengan cara demikian menghormati Allah, ia akan dihormati juga oleh-Nya. II. Betapa Daniel adalah seorang yang baik: ia mempunyai roh yang luar biasa (ay. 4). Ia selalu menjaga setiap kepercayaan yang diberikan kepadanya, bertindak adil di antara sang penguasa dan rakyatnya, serta menjaga agar tidak ada pihak yang diperlakukan dengan tidak benar. Dengan demikian tidak didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya (ay. 5). Daniel tidak saja tidak dapat dikenai tuduhan atas pengkhianatan atau ketidakjujuran, tetapi juga atas kesalahan atau ketidakbijaksanaan apa pun. Ia tidak pernah membuat kesalahan besar, bertindak kurang hati-hati, atau lupa meminta maaf. Hal ini dicatat sebagai contoh bagi semua orang yang diberi kepercayaan untuk mengurus urusan masyarakat, agar mereka membuktikan diri sebagai orang yang berhati-hati dan bersungguh-sungguh. Dengan demikian mereka bebas, bukan saja dari kelalaian, melainkan juga dari kesalahan. Bukan saja dari kejahatan, melainkan juga dari kekeliruan. III. Betapa ada yang berniat jahat terhadapnya, baik karena kebesarannya maupun karena kebaikannya. Para pejabat tinggi dan wakil-wakil raja merasa iri terhadapnya karena ia diangkat lebih tinggi daripada mereka. Dan boleh jadi mereka membenci Daniel karena ia mengawasi mereka dan menjaga agar mereka tidak merugikan kerajaan demi memperkaya diri sendiri. Lihatlah di sini, 1. Penyebab rasa iri, dan itu adalah segala sesuatu yang baik. Salomo mengeluhkannya sebagai sesuatu yang menyusahkan, karena segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain (Pkh. 4:4). Semakin baik hati seseorang, semakin buruk dirinya di pemandangan para pesaingnya. Daniel dicemburui sebab ia memiliki roh yang lebih luar biasa dibanding sesamanya. 2. Akibat dari cemburu, dan itu adalah segala sesuatu yang buruk. Orangorang yang dengki terhadap Daniel menginginkan kehancurannya semata-mata. Sekadar mempermalukan dia belumlah cukup bagi mereka. Kematiannyalah yang mereka inginkan. Panas hati kejam dan murka melanda, tetapi siapa dapat tahan terhadap cemburu? (Ams. 27:4). Musuh-musuh Daniel menyuruh mata-mata mengamati dia di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka mencari alasan dakwaan terhadap Daniel, sesuatu yang dapat dijadikan dasar untuk menuduh dia dalam hal pemerintahan. Mereka mencari-cari kejadian yang menunjukkan kelalaian atau sikap memihak, ucapan gegabah, tindakan keras terhadap seseorang, atau tugas penting yang terlupakan. Kalau saja mereka berhasil menemukan noda atau celah akibat suatu kesalahan kecil, maka hal itu akan dibesar-besarkan sebagai pelanggaran hukum yang tidak dapat dimaafkan. Ternyata mereka tidak mendapat alasan apapun untuk menjatuhkannya. Mereka mengakui hal ini. Daniel senantiasa bersikap jujur, dan sekarang ia semakin waspada dan berjaga-jaga oleh sebab seterunya (Mzm. 27:11). Perhatikanlah, kita semua patut sangat berhatihati, karena banyak mata tertuju kepada kita, dan ada yang memperhatikan kelemahan kita. Terutama mereka yang telah berlaku sangat baik pun patut menjaga perilaku. Akhirnya, musuh-musuh Daniel menyimpulkan bahwa mereka tidak akan menemukan apa pun untuk melawan dia selain hal ibadahnya kepada Allahnya (ay.6). Tampaknya Daniel tetap setia memeluk ibadah agamanya dan berpegang teguh padanya tanpa ragu sedikit pun, dan walaupun begitu hal ini tidak menjadi penghalang bagi dia untuk diangkat menduduki ke kedudukan yang tinggi. Tidak ada hukum yang mengharuskan dia menganut agama raja, atau membuatnya tidak dapat menerima jabatan dalam pemerintahan kecuali ia melakukan hal tersebut. Bagi raja tidak ada masalah kepada Allah apa ia berdoa, yang penting ia melaksanakan tugasnya dengan setia dan baik. Ia tetap melayani raja usque ad aras -" sebatas pada mezbah. Ketika menyangkut mezbah, ia harus meninggalkan raja. Nah, dalam hal inilah musuh-musuhnya berharap dapat menjerat dia. Menurut Grotius, Quærendum est crimen læsæ religionis ubi majestatis deficit -" Ketika perbuatan khianat tidak dapat dituduhkan ke atasnya, ia dikenai tuduhan ketidaksalehan. Perhatikanlah, sungguh luar biasa dan sangat memuliakan Allah, apabila orang-orang yang mengaku percaya kepada Allah berperilaku begitu patut hingga musuh-musuh mereka yang dengki tidak berhasil menemukan alasan untuk mempersalahkan mereka, selain perbuatan saleh yang berkaitan dengan Allah mereka, yang mereka lakukan sesuai hati nurani mereka. Dapat dilihat bahwa ketika musuh-musuh Daniel tidak berhasil menemukan tuduhan dalam hal pemerintahan, mereka masih memiliki rasa keadilan yang cukup sehingga tidak memberikan kesaksian palsu terhadap dia dan menuduhnya melakukan kejahatan yang tidak dilakukannya. Mereka juga tidak bersumpah bahwa ia telah berbuat khianat, dan ini sungguh mempermalukan banyak orang yang menyebut-nyebut diri Yahudi dan Kristen. * Usaha dalam Menjatuhkan Daniel (6:7-11) Musuh-musuh Daniel tidak dapat menarik keuntungan untuk menjatuhkan Daniel lewat hukum yang sedang berlaku. Oleh sebab itu mereka menyusun hukum baru, dengan harapan dapat menjerat dia dalam perkara yang mereka tahu pasti dapat dikenakan terhadapnya. Kesetiaannya terhadap Allahnya yang begitu rupa membuat mereka mencapai tujuan mereka. Di sini kita dapati, I. Hukum Darius mengenai perbuatan ketidaksalehan. Disebut hukum Darius, karena ia memberikan persetujuan raja untuk mengeluarkan hukum itu. Sebab, kalau tidak melalui persetujuannya, hukum itu tidak berlaku. Namun, hukum baru ini tidak sepenuhnya dari dia, sebab ia tidak menyusunnya. Ia dibujuk untuk menyetujuinya. Para pejabat tinggi dan wakil rajalah yang menyusun maklumat itu dan mengajukan permohonan itu. Melalui upaya merekalah permohonan itu disetujui oleh pemerintah, yang mungkin sedang berhimpun dalam suatu kesempatan yang dihadiri semua pejabat. Maklumat yang seharusnya dijadikan hukum resmi itu seolah-olah telah dibuat sudah dimusyawarahkan dengan matang, bahwa semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat tentang hukum itu. Bahwa mereka tidak saja menyetujuinya, tetapi bahkan mengusulkannya, demi berbagai tujuan dan pertimbangan yang baik. Mereka telah berbuat sebisa-bisanya supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja. Bahkan lebih dari itu, mereka menyiratkan kepada raja bahwa maklumat itu telah disusun nemine contradicente -" dengan suara bulat. “Semua pejabat tinggi kerajaan ini sudah sependapat.” Namun kita yakin bahwa Daniel, pemimpin ketiga pejabat tinggi itu, tidak menyetujuinya, dan cukup beralasan bahwa banyak lagi pejabat tinggi lain menganggapnya sebagai hukum yang menggelikan dan tidak masuk akal. Perhatikanlah, bukanlah hal aneh bila hal itu dengan yakin disebut mewakili pendapat seluruh bangsa, padahal sama sekali bukan demikian halnya. Dan tidaklah aneh juga jika apa yang disetujui segelintir orang, adakalanya dikatakan dengan yakin telah disetujui semua pihak. Namun, alangkah tidak patut sikap raja, yang karena mengandalkan mata dan telinga orang lain, sering kali dipaksa dengan cara menyedihkan! Orang-orang yang bersekongkol ini, dengan dalih demi kehormatan sang raja, padahal sebenarnya bermaksud menghancurkan orang kesayangan sang raja, menekan dia untuk mengesahkan aturan ini menjadi hukum dan menjadikannya ketetapan raja. Dengan begitu, maka barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, akan dihukum mati dengan cara paling biadab, yakni dilemparkan ke dalam gua singa (ay. 8). Inilah ketetapan yang telah mereka rangkai dan ajukan ke hadapan raja supaya ditandatangani dan ditetapkan sebagai hukum resmi. Sekarang, 1. Tidak ada apa pun di dalam ketetapan itu yang tampak baik, selain memuliakan raja, dan membuatnya tampak sangat agung dan baik kepada rakyatnya. Menurut mereka, hal ini akan bermanfaat baginya setelah ia kembali menjadi raja lagi belum lama ini, dan akan memperkuat semua kepentingannya. Semua orang harus dibuat percaya bahwa sang raja begitu kaya dan juga begitu siap menerima para pemohon, hingga siapa saja yang sedang kekurangan atau dalam kesulitan, tidak perlu meminta pertolongan kepada Allah atau pun manusia selain kepada raja saja. Tiga puluh hari lamanya raja akan siap menjumpai semua orang yang hendak mengajukan permohonan kepadanya. Memang sungguh merupakan kehormatan bagi seorang raja untuk menjadi pelindung bagi rakyatnya, dan untuk membuka telinga terhadap keluhan dan permintaan mereka. Namun, apabila raja menganggap diri menjadi satu-satunya pelindung rakyat dan bukannya Allah saja, dan menuntut kehormatan dari rakyatnya yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah saja, maka hal ini justru merupakan aib baginya, dan bukannya kehormatan bagi dirinya. 2. Justru sebaliknya, ada banyak segi di dalam ketetapan itu yang sepertinya justru jahat. Melarang orang untuk tidak mengajukan permohonan saja sudah cukup buruk. Masakan seorang pengemis tidak boleh meminta sedekah, atau orang memohon bantuan dari sesamanya? Jika seorang anak menginginkan roti, bukankah ia patut memintanya kepada orangtuanya? Masakan ia harus dilemparkan ke dalam gua singa apabila ia melakukan hal ini? Bahkan lebih dari itu, tidak bolehkah mereka yang berurusan dengan raja meminta tolong kepadasorang-orang di sekitarnya untuk memperkenalkan mereka? Namun, jauh lebih buruk lagi dan merupakan penghinaan kurang ajar terhadap agama apa saja jika sampai melarang orang untuk mengajukan permohonan kepada salah satu dewa. Melalui doalah kita memuliakan Allah, menerima belas kasihan dari Allah, sehingga dengan demikian memelihara persekutuan dengan Allah. Melarang orang berdoa selama tiga puluh hari, sama saja dengan merampok dari Allah penghormatan yang diberikan manusia kepada-Nya, dan juga merampok dari dari manusia segala penghiburan yang diterimanya dari Allah. Ketika terang alam mengajar kita bahwa tindakan penyelenggaraan Allah-lah yang mengatur dan menentukan semua perkara kita, bukankah hukum alam mengharuskan kita untuk mengakui dan mencari Allah melalui doa? Bukankah hati nurani setiap manusia memimpinnya agar berseru kepada Allah ketika ia sedang dalam kekurangan atau kesulitan, dan haruskah hal ini dianggap pengkhianatan berat? Kita tidak dapat hidup satu hari pun tanpa Allah, jadi mampukah orang hidup tiga puluh hari tanpa doa? Bersediakah raja sendiri ditahan selama itu untuk tidak berdoa kepada Allah? Atau, jika ia diizinkan untuk berdoa, akankah ia menjamin untuk berdoa bagi seluruh rakyatnya? Pernahkah ada bangsa yang mengabaikan dewa-dewa mereka seperti itu? Namun demikian, lihatlah bagaimana niat jahat bisa mendorong orang untuk berbuat hal-hal yang tidak masuk akal. Mereka lebih suka mendatangkan masalah bagi Daniel karena berdoa kepada Allahnya, dan membiarkan diri sendiri dan teman-teman mereka kehilangan kepuasan hati dengan berdoa kepada dewa-dewa. Andai kata mereka hanya melarang orang Yahudi berdoa kepada Allah mereka, maka Daniel akan berhasil dijerat juga. Namun, mereka tahu raja tidak akan mengeluarkan hukum semacam itu. Oleh sebab itu mereka merancang hukum yang berlaku bagi semua orang. Raja sendiri, yang termakan dengan angan-angan bagaimana hukum ini akan membuat dirinya bagaikan dewa kecil, tergila-gila dengan kehormatan dan bukannya pencapaian terbaik untuk dibangga-banggakan, sehingga ia membuat surat perintah dengan larangan itu (ay. 10). Padahal menurutsundang-undang perserikatan kerajaan Media dan Persia, begitu disahkan, surat perintah itu tidak boleh diubah atau dibatalkan karena alasan apa pun. Pelanggaran atasnya tidak akan diampuni. II. Ketidaktaatan Daniel oleh karena kesalehannya terhadap hukum ini (ay. 11). Ia tidak mengundurkan diri ke daerah pedesaan atau menghilang selama beberapa waktu, meskipun tahu bahwa hukum itu ditujukan kepadanya. Sebaliknya, karena mengetahui hal ini, ia berdiri teguh karena tahu bahwa sekarang ia justru memperoleh kesempatan bagus untuk memuliakan Allah di hadapan orang banyak, dan menunjukkan bahwa ia lebih memilih perkenan-Nya, dan kewajibannya kepada-Nya, daripada nyawanya sendiri. Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, ia bisa saja pergi menghadap raja dan bertukar pikiran mengenai hal itu. Bahkan, ia bisa juga menyanggah perintah itu, karena didasarkan atas laporan palsu bahwa semua pejabat tinggi telah mufakat, padahal ia yang adalah kepala dari semua pejabat itu tidak pernah dimintai pendapat tentang hal itu. Bukannya berbuat demikian, ia malah pergi ke rumahnya, dan melaksanakan kewajibannya, dan mempercayakan hal itu kepada Allah dengan hati gembira. Amatilah sekarang, 1. Kebiasaan tetap Daniel, yang sebelum ini tidak pernah disebutkan. Namun, kita mempunyai alasan untuk berpikir bahwa inilah kebiasaan yang lazim dilakukan orang Yahudi yang saleh. (1) Dalam kamar atasnya ia berdoa. Adakalanya seorang diri, dan terkadang bersama anggota keluarga, dan melakukannya dengan khidmat. Kornelius seorang yang juga berdoa di rumah (Kis. 10:30). Perhatikanlah, setiap rumah tidak saja boleh, tetapi seharusnya menjadi rumah doa. Di mana kita memiliki tempat tinggal, maka Allah juga patut mempunyai mezbah di situ, dan atas tempat tinggal itu kita harus mempersembahkan korban rohani. (2) Dalam setiap doa, Daniel mengucap syukur. Ketika berdoa kepada Allah memohon belas kasihan yang kita inginkan, kita harus memuji Dia atas segala sesuatu yang telah kita terima. Ucapan syukur haruslah menjadi bagian dari setiap doa. (3) Di dalam doa dan ucapan syukurnya, Daniel memandang Allah sebagai Allahnya, Allahnya menurut perjanjian, dan menyerahkan diri dalam hadirat-Nya. Ia melakukan hal ini di hadapan Allahnya, dengan mata tertuju kepada-Nya. (4) Ketika berdoa dan mengucap syukur, Daniel berlutut, yang merupakan sikap doa yang paling pantas dan sungguh menunjukkan kerendahan hati, rasa hormat, dan tunduk kepada Allah. Berlutut merupakan sikap tubuh untuk memohon. Kita datang kepada Allah sebagai pengemis, memohon-mohon bagi kehidupan kita, meminta dengan sangat. (5) Di dalam kamar Daniel terdapat tingkap-tingkap yang terbuka, sehingga pemandangan langit dapat menyentuh hatinya dengan rasa takjub terhadap Allah yang berada di sorga. Namun, bukan cuma itu. Tingkap-tingkap atau jendela-jendela itu terbuka ke arah Yerusalem, kota suci, meskipun sudah hancur, yang menandakan rasa sayangnya terhadap batu-batu dan debunya (Mzm. 102:15). Kenangannya tentang kota itu senantiasa ada dalam doa-doanya setiap hari. Demikianlah, walau tinggal sebagai orang besar di Babel, ia tetap memperlihatkan kesehatian dengan saudara-saudaranya yang paling rendah derajatnya di pembuangan, dengan cara mengingat Yerusalem dan mendahulukannya dibanding puncak sukacitanya (Mzm. 137:5-6). Yerusalem adalah tempat yang dipilih Allah untuk menempatkan nama-Nya. Ketika Bait Suci dipersembahkan, Salomo berdoa kepada Allah, bahwa jika umat-Nya yang berada di negeri musuh berdoa kepada-Nya dengan mata menghadap negeri yang telah diberikan-Nya kepada mereka, ke kota yang telah dipilih-Nya, dan ke rumah yang telah dibangun bagi nama-Nya itu, maka Ia akan mendengarkan dan memberikan keadilan kepada mereka (1Raj. 8:4849). Dengan memikirkan doa inilah Daniel menjalankan ibadahnya. (6) Daniel beribadah tiga kali sehari setiap hari, sesuai contoh yang diberikan Daud (Mzm. 55:18). Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis. Sungguh baik apabila kita menyediakan waktu untuk berdoa, bukan untuk mengikat, melainkan untuk mengingatkan hati nurani kita. Jika kita berpendapat tubuh kita perlu disegarkan dengan makanan tiga kali sehari, bisakah kita berpikir juga, bahwa akankah ibadah yang jarang baik bagi jiwa kita? Ini pastilah jumlah paling sedikit yang dimaksudkan dengan perintah untuk senantiasa berdoa. (7) Daniel menjalankan ibadah ini dengan begitu terbuka dan terus terang, hingga semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ini memang kebiasaannya. Daniel memperlihatkan kebiasaannya ini bukan karena hendak membanggakan diri (di lingkungan tempat ia tinggal, tidak ada ruang bagi godaan ini, sebab kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang dipuji orang, melainkan justru sesuatu yang tercela), melainkan karena ia tidak merasa malu untuk melakukannya. Walaupun Daniel seorang tokoh besar, ia tidak merasa hina untuk tiga kali sehari berlutut di hadapan Penciptanya dan menjadi rohaniwan bagi diri sendiri. Walaupun sudah lanjut usia, ia tidak merasa terlampau tua untuk itu. Tidak pula, meskipun hal ini sudah menjadi kebiasaannya sejak muda, ia menjadi jemu melakukan perbuatan baik ini. Meskipun ia seorang yang sangat sibuk, luar biasa sibuk, untuk melayani orang banyak, ia tidak berpikir untuk menjadikan hal ini sebagai alasan untuk tidak melaksanakan saat teduh setiap hari. Jadi, betapa sungguh tidak dapat dimaafkan bila orang-orang yang tidak banyak kesibukan di dunia ini enggan bersaat teduh bagi Allah dan jiwa mereka! Daniel terkenal sebagai seorang pendoa dan sangat berhasil dalam doa (Yeh. 14:14). Hal ini dicapainya berkat ketekunannya dalam doa dan karena menjadikan doa sebagai kebiasaan sehari-hari. Dan karena berbuat demikianlah maka Allah memberkatinya dengan begitu indah. 2. Kesetiaan Daniel dalam menjalankan kebiasaan ini, meskipun hukum yang baru itu menjadikannya sebagai suatu kejahatan besar. Ketika tahu bahwa surat perintah itu telah dibuat, ia tetap melanjutkan kebiasaan itu seperti yang biasa dilakukannya. Ia sama sekali tidak mengubahnya. Banyak orang, bahkan banyak orang baik, akan menganggap bijaksana untuk menghentikan kebiasaan itu selama tiga puluh hari ini, ketika mereka tidak bisa melakukannya tanpa membahayakan nyawanya. Orang bisa saja berdoa jauh lebih sering setelah ketiga puluh hari itu berlalu dan bahaya sudah lewat. Atau, ia juga bisa melaksanakan kewajiban itu di waktu tertentu saja dan di tempat lain, dengan diam-diam sehingga para musuhnya tidak akan mengetahuinya. Dengan demikian ia bisa menenangkan hati nurani sekaligus memelihara persekutuan dengan Allah, namun juga menghindari hukum itu serta tetap bisa bekerja. Namun, seandainya orang melakukan seperti itu, maka baik teman-teman maupun musuh-musuhnya akan menyangka bahwa ia telah melepaskan kewajibannya untuk sementara waktu, oleh karena sifat pengecut dan rasa takut yang memalukan. Dan hal ini akan justru membawa aib besar bagi Allah dan mengecilkan hati teman-temannya. Orang lain yang berada di lingkungan yang lebih rendah derajatnya bisa saja bertindak dengan hati-hati. Akan tetapi, Daniel, yang diperhatikan begitu banyak orang, harus bertindak dengan berani,slebih-lebih lagi ia tahu bahwa ketika dirancang, perintah itu terutama ditujukan untuk melawan dia. Perhatikanlah, kita tidak boleh melalaikan kewajiban karena takut menderita, atau bahkan jangan ada seorang yang dianggap ketinggalan. Dalam masa-masa kesukaran, sangatlah ditekankan agar kita mengakui Dia di depan manusia (Mat. 10:32). Kita harus waspada agar jangan sampai di balik dalih mau bertindak bijaksana, kita didapati bersalah karena sikap pengecut dalam perkara Allah. Kalaupun kita tidak berpendapat bahwa contoh tentang Daniel ini mewajibkan kita berbuat sama, saya yakin kita tidak boleh mengecam orang-orang yang melakukannya, sebab Allah mengakui Daniel dalam hal itu. Daniel sangat taat dalam melaksanakan kewajiban ibadah, sampai ia tidak pernah mencari-cari dalih untuk melalaikannya. Sebab, kalau ia mencari-cari alasan untuk itu, maka tentu saja sekarang ia harus meninggalkan ibadahnya itu, (1) Karena beribadah dilarang oleh raja yang adalah tuannya, dan juga untuk menghormati sang raja. Namun, sudah menjadi pernyataan yang tidak diragukan lagi, bahwa kita harus lebih menaati Allah daripada manusia. (2) Karena hal itu bisa saja membuat Daniel kehilangan nyawa. Namun, sudah menjadi pernyataan yang tidak bisa disangkal lagi, bahwa orang-orang yang menyia-nyiakan jiwanya, seperti yang diperbuat orang-orang yang hidup tanpa doa, demi menyelamatkan nyawanya, sebenarnya justru sangat merugikan diri. Meskipun dalam hal ini mereka, seperti halnya raja Tirus, merasa hikmat mereka melebihi hikmat Daniel, namun pada akhirnya nanti mereka akan seperti orang bodoh. * Daniel di Dalam Gua Singa (6:12-18) Di sini diceritakan tentang, 1. Bukti bahwa Daniel berdoa kepada Allahnya, meskipun telah dikeluarkan keputusan yang melarang hal itu (ay. 12): Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk, kemudian bergegas-gegas berkumpul, demikianlah arti kata yang dipakai, kata yang sama yang juga dipergunakan di ayat 7, yang dipinjam dari 1, Mengapa rusuh bangsa-bangsa? Mereka datang bersama menemui Daniel, mungkin dengan berpura-pura untuk urusan tugas, pada waktu yang mereka ketahui merupakan saat teduh Daniel seperti biasanya. Dan seandainya pun mereka tidak mendapatinya sedang berdoa, mereka tentu akan mencela dia karena bersikap pengecut dan tidak mempercayakan diri kepada Allahnya. Namun, seperti yang lebih mereka harapkan, mereka mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya. Sebagai balasan terhadap kasihnya mereka menuduh dia. Namun, seperti halnya Daud, bapa leluhurnya, Daniel mendoakan mereka (Mzm. 109:4). 2. Perbuatannya itu diadukan kepada raja. Ketika mendapatkan alasan untuk menyerang Daniel menyangkut Taurat Allahnya, mereka tidak membuangbuang waktu dan segera menghadap raja (ay. 13). Sesudah memastikan bahwa bukankah telah dibuat undang-undang dan memperoleh pengakuan raja tentang hal itu, bahwa keputusan itu telah disahkan sedemikian rupa hingga tidak mungkin diubah lagi, mereka lalu menuduh Daniel (ay. 14). Keterangan tentang dirinya yang mereka berikan itu sebegitu rupa untuk merisaukan raja dan membuatnya semakin geram terhadap Daniel. “Daniel salah seorang buangan dari Yehuda. Ia orang dari suku Yehuda, bangsa yang tercela itu, dan sekarang menjadi tawanan hina. Ia tidak dapat menyebut apa pun sebagai miliknya selain yang diterimanya berkat perkenan raja. Namun, ia tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan.” Perhatikanlah, bukan hal baru apabila hal yang dilakukan dengan setia dan penuh kesadaran terhadap Allah, diberitahukan dengan cara yang tidak benar sebagai sesuatu yang dilakukan dengan sikap keras kepala dan melawan kuasa pemerintah. Artinya, orang-orang kudus yang terbaik justru dicela sebagai orang-orang yang paling buruk. Daniel menghormati Allah, dan itulah sebabnya ia berdoa. Cukup beralasan bila kita berpikir bahwa ia berdoa bagi raja dan pemerintahannya. Namun, hal ini direkayasakan sebagai tidak menghormati raja. Roh luar biasa yang ada pada Daniel, dan nama baik yang telah diraihnya, tidak mampu melindunginya dari anak-anak panah beracun ini. Mereka tidak berkata, Daniel menaikkan doa kepada Allahnya, sebab kalau mereka berkata demikian, maka Darius bisa-bisa malah memuji Daniel karenanya. Sebaliknya, mereka hanya berkata, Daniel mengucapkan doanya, yang merupakan sesuatu yang dilarang undang-undang itu. 3. Keprihatinan luar biasa raja dalam hal ini. Sekarang ia merasa bahwa apa pun yang pura-pura mereka lakukan, itu bukanlah untuk menghormati dia, tetapi karena Daniel-lah mereka mengusulkan undang-undang tersebut. Sekarang sangat sedihlah ia karena telah memberikan kepuasan kepada mereka dalam hal ini (ay. 15). Perhatikanlah, ketika manusia menurutkan kesenangan penuh kesombongan yang sia-sia dan menghibur diri dengan hal yang membawa kesenangan itu, mereka sebenarnya tidak tahu kesusahan seperti apa yang mereka siapkan bagi diri sendiri. Para penyanjung mereka bisa saja terbukti menjadi penyiksa mereka, dan hanya membentangkan jerat di depan kakinya. Sekarang raja mencari jalan untuk melepaskan Daniel. Baik melalui sanggahan maupun wewenang, ia berusaha keras bahkan sampai matahari masuk untuk menolongnya. Yaitu, ia membujuk para pendakwa Daniel agar tidak bersikeras menjatuhkan hukuman ke atas Daniel. Perhatikanlah, karena kurang pertimbangan, kita pun sering melakukan hal itu. Akibatnya, setelah itu kita berulang kali melihat alasan untuk berharap seandainya saja hal tersebut bisa dibatalkan. Itulah sebabnya kita patut menempuh jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalan kita. 4. Pelanggaran yang menurut para penuntut harus diadili (ay. 16). Kita tidak tahu apa yang dikatakan Daniel. Rajalah pembelanya. Ia tidak perlu memperjuangkan perkaranya sendiri, tetapi tanpa bicara menyerahkan diri dan perkaranya itu kepada Dia yang mengadili dengan benar. Sebaliknya, para penuntut bersikukuh agar undang-undang dijalankan. Sudah menjadi peraturan dasar undang-undang pemerintah Media dan Persia, yang sekarang telah menjadi kerajaan bersama, bahwa tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah. Kita menjumpai hal yang sama di Kitab 19; 8:8. Orang Kasdim mengagungkan kehendak raja dengan memberinya kuasa untuk membuat dan membatalkan hukum sesuka hati, untuk membunuh dan memelihara nyawa orang yang dikehendakinya. Orang Persia mengagungkan hikmat raja mereka dengan mempercayai bahwa peraturan apa pun yang telah disahkannya dengan sepenuh hati itu begitu teguh hingga tidak mungkin bisa diubah atau dibuang, seakan-akan tinjauan manusia dalam menyusun undang-undang mampu melindunginya terhadap segala macam gangguan. Akan tetapi, apabila peraturan kerajaan Media dan Persia ini diterapkan seperti seharusnya pada perkara Daniel (saya cenderung berpikir bukan demikian halnya melainkan diselewengkan), maka sementara peraturan itu menghormati kuasa raja untuk membuat undang-undang, namun di lain pihak peraturan itu juga menghambat kuasanya untuk melaksanakan pemerintahan dan tidak memampukan raja memperlihatkan belas kasihan yang menopang takhtanya, dan untuk menyelamatkan orang, yang merupakan kemuliaan suatu pemerintahan. Orang-orang yang tidak membiarkan kuasa tertinggi menyelenggarakan keadilan dengan ketetapan yang melumpuhkan, ternyata tidak pernah mempertanyakan kuasanya untuk mengampuni pelanggaran terhadap peraturan yang berkaitan dengan hukum. Kuasa ini tidak diberikan kepada Darius. Lihatlah betapa kita perlu mendoakan para pemimpin supaya mereka diberi hikmat oleh Allah, sebab mereka ini acap kali dipersulit dengan kesukaran besar, bahkan raja-raja yang paling bijaksana dan terbaik sekalipun. 5. Pelaksanaan hukum terhadap Daniel. Dengan sangat berat hati dan bertentangan dengan hati nuraninya, raja sendiri menandatangani surat perintah untuk pelaksanaan hukum tersebut. Maka Daniel, orang penting yang patut dimuliakan itu, dengan perilaku agung serta manis itu, yang begitu sering tampak hebat di pengadilan dan dewan pengurus istana, serta lebih agung lagi saat berlutut, yang memiliki kuasa bersama Allah dan manusia serta berjaya, digiring bagaikan pelanggar hukum paling keji, padahal semata-mata ia hanya menyembah Allahnya saja, lalu dilemparkan ke dalam gua singa supaya diterkam (ay. 17). Mau tidak mau orang merasakan rahmat terdalam terhadap si penderita yang mulia ini, dan merasa murka yang amat sangat terhadap para penuntut keji ini. Untuk memastikan agar hukuman ini berjalan semestinya, sebuah batu diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap batu itu. Ia, yang terlampau mudah dipengaruhi, lalu dibujuk untuk memeteraikannya dengan cincin meterainya sendiri (ay. 18), meterai menyedihkan yang digunakannya untuk menetapkan undang-undang yang telah menjatuhkan Daniel. Tetapi para pembesarnya tidak mempercayainya, kecuali mereka juga membubuhkan meterai masing-masing. Demikian pula waktu Kristus dikuburkan, para lawannya memeteraikan batu yang digulingkan ke pintu kuburnya. 6. Dorongan semangat yang diberikan Darius kepada Daniel supaya ia mempercayakan diri kepada Allah: Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau (ay. 17). Di sini, (1) Darius membenarkan Daniel dari kesalahan, dengan mengakui bahwa kejahatan Daniel adalah karena terus menyembah Allahnya dan tetap melakukannya meskipun perbuatannya itu dianggap suatu kejahatan. (2) Ia menyerahkan perkara ini kepada Allah untuk membebaskan Daniel dari hukuman, karena ia sendiri tidak berhasil melakukannya sendiri: Dialah kiranya yang melepaskan engkau. Darius yakin bahwa Allah Daniel mampu melepaskannya, sebab ia percaya bahwa Dia adalah Allah yang Mahakuasa. Ia mempunyai alasan untuk berpikir bahwa Allah akan melakukannya, setelah mendengar tentang bagaimana Ia melepaskan teman-teman Daniel dalam perkara serupa dari perapian yang menyalanyala. Darius menyimpulkan bahwa Ia akan senantiasa setia kepada orang-orang yang membuktikan diri setia kepada-Nya. Perhatikanlah, orang-orang yang senantiasa melayani Allah akan senantiasa dipelihara dan didukung oleh-Nya dalam melayani Dia. * Pemeliharaan dan Pembebasan Daniel (6:19-25) Di sini terdapat, I. Malam memilukan yang dilalui raja karena memikirkan keadaan Daniel (ay. 19). Ia memang telah berkata bahwa Allah akan melepaskannya dari bahaya, namun pada saat yang sama ia juga tidak dapat memaafkan diri karena telah melemparkan Daniel ke dalam bahaya itu. Sudah sepantasnya Allah mengambil sahabat yang pernah diperlakukannya dengan kejam itu. Lalu pergilah raja ke istananya, merasa kesal terhadap diri sendiri karena perbuatannya, dan menyebut diri tidak bijaksana dan tidak adil karena tidak menaati hukum Allah dan alam dengan non obstante -" tidak menolak hukum Media dan Persia. Ia tidak mau makan dan berpuasa semalam-malaman. Hatinya begitu sedih dan takut. Ia menolak para penghibur, sebab tidak ada yang lebih menyebalkan daripada lagu-lagu yang dilantunkan bagi hati yang berat. Ia pergi tidur, namun tidak kunjung terlelap. Ia dicekam oleh gelisah sampai dini hari. Perhatikanlah, cara terbaik untuk mendapat istirahat malam yang baik adalah dengan memelihara hati nurani yang baik, sehingga kita dapat berbaring dengan tenteram. II. Pertanyaan penuh kecemasan yang dilontarkan raja perihal Daniel pada keesokan paginya (ay. 20). Ia bangun pagi hari, pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, sebab bagaimana mungkin ia bisa tetap berbaring di tempat tidur ketika ia tidak bisa terlelap karena membayangkan Daniel, atau berbaring dalam keadaan terjaga dengan tenang sementara memikirkan dia? Begitu terbangun, raja pergi dengan buru-buru ke gua singa, sebab ia tidak akan puas dengan sekadar mengutus pelayan (cara itu tidak dapat membuktikan kasih sayangnya terhadap Daniel). Ia juga tidak akan sabar menunggu sampai pelayan kembali kalau ia mengutusnya. Ketika raja tiba di gua singa, sambil berharap bahwa Allah dengan kemurahan hati-Nya telah membatalkan perbuatan jahat yang telah dilakukannya, ia berseru dengan suara yang sayu, penuh cemas dan susah, Daniel! Apakah kau masih hidup? Raja sangat ingin tahu, namun suaranya bergetar saat bertanya, karena takut kalau-kalau dijawab dengan raungan singa yang menuntut mangsa lebih banyak. Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah ditunjukkan oleh-Nya dan sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu? Apabila raja benar-benar paham saat ia menyebut Dia Allah yang hidup, ia tentu tidak akan meragukan kemampuan-Nya untuk memelihara hidup Daniel, sebab Dia yang adalah hidup itu sendiri, akan menghidupkan kembali siapa pun yang dikehendaki-Nya. Namun, apakah dalam perkara ini Ia menganggap tepat untuk menyatakan kuasa-Nya? Apa yang diragukan raja, dapat kita yakini, yaitu bahwa para hamba Allah yang hidup memiliki Tuhan yang sangat mampu melindungi mereka dan mendukung mereka dalam pelayanan-Nya. III. Kabar sukacita yang diperolehnya: bahwa Daniel masih hidup, selamat,sbaik-baik saja, dan tidak terluka di dalam gua singa (ay. 22-23). Daniel mengenali suara raja meskipun sekarang sudah terdengar begitu sayu, lalu menjawab dengan rasa hormat dan penuh penghargaan yang memang layak bagi seorang raja: Ya raja, kekallah hidupmu. Daniel tidak mencelanya atas sikap tidak baik terhadap dirinya itu, yang dengan mudah menyerah kepada niat jahat para lawannya. Sebaliknya, untuk menunjukkan bahwa ia telah dengan tulus memaafkan raja, ia menjumpainya dengan ucapan selamat. Perhatikanlah, kita tidak boleh mencela orang-orang karena sikap tidak baik yang mereka lakukan terhadap kita, yang kita tahu telah melakukannya berat hati, dan sangat siap mencela diri sendiri karena perbuatan mereka itu. Jawaban yang diberikan Daniel kepada raja sangatlah baik dan penuh kemenangan. 1. Allah telah memelihara nyawanya melalui mujizat. Darius telah menyebut Dia Allah Daniel Allahmu yang kausembah dengan tekun. Daniel menanggapinya seakan-akan melalui gema, Benar, Dialah Allahku yang kuakui dan yang mengakui aku, sebab Ia telah mengutus malaikat-Nya. Sosok cemerlang dan agung yang sama, yang terlihat dalam rupa seperti anak dewa bersama ketiga orang di dalam perapian yang menyala-nyala itu, telah mengunjungi Daniel. Dan tampaknya, dalam penampakannya, ia telah menerangi gua singa yang gelap itu, dan menemani Daniel sepanjang malam. Malaikat itu telah mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan dia. Kehadiran malaikat itu bahkan membuat gua singa itu menjadi benteng, istana, dan firdaus bagi Daniel. Sepanjang hidupnya, Daniel belum pernah melewati malam yang lebih baik. Lihatlah kuasa Allah atas makhluk-makhluk paling garang, dan percayalah kepada kuasa-Nya yang mampu menahan singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya, sehingga tidak dapat melukai orang-orang kepunyaan-Nya. Lihatlah pemeliharaan Allah terhadap mereka yang menyembah Dia dengan setia, terutama saat Ia memanggil mereka untuk menderita bagi-Nya. Jika Ia memelihara jiwa mereka dari dosa, menghibur jiwa mereka dengan damai sejahtera-Nya, dan menerima jiwa mereka, maka sesungguhnya Ia telah mengatupkan mulut singa-singa itu supaya tidak dapat melukai mereka. Lihatlah betapa siap para malaikat memberikan pelayanan demi kebaikan umat Allah, sebab mereka menyebut diri kawan pelayan. 2. Di dalam apa yang terjadi ini Allah telah membela perkaranya. Daniel digambarkan kepada raja sebagai orang yang tidak setia kepada dirinya dan pemerintahannya. Kita tidak mendapati bahwa Daniel mengatakan apa pun demi membersihkan namanya sendiri. Sebaliknya, ia menyerahkan kepada Allah untuk menjelaskan kelurusan hatinya seperti terang. Dan Allah pun melakukannya dengan berhasil, dengan melakukan mujizat yang menyelamatkan nyawa Daniel. Melalui perbuatannya, Daniel tidak bersalah terhadap Allah maupun raja: Aku tak bersalah di hadapan Dia, kepada siapa aku berdoa. Ia tidak menganggap diri orang yang sangat berjasa. Tetapi, kesaksian hati nuraninya menyangkut kelurusan hatinyalah yang menjadi penghiburan baginya. Juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan, ataupun merencanakan penghinaan terhadap tuanku. IV. Dilepaskannya Daniel dari dalam kurungan. Para pendakwa Daniel tidak bisa tidak haruslah mengakui bahwa hukum itu sudah terlaksana, walaupun mereka tidak puas. Tidak ada yang mengubah hukum orang Media dan Persia itu. Karena itu tidak ada alasan apa pun untuk tidak mengeluarkan Daniel dari gua itu (ay. 24): Lalu sangat sukacitalah raja karena menemukan Daniel masih hidup, dan segera memberi perintah supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu, seperti Yeremia ditarik keluar dari dalam ruang cadangan air bawah tanah. Dan ketika orang memeriksa, tidak terdapat luka apa-apa padanya. Bagian tubuhnya tidak ada yang hancur atau tergores, tetapi sehat sempurna, karena ia percaya kepada Allahnya. Camkanlah, orang yang dengan berani dan riang hati percaya kepada Allah bahwa Ia akan melindungi mereka saat mereka sedang menjalankan kewajiban ibadahnya, ia tidak akan dibuat malu dengan keyakinan hati mereka kepada-Nya, tetapi akan selalu menemukan Dia sebagai pertolongan pada saat yang mereka perlukan. V. Para penuntutnya dijebloskan ke dalam penjara, atau lebih tepat, ke tempat pelaksanaan hukuman yang sama (ay. 25). Darius sangat digerakkan hatinya oleh mujizat yang telah dikerjakan bagi Daniel ini, dan sekarang ia mulai memberanikan diri bertindak seperti dirinya sendiri. Orang-orang yang tidak mau membiarkan dia memperlihatkan belas kasihan kepada Daniel, akan merasakan kemarahannya setelah Allah menunjukkan belas kasih baginya. Setelah Daniel dinyatakan tidak bersalah dan sorga sendiri menjadi penjaminnya, para pendakwa Daniel menerima hukuman sama yang telah mereka akibatkan dan rencanakan atas dirinya, sesuai hukuman pembalasan dendam terhadap pendakwa palsu (Ul. 19:18-19). Setelah Daniel terbukti tidak bersalah, mereka dimintai pertanggungjawaban, sebab sesuai kenyataan, perbuatan Daniel bukanlah suatu kesalahan. Orang-orang itu dilemparkan ke dalam gua singa, tindakan yang mungkin merupakan hukuman yang baru mereka ciptakan sendiri, yang telah mereka rancang dengan hati dengki bagi Daniel. Nec lex est justior ulla quàm necis artifices perire suâ -" Tidak ada hukum yang lebih adil daripada yang telah memutuskan bahwa para perancang kekejian akan binasa karenanya (Mzm. 7:16-17; 9:16-17). Sekarang pengamatan Salomo telah terbukti (Ams. 11:8), Orang benar diselamatkan dari kesukaran, lalu orang fasik menggantikannya. Dalam pelaksanaan hukuman ini kita dapat mengamati, 1. Murka raja, dengan memerintahkan agar para istri dan anak-anak mereka juga dilemparkan ke dalam gua singa bersama mereka. Betapa adil ketetapan Allah melebihi ketetapan semua bangsa, sebab Allah memerintahkan agar anak-anak tidak mati akibat kejahatan ayah mereka (Ul. 24:16). Namun, anak-anak dihukum mati dalam perkara-perkara luar biasa, seperti halnya Akhan, Saul, dan Haman. 2. Keganasan singa-singa itu. Hewan-hewan itu langsung menerkam mereka dan mencabik-cabik tubuh mereka sebelum mereka sampai ke dasar gua itu. Hal ini membuktikan dan semakin mengagungkan mujizat bagaimana singa-singa itu tidak melakukan apa pun terhadap Daniel. Dari sini terlihat bahwa hal ini bukanlah disebabkan karena singa-singa itu tidak mempunyai selera makan, melainkan karena mereka tidak diizinkan. Anjing jenis Mastiff yang senantiasa diberangus akan semakin galak saat berangusnya dilepas. Begitu juga halnya dengan singa-singa ini. Demikianlah, Tuhan dikenal melalui penghakiman yang dijalankan-Nya. * Perintah Darius (6:26-29) Di sini Darius berusaha keras memberikan ganti rugi atas aib yang dilakukannya atas Allah dan Daniel, yaitu melemparkan Daniel ke gua singa. Sebagai ganti rugi, ia memberikan penghormatan kepada Allah dan Daniel. I. Ia memberikan penghormatan kepada Allah dengan ketetapan yang disebarkan kepada semua bangsa, yaitu supaya mereka takut kepada-Nya. Dan keputusan ini sungguh pantas tidak bisa diubah sesuai undang-undang orang Media dan Persia, sebab ini merupakan Injil yang kekal, yang diberitakan kepada mereka yang diam di atas bumi. Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia (Why. 14:7). Amatilah, 1. Kepada siapa raja mengirimkan perintah ini, yaitu kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi (ay. 26). Ini merupakan perkataan yang agung, dan memang benar bahwa seluruh penduduk bumi wajib menaati apa yang ditetapkan di sini. Namun, di sini yang dimaksudkan tidak lebih dari seluruh kerajaan yang dikuasai Darius, yang meskipun terdiri atas banyak bangsa, tidak mencakup semua bangsa. Namun, memang begitulah halnya,sorang-orang yang memiliki banyak biasanya berpendapat bahwa mereka memiliki semuanya. 2. Isi perintah tersebut, yakni bahwa orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel. Ini berarti lebih jauh daripada ketetapan Nebukadnezar pada perkara serupa, yang hanya mencegah orang mengucapkan penghinaan terhadap Allah ini. Namun, perintah Darius ini mewajibkan mereka takut dan gentar kepada-Nya, serta memelihara dan menyatakan rasa hormat tinggi kepada-Nya. Sungguh tepat ia mendahului perintah ini dengan kata-kata bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu, sebab satu-satunya dasar kesejahteraan sejati yang berlimpah adalah takut kepada Allah. Itulah hikmat yang sebenarnya. Jika kita hidup dengan takut akan Allah, serta berjalan sesuai aturan itu, maka damai sejahtera akan menyertai kita dan semakin bertambah-tambah. Namun, meskipun ketetapan ini menjangkau cukup jauh, sebenarnya hal ini belum memadai. Andaikata raja dahulu bertindak dengan benar dan keyakinannya seperti sekarang ini, maka ia tidak saja akan memerintahkan semua orang untuk takut dan gentar kepada Allah ini, tetapi juga mengasihi dan mempercayai-Nya. Mereka akan diperintahkan meninggalkan penyembahan berhala, dan hanya menyembah serta berseru kepada-Nya, seperti yang dilakukan Daniel. Akan tetapi, penyembahan berhala telah berlangsung begitu lama dan berakar begitu dalam hingga tidak dapat dimusnahkan melalui ketetapan raja ataupun kuasa apa pun selain ketetapan yang selaras dengan Injil Kristus yang agung. 3. Alasan-alasan serta pertimbangan yang menggerakkan raja mengeluarkan perintah ini. Semuanya cukup kuat untuk membenarkan perintah menumpas penyembahan berhala, apalagi mendukung perintah tersebut. Ada alasan tepat mengapa semua orang harus takut kepada Allah Daniel ini, sebab, (1) Keberadaan-Nya mengatasi segala sesuatu. “Dialah Allah yang hidup, hidup sebagai Allah, sementara dewa-dewa yang kita sembah hanyalah benda-benda mati, yang bahkan tidak memiliki nyawa hewan.” (2) Pemerintahan-Nya tidak tertandingi. Ia memiliki pemerintahan dan kekuasaan. Ia tidak saja hidup, tetapi juga memerintah sebagai raja yang berkuasa mutlak. (3) Baik keberadaan maupun pemerintahan-Nya tidak dapat diubah. Dia sendiri kekal untuk selama-lamanya, dan pada-Nya tidak terdapat bayang-bayang perubahan sedikit pun. Pemerintahan-Nya tidak akan binasa oleh kekuatan luar apa pun, dan di dalam kekuasaan-Nya tidak terdapat apa pun yang dapat mengakibatkan kerusakan, dan oleh sebab itu tidak akan berakhir. (4) Ia memiliki kemampuan yang cukup untuk mendukung wewenang semacam itu (ay. 28). Ia melepaskan hamba-hamba-Nya yang setia dari masalah dan mengeluarkan mereka dari tengah kesukaran. Ia mengadakan tanda dan mujizat, melebihi kekuatan alam, baik di langit dan di bumi, dan dengan demikian tampaklah bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat atas keduanya. (5) Ia telah memberikan bukti segar tentang semua ini dengan melepaskan Daniel, hamba-Nya, dari cengkaman singa-singa. Mujizat ini, dan juga pembebasan ketiga temannya, terjadi di depan mata dunia, terlihat, diberitakan, dan dibuktikan kebenarannya oleh dua raja paling besar yang pernah ada, serta merupakan penegasan terkenal perihal asas pertama agama, yang diringkaskan dari pola sempit agama Yahudi, dan menjadi bantahan jitu terhadap semua kekeliruan kepercayaan orang kafir, dan persiapan sangat tepat bagi kekristenan murni. II. Raja Darius memberikan penghormatan kepada Daniel (ay. 29): Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi. Lihatlah betapa Allah mendatangkan kebaikan baginya dari kejahatan. Pukulan telak yang dilancarkan smusuh-musuhnya atas kehidupannya, justru mendatangkan peristiwa menyenangkan ketika mereka dijatuhkan, termasuk anak-anak mereka juga, yang jika tidak, tentu akan menghalang-halangi pemulihan martabat Daniel. Dalam segala kesempatan mereka pasti akan mendatangkan kemarahan baginya. Sekarang Daniel lebih berhasil daripada dahulu, lebih diperkenan raja dan nama baiknya semakin dikenal rakyat. Hal ini memberinya kesempatan besar untuk berbuat baik kepada saudara-saudaranya. Demikianlah dari yang makan (juga seekor singa) keluar makanan, dari yang kuat keluar manisan.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHK GMIM Senin, 29 Juli 2024 - Teguh Beriman Di Tengah Tekanan dan Cobaan - Daniel 6:6-11 Sebelum: RHK GMIM Sabtu, 27 Juli 2024 - Lakukanlah Kebaikan - Romas 12:20-21 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,