gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 485 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2024
Senin, 20 Mei 2024

RHK GMIM Senin, 20 Mei 2024 - Berserulah Kepada Tuhan Maka Akan Diselamatkan - Kisah Para Rasul 2:21-24
Bahwa karunia itu adalah karunia Kristus, dan hasil serta bukti dari kebangkitan dan kenaikan-Nya

'\'\''

Kisah Para Rasul 2:21-24
2:21 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. 2:22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. 2:23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. 2:24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.

Penjelasan:
*  Bahwa karunia itu adalah karunia Kristus, dan hasil serta bukti dari kebangkitan dan kenaikan-Nya. Melalui peristiwa karunia Roh Kudus ini, Petrus mengambil kesempatan untuk memberitakan Yesus kepada mereka. Dan bagian khotbahnya ini ia sampaikan dengan kata pengantar lain yang khidmat (ay. Kis 2:22): “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini. Karena belas kasihanlah kamu bisa mendengar perkataan ini, dan sudah menjadi kewajibanmulah untuk memperhatikannya.” Perkataan-perkataan mengenai Kristus harus bisa diterima oleh orang-orang Israel. Inilah,

(1) Ringkasan sejarah kehidupan Kristus (ay. Kis 2:22). Petrus menyebut-Nya Yesus dari Nazaret, karena dengan nama itulah Ia dikenal secara umum, tetapi (yang sudah cukup untuk menyingkirkan celaan itu) Ia adalah seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu, yang dicela dan dikutuk oleh manusia, tetapi diteguhkan oleh Allah. Allah memberikan kesaksian akan peneguhan-Nya terhadap ajaran Kristus melalui kuasa yang diberikan-Nya kepada Dia untuk mengerjakan mujizat-mujizat: seorang yang telah ditandai oleh Allah, begitulah Dr. Hammond membacanya. “Ia telah dijadikan tanda dan keajaiban di tengah-tengah kalian yang sekarang sedang mendengarkan aku. Ia diutus kepadamu, Ia menegakkan terang yang mulia di negerimu. Kamu sendiri adalah saksi bagaimana Ia menjadi terkenal melalui kekuatan-kekuatan, mujizat-mujizat, dan tanda-tanda, pekerjaan-pekerjaan yang di luar kuasa alam, di luar jalur biasa, dan yang bertentangan dengannya, yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia. Maksudnya, yang dilakukan-Nya dengan kuasa ilahi yang menyelubungi-Nya, dan yang di dalamnya Allah jelas-jelas menyertai Dia. Sebab tidak ada seorang pun yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan itu, jika Allah tidak menyertai-Nya.” Lihatlah betapa Petrus menekankan mujizat-mujizat Kristus.
        [1] Kenyataan itu tidak bisa disangkal: “Mujizat-mujizat itu dilakukan di tengah-tengah kamu, di tengah-tengah negerimu, kotamu, perkumpulan-perkumpulan ibadahmu, seperti yang kamu sendiri tahu. Kamu sudah menjadi saksi-saksi mata dari mujizat-mujizat-Nya. Biarkan aku bertanya kepadamu, adakah bukti yang kamu punya sebagai keberatan untuk melawannya, atau ada yang bisa kamu katakan untuk menyangkalnya?”
        [2] Kesimpulan yang bisa ditarik dari semua kenyataan itu tidak bisa disanggah. Pembuktiannya sama kuat dengan buktinya. Jika Ia melakukan mujizat-mujizat itu, sudah pasti Allah berkenan pada-Nya. Allah menyatakan bahwa Dia memang demikian adanya, seperti yang dinyatakan-Nya sendiri, bahwa Dialah Anak Allah dan Juru Selamat dunia. Sebab Allah segala kebenaran tidak akan membuat meterai-Nya berdusta.

(2) Pernyataan tentang kematian dan penderitaan-penderitaan-Nya, yang juga mereka saksikan hanya beberapa minggu lalu. Dan ini adalah mujizat terbesar dari semuanya, bahwa orang yang diakui Allah sendiri tampaknya sampai ditinggalkan begitu saja oleh-Nya. Juga, bahwa orang yang sedemikian mendapat perkenanan di hati masyarakat, dan di tengah-tengah mereka, sampai dicampakkan oleh mereka sendiri seperti itu. Tetapi kedua rahasia ini dijelaskan di sini (ay. Kis 2:23), dan kematian-Nya dipandang,
        [1] Sebagai perbuatan Allah. Dan di dalam Dia kematian-Nya itu adalah suatu perbuatan anugerah dan hikmat yang menakjubkan. Allah menyerahkan-Nya kepada maut. Tidak hanya mengizinkan Dia dihukum mati, tetapi juga menyerahkan Dia, mempersembahkan Dia. Hal ini dijelaskan dalam Roma 8:32, Ia menyerahkan-Nya bagi kita semua. Sekalipun demikian, Ia diakui oleh Allah, dan tidak ada suatu apa pun di dalamnya yang menandakan bahwa Allah tidak berkenan kepada-Nya. Sebab hal itu terlaksana menurut maksud dan rencana-Nya, dalam hikmat yang tak terbatas, dan untuk tujuan-tujuan suci, yang disetujui oleh Kristus sendiri, termasuk cara dan sarana yang dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Demikianlah keadilan ilahi harus dipuaskan, orang-orang berdosa diselamatkan, Allah dan manusia dipersatukan kembali, dan Kristus sendiri dipermuliakan. Bukan hanya menurut kehendak Allah, melainkan juga menurut keputusan kehendak-Nya, bahwa Ia harus menderita dan mati, sesuai dengan keputusan yang kekal, yang tidak bisa diubah. Hal ini mendamaikan Kristus dengan salib: Bapa, jadilah kehendak-Mu, dan Bapa, muliakanlah nama-Mu. Biarlah maksud-Mu terlaksana, dan biarlah tujuan agung-Mu tercapai.
        [2] Sebagai perbuatan orang banyak. Dan di dalam diri mereka perbuatan itu adalah perbuatan yang luar biasa berdosa dan bodoh. Perbuatan itu adalah pergulatan melawan Allah untuk menganiaya orang yang diakui-Nya sebagai kesayangan sorga. Dan itu juga adalah perlawanan menentang belas kasihan yang diperuntukkan bagi mereka sendiri, sebab mereka menganiaya orang yang menjadi berkat terbesar bagi bumi ini. Rancangan Allah sejak dari kekekalan, ataupun tindakan-Nya yang membawa kebaikan dari rancangan itu sampai pada kekekalan, tidak akan mengampuni dosa mereka sedikit pun. Sebab itu adalah pekerjaan dan perbuatan mereka secara sukarela, yang lahir dari sebuah asas yang jahat secara moral, dan oleh sebab itu “mereka adalah tangan bangsa-bangsa durhaka yang menyalibkan dan membunuh Dia.” Ada kemungkinan bahwa sebagian dari mereka yang hadir di sini adalah orang-orang yang sebelumnya berseru, salibkanlah Dia, salibkanlah Dia, atau yang jika tidak demikian halnya sudah membantu dan bersekongkol dalam pembunuhan itu, dan Petrus tahu ini. Namun, bagaimanapun juga, sudah sewajarnya hal itu dipandang sebagai perbuatan seluruh bangsa, karena dilakukan dengan pemungutan suara majelis agung dan dengan suara kerumunan orang banyak. Sudah menjadi aturan, Refertur ad universos quod publice fit per majorem partem -" Apa yang dilakukan secara umum oleh sebagian besar orang, dipandang sebagai sesuatu yang dilakukan oleh semua. Petrus mendakwakan dosa itu kepada mereka secara khusus sebagai bagian dari seluruh bangsa itu, supaya dakwaan itu bisa lebih membawa mereka pada iman dan pertobatan, karena itulah satu-satunya cara untuk membedakan diri mereka dari orang-orang yang bersalah, dan melepaskan mereka dari kesalahan itu.

(3) Peneguhan terhadap kebangkitan-Nya, yang dengan berhasil menghapus bersih celaan atas kematian-Nya (ay. Kis 2:24): Allah membangkitkan Dia. Allah yang sama yang menyerahkan Dia pada maut melepaskan-Nya juga dari maut, dan dengan demikian memberikan pengakuan yang lebih tinggi daripada yang sudah diberikan-Nya melalui tanda-tanda dan mujizat-mujizat apa pun yang telah Dia lakukan, atau melalui gabungan dari semuanya itu. Oleh sebab itu, kebangkitan inilah yang paling banyak ditekankannya.
        [1] Petrus menggambarkan kebangkitan-Nya: Allah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu, ōdinas -" dukacita kematian. Kata ini digunakan untuk mengartikan penderitaan yang mendalam, dan sebagian orang berpikir bahwa kata tersebut menunjuk pada kesedihan dan kekalutan jiwa-Nya, yang di dalamnya Ia merasa sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Dari kesedihan dan dukacita jiwa ini, penderitaan jiwa ini, Bapa melepaskan Dia ketika pada saat kematian-Nya Ia berkata, sudah selesai. Beginilah Dr. Godwin memahaminya: “Kengerian-kengerian yang membuat jiwa Heman terhampar seperti orang-orang yang mati dibunuh (Mzm. 88:6, 16) telah mencengkeram Kristus. Tetapi Ia terlalu kuat untuk itu, lalu menerobos melewatinya. Inilah kebangkitan jiwaNya (dan sungguh suatu perkara besar untuk membawa jiwa keluar dari jurang kesengsaraan rohani yang dalam). Kematian ini tidak meninggalkan jiwa-Nya di neraka, seperti yang tampak dalam perkataan selanjutnya, supaya Ia tidak melihat kebinasaan, yang berbicara tentang kebangkitan tubuh-Nya. Dan kebangkitan rohani dan tubuh ini secara bersama-sama menghasilkan kebangkitan agung.” Dr. Lightfoot memberikan pengertian yang lain untuk ini: “Setelah meluruhkan sengsara maut, dengan melakukannya untuk semua orang yang percaya kepada-Nya, Allah membangkitkan Kristus, dan dengan kebangkitan-Nya menghancurkan semua kuasa maut, dan membinasakan sengat maut yang menghantam umat-Nya. Ia sudah menghapuskan kematian, sudah mengubah sifatnya, dan, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu untuk waktu yang lama, tidak mungkin pula mereka tetap berada dalam kuasa maut itu untuk selama-lamanya.” Tetapi kebanyakan orang merujuk hal ini pada kebangkitan tubuh Kristus. Dan kematian (ujar Tuan Baxter) adalah hukuman dengan menghilangkan apa yang ada, meskipun tidak ditandai dengan kejahatan yang nyata. Tetapi Dr. Hammond menunjukkan bahwa Alkitab Septuaginta, dan dari situ sang rasul di sini, menggunakan kata tali-tali maut (Mzm. 18:5), yang paling sesuai dengan kiasan “melepaskan” dan “menahan” yang digunakan di sini. Kristus dipenjara karena utang kita, Ia dicampakkan ke dalam tali-tali maut. Tetapi, karena keadilan ilahi sudah dipuaskan, tidak mungkin Ia terus ditahan di sana, entah dari segi hak atau kekuatan. Sebab Ia mempunyai hidup pada diri-Nya sendiri, dan yang ada dalam kuasaNya sendiri, dan telah menaklukkan penguasa maut.
        [2] Petrus menegaskan kebenaran dari kebangkitan-Nya(ay. Kis 2:32): Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi, yakni kami para rasul dan teman-teman yang bersama kami, yang mengenal Dia secara dekat sebelum kematian-Nya, dan bergaul secara akrab dengan Dia setelah kebangkitan-Nya, makan dan minum bersama-sama dengan Dia. Mereka menerima kuasa, dengan turunnya Roh Kudus ke atas mereka, dengan tujuan agar mereka menjadi saksi-saksi yang cakap, setia, dan berani mengabarkan kebangkitan ini, kendati dituduh oleh musuh-musuh telah mencuri jasad-Nya.
        [3] Petrus menunjukkan kebangkitan-Nya itu sebagai penggenapan Kitab Suci, dan, karena Kitab Suci sudah berkata bahwa Ia harus bangkit kembali sebelum melihat kebinasaan, maka tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut dan alam kubur. Sebab Daud berkata tentang Dia dibangkitkan, maka begitulah kebangkitan-Nya dibicarakan (ay. Kis 2:25). Bagian Kitab Suci yang dirujuknya adalah Mazmur Daud (Mzm. 16:8-11), yang, walaupun sebagian dapat diterapkan kepada Daud sebagai orang kudus, namun terutama merujuk pada Yesus Kristus, yang diperlambangkan oleh diri Daud. Di sini,
            Pertama, nas itu dikutip secara panjang lebar (ay. Kis 2:25-28), sebab hal itu digenapi di dalam Dia, dan menunjukkan kepada kita,
            1. Perhatian yang senantiasa diberikan Yesus Tuhan kita terhadap Bapa-Nya dalam seluruh pekerjaan-Nya: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan. Ia menempatkan di hadapan-Nya kemuliaan Bapa-Nya sebagai tujuan-Nya dalam segala sesuatu. Sebab Ia melihat bahwa penderitaan-penderitaan-Nya akan membawa kehormatan yang berlimpah bagi Allah, dan akan berakhir dalam sukacita-Nya sendiri. Semua ini disediakan bagi-Nya, dan inilah yang dituju-Nya, dalam segala pekerjaan dan penderitaan-Nya. Dan dengan pengharapan akan semuanya ini Ia ditopang dan didorong untuk terus maju (Yoh. 13:31-32; 17:4-5).
            2. Keyakinan yang dimiliki-Nya akan hadirat dan kuasa Bapa-Nya yang menyertai Dia: “Ia berdiri di sebelah kananku, di sebelah tangan yang bekerja, yang menguatkan, membimbing, dan menopang, sehingga Aku tidak goyah atau melepaskan diri dari pekerjaan- Ku, kendati dengan kesusahan-kesusahan yang harus Kujalani.” Ini merupakan butir dari kovenan penebusan (Mzm. 89:22), tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia. Dan oleh sebab itu Ia yakin bahwa pekerjaan itu tidak akan gagal di tangan-Nya. Jika Allah ada di sebelah kanan kita, kita tidak akan goyah.
            3. Kegembiraan yang menyertai Yesus Tuhan kita dalam melanjutkan pekerjaan-Nya, kendati dengan kesedihan-kesedihan yang harus dilalui-Nya: “Karena yakin bahwa Aku tidak goyah, tetapi bahwa kesenangan Tuhan akan terlaksana di tangan-Ku, maka hati-Ku bersukacita dan jiwa-Ku bersorak-sorak, dan pikiran tentang kesedihan-Ku tidak berarti apa-apa bagi-Ku.” Perhatikanlah, adalah kesenangan Yesus Tuhan kita untuk melihat akhir dari pekerjaan-Nya, dan untuk menjadi yakin bahwa kesudahannya akan mulia. Begitu senangnya Dia dengan pekerjaan-Nya sehingga hati-Nya bergembira memikirkan bagaimana kesudahannya akan memenuhi rancangan pekerjaan-Nya itu. Yesus bergembira dalam Roh Kudus (Luk. 10:21). Jiwa-Ku bersorak-sorak (KJV: lidah- Ku bergembira). Dalam Mazmur dikatakan kemuliaan- Ku bersorak-sorak (KJV); yang menunjukkan bahwa lidah kita adalah kemuliaan kita, indra pengucap adalah suatu kehormatan bagi kita, dan tidak pernah lebih menjadi kehormatan bagi kita selain apabila digunakan untuk memuji Allah. Lidah Kristus bersorak-sorak, sebab ketika Ia baru memulai penderitaan-penderitaan-Nya, pada penutup perjamuan terakhir-Nya, Ia menyanyikan nyanyian pujian.
            4. Pengharapan menyenangkan yang dimiliki-Nya mengenai akhir yang membahagiakan dari kematian dan penderitaan-penderitaan-Nya. Inilah yang terus mendorong-Nya, bukan hanya dengan keberanian, melainkan juga dengan kegembiraan, untuk melewati penderitaan dan kematian-Nya. Ia menanggalkan tubuh, tetapi tubuh-Ku akan diam (KJV: tubuh-Ku akan beristirahat -" pen.). Kubur akan menjadi tempat bagi tubuh, selama tubuh itu terbaring di sana, sebagai ranjang peristirahatan, dan harapan akan membuatnya beristirahat dengan tenang. Tubuh-Ku akan diam dengan tenteram (KJV: tubuh-Ku akan beristirahat dalam pengharapan -" pen.), hoti, Engkau tidak menyerahkan Aku kepada dunia orang mati. Dan untuk selanjutnya, tinggal masalah pengharapan-Nya, atau lebih tepatnya keyakinan-Nya,
                (1) Bahwa jiwa tidak akan terus ada dalam keadaan terpisah dari tubuh. Sebab, selain bahwa hal ini akan membawa kegelisahan bagi jiwa manusia yang dibuat untuk tubuh, itu juga akan menjadi kelanjutan dari kemenangan maut atas Dia yang sesungguhnya sudah menaklukkan maut: “Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati” (kepada hades, dalam keadaan yang tak terlihat, itulah yang secara tepat diartikan dari kata hades), “tetapi, meskipun Engkau membiarkannya untuk sementara waktu berpindah ke sana, dan tinggal di sana, namun Engkau akan menariknya kembali. Engkau tidak akan membiarkannya di sana, seperti yang Engkau lakukan terhadap jiwa-jiwa orang lain.”
                (2) Bahwa tubuh hanya akan terbaring sebentar di dalam kubur: Engkau tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Tubuh-Nya tidak akan terus mati untuk waktu yang lama sampai mulai hancur atau membusuk. Oleh sebab itu tubuh-Nya harus kembali hidup pada hari ketiga atau sebelum hari ketiga setelah kematian-Nya. Kristus adalah Orang Kudus Allah, yang dikuduskan dan dipisahkan untuk melayani-Nya dalam pekerjaan penebusan. Ia harus mati, sebab Ia harus ditahbiskan oleh darah-Nya sendiri. Tetapi Ia tidak boleh melihat kebinasaan, sebab kematian-Nya akan menjadi bagi Allah persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Hal ini diperlambangkan oleh hukum mengenai korban persembahan, bahwa apa yang masih tinggal dari daging korban sembelihan sampai hari yang ketiga tidak boleh dimakan, karena takut kalau-kalau sudah hancur dan mulai membusuk (Im. 7:15-18).
                (3) Bahwa kematian dan penderitaan-penderitaan-Nya akan menjadi, bukan hanya bagi Dia, melainkan juga bagi semua kepunyaan-Nya, pintu masuk bagi kehidupan kekal yang penuh berkat: “Engkau memberitahukan kepada-Ku jalan-jalan kehidupan, dan melalui Aku memberitahukannya kepada dunia, dan membentangkannya terbuka.” Ketika Bapa memberikan hidup kepada Anak dalam diri-Nya sendiri, kuasa untuk memberikan nyawa-Nya dan mengambilnya kembali, pada saat itulah Ia memberitahukan kepada-Nya jalan hidup, baik untuk masuk maupun keluar. Pintu gerbang maut dan pintu gerbang kelam pekat tersingkap bagi-Nya (Ayb. 38:17), untuk Dia lewat dan kembali lagi, sesuai apa yang dipandang-Nya perlu, bagi penebusan manusia.
                (4) Bahwa semua dukacita dan penderitaan-Nya akan berakhir dalam kebahagiaan yang sempurna dan abadi: Engkau akan melimpahi Aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Upah yang disediakan bagi-Nya adalah sukacita, sukacita yang penuh, dan itu dirasakan di hadapan Allah (KJV: dalam perkenanan Allah -" pen.), dalam perkenanan yang diberikan-Nya kepada Dia dalam pekerjaan-Nya, dan kepada semua orang yang, demi Dia, akan percaya kepada-Nya. Senyuman-senyuman yang dengannya Bapa menerima Dia, ketika, pada kenaikan-Nya, Ia dibawa ke hadapan Yang Lanjut Usianya, memenuhi Dia dengan sukacita yang tidak terkatakan, dan itu adalah sukacita Tuhan kita, yang ke dalamnya semua kepunyaan-Nya akan masuk, dan yang di dalamnya mereka akan berbahagia untuk selama-lamanya.
        Kedua, tafsiran atas nas ini, terutama yang begitu banyak berkaitan tentang kebangkitan Kristus. Petrus berbicara kepada mereka dengan memberikan sebutan hormat, saudara-saudara (ay. Kis 2:29, KJV: men and brethren-" sesama manusia dan saudara -" pen.). “Engkau adalah manusia, dan oleh sebab itu harus dipimpin oleh akal budi. Engkau adalah saudara, dan oleh sebab itu harus menerima dengan baik apa yang dikatakan kepadamu oleh orang yang, karena berkerabat dekat denganmu, dengan sepenuh hati memperhatikan kamu, dan mengharapkan yang terbaik bagimu. Sekarang, izinkanlah aku untuk berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita, dan janganlah engkau tersinggung apabila aku memberi tahu kamu bahwa di sini Daud tidak bisa dipahami berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan tentang Kristus yang akan datang.” Daud di sini disebut sebagai bapak bangsa, karena ia adalah bapak dari keluarga raja, dan orang yang sangat terpandang serta ternama dalam angkatannya, dan yang namanya serta kenangan akan dia sudah sewajarnya dipandang sangat berharga. Nah, ketika kita membaca mazmurnya itu, kita harus mempertimbangkan,
            1. Bahwa Daud tidak bisa mengatakan itu tentang dirinya sendiri, sebab ia telah mati, dan dikubur, dan kuburannya masih ada di Yerusalem sampai hari ini, saat Petrus mengatakan ini, dan tulang-tulang serta debu-debunya ada di dalamnya. Tak seorang pun pernah mengaku-ngaku bahwa ia sudah bangkit, dan oleh sebab itu ia tidak pernah bisa berkata tentang dirinya sendiri bahwa ia tidak melihat kebinasaan. Sebab sudah jelas bahwa ia memang melihat kebinasaan. Rasul Paulus juga menegaskan hal ini (13:35-37). Walaupun ia seorang yang berkenan di hati Allah, namun ia menempuh segala jalan yang fana, seperti yang dikatakannya sendiri (1Raj. 2:2), baik dengan mati maupun dikuburkan.
            2. Oleh sebab itu, pastilah Daud mengatakannya sebagai seorang nabi, dengan pandangan yang tertuju kepada Mesias, yang penderitaan-penderitaan-Nya ditegaskan oleh para nabi sebelumnya, dan bersama-sama dengan penderitaan-penderitaan itu segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Begitu pula Daud dalam Mazmur itu, seperti yang dengan jelas ditunjukkan Petrus di sini.
                (1) Daud tahu bahwa Mesias harus diturunkan dari keturunannya (ay. Kis 2:30), bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Allah menjanjikan dia seorang Anak, yang akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya (2Sam. 7:12). Dan dikatakan (Mzm. 132:11), TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud. Ketika Yesus Tuhan kita dilahirkan, dijanjikan bahwa Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya (Luk. 1:32). Dan seluruh Israel tahu bahwa Mesias akan menjadi Anak Daud, maksudnya, bahwa, menurut daging, Ia adalah Anak Daud melalui kodrat manusia-Nya. Ini harus dilihat secara demikian, sebab secara roh, dan sesuai dengan kodrat ilahi-Nya, Ia akan menjadi Tuhan Daud, bukan Anaknya. Oleh karena Allah sudah bersumpah kepada Daud bahwa Mesias, yang dijanjikan kepada bapa leluhurnya, akan menjadi anak dan penerusnya, buah dari keturunannya, dan ahli waris bagi takhtanya, maka ia senantiasa memandang pada hal ini, ketika ia menuliskan mazmur-mazmurnya.
                (2) Karena Kristus berasal dari keturunannya, dan oleh sebab itu ada di dalam dirinya ketika ia menuliskan mazmur itu (seperti Lewi dikatakan ada dalam diri Abraham ketika ia membayar sepersepuluh kepada Melkisedek), dan jika apa yang dikatakannya, yang seolah-olah tentang dirinya sendiri, tidak dapat diterapkan kepada dia sendiri (seperti yang memang sudah jelas tidak demikian), maka kita harus menyimpulkan bahwa perkataannya itu menunjuk pada anaknya yang pada waktu itu ada dalam dirinya, yang di dalam Dia keluarga dan kerajaannya akan mencapai kesempurnaan dan keabadian. Dan oleh sebab itu, ketika ia berkata bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, atau bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan, tanpa diragukan lagi ia harus dimengerti sedang berbicara tentang kebangkitan Kristus (ay. Kis 2:31). Dan sama seperti Kristus mati, demikian pula Ia telah dibangkitkan, sesuai dengan Kitab Suci, dan bahwa tentang hal itu kami semua adalah saksi-saksinya.
                (3) Di sini tertulis juga sekilas tentang kenaikan-Nya. Sama seperti Daud tidak bangkit dari antara orang mati, demikian pula ia tidak naik ke sorga, secara jasmani, seperti Kristus (ay. Kis 2:34). Dan lebih jauh lagi, untuk membuktikan bahwa ketika Daud berbicara tentang kebangkitan yang dimaksudkannya adalah Kristus, Petrus mengamati bahwa ketika dalam Mazmur lain Daud berbicara tentang apa yang terjadi berikutnya setelah pengangkatan-Nya, Daud jelas-jelas menunjukkan bahwa ia berbicara tentang orang lain, bahkan seperti tentang seseorang yang adalah Tuannya (Mzm. 110:1): “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku, setelah Ia membangkitkan Dia dari antara orang mati, “Duduklah di sebelah kanan-Ku,” dalam kehormatan dan kekuasaan yang tertinggi di sini. Kini Engkau dipercayai untuk mengatur baik kerajaan pemeliharaan ilahi maupun anugerah. Duduklah di sini sebagai raja, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi kawan-kawanmu atau tumpuan kakimu (ay. Kis 2:35). Kristus bangkit dari antara orang mati untuk naik lebih tinggi, dan oleh sebab itu sudah pasti tentang kebangkitan-Nyalah Daud berbicara, dan bukan tentang kebangkitannya sendiri, dalam Mazmur 16. Sebab tidak ada alasan bagi dia untuk bangkit dari kuburnya, jika ia tidak akan naik ke sorga.

(4) Penerapan dari pembahasan tentang kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ini.
                    [1] Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ini menjelaskan arti dari pencurahan Roh yang menakjubkan yang sedang terjadi sekarang, dalam karunia-karunia yang luar biasa itu. Sebagian dari orang-orang yang hadir itu bertanya (ay. Kis 2:12), apakah artinya ini? Aku beri tahu kamu artinya, sahut Petrus. Yesus ini ditinggikan di sebelah kanan Allah, begitu sebagian orang membacanya, untuk duduk di sana. Ditinggikan oleh tangan kanan Allah, begitu kita membacanya, dengan kuasa dan wewenang-Nya. Keduanya sama saja artinya. Dan karena sudah menerima dari Bapa, yang kepada-Nya Ia sudah naik, Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka Ia memberikan apa yang sudah diterima-Nya (Mzm. 68:19), dan dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. Sebab Roh Kudus akan diberikan ketika Yesus dimuliakan, dan tidak sebelum itu (Yoh. 7:39). Kamu melihat dan mendengar kami berbicara dengan bahasa-bahasa yang tidak pernah kami pelajari. Mungkin ada perubahan yang tampak pada wajah mereka, yang dilihat oleh orang banyak itu, dan juga ada perubahan yang terdengar pada suara dan bahasa mereka. Nah, semua ini datangnya dari Roh Kudus, yang kedatangan-Nya merupakan bukti bahwa Yesus sudah ditinggikan, dan Ia sudah menerima karunia ini dari Bapa, untuk disampaikan kepada jemaat, yang jelas-jelas menyatakan Dia sebagai Pengantara, atau Penengah antara Allah dan jemaat. Karunia Roh Kudus adalah, pertama, penggenapan dari janji-janji ilahi yang sudah dibuat. Di sini disebut Roh Kudus yang dijanjikan. Sudah banyak janji yang sangat besar dan berharga yang diberikan kepada kita oleh kuasa ilahi, tetapi inilah janji yang unggul itu, seperti janji tentang kedatangan Mesias sebelumnya, dan inilah janji yang mencakup semua janji lain. Dari sini kita bisa melihat bahwa Allah yang memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Luk. 11:13) berarti bahwa Dia memberi mereka semua pemberian yang baik (Mat. 7:11). Kristus menerima Roh Kudus yang dijanjikan, maksudnya, karunia Roh Kudus yang dijanjikan, dan telah memberikannya kepada kita. Sebab semua janji Allah adalah “Ya” dan “Amin” di dalam Dia.Kedua, karunia itu merupakan tanda jaminan dari segala kebaikan ilahi yang dimaksudkan untuk waktu-waktu berikutnya. Apa yang sekarang kamu lihat dan dengar hanyalah merupakan pertanda dari perkara-perkara yang lebih besar.
                    [2] Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ini membuktikan apa yang kamu semua harus percayai, bahwa Kristus Yesus adalah Mesias dan Juru Selamat dunia yang sesungguhnya. Dengan inilah Petrus menutup khotbahnya, sebagai akhir kata dari segalanya, quod erat demonstrandum -" kebenaran yang harus ditunjukkan (ay. Kis 2:36): Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa kebenaran ini sekarang sudah mendapat penggenapannya yang penuh, dan kita mendapat amanat penuh untuk memberitakannya, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. Mereka dilarang memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias sampai sesudah kebangkitan-Nya (Mat. 16:20; 17:9). Tetapi sekarang hal itu harus diberitakan dari atas atap rumah, kepada seluruh kaum Israel. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! Pernyataan itu tidak diajukan sebagai suatu kemungkinan, tetapi ditegaskan sebagai hal yang pasti: Mereka harus tahu dengan pasti, dan tahu bahwa sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk menerimanya sebagai perkataan yang benar,
                    pertama, bahwa Allah sudah memuliakan Dia yang mereka salibkan. Hal ini memperberat kefasikan mereka, bahwa mereka menyalibkan Dia yang dirancang Allah untuk dipermuliakan, dan menghukum mati sebagai penipu Dia yang sudah sedemikian memberikan bukti-bukti kuat tentang misi ilahi-Nya. Dan hal ini semakin memperbesar hikmat dan kuasa Allah, bahwa meskipun mereka menyalibkan Dia, dan berpikir dengan berbuat demikian memberikan kepada Dia tanda aib yang tidak bisa dihapus, namun Allah sudah memuliakan Dia, dan penghinaan-penghinaan yang sudah mereka perbuat terhadap-Nya justru mendatangkan kemilau terang-Nya.
                    Kedua, bahwa Allah sudah memuliakan Dia sedemikian rupa sehingga menjadikan-Nya Tuhan dan Kristus. Kedua pernyataan ini sama saja artinya. Dia adalah Tuhan dari semua orang, dan bukan seorang perebut kekuasaan, melainkan Kristus, yang diurapi untuk menjadi Kristus. Dia adalah satu Tuhan bagi orang-orang bukan-Yahudi, yang sebelum ini mempunyai banyak Tuhan. Dan bagi orang-orang Yahudi Ia adalah Mesias, yang mencakup semua kedudukan-Nya. Dia adalah Mesias Sang Raja, sebagaimana Alkitab bahasa Aram menyebut-Nya. Atau, seperti malaikat yang berkata kepada Daniel, seorang yang diurapi (Dan. 9:25, KJV: Mesias Sang Penguasa -" pen.). Inilah kebenaran agung dari Injil yang harus kita percayai, bahwa Yesus yang sama itu, yang disalibkan di Yerusalem, adalah Dia yang kepada-Nya kita harus setia, dan yang dari Dia kita harus mengharapkan perlindungan, sebagai Tuhan dan Kristus.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Selasa, 21 Mei 2024 - Yesus Jawaban Atas Persoalan Hidup - Kisah Para Rasul 2:25-28

Sebelum:
Khotbah GMIM Minggu, 19 Mei 2024 - HIDUPLAH DALAM PIMPINAN ROH KUDUS - Kisah Para Rasul 2:14-40




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2024..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,