|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2024 Minggu, 19 Mei 2024 Khotbah GMIM Minggu, 19 Mei 2024 - HIDUPLAH DALAM PIMPINAN ROH KUDUS - Kisah Para Rasul 2:14-40 Penjelasannya tentang pencurahan Roh secara ajaib Kisah Para Rasul 2:14-40 Khotbah Petrus 2:14 Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. 2:15 Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, 2:16 tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: 2:17 Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. 2:18 Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. 2:19 Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. 2:20 Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu. 2:21 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. 2:22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. 2:23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. 2:24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. 2:25 Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 2:26 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, 2:27 sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 2:28 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. 2:29 Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. 2:30 Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. 2:31 Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. 2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. 2:33 Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. 2:34 Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: 2:35 Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. 2:36 Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." 2:37 Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" 2:38 Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. 2:39 Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." 2:40 Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini." Penjelasan: * Khotbah Petrus di Yerusalem ( Kis 2:14-36) Di sini kita mendapati buah-buah Roh yang pertama dalam khotbah yang ditujukan Petrus secara langsung, bukan kepada orang-orang dari bangsa-bangsa lain dalam suatu bahasa yang asing (kita tidak diberi tahu jawaban apa yang diberikannya kepada mereka yang terheran-heran dan berkata apakah artinya ini?), melainkan kepada orang-orang Yahudi sendiri dalam bahasa mereka sendiri, bahkan kepada mereka yang mengejek. Sebab ia memulai dengan menanggapi ejekan itu (ay. Kis 2:15) saat menyampaikan khotbahnya (ay. Kis 2:14): kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem. Tetapi kita mempunyai cukup alasan untuk berpikir bahwa murid-murid yang lain terus berbicara kepada orang-orang yang memahami mereka (dan oleh sebab itu orang-orang itu berkerumun di sekeliling mereka) dalam bahasa mereka masing-masing, tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Dan bukan hanya melalui pemberitaan Petrus saja, melainkan juga melalui pemberitaan semua atau sebagian besar dari keseratus dua puluh orang murid itu sehingga tiga ribu jiwa bertobat pada hari itu, dan ditambahkan ke dalam jemaat itu. Walaupun begitu, hanya khotbah Petrus yang dicatat, untuk menjadi bukti bagi dia bahwa ia sudah sepenuhnya dipulihkan dari kejatuhannya, dan sepenuhnya dikembalikan pada perkenanan ilahi. Dia yang secara pengecut sudah menyangkal Kristus sekarang mengakui Dia dengan berani. Amatilah, I. Kata-kata pembuka atau pengantarnya, yang di dalamnya ia ingin menarik perhatian para pendengar, atau lebih tepatnya menuntut perhatian mereka: Petrus bangkit berdiri (ay. Kis 2:14), untuk menunjukkan bahwa ia tidak mabuk, dengan kesebelas rasul itu, yang sepakat dengan apa yang dikatakannya, dan yang mungkin pada gilirannya berbicara juga untuk maksud yang sama. Murid-murid yang mempunyai wewenang paling besar berdiri untuk berbicara kepada orang-orang Yahudi yang mengolok-olok, dan untuk menghadapi orang-orang yang menentang dan menghujat, tetapi membiarkan ketujuh puluh murid berbicara kepada para penganut agama Yahudi dari bangsa-bangsa lain yang mau mendengar, yang tidak berprasangka begitu buruk seperti itu, dalam bahasa mereka sendiri. Demikianlah di antara hamba-hamba Kristus, sebagian orang yang memiliki karunia-karunia yang lebih besar dipanggil untuk mengajar orang-orang yang menentang mereka, untuk mengangkat pedang dan tombak. Sebagian yang lain yang mempunyai kemampuan-kemampuan lebih kecil dipekerjakan untuk mengajar orang-orang yang berserah diri, dan untuk menjadi tukang-tukang kebun dan peladang-peladang. Petrus berkata dengan suara nyaring, sebagai orang yang benar-benar yakin maupun bersemangat dengan apa yang dikatakannya, dan yang tidak takut ataupun malu untuk mengakuinya. Ia mengarahkan perkataannya kepada orang-orang Yudea, andres Ioudaioi -" orang-orang Yahudi (demikianlah perkataan itu seharusnya dibaca) “dan terutama kalian yang tinggal di Yerusalem, yang berperan dalam kematian Yesus, ketahuilah, apa yang tidak kamu ketahui sebelumnya, dan yang penting untuk kamu ketahui sekarang, dan camkanlah perkataanku ini, yang akan mendekatkanmu kepada Kristus, dan bukan kepada perkataan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang akan menjauhkanmu dari-Nya. Guruku, yang perkataan-Nya acap kali kamu dengar dengan sia-sia, telah pergi, dan tidak akan kamu dengar lagi seperti dulu, tetapi Ia berbicara kepada kamu sekarang melalui kami. Camkanlah sekarang perkataan kami ini.” II. Jawabannya terhadap fitnah mereka yang menghujat (ay. Kis 2:15): “Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka. Murid-MuridKristus ini, yang sekarang berbicara dalam bahasa-bahasa lain, berbicara dengan akal sehat. Mereka tahu apa yang mereka katakan, dan begitu pula dengan orang-orang yang mereka ajak bicara, yang dibimbing melalui perkataan-perkataan mereka untuk mengetahui perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Jangan pikir mereka mabuk, karena hari baru pukul sembilan.” Dan, sebelum pukul sembilan, pada hari-hari Sabat dan hari-hari raya, orang-orang Yahudi tidak makan atau minum. Bahkan, biasanya, orang-orang yang mabuk, mabuk pada malam hari, dan bukan pada pagi hari. Lagi pula, mereka yang sungguh-sungguh sudah kecanduan mabuk, biasanya bila siuman, langsung mencari anggur lagi (Ams. 23:35). III. Penjelasannya tentang pencurahan Roh secara ajaib, yang dirancang untuk menggugah mereka semua agar beriman kepada Kristus dan menggabungkan diri kepada jemaat-Nya. Dua hal yang disimpulkannya dari situ: bahwa peristiwa itu merupakan penggenapan Kitab Suci dan buah dari kebangkitan serta kenaikan Kristus, dan karena itu bukti dari kedua-duanya. 1. Bahwa itu merupakan penggenapan dari nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama yang berhubungan dengan kerajaan Mesias, dan oleh sebab itu merupakan bukti bahwa kerajaan-Nya sudah datang, dan ramalan-ramalan lain tentangnya sedang dipenuhi. Ia menunjuk satu nubuatan secara khusus, yaitu nubuatan nabi Yoël (Yl. 2:28). Dapat diamati bahwa walaupun Petrus penuh dengan Roh Kudus, lalu berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepadanya untuk mengatakannya, ia tidak mengesampingkan Kitab Suci, atau menganggap dirinya sudah lebih tahu dari Kitab Suci. Malahan, banyak dari perkataannya adalah kutipan dari Perjanjian Lama, yang diserukannya, dan yang dengannya ia membuktikan apa yang dikatakannya. Murid-murid Kristus tidak pernah belajar di luar Alkitab mereka. Juga, Roh diberikan bukan untuk menggantikan Kitab Suci, melainkan untuk membuat kita mampu memahami dan mengembangkannya. Amatilah, Nas yang dikutip Petrus itu (ay. Kis 2:17-21). Nas itu merujuk pada hari-hari terakhir, masa-masa Injil, yang disebut hari-hari terakhir karena pembabakan waktu (dispensasi) dalam kerajaan Allah di tengah-tengah manusia, yang didirikan oleh Injil, merupakan pembabakan terakhir dari anugerah ilahi, dan kita tidak perlu menantikan yang lain selain dari kelanjutan pembabakan ini sampai akhir zaman. Atau, hari-hari terakhir, maksudnya, dalam waktu yang sangat lama setelah berhentinya nubuatan dalam jemaat Perjanjian Lama. Atau, pada hari-hari tepat sebelum kehancuran bangsa Yahudi, pada hari-hari terakhir bangsa itu, tepat sebelum hari Tuhan, hari yang besar dan mulia yang dibicarakan itu (ay. Kis 2:20). “Peristiwa ini sudah dinubuatkan dan dijanjikan, dan oleh sebab itu kamu harus mengharapkannya, dan tidak terkejut olehnya. Kamu harus menginginkannya dan menyambutnya, dan tidak memperbantahkannya, sebagai sesuatu yang tidak layak diperhatikan.” Rasul Petrus mengutip seluruh paragraf, sebab sungguh baik melihat Kitab Suci secara keseluruhan. Nah, sudah dinubuatkan, - Bahwa akan ada pencurahan Roh anugerah dari atas yang lebih berlimpah dan lebih luas daripada sebelum-sebelumnya. Nabi-nabi Perjanjian Lama sudah penuh dengan Roh Kudus, dan dikatakan tentang bangsa Israel bahwa Allah memberikan kepada mereka Roh-Nya yang baik untuk mengajar mereka (Neh. 9:20). Tetapi sekarang Roh akan dicurahkan, bukan hanya ke atas orang-orang Yahudi, melainkan juga ke atas semua manusia, baik orang-orang bukan-Yahudi maupun orang-orang Yahudi, meskipun pada waktu itu Petrus sendiri tidak memahaminya demikian, seperti yang tampak dalam pasal 11:17. Atau, ke atas semua manusia, maksudnya, ke atas semua manusia dari segala jenis kedudukan dan keadaan. Cendekiawan-cendekiawan Yahudi mengajarkan bahwa Roh hanya datang ke atas orang-orang bijak dan kaya, dan mereka itu adalah keturunan Israel. Tetapi Allah tidak mau mengikat diri-Nya pada peraturan-peraturan mereka. - Bahwa Roh yang ada pada mereka adalah Roh nubuatan. Oleh bantuan Roh itu mereka akan dimampukan untuk menubuatkan hal-hal yang akan datang, dan untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk. Kuasa ini akan diberikan tanpa peduli laki-laki atau perempuan. Sekarang bukan hanya anak-anakmu laki-laki, melainkan juga anak-anakmu perempuan akan bernubuat. Tanpa pembedaan usia, baik teruna-terunamu maupun orang-orangmu yang tua akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan akan mendapat mimpi, dan melalui semuanya itu mereka menerima pewahyuan-pewahyuan ilahi, untuk disampaikan kepada jemaat. Juga, tanpa membedakan keadaan lahiriah, bahkan hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan akan menerima Roh, dan akan bernubuat (ay. Kis 2:18). Atau, secara umum, laki-laki dan perempuan, yang disebut Allah sebagai hamba-hamba-Nya laki-laki dan hamba-hamba-Nya perempuan. Pada permulaan masa nubuatan dalam Perjanjian Lama, ada sekolah-sekolah para nabi, dan, sebelum itu, Roh nubuat datang ke atas tua-tua Israel yang ditunjuk untuk memerintah. Tetapi sekarang Roh akan dicurahkan ke atas orang-orang yang berkedudukan lebih rendah, dan orang-orang demikian tidak terdidik di sekolah-sekolah para nabi, sebab kerajaan Mesias harus murni bersifat rohani. Disebutkannya anak-anak perempuan (ay. Kis 2:17) dan hamba-hamba perempuan (ay. Kis 2:18) di sini akan membuat orang berpikir bahwa beberapa perempuan yang disebutkan di sini (1:14) menerima karunia-karunia Roh Kudus yang luar biasa, seperti juga kaum laki-lakinya. Filipus, sang penginjil, mempunyai empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat (21:9), dan Rasul Paulus, setelah mendapatkan karunia-karunia yang berlimpah baik dalam hal bahasa roh maupun nubuatan di jemaat Korintus, memandang perlu untuk melarang kaum perempuan menggunakan karunia-karunia itu di depan umum (1Kor. 14:26, 34). - Bahwa satu perkara besar yang harus mereka nubuatkan adalah penghakiman yang akan segera menimpa bangsa Yahudi, sebab ini merupakan hal utama yang sudah dinubuatkan Kristus sendiri (Mat. 24) pada saat Dia memasuki Yerusalem (Luk. 19:41), dan ketika Ia akan mati (Luk. 23:29). Dan penghakiman-penghakiman ini akan dijatuhkan ke atas mereka untuk menghukum mereka karena penghinaan mereka terhadap Injil, dan perlawanan mereka terhadapnya, sementara Injil telah datang kepada mereka dengan membawa bukti yang sedemikian kuatnya. Orang-orang yang tidak mau tunduk pada kuasa anugerah Allah, saat terjadi pencurahan Roh-Nya yang menakjubkan ini, harus jatuh terkapar di bawah pencurahan-pencurahan bejana murka-Nya. Yang tidak mau membengkok pasti akan patah. Pertama, kehancuran Yerusalem, yang terjadi kira-kira empat puluh tahun sesudah kematian Kristus di sini disebut sebagai hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu, sebab peristiwa itu mengakhiri masa tata aturan Musa. Keimaman suku Lewi dan hukum upacara keagamaan dengan demikian sudah dihapus dan ditinggalkan untuk selama-lamanya. Penghancuran itu sendiri terjadi sedemikian rupa seperti yang belum pernah terjadi atas tempat atau bangsa mana pun, entah sebelum atau sesudahnya. Itu adalah hari Tuhan, sebab hari itu adalah hari pembalasan-Nya terhadap bangsa itu karena sudah menyalibkan Kristus, dan menganiaya hamba-hamba-Nya. Itu adalah tahun pengganjaran karena perkara Sion itu. Bahkan, atas seluruh darah orang-orang kudus dan para martir, mulai dari darah Habel, orang benar itu (Mat. 23:35). Itu adalah hari penghakiman yang sebentar. Hari itu adalah hari yang mulia. Dalam Kitab Yoël, hari itu disebut sebagai hari yang dahsyat, sebab begitulah hari itu bagi orang-orang di bumi. Tetapi di sini disebut epiphane (menurut Septuaginta), hari yang mulia dan gemerlap, sebab begitulah hari itu bagi Kristus di sorga. Hari itu adalah epifani, penampakan-Nya, begitulah Dia sendiri berbicara tentangnya (Mat. 24:30). Kehancuran orang-orang Yahudi merupakan pembebasan bagi orang-orang Kristen, yang dibenci dan dianiaya oleh mereka. Dan karena itu, hari itu sering kali dibicarakan oleh nabi-nabi pada waktu itu, untuk membesarkan hati orang-orang Kristen yang menderita, bahwa Tuhan sudah dekat, kedatangan Tuhan sudah dekat, Hakim telah berdiri di ambang pintu (Yak. 5:8-9). Kedua, pertanda-pertanda yang mengerikan dari kehancuran itu dinubuatkan di sini: Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit, matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah; dan tanda-tanda di bawah juga, di bumi: darah dan api. Yosefus, dalam kata pengantar untuk buku sejarahnya tentang peperangan orang Yahudi, berbicara tentang tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban yang mendahului peperangan itu, guruh, petir, dan gempa bumi yang dahsyat. Ada komet berapi yang menggantung di atas kota selama setahun, dan pedang menyala-nyala terlihat menunjuk dari atas ke arah kota itu. Terang bersinar di Bait Allah dan di mezbah pada tengah malam, seolah-olah hari masih siang. Dr. Lightfoot memberikan pengertian lain terhadap tanda-tanda ini: darah Anak Allah, api Roh Kudus yang sekarang tampak, kabut dari awan yang di dalamnya Kristus naik, matahari menjadi gelap, dan bulan menjadi darah pada saat penderitaan Kristus, semua itu merupakan peringatan-peringatan keras terhadap bangsa yang tidak percaya itu untuk bersiap diri menghadapi penghakiman-penghakiman yang akan datang ke atas mereka. Atau, pernyataan itu dapat diterapkan, dan dengan sangat sesuai, kepada penghakiman-penghakiman sebelumnya, yang melaluinya kehancuran itu ditimpakan. Darah menunjuk pada peperangan orang-orang Yahudi dengan bangsa-bangsa di sekitarnya, dengan orang-orang Samaria, orang-orang Aram, orang-orang Yunani, yang di dalamnya darah tercurah dengan berlimpah-limpah, seperti juga pada peperangan mereka melawan sesama saudara, dan pemberontakan-pemberontakan kaum penghasut (sebagaimana mereka sendiri menyebutnya), yang sangat berdarah. Tidak ada damai bagi orang yang keluar atau yang masuk. Api dan gumpalan-gumpalan asap, yang di sini dinubuatkan, digenapi secara harfiah ketika kota-kota, jalan-jalan, dan tempat-tempat ibadah, dan terakhir Bait Allah mereka, dibakar. Dan berubahnya matahari menjadi gelap, dan bulan menjadi darah ini bercerita tentang hancur berantakannya pemerintahan mereka, baik yang duniawi maupun rohani, dan padamnya semua terang mereka. Ketiga, pertanda pemeliharaan terhadap umat Allah dijanjikan di sini (ay. Kis 2:21): Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan Yesus (dan ini gambaran yang benar dari seorang Kristen sejati, 1Kor. 1:2) akan diselamatkan, akan terhindar dari penghakiman itu. Keselamatan dari penghakiman ini menjadi pelambang dan pertanda dari keselamatan kekal. Dalam penghancuran Yerusalem oleh orang-orang Kasdim, terdapat umat sisa yang dimeteraikan untuk disembunyikan pada hari kemurkaan TUHAN. Dan dalam penghancuran Yerusalem oleh orang-orang Romawi, tak seorang Kristen pun binasa. Orang-Orangyang membedakan diri dengan tetap berlaku saleh akan dibedakan dengan pemeliharaan yang istimewa. Dan amatilah, umat sisa yang selamat digambarkan dengan hal ini, yaitu bahwa mereka adalah umat pendoa: mereka berseru kepada nama Tuhan, yang menunjukkan bahwa mereka tidak diselamatkan oleh jasa atau kebenaran mereka sendiri, melainkan murni oleh anugerah Allah, yang harus dimintakan melalui doa. Nama Tuhanlah yang mereka serukan, yang menjadi menara kekuatan bagi mereka. Penerapan dari nubuatan ini kepada peristiwa sekarang (ay. Kis 2:16): Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoël: inilah penggenapan dari nubuatan itu, penggenapannya yang penuh. Inilah pencurahan Roh kepada semua orang yang harus datang itu, dan kita tidak perlu menantikan yang lain, sama seperti kita tidak perlu menantikan Mesias lain. Sebab seperti halnya Mesias kita senantiasa hidup di sorga, bertakhta dan menjadi Pengantara bagi jemaat-Nya di bumi, demikian pula Roh anugerah ini, Sang Pembela, atau Penghibur, yang diberikan sekarang, sesuai dengan janji, akan terus ada, sesuai dengan janji yang sama, bersama-sama dengan jemaat di bumi sampai pada akhir zaman, dan akan mengerjakan semua pekerjaan-Nya di dalam dan untuk jemaat itu, dan untuk setiap anggotanya, baik yang awam maupun yang menjadi hamba-hamba Tuhan, melalui sarana Kitab Suci dan pelayanan. Bahwa karunia itu adalah karunia Kristus, dan hasil serta bukti dari kebangkitan dan kenaikan-Nya. Melalui peristiwa karunia Roh Kudus ini, Petrus mengambil kesempatan untuk memberitakan Yesus kepada mereka. Dan bagian khotbahnya ini ia sampaikan dengan kata pengantar lain yang khidmat (ay. Kis 2:22): “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini. Karena belas kasihanlah kamu bisa mendengar perkataan ini, dan sudah menjadi kewajibanmulah untuk memperhatikannya.” Perkataan-perkataan mengenai Kristus harus bisa diterima oleh orang-orang Israel. Inilah, (1) Ringkasan sejarah kehidupan Kristus (ay. Kis 2:22). Petrus menyebut-Nya Yesus dari Nazaret, karena dengan nama itulah Ia dikenal secara umum, tetapi (yang sudah cukup untuk menyingkirkan celaan itu) Ia adalah seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu, yang dicela dan dikutuk oleh manusia, tetapi diteguhkan oleh Allah. Allah memberikan kesaksian akan peneguhan-Nya terhadap ajaran Kristus melalui kuasa yang diberikan-Nya kepada Dia untuk mengerjakan mujizat-mujizat: seorang yang telah ditandai oleh Allah, begitulah Dr. Hammond membacanya. “Ia telah dijadikan tanda dan keajaiban di tengah-tengah kalian yang sekarang sedang mendengarkan aku. Ia diutus kepadamu, Ia menegakkan terang yang mulia di negerimu. Kamu sendiri adalah saksi bagaimana Ia menjadi terkenal melalui kekuatan-kekuatan, mujizat-mujizat, dan tanda-tanda, pekerjaan-pekerjaan yang di luar kuasa alam, di luar jalur biasa, dan yang bertentangan dengannya, yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia. Maksudnya, yang dilakukan-Nya dengan kuasa ilahi yang menyelubungi-Nya, dan yang di dalamnya Allah jelas-jelas menyertai Dia. Sebab tidak ada seorang pun yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan itu, jika Allah tidak menyertai-Nya.” Lihatlah betapa Petrus menekankan mujizat-mujizat Kristus. - Kenyataan itu tidak bisa disangkal: “Mujizat-mujizat itu dilakukan di tengah-tengah kamu, di tengah-tengah negerimu, kotamu, perkumpulan-perkumpulan ibadahmu, seperti yang kamu sendiri tahu. Kamu sudah menjadi saksi-saksi mata dari mujizat-mujizat-Nya. Biarkan aku bertanya kepadamu, adakah bukti yang kamu punya sebagai keberatan untuk melawannya, atau ada yang bisa kamu katakan untuk menyangkalnya?” - Kesimpulan yang bisa ditarik dari semua kenyataan itu tidak bisa disanggah. Pembuktiannya sama kuat dengan buktinya. Jika Ia melakukan mujizat-mujizat itu, sudah pasti Allah berkenan pada-Nya. Allah menyatakan bahwa Dia memang demikian adanya, seperti yang dinyatakan-Nya sendiri, bahwa Dialah Anak Allah dan Juru Selamat dunia. Sebab Allah segala kebenaran tidak akan membuat meterai-Nya berdusta. Pernyataan tentang kematian dan penderitaan-penderitaan-Nya, yang juga mereka saksikan hanya beberapa minggu lalu. Dan ini adalah mujizat terbesar dari semuanya, bahwa orang yang diakui Allah sendiri tampaknya sampai ditinggalkan begitu saja oleh-Nya. Juga, bahwa orang yang sedemikian mendapat perkenanan di hati masyarakat, dan di tengah-tengah mereka, sampai dicampakkan oleh mereka sendiri seperti itu. Tetapi kedua rahasia ini dijelaskan di sini (ay. Kis 2:23), dan kematian-Nya dipandang, - Sebagai perbuatan Allah. Dan di dalam Dia kematian-Nya itu adalah suatu perbuatan anugerah dan hikmat yang menakjubkan. Allah menyerahkan-Nya kepada maut. Tidak hanya mengizinkan Dia dihukum mati, tetapi juga menyerahkan Dia, mempersembahkan Dia. Hal ini dijelaskan dalam Roma 8:32, Ia menyerahkan-Nya bagi kita semua. Sekalipun demikian, Ia diakui oleh Allah, dan tidak ada suatu apa pun di dalamnya yang menandakan bahwa Allah tidak berkenan kepada-Nya. Sebab hal itu terlaksana menurut maksud dan rencana-Nya, dalam hikmat yang tak terbatas, dan untuk tujuan-tujuan suci, yang disetujui oleh Kristus sendiri, termasuk cara dan sarana yang dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Demikianlah keadilan ilahi harus dipuaskan, orang-orang berdosa diselamatkan, Allah dan manusia dipersatukan kembali, dan Kristus sendiri dipermuliakan. Bukan hanya menurut kehendak Allah, melainkan juga menurut keputusan kehendak-Nya, bahwa Ia harus menderita dan mati, sesuai dengan keputusan yang kekal, yang tidak bisa diubah. Hal ini mendamaikan Kristus dengan salib: Bapa, jadilah kehendak-Mu, dan Bapa, muliakanlah nama-Mu. Biarlah maksud-Mu terlaksana, dan biarlah tujuan agung-Mu tercapai. - Sebagai perbuatan orang banyak. Dan di dalam diri mereka perbuatan itu adalah perbuatan yang luar biasa berdosa dan bodoh. Perbuatan itu adalah pergulatan melawan Allah untuk menganiaya orang yang diakui-Nya sebagai kesayangan sorga. Dan itu juga adalah perlawanan menentang belas kasihan yang diperuntukkan bagi mereka sendiri, sebab mereka menganiaya orang yang menjadi berkat terbesar bagi bumi ini. Rancangan Allah sejak dari kekekalan, ataupun tindakan-Nya yang membawa kebaikan dari rancangan itu sampai pada kekekalan, tidak akan mengampuni dosa mereka sedikit pun. Sebab itu adalah pekerjaan dan perbuatan mereka secara sukarela, yang lahir dari sebuah asas yang jahat secara moral, dan oleh sebab itu “mereka adalah tangan bangsa-bangsa durhaka yang menyalibkan dan membunuh Dia.” Ada kemungkinan bahwa sebagian dari mereka yang hadir di sini adalah orang-orang yang sebelumnya berseru, salibkanlah Dia, salibkanlah Dia, atau yang jika tidak demikian halnya sudah membantu dan bersekongkol dalam pembunuhan itu, dan Petrus tahu ini. Namun, bagaimanapun juga, sudah sewajarnya hal itu dipandang sebagai perbuatan seluruh bangsa, karena dilakukan dengan pemungutan suara majelis agung dan dengan suara kerumunan orang banyak. Sudah menjadi aturan, Refertur ad universos quod publice fit per majorem partem -" Apa yang dilakukan secara umum oleh sebagian besar orang, dipandang sebagai sesuatu yang dilakukan oleh semua. Petrus mendakwakan dosa itu kepada mereka secara khusus sebagai bagian dari seluruh bangsa itu, supaya dakwaan itu bisa lebih membawa mereka pada iman dan pertobatan, karena itulah satu-satunya cara untuk membedakan diri mereka dari orang-orang yang bersalah, dan melepaskan mereka dari kesalahan itu. Peneguhan terhadap kebangkitan-Nya, yang dengan berhasil menghapus bersih celaan atas kematian-Nya (ay. Kis 2:24): Allah membangkitkan Dia. Allah yang sama yang menyerahkan Dia pada maut melepaskan-Nya juga dari maut, dan dengan demikian memberikan pengakuan yang lebih tinggi daripada yang sudah diberikan-Nya melalui tanda-tanda dan mujizat-mujizat apa pun yang telah Dia lakukan, atau melalui gabungan dari semuanya itu. Oleh sebab itu, kebangkitan inilah yang paling banyak ditekankannya. - Petrus menggambarkan kebangkitan-Nya: Allah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu, ōdinas -" dukacita kematian. Kata ini digunakan untuk mengartikan penderitaan yang mendalam, dan sebagian orang berpikir bahwa kata tersebut menunjuk pada kesedihan dan kekalutan jiwa-Nya, yang di dalamnya Ia merasa sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Dari kesedihan dan dukacita jiwa ini, penderitaan jiwa ini, Bapa melepaskan Dia ketika pada saat kematian-Nya Ia berkata, sudah selesai. Beginilah Dr. Godwin memahaminya: “Kengerian-kengerian yang membuat jiwa Heman terhampar seperti orang-orang yang mati dibunuh (Mzm. 88:6, 16) telah mencengkeram Kristus. Tetapi Ia terlalu kuat untuk itu, lalu menerobos melewatinya. Inilah kebangkitan jiwaNya (dan sungguh suatu perkara besar untuk membawa jiwa keluar dari jurang kesengsaraan rohani yang dalam). Kematian ini tidak meninggalkan jiwa-Nya di neraka, seperti yang tampak dalam perkataan selanjutnya, supaya Ia tidak melihat kebinasaan, yang berbicara tentang kebangkitan tubuh-Nya. Dan kebangkitan rohani dan tubuh ini secara bersama-sama menghasilkan kebangkitan agung.” Dr. Lightfoot memberikan pengertian yang lain untuk ini: “Setelah meluruhkan sengsara maut, dengan melakukannya untuk semua orang yang percaya kepada-Nya, Allah membangkitkan Kristus, dan dengan kebangkitan-Nya menghancurkan semua kuasa maut, dan membinasakan sengat maut yang menghantam umat-Nya. Ia sudah menghapuskan kematian, sudah mengubah sifatnya, dan, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu untuk waktu yang lama, tidak mungkin pula mereka tetap berada dalam kuasa maut itu untuk selama-lamanya.” Tetapi kebanyakan orang merujuk hal ini pada kebangkitan tubuh Kristus. Dan kematian (ujar Tuan Baxter) adalah hukuman dengan menghilangkan apa yang ada, meskipun tidak ditandai dengan kejahatan yang nyata. Tetapi Dr. Hammond menunjukkan bahwa Alkitab Septuaginta, dan dari situ sang rasul di sini, menggunakan kata tali-tali maut (Mzm. 18:5), yang paling sesuai dengan kiasan “melepaskan” dan “menahan” yang digunakan di sini. Kristus dipenjara karena utang kita, Ia dicampakkan ke dalam tali-tali maut. Tetapi, karena keadilan ilahi sudah dipuaskan, tidak mungkin Ia terus ditahan di sana, entah dari segi hak atau kekuatan. Sebab Ia mempunyai hidup pada diri-Nya sendiri, dan yang ada dalam kuasaNya sendiri, dan telah menaklukkan penguasa maut. - Petrus menegaskan kebenaran dari kebangkitan-Nya(ay. Kis 2:32): Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi, yakni kami para rasul dan teman-teman yang bersama kami, yang mengenal Dia secara dekat sebelum kematian-Nya, dan bergaul secara akrab dengan Dia setelah kebangkitan-Nya, makan dan minum bersama-sama dengan Dia. Mereka menerima kuasa, dengan turunnya Roh Kudus ke atas mereka, dengan tujuan agar mereka menjadi saksi-saksi yang cakap, setia, dan berani mengabarkan kebangkitan ini, kendati dituduh oleh musuh-musuh telah mencuri jasad-Nya. - Petrus menunjukkan kebangkitan-Nya itu sebagai penggenapan Kitab Suci, dan, karena Kitab Suci sudah berkata bahwa Ia harus bangkit kembali sebelum melihat kebinasaan, maka tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut dan alam kubur. Sebab Daud berkata tentang Dia dibangkitkan, maka begitulah kebangkitan-Nya dibicarakan (ay. Kis 2:25). Bagian Kitab Suci yang dirujuknya adalah Mazmur Daud (Mzm. 16:8-11), yang, walaupun sebagian dapat diterapkan kepada Daud sebagai orang kudus, namun terutama merujuk pada Yesus Kristus, yang diperlambangkan oleh diri Daud. Di sini, Pertama, nas itu dikutip secara panjang lebar (ay. Kis 2:25-28), sebab hal itu digenapi di dalam Dia, dan menunjukkan kepada kita, 1. Perhatian yang senantiasa diberikan Yesus Tuhan kita terhadap Bapa-Nya dalam seluruh pekerjaan-Nya: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan. Ia menempatkan di hadapan-Nya kemuliaan Bapa-Nya sebagai tujuan-Nya dalam segala sesuatu. Sebab Ia melihat bahwa penderitaan-penderitaan-Nya akan membawa kehormatan yang berlimpah bagi Allah, dan akan berakhir dalam sukacita-Nya sendiri. Semua ini disediakan bagi-Nya, dan inilah yang dituju-Nya, dalam segala pekerjaan dan penderitaan-Nya. Dan dengan pengharapan akan semuanya ini Ia ditopang dan didorong untuk terus maju (Yoh. 13:31-32; 17:4-5). 2. Keyakinan yang dimiliki-Nya akan hadirat dan kuasa Bapa-Nya yang menyertai Dia: “Ia berdiri di sebelah kananku, di sebelah tangan yang bekerja, yang menguatkan, membimbing, dan menopang, sehingga Aku tidak goyah atau melepaskan diri dari pekerjaan- Ku, kendati dengan kesusahan-kesusahan yang harus Kujalani.” Ini merupakan butir dari kovenan penebusan (Mzm. 89:22), tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia. Dan oleh sebab itu Ia yakin bahwa pekerjaan itu tidak akan gagal di tangan-Nya. Jika Allah ada di sebelah kanan kita, kita tidak akan goyah. 3. Kegembiraan yang menyertai Yesus Tuhan kita dalam melanjutkan pekerjaan-Nya, kendati dengan kesedihan-kesedihan yang harus dilalui-Nya: “Karena yakin bahwa Aku tidak goyah, tetapi bahwa kesenangan Tuhan akan terlaksana di tangan-Ku, maka hati-Ku bersukacita dan jiwa-Ku bersorak-sorak, dan pikiran tentang kesedihan-Ku tidak berarti apa-apa bagi-Ku.” Perhatikanlah, adalah kesenangan Yesus Tuhan kita untuk melihat akhir dari pekerjaan-Nya, dan untuk menjadi yakin bahwa kesudahannya akan mulia. Begitu senangnya Dia dengan pekerjaan-Nya sehingga hati-Nya bergembira memikirkan bagaimana kesudahannya akan memenuhi rancangan pekerjaan-Nya itu. Yesus bergembira dalam Roh Kudus (Luk. 10:21). Jiwa-Ku bersorak-sorak (KJV: lidah- Ku bergembira). Dalam Mazmur dikatakan kemuliaan- Ku bersorak-sorak (KJV); yang menunjukkan bahwa lidah kita adalah kemuliaan kita, indra pengucap adalah suatu kehormatan bagi kita, dan tidak pernah lebih menjadi kehormatan bagi kita selain apabila digunakan untuk memuji Allah. Lidah Kristus bersorak-sorak, sebab ketika Ia baru memulai penderitaan-penderitaan-Nya, pada penutup perjamuan terakhir-Nya, Ia menyanyikan nyanyian pujian. 4. Pengharapan menyenangkan yang dimiliki-Nya mengenai akhir yang membahagiakan dari kematian dan penderitaan-penderitaan-Nya. Inilah yang terus mendorong-Nya, bukan hanya dengan keberanian, melainkan juga dengan kegembiraan, untuk melewati penderitaan dan kematian-Nya. Ia menanggalkan tubuh, tetapi tubuh-Ku akan diam (KJV: tubuh-Ku akan beristirahat -" pen.). Kubur akan menjadi tempat bagi tubuh, selama tubuh itu terbaring di sana, sebagai ranjang peristirahatan, dan harapan akan membuatnya beristirahat dengan tenang. Tubuh-Ku akan diam dengan tenteram (KJV: tubuh-Ku akan beristirahat dalam pengharapan -" pen.), hoti, Engkau tidak menyerahkan Aku kepada dunia orang mati. Dan untuk selanjutnya, tinggal masalah pengharapan-Nya, atau lebih tepatnya keyakinan-Nya, (1) Bahwa jiwa tidak akan terus ada dalam keadaan terpisah dari tubuh. Sebab, selain bahwa hal ini akan membawa kegelisahan bagi jiwa manusia yang dibuat untuk tubuh, itu juga akan menjadi kelanjutan dari kemenangan maut atas Dia yang sesungguhnya sudah menaklukkan maut: “Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati” (kepada hades, dalam keadaan yang tak terlihat, itulah yang secara tepat diartikan dari kata hades), “tetapi, meskipun Engkau membiarkannya untuk sementara waktu berpindah ke sana, dan tinggal di sana, namun Engkau akan menariknya kembali. Engkau tidak akan membiarkannya di sana, seperti yang Engkau lakukan terhadap jiwa-jiwa orang lain.” (2) Bahwa tubuh hanya akan terbaring sebentar di dalam kubur: Engkau tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Tubuh-Nya tidak akan terus mati untuk waktu yang lama sampai mulai hancur atau membusuk. Oleh sebab itu tubuh-Nya harus kembali hidup pada hari ketiga atau sebelum hari ketiga setelah kematian-Nya. Kristus adalah Orang Kudus Allah, yang dikuduskan dan dipisahkan untuk melayani-Nya dalam pekerjaan penebusan. Ia harus mati, sebab Ia harus ditahbiskan oleh darah-Nya sendiri. Tetapi Ia tidak boleh melihat kebinasaan, sebab kematian-Nya akan menjadi bagi Allah persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Hal ini diperlambangkan oleh hukum mengenai korban persembahan, bahwa apa yang masih tinggal dari daging korban sembelihan sampai hari yang ketiga tidak boleh dimakan, karena takut kalau-kalau sudah hancur dan mulai membusuk (Im. 7:15-18). (3) Bahwa kematian dan penderitaan-penderitaan-Nya akan menjadi, bukan hanya bagi Dia, melainkan juga bagi semua kepunyaan-Nya, pintu masuk bagi kehidupan kekal yang penuh berkat: “Engkau memberitahukan kepada-Ku jalan-jalan kehidupan, dan melalui Aku memberitahukannya kepada dunia, dan membentangkannya terbuka.” Ketika Bapa memberikan hidup kepada Anak dalam diri-Nya sendiri, kuasa untuk memberikan nyawa-Nya dan mengambilnya kembali, pada saat itulah Ia memberitahukan kepada-Nya jalan hidup, baik untuk masuk maupun keluar. Pintu gerbang maut dan pintu gerbang kelam pekat tersingkap bagi-Nya (Ayb. 38:17), untuk Dia lewat dan kembali lagi, sesuai apa yang dipandang-Nya perlu, bagi penebusan manusia. (4) Bahwa semua dukacita dan penderitaan-Nya akan berakhir dalam kebahagiaan yang sempurna dan abadi: Engkau akan melimpahi Aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Upah yang disediakan bagi-Nya adalah sukacita, sukacita yang penuh, dan itu dirasakan di hadapan Allah (KJV: dalam perkenanan Allah -" pen.), dalam perkenanan yang diberikan-Nya kepada Dia dalam pekerjaan-Nya, dan kepada semua orang yang, demi Dia, akan percaya kepada-Nya. Senyuman-senyuman yang dengannya Bapa menerima Dia, ketika, pada kenaikan-Nya, Ia dibawa ke hadapan Yang Lanjut Usianya, memenuhi Dia dengan sukacita yang tidak terkatakan, dan itu adalah sukacita Tuhan kita, yang ke dalamnya semua kepunyaan-Nya akan masuk, dan yang di dalamnya mereka akan berbahagia untuk selama-lamanya. Kedua, tafsiran atas nas ini, terutama yang begitu banyak berkaitan tentang kebangkitan Kristus. Petrus berbicara kepada mereka dengan memberikan sebutan hormat, saudara-saudara (ay. Kis 2:29, KJV: men and brethren-" sesama manusia dan saudara -" pen.). “Engkau adalah manusia, dan oleh sebab itu harus dipimpin oleh akal budi. Engkau adalah saudara, dan oleh sebab itu harus menerima dengan baik apa yang dikatakan kepadamu oleh orang yang, karena berkerabat dekat denganmu, dengan sepenuh hati memperhatikan kamu, dan mengharapkan yang terbaik bagimu. Sekarang, izinkanlah aku untuk berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita, dan janganlah engkau tersinggung apabila aku memberi tahu kamu bahwa di sini Daud tidak bisa dipahami berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan tentang Kristus yang akan datang.” Daud di sini disebut sebagai bapak bangsa, karena ia adalah bapak dari keluarga raja, dan orang yang sangat terpandang serta ternama dalam angkatannya, dan yang namanya serta kenangan akan dia sudah sewajarnya dipandang sangat berharga. Nah, ketika kita membaca mazmurnya itu, kita harus mempertimbangkan, 1. Bahwa Daud tidak bisa mengatakan itu tentang dirinya sendiri, sebab ia telah mati, dan dikubur, dan kuburannya masih ada di Yerusalem sampai hari ini, saat Petrus mengatakan ini, dan tulang-tulang serta debu-debunya ada di dalamnya. Tak seorang pun pernah mengaku-ngaku bahwa ia sudah bangkit, dan oleh sebab itu ia tidak pernah bisa berkata tentang dirinya sendiri bahwa ia tidak melihat kebinasaan. Sebab sudah jelas bahwa ia memang melihat kebinasaan. Rasul Paulus juga menegaskan hal ini (13:35-37). Walaupun ia seorang yang berkenan di hati Allah, namun ia menempuh segala jalan yang fana, seperti yang dikatakannya sendiri (1Raj. 2:2), baik dengan mati maupun dikuburkan. 2. Oleh sebab itu, pastilah Daud mengatakannya sebagai seorang nabi, dengan pandangan yang tertuju kepada Mesias, yang penderitaan-penderitaan-Nya ditegaskan oleh para nabi sebelumnya, dan bersama-sama dengan penderitaan-penderitaan itu segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Begitu pula Daud dalam Mazmur itu, seperti yang dengan jelas ditunjukkan Petrus di sini. (1) Daud tahu bahwa Mesias harus diturunkan dari keturunannya (ay. Kis 2:30), bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Allah menjanjikan dia seorang Anak, yang akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya (2Sam. 7:12). Dan dikatakan (Mzm. 132:11), TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud. Ketika Yesus Tuhan kita dilahirkan, dijanjikan bahwa Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya (Luk. 1:32). Dan seluruh Israel tahu bahwa Mesias akan menjadi Anak Daud, maksudnya, bahwa, menurut daging, Ia adalah Anak Daud melalui kodrat manusia-Nya. Ini harus dilihat secara demikian, sebab secara roh, dan sesuai dengan kodrat ilahi-Nya, Ia akan menjadi Tuhan Daud, bukan Anaknya. Oleh karena Allah sudah bersumpah kepada Daud bahwa Mesias, yang dijanjikan kepada bapa leluhurnya, akan menjadi anak dan penerusnya, buah dari keturunannya, dan ahli waris bagi takhtanya, maka ia senantiasa memandang pada hal ini, ketika ia menuliskan mazmur-mazmurnya. (2) Karena Kristus berasal dari keturunannya, dan oleh sebab itu ada di dalam dirinya ketika ia menuliskan mazmur itu (seperti Lewi dikatakan ada dalam diri Abraham ketika ia membayar sepersepuluh kepada Melkisedek), dan jika apa yang dikatakannya, yang seolah-olah tentang dirinya sendiri, tidak dapat diterapkan kepada dia sendiri (seperti yang memang sudah jelas tidak demikian), maka kita harus menyimpulkan bahwa perkataannya itu menunjuk pada anaknya yang pada waktu itu ada dalam dirinya, yang di dalam Dia keluarga dan kerajaannya akan mencapai kesempurnaan dan keabadian. Dan oleh sebab itu, ketika ia berkata bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, atau bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan, tanpa diragukan lagi ia harus dimengerti sedang berbicara tentang kebangkitan Kristus (ay. Kis 2:31). Dan sama seperti Kristus mati, demikian pula Ia telah dibangkitkan, sesuai dengan Kitab Suci, dan bahwa tentang hal itu kami semua adalah saksi-saksinya. (3) Di sini tertulis juga sekilas tentang kenaikan-Nya. Sama seperti Daud tidak bangkit dari antara orang mati, demikian pula ia tidak naik ke sorga, secara jasmani, seperti Kristus (ay. Kis 2:34). Dan lebih jauh lagi, untuk membuktikan bahwa ketika Daud berbicara tentang kebangkitan yang dimaksudkannya adalah Kristus, Petrus mengamati bahwa ketika dalam Mazmur lain Daud berbicara tentang apa yang terjadi berikutnya setelah pengangkatan-Nya, Daud jelas-jelas menunjukkan bahwa ia berbicara tentang orang lain, bahkan seperti tentang seseorang yang adalah Tuannya (Mzm. 110:1): “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku, setelah Ia membangkitkan Dia dari antara orang mati, “Duduklah di sebelah kanan-Ku,” dalam kehormatan dan kekuasaan yang tertinggi di sini. Kini Engkau dipercayai untuk mengatur baik kerajaan pemeliharaan ilahi maupun anugerah. Duduklah di sini sebagai raja, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi kawan-kawanmu atau tumpuan kakimu (ay. Kis 2:35). Kristus bangkit dari antara orang mati untuk naik lebih tinggi, dan oleh sebab itu sudah pasti tentang kebangkitan-Nyalah Daud berbicara, dan bukan tentang kebangkitannya sendiri, dalam Mazmur 16. Sebab tidak ada alasan bagi dia untuk bangkit dari kuburnya, jika ia tidak akan naik ke sorga. (4) Penerapan dari pembahasan tentang kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ini. - Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ini menjelaskan arti dari pencurahan Roh yang menakjubkan yang sedang terjadi sekarang, dalam karunia-karunia yang luar biasa itu. Sebagian dari orang-orang yang hadir itu bertanya (ay. Kis 2:12), apakah artinya ini? Aku beri tahu kamu artinya, sahut Petrus. Yesus ini ditinggikan di sebelah kanan Allah, begitu sebagian orang membacanya, untuk duduk di sana. Ditinggikan oleh tangan kanan Allah, begitu kita membacanya, dengan kuasa dan wewenang-Nya. Keduanya sama saja artinya. Dan karena sudah menerima dari Bapa, yang kepada-Nya Ia sudah naik, Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka Ia memberikan apa yang sudah diterima-Nya (Mzm. 68:19), dan dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. Sebab Roh Kudus akan diberikan ketika Yesus dimuliakan, dan tidak sebelum itu (Yoh. 7:39). Kamu melihat dan mendengar kami berbicara dengan bahasa-bahasa yang tidak pernah kami pelajari. Mungkin ada perubahan yang tampak pada wajah mereka, yang dilihat oleh orang banyak itu, dan juga ada perubahan yang terdengar pada suara dan bahasa mereka. Nah, semua ini datangnya dari Roh Kudus, yang kedatangan-Nya merupakan bukti bahwa Yesus sudah ditinggikan, dan Ia sudah menerima karunia ini dari Bapa, untuk disampaikan kepada jemaat, yang jelas-jelas menyatakan Dia sebagai Pengantara, atau Penengah antara Allah dan jemaat. Karunia Roh Kudus adalah, pertama, penggenapan dari janji-janji ilahi yang sudah dibuat. Di sini disebut Roh Kudus yang dijanjikan. Sudah banyak janji yang sangat besar dan berharga yang diberikan kepada kita oleh kuasa ilahi, tetapi inilah janji yang unggul itu, seperti janji tentang kedatangan Mesias sebelumnya, dan inilah janji yang mencakup semua janji lain. Dari sini kita bisa melihat bahwa Allah yang memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Luk. 11:13) berarti bahwa Dia memberi mereka semua pemberian yang baik (Mat. 7:11). Kristus menerima Roh Kudus yang dijanjikan, maksudnya, karunia Roh Kudus yang dijanjikan, dan telah memberikannya kepada kita. Sebab semua janji Allah adalah “Ya” dan “Amin” di dalam Dia.Kedua, karunia itu merupakan tanda jaminan dari segala kebaikan ilahi yang dimaksudkan untuk waktu-waktu berikutnya. Apa yang sekarang kamu lihat dan dengar hanyalah merupakan pertanda dari perkara-perkara yang lebih besar. - Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ini membuktikan apa yang kamu semua harus percayai, bahwa Kristus Yesus adalah Mesias dan Juru Selamat dunia yang sesungguhnya. Dengan inilah Petrus menutup khotbahnya, sebagai akhir kata dari segalanya, quod erat demonstrandum -" kebenaran yang harus ditunjukkan (ay. Kis 2:36): Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa kebenaran ini sekarang sudah mendapat penggenapannya yang penuh, dan kita mendapat amanat penuh untuk memberitakannya, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. Mereka dilarang memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias sampai sesudah kebangkitan-Nya (Mat. 16:20; 17:9). Tetapi sekarang hal itu harus diberitakan dari atas atap rumah, kepada seluruh kaum Israel. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! Pernyataan itu tidak diajukan sebagai suatu kemungkinan, tetapi ditegaskan sebagai hal yang pasti: Mereka harus tahu dengan pasti, dan tahu bahwa sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk menerimanya sebagai perkataan yang benar, pertama, bahwa Allah sudah memuliakan Dia yang mereka salibkan. Hal ini memperberat kefasikan mereka, bahwa mereka menyalibkan Dia yang dirancang Allah untuk dipermuliakan, dan menghukum mati sebagai penipu Dia yang sudah sedemikian memberikan bukti-bukti kuat tentang misi ilahi-Nya. Dan hal ini semakin memperbesar hikmat dan kuasa Allah, bahwa meskipun mereka menyalibkan Dia, dan berpikir dengan berbuat demikian memberikan kepada Dia tanda aib yang tidak bisa dihapus, namun Allah sudah memuliakan Dia, dan penghinaan-penghinaan yang sudah mereka perbuat terhadap-Nya justru mendatangkan kemilau terang-Nya. Kedua, bahwa Allah sudah memuliakan Dia sedemikian rupa sehingga menjadikan-Nya Tuhan dan Kristus. Kedua pernyataan ini sama saja artinya. Dia adalah Tuhan dari semua orang, dan bukan seorang perebut kekuasaan, melainkan Kristus, yang diurapi untuk menjadi Kristus. Dia adalah satu Tuhan bagi orang-orang bukan-Yahudi, yang sebelum ini mempunyai banyak Tuhan. Dan bagi orang-orang Yahudi Ia adalah Mesias, yang mencakup semua kedudukan-Nya. Dia adalah Mesias Sang Raja, sebagaimana Alkitab bahasa Aram menyebut-Nya. Atau, seperti malaikat yang berkata kepada Daniel, seorang yang diurapi (Dan. 9:25, KJV: Mesias Sang Penguasa -" pen.). Inilah kebenaran agung dari Injil yang harus kita percayai, bahwa Yesus yang sama itu, yang disalibkan di Yerusalem, adalah Dia yang kepada-Nya kita harus setia, dan yang dari Dia kita harus mengharapkan perlindungan, sebagai Tuhan dan Kristus. * Khotbah Petrus di Yerusalem ( Kis 2:37-40) Kita sudah melihat dampak yang menakjubkan dari pencurahan Roh, dan kuasanya yang mengagumkan atas para pengabar Injil. Petrus, dalam seluruh hidupnya, belum pernah berbicara sebaik seperti yang baru dilakukannya sekarang, dengan begitu sepenuh hati, jelas, dan penuh kuasa. Kita sekarang akan melihat buah lain yang penuh berkat dari pencurahan Roh ini dalam kuasanya terhadap mereka yang mendengarkan Injil. Sejak pertama kali pesan ilahi itu disampaikan, tampak bahwa ada kuasa ilahi yang menyertainya, dan penyampaian pesan itu diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup melakukan keajaiban-keajaiban: beribu-ribu orang langsung dibawa olehnya kepada ketaatan iman. Itulah tongkat kekuatan Allah yang diulurkan dari Sion (Mzm. 110:2-3). Kita mendapati di sini buah-buah pertama dari tuaian jiwa yang besar itu, yang dengan kuasa Allah dikumpulkan kepada Yesus Kristus. Mari datang dan lihatlah, dalam ayat-ayat ini, bagaimana Sang Penebus yang sudah ditinggikan maju, dalam kereta keselamatan ini, sebagai pemenang untuk merebut kemenangan (Why. 6:2). Dalam ayat-ayat ini kita mendapati firman Allah sebagai sarana untuk memulai dan melanjutkan pekerjaan anugerah yang baik dalam hati banyak orang, sebab Roh Tuhan bekerja dengannya. Marilah kita lihat cara kerjanya. I. Mereka tersentak, dan diyakinkan oleh kebenaran Injil, lalu terdorong untuk bertanya dengan sungguh-sungguh (ay. Kis 2:37). Ketika mereka mendengar, atau setelah mendengar, setelah mendengarkan Petrus dengan sabar, dan tidak memotong pembicaraannya seperti selama ini mereka terbiasa memotong pembicaraan Kristus (ini suatu kemajuan yang baik, bahwa mereka sekarang memperhatikan firman), hati mereka sangat terharu, atau mereka terharu di dalam hati, dan, dalam kekhawatiran dan kebingungan yang dalam, mereka datang kepada para pengkhotbah itu sambil bertanya, apakah yang harus kami perbuat? Sangat aneh bahwa kesan-kesan seperti itu sampai ditimbulkan secara tiba-tiba dalam hati yang begitu keras. Mereka adalah orang-orang Yahudi, yang dididik untuk mempercayai bahwa agama mereka sudah cukup untuk menyelamatkan mereka, dan yang dalam waktu belakangan ini sudah melihat bahwa Yesus ini disalibkan dalam kelemahan dan kehinaan, dan diberi tahu oleh para pemimpin agama mereka bahwa Ia adalah seorang penipu. Petrus sudah mendakwa mereka karena tangan mereka, tangan bangsa-bangsa durhaka, turut berperan dalam kematian-Nya, yang bisa jadi membuat mereka geram terhadapnya. Namun, ketika mereka mendengar khotbah yang jelas dan alkitabiah ini, mereka sangat tersentuh olehnya. 1. Khotbah itu membuat mereka menderita: Hati mereka sangat terharu. Kita membaca tentang orang-orang yang sangat tertusuk hatinya dengan kemarahan terhadap seorang pengkhotbah (7:54), tetapi hati orang-orang ini sangat terharu dengan kemarahan terhadap diri mereka sendiri, karena sudah berperan dalam kematian Kristus. Petrus, dengan mendakwakan kejahatan ini kepada mereka, menggugah hati nurani mereka, menjamah hati sanubari mereka. Mereka merenungkan semua peristiwa itu seperti pedang di tulang-tulang mereka, pedang itu menusuk mereka seperti mereka sudah menusuk Kristus. Perhatikanlah, orang-orang berdosa, ketika mata mereka terbuka, tidak bisa tidak pasti hati mereka tertusuk karena dosa, dan tidak bisa tidak pasti mengalami kegelisahan di dalam batin. Inilah yang dinamakan hati yang koyak itu (Yl. 2:13), hati yang patah dan remuk (Mzm. 51:19). Apabila orang sungguh-sungguh menyesali dosa-dosa mereka, dan malu dengannya, dan takut akan akibat-akibatnya, hati mereka tertusuk. Tusukan di dalam hati itu mematikan, dan di dalam kegundahan-kegundahan itu (ujar Paulus) aku mati (Rm. 7:9). “Semua pandangan baikku tentang diriku sendiri dan keyakinanku pada diriku sendiri mengecewakan aku.” 2. Khotbah itu membuat mereka bertanya-tanya. Karena yang meluap dari hati, hati yang tertusuk seperti itu, diucapkan mulut. Amatilah, Kepada siapa mereka bertanya seperti itu: Kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, sebagian kepada yang satu, dan sebagian kepada yang lain. Kepada rasul-rasul itu mereka membeberkan perkara mereka. Oleh rasul-rasul itu mereka sudah diinsafkan, dan karena itu oleh rasul-rasul itu mereka berharap akan diberi nasihat dan dihibur. Mereka tidak datang kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, untuk membenarkan mereka dari dakwaan para rasul, tetapi datang kepada rasul-rasul itu, dengan mengakui dakwaan itu, dan menyerahkan perkaranya kepada mereka. Mereka menyebut rasul-rasul itu saudara-saudara (KJV: sesama manusia dan saudara -" pen.), sama seperti Petrus sudah menyebut mereka (ay. Kis 2:29): sebutan ini mengandung rasa persahabatan dan kasih, dan bukan gelar kehormatan: “Kalian adalah manusia, jadi lihatlah kami sebagai manusia juga. Kalian adalah saudara, pandanglah kami dengan kasih persaudaraan.” Perhatikanlah, hamba-hamba Tuhan adalah tabib-tabib rohani. Mereka harus dimintai nasihat oleh orang-orang yang hati nuraninya terluka. Dan baiklah bila orang bersikap bebas dan akrab dengan hamba-hamba Tuhan itu, sebagai sesama manusia dan saudara, yang memperlakukan jiwa mereka seperti jiwa sendiri. Apa yang mereka tanyakan: Apakah yang harus kami perbuat? - Mereka berbicara dalam keadaan terpaku, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Sepenuhnya terkejut: “Apakah Yesus yang sudah kami salibkan itu adalah Tuhan dan Kristus? Lalu apa yang akan terjadi dengan kami yang sudah menyalibkan Dia? Celaka, kami semua binasa!” Perhatikanlah, tidak ada jalan lain untuk berbahagia kecuali dengan melihat diri kita sendiri sengsara. Apabila kita mendapati diri kita sendiri terancam bahaya akan tersesat untuk selama-lamanya, ada harapan bahwa kita akan diselamatkan untuk selama-lamanya. Dan ini tidak akan terjadi sebelum kita mendapati diri kita seperti itu. - Mereka berbicara dalam kebulatan hati, bertekad untuk segera melakukan apa saja yang diperintahkan kepada mereka. Mereka tidak mau ambil waktu lagi untuk menimbang-nimbang, atau menunda melakukan apa yang sudah mereka insafi itu sampai tiba waktu yang lebih nyaman. Sebaliknya, mereka ingin diberi tahu sekarang juga apa yang harus mereka lakukan untuk terhindar dari kesengsaraan yang akan menimpa mereka. Perhatikanlah, orang-orang yang menjadi insaf akan dosa mereka dengan gembira ingin mengetahui jalan untuk mendapatkan damai sejahtera dan pengampunan (9:6; 16:30). II. Petrus dan rasul-rasul lain mengarahkan kepada mereka secara ringkas apa yang harus mereka perbuat, dan apa yang bisa mereka harapkan dengan berbuat demikian (ay. Kis 2:38-39). Para pendosa yang telah insaf harus diberi dorongan. Yang terluka harus dibalut (Yeh. 34:16). Mereka harus diberi tahu bahwa walaupun perkara mereka menyedihkan, itu bukannya tanpa harapan, justru sebaliknya, masih ada harapan bagi mereka. 1. Di sini ia menunjukkan kepada mereka jalan yang harus mereka tempuh. (1) Bertobatlah. Inilah papan yang harus kamu pegang setelah kapal karam. “Biarlah perasaan bersalah yang menjijikkan ini, yang kamu datangkan atas dirimu sendiri dengan menghukum mati Kristus, menggugah kamu untuk merenung, dengan penuh pertobatan, atas semua dosamu yang lain (seperti tuntutan atas satu utang yang banyak mengungkapkan semua utang orang malang yang sudah bangkrut) dan membuatmu sungguh-sungguh menyesal dan sedih karenanya.” Pertobatan ini adalah kewajiban yang sama yang sudah diberitakan Yohanes Pembaptis dan Kristus, dan karena sekarang Roh dicurahkan, maka pertobatan ini tetap ditegaskan: “Bertobatlah, bertobatlah. Ubahlah pikiranmu, ubahlah jalanmu. Pikirkan baik-baik.” (2) Hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Maksudnya, “percayailah ajaran Kristus dengan teguh, dan berserahlah kepada anugerah dan pemerintahan-Nya. Dan akuilah ini secara terang-terangan dan sungguh-sungguh, dan berjanjilah untuk tetap berpegang teguh padanya, dengan memberi dirimu dibaptis seperti yang sudah ditetapkan. Jadilah pengikut Kristus dan agama-Nya yang kudus, dan tanggalkanlah ketidaksetiaanmu.” Mereka harus dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Mereka memang percaya kepada Bapa dan Roh Kudus yang berbicara melalui para nabi. Tetapi mereka juga harus percaya kepada nama Yesus, bahwa Dia adalah Kristus, Mesias yang dijanjikan kepada para bapa leluhur. “Angkatlah Yesus sebagai Rajamu, dan melalui baptisan bersumpah setialah kepada-Nya. Terimalah Dia sebagai Nabimu, dan dengarkanlah Dia. Akuilah Dia sebagai Imammu, untuk mengadakan pendamaian dosa bagimu,” yang tampaknya dimaksudkan secara khusus di sini. Sebab mereka harus dibaptis dalam nama-Nya demi pengampunan dosa berdasarkan kebenaran-Nya. (3) Pertobatan ini ditekankan kepada setiap orang: Kamu masing-masing. “Bahkan di antara kalian yang paling berdosa, jika bertobat dan percaya, diundang untuk dibaptis. Dan mereka yang menganggap diri sendiri sebagai orang yang paling kudus masih perlu bertobat, dan percaya, dan dibaptis. Di dalam Kristus ada anugerah yang cukup bagi kamu masing-masing, sekalipun kalian begitu banyak. Dan anugerah-Nya itu sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang. Israel pada zaman dulu dibaptis oleh Musa di dalam kemah, seluruh umat Israel secara bersama-sama, ketika mereka melintas dalam awan dan dalam laut (1Kor. 10:1- 2), sebab kovenan yang khusus itu hanya bagi bangsa itu saja. Namun, sekarang kamu masing-masing secara sendiri-sendiri harus dibaptis dalam nama Tuhan Yesus, dan mengurus sendiri perkara yang besar ini bagi dirinya sendiri.” Lihat Kolose 1:28. 2. Ia mendorong mereka untuk menempuh jalan ini: (1) “Pertobatan ini demi pengampunan dosa. Bertobatlah dari dosamu, maka dosamu tidak akan menghancurkanmu. Beri dirimu dibaptis dalam iman kepada Kristus, maka di dalam kebenaran engkau akan dibenarkan, yang tidak dapat engkau peroleh dengan hukum Musa. Berusahalah untuk dibenarkan dengan cara tersebut, dan bergantunglah kepada Kristus untuk mendapatkannya, maka pembenaran itu akan engkau peroleh. Sama seperti piala dalam perjamuan Tuhan adalah Perjanjian Baru di dalam darah Kristus demi pengampunan dosa, demikian pula baptisan dilakukan di dalam nama Kristus demi pengampunan dosa. Berilah dirimu dibasuh, maka engkau akan dibasuh.” (2) “Kamu akan menerima karunia Roh Kudus sama seperti kami. Sebab karunia itu dimaksudkan sebagai berkat untuk umum: sebagian dari antara kamu akan menerima karunia-karunia lahiriah ini, dan kamu masing-masing, jika tulus dalam iman dan pertobatanmu, akan menerima anugerah-anugerah dan penghiburan-penghiburan di dalam batin, akan dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan.” Perhatikanlah, semua orang yang menerima pengampunan dosa berarti menerima karunia Roh Kudus. Semua orang yang dibenarkan berarti dikuduskan. (3) “Anak-anakmu akan tetap mempunyai, seperti selama ini mereka sudah mempunyai, kepentingan di dalam kovenan itu, dan hak atas meterai lahiriahnya. Datanglah kepada Kristus, untuk menerima keuntungan-keuntungan yang tiada terkira itu. Sebab janji pengampunan dosa dan karunia Roh Kudus adalah bagi kamu dan bagi anak-anakmu” (ay. Kis 2:39). Dengan sangat jelas dikatakan (Yes. 44:3): Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu. Dan (Yes. 59:21) Roh-Ku dan firman-Ku tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu. Ketika Allah mengikat Abraham ke dalam kovenan, Ia berkata, Aku akan menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu (Kej. 17:7). Dan, sesuai dengan itu, setiap orang Israel harus menyunat anak laki-laki mereka ketika berumur delapan hari. Nah, pantas bagi seorang Israel, ketika melalui baptisan mengikat diri pada tata aturan yang baru dari kovenan ini, untuk bertanya, “Apa yang harus kulakukan dengan anak-anakku? Haruskah mereka dikeluarkan, ataukah diikutsertakan dalam kovenan ini?” “Diikutsertakan” (jawab Petrus) “sudah pasti. Sebab janji itu, janji agung tentang Allah yang menjadi Allahmu itu, sama-sama diperuntukkan bagimu dan bagi anak-anakmu, sekarang sama seperti sebelum-sebelumnya.” (4) “Walaupun janji-janji itu tetap diperluas bagi anak-anakmu sama seperti sebelumnya, namun, tidak seperti sebelum-sebelumnya, janji-janji itu tidak dibatasi hanya bagimu dan bagi mereka, justru sebaliknya, keuntungannya dimaksudkan bagi orang yang masih jauh.” Kita bisa menambahkan, dan bagi anak-anak mereka, sebab berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain melalui Yesus Kristus (Gal. 3:14). Janji itu sudah lama menjadi milik orang-orang Israel (Rm. 9:4). Tetapi sekarang janji itu disampaikan kepada orang yang masih jauh, kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi di tempat-tempat paling terpencil, dan kepada masing-masing dari mereka juga, kepada semua orang yang masih jauh. Kepada orang-orang secara umumlah pembatasan berikut ini harus merujuk, sebanyak dari mereka, sebanyak dari masing-masing orang dalam setiap bangsa, yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita untuk menjalin persekutuan dengan Yesus Kristus. Perhatikanlah, Allah bisa membuat panggilan-Nya menjangkau orang-orang yang masih begitu jauh, dan tak seorang pun datang kecuali mereka yang dipanggil-Nya. III. Petunjuk-petunjuk ini diikuti dengan peringatan yang penting (ay. Kis 2:40): Dan dengan banyak perkataan lain lagi, untuk mencapai maksud yang sama, ia memberi suatu kesaksian tentang kebenaran-kebenaran Injil, dan menganjurkan kewajiban-kewajiban Injil. Karena sekarang firman itu sudah mulai bekerja, maka Petrus mengikutinya. Ia sudah menyampaikan apa yang banyak dalam sedikit perkataan (ay. Kis 2:38-39), dan apa yang, sangka orang, sudah mencakup semuanya, tetapi masih ada lagi yang hendak dikatakannya. Apabila kita sudah mendengar kata-kata yang membawa kebaikan bagi jiwa kita, tidak bisa tidak kita pasti berharap untuk mendengar lebih, mendengar lebih banyak lagi kata-kata seperti itu. Di antara hal-hal lain yang dikatakannya (dan tampaknya yang ingin ditekankannya), adalah berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini. Bebaskanlah dirimu dari mereka. Orang-orang Yahudi yang tidak percaya adalah angkatan yang jahat, suka membangkang dan keras hati. Mereka berjalan menentang Allah dan manusia (1Tes. 2:15), menyatu dengan dosa dan ditandai untuk binasa. Nah, berkenaan dengan mereka, 1. “Bertekunlah dalam memberi dirimu diselamatkan dari kehancuran mereka, supaya kamu tidak terlibat di dalamnya, dan bisa luput dari semua yang akan terjadi itu“ (sebagaimana demikian dengan orang-orang Kristen): “Bertobatlah, dan berilah dirimu dibaptis. Maka kamu tidak akan berbagi dalam kehancuran orang-orang yang dengannya kamu sudah berbagi di dalam dosa.” Janganlah mencabut nyawaku bersama-sama orang berdosa. 2. “Untuk mencapai hal ini, janganlah terus berdiam bersama-sama dengan mereka di dalam dosa mereka, janganlah bersikeras bersama-sama mereka dalam ketidaksetiaan. Berilah dirimu diselamatkan, maksudnya, pisahkanlah dirimu, bedakanlah dirimu sendiri, dari angkatan yang jahat ini. Janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Janganlah ambil bagian bersama mereka di dalam dosa-dosa mereka, supaya engkau tidak berbagi bersama mereka di dalam tulah-tulah mereka.” Perhatikanlah, memisahkan diri dari orang-orang fasik adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri kita dari mereka. Meskipun kita dengan berbuat demikian memudahkan diri kita untuk menjadi sasaran kegeraman dan permusuhan mereka, kita sebenarnya menyelamatkan diri dari mereka. Sebab, jika kita mempertimbangkan ke arah mana mereka menuju, kita akan melihat bahwa lebih baik menanggung susah berenang melawan arus mereka daripada terancam bahaya dihanyutkan oleh arus mereka. Orang-orang yang bertobat dari dosa-dosa mereka dan memberi diri kepada Yesus Kristus, harus membuktikan ketulusan mereka dengan menjauhkan diri dari semua pergaulan akrab dengan orang-orang fasik. Menjauhlah dari padaku, hai penjahat-penjahat adalah bahasa orang yang bertekad untuk memegang perintah-perintah Allahnya (Mzm. 119:115). Kita harus menyelamatkan diri dari mereka, yang berarti menghindari mereka dengan rasa ngeri dan ketakutan yang kudus, sama seperti kita ingin menyelamatkan diri dari seorang musuh yang berusaha menghancurkan kita, atau dari sebuah rumah yang terjangkiti wabah.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHK GMIM Senin, 20 Mei 2024 - Berserulah Kepada Tuhan Maka Akan Diselamatkan - Kisah Para Rasul 2:21-24 Sebelum: RHK GMIM Sabtu, 18 Mei 2024 - Saling Menasehati dan Saling Membangun - 1 Tesalonika 5:11 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,