gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 745 kali
Download MP3 Music
Mazmur 104:1-18
Kebesaran TUHAN dalam segala ciptaan-Nya
104:1 Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, 104:2 yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, 104:3 yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu, yang bergerak di atas sayap angin, 104:4 yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Mu, dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayan-Mu, 104:5 yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya. 104:6 Dengan samudera raya Engkau telah menyelubunginya; air telah naik melampaui gunung-gunung. 104:7 Terhadap hardik-Mu air itu melarikan diri, lari kebingungan terhadap suara guntur-Mu, 104:8 naik gunung, turun lembah ke tempat yang Kautetapkan bagi mereka. 104:9 Batas Kautentukan, takkan mereka lewati, takkan kembali mereka menyelubungi bumi. 104:10 Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung, 104:11 memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan; 104:12 di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan. 104:13 Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu. 104:14 Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah 104:15 dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia. 104:16 Kenyang pohon-pohon TUHAN, pohon-pohon aras di Libanon yang ditanam-Nya, 104:17 di mana burung-burung bersarang, burung ranggung yang rumahnya di pohon-pohon sanobar; 104:18 gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk.

Penjelasan:
* Keagungan Ilahi (104:1-9)
Ketika kita sedang menjalankan ibadah apa saja, kita harus bangkit untuk berpegang kepada Allah di dalamnya (Yes. 64:7). Begitulah yang dilakukan Daud di sini. “Kemarilah hai jiwaku, di manakah engkau? Apakah yang engkau pikirkan? Ada pekerjaan di sini yang harus dilakukan, pekerjaan baik, pekerjaan para malaikat; mulailah dengan sungguh-sungguh, biarlah segenap kekuatan dan kemampuanmu dikerahkan dan dicurahkan untuknya: pujilah TUHAN, hai jiwaku!”

Dalam ayat-ayat ini,
I. Si pemazmur menengadah kepada kemuliaan ilahi yang bersinar di dunia atas, yang, meskipun merupakan salah satu hal yang tidak terlihat, dibuktikan oleh iman. Dengan begitu hormat dan rasa takjub yang kudus ia memulai permenungannya dengan pengakuan itu: TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Adalah sukacita orang-orang kudus bahwa Dia yang adalah Allah mereka merupakan Allah yang besar. Kemegahan seorang raja merupakan kebanggaan dan kesenangan semua rakyatnya yang baik. Keagungan Allah di sini dikemukakan melalui berbagai macam contoh, yang merujuk pada sebuah sosok yang begitu didambakan oleh raja-raja besar ketika tampil di muka umum. Perlengkapan mereka, dibandingkan dengan perlengkapan-Nya (bahkan dengan raja-raja timur, yang teramat sangat menyukai kemegahan), hanyalah seperti cahaya ulat kelap-kelip dibandingkan dengan cahaya matahari, ketika ia bersinar dengan teriknya.

Raja-raja tampak hebat,
1. Dalam jubah mereka. Dan apakah jubah Allah itu? Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak (ay. 1). Allah dilihat dalam segala pekerjaan-Nya, dan pekerjaan-pekerjaan-Nya ini menyatakan bahwa Dia itu mahabijak dan mahabaik, dan maha apa saja yang besar. Engkau berselimutkan terang seperti kain (ay. 2). Allah adalah terang (1 Yoh. 1:5), Bapa segala terang (Yak. 1:17). Ia bersemayam dalam terang (1Tim. 6:16). Ia mengenakan terang pada diri-Nya sendiri. Tempat kediaman kemuliaan-Nya adalah di sorga tertinggi, terang yang diciptakan pada hari pertama itu (Kej. 1:3). Dari semua hal yang kasat mata, terang paling dekat sifatnya dengan roh, dan oleh sebab itu dengan teranglah Allah berkenan menyelimuti diri-Nya, yakni, menyatakan diri-Nya dengan keserupaan itu, seperti manusia dilihat dari pakaian yang menutupi mereka. Dan hanya dengan demikian sajalah, karena wajah-Nya tidak dapat dilihat.

2. Di dalam istana-istana atau tenda-tenda mereka, apabila mereka sedang berada di medan perang. Dan apakah istana dan tenda Allah itu? Ia membentangkan langit seperti tenda (ay. 2). Demikianlah yang diperbuat-Nya pada awal mula, ketika Ia menciptakan langit, yang dinamai dalam bahasa Ibrani sebagai sesuatu yang diperluas, atau dibentangkan (Kej. 1:7). Ia menjadikannya untuk membagi air sebagaimana tenda atau tirai membagi satu ruangan dari ruangan yang lain. Demikianlah yang masih diperbuat-Nya: Ia kini membentangkan langit seperti tenda, menjaganya di atas bentangan, dan langit itu terus ada sampai hari ini sesuai dengan ketetapan-Nya. Wilayah-wilayah di udara terbentang melingkupi bumi, seperti seprei melingkupi tempat tidur, untuk menjaganya tetap hangat, dan dipasang di antara kita dan dunia atas, untuk meredam cahayanya yang menyilaukan. Sebab, meskipun Allah berselimutkan terang, namun, dalam belas kasihan-Nya kepada kita, Ia membuat kegelapan menjadi persembunyian-Nya. Awan meliputi Dia. Luasnya tenda ini dapat mengarahkan kita untuk mempertimbangkan betapa besar, betapa agungnya Dia yang memenuhi langit dan bumi. Ia mempunyai kamar-kamar, kamar-kamar loteng-Nya (begitulah arti kata itu), yang baloknya Ia dirikan di air, air yang berada di atas langit (ay. 3), karena Ia telah mendasarkan bumi di atas laut dan sungai-sungai, yakni air yang berada di bawah langit. Walaupun udara dan air adalah benda-benda yang tidak tetap dan cair, namun, dengan kuasa ilahi, keduanya dijaga tetap ketat dan kokoh di tempat yang ditentukan bagi mereka sebagaimana kamar ditopang oleh balok dan kasau. Betapa Dia adalah Allah yang besar, yang kamar hadirat-Nya ditegakkan seperti itu, yang terpancang sedemikian rupa!

3. Dalam kereta-kereta kebangsaan mereka, dengan kuda-kuda kebesaran mereka, yang semakin menambah kemegahan mereka pada waktu masuk. Tetapi, Allah menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Nya, yang dikendarai-Nya dengan gagah, dengan cepat, dan jauh mengatasi jangkauan segala macam perlawanan, ketika suatu saat Ia akan bertindak melalui pemeliharaan-pemeliharaan yang luar biasa dalam memerintah dunia ini. Ia turun di dalam awan, seperti di dalam kereta, ke Gunung Sinai, untuk memberikan hukum, dan ke Gunung Tabor, untuk menyatakan Kabar Baik (Mat. 17:5), dan Dia bergerak (langkah yang pelan memang, tetapi bermartabat) di atas sayap angin(kjv: Dia berjalan - pen.). Lihat Mazmur 18:11-12. Ia memerintahkan angin, mengarahkannya sebagaimana Ia menghendaki-Nya, dan memenuhi tujuan-tujuan-Nya sendiri melalui angin itu.

4. Dalam pengikut-pengikut mereka atau iring-iringan pelayan. Dan dalam hal ini juga Allah sangatlah besar, sebab (ay. 4) Ia membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Nya (kjv: Ia membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi roh-roh yang melayani-Nya - pen.). Ini dikutip oleh sang rasul (Ibr. 1:7) untuk membuktikan keunggulan Kristus mengatasi para malaikat. Para malaikat di sini dikatakan sebagai malaikat-malaikat-Nya dan suruhan-suruhan-Nya, sebab mereka berada di bawah kekuasaan-Nya dan tunduk pada perintah-Nya. Mereka adalah angin, dan api yang menyala, maksudnya, mereka tampak di dalam angin dan api (menurut sebagian orang), atau mereka secepat angin dan semurni api. Atau Ia membuat malaikat-malaikat menjadi pelayan-pelayan-Nya, demikianlah sang rasul mengutipnya. Mereka adalah makhluk-makhluk rohani, dan apa pun kendaraan yang mereka miliki sesuai dengan kodrat mereka, karena sudah pasti mereka tidak memiliki tubuh seperti kita. Karena roh, mereka begitu jauh terhindar dari beban-beban sifat manusiawi dan begitu jauh lebih dekat dengan kemuliaan-kemuliaan ilahi. Dan mereka itu terang, cepat, dan bergerak naik, seperti api, seperti api yang menyala. Dalam penglihatan Yehezkiel, mereka terbang ke sana kemari seperti kilat (Yeh. 1:14). Itulah sebabnya mereka disebut serafim - para pembakar. Apa pun mereka, mereka adalah sebagaimana Allah menjadikan mereka, sebagaimana Allah masih menjadikan mereka. Keberadaan mereka berasal dari-Nya. Dengan keberadaan yang diberikan-Nya kepada mereka, mereka ditopang oleh-Nya di dalam keberadaan itu, dan Ia memakai mereka sebagaimana yang dikehendaki-Nya.


II. Si pemazmur melihat ke bawah, dan melihat ke sekeliling, pada kuasa Allah yang bersinar di dunia bawah ini. Ia tidak begitu terbuai dengan kemuliaan-kemuliaan istananya sendiri sampai mengabaikan wilayah-wilayahnya yang paling terpencil. Tidak, tidak akan, sekalipun itu laut dan tanah kering.

1. Allah telah mendasarkan bumi (ay. 5). Walaupun Ia sudah menggantungkan bumi pada kehampaan (Ayb. 26:7 ), ponderibus librata suis - diseimbangkan oleh beratnya sendiri, namun bumi tetap tidak tergerakkan, seolah-olah ia diletakkan di atas fondasi-fondasi yang paling teguh. Ia telah mendirikan bumi di atas dasarnya, sehingga meskipun menerima goncangan yang berbahaya karena dosa manusia, dan kebencian neraka menghantamnya, namun bumi takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya. Tidak akan goyang sebelum akhir zaman tiba, ketika ia harus menyediakan ruang bagi bumi yang baru. Uraian Dr. Hammond untuk ayat ini patut diperhatikan: “Allah telah memancangkan tempat yang begitu aneh untuk bumi, sehingga, karena bumi itu berat, orang akan menyangka ia akan jatuh setiap saat. Namun, ke mana pun kita membayangkan ia bergerak, sudah pasti, berlawanan dengan sifat badannya, ia akan jatuh ke atas, dan dengan demikian tidak akan mungkin hancur kecuali dengan jatuh terguling ke sorga.”

2. Ia telah menetapkan batas-batas laut. Sebab laut juga adalah kepunyaan-Nya.

(1) Ia membawanya ke dalam batas-batas karya ciptaan. Pertama-tama bumi, yang, karena tubuhnya lebih berat, dan pasti akan tenggelam, diselubungi dengan samudera raya (ay. 6): air naik melampaui gunung-gunung. Dan dengan demikian bumi tidak cocok, seperti yang sudah dirancang, sebagai tempat tinggal bagi manusia. Oleh sebab itu, pada hari ketiga, Allah berkata, “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering” (Kej. 1:9). Perintah Allah di sini disebut sebagai hardik-Nya, seolah-olah Ia memberi perintah itu karena tidak senang jika bumi diselubungi air seperti itu dan menjadi tidak cocok untuk didiami manusia. Ada kuasa yang turut bekerja dalam firman ini, dan oleh sebab itu perintah ini juga disebutkan di sini sebagai suara guntur-Nya, yang merupakan suara luar biasa besar dan membawa dampak-dampak yang ajaib (ay. 7). Terhadap hardik-Mu, seolah-olah tersadar bahwa mereka salah tempat, air itu melarikan diri. Mereka bergegas lari (mereka memanggil, dan tidak sia-sia, kepada batu-batu dan gunung-gunung untuk menutupi mereka), seperti yang dikatakan pada mazmur lain (77 :16), air telah melihat Engkau, ya Allah, air telah melihat Engkau, lalu menjadi gentar. Bahkan benda-benda cair seperti itu pun merasakan kengerian Allah. Tetapi terhadap sungai-sungaikah murka Tuhan bangkit? Tidak. Itu dilakukan-Nya demi menyelamatkan umat-Nya (Hab. 3:8, 13). Demikian pula di sini. Allah menghardik air demi manusia, untuk menyediakan ruang baginya. Sebab manusia janganlah dijadikan seperti ikan di laut (Hab. 1:14). Mereka harus diberi udara untuk bernafas. Oleh sebab itu, dengan segera, secepat mungkin, air surut (ay. 8). Air melintasi bukit dan lembah (sebagaimana kita mengatakannya), naik gunung dan turun lembah. Tidak akan pernah mereka berhenti di gunung atau berdiam di lembah, tetapi akan mencari jalan sebaik-baiknya untuk mengalir ke tempat yang Kautetapkan bagi mereka, dan di sanalah mereka akan berbaring. Biarlah penyerahan diri dari air yang merupakan benda tidak tetap mengajar kita tentang ketaatan kepada firman dan kehendak Allah. Sebab dari segala makhluk akankah manusia sendiri yang keras kepala? Biarlah surut dan istirahatnya mereka di tempat yang ditetapkan bagi mereka mengajar kita untuk berserah pada pengaturan-pengaturan pemeliharaan ilahi yang bijak itu, yang menetapkan bagi kita batas-batas kediaman kita.

(2) Ia menjaganya dalam batas-batasnya (ay. 9). Air dilarang melintasi batas-batas yang ditentukan bagi mereka. Mereka tidak boleh, dan oleh sebab itu mereka tidak kembali menyelubungi bumi. Sekali waktu mereka pernah menyelubungi bumi, dalam peristiwa air bah pada zaman Nuh, karena Allah menyuruh mereka, tetapi tidak pernah lagi setelah itu, sebab Ia melarang mereka, karena Ia sudah berjanji untuk tidak menenggelamkan dunia lagi. Allah sendiri bermegah di dalam contoh tentang kuasa-Nya ini (Ayb. 38:8, dst.) dan menggunakannya sebagai seruan bagi kita untuk takut akan Dia (Yer. 5:22). Hal ini, jika dipertimbangkan dengan sepatutnya, akan membuat dunia tetap hormat dan takut akan Tuhan serta kebaikan-Nya, bahwa air laut pasti akan segera menyelubungi bumi jika Allah tidak menahannya.

* Keagungan Ilahi (104:10-18)
Setelah memberikan kemuliaan kepada Allah sebagai pelindung yang berkuasa atas bumi ini, dalam menyelamatkannya dari banjir besar, di sini pemazmur mengakui Dia sebagai penderma yang royal baginya, yang menyediakan kenyamanan-kenyamanan bagi semua makhluk.

I. Ia menyediakan air segar sebagai minuman mereka: Ia melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah (ay. 10). Memang ada cukup banyak air di laut, maksudnya, cukup untuk menenggelamkan kita, tetapi tidak setetes pun untuk menyegarkan kita, sehaus apa pun kita. Semuanya begitu asin. Oleh karena itu Allah dengan penuh rahmat telah menyediakan air yang pantas untuk diminum. Ahli-ahli ilmu alam berbantah tentang asal muasal mata air. Tetapi, apa pun penyebab kedua dari mata air, inilah penyebab utamanya: Allahlah yang melepas mata-mata air ke dalamsungai-sungai, yang melintas dengan langkah-langkah ringan di antara gunung-gunung, dan menerima tambahan dari air hujan yang turun dari sana. Air ini memberi minum bukan hanya kepada manusia, dan makhluk-makhluk yang bermanfaat secara langsung baginya, tetapi juga kepada segala binatang di padang (ay. 11). Sebab, ketika Allah telah memberikan hidup, di situ Ia menyediakan penghidupan dan memelihara semua makhluk. Bahkan keledai-keledai hutan, meskipun tidak dapat dijinakkan dan oleh sebab itu tidak berguna bagi manusia, diundang untuk memuaskan haus mereka. Dan kita tidak mempunyai alasan untuk iri hati terhadap mereka, sebab kita diberi persediaan yang lebih baik, meskipun lahir seperti anak keledai liar. Kita mempunyai alasan untuk bersyukur kepada Allah atas kelimpahan air jernih yang dengannya Ia sudah memberikan persediaan kepada bagian bumi-Nya yang dapat dihuni, yang seandainya tidak demikian pasti tidak akan dapat dihuni. Ini harus dipandang sebagai kasih setia yang besar, yang seandainya tidak ada pasti akan membawa penderitaan besar. Dan, semakin lumrah suatu hal semakin besarlah kasih setianya. Usus communis aquarum - air sudah lumrah bagi semua.


II. Ia menyediakan makanan bagi kenyamanan mereka, baik bagi manusia maupun binatang: langit mengeluarkan lemak. Langit mendengarkan bumi, tetapi Allah mendengarkan langit (Hos. 2:20). Ia memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Nya (ay. 13), dari kamar-kamar yang dibicarakan tadi (ay. 3), yang baloknya Ia dirikan di air, kamar-kamar persediaan itu, awan-awan yang menyuling hujan deras. Gunung-gunung yang tidak disirami oleh sungai-sungai, seperti Mesir oleh Sungai Nil, disirami oleh hujan dari langit, yang disebut batang air Allah ( 65:10), seperti Kanaan (Ul. 11:11-12). Demikianlah bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu, entah dengan hujan yang diminumnya (bumi tahu kapan ia merasa cukup. Sayang jika ada orang yang tidak mengetahuinya) atau dengan buah-buah yang dihasilkannya. Adalah kepuasan bagi bumi untuk menopang buah pekerjaan Allah demi keuntungan umat manusia, sebab dengan demikian ia memenuhi maksud dari penciptaannya. Makanan yang oleh Allah dikeluarkan dari dalam tanah (ay. 14) adalah buah pekerjaan-Nya, yang membuat bumi kenyang. Amatilah betapa beraneka ragam dan berharganya hasil-hasil bumi.

1. Bagi hewan ternak tersedia rumput, dan binatang-binatang liar, yang tidak hidup dari rumput, memangsa binatang-binatang pemakan rumput. Bagi manusia tersedia sayur-mayur, jenis rumput yang lebih baik (dan makan dengan sayur-mayur dan akar-akaran itu janganlah dipandang rendah). Bahkan, ia disediakan anggur, minyak, dan makanan (ay. 15). Dapat kita amati di sini, berkenaan dengan makanan kita, apa yang akan membantu kita baik untuk bersikap rendah hati maupun untuk bersyukur.

(1) Untuk membuat kita bersikap rendah hati, marilah kita pertimbangkan bahwa kita perlu bergantung kepada Allah untuk segala penopang hidup ini (kita hidup dari amal sedekah. Kita harus ditemukan oleh-Nya, sebab tangan kita sendiri tidak memadai). Semua makanan kita berasal dari bumi, untuk mengingatkan kita dari mana kita berasal dan ke mana kita harus kembali. Oleh karena itu janganlah kita berpikir untuk hidup dari roti saja, sebab roti hanya memberi makan tubuh, tetapi juga harus datang kepada firman Allah untuk mendapatkan makanan yang langgeng sampai pada kehidupan kekal. Marilah juga kita pertimbangkan bahwa dalam hal ini kita merupakan kawan sesama dengan binatang. Bumi yang sama, bidang tanah yang sama, yang mengeluarkan rumput bagi hewan, juga mengeluarkan gandum bagi manusia.

(2) Untuk membuat kita bersyukur, marilah kita pertimbangkan,
- Bahwa Allah tidak hanya memberikan persediaan bagi kita, tetapi juga bagi hamba-hamba kita. Hewan yang berguna bagi manusia diperhatikan secara khusus. Rumput dibuat tumbuh dengan amat berlimpah bagi mereka, sementara singa-singa muda, yang tidak berguna untuk manusia, sering kali kekurangan dan menderita kelaparan.
- Bahwa makanan kita ada di dekat kita, dan siap sedia untuk kita. Karena bertempat tinggal di bumi, maka di sana pulalah gudang penyimpanan kita, dan tidak bergantung pada kapal-kapal saudagar yang mendatangkan makanannya dari jauh (Ams. 31:14).
- Bahwa dari hasil-hasil bumi kita bahkan mendapatkan bukan hanya apa yang diperlukan tetapi juga apa yang bisa dinikmati. Jadi, begitu baiknya Tuan yang kita layani. Pertama, bukankah alam membutuhkan sesuatu untuk menopangnya, dan untuk memperbaiki apa yang rusak dalam dirinya setiap hari? Inilah makanan, yang menyegarkan hati manusia, dan oleh sebab itu disebut penopang hidup (atau juga makanan pokok [the staff of life] -" pen.). Janganlah orang yang mendapat makanan ini mengeluh kekurangan. Kedua, bukankah alam menginginkan yang lebih, dan mendambakan sesuatu yang menyenangkan? Inilah anggur, yang menyukakan hati manusia, yang menyegarkan roh, dan menggembirakannya, apabila digunakan dengan sesuai dan secukupnya, agar kita bukan hanya bisa menjalankan pekerjaan sehari-hari, tetapi juga menjalankannya dengan riang hati. Sangat disayangkan bahwa anggur sampai digunakan untuk membebani hati, dan membuat manusia tidak layak menjalankan kewajibannya, padahal anggur diberikan untuk menyegarkan hati dan menyemangatinya untuk menjalankan kewajiban mereka. Ketiga, bukankah alam itu lebih riang, dan bukankah ia mendambakan sesuatu sebagai perhiasan juga? Inilah apa yang juga dikeluarkan dari bumi, yaitu minyak untuk membuat muka berseri, agar wajah bukan hanya gembira tetapi juga rupawan. Alhasil, kita pun menjadi lebih menyenangkan bagi satu sama lain.

2. Bahkan, pemeliharaan ilahi tidak hanya menyediakan binatang-binatang dengan makanan mereka yang sesuai, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dengan makanan mereka sendiri (ay. 16): kenyang pohon-pohon TUHAN, bukan hanya pohon-pohon manusia, yang mereka rawat dan perhatikan, di kebun-kebun anggur mereka, di taman-taman mereka, dan di tempat-tempat lain, tetapi juga pohon-pohon Allah, yang tumbuh di padang gurun, dan dirawat hanya dengan pemeliharaan-Nya. Pohon-pohon itu kenyangdan tidak kekurangan makanan. Bahkan pohon-pohon aras di Libanon, sebuah hutan terbuka, meskipun tinggi dan besar sekali, dan membutuhkan sangat banyak sari makanan, mendapat cukup makanan dari bumi. Mereka adalah pohon-pohon yang telah ditanam-Nya, dan yang oleh sebab itu akan dilindungi dan dipelihara-Nya. Kita dapat menerapkan ini pada pohon kebenaran, yang ditanam oleh Tuhan, ditanam di kebun anggur-Nya. Pohon-pohon ini kenyang, sebab apa yang ditanam Allah pasti akan disirami-Nya, dan mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita ( 92:14).

III. Ia memastikan agar mereka benar-benar tinggal di tempat kediaman yang cocok. Kepada manusia Allah telah memberikan kebijaksanaan untuk membangun tempat bagi diri mereka sendiri dan bagi hewan ternak yang berguna untuk mereka. Tetapi ada sejumlah makhluk yang tempat kediamannya disediakan secara lebih langsung oleh Allah.
1. Burung-burung. Sejumlah burung, dengan naluri, membuat sarang mereka di semak-semak dekat sungai (ay. 12): di dekat mata-mata air yang mengalir di antara gunung-gunung, diamsebagian dari burung-burung di udara, yang bersiul dari antara daun-daunan. Mereka bernyanyi, sesuai dengan kemampuan mereka, untuk menghormati Pencipta mereka yang senantiasa memberi mereka dengan murah hati, dan nyanyian mereka ini dapat mempermalukan keheningan kita. Bapakita di sorga memberi mereka makan (Mat. 6:26), dan oleh sebab itu mereka riang dan gembira, dan tidak khawatir akan hari esok. Karena burung-burung diciptakan untuk beterbangan di atas bumi (seperti yang kita dapati dalam Kejadian 1:20), maka mereka bersarangdi tempat tinggi, di pucuk-pucuk pepohonan (ay. 17). Tampaknya seolah-olah inilah yang dituju alam dalam menanam pohon-pohon aras di Libanon, agar pohon-pohon itu bisa menjadi penadah bagi burung-burung. Mereka yang terbang menuju sorga tidak akan kekurangan tempat istirahat. Burung ranggung disebutkan secara khusus. Pohon-pohon sanobar, yang tinggi menjulang, adalah rumahnya, istananya.
2. Binatang-binatang yang lebih kecil (ay. 18): kambing-kambing hutan, yang tidak mempunyai kekuatan atau kecepatan untuk melindungi diri sendiri, dituntun oleh naluri ke gunung-gunung tinggi, yang menjadi tempat perlindungan bagi mereka. Dan kelinci-kelinci, juga binatang-binatang yang tidak berdaya, mendapatkan perlindungan di bukit-bukit batu, di mana mereka bisa menantang binatang-binatang buas. Bila Allah memberikan persediaan yang sedemikian bagi makhluk-makhluk yang lebih lemah, bukankah Dia sendiri akan menjadi tempat perlindungan dan tempat kediaman bagi umat-Nya sendiri?





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 9 Oktober 2023 - Sang Pencipta Yang Tidak Bisa Digantikan - Mazmur 104:1b-5

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 7 Oktober 2023 - Menjadi Sesama Bagi Orang Lain - Lukas 10:36-37




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,