|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2023 Minggu, 17 September 2023 Khotbah GMIM Minggu, 17 September 2023 - Carilah Tuhan, Kamu Pasti Berhasil - Yesaya 55:1-13 Seruan untuk turut serta dalam keselamatan yang dari TUHAN Yesaya 55:1-13 Seruan untuk turut serta dalam keselamatan yang dari TUHAN 55:1 Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! 55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. 55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. 55:4 Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa; 55:5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau. 55:6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! 55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 55:9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. 55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, 55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. 55:12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. 55:13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap. Penjesalan: * Undangan-undangan Injil (55:1-5) Di sini, I. Kita semua diundang untuk datang dan mengambil keuntungan dari persediaan yang telah dibuat oleh anugerah Allah dalam perjanjian baru-Nya itu bagi jiwa-jiwa yang malang. Keuntungan ini merupakan bagian hamba-hamba TUHAN (54:17), dan bukan hanya bagian mereka di dunia nanti, melainkan juga piala mereka dalam masa sekarang ini (ay. 1). Amatilah, 1. Siapa yang diundang: Ayo, hai semua orang. Bukan orang-orang Yahudi saja, yang kepada mereka firman keselamatan pertama-tama disampaikan, melainkan juga bangsa-bangsa bukan Yahudi. Orang-orang miskin dan orang-orang cacat, orang-orang pincang dan orang-orang buta, diundang ke perjamuan pernikahan ini, siapa saja yang dapat diajak dari semua jalan dan lintasan. Ini menyiratkan bahwa di dalam Kristus ada persediaan yang cukup untuk semua dan setiap orang, bahwa hamba-hamba Allah harus menawarkan kehidupan dan keselamatan kepada semua orang, bahwa di zaman Injil undangan akan diberikan secara lebih luas daripada sebelumnya dan akan disampaikan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, dan bahwa perjanjian Injil tidak mengucilkan siapa pun yang tidak mengucilkan dirinya sendiri. Undangan itu disampaikan dengan Oyez-Ho, pengumuman, pengumuman! Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! 2. Persyaratan apa yang dituntut dari orang-orang yang akan disambut -" mereka harus haus. Semua orang akan disambut oleh anugerah Injil hanya dengan persyaratan bahwa mereka menyambut anugerah Injil tersebut. Orang-orang yang puas dengan dunia dan kenikmatannya, yang menjadikannya sebagai bagian mereka, dan tidak mencari kebahagiaan dalam perkenanan Allah, orang-orang yang bergantung pada jasa perbuatan mereka sendiri untuk membenarkan mereka, dan tidak melihat kebutuhan mereka akan Kristus dan kebenaran-Nya, mereka ini tidak haus. Mereka tidak sadar akan kebutuhan mereka, tidak merasa susah atau gelisah memikirkan jiwa mereka, dan karena itu tidak sudi untuk merendah sedemikian jauh sampai mengikatkan diri kepada Kristus. Tetapi orang-orang yang haus diundang untuk minum air, sebagaimana orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat diundang untuk mendapat kelegaan di dalam Kristus. Perhatikanlah, apabila Allah memberikan anugerah, Ia pertama-tama memberikan rasa haus akan anugerah itu. Dan, setelah memberikan rasa haus akan anugerah, Ia akan memberikan anugerah itu (Mzm. 81:11). 3. Ke mana mereka diundang: Marilah dan minumlah air. Marilah ke pinggir sungai, ke pelabuhan, ke dermaga, ke pangkalan air, ke sungai-sungai yang dapat diarungi, yang ke sana barang-barang dimasukkan dari luar negeri. Marilah datang ke sana untuk membeli, sebab itu adalah pasar barang-barang asing. Dan barang-barang itu akan selamanya asing bagi kita seandainya Kristus tidak membawa masuk kebenaran kekal. Datanglah kepada Kristus. Sebab Dia adalah mata air yang terbuka bagi siapa saja. Dia adalah gunung batu yang dipukul. Datanglah ke upacara-upacara ibadah yang kudus, ke aliran-aliran sungai yang menyukakan kota Allah kita itu. Datanglah ke sana, dan meskipun bagimu itu tampak sederhana dan biasa-biasa saja, seperti air, namun bagi mereka yang percaya kepada Kristus, hal-hal yang diperlambangkan melalui ibadah-ibadah kudus itu akan menjadi seperti anggur dan susu, yang menyegarkan dengan limpahnya. Datanglah ke mata air yang menyembuhkan. Datanglah ke air kehidupan. Siapa saja yang ingin datang, baiklah ia datang, dan mengambil air kehidupan (Why. 22:17). Juruselamat kita merujuk pada air ini dalam Yohanes 7:37. Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! 4. Untuk apa mereka diundang. (1) Marilah, belilah. Tidak pernah seorang pedagang berusaha menarik hati pelanggan yang ingin didapatnya seperti Kristus menarik kita pada apa yang justru menguntungkan kita. “Marilah, belilah, dan kami bisa jamin bahwa engkau akan mendapat penawaran yang baik, yang tidak akan pernah engkau sesali atau membuatmu rugi. Marilah, belilah. Buatlah tawaran itu menjadi milikmu sendiri dengan menerapkan anugerah Injil pada dirimu sendiri. Buatlah itu menjadi milikmu sendiri dengan persyaratan-persyaratan Kristus, bahkan, dengan persyaratan apa saja, dan jangan pikir-pikir lagi mau setuju atau tidak.” (2) “Marilah, dan makanlah. Buatlah itu menjadi lebih dari sekadar milik saja, tetapi seperti apa yang kita makan, yang bukan hanya dibeli saja dan menjadi milik begitu saja.” Kita harus membeli kebenaran, bukan supaya kita dapat menaruhnya untuk dipajang, tetapi supaya kita dapat makan dan berpesta dengannya, dan supaya kehidupan rohani disehatkan dan dikuatkan olehnya. Kita harus membeli persediaan-persediaan yang diperlukan bagi jiwa kita, harus rela berpisah dengan apa saja, meskipun begitu kita sayangi, sehingga kita hanya memiliki Kristus serta anugerah dan penghiburan-Nya saja. Kita harus berpisah dengan dosa, karena dosa merupakan perlawanan terhadap Kristus, harus berpisah dengan semua anggapan bahwa kita ini benar, karena anggapan ini bersaing melawan Kristus, dan harus berpisah dengan hidup itu sendiri, serta penopang-penopangnya, sekalipun paling dibutuhkan, karena ini lebih baik daripada melepaskan kepentingan kita di dalam Kristus. Dan, sesudah kita membeli apa yang kita perlukan, janganlah sampai kita tidak memanfaatkannya bagi penghiburan kita, tetapi marilah kita menikmatinya, dan makan dari hasil pekerjaan tangan kita: Belilah, dan makanlah. 5. Persediaan apa yang untuknya mereka diundang: “Marilah, dan terimalah anggur dan susu, yang tidak hanya akan memuaskan dahaga” (kalau itu, air putih juga bisa), “tetapi juga menyehatkan tubuh, dan menyegarkan roh.” Dunia ini jauh dari yang kita harapkan. Kita menjanjikan diri sendiri, setidak-tidaknya, akan mendapat air di dalamnya, tetapi dalam hal itu kita dikecewakan, seperti kafilah dari Tema (Ayb. 6:19). Tetapi Kristus melampaui harapan-harapan kita. Kita datang untuk minum air, dan akan senang mendapatkannya, karena di sana kita justru mendapatkan anggur dan susu, yang merupakan bahan-bahan makanan pokok suku Yehuda, dan yang dengannya Silo dari suku itu diperlengkapi untuk menjamu bangsa-bangsa yang dikumpulkan kepada-Nya (Kej. 49:10, 12, KJV). Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu. Kita harus datang kepada Kristus, untuk mendapat susu bagi bayi-bayi, untuk menyehatkan dan memelihara mereka yang baru lahir kembali. Dan bersama Dia orang-orang yang kuat pun akan mendapat apa yang menghangatkan mereka: mereka akan mendapat anggur yang menyukakan hati mereka. Kita harus berpisah dengan kubangan air, bahkan dengan racun kita, supaya kita memperoleh anggur dan susu ini. 6. Diberikannya persediaan ini secara cuma-cuma: Terimalah tanpa uang pembeli dan tanpa bayaran. Cara membeli yang aneh, bukan hanya tanpa uang kontan (seperti biasanya), melainkan juga tanpa uang sama sekali, atau tanpa janji apa pun. Tetapi, ini tidak tampak sedemikian aneh bagi orang-orang yang sudah mendengarkan nasihat Kristus kepada jemaat di Laodikia, yang miskin dan papa, untuk datang dan membeli (Why. 3:17-18). Membeli tanpa uang menyiratkan, (1) Bahwa pemberian-pemberian yang ditawarkan kepada kita tak terhingga nilainya dan tak bisa diukur dengan harga berapa saja. Hikmat adalah apa yang tidak dapat diperoleh dengan emas. (2) Bahwa Dia yang menawarkan pemberian-pemberian itu tidak membutuhkan apa-apa dari kita, atau balasan apa pun. Ia memberikan penawaran-penawaran ini kepada kita, bukan karena ingin menjual sesuatu, melainkan karena hati-Nya memang ingin memberi. (3) Bahwa hal-hal yang ditawarkan itu sudah dibeli dan dibayar lunas. Kristus membelinya dengan nilai penuh, dengan harga, bukan dengan uang, melainkan dengan darah-Nya sendiri (1Ptr. 1:19). (4) Bahwa kita akan disambut untuk menerima keuntungan-keuntungan dari janji itu, meskipun kita sepenuhnya tidak pantas untuk itu, dan tidak bisa mengajukan penawaran apa saja yang tampak layak dipertimbangkan. Kita sendiri sama sekali tidak bernilai, tidak pula apa yang kita miliki atau dapat lakukan. Dan kita harus mengakui bahwa, jika Kristus dan sorga menjadi milik kita kelak, maka kita ini sungguh berutang selama-lamanya pada anugerah yang sudah diberikan dengan cuma-cuma. II. Kita sungguh-sungguh didesak dan dibujuk (dan oh, semoga saja kita berhasil diyakinkan!) untuk menerima undangan ini, dan mengambil penawaran yang baik ini bagi diri kita sendiri. 1. Undangan kita adalah undangan untuk mendengarkan Allah dan tawaran-tawaran-Nya. “Dengarkanlah Aku (ay. 2). Jangan hanya mendengar, tetapi juga setujuilah apa yang Kukatakan, dan lakukanlah (ay. 3): Sendengkanlah telingamu, seperti kamu menyendengkan telinga pada apa yang engkau perlukan dan yang menjadi kesenanganmu. Pasang telingamu, dan biarlah hati yang sombong membungkuk pada cara-cara Injil yang merendahkan hati. Sendengkanlah telinga ke sini, supaya kamu mendengar dengan penuh perhatian. Dengar, dan datanglah kepada-Ku. Jangan hanya datang dan berunding dengan-Ku, tetapi juga sepakatlah dengan-Ku, penuhilah persyaratan-persyaratan-Ku.” Terimalah tawaran-tawaran Allah sebagai tawaran yang sangat menguntungkan. Penuhilah tuntutan-tuntutan-Nya sebagai tuntutan yang sangat pantas dan wajar. 2. Alasan-alasan yang dipakai untuk mengajak kita pada tawaran ini didasarkan, (1) Pada kesalahan yang tak terbilang yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri jika kita sampai mengabaikan dan menolak undangan ini: “Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, yang tidak akan menghasilkan bagimu makanan seorang pengemis sekalipun, roti kering, padahal bersama-Ku kamu bisa mendapat anggur dan susu tanpa uang pembeli? Mengapakah kamu belanjakan upah jerih payahmu dan jerih pekerjaanmu untuk sesuatu yang bahkan tidak akan menjadi seperti roti kering bagimu, bahkan tidak mengenyangkan? “ Lihatlah di sini, [1] Kesia-siaan hal-hal dunia ini. Perkara-perkara dunia ini bukanlah roti, bukan makanan yang sesuai bagi jiwa. Perkara-perkara dunia ini tidak dapat memberikan kesehatan atau penghiburan yang cocok. Roti adalah bahan pokok bagi kehidupan jasmani, tetapi ia tidak dapat memberikan sokongan sama sekali bagi kehidupan rohani. Segala kekayaan dan kesenangan di dunia tidak akan bisa memberikan sepiring makanan pun bagi jiwa. Kebenaran kekal dan kebaikan kekal adalah satu-satunya makanan bagi jiwa yang berakal dan tak dapat mati, yang kehidupannya terjadi karena berdamai dengan Allah dan menyesuaikan hidup dengan-Nya, dan di dalam persatuan dan persekutuan dengan Dia. Semua perkara ini sama sekali tidak bersahabat dengan dunia. Perkara-perkara dunia ini tidak mengenyangkan, tidak memberikan penghiburan yang teguh dan kepuasan apa pun pada jiwa, juga tidak dapat memampukannya untuk berkata, “Sekarang aku sudah memiliki apa yang ingin kumiliki.” Bahkan, perkara-perkara dunia ini tidak dapat memuaskan nafsu tubuh jasmani. Semakin banyak orang memiliki, semakin mereka ingin memiliki lebih banyak lagi (Pkh. 1:8). Haman merasa tidak puas di tengah-tengah kelimpahannya. Perkara-perkara dunia ini menina-bobokan, tetapi tidak mengenyangkan. Perkara-perkara dunia ini memberikan kesenangan untuk sementara waktu, seperti mimpi orang yang lapar, yang terbangun dengan perut kosong dan hatinya hampa. Perkara-perkara dunia ini cepat membuat jenuh, bahkan tidak pernah memuaskan. Perkara-perkara dunia ini membuat orang jemu, tidak membuatnya puas, atau membuatnya sungguh-sungguh tenang. Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. [2] Kebodohan anak-anak dunia ini. Mereka menghabiskan uang dan tenaga mereka untuk hal-hal yang tidak pasti dan tidak memuaskan ini. Orang kaya hidup dari uang mereka, orang miskin hidup dari pekerjaan mereka. Tetapi kedua-duanya salah menilai kepentingan mereka yang sesungguhnya. Kalau yang satu berdagang untuk dunia, yang lain bekerja keras untuk dunia. Kedua-duanya menjanjikan diri bahwa mereka akan mendapat kepuasan dan kebahagiaan di dalamnya, tetapi kedua-duanya dikecewakan dengan menyedihkan. Allah dengan penuh belas kasihan bersedia beperkara dengan mereka: “Mengapa kamu bertindak melawan kepentinganmu sendiri seperti itu? Mengapa kamu membiarkan dirimu diperdaya seperti itu?” Marilah kita berbantah dengan diri kita sendiri, dan biarlah hasil dari perbantahan ini menjadi tekad yang kudus untuk tidak bekerja untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal (Yoh. 6:27). Biarlah semua kekecewaan yang kita temui di dunia ini membantu mendorong kita datang kepada Kristus, dan menuntun kita untuk mencari kepuasan di dalam Dia saja. Inilah cara untuk memastikan apa yang memang pasti. (2) Alasan-alasan itu didasarkan pada kebaikan yang tak terbilang yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri jika kita menerima undangan ini dan menurutinya. [1] Dengan begitu kita mengamankan bagi diri kita sendiri kesenangan dan kepuasan untuk saat ini: “Jika kamu mendengarkan Kristus, kamu akan memakan yang baik, yang menyehatkan dan juga menyenangkan, yang memang pada dasarnya baik dan baik untukmu.” Firman dan janji Allah yang baik, hati nurani yang baik, dan penghiburan dari Roh Allah yang baik, merupakan pesta yang terus-menerus ada dan dirayakan oleh orang-orang yang tekun mendengarkan dan mematuhi Kristus. Jiwa mereka akan menikmati sajian yang paling lezat, yaitu kekayaan dan kelezatan yang paling disyukuri. Di sini undangannya bukan berbunyi, “Marilah, dan belilah,” karena bisa-bisa orang tidak mau datang, melainkan, “Marilah, dan makanlah. Marilah dan jamulah dirimu sendiri dengan apa yang akan menyenangkan dengan limpahnya. Makanlah, hai teman!” Kalau dipikir-pikir, sungguh menyedihkan bahwa orang sampai perlu diajak seperti itu justru untuk memperoleh kebahagiaan mereka sendiri. [2] Dengan begitu kita mengamankan bagi diri kita sendiri kebahagiaan yang abadi: “Dengarkanlah, maka kamu akan hidup. Kamu tidak hanya akan diselamatkan dari kebinasaan kekal, tetapi juga akan diberkati selama-lamanya.” Sebab apa yang kurang dari itu tidak bisa menjadi kehidupan jiwa yang tidak bisa mati. Perkataan Kristus adalah roh dan hidup, kehidupan bagi roh (Yoh. 6:33, 63), firman hidup (Kis. 5:20). Betapa dengan persyaratan yang mudah kebahagiaan ditawarkan kepada kita! Yang dituntut hanya, “Dengarlah, maka kamu akan hidup.” [3] Allah yang mahabesar dengan penuh rahmat mengamankan semuanya ini bagi kita: “Datanglah kepada-Ku, Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, hendak membuat hubungan dengan engkau berdasarkan perjanjian dan mengikat diri dengan engkau berdasarkan perjanjian itu, supaya dengan begitu Aku menetapkan bagimu kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.” Perhatikanlah, pertama, jika kita datang kepada Allah untuk melayani-Nya, maka Ia akan mengikat perjanjian dengan kita untuk berbuat baik kepada kita dan membuat kita bahagia. Seperti itulah Ia mau merendahkan diri, karena begitu peduli terhadap kita. Kedua, perjanjian Allah dengan kita adalah perjanjian abadi -" dirancang dari kekekalan, dan terus berlanjut sampai pada kekekalan. Ketiga, keuntungan-keuntungan dari perjanjian ini adalah kasih setia atau belas kasih yang disesuaikan dengan keadaan kita, yang, karena sengsara, pantas untuk diberi belas kasihan. Keuntungan-keuntungan itu datang dari kasih setia Allah, dan diberikan dalam segala hal sebagai kebaikan hati-Nya kepada kita. Keempat, kasih setia itu adalah kasih setia yang teguh kepada Daud, kasih setia seperti yang dijanjikan Allah kepada Daud (Mzm. 89:29-30, dst.), yang disebut kasih setia kepada Daud, hamba-Nya itu, dan diserukan oleh Salomo (2Taw. 6:42). Perjanjian ini akan teguh seteguh perjanjian dengan Daud (Yer. 33:25-26). Perjanjian rajawi adalah perlambang dari perjanjian anugerah (2Sam. 23:5). Atau lebih tepatnya, yang dimaksudkan dengan Daud di sini adalah sang Mesias. Perjanjian kasih setia itu melulu adalah kasih setia-Nya (Sang Mesias). Kasih setia itu dibeli oleh-Nya, dijanjikan di dalam Dia, disimpan sebagai harta di tangan-Nya, dan dari tangan-Nya dibagi-bagikan kepada kita. Dia adalah sang Pengantara dan Wali dari perjanjian itu. Kepada-Nyalah perjanjian kasih setia ini diberikan (Kis. 13:34). Kasih setia itu adalah ta hosia (kata yang dipakai dalam Kisah Para Rasul, dan yang dipakai oleh terjemahan Septuaginta dalam Kitab Yesaya) -" hal-hal kudus dari Daud, sebab hal-hal itu diteguhkan dengan kekudusan Allah (Mzm. 89:36) dan dimaksudkan untuk memajukan kekudusan di antara manusia. Kelima, kasih setia itu adalah kasih setia yang teguh, yang pasti. Perjanjian itu, yang diatur dengan baik dalam segala hal, adalah pasti. Perjanjian itu pasti dalam segala hal yang ditawarkannya kepada semua orang. Allah itu nyata dan tulus, dan bersungguh-sungguh, dalam menawarkan kasih setia ini. Perjanjian itu pasti dipenuhi bila diterima oleh orang-orang percaya. Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Kasih setia itu adalah kasih setia kepada Daud, dan oleh karena itu pasti, sebab di dalam Kristus semua janji Allah adalah “ya” dan “Amin.” III. Yesus Kristus dijanjikan untuk menggenapi semua janji lain yang di sini kita diundang untuk menerimanya (ay. 4). Dialah Daud yang kasih setia teguh-Nya merupakan segala berkat dan keuntungan dari perjanjian itu. “Dan Allah telah memberikan Dia dalam maksud dan janji-Nya, telah mengangkat dan menetapkan Dia, dan dalam kegenapan waktu pasti akan mengutus Dia seolah-olah Dia sudah datang, untuk menjadi bagi kita segala yang kita perlukan untuk mendapat keuntungan dari persiapan-persiapan ini.” Allah telah memberikan Dia secara cuma-cuma, sebab apa lagi yang lebih cuma-cuma daripada sebuah pemberian? Tiada suatu apa pun dalam diri kita yang membuat kita layak mendapat perkenanan seperti itu, sehingga Kristus sungguh adalah pemberian Allah. Kita memerlukan pemberian seperti ini, 1. Untuk menegaskan kebenaran dari janji-janji yang di sini kita diundang untuk mengambil keuntungannya. Kristus diberikan untuk menjadi saksi bahwa Allah bersedia menerima kita ke dalam perkenanan-Nya dengan persyaratan-persyaratan Injil, dan untuk meneguhkan janji-janji yang dibuat kepada nenek moyang, bahwa kita dapat mempertaruhkan jiwa kita pada janji-janji itu dengan kepuasan sepenuhnya. Kristus adalah Saksi yang setia, kita dapat mempercayai perkataan-Nya. Ia Saksi yang andal, sebab Dia berada di pangkuan Bapa sejak dari kekekalan, dan mengetahui secara sempurna seluruh perkara. Kristus, sebagai Nabi, memberikan kesaksian tentang kehendak Allah kepada dunia. Dan percaya berarti menerima kesaksian-Nya. 2. Untuk membantu kita dalam memenuhi undangan itu, dan memenuhi persyaratannya. Kita tidak tahu bagaimana menemukan jalan ke perairan di mana kita akan mendapat persediaan, tetapi Kristus diberikan sebagai Raja (KJV: Pemimpin). Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan supaya kita dapat memenuhi persyaratannya, dan ikut ambil bagian di dalamnya, tetapi Ia diberikan sebagai Pemerintah, untuk menunjukkan kepada kita apa yang harus dilakukan dan memampukan kita melakukannya. Banyak kesulitan dan perlawanan menghadang di jalan kita kepada Kristus. Ada musuh-musuh rohani yang kita harus bergulat dengannya, tetapi, untuk menyemangati kita dalam pertempuran itu, kita mempunyai Panglima yang baik, seperti Yosua, Raja dan Pemerintah yang akan menginjak-injak musuh-musuh kita dan membuat kita merebut tanah perjanjian. Kristus adalah Pemerintah melalui perintah-Nya dan Raja melalui teladan-Nya. Pekerjaan kita adalah mematuhi dan mengikuti-Nya. IV. Setelah Tuan pesta ditetapkan, selanjutnya pesta itu harus dipenuhi dengan tamu-tamu undangan, sebab perbekalan pesta tidak boleh hilang percuma, atau menjadi sia-sia (ay. 5). 1. Bangsa-bangsa bukan Yahudi akan dipanggil ke pesta ini, akan diundang dari semua jalan dan lintasan: “Engkau akan memanggil bangsa yang tidak Kaukenal, yaitu, yang sebelumnya tidak disebut dan diakui sebagai bangsa-Mu, yang kepada mereka Engkau tidak mengutus nabi-nabi seperti kepada Israel, sebuah kaum yang dikenal Allah melebihi segala kaum di muka bumi.” Bangsa-bangsa bukan Yahudi sekarang akan mendapat perkenanan seperti yang tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya. Dikenalnya Allah oleh mereka lebih tepat dikatakan sebagai dikenalnya mereka oleh Allah (Gal. 4:9). 2. Mereka akan datang memenuhi panggilan itu: Bangsa yang tidak mengenal Engkau akan berlari kepadamu. Orang-orang yang sudah lama jauh dari Kristus akan dibuat menjadi dekat. Orang-orang yang sudah berlari dari Dia akan berlari kepada-Nya, dengan kecepatan dan kesigapan yang luar biasa tak terbayangkan. Akan ada kumpulan besar dari bangsa-bangsa bukan Yahudi yang percaya kepada Kristus, yang, karena ditinggikan dari bumi, akan menarik semua orang datang kepada-Nya. Sekarang lihatlah alasannya, (1) Mengapa bangsa-bangsa bukan Yahudi akan datang berbondong-bondong seperti itu kepada Kristus. Oleh karena TUHAN, Allah-Nya, karena Dia adalah Anak Allah, dan dinyatakan demikian dengan kuasa, karena sekarang mereka melihat bahwa Allah-Nya adalah Allah yang dengan-Nya mereka harus berurusan, dan tidak ada yang bisa datang kepada-Nya sebagai Allah mereka kecuali mereka punya kepentingan di dalam Anak-Nya. Orang-orang yang dibuat mengenal Allah, dan memahami bahwa letak permasalahannya ada di antara mereka dan Dia, tidak bisa tidak pasti berlari kepada Yesus Kristus, yang merupakan satu-satunya Pengantara antara Allah dan Manusia, dan tidak ada yang bisa datang kepada Allah kecuali melalui Dia. (2) Mengapa Allah akan membawa mereka kepada-Nya. Oleh karena Dia adalah Yang Mahakudus, Allah Israel, yang setia pada janji-janji-Nya, dan Ia telah berjanji untuk memuliakan Kristus dengan memberi-Nya bangsa-bangsa sebagai milik pusaka-Nya. Ketika orang-orang Yunani mulai mencari tahu tentang Kristus, Ia berkata, telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan (Yoh. 12:22-23). Dan dimuliakannya Dia dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya merupakan alasan yang kuat yang karenanya banyak orang digerakkan untuk berlari kepada-Nya. * Undangan-undangan Injil (55:6-13) Kita mendapati di sini penjelasan lebih lanjut tentang perjanjian anugerah yang dibuat dengan kita di dalam Yesus Kristus, baik apa yang dituntut maupun apa yang dijanjikan dalam perjanjian itu. Dalam perikop di atas juga dijelaskan lebih lanjut tentang pertimbangan-pertimbangan yang lebih dari cukup untuk meneguhkan kepercayaan kita untuk menyetujui dan mengandalkan perjanjian itu. Penyingkapan yang penuh rahmat tentang kehendak baik Allah kepada anak-anak manusia ini tidak terbatas hanya untuk orang-orang Yahudi atau orang-orang bukan Yahudi, pada Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, apalagi pada orang-orang buangan di Babel. Tidak, baik perintah-perintah maupun janji-janjinya diberikan di sini kepada siapa saja, kepada semua orang yang haus akan kebahagiaan (ay. 1). Dan siapa yang tidak? Dengarlah ini, dan hiduplah. I. Di sini diberikan tawaran yang penuh rahmat akan pengampunan, damai sejahtera, dan segala kebahagiaan kepada orang-orang berdosa yang malang, dengan persyaratan-persyaratan Injil (ay. 6-7). 1. Baiklah mereka berdoa, maka doa mereka akan didengar dan dijawab (ay. 6): “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui. Carilah Dia yang telah kamu tinggalkan dengan memberontak dan tidak setia kepada-Nya, dan yang telah hilang darimu dengan menyulut murka-Nya sehingga Ia menarik perkenanan-Nya darimu. Berserulah kepada-Nya sekarang selama Ia dekat, dan dapat dipanggil.” Amatilah di sini, (1) Kewajiban-kewajiban yang dituntut. [1] “Carilah Tuhan. Carilah Dia, dan tanyakan kepada-Nya, sebagai pembimbingmu. Carilah pengajaran dari mulut-Nya. Apa yang Kaukehendaki supaya aku perbuat? Carilah Dia, dan tanyakan tentang Dia, sebagai bagianmu dan kebahagiaanmu. Berusahalah untuk berdamai dengan Dia dan mengenal-Nya, dan berbahagia di dalam perkenanan-Nya. Menyesallah karena engkau telah kehilangan Dia. Carilah Dia dengan cemas. Gunakanlah cara yang sudah ditetapkan untuk menemukan Dia, dengan memakai Kristus sebagai jalanmu, Roh sebagai pembimbingmu, dan firman sebagai pedomanmu.” [2] “Berserulah kepada-Nya. Berdoalah kepada-Nya untuk diperdamaikan, dan, sesudah diperdamaikan, berdoalah kepada-Nya untuk semua hal lain yang kamu butuhkan.” (2) Alasan-alasan yang dipakai untuk menekankan kewajiban-kewajiban ini kepada kita: Selama Ia berkenan ditemui -" selama Ia dekat. [1] Tersirat bahwa pada saat ini Allah dekat dan mau ditemui, sehingga tidak akan sia-sia mencari Dia dan berseru kepada-Nya. Sekarang kesabaran-Nya sedang menantikan kita, firman-Nya sedang memanggil-manggil kita, dan Roh-Nya sedang tinggal dengan kita. Marilah kita memanfaatkan keuntungan-keuntungan dan kesempatan-kesempatan yang ada pada kita. Sebab waktu ini adalah waktu perkenanan itu. Tetapi, [2] Akan tiba saatnya ketika Ia jauh, dan tidak mau ditemui, hari di mana kesabaran-Nya akan habis, dan Roh-Nya tidak akan tinggal lagi dengan kita. Bisa jadi akan tiba waktunya dalam kehidupan ini, ketika hati sudah mengeras tanpa bisa disembuhkan lagi. Sudah pasti bahwa pada saat kematian dan penghakiman, pintu akan ditutup (Luk. 16:26; 13:25-26). Rahmat ditawarkan sekarang, tetapi nanti penghakiman tanpa belas kasihan akan dijalankan. 2. Baiklah mereka bertobat dan memperbarui diri, maka dosa-dosa mereka akan diampuni (ay. 7). Di sini ada panggilan kepada orang-orang yang belum bertobat, kepada orang fasik dan orang jahat. Kepada orang fasik, yang hidup dalam dosa-dosa yang menjijikkan dengan sepengetahuannya, dan kepada orang jahat, yang hidup dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban yang sudah jelas. Kepada merekalah firman keselamatan ini disampaikan, dan diberikan segala jaminan yang mungkin bahwa orang-orang berdosa yang bertobat akan mendapati Allah sebagai Allah yang mengampuni. Amatilah di sini, (1) Apa itu bertobat. Ada dua hal yang terlibat dalam pertobatan: [1] Bertobat adalah berbalik dari dosa, membuangnya. Bertobat adalah meninggalkan dosa, dan meninggalkannya dengan kejijikan dan kengerian, untuk tidak pernah kembali lagi kepadanya. Orang fasik harus meninggalkan jalannya, jalannya yang jahat, seperti kita ingin meninggalkan jalan yang salah, yang tidak akan pernah membawa kita pada kebahagiaan yang kita tuju, dan jalan yang berbahaya, yang menuju pada kebinasaan. Janganlah dia mengambil satu langkah lagi di jalan itu. Bahkan, bukan saja harus ada perubahan jalan, melainkan juga perubahan pikiran. Orang jahat harus meninggalkan rancangannya. Pertobatan, jika itu sungguh-sungguh, mencabut sampai ke akar-akarnya, dan membasuh hati dari kefasikan. Kita harus mengubah penilaian kita tentang orang-orang dan berbagai hal, mengusir pemikiran-pemikiran yang bobrok, dan menghentikan kepura-puraan yang sia-sia yang membungkus hati yang tidak dikuduskan. Perhatikanlah, menghentikan perbuatan-perbuatan jahat saja tidak cukup, kita juga harus menggugat pikiran-pikiran yang jahat. Namun ini belum semua: [2] Bertobat adalah kembali kepada TUHAN. Kembali kepada-Nya sebagai Allah kita, Tuhan kita yang berdaulat, yang terhadap-Nya kita sudah memberontak, dan yang dengan-Nya kita berkepentingan untuk berdamai. Bertobat adalah kembali kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan dan air hidup, yang sudah kita tinggalkan demi kolam-kolam yang bocor. (2) Dorongan apa yang diberikan kepada kita supaya bertobat seperti itu. Jika kita bertobat seperti itu, [1] Allah akan mengasihani. Ia tidak akan memperlakukan kita seperti yang pantas kita dapatkan akibat dosa-dosa kita, tetapi akan mengasihani kita. Kesengsaraan adalah sasaran belas kasihan. Nah, baik akibat-akibat dari dosa, yang karenanya kita menjadi benar-benar sengsara (Yeh. 16:5-6), dan hakikat pertobatan, yang melaluinya kita disadarkan akan kesengsaraan kita dan dibuat meratapi diri kita sendiri (Yer. 31:18), kedua-duanya menjadikan kita sasaran belas kasihan, dan pada Allah ada belas kasihan yang besar. [2] Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Ia akan melipatgandakan pengampunan (demikian kata yang dipakai), sebagaimana kita telah melipatgandakan pelanggaran. Meskipun dosa-dosa kita sangat besar dan sangat banyak, dan walaupun kita sering kali berpaling dan masih cenderung melanggar, namun Allah akan kembali mengampuni, dan bahkan menyambut orang-orang yang sudah berpaling, yang kembali kepada-Nya dengan tulus hati. II. Di sini ada dorongan-dorongan yang diberikan kepada kita untuk menerima tawaran ini dan mempertaruhkan jiwa kita padanya. Sebab, ke mana pun kita melihat, kita mendapati apa yang cukup untuk meneguhkan kepercayaan kita akan keabsahan dan nilai dari tawaran ini. 1. Jika kita melihat ke langit, di sana kita mendapati putusan-putusan Allah yang tinggi dan melampaui dunia ini, rancangan-rancangan dan jalan-jalan-Nya yang secara tak terhingga mengatasi segala rancangan dan jalan kita (ay. 8-9). Orang-orang fasik didesak untuk meninggalkan jalan-jalan dan rancangan-rancangan mereka yang jahat (ay. 7) dan untuk kembali kepada Allah, yaitu menjadikan jalan dan rancangan mereka setuju dan mengikuti jalan dan rancangan-Nya. “Sebab” (firman-Nya) “rancangan dan jalan-Ku tidak seperti rancangan dan jalanmu. Rancangan dan jalanmu hanya menyangkut perkara-perkara yang di bawah, berasal dari bumi. Tetapi rancangan dan jalan-Ku menyangkut perkara-perkara yang di atas, seperti tingginya langit dari bumi. Dan, jika kamu mau membuktikan diri sebagai orang yang betul-betul bertobat, rancangan dan jalanmu juga harus demikian, dan perasaanmu harus diarahkan kepada perkara-perkara yang di atas.” Atau lebih tepatnya, hal itu harus dipahami sebagai dorongan bagi kita untuk bergantung pada janji Allah untuk mengampuni dosa, ketika kita bertobat. Orang-orang berdosa mungkin sudah takut bahwa Allah tidak akan mau berdamai dengan mereka, karena mereka tidak dapat menemukan tempat dalam hati mereka untuk berdamai dengan Pribadi yang sudah menyakiti mereka dengan begitu hina dan begitu sering. “Tetapi” (firman Allah) “rancangan-Ku dalam hal ini tidaklah seperti rancanganmu, tetapi jauh mengatasinya seperti tingginya langit dari bumi.” Rancangan-Nya dalam hal-hal lain juga demikian. Pandangan-pandangan orang tentang dosa, Kristus, dan kekudusan, tentang dunia ini dan dunia lain, sangat jauh berbeda dari pandangan-pandangan Allah tentang hal itu semua. Tetapi jauh terlebih lagi dalam hal pendamaian. Kita menganggap Allah cepat murka dan lama untuk mengampuni -" bahwa, jika Ia sudah mengampuni satu kali, Ia tidak akan mengampuni untuk kedua kali. Petrus menganggap luar biasa jika kita bisa mengampuni sampai tujuh kali (Mat. 18:21), dan uang seratus ribu saja sudah banyak artinya bagi kita. Tetapi Allah menyambut orang-orang berdosa yang kembali dengan penuh belas kasih dan pengampunan. Ia mengampuni secara cuma-cuma, sebagaimana Ia memberi: itu dilakukan tanpa marah-marah. Kita memaafkan namun tidak bisa melupakan. Tetapi, apabila Allah mengampuni dosa, Ia tidak mengingatnya lagi. Demikianlah Allah mengundang orang-orang berdosa untuk kembali kepada-Nya, dengan membuat mereka berpikiran baik tentang diri-Nya (Yer. 31:20). 2. Jika kita melihat ke bawah ke bumi ini, di sana kita mendapati firman Allah berkuasa dan berhasil, dan memenuhi maksud-maksud agungnya (ay. 10-11). Amatilah di sini, (1) Keberhasilan firman Allah di dalam kerajaan alam. Ia berkata kepada salju, turunlah engkau ke bumi. Ia menetapkan kapan ia harus datang, seberapa banyak, dan berapa lama ia akan terhampar di sana. Ia berkata demikian kepada hujan lebat dan hujan deras (Ayb. 37:6). Dan sesuai perintah-Nya mereka turun dari langit, dan melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia (Ayb. 37:12-13). Hujan tidak kembali re infectâ -" tanpa mencapai maksudnya, tetapi mengairi bumi, yang karena itu dikatakan dilakukan-Nya dari kamar-kamar loteng-Nya (Mzm. 104:13). Dan mengairi bumi dilakukan supaya bumi menjadi subur. Demikianlah Ia membuat bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, sebab hasil-hasil bumi bergantung pada embun-embun dari langit. Dan dengan demikian bumi tidak hanya memberikan roti kepada orang yang mau makan, memelihara kehidupan si pemilik roti dan keluarganya untuk saat ini, tetapi juga memberikan benih kepada penabur, supaya ia mempunyai makanan untuk tahun depan. Petani harus menjadi penabur dan juga orang yang makan, sebab kalau tidak, ia akan segera melihat habisnya apa yang dia miliki. (2) Keberhasilan firman-Nya di dalam kerajaan pemeliharaan dan anugerah ilahi, yang pasti seperti di dalam kerajaan alam: “Demikianlah firman-Ku, berkuasa di mulut para nabi sebagaimana ia berkuasa di tangan pemeliharaan ilahi. Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, karena tidak mampu melaksanakan apa yang ditugaskan kepadanya, atau menjumpai perlawanan yang tidak dapat diatasi. Tidak, ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki” (sebab firman-Nya adalah pernyataan kehendak-Nya, yang sesuai dengan keputusan kehendak-Nya itu Ia mengerjakan segala sesuatu) “dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” Ini meyakinkan kita, [1] Bahwa janji-janji Allah akan digenapi secara penuh pada waktunya, dan satu iota atau satu titik pun tidak ada yang tidak dipenuhi (1Raj. 8:56). Janji-janji rahmat dan anugerah ini akan berdampak nyata pada jiwa orang-orang percaya, untuk menguduskan dan menghibur mereka, seperti hujan berdampak pada bumi, untuk menyuburkannya. [2] Bahwa sesuai dengan macam-macam tugas-tugas berbeda yang disuruhkan kepadanya, ia akan memberikan dampak-dampak yang berbeda pula. Jika bukan bau kehidupan yang menghidupkan, ia akan menjadi bau kematian yang mematikan. Jika tidak menginsafkan nurani dan melembutkan hati, ia akan membuat hati nurani mati rasa dan mengeraskan hati. Jika tidak matang untuk sorga, ia akan matang untuk neraka. Lihat pasal (6:9). Entah mana yang terjadi, ia tetap akan memberikan dampak. [3] Bahwa kedatangan Kristus ke dalam dunia, seperti embun dari langit (Hos. 14:6), tidak akan sia-sia. Sebab, kalaupun Israel tidak dikumpulkan, Ia akan dipermuliakan dalam pertobatan bangsa-bangsa bukan Yahudi. Oleh karena itu, kepada merekalah tawaran-tawaran anugerah harus diberikan apabila orang-orang Yahudi menolaknya, supaya perjamuan pernikahan dipenuhi dengan tamu-tamu undangan dan Injil tidak kembali dengan hampa. 3. Jika kita melihat jemaat secara khusus, kita akan mendapati perkara-perkara besar apa yang telah, dan yang akan, diperbuat Allah untuknya (ay. 12-13): Kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai. Hal ini merujuk, (1) Pada pembebasan dan kepulangan kembali orang-orang Yahudi dari Babel. Mereka akan berangkat dari pembuangan, dan dihantarkan kembali ke negeri mereka sendiri. Allah akan berjalan di depan mereka dengan pastinya, meskipun tidak secara terlihat seperti ketika Ia berjalan dahulu di depan nenek moyang mereka dalam tiang awan dan tiang api. Mereka akan berangkat, bukan dengan gemetar, melainkan dengan sorak-sorai, bukan dengan menyesal karena berpisah dari Babel, atau takut akan dijemput kembali, melainkan dengan sukacita dan damai. Perjalanan pulang mereka melalui gunung-gunung akan terasa menyenangkan, dan mereka akan memperoleh itikad baik dan keinginan baik dari semua negeri yang mereka lewati. Bukit-bukit dan para penghuninya, seperti orang yang meluap-luap dalam sukacita, akan bergembira dan bersorak-sorai. Dan, kalaupun semua orang diam sama sekali, maka segala pohon-pohonan di padang akan mengiringi mereka dengan tepuk tangan dan sambutan gembira. Dan, apabila mereka sudah tiba di negeri mereka sendiri, negeri itu akan siap menyambut mereka. Sebab, walaupun mereka menduga akan mendapati seluruh negeri itu ditumbuhi kecubung dan semak duri, negeri itu akan ditumbuhi dengan pohon sanubar dan pohon murad. Sebab, meskipun sudah dibiarkan sunyi, negeri itu menikmati tahun-tahun sabatnya (Im. 26:34), dan setelah tahun-tahun itu berakhir, seperti halnya tanah sesudah tahun sabatnya, ia menjadi lebih baik karenanya. Dan hal ini akan membawa kehormatan besar bagi Allah dan akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi-Nya. Tetapi, (2) Tanpa diragukan lagi, hal ini melihat lebih jauh. Berangkatnya mereka dengan sukacita dan dihantarkannya mereka dengan damai akan terjadi sebagai tanda abadi, yaitu, [1] Penebusan orang-orang Yahudi dari Babel akan menjadi pengesahan terhadap janji-janji yang berhubungan dengan zaman Injil. Penggenapan dari nubuat-nubuat tentang pembebasan yang agung itu akan menjadi ikrar dan jaminan bagi pelaksanaan semua janji lainnya. Sebab dengan ini akan tampak bahwa Ia, yang menjanjikannya, setia. [2] Hal ini akan menjadi gambaran dari berkat-berkat yang dijanjikan serta perlambang dan bayangan darinya. Pertama, anugerah Injil akan memerdekakan orang-orang yang diperbudak oleh dosa dan Iblis. Mereka akan berangkat dan dihantarkan. Kristus akan memerdekakan mereka, dan barulah mereka akan benar-benar merdeka. Kedua, hal ini akan memenuhi orang-orang yang murung dengan sukacita. Yakub akan bersorak-sorak, Israel akan bersukacita (Mzm. 14:7). Bumi dan benda-benda ciptaan yang lebih rendah akan berbagi dalam sukacita keselamatan ini (Mzm. 106:11-12). Ketiga, hal ini akan membawa perubahan besar dalam sifat-sifat manusia. Orang-orang yang dulunya seperti semak duri dan kecubung, tidak berguna sama sekali selain untuk dibakar, bahkan, yang menyakiti dan mengusik, akan menjadi indah dan berguna seperti pohon sanobar dan pohon murad. Semak duri dan rumput duri muncul sebagai akibat dosa, dan merupakan buah-buah dari kutukan (Kej. 3:18). Bertumbuhnya pohon-pohon yang menyukakan hati sebagai ganti semak duri dan kecubung menandakan dihapusnya kutuk hukum Taurat dan diperkenalkannya berkat-berkat Injil. Musuh-musuh jemaat adalah seperti semak duri dan kecubung. Tetapi, sebagai gantinya, Allah akan membangkitkan sahabat-sahabat untuk melindungi dan menghiasinya. Atau itu mungkin menunjukkan dunia yang akan bertumbuh lebih baik. Sebagai ganti angkatan semak duri dan kecubung, akan muncul angkatan pohon sanubar dan pohon murad. Anak-anak akan lebih bijak dan lebih baik daripada orangtua mereka. Dan, keempat, dalam semuanya ini Allah akan dipermuliakan. Hal itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi-Nya, yang melaluinya Ia akan dikenal dan dipuji, dan olehnya umat Allah akan disemangati. Itu akan menjadi tanda abadi dari perkenanan Allah kepada mereka, yang memberi jaminan kepada mereka bahwa, meskipun mungkin untuk sementara waktu perkenanan-Nya tertutup awan, ia tidak akan pernah lenyap. Perjanjian anugerah adalah perjanjian kekal, sebab berkat-berkatnya untuk saat ini adalah tanda dari berkat-berkat yang kekal.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHK GMIM Senin, 18 September 2023 - Dengarlah dan Lakukan Suara Tuhan - Yesaya 55:3 Sebelum: RHK GMIM Sabtu, 16 September 2023 - Ketulusan Hati - Kejadian 50:21 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,