gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 1820 kali
Download MP3 Music
Mazmur 65:1-14
Nyanyian syukur karena berkat Allah
65:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Nyanyian. (#65-#2) Bagi-Mulah puji-pujian di Sion, ya Allah; dan kepada-Mulah orang membayar nazar. 65:2 (#65-#3) Engkau yang mendengarkan doa. Kepada-Mulah datang semua yang hidup 65:3 (#65-#4) karena bersalah. Bilamana pelanggaran-pelanggaran kami melebihi kekuatan kami, Engkaulah yang menghapuskannya. 65:4 (#65-#5) Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus. 65:5 (#65-#6) Dengan perbuatan-perbuatan yang dahsyat dan dengan keadilan Engkau menjawab kami, ya Allah yang menyelamatkan kami, Engkau, yang menjadi kepercayaan segala ujung bumi dan pulau-pulau yang jauh-jauh; 65:6 (#65-#7) Engkau, yang menegakkan gunung-gunung dengan kekuatan-Mu, sedang pinggang-Mu berikatkan keperkasaan; 65:7 (#65-#8) Engkau, yang meredakan deru lautan, deru gelombang-gelombangnya dan kegemparan bangsa-bangsa! 65:8 (#65-#9) Sebab itu orang-orang yang diam di ujung-ujung bumi takut kepada tanda-tanda mujizat-Mu; tempat terbitnya pagi dan petang Kaubuat bersorak-sorai. 65:9 (#65-#10) Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya, demikianlah Engkau menyediakannya: 65:10 (#65-#11) Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya. 65:11 (#65-#12) Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak; 65:12 (#65-#13) tanah-tanah padang gurun menitik, bukit-bukit berikatpinggangkan sorak-sorai; 65:13 (#65-#14) padang-padang rumput berpakaikan kawanan kambing domba, lembah-lembah berselimutkan gandum, semuanya bersorak-sorai dan bernyanyi-nyanyi.

Penjelasan:
* Berkat yang berkelimpahan

Berkat yang berkelimpahan telah Tuhan sediakan bagi umat yang hidup serasi dengan-Nya. Ia tahu persis apa yang manusia perlukan secara utuh. Perhatikan unsur-unsur berkat itu:

Mental dan Rohani. Bisa bersikap mental yang benar terhadap Allah, terhadap harta benda, terhadap janji, dan nazar, adalah berkat Tuhan. Keampunan dosa (ayat 5), perasaan mantap karena jaminan perlindungan Allah merupakan sebagian berkat rohani. Betapa sering orang yang berharta cukup, namun tidak pernah merasa cukup. Kristus berkata, "Bukannya dengan roti saja manusia boleh hidup, melainkan dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah".

Jasmani dan Sosial. Tuhan memahkotai tahun-tahun kehidupan orang percaya dengan kebaikan-Nya (ayat 12-14). Padang kering kerontang memberi hasil. Padang rumput penuh ternak. Lembah-lembah menghasilkan roti. Ini semua karena irigasi lancar dan hasil melimpah, dst. Hubungan sosial baik, kerukunan tercipta, karena masyarakat takut akan Tuhan. Pergaulan orang percaya dengan orang lain menjadi serasi. Sorak-sorai terdengar dan umat bernyanyi ria. Bukankah Tuhan membangkitkan orang-orang yang sehat secara jasmani dan sosial untuk menolong orang yang memerlukan?

Renungkan: Adakah hal lebih mulia daripada Tuhan yang memahkotai hari-hari kita?



* Puji-pujian Sion; Alasan-alasan untuk Beribadah (65:1-6)

Sang pemazmur di sini tidak membawa suatu kekhawatiran apa pun di hadapan takhta anugerah, tetapi dengan bertindak sebagai pemimpin umat dan juru bicara bagi jemaat, ia memulai dengan menyapa Allah. Amatilah:

    I. Bagaimana ia memberikan kemuliaan kepada Allah (ay. 2).
        1. Dengan rasa syukur yang penuh kerendahan hati: Bagi-Mulah puji-pujian di Sion, ya Allah (kjv: Puji-pujian menanti-Mu di Sion, Ya Allah! -" pen.). Puji-pujian menanti Allah sampai tiba di Sion, supaya puji-pujian tersebut segera diterima dengan rasa syukur begitu Allah tiba. Ketika Allah mendatangi kita dengan kebaikan-kebaikan-Nya, kita harus menyongsong Dia dengan puji-pujian kita, dan menunggu sampai fajar merekah. “Puji-pujian menanti, dengan kepuasan yang penuh dalam kehendak kudus-Mu dan dengan kebergantungan pada belas kasihan-Mu.” Apabila kita siap sedia untuk mengucap syukur dalam segala hal, maka puji-pujian menanti Allah. “Puji-pujian menanti untuk Engkau terima.” Orang-orang Lewi berdiri di rumah TUHAN pada malam hari, siap untuk menyanyikan lagu-lagu pujian mereka pada waktu yang sudah ditetapkan (134:1-2), dan dengan demikian puji-pujian mereka menanti Dia. Puji-pujian diam di hadapan-Mu karena kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan kebaikan Allah yang agung, dan terhenyak dengan rasa kagum yang hening akan kebaikan-Nya itu. Sama seperti ada keluhan-keluhankudus yang tidak terucapkan, demikian pula ada pemujaan-pemujaan kudus yang tidak terucapkan, namun yang akan diterima oleh Dia yang menyelidiki hati nurani, dan mengetahui maksud Roh. Pujian kita diam, supaya puji-pujian para malaikat yang terberkati, yang unggul dalam hal kekuatan, dapat didengar. Janganlah diberitahukan kepada-Nya bahwa aku berbicara, sebab jika manusia berani mengumandangkan semua puji-pujian kepada Allah, pastilah ia akan dibinasakan (Ayb. 37:20, kjv). Di hadapan-Mu, puji-pujian pasti berdiam diri (begitulah dalam bahasa Aram), sebab Allah tinggi mengatasi segala puji-pujian kita. Pujian layak diberikan kepada Allah dari seluruh penjuru dunia, tetapi hanya di Sion sajalah pujian itu menanti-nantikan-Nya, di dalam jemaat-Nya, di antara umat-Nya. Semua karya-Nya memuji Dia (semua itu memberikan pokok pujian), tetapi hanya orang-orang kudus-Nya sajalah yang benar-benar memuji-Nya dengan puja-puji mereka yang sejati. Jemaat yang sudah ditebus menyanyikan nyanyian baru mereka di bukit Sion (Why. 14:1, 3). Di Sionlah tempat kediaman Allah ( 76:3). Berbahagialah orang-orang yang berdiam bersama-Nya di sana, sebab mereka akan senantiasa memuji-muji-Nya.
        2. Dengan kesetiaan yang tulus: Kepada-Mulah orang membayar nazar, maksudnya, korban yang dinazarkan pasti akan dipersembahkan. Ucapan syukur kita kepada Allah atas segala kemurahan yang kita peroleh tidak akan diterima-Nya kecuali kita dengan kesadaran hati nurani membayar nazar yang kita buat pada saat kita mengharapkan kemurahan itu. Sebab, lebih baik tidak bernazar sama sekali daripada bernazar namun tidak membayarnya.

    II. Karena apa ia memberikan kemuliaan kepada-Nya.
        1. Karena Ia mendengarkan doa (ay. 3): Puji-pujian menanti-Mu. Dan mengapa pujian itu begitu siap sedia?
            (1) “Karena Engkau bersedia mengabulkan permohonan-permohonan kami. Wahai Engkau yang mendengarkan doa! Engkau dapat menjawab setiap doa, sebab Engkau mampu berbuat bagi kami melebihi apa yang dapat kami doakan atau pikirkan (Ef. 3:20), dan Engkau akan menjawab setiap doa yang dilandasi dengan iman, entah menjawabnya dengan baik atau di dalam kebaikan-Mu.” Terutama untuk kemuliaan kebaikan Allah, dan untuk mendorong kitalah, maka Dia menjadi Allah yang mendengarkan doa, dan Ia telah mengambil gelar ini sebagai salah satu gelar kehormatan bagi-Nya. Dan kita kehilangan banyak hal jika tidak memanfaatkan segala kesempatan untuk memberikan kemuliaan kepada-Nya sesuai dengan gelar-Nya.
            (2) Karena, untuk alasan itu, kita akan segera berlari kepada-Nya apabila sedang mengalami kesusahan. “Oleh sebab itu, karena Engkau Allah yang mendengarkan doa, kepada-Mulah datang semua yang hidup. Sudah sewajarnyalah setiap pujian manusia menanti-Mu, karena setiap doa manusia menanti-Mu ketika ia berkekurangan atau berkesusahan, apa pun yang dilakukannya pada waktu-waktu lain. Sekarang hanya keturunan Israel yang mendatangi-Mu, serta juga orang-orang yang sudah memeluk agama mereka. Akan tetapi, bila rumah-Mu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa, maka kepada-Mulah segala yang hidup akan datang, dan disambut” (Rm. 10:12-13). Kepada-Nya marilah kita datang, datang dengan berani, karena Dialah Allah yang mendengarkan doa.
        2. Karena Ia mengampuni dosa. Dalam hal ini, siapakah Allah seperti Engkau?(Mi. 7:18). Dengan inilah Dia menyatakan nama-Nya (Kel. 34:7), dan oleh sebab itu, karena alasan ini, puji-pujian menanti-Nya (ay. 4). “Dosa-dosa kami sudah sampai ke langit, pelanggaran-pelanggaran kami melebihi kekuatan kami, dan tampak sangat banyak, sangat mengerikan, sehingga ketika pelanggaran-pelanggaran itu diperhadapkan kepada kami, kami sungguh bingung dan siap tenggelam dalam keputusasaan. Pelanggaran-pelanggaran itu begitu melebihi kekuatan kami sampai-sampai kami tidak bisa berpura-pura dapat mengimbanginya dengan kebaikan kami sendiri, sehingga ketika kami tampil di hadapan Allah, hati nurani kami sendiri menuduh kami, dan kami tidak bisa memberikan pembelaan apa-apa. Walaupun begitu, berkenaan dengan pelanggaran-pelanggaran kami, Engkaulah yang akan menghapuskannya, berdasarkan belas kasihan-Mu sendiri yang cuma-cuma dan demi kebaikan yang disediakan oleh-Mu sendiri, sehingga kami tidak akan dihukum oleh karenanya.” Perhatikanlah, semakin besar bahaya yang mengintai kita karena dosa, semakin banyaklah alasan bagi kita untuk mengagumi kuasa dan kekayaan belas kasihan Allah dalam mengampuni, yang akan membatalkan kekuatan yang mengancam kita yang datang akibat pelbagai macam pelanggaran dan dosa-dosa kita yang hebat itu.
        3. Karena sambutan baik yang diberikan-Nya kepada orang-orang yang melayani-Nya dan penghiburan yang mereka rasakan dalam bersekutu dengan-Nya. Pelanggaran haruslah dihapuskan terlebih dahulu (ay. 4), dan setelah itu barulah kita diundang untuk mendekat pada mezbah Allah (ay. 5). Orang-orang yang datang untuk bersekutu dengan Allah pasti akan menemukan kebahagiaan yang sejati dan kepuasan yang penuh di dalam persekutuan itu.
            (1) Mereka berbahagia. Bukan saja berbahagialah bangsa ( 33:12), tetapi juga berbahagialah orang, pribadi tertentu, betapa pun hinanya, yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Dialah orang yang berbahagia, sebab dia mendapatkan pertanda yang paling pasti akan kebaikan ilahi dan janji serta jaminan yang paling pasti akan kebahagiaan kekal.
                Amatilah di sini:
                [1] Apa yang dimaksudkan dengan datang bersekutu dengan Allah, untuk memperoleh kebahagiaan ini.
                    Pertama, ini berarti mendatangi-Nya dengan berpegang pada kovenan-Nya, mengarahkan kasih sayang kita yang terbaik kepada-Nya, dan mencurahkan keinginan-keinginan kita kepada-Nya. Ini berarti berbicara dengan Dia sebagai seorang yang kita kasihi dan kita hargai.
                    Kedua, ini berarti berdiam di pelataran-Nya, seperti yang dilakukan oleh imam-imam dan orang-orang Lewi, yang merasa betah berada di rumah Allah. Ini berarti tetap menjalankan ibadah agama, dan melaksanakannya dengan sebaik dan sedekat mungkin seperti kita mengurus tempat tinggal kita.
                [2] Bagaimana kita harus datang untuk bersekutu dengan Allah: bukan karena jasa kita sendiri, atau karena kita sendiri yang mengaturnya untuk datang ke sana, melainkan karena pilihan bebas Allah: “Berbahagialah orang yang Engkau pilih, dan yang dengan demikian diistimewakan dari orang lain yang dibiarkan untuk berbuat semau mereka sendiri.” Dan ini terjadi berkat anugerah istimewa-Nya yang selalu berhasil mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan pilihan bebas-Nya itu. Siapa yang dipilih-Nya, didorong-Nya juga untuk mendekat, dan Dia tidak saja mengundang mereka, tetapi juga menggerakkan dan memampukan mereka untuk mendekat kepada-Nya. Ia menarik mereka (Yoh. 6:44).
            (2) Mereka akan puas. Di sini sang pemazmur mengubah orangnya, bukan dia yang akan dipuaskan (orang yang Engkau pilih), melainkan kami, yang mengajar kita untuk menerapkan janji-janji itu pada diri kita sendiri dan, dengan iman yang aktif, untuk mencantumkan nama kita sendiri ke dalam janji-janji-Nya itu: Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus.
                Perhatikanlah:
                [1] Bait kudus Allah adalah rumah-Nya. Di sanalah Dia bersemayam, tempat ketetapan-ketetapan-Nya diatur.
                [2] Allah menjaga rumah dengan baik. Ada kebaikan yang berlimpah di rumah-Nya, kebenaran, anugerah, dan segala penghiburan dari kovenan kekal. Tersedia cukup untuk semua, cukup untuk setiap orang. Semuanya sudah siap, selalu tersedia. Dan semuanya cuma-cuma, tidak perlu uang atau biaya.
                [3] Dalam semuanya itu, terdapat sesuatu yang memuaskan jiwa, yang dengannya jiwa-jiwa yang mulia akan dipuaskan. Biarlah mereka mendapatkan kesenangan dalam bersekutu dengan Allah, dan itu sudah cukup bagi mereka. Mereka akan merasa cukup, dan tidak akan menginginkan apa-apa lagi.
        4. Karena pekerjaan-pekerjaan kuasa-Nya yang mulia yang dikerjakan atas nama mereka (ay. 6): Dengan perbuatan-perbuatan yang dahsyat dan dengan keadilan Engkau menjawab kami, ya Allah yang menyelamatkan kami! Ini dapat dimengerti sebagai teguran-teguran yang adakalanya diberikan Allah kepada umat-Nya sendiri melalui pemeliharaan-Nya. Sering kali Dia menjawab mereka dengan perbuatan-perbuatan yang dahsyat, untuk membangunkan dan menyadarkan mereka, tetapi itu selalu dilakukan-Nya di dalam kebenaran. Dia tidak pernah berbuat salah kepada mereka atau bermaksud mencelakakan mereka, sebab bahkan dalam kesemuanya itu Dia adalah Allah yang menyelamatkan mereka (lih. Yes. 45:15). Namun, ini lebih tepat dipahami sebagai penghakiman-penghakiman-Nya atas musuh-musuh mereka. Allah menjawab doa-doa umat-Nya melalui kehancuran-kehancuran yang dilakukan-Nya, demi mereka, di antara bangsa-bangsa kafir. Juga melalui balasan yang ditimpakan-Nya kepada orang-orang congkak yang mengejar-ngejar mereka, sebagai Allah yang adil, Allah yang empunya pembalasan, dan sebagai Allah yang melindungi dan menyelamatkan umat-Nya. Dengan perbuatan-perbuatan yang ajaib (begitulah sebagian orang membacanya), perbuatan-perbuatan yang sangat mengejutkan, dan yang tidak kita harapkan (Yes. 64:3). Atau, “Dengan perbuatan-perbuatan yang mencengangkan kami Engkau akan menjawab kami.” Kebebasan kudus yang diberikan kepada kita untuk masuk ke dalam pelataran Allah, dan kedekatan kita dengan-Nya, sama sekali tidak boleh mengurangi rasa hormat kita dan rasa takut yang saleh akan Dia. Sebab, Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya.
        5. Karena kepedulian-Nya terhadap semua umat-Nya, bagaimanapun susahnya mereka, dan ke mana pun tersebarnya mereka. Dia menjadi kepercayaan segala ujung bumi, yakni, dari semua orang kudus di seluruh dunia, dan bukan hanya dari keturunan Israel. Sebab Dia adalah Allah dari bangsa-bangsa bukan Yahudi di samping juga Allah dari bangsa Yahudi. Ia menjadi kepercayaan mereka yang berada jauh dari bait kudus-Nya dan dari pelataran-Nya, yang berdiam di pulau-pulau bangsa bukan Yahudi, atau yang sedang mengalami kesesakan di tengah laut. Mereka percaya kepada-Mu, dan berseru kepada-Mu ketika mereka kehabisan akal ( 107:27-28). Dengan iman dan doa, kita dapat menjaga persekutuan kita dengan Allah, dan menimba penghiburan dari-Nya, di mana pun kita berada, bukan hanya ketika berada di tengah-tengah persekutuan jemaat-Nya yang kudus, tetapi juga ketika berada jauh di tengah laut.


* Kekuatan Allah yang Mahakuasa; Pertanda-pertanda Kuasa dan Kebaikan Ilahi (65:7-14)
Agar hati kita lebih terkagum-kagum lagi akan Allah sumber segala anugerah itu, maka bermanfaatlah bagi kita untuk sungguh-sungguh memperhatikan kuasa dan kedaulatan-Nya sebagai Allah alam semesta, mencermati kekayaan-kekayaan serta kelimpahan kerajaan-Nya yang menyediakan segala kebutuhan kita.

    I. Ia menegakkan bumi, sehingga tetap ada ( 119:90). Dengan kekuatan-Nya sendiri Ia menegakkan gunung-gunung (ay. 7), mendirikannya untuk pertama kali dan terus meneguhkannya, meskipun terkadang goncang oleh gempa bumi. Karena itulah gunung-gunung itu disebut gunung-gunung yang ada sejak purba (Hab. 3:6). Tetapi kovenan Allah dengan umat-Nya dikatakan tetap berdiri teguh meskipun gunung-gunung bergoyang (Yes. 54:10).

    II. Ia menenangkan laut, dan laut pun diam (ay. 8). Laut yang tengah diterjang badai pastilah bergelora, yang semakin membuatnya mengerikan. Tetapi, apabila Allah berkenan, Dia memerintahkan gelombang-gelombang dan ombak-ombak untuk tenang, menidurkannya, dan meredakan badai dengan cepat ( 107:29). Dan dengan perubahan di laut ini, seperti juga dengan contoh sebelumnya tentang bumi yang tidak akan goyang, tampak bahwa Dia yang empunya lautan dan daratan itu berikatpinggangkan keperkasaan. Dan dengan inilah Yesus Tuhan kita memberikan bukti akan kuasa ilahi-Nya, bahwa Ia memerintahkan angin dan danau untuk diam, dan mereka pun taat kepada-Nya. Selain contoh meredakan laut ini, sang pemazmur juga menambahkan, yang hampir sama sifatnya, bahwa Dia menenangkan kegemparan bangsa-bangsa, yakni manusia secara umum. Tidak ada lagi yang lebih kacau dan bisa diterima selain dari kerusuhan-kerusuhan dan perbuatan-perbuatan biadab gerombolan orang banyak. Namun, bahkan yang ini pun dapat diredakan Allah, dengan cara-cara tersembunyi, yang mereka pun tidak menyadarinya. Atau mungkin yang dimaksudkan adalah kemarahan bangsa-bangsa musuh Israel ( 2:1). Allah mempunyai banyak cara untuk menenangkan mereka, dan Dia akan meredam kegemparan mereka untuk selama-lamanya.

    III. Ia memperbarui pagi dan petang, maka peredarannya pun tetap (ay. 9). Pergantian siang malam yang teratur ini dapat dipandang,
        1. Sebagai contoh dari kuasa Allah yang agung, yang mencengangkan kita semua: Orang-orang yang diam di ujung-ujung bumi takut kepada tanda-tanda mujizat-Mu. Dengannya mereka diyakinkan bahwa ada ilahi yang tertinggi, penguasa yang berdaulat, yang di hadapan-Nya mereka harus takut dan gemetar. Sebab di dalam semua ini, apa yang tidak tampak pada Allah menjadi jelas terlihat. Dan oleh karena itu, semuanya itu ditetapkan untuk menjadi tanda (Kej. 1:14). Banyak orang yang berdiam di ujung-ujung bumi yang terpencil dan gelap begitu takut kepada tanda-tanda ini sehingga mereka tergerak untuk menyembahnya (Ul. 4:19), tanpa menimbang bahwa semua itu adalah tanda-tanda Allah, bukti-bukti dari kuasa dan keilahian-Nya yang tidak dapat disangkal, dan oleh sebab itu seharusnya mereka menjadi tergerak oleh tanda-tanda itu untuk menyembah Dia.
        2. Sebagai contoh dari kebaikan Allah yang agung, dan kebaikan itu membawa penghiburan bagi semua orang: Terbitnya pagi, sebelum matahari terbit, dan petang, sebelum matahari terbenam, Kaubuat bersorak-sorai. Adalah Allah yang menebarkan cahaya pagi dan menurunkan layar petang, demikian pula Dia mengerjakan keduanya demi kebaikan manusia, dan membuat keduanya bersorak-sorai, dan memberi kita alasan untuk bersorak-sorai di dalam kedua hal itu. Sehingga dengan demikian, betapa pun saling berlawanannya terang dan gelap, dan betapa pun tidak dapat diubahnya pemisahan di antara keduanya (Kej. 1:4), keduanya sama-sama disambut di dalam dunia pada waktunya masing-masing. Sulit untuk dikatakan mana yang lebih kita sambut, cahaya pagi, yang membuat nyaman kegiatan di siang hari, ataukah bayang-bayang senja, yang membuat nyaman istirahat di malam hari. Adakah penjaga menantikan pagi? Demikian pula pekerja sangat mendambakan bayangan senja. Sebagian orang memahaminya sebagai korban persembahan di pagi dan petang, yang di dalamnya orang-orang baik sangat bersukacita, dan Allah senantiasa dihormati. Engkau membuatnya bernyanyi (begitulah arti kata itu). Sebab setiap pagi dan petang lagu-lagu pujian selalu dinyanyikan oleh orang-orang Lewi. Ini merupakan hal yang wajib dilakukan setiap hari. Kita harus memandang ibadah harian kita, baik secara sendirian maupun secara berkeluarga, sebagai hal yang teramat sangat diperlukan bagi kegiatan-kegiatan kita sehari-hari dan yang teramat sangat menyenangkan bagi penghiburan-penghiburan yang kita nikmati setiap hari. Dan, jika dalam hal ini kita tetap menjaga persekutuan kita dengan Allah, maka dengan demikian terbitnya pagi dan petang benar-benar dibuat bersorak-sorai.

    IV. Ia menyirami bumi dan membuatnya subur. Daud berbicara panjang lebar tentang contoh dari kekuasaan dan kebaikan Allah ini, karena mazmur ini kemungkinan ditulis entah ketika terjadi hasil panen yang luar biasa besar atau ketika hujan turun tepat pada waktunya setelah lama dilanda kekeringan. Sangat mudah untuk mengamati betapa ciptaan yang ada di bawah begitu bergantungnya pada kuasa yang ada di atas untuk menghasilkan buah. Jika langit seperti tembaga, maka bumi pun seperti besi, dan ini merupakan petunjuk yang seharusnya bisa dilihat oleh dunia yang bodoh sekalipun bahwa setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas , omnia desuper -" semuanya datang dari atas. Kita harus melayangkan pandangan kita ke atas bukit-bukit, ke langit, di mana terdapat sumber sejati dari semua berkat, yang tidak terlihat, dan ke sanalah puji-pujian kita harus dikembalikan, seperti hasil-hasil bumi yang pertama dipersembahkan sebagai persembahan khusus kepada sorga dengan cara mengakui bahwa dari sanalah semua itu berasal. Semua berkat Allah, bahkan berkat-berkat rohani, diungkapkan dengan cara kebenaran dicurahkan bagai hujan ke atas kita. Sekarang amatilah bagaimana berkat umum yang turun bak hujan dari langit dan musim-musim subur digambarkan di sini.
        1. Seberapa banyak kuasa dan kebaikan Allah terdapat di dalamnya, yang di sini disajikan dengan pelbagai macam ungkapan yang begitu hidup.
            (1) Allah yang menciptakan bumi sedemikian rupa melawatnya, mengirimkan utusan kepadanya, dan memberikan bukti akan kepedulian-Nya terhadapnya (ay. 10). Lawatan-Nya itu adalah lawatan belas kasihan, dan harus dibalas oleh penduduk bumi dengan puji-pujian.
            (2) Allah, yang menciptakan baginya tanah kering, menyiraminya juga supaya ia subur dan berbuah. Meskipun hasil-hasil bumi sudah melimpah sebelum Allah mencurahkan hujan ke atasnya, namun bahkan pada saat itu sudah ada kabut yang akan mendatangkan hujan, dan membasahi seluruh permukaan bumi(Kej. 2:5-6). Hati kita kering-kerontang dan tandus jika Allah sendiri tidak menjadi seperti embun bagi kita dan membasahi kita. Tentulah tanaman-tanaman yang ditanam-Nya sendiri akan disirami-Nya dan dibuat-Nya tumbuh subur.
            (3) Hujan adalah batang air Allah, yang penuh air. Awan-awan adalah sumber batang air ini, yang tidak mengalir ke mana-mana dengan sembarangan, tetapi tetap di dalam saluran yang telah dipersiapkan Allah baginya. Curahan hujan, seperti halnya batang air, diarahkan-Nya ke mana pun seturut kehendak-Nya.
            (4) Batang air Allah ini memperkaya bumi, yang tanpanya bumi akan cepat tandus. Kekayaan bumi, yang dihasilkan keluar dari permukaannya, paling bermanfaat dan berguna bagi manusia daripada kekayaan yang tersembunyi di dalam perutnya. Kita dapat hidup dengan baik tanpa perak dan emas, tetapi tidak tanpa gandum dan rumput.

        2. Seberapa banyak manfaat yang diambil dari hujan bagi bumi dan bagi manusia yang berpijak di atasnya.
            (1) Bagi bumi itu sendiri. Hujan yang turun pada musimnya membuat bumi berwajah baru. Tidak ada yang lebih menghidupkan, lebih menyegarkan, selain hujan yang turun ke atas padang rumput ( 72:6). Bahkan alur bajak tanah, yang tampak tidak terkena air hujan, diairi dengan berlimpah, sebab alur bajak itu meminum air hujan yang sering turun menimpanya. Gumpalan-gumpalan tanah, yang digali dengan bajak, untuk menanam biji-bijian, dibasahi oleh hujan dan dilayakkan untuk menerima biji-biji tersebut (ay. 11). Gumpalan-gumpalan itu menjadi gembur dengan dibasahi. Apa yang melembutkan tanah di dalam hati pasti membuat hati itu tenang. Sebab, hati ditegakkan dengan anugerah itu. Demikianlah, kedatangan musim semi diberkati. Dan jika musim semi yang tiba selama tiga bulan pertama dalam setahun diberkati, maka itu merupakan suatu pertanda bagi berkat sepanjang tahun, yang oleh karenanya Allah dikatakan memahkotai tahun dengan kebaikan (ay. 12). Ia mengelilinginya dari berbagai sudut, seperti kepala dikelilingi mahkota, dan seperti kebahagiaan yang melengkapi dan menyudahi penghiburan-penghiburan pada tahun itu. Dan jejak-jejak-Nya dikatakan mengeluarkan lemak. Sebab lemak apa pun yang ada di bumi, yang menyuburkan hasil-hasilnya, datang dari curahan-curahan kebaikan ilahi. Ke mana pun Allah pergi, Ia meninggalkan pertanda-pertanda belas kasihan-Nya di belakang-Nya (Yl. 2:13-14) dan membuat jejak-jejak yang ditinggalkan-Nya itu bersinar. Penyampaian kebaikan Allah kepada dunia di bawah ini sangatlah luas dan menyebar (ay. 13): Tanah-tanah padang gurun menitik(kjv: Kebaikan-kebaikan-Nya menitik di padang gurun -" pen.), dan bukan hanya di tanah yang berpenghuni. Padang belantara, yang tidak dirawat oleh manusia dan yang tidak memberikan manfaat kepadanya, dirawat oleh Pemeliharaan ilahi, dan keuntungan-keuntungan yang diberikannya mendatangkan kemuliaan kepada Allah, sebagai Pemberi yang murah hati kepada seluruh ciptaan, meskipun tidak secara langsung demi keuntungan manusia. Dan kita harus bersyukur bukan hanya untuk suatu hal yang bermanfaat bagi kita, melainkan juga untuk suatu hal yang berguna bagi ciptaan-ciptaan lain, sebab dengan demikian hal itu membawa kehormatan kepada Sang Pencipta. Padang gurun, yang tidak memberikan hasil-hasil yang bermanfaat sebagaimana yang dihasilkan tanah yang dapat diolah, menerima hujan dari langit sama banyaknya seperti tanah yang subur. Sebab, Allah itu baik terhadap orang-orang jahat dan orang-orang yang tidak tahu berterima kasih. Begitu banyaknya karunia-karunia kelimpahan Allah sehingga di dalamnya bukit-bukit, bukit-bukit kecil, berikatpinggangkan sorak-sorai(kjv: bukit-bukit kecil bersorak-sorai di setiap sisi -" pen.), bahkan di sisi utara, yang terletak paling jauh dari pancaran matahari. Bukit-bukit pun memerlukan pemeliharaan Allah. Dan bukit-bukit kecil tidak luput dari pengawasannya. Tetapi apabila Allah berkehendak, Dia dapat membuatnya gemetar ( 114:6), demikian pula apabila Dia berkehendak, Dia dapat membuatnya bersorak-sorai.

            (2) Kepada manusia di bumi. Allah, dengan menyediakan hujan bagi bumi, mempersiapkan gandum bagi manusia (ay. 10). Tanah menghasilkan pangan (Ayb. 28:5), sebab darinya dihasilkanlah gandum. Tetapi untuk setiap biji gandum yang dihasilkannya, Allah sendirilah yang mempersiapkannya. Dan oleh sebab itu Dia menyediakan hujan bagi bumi, supaya dengan begitu Dia dapat mempersiapkan gandum bagi manusia, yang di bawah kakinya Dia telah menundukkan semua makhluk ciptaan lainnya, dan yang telah disesuaikan-Nya untuk dapat digunakan manusia. Apabila kita menimbang bahwa hasil gandum setiap tahun bukan saja merupakan pekerjaan dari kuasa yang sama yang membangkitkan orang mati, tetapi juga merupakan contoh dari kuasa yang hampir serupa dengannya (seperti yang tampak pada kuasa Juruselamat kita, Yoh. 12:24), dan bahwa keuntungan yang terus kita nikmati darinya merupakan contoh dari kebaikan yang tetap untuk selama-lamanya, maka kita boleh berpikir bahwa yang mempersiapkan gandum untuk kita itu pastilah tidak lebih rendah dari Allah. Gandum dan ternak adalah dua bahan pokok yang dengannya petani, yang langsung mengolah hasil-hasil bumi, diperkaya. Dan keduanya dihasilkan berkat kebaikan ilahi dalam membasahi bumi (ay. 14). Karena inilah padang-padang rumput berpakaikan kawanan kambing domba (ay. 14). Begitu kayanya persediaan yang diberikan kepada padang-padang rumput sehingga tampak berselimutkan ternak-ternak yang berbaring di atasnya, namun tidak kewalahan menanggungnya. Begitu banyaknya makanan yang disediakan kepada ternak sehingga ternak menjadi perhiasan dan kemuliaan bagi padang-padang rumput tempat mereka diberi makan. Lembah-lembah begitu subur sehingga tampak berselimutkan gandum pada waktu panen. Bagian-bagian bumi yang paling bawah biasanya paling subur, dan sejengkal tanah di lembah yang rendah sama nilainya dengan lima gunung yang tinggi. Tetapi baik gandum maupun padang, untuk memenuhi tujuan dari penciptaan mereka, dikatakan bersorak-sorai dan bernyanyi-nyanyi, karena keduanya mendatangkan kehormatan bagi Allah dan penghiburan bagi manusia, dan karena keduanya melengkapi kita dengan pokok sukacita dan pujian. Tidak ada sukacita di dunia ini yang melebihi sukacita pada waktu panen, demikian pula tidak ada pesta perayaan Tuhan, di kalangan Yahudi, yang dirayakan dengan lebih khidmat dan dengan lebih banyak ucapan syukur daripada hari raya pengumpulan hasil pada akhir tahun (Kel. 23:16). Kiranya semua karunia yang biasa kita terima dari kelimpahan ilahi ini, yang setiap tahun dan setiap hari turut kita rasakan, meningkatkan kasih kita kepada Allah sebagai yang terbaik dari semua makhluk, dan menggerakkan kita untuk memuliakan-Nya dengan tubuh kita, yang sudah disediakan-Nya dengan sedemikian baik.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Selasa, 11 Juli 2023 – Dipilih Untuk Menjadi Berkat – Mazmur 65:5

Sebelum:
Khotbah MTPJ GMIM Minggu, 2 Juli 2023 - DALAM SOROTAN TEMA: JANGAN KUATIR TAPI BERSYUKURLAH - Filipi 4:2-9




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,