|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2023 Minggu, 28 Mei 2023 Khotbah MTPJ GMIM Minggu, 28 Mei 2023 - Kepenuhan Roh Kudus - Kisah Para Rasul 2:1-13 When the Day of Pentecost had fully come, they were all with one accord in one place. KISAH PARA RASUL 2:1-13 Pentakosta 2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; 2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. 2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. 2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." 2:12 Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?" 2:13 Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis." 2:1 When the Day of Pentecost had fully come, they were all with one accord in one place. 2:2 And suddenly there came a sound from heaven, as of a rushing mighty wind, and it filled the whole house where they were sitting. 2:3 Then there appeared to them divided tongues, as of fire, and [one] sat upon each of them. 2:4 And they were all filled with the Holy Spirit and began to speak with other tongues, as the Spirit gave them utterance. 2:5 And there were dwelling in Jerusalem Jews, devout men, from every nation under heaven. 2:6 And when this sound occurred, the multitude came together, and were confused, because everyone heard them speak in his own language. 2:7 Then they were all amazed and marveled, saying to one another, "Look, are not all these who speak Galileans? 2:8 "And how [is it that] we hear, each in our own language in which we were born? 2:9 "Parthians and Medes and Elamites, those dwelling in Mesopotamia, Judea and Cappadocia, Pontus and Asia, 2:10 "Phrygia and Pamphylia, Egypt and the parts of Libya adjoining Cyrene, visitors from Rome, both Jews and proselytes, 2:11 "Cretans and Arabswe hear them speaking in our own tongues the wonderful works of God." 2:12 So they were all amazed and perplexed, saying to one another, "Whatever could this mean?" 2:13 Others mocking said, "They are full of new wine." Penjelasan: * Kis 2:1 - Pentakosta, // di satu tempat - Pentakosta, artinya yang kelima puluh, adalah istilah Yunani yang dipakai untuk Hari Raya Tujuh Minggu yang dilukiskan dalam Imamat 23:15-22, yaitu yang merayakan akhir masa panen. Seluruh murid yang berjumlah 120 orang itu berkumpul di satu tempat - mungkin ruang atas yang dipakai untuk Perjamuan Terakhir (1:13). * Kis 2:2 - Suatu bunyi seperti tiupan angin keras // seperti Suatu bunyi seperti tiupan angin keras. Yang berbunyi itu bukan angin, tetapi sesuatu yang seperti angin. Pneuma bisa berarti angin dan bisa berarti roh; dan angin merupakan lambang dari kuasa Roh dan juga lambang keberadaan-Nya yang tidak kelihatan (Yoh. 3:8). * Kis 2:3 - lidah-lidah seperti nyala api // bertebaran Yang kelihatan sebetulnya bukan lidah-lidah api tetapi lidah-lidah seperti nyala api. Tanda yang kelihatan itu adalah sesuatu yang hanya dapat disamakan dengan nyala api yang bertebaran menjadi lidah-lidah yang hinggap di atas setiap murid yang ada di ruangan itu. Banyak penafsir memahami peristiwa ini sebagai penggenapan dari janji Yohanes mengenai baptisan dengan api (Luk. 3:16). Tetapi. tidak ada api pada hari Pentakosta ini hanya sesuatu yang seperti api dan konteks di dalam Injil menunjukkan bahwa baptisan dengan api ialah penghukuman atas orang-orang yang menolak Mesias - pembakaran sekam dengan api yang tidak dapat dipadamkan. * Kis 2:4 - penuhlah mereka dengan Roh Kudus Sementara Roh Kudus diberikan kepada manusia, para murid itu dibaptis (1:5) dan pada saat yang bersamaan penuhlah mereka dengan Roh Kudus. Pembaptisan oleh Roh Kudus dilukiskan dalam I Korintus 12:13. Pembaptisan ini merupakan karya Roh Kudus untuk mempersatukan orang-orang dari berbagai latar belakang suku dan kedudukan menjadi satu tubuh - tubuh Yesus Kristus, yang adalah Gereja-Nya. Baptisan dengan Roh ini tidak pernah diulang kembali. Peristiwa ini kemudian diperluas kepada orang-orang percaya di Samaria (Kis. 8), orang-orang bukan Yahudi (Kis. 10, 11), dan kepada murid-murid Yohanes Pembaptis (19:1-6). Pemenuhan dengan Roh sering kali diulangi, tetapi bukan baptisan dengan Roh. * Kis 2:5 - Orang Yahudi yang saleh Para murid itu sekarang rupanya sudah turun dari ruang atas dan menuju ke suatu tempat terbuka di kota itu. mungkin di dalam wilayah bait Allah di mana banyak orang berkumpul. Orang Yahudi yang saleh adalah orang-orang Yahudi Diaspora, yang tersebar di seluruh daerah Mediterania, tetapi yang telah kembali ke Kota Kudus itu untuk tinggal. * Kis 2:6 - Bahasa-bahasa lain Bahasa-bahasa lain (ay. 4). Bukan bahasa ekstase religius. Melalui mukjizat bahasa para rasul itu diterjemahkan oleh Roh Kudus ke dalam berbagai bahasa tanpa penerjemah manusia. Gejala ini tidak sama dengan glossolalia atau karunia bahasa roh dalam I Korintus 12:14 yang tidak dapat dimengerti kalau tidak ada yang menerjemahkan. * Kis 2:7 Adalah sangat menakjubkan bahwa orang-orang yang mempunyai logat Yahudi Galilea ini mampu berbicara di dalam berbagai bahasa asing. * Kis 2:9-11 - Pendatang-pendatang di Roma. Orang-orang Yahudi // penganut Negeri-negeri ini merupakan suatu rangkaian di sekeliling Laut Mediterania. Sebagian besar dari mereka bisa berbicara bahasa Yunani populer dari dunia Helenistik, tetapi mereka juga tetap memakai bahasa asli mereka sendiri (bdg. 14:11). Pendatang-pendatang di Roma. Orang-orang Yahudi dan penganut agama Yahudi dari Roma yang hanya untuk sementara tinggal di Yerusalem. * Kis 2:12-13 - termangu-mangu Semua pendengar termangu-mangu (ragu-ragu, menurut Authorized Version) sehingga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tuduhan bahwa para murid itu mabuk menunjukkan bahwa ada unsur ekstase dan juga bahasa asing di dalam pemberian karunia bahasa lidah yang pertama kali ini. * Hari Pentakosta ( Kis 2:1-4) Di sini kita mendapati cerita tentang turunnya Roh Kudus ke atas murid-murid Kristus. Amatilah, I. Kapan, dan di mana, peristiwa ini terjadi, yang dicatat secara khusus, supaya kepastiannya menjadi lebih kuat. 1. Terjadinya ketika tiba hari Pentakosta, yang di dalamnya tampak ada rujukan pada bagaimana ketetapan perayaan ini dulu diungkapkan, di mana dikatakan (Im. 23:15), kamu harus menghitung, harus ada genap tujuh minggu, mulai dari hari korban sajian hulu hasil, yaitu hanya satu hari sesudah paskah, hari keenam belas pada bulan Abib, dan ini tepat pada hari ketika Kristus bangkit. Hari ini tiba dengan genap, maksudnya, malam sebelumnya, yang terhitung sebagai bagian dari hari itu, sudah benar-benar berlalu. (1) Roh Kudus turun pada hari raya yang khidmat, karena pada waktu itu banyak orang berbondong-bondong datang ke Yerusalem dari segala penjuru negeri, dan banyak penganut agama Yahudi dari bangsa-bangsa lain, yang membuat kejadian itu lebih umum diketahui, dan ketenarannya tersebar dengan lebih cepat dan lebih jauh, yang akan berperan besar dalam menyebarkan Injil ke semua bangsa. Demikianlah pada hari ini, seperti sebelumnya pada hari paskah, hari-hari raya orang Yahudi berperan untuk menabuh genderang bagi ibadah-ibadah dan penghiburan-penghiburan Injil. (2) Hari raya Pentakosta ini dipelihara untuk memperingati diberikannya hukum Taurat di Gunung Sinai, yang dari situ mulai terhitung pembentukan jemaat Yahudi, yang menurut perhitungan Dr. Lightfoot terjadi tepat seribu empat ratus empat puluh tujuh tahun sebelum ini. Tepatlah, oleh sebab itu, Roh Kudus diberikan pada hari raya itu, di dalam api dan lidah-lidah, untuk menyatakan hukum Injil, bukan hanya kepada satu bangsa seperti hukum Taurat, melainkan kepada segala makhluk. (3) Hari raya Pentakosta terjadi pada hari pertama dalam minggu itu, yang merupakan kehormatan tambahan yang diberikan kepada hari itu, dan peneguhannya sebagai hari Sabat Kristen, inilah hari yang dijadikan TUHAN, sebagai peringatan yang abadi dalam jemaat-Nya akan dua berkat agung itu, yakni kebangkitan Kristus dan pencurahan Roh, yang kedua-duanya terjadi pada hari pertama dalam minggu itu. Hal ini tidak hanya bisa membenarkan kita untuk beribadah pada hari itu dan menyebutnya hari Tuhan, tetapi juga untuk membimbing kita dalam menguduskannya bagi pujian kepada Allah, khususnya atas dua berkat agung itu. Pada setiap hari Tuhan sepanjang tahun, saya pikir, kita harus memberikan perhatian penuh dan khusus di dalam doa-doa dan puji-pujian kita terhadap kedua peristiwa ini. Seperti yang dijalankan oleh sebagian jemaat dalam memperingati kebangkitan Kristus setahun sekali, pada hari raya Paskah, dan memperingati pencurahan Roh Kudus setahun sekali, pada hari raya Pentakosta. Oh, semoga saja kita bisa melakukannya dengan hati yang layak! 2. Peristiwa itu terjadi ketika mereka semua berkumpul di satu tempat. Tempat apa itu kita tidak diberi tahu secara khusus, entah di dalam Bait Allah, di mana mereka hadir pada hari-hari biasa (Luk. 24:53), ataukah itu di ruang atas kepunyaan mereka sendiri, di mana mereka bertemu pada waktu-waktu lain. Tetapi tempatnya di Yerusalem, karena kota ini sudah menjadi tempat yang dipilih Allah, untuk menempatkan namaNya di sana, dan apa yang sudah dinubuatkan adalah bahwa dari sana firman Tuhan akan keluar ke segala bangsa (Yes. 2:3). Sekarang kota itu menjadi tempat perkumpulan umum bagi semua orang saleh: di sini Allah sudah berjanji untuk menjumpai mereka dan memberkati mereka. Di sinilah, oleh sebab itu, Ia menjumpai mereka dengan berkat dari segala berkat ini. Meskipun Yerusalem sudah memberikan penghinaan luar biasa tak terbayangkan terhadap Kristus, namun Ia memberikan kehormatan ini kepada Yerusalem, untuk mengajar sisa-Nya di semua tempat. Ia memiliki umat sisa-Nya di Yerusalem. Di sini murid-murid ada di satu tempat, dan mereka belum berjumlah begitu banyak sehingga satu tempat, yang tidak luas, bisa menampung mereka semua. Dan di sini berkumpullah mereka. Kita tidak bisa lupa betapa sering, ketika Guru mereka masih ada bersama-sama dengan mereka, terjadi pertengkaran di antara mereka, tentang siapa yang terbesar. Tetapi sekarang semua pertengkaran ini berakhir, kita tidak mendengar apa-apa lagi tentangnya. Apa yang sudah mereka terima dari Roh Kudus, ketika Kristus mengembusi mereka, sudah cukup meluruskan kesalahan-kesalahan yang mendasari pertentangan-pertentangan itu, dan sudah mencondongkan hati mereka pada kasih suci. Belakangan ini mereka lebih sering berdoa bersama-sama daripada biasanya (1:14), dan ini membuat mereka mengasihi satu sama lain dengan lebih baik. Dengan anugerah-Nya Ia sudah mempersiapkan mereka seperti itu untuk menerima karunia Roh Kudus. Sebab burung merpati yang terberkati itu tidak datang di mana ada bunyi dan kegemparan, tetapi melayang-layang di atas permukaan air yang tenang, bukan yang bergolak. Maukah kita agar Roh dicurahkan kepada kita dari atas? Hendaklah kita semua sehati, dan, kendati dengan adanya berbagai macam perasaan dan kepentingan, seperti yang tidak diragukan lagi memang ada di antara murid-murid itu, marilah kita sepakat untuk mengasihi satu sama lain. Sebab, di mana saudara-saudara diam bersama dengan rukun, ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat. II. Bagaimana, dan dengan cara apa, Roh Kudus turun ke atas mereka. Kita sering kali membaca dalam Perjanjian Lama tentang turunnya Allah di dalam awan. Seperti ketika Ia pertama-tama melawat kemah suci, dan sesudah itu Bait Allah, yang menunjukkan kegelapan dari tata aturan pada zaman itu. Dan Kristus naik ke sorga di dalam awan, untuk menunjukkan betapa kita tetap berada dalam kegelapan mengenai dunia atas. Tetapi Roh Kudus tidak turun di dalam awan. Sebab, Ia harus menghalau dan menyerakkan awan-awan yang menggelapkan pikiran manusia, dan membawa terang ke dalam dunia. 1. Di sini ada panggilan-panggilan yang bisa didengar, yang diberikan kepada mereka untuk menggugah pengharapan-pengharapan mereka akan sesuatu yang besar (ay. Kis 2:2). Di sini dikatakan, (1) Bahwa terjadinya tiba-tiba, tidak timbul secara perlahan, seperti angin biasanya berembus, tetapi langsung kencang seketika. Datangnya lebih cepat daripada yang mereka harapkan, dan bahkan membingungkan orang-orang yang sedang berkumpul bersama-sama untuk menunggu, dan mungkin untuk melakukan suatu ibadah. (2) Itu adalah suatu bunyi dari langit, seperti bunyi guruh (Why. 6:1). Allah dikatakan mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaan-Nya (Mzm. 135:7), dan mengumpulkan angin dalam genggam-Nya (Ams. 30:4). Dari Dialah bunyi ini datang, seperti suara orang yang berseru-seru, persiapkanlah jalan untuk Tuhan. (3) Itu adalah bunyi angin, sebab jalan Roh adalah seperti jalan angin (Yoh. 3:8), engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Ketika Roh hidup hendak memasuki tulang-tulang yang kering, sang nabi disuruh untuk bernubuat kepada nafas hidup (KJV: “bernubuat kepada angin”): Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin (Yeh. 37:9). Dan meskipun bukan di dalam angin Tuhan datang kepada Elia, namun angin mempersiapkan dia untuk menerima penyataan Allah akan diri-Nya sendiri dalam bunyi angin sepoi-sepoi basa (1Raj. 19:11-12, KJV: dalam suara yang tenang dan lirih - pen.). Allah berjalan dalam puting beliung dan badai (Nah. 1:3), dan dari angin puting beliung Ia berbicara kepada Ayub. (4) Itu adalah tiupan angin keras. Suara itu keras dan kencang, dan datang tidak hanya dengan bunyi yang keras, tetapi juga dengan kekuatan yang dahsyat, seolah-olah hendak merubuhkan semua yang ada di hadapannya. Hal ini untuk menandakan pengaruh-pengaruh dan pekerjaan-pekerjaan yang penuh kuasa dari Roh Allah atas pikiran manusia, dan dengan demikian atas dunia, bahwa mereka, melalui kuasa Allah, sanggup untuk meruntuhkan pikiran-pikiran. (5) Tiupan angin itu memenuhi bukan hanya ruangan itu, melainkan juga seluruh rumah, di mana mereka duduk. Mungkin tiupan itu membuat takut seluruh kota, tetapi, untuk menunjukkan bahwa peristiwa itu bersifat adikodrati, tiupan angin itu hanya berembus pada rumah itu: seperti sebagian orang berpikir bahwa angin yang dikirim untuk menangkap Yunus hanya berembus pada kapal yang ditumpanginya (Yun. 1:4), dan seperti bintang orang-orang bijak berhenti menaungi rumah di mana Sang Anak berada. Hal ini akan memberikan arah bagi orang-orang yang mengamatinya ke mana mereka harus pergi untuk mencari tahu maksud dari itu semua. Angin yang memenuhi rumah ini akan membuat murid-murid terkagum-kagum, dan membantu mereka bersikap sangat sungguh-sungguh, hormat, dan tenang, untuk menerima Roh Kudus. Demikianlah, bila Roh menginsafkan orang, maka itu membuka jalan bagi datangnya penghiburan-penghiburan-Nya. Dan embusan-embusan yang keras dari angin yang penuh berkat itu mempersiapkan jiwa bagi tiupannya yang lembut dan halus. 2. Di sini ada tanda yang bisa terlihat oleh mata dari karunia yang akan mereka terima. Mereka melihat lidah-lidah seperti nyala api (ay. Kis 2:3), dan ia hinggap - ekathise. Bukan mereka, lidah-lidah itu, yang hinggap, tetapi Ia, yakni Roh itu, hinggap pada setiap orang dari mereka, seperti Ia dikatakan hinggap pada nabi-nabi di zaman dulu. Atau, sebagaimana Dr. Hammond menggambarkannya, “Tampak ada sesuatu seperti nyala api yang menerangi pada setiap orang dari mereka, nyala api yang terbagi-bagi, dan dengan demikian berbentuk mirip seperti lidah-lidah, dari bagian ujungnya yang terbagi-bagi atau terbelah-belah.” Nyala lilin tampak seperti lidah. Dan ada meteor yang oleh para ahli ilmu alam disebut ignis lambens - nyala api yang lembut, bukan api yang menghanguskan. Seperti itulah nyala api ini. Amatilah, (1) Ada tanda yang jelas bisa dirasakan oleh indra, untuk meneguhkan iman para murid itu sendiri, dan untuk meyakinkan orang lain. Demikianlah, misi yang pertama dari nabi-nabi pada zaman dulu sering kali diteguhkan oleh tanda-tanda, agar seluruh Israel tahu bahwa mereka adalah nabi-nabi yang sudah ditentukan. (2) Tanda yang diberikan adalah api, agar perkataan Yohanes Pembaptis tentang Kristus bisa dipenuhi, Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Dengan Roh Kudus seperti dengan api. Sekarang mereka, pada hari raya Pentakosta, sedang merayakan diberikannya hukum Taurat di Gunung Sinai. Dan sama seperti hukum Taurat diberikan di dalam api, dan oleh sebab itu disebut sebagai hukum berapi, demikian pula pula dengan Injil. Misi Yehezkiel diteguhkan dengan penglihatan bara api yang menyala (Yeh. 1:13), dan misi Yesaya dengan bara api yang menyentuh bibirnya (Yes. 6:7). Roh, seperti api, meluluhkan hati, memisahkan dan membakar sekam, dan menyalakan kesalehan serta ketaatan di dalam jiwa, yang di dalamnya, seperti di dalam api di atas mezbah, korban-korban rohani dipersembahkan. Inilah api yang hendak dilemparkan Kristus ke bumi dengan kedatangan-Nya (Luk. 12:49). (3) Api ini tampak dalam lidah-lidah yang terbelah. Pekerjaan-Pekerjaan Roh itu banyak. Salah satunya adalah berbicara dalam berbagai lidah, dan dikhususkan sebagai petunjuk pertama dari karunia Roh Kudus, dan pekerjaan itulah yang dirujuk oleh tanda ini. [1] Yang tampak itu adalah lidah-lidah. Sebab dari Roh kita mendapat firman Allah, dan dengan-Nya Kristus akan berbicara kepada dunia. Dan Ia memberikan Roh kepada murid-murid bukan hanya untuk memperlengkapi mereka dengan pengetahuan, melainkan juga untuk memperlengkapi mereka dengan kuasa untuk memberitakan dan menyatakan kepada dunia apa yang mereka ketahui. Sebab kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. [2] Lidah-lidah ini terbelah, untuk menandakan bahwa Allah dengan cara ini akan membagi-bagikan kepada semua bangsa pengetahuan tentang anugerah-Nya, seperti Dia dikatakan sudah membagikan kepada mereka, melalui pemeliharaan-Nya, terang benda-benda langit (Ul. 4:19). Lidah-lidah itu terbagi, namun mereka tetap berkumpul dengan sehati. Sebab bisa saja ada kesatuan hati yang tulus sekalipun ungkapannya beragam. Dr. Lightfoot mengamati bahwa terbaginya lidah-lidah di Babel merupakan suatu pengusiran terhadap orang-orang kafir. Sebab ketika mereka sudah kehilangan satu-satunya bahasa yang hanya dengannya Allah dibicarakan dan diberitakan, mereka benar-benar kehilangan pengetahuan akan Allah dan agama, dan jatuh ke dalam penyembahan berhala. Tetapi sekarang, setelah lebih dari dua ribu tahun, Allah, dengan membagi-bagi lidah juga, memulihkan pengetahuan akan diri-Nya kepada bangsa-bangsa. (4) Api ini hinggap pada mereka selama beberapa waktu, untuk menunjukkan bahwa Roh Kudus tetap diam bersama-sama dengan mereka. Karunia-karunia nubuatan pada zaman dulu jarang diberikan dan hanya sekali-sekali, tetapi murid-murid Kristus selalu mempunyai karunia-karunia Roh bersama-sama dengan mereka, meskipun tandanya, bisa kita duga, segera menghilang. Entah nyala-nyala api ini hinggap dari satu orang ke orang lain, atau ada nyala api pada tiap-tiap orang, tidaklah pasti. Tetapi nyala-nyala api itu tentulah kuat dan terang, sehingga tampak pada siang hari, seperti yang kita lihat sekarang, sebab hari sudah betul-betul siang. III. Apa dampak langsung dari peristiwa ini? 1. Penuhlah mereka dengan Roh Kudus, dengan lebih berlimpah dan berkuasa daripada sebelum-sebelumnya. Mereka dipenuhi oleh anugerah-anugerah Roh, dan lebih daripada sebelumnya berada di bawah kuasa-kuasa-Nya yang menguduskan - sekarang mereka kudus, sorgawi, dan rohani, lebih disapih lagi dari dunia ini dan mengenal dunia lain dengan lebih baik. Mereka lebih dipenuhi dengan penghiburan-penghiburan Roh, lebih bersukacita daripada sebelum-sebelumnya dalam kasih Kristus dan pengharapan akan sorga, dan di dalam itu semua kesedihan-kesedihan serta ketakutan-ketakutan mereka tertelan sudah. Mereka juga, sebagai bukti dari hal ini, dipenuhi dengan karunia-karunia Roh Kudus, yang terutama dimaksudkan di sini. Mereka dikaruniai kuasa-kuasa mujizat untuk mengabarkan Injil dengan lebih lagi. Tampak jelas bagi saya bahwa bukan hanya kedua belas rasul, melainkan juga keseratus dua puluh murid sama-sama dipenuhi dengan Roh Kudus pada waktu ini, yakni ketujuh puluh murid, yang termasuk sebagai rasul-rasul, dan melakukan pekerjaan yang sama, dan semua orang lain yang juga harus memberitakan Injil. Sebab dikatakan dengan jelas (Ef. 4:8, 11), tatkala Kristus naik ke tempat tinggi (yang merujuk pada peristiwa ini, ay. Kis 2:33), Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia, bukan hanya rasul-rasul (seperti kedua belas rasul), melainkan juga nabi-nabi dan pemberita-pemberita Injil (begitu banyaknya ketujuh puluh murid ini, yang adalah pemberita-pemberita Injil keliling), serta gembala-gembala dan pengajar-pengajar yang menetap di jemaat-jemaat tertentu, seperti yang dapat kita duga dilakukan sebagian dari orang-orang ini sesudahnya. Semua orang di sini pasti merujuk pada semua orang yang berkumpul bersama-sama (ay. Kis 2:1; 1:14-15). 2. Mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, selain bahasa asli mereka, meskipun mereka belum pernah mempelajari bahasa lain mana pun. Mereka tidak berbicara tentang percakapan sehari-hari, melainkan tentang firman Allah, dan puji-pujian bagi nama-Nya, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya, atau memampukan mereka untuk mengatakan apophthengesthai - wejangan, perkataan-perkataan yang penting dan berbobot, yang layak untuk diingat. Ada kemungkinan bahwa yang terjadi di sini bukan hanya satu orang dimampukan berbicara satu bahasa, dan orang lain bahasa lain (seperti pada beberapa keluarga yang diserakkan dari Babel), melainkan bahwa setiap orang dimampukan untuk berbicara berbagai macam bahasa, bila ada keperluan untuk menggunakannya. Dan kita bisa menduga bahwa mereka tidak saja mengerti perkataan mereka sendiri tetapi juga apa yang dikatakan orang lain, yang tidak demikian halnya dengan orang-orang yang membangun menara Babel(Kej. 11:7). Mereka tidak berbicara sedikit-sedikit dalam bahasa lain, atau dengan gagap mengatakan kalimat yang terputus-putus, tetapi mengatakannya dengan siap, dengan tepat, dan dengan indah, seolah-olah bahasa itu sudah menjadi bahasa ibu mereka sendiri. Sebab apa saja yang terlahir dari mujizat merupakan hal terbaik dari jenisnya masing-masing. Mereka tidak berbicara berdasarkan pemikiran atau permenungan sebelumnya, melainkan seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Ia memperlengkapi mereka dengan pokok pembicaraan dan juga dengan bahasa. Nah, ini merupakan, (1) Mujizat yang sangat besar. Itu adalah mujizat pada pikiran (begitu pula halnya dengan sebagian besar dari sifat mujizat dalam Injil), sebab di dalam pikiran kata-kata disusun. Mereka bukan saja belum pernah mempelajari bahasa-bahasa ini, tetapi juga tidak pernah mempelajari bahasa asing mana pun, yang bisa saja memudahkan mereka dalam menggunakannya. Bahkan, berdasarkan semua yang tampak, mereka malah tidak pernah mendengarkan bahasa-bahasa ini diucapkan atau mengetahui sesuatu mengenainya. Mereka bukan cendekiawan ataupun pelancong, dan juga mereka tidak mempunyai kesempatan apa pun untuk mempelajari bahasa-bahasa entah melalui buku atau percakapan. Petrus memang cukup berani untuk berbicara dalam bahasanya sendiri, tetapi yang lainnya bukanlah juru-juru bicara, dan mereka juga tidak cepat memahami. Namun, sekarang bukan saja hati orang-orang yang terburu nafsu akan tahu menimbang-nimbang, melainkan juga lidah orang-orang yang gagap akan dapat berbicara jelas (Yes. 32:4). Ketika Musa mengeluh, aku berat mulut, Allah berkata, Aku akan menyertai lidahmu, dan Harun akan berbicara bagimu. Tetapi Ia berbuat lebih lagi bagi pembawa-pembawa pesan ini. Ia yang membuat mulut orang, menjadikan mulut mereka baru. (2) Mujizat yang sangat tepat, yang dibutuhkan, dan bermanfaat. Bahasa yang dipakai murid-murid adalah bahasa Aram, sebuah dialek dari bahasa Ibrani, sehingga penting bagi mereka untuk diperlengkapi dengan karunia lidah itu, untuk mengerti baik bahasa asli Perjanjian Lama, yang ditulis dalam bahasa Ibrani, maupun bahasa asli Perjanjian Baru, yang kemudian ditulis dalam bahasa Yunani. Namun ini belum seberapa. Mereka diberi mandat untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk, memuridkan semua bangsa. Tetapi di ambang pintu sudah ada kesulitan yang tidak bisa diatasi. Bagaimana mereka bisa menguasai beberapa bahasa sehingga bisa menggunakannya dengan jelas kepada semua bangsa? Butuh waktu seumur hidup untuk mempelajari bahasa-bahasa orang lain. Dan oleh sebab itu, untuk membuktikan bahwa Kristus dapat memberi wewenang untuk mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa, Ia memberikan kemampuan untuk mengabarkannya kepada bangsa-bangsa di dalam bahasa mereka sendiri-sendiri. Dan tampak bahwa hal ini merupakan penggenapan dari janji yang dibuat Kristus kepada murid-murid-Nya itu (Yoh. 14:12), pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada ini akan engkau lakukan. Sebab pekerjaan ini bisa dipandang dengan baik, dengan melihat segala segi, sebagai pekerjaan yang lebih besar daripada mujizat-mujizat kesembuhan yang dikerjakan Kristus. Kristus sendiri tidak berbicara dalam bahasa-bahasa lain, tidak pula Ia memampukan murid-murid-Nya untuk berbuat demikian selama Ia berada bersama mereka. Jadi, berbicara dalam bahasa-bahasa lain adalah dampak pertama dari dicurahkannya Roh ke atas mereka. Dan Uskup Agung Tillotson berpendapat bahwa mungkin saja jika pertobatan orang-orang kafir diusahakan dengan tulus dan gigih sekarang ini, oleh orang-orang Kristen yang berpikiran jujur, maka Allah akan meneguhkan usaha seperti itu secara luar biasa dengan segala bantuan yang sesuai, seperti yang dilakukan-Nya ketika Injil diberitakan untuk pertama kalinya. * Hari Pentakosta ( Kis 2:5-10) Di sini kita mendapati gambaran tentang perhatian orang banyak terhadap karunia yang luar biasa ini, yang dikaruniakan kepada murid-murid secara tiba-tiba. Amatilah, Kumpulan orang banyak yang ada di Yerusalem pada saat ini, tampaknya lebih banyak dibandingkan pada hari raya Pentakosta biasa. Waktu itu di Yerusalem diam atau menetap orang-orang Yahudi yang saleh, yang hatinya tertuju pada agama, dan yang mempunyai rasa takut akan Allah di mata mereka (begitulah tepatnya arti kata saleh itu). Sebagian dari mereka adalah penganut-penganut agama Yahudi yang saleh, yang disunat, dan diakui sebagai anggota-anggota jemaat Yahudi, sebagian yang lain hanya penganut-penganut agama Yahudi di pintu gerbang, yang sudah meninggalkan penyembahan berhala, dan memberi diri untuk menyembah Allah yang benar, tetapi tidak mempraktikkan hukum Taurat. Sebagian dari orang-orang yang ada di Yerusalem pada saat ini adalah dari segala bangsa di bawah kolong langit, yang ke sana orang-orang Yahudi terserak, atau yang dari sana penganut-penganut agama Yahudi datang. Ini ungkapan hiperbola (berlebihan), yang menunjukkan bahwa terdapat sebagian orang Yahudi dari sebagian besar tempat di dunia yang diketahui pada waktu itu. Sama seperti Tirus dahulu atau London sekarang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berdagang dari segala penjuru dunia, demikian pula Yerusalem pada waktu itu menjadi tempat berkumpul orang-orang beragama dari segala penjuru dunia. Sekarang, 1. Di sini kita bisa melihat dari bangsa-bangsa mana saja orang-orang asing itu datang (ay. Kis 2:9-11), sebagian dari bangsa-bangsa timur, seperti orang Partia, Media, Elam, dan penduduk Mesopotamia, keturunan Sem. Dari sana mereka datang ke Yudea, yang harus disebutkan karena, meskipun bahasa orang-orang di Yudea sama dengan bahasa yang digunakan murid-murid, namun, sebelumnya, mereka menuturkannya dengan logat dan dialek pedesaan di utara (engkau pasti orang Galilea, itu terlihat dari cara bicaramu), tetapi sekarang mereka menuturkannya dengan benar sebagaimana para penduduk Yudea sendiri menuturkannya. Berikutnya adalah para penduduk Kapadokia, Pontus, dan suatu negeri di sekitar Propontis (laut Marmara yang ada Turki sekarang ini - pen.) yang secara khusus disebut Asia, dan inilah negeri-negeri di mana orang-orang asing itu tersebar, yang kepada mereka Rasul Petrus menulis (1Ptr. 1:1). Berikutnya adalah orang-orang yang berdiam di Frigia dan Pamfilia, yang terletak di sebelah barat, keturunan Yafet, seperti juga pendatang-pendatang dari Roma. Ada juga sebagian orang yang diam di bagian-bagian selatan dari Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene. Ada juga sebagian dari pulau Kreta, dan sebagian dari padang gurun Arabia. Tetapi mereka semua entah orang-orang Yahudi asli, yang tersebar ke negeri-negeri itu, atau penganut-penganut agama Yahudi tetapi merupakan penduduk asli negeri-negeri itu. Dr. Whitby mengamati bahwa para penulis Yahudi di sekitar waktu ini, seperti Filo dan Yosefus, berbicara tentang orang-orang Yahudi sebagai orang yang berdiam di segala tempat di seluruh penjuru dunia. Juga, bahwa tidak ada suatu kaum di muka bumi, yang di antara mereka tidak tinggal sebagian orang Yahudi. 2. Kita dapat bertanya apa yang membawa semua orang Yahudi dan penganut agama Yahudi itu bersama-sama ke Yerusalem pada waktu itu: bukan untuk berkunjung sebentar ke sana untuk merayakan hari raya Pentakosta, sebab dikatakan mereka juga tinggal di sana. Mereka menginap di sana, karena pada waktu itu ada pengharapan di kalangan orang banyak akan kemunculan Mesias. Sebab minggu-minggu yang dinubuatkan Daniel baru saja lewat, tongkat kerajaan sudah beranjak dari Yehuda, dan pada saat itulah pada umumnya orang berpikir bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan (Luk. 19:11). Hal inilah yang membawa orang-orang yang paling bersemangat dan taat dalam beragama datang ke Yerusalem, untuk tinggal sementara di sana, supaya mereka mendapat bagian awal dalam kerajaan Mesias dan berkat-berkat dari kerajaan itu. * Kepenuhan Roh Kudus Kitab Kisah Para Rasul merupakan tulisan dokter Lukas yang juga menulis Injil Lukas. Walaupun kitab ini diberi nama Kisah Para Rasul namun isinya tidak semata-mata tentang kehidupan para Rasul melainkan kisah tentang penyebaran Injil di dalamnya peran Rasul penting dan menentukan. Kisah Para Rasul 2:1-13 menceritakan peristiwa Pentakosta. Kata “Pentakosta” (Yun: Pentekoste) artinya lima puluh. Dalam Perjanjian Lama, peristiwa Pentakosta diperingati sebagai hari pengucapan syukur atas hasil panen, dirayakan selama tujuh minggu yaitu 50 hail setelah Paskah -peristiwa pembebasan dan tanah Mesir (Band. Im.23:15-21). Pada hail itu semua orang Israel termasuk budak dan orang asing yang tinggal bersama mereka, berkumpul untuk merayakannya. Peristiwa kepenuhan atau ketuangan Roh Kudus kepada murid-murid dan orang-orang yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus terjadi di hari Pentakosta, hari pengucapan syukur orang Yahudi. Peristiwa kepenuhan Roh Kudus merupakan penggenapan janji Tuhan dalam Kis.1:8. Dalam perayaan Pentakosta semua Yahudi berkumpul di Yerusalem dan Yesus Kristus melarang orang yang percaya kepada-Nya meninggalkan Yerusalem untuk menantikan janji Bapa (Kis.1:4-5). Berkumpul di satu tempat, spesifikasi lokasi atau tempat tersebut tidak dijelaskan dengan rinci: apakah di Bait Allah (Band. Luk.24:53) atau di tempat di mana para murid biasa berkumpul untuk mengadakan percakapan bersama. Tetapi yang pasti bahwa tempat itu ada di Yerusalem. Tiba-tiba turun dari langit bunyi seperti tiupan angin keras. Alkitab menggambarkan Roh Kudus sebagai Angin (Yun: Pnoe) dan Roh (Yun: Pneuma), karena kedua kata ini serumpun. Itulah sebabnya sebelum Roh Kudus turun maka Dia didahului oleh suatu bunyi seperti tiupan angin keras. Selanjutnya, kelihatan lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada masing-masing mereka. Roh Kudus juga digambarkan sebagai nyala api yang berfungsi untuk menyucikan atau menguduskan. Lidah-lidah seperti nyala api menjadi gambaran suatu kuasa yang begitu luar biasa diberikan kepada murid-murid Yesus Kristus agar mampu berkata-kata dan bersaksi tentang kebangkitan-Nya. Di hari Pentakosta itu, murid-murid mengalami kepenuhan Roh Kudus sehingga mereka dapat berkata-kata dalam bahasa lain, sebagai salah satu manifestasi karya Roh Kudus. Kepenuhan Roh Kudus menunjuk pada peristiwa ilahi dalam mana Tuhan Allah dengan kedaulatan dan anugerah-Nya memberikan Roh-Nya kepada seseorang atau sekelompok orang agar dapat melaksanakan tugas atau misi sesuai kehendak-Nya. Kisah Para Rasul 2:6 dan 8 ditulis bahwa orang banyak mendengar para murid berbahasa menurut bahasa mereka masing-masing. Kalimat “mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (ay.4) menunjukkan bahwa para murid memang berbicara dalam bahasa yang asing bagi mereka sendiri tetapi tidak asing bagi mereka yang mendengarnya. Sehingga dapat dipastikan hal ini merupakan mujizat pendengaran sekaligus mujizat berkata-kata. Kemampuan berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh masing-masing orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda, yang diberikan Bapa kepada para murid Yesus Kristus merupakan suatu terobosan agar supaya Injil dapat didengar dan diterima oleh banyak orang yang datang dan berbagai tempat ke Yerusalem. Dan Yerusalem Injil dapat menyebar ke seluruh dunia. Para murid dipenuhi Roh Kudus karena janji Allah. Kepenuhan Roh Kudus bertujuan untuk memberikan kuasa kepada para murid dan orang percaya mula-mula agar mampu dan berani bersaksi tentang Injil. Injil adalah puncak karya Tuhan Allah yang dikerjakan melalui dan di dalam Yesus Kristus. Kepenuhan Roh Kudus bagi para murid di hari Pentakosta membawa pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan orang-orang percaya pada abad-abad pertama. Mereka dengan berani dan rela mengorbankan diri memberitakan Injil dan melakukan banyak mujizat. Bahkan murid Yesus Kristus, kecuali Yohanes, semuanya mati syahid. Kepenuhan Roh Kudus bagi murid-murid Yesus Kristus pada hari Pentakosta, memang tidak mudah diterima oleh orang banyak; hal mana terlihat dari ketidakpahaman dan ketidakmengertian apa yang sedang terjadi. Bahkan ada tuduhan kepada para murid bahwa mereka sedang mabuk anggur. Namun situasi itu tidak mengurangi semangat para murid Yesus Kristus dan dengan gagah berani memberitakan Injil serta siap menghadapi tantangan dan rintangan (band. Kis.4:13). Makna dan Implikasi Finnan Kepenuhan Roh Kudus bagi semua orang percaya di hari Pentakosta merupakan penggenapan janji Tuhan Yesus Kristus (Kis.1:8). Seseorang yang mengalami kepenuhan Roh Kudus berarti pribadi orang itu dikuasai ata didominasi oleh Roh Kudus sehingga apa yang dilakukannya adalah seperti apa yang Roh Kudus inginkan dan tidak ada tempat untuk hal-hal yang bersifat kedagingan/duniawi atau kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Orang yang dipenuhi Roh Kudus akan selalu menyadari bahwa apa yang dapat dilakukannya semata-mata adalah apa yang Roh Kudus kehendaki bagi dirinya. Manifestasi kepenuhan Roh Kudus tidak selalu dalam bentuk bahasa Rob. Sebab dalam Alkitab ada peristiwa-peristiwa lain di mana orang-orang percaya tidak mengalami bahasa Roh, saat mereka dibaptis dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Kis.2:41;8:36-38;16:14-15;16:31-33); Demikian juga dengan Stefanus, dikatakan penuh dengan Roh Kudus tetapi tidak pernah disebut berbahasa Roh (Kis.7:55). Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang mengalami kepenuhan Roh Kudus (didalamnya mujizat berbahasa Roh/Bahasa-bahasa lain), tujuan utamanya ialah memberitakan Injil. Kisah Para Rasul 1:8 berkata: “tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi “. Dengan demikian seorang yang diberi karunia berbahasa Roh, itu bukan hanya untuk dibangga-banggakan untuk kepujian diri sendiri, kelompok dan memandang yang lain rendah; tidak punya Roh; belum bertobat; hams dilahirkan baru; dan sebagainya yang pada intinya menganggap lebih dan yang lain. Hal ini tentu sudah bertentangan dengan kehendak Roh Kudus. Ada banyak karunia Roh Kudus yang dinyatakan seperti karunia mujizat, nubuat, menyembuhkan, berbahasa Roh dan masih banyak lagi, yang semuanya tentu hanya untuk kemuliaan dan keagungan nama Tuhan Yesus Kristus (Band. I Kor.12:8-11). Sebab itu seseorang yang dipenuhi Roh Kudus akan selalu mementingkan Injil dan senantiasa bersukacita untuk memberitakannya maka dia akan menghasilkan buah-buah Roh, tidak lagi mementingkan diri sendiri melainkan menjadikan kemuliaan Tuhan sebagai pusat kehidupannya. Buah-buah Roh, menurut Galatia 5:22-23a ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikkan, kesetiaan, kelemah-lembutan dan penguasaan diri. Kita mengamini bahwa karya Roh Kudus tidak terbatas dan tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Kepenuhan Roh Kudus bisa terjadi dan dialami oleh seseorang ketika dikehendaki Allah Bapa di sorga. Apapun bentuk manifestasi karya Roh Kudus itu akan dilihat dan dinilai dari hasil atau buahnya yaitu mampu menjadikan seseorang yang belum percaya, menjadi percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat; membangun persekutuan umat agar semakin bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Allah; terjadi pertobatan sejati dalam dirinya dan menjadi semakin rendah hati.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHK GMIM Senin, 29 Mei 2023 – Tuhan Allah Kita Sungguh Ajaib – Kisah Para Rasul 2:2-3 Sebelum: RHK GMIM Sabtu, 27 Mei 2023 - Pemilihan Dengan Undian - Kisah Para Rasul 1:26 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,