gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 1633 kali
Download MP3 Music
oleh Pdt. Brando Vallentino Kondoj, M.Th.
Penulis adalah Pendeta Jemaat GMIM Efrata Tandengan, Wilayah Langowan Empat.
----------------------------------------------------------------------

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus,

Sebuah hubungan yang baik ditandai dengan adanya aktivitas dan komunikasi yang berjalan dengan baik juga. Tanpa aktivitas dan komunikasi yang baik, sebuah hubungan tidak akan berjalan sebagaimana seharusnya. Kehidupan orang percaya pun harus dipahami demikian. Kekristenan adalah lebih dari sekadar agama dengan seperangkat aturan yang harus dilakukan, yang membebani dan mengekang seseorang. Kekristenan adalah sebuah hubungan. Itulah sebabnya, kehidupan orang percaya harus ditandai dengan hal-hal yang menunjukkan adanya hubungan yang baik antara manusia dengan Allah, yakni melalui aktivitas dan komunikasi yang terjalin dengan baik. Namun demikian, hal-hal itu tidak selalu terjadi. Orang percaya dapat jatuh dalam godaan rutinitas agamawi, yang memang mencerminkan adanya aktivitas keagamaan yang dilakukan, namun tidak mencerminkan sebuah hubungan yang baik antara manusia dengan Allah.

Perjalanan umat Israel dan Yehuda sebagai umat Allah menunjukkan adanya masalah-masalah yang demikian. Umat Allah jatuh dalam rutinitas agamawi dengan seperangkat aktivitas yang mereka lakukan dari waktu ke waktu, tetapi yang jauh dari kehendak Tuhan. Mungkinkah hal-hal yang demikian terjadi dalam kehidupan orang percaya? Mungkinkah seseorang aktif melakukan banyak hal di hadapan Tuhan namun jauh dari kehendak Tuhan? Disinilah tugas nabi Yesaya untuk menyuarakan kehendak Tuhan bagi pertobatan umat Allah.

Allah meminta nabi Yesaya memberitakan kehendak-Nya itu dengan keras dan tegas. Laksana orang yang berteriak dengan kerongkongannya, Yesaya diminta untuk menyerukan dan menyaringkan suaranya untuk menyatakan pelanggaran dan dosa umat-Nya (ay. 1). Umat Allah telah ada di titik di mana kesalehan yang mereka tunjukkan adalah kesalehan yang palsu dan jauh dari kehendak Tuhan, dan Tuhan membenci bentuk-bentuk kesalehan yang demikian. Bila melihat pada kulitnya saja, mereka memang setiap hari mencari Allah dan suka untuk mengenal segala jalan-Nya. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allah, mereka menanyakan tentang hukum-hukum yang benar dan suka mendekat menghadap kepada Allah (ay. 2).

Lantas, di manakah masalahnya?

Umat Allah memang melakukan segala aktivitas keagamaannya, namun mereka melakukannya dengan motivasi yang tidak benar, tanpa pertobatan yang benar, dan tidak menghasilkan dampak kepada orang lain. Pada pasal 58 ini, Allah melalui nabi Yesaya menyoroti satu dari sekian banyak aktivitas keagamaan yang dilakukan umat Allah, yakni puasa mereka. Pada pasal 1, telah ada tuntutan kepada kepada umat Allah agar mereka bertobat. Serangkaian aktivitas keagamaan mereka telah membuat Allah muak: korban persembahan yang mereka berikan, perayaan-perayaan mereka, bahkan ibadah dan doa-doa mereka. Allah muak dan jijik karena umat-Nya melakukan semuanya itu namun tidak meninggalkan kejahatan-kejahatan mereka. Bagaimana dengan puasa yang mereka lakukan?

Saudara-saudara, umat Allah melakukan puasanya dengan motivasi yang tidak benar. Dalam puasanya, mereka menuntut agar Allah memenuhi keinginan-keinginan mereka. Puasa mereka ditujukan untuk kepentingan diri mereka sendiri. “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga? (ay. 3). Di setiap Hari Raya Pendamaian, umat Allah akan mengkhususkan satu hari di mana mereka akan berpuasa, merendahkan diri, tidak makan dan minum, sebagai aktivitas yang mereka lakukan secara teratur dari waktu ke waktu. Namun di titik ini, umat Allah tidak lagi memahami tujuan puasa yang dikehendaki Allah. Di sinilah bahaya formalitas belaka dan kemunafikan dapat merasuki kehidupan beragama umat Allah. Hal itu terjadi karena umat melakukan tanpa mencari kehendak Allah yang benar. Allah membuka segala borok umat-Nya melalui suara nabi-Nya: “Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.

Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena” (ay. 3-4). Puasa yang diarahkan pada kepentingan diri sendiri membuat umat Allah bertindak jauh dari kehendak Allah dan tidak memperhatikan sesama mereka. Yesaya menunjukkan bahwa umat Allah tetap mengerjakan urusan mereka di hari puasa mereka. Pekerjaan dan urusan yang mereka tinggalkan ketika mereka berpuasa mereka bebankan kepada pekerja-pekerja mereka. Di hari puasa, umat Allah menekan dan memaksa orang lain demi kepentingan mereka, sementara mereka dapat tetap “beribadah” kepada Tuhan. Orang-orang ini sama sekali tidak mau merugi barang sehari. Puasa jalan, bisnis pun harus tetap jalan.

Di hari puasa, umat Allah memang tidak makan dan minum, namun amarah dan kekerasan tidak berhenti dalam praktik hidup mereka. Di sinilah formalitas dan kemunafikan, yang didasarkan pada ketidaktahuan akan kehendak Allah, telah memenuhi hidup umat Allah.

Saudara-saudara, puasa yang demikian tidak akan diterima oleh Allah. Puasa dengan model yang seperti ini membuat suara umat Allah tidak akan didengar Allah di tempat tinggi. Puasa mereka memang dilakukan sambil menabur abu di atas kepala mereka, kain kabung dikenakkan pada tubuh mereka, bahkan badan mereka dibaringkan di atas tanah sebagai tanda merendahkan diri. Namun bahasa tubuh tidak selalu mencerminkan kedalaman hati dan motivasi seseorang. Puasa umat Allah bukanlah puasa pertobatan yang benar sebab puasa mereka justru menghasilkan kekerasan dan penindasan kepada orang lain. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menyatakan kehendak-Nya kepada umat-Nya. Puasa yang dikehendaki-Nya adalah puasa yang membebaskan orang yang tertindas dari penderitaan mereka.

Tuhan berfirman, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (ay. 6-7).

Alih-alih menuntut berkat Allah atas kesalehan mereka yang berpuasa, Allah menginginkan umat-Nya menjadi berkat untuk orang lain. Allah menghendaki bahwa dalam puasa umat-Nya, mereka memakai harta benda dan segala sesuatu yang dipercayakan Allah kepada mereka untuk menolong orang lain, yakni
membebaskan dan memerdekakan yang tertindas. Pengalaman puasa, di mana umat Allah tidak makan dan minum dan merendahkan diri, mendorong umat Allah untuk menyadari bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN” (Ulangan 8:3).

Melalui puasa, umat Allah turut merasakan penderitaan dan kesusahan orang lain, dan didorong untuk taat pada kehendak Allah. Puasa justru dimaksudkan agar umat Allah mengosongkan dirinya dari segala kepentingan diri sendiri, lalu dengan kesediaan yang penuh mau taat pada kehendak Allah.

Saudara-saudara, puasa yang benar menuntut motivasi yang benar, pertobatan yang benar, dan dampak dari puasa itu sendiri bagi kepentingan orang yang tertindas. Dalam gumul inilah, GMIM melaksanakan puasa diakonal di dalam penghayatan minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus.

Spiritualitas dan kerohanian seseorang akan nyata pada tindakan-tindakannya yang mencerminkan motivasi dan pertobatan yang benar serta kesediaannya memikul salib dan menyangkal dirinya setiap hari, sebagaimana panggilan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya (Lukas 9:23). Dalam hal inilah janji Tuhan melalui nabi Yesaya harus dipahami, yakni bahwa terang yang merekah laksana fajar, kebenaran yang menjadi barisan depan, dan kemuliaan Tuhan sebagai barisan belakang, digenapi dalam hidup orang percaya yang berdampak di tengah dunia.

Allah tidak melihat puasa sebagai tindakan yang terpisah dari hasil puasa itu sendiri, sebab puasa yang benar akan menghasilkan dampak bagi kepentingan orang lain. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, panggilan kita untuk melakukan segala sesuatu di hadapan Tuhan, termasuk di dalamnya puasa dan aktivitas-aktivitas kerohanian lainnya, bahkan seluruh kehidupan kita, haruslah dimaknai sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan. Hal yang penting di sini adalah bahwa kita taat sebagai respons kita kepada Allah yang telah memberkati, mengasihi, dan menyelamatkan kita.

Di dalam Yesus Kristus kita telah ditebus oleh darah-Nya yang tercurah di atas kayu salib di bukit Kalvari, sehingga adakah respons terbaik yang dapat kita nyatakan di hadapan-Nya, selain taat dan setia melakukan kehendak-Nya? Tuhan Yesus menolong kita dalam menghayati sengsara-Nya. hidup dalam pertobatan yang benar setiap hari, dan berdampak dalam hidup yang membebaskan orang lain dari penderitaan. Amin.



Yesaya 58:1-12
Kesalehan yang palsu dan yang sejati
58:1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! 58:2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: 58:3 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. 58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. 58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? 58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. 58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".

Yesaya 58:1-12
Kesalehan yang palsu dan yang sejati
58:1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! 58:2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: 58:3 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. 58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. 58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? 58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. 58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2022





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
MTPJ 13-19 Maret 2022 + (Minggu Sengsara II)

Sebelum:
MTPJ GMIM 6-12 Maret 2022 (Minggu Sengsara I)




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2022..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,