gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 1262 kali
Download MP3 Music
RHK Kamis, 22 Desember 2016
Kerendahan Hati
Lukas 1:43
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Penjelasan:
* Percakapan antara Maria dan Elisabet; Nyanyian Pujian Maria (1:39-56)
    Di sini kita menyimak percakapan antara dua ibu yang berbahagia, Elisabet dan Maria. Malaikat membuka kesempatan terjadinya perjumpaan di antara kedua orang ini dengan memberi tahu Maria tentang berkat yang dilimpahkan kepada sanaknya, Elisabet (ay. 36). Kadang-kadang memang baik kalau kita bisa melayani dengan mempertemukan orang-orang saleh bersama-sama, supaya mereka bisa bertukar pengalaman.

    Beginilah catatannya:
    I. Maria melakukan kunjungan kepada Elisabet. Usia Maria lebih muda daripada Elisabet, demikian pula dengan usia kandungannya. Oleh karena itu, bila mereka berdua perlu berjumpa, akan lebih pantas bila Marialah yang melakukan perjalanan, dan bukannya bersikeras memandang tingginya martabat bayi yang sedang dikandungnya (ay. 39). Ia berangkat, meninggalkan semua urusannya guna mengurus hal yang lebih besar ini: Pada waktu itu, pada masa itu (seperti yang lazim dijelaskan, Yer. 33:15; 50:4), satu atau dua hari setelah malaikat itu mengunjunginya, ia mengambil waktu sejenak, seperti yang bisa diduga, untuk beribadah, atau langsung bergegas menuju rumah sepupunya, di mana ia bisa mempunyai banyak waktu luang dan memperoleh pertolongan yang lebih baik, di tengah-tengah keluarga seorang imam. Ia pergi, meta spoudés -- dengan berhati-hati, gigih, dan cepat. Tidak seperti kebiasaan orang-orang muda yang bepergian dan mengunjungi teman-temannya hanya untuk menghibur diri, ia melakukannya untuk mendapat pengajaran. Ia pergi ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Daerah di pegunungan ini tidak disebut namanya, namun dengan cara membandingkan penjelasan ini dengan Yosua 21:10-11, tampaknya daerah yang dituju adalah Hebron, karena dalam Kitab Yosua itu ada dikatakan di pegunungan Yehuda, kota para imam, anak-anak Harun. Ke sanalah Maria bergegas, meskipun perjalanan itu adalah perjalanan yang jauh, sampai berkilo-kilo meter jauhnya.
        . Menurut perkiraan Dr. Lightfoot, waktu itu Maria akan mengandung Juruselamat kita di Hebron. Mungkin ini yang diisyaratkan oleh malaikat, atau dengan cara tertentu lainnya, dan karena itu ia segera menuju ke sana. Dr. Lightfoot menduga kota itu mungkin Silo dari suku Yehuda. Keturunan Daud harus dikandung di salah satu kota Yehuda, kota Daud, karena Ia harus dilahirkan di Betlehem, sebuah kota yang juga menjadi milik suku Yehuda. Di Hebronlah janji itu diberikan kepada Ishak, di sana jugalah hukum sunat mulai dilembagakan. Di sinilah (tutur Dr. Lightfoot), Abraham memperoleh tanah pertamanya, dan untuk pertama kalinya Daud dimahkotai. Di sini juga dimakamkan tiga pasang suami-istri, Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka, Yakub dan Lea, dan menurut kata orang dahulu, juga Adam dan Hawa. Karena itu Dr. Lightfoot berpendapat bahwa hal itu sangat cocok sekali dengan keselarasan dan kesepakatan yang digunakan Allah di dalam karya-Nya bahwa janji-Nya itu harus dimulai dengan dikandungnya Sang Mesias di antara nenek moyang yang memperoleh janji itu. Saya melihat tidak ada yang mustahil dalam dugaan tersebut, namun saya mau tambahkan yang berikut ini untuk mendukung dugaan tersebut, yaitu apa yang dikatakan oleh Elisabet (ay. 45). Sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana; seakan janji itu belum terlaksana pada saat itu, namun akan dilaksanakan di sana.
        . Secara umum dianggap bahwa keberangkatan Maria ke sana adalah untuk meneguhkan imannya sesuai dengan tanda yang diberikan malaikat kepadanya, bahwa Elisabet, sanaknya, juga sedang mengandung seorang anak laki-laki, dan bahwa ia ingin bersukacita atas kemurahan yang diterima saudara sepupunya ini. Selain itu, mungkin ia pergi ke sana dengan maksud agar dapat menghindari orang banyak, karena di sana ia akan lebih mendapat teman yang cocok daripada yang bisa ia peroleh di Nazaret. Kita bisa menduga ia tidak memberi tahu seorang pun di Nazaret tentang berita yang telah ia terima dari sorga, meskipun sebenarnya ia sangat ingin membicarakan hal yang sudah ribuan kali dipikirkannya itu dengan orang lain; namun ia tidak mengenal seorang pun yang bisa ia ajak bicara dengan bebas tentang hal itu, selain sepupunya, Elisabet. Karena itulah ia bergegas ke sana. Perhatikanlah, akan sangat bermanfaat dan nyaman bagi mereka yang mendapatkan karya anugerah di dalam hati mereka, dan Kristus yang bekerja di sana, untuk berbincang-bincang dengan seorang yang menghadapi kasus serupa, sehingga mereka bisa saling berbagi pengalaman; dan mereka akan mendapati bahwa sama seperti ikan bertemu air, begitu pula hati berpadanan dengan hati, orang Kristen dengan orang Kristen.
    II. Pertemuan antara Maria dan Elisabet. Maria memasuki rumah Zakharia, namun berhubung Zakharia telah menjadi bisu dan tuli, Zakharia tetap tinggal di dalam kamarnya, dan mungkin tidak mau berjumpa dengan siapa pun. Oleh karena itu, Maria memberi salam kepada Elisabet (ay. 40), dan berkata bahwa ia datang untuk mengunjunginya, untuk mengetahui keadaannya, dan bersuka bersamanya di dalam sukacitanya.

    Nah, begitu berjumpa, demi menegaskan iman mereka berdua, terjadilah sesuatu yang luar biasa. Maria mengetahui bahwa Elisabet sedang mengandung seorang anak, tetapi tidak tampak tanda apa pun bahwa Elisabet telah diberi tahu apa pun tentang Maria sepupunya, bahwa dia telah ditentukan untuk menjadi ibu Sang Mesias; dan karena itu apa yang ia ketahui bisa dipastikan berasal dari sebuah penyataan, yang menjadi dorongan besar bagi Maria.

        . Maka melonjaklah anak yang di dalam rahimnya (ay. 41).

        Mungkin saja Elisabet telah beberapa minggu memasuki tahap bisa merasakan gerakan janinnya (karena telah hamil selama enam bulan), dan bahwa ia telah sering merasakan gerakan anak itu di dalam rahimnya, tetapi gerakan kali ini lebih daripada biasanya, yang memberinya peringatan untuk menantikan sesuatu yang luar biasa, eskirtēse. Ini kata sama yang digunakan oleh Septuaginta untuk menerjemahkan kisah Yakub dan Esau yang saling bertolak-tolakan di dalam rahim Ribka (Kej. 25:22), dan untuk menerjemahkan gunung-gunung yang melompat-lompat (Mzm. 114:4). Bayi itu melonjak seolah-olah memberi isyarat kepada ibunya, bahwa ia sekarang berjumpa dengan Dia, untuk Siapa ia menjadi pendahulu, sekitar enam bulan dalam pelayanan, sebagaimana juga dalam keberadaannya. Bisa juga hal itu merupakan pengaruh kuat yang ditujukan untuk sang ibu. Sekaranglah saatnya apa yang dikatakan oleh malaikat itu kepada ayahnya mulai digenapi (ay. 15), bahwa ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya. Dan mungkin Yohanes sendiri mempunyai kaitan dengan hal ini, ketika kemudian ia berkata, "Tetapi sahabat mempelai laki-laki sangat bersukacita, karena mendengar suara mempelai laki-laki itu" (Yoh. 3:29), meskipun saat itu bukan dia yang mendengarnya secara langsung, melainkan ibunya.

        . Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, atau Roh nubuat, dan oleh Roh inilah, dan juga dengan ilham yang diberikan Roh, ia diberi pemahaman bahwa Sang Mesias hadir di situ. Di dalam Dia nubuat akan dibangkitkan kembali dan karena Dia Roh Kudus akan dicurahkan dengan lebih limpah dibandingkan dengan masa sebelumnya, sesuai dengan harapan mereka yang menantikan penghiburan bagi Israel. Gerakan bayi yang tidak seperti biasanya di dalam rahimnya ini merupakan tanda adanya emosi yang luar biasa di dalam jiwa Elisabet karena gerakan ilahi. Perhatikanlah, mereka yang mendapat lawatan penuh rahmat dari Kristus akan mengetahui lawatan ini dengan dipenuhinya mereka dengan Roh Kudus; karena, jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
    III. Ucapan selamat datang yang disampaikan oleh Elisabet melalui Roh Nubuat kepada Maria, ibu Tuhan kita. Ucapan ini disampaikan bukan seperti kepada seorang teman biasa yang sedang melakukan kunjungan biasa, tetapi seperti kepada orang yang akan melahirkan Mesias.
        . Elisabet mengucapkan selamat kepada Maria atas kehormatan yang diterimanya, meskipun ia belum pernah mengetahui hal itu sebelum ini. Ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan kegembiraan. Ia berseru dengan suara nyaring, bukan karena ada lantai atau tembok di antara mereka (seperti yang dipikirkan sebagian orang), tetapi karena ia sedang hanyut dalam sukacita yang meluap-luap, dan tidak peduli kalau orang sampai mendengarnya. Ia berseru, "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan," kata-kata sama seperti yang diucapkan oleh malaikat (ay. 28); karena memang demikianlah kehendak Allah mengenai menghormati Sang Anak, bahwa itu harus terjadi di bumi seperti di dalam sorga. Namun, Elisabet menambahkan sebuah alasan lagi, oleh karena itu, "Diberkatilah engkau sebab diberkatilah buah rahimmu." Jadi Maria layak memperoleh kehormatan istimewa ini. Elisabet sudah jadi istri seorang imam selama bertahun-tahun, namun ia tidak merasa iri bahwa Maria, saudara sepupunya, yang jauh lebih muda daripadanya, yang dalam segala hal lebih rendah daripadanya, akan mendapatkan kehormatan untuk mengandung dalam keadaan masih perawan, dan menjadi ibu Sang Mesias. Meskipun kehormatan yang diperolehnya lebih sedikit, namun Elisabet bersukacita di dalamnya; ia merasa puas, sama seperti anaknya kelak, bahwa Maria yang datang kemudian daripadanya lebih tinggi daripadanya (bdk. Yoh. 1:27). Perhatikanlah, kita harus mengakui bahwa kita memperoleh lebih banyak kemurahan Allah daripada yang layak kita peroleh, jadi karena itu, dengan alasan apa pun janganlah merasa iri bila orang lain lebih banyak memperoleh kemurahan Allah daripada kita.
        . Elisabet mengakui ketidaklayakannya atas kunjungan Maria ini (ay. 43): "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?"

        Perhatikanlah:

            (1) Ia memanggil perawan Maria dengan sebutan ibu Tuhanku (seperti Daud oleh pimpinan Roh menyebut Sang Mesias Tuannya), karena ia mengetahui bahwa Dia akan menjadi Tuhan semua orang.
            (2) Ia tidak hanya menyambut Maria ke rumahnya, sekalipun mungkin Maria datang sebagai orang kecil, namun bahkan menganggap kunjungan Maria itu sebagai suatu kehormatan besar, sehingga ia menganggap dirinya tidak layak. Siapakah aku ini? Ini sungguh-sungguh, dan bukan sekadar basa-basi ketika ia berkata, "Ini suatu kehormatan besar melebihi yang dapat aku harapkan." Perhatikanlah, mereka yang penuh dengan Roh Kudus bersikap rendah hati mengenai kebaikan mereka sendiri, dan sangat meninggikan anugerah Allah. Anaknya Yohanes Pembaptis, mengakui dengan cara yang sama ketika ia berkata, "Engkau yang datang kepadaku?" (Mat. 3:14).
        . Elisabet memberi tahu Maria mengenai apa yang terjadi dengan bayi dalam kandungannya saat ia menyambut Maria (ay. 44): "Engkau pasti membawa kabar yang istimewa, berkat yang luar biasa bersamamu; sebab, ketika salammu sampai kepada telingaku, bukan hanya hatiku melonjak kegirangan, meskipun aku tidak segera mengetahui mengapa atau untuk apa, namun anak yang di dalam rahimku, yang belum tahu apa-apa, turut bergirang." Ia melonjak kegirangan karena Sang Mesias, yang bagi-Nya ia menjadi seorang pendahulu, akan segera datang setelah dia. Kejadian ini akan sangat menguatkan iman si anak dara itu, karena kepastian yang sedemikian itu telah diberitahukan kepada orang lain, dan hal ini merupakan bagian penggenapan dari apa yang telah sering diberitahukan sebelumnya, bahwa akan ada kesukaan di seluruh bumi di hadapan Tuhan, ketika Ia datang (Mzm. 98:8-9).
        . Elisabet memuji iman Maria, dan menguatkan dia (ay. 45): "Berbahagialah ia, yang telah percaya." Jiwa yang percaya adalah jiwa yang berbahagia, dan akan seperti itu sampai pada akhirnya. Keberkatan ini datang melalui imannya, bahkan berkat ini berkaitan dengan Kristus, untuk membiarkan Dia terbentuk di dalam jiwa. Berbahagialah mereka yang percaya kepada firman Allah, karena Firman-Nya tidak akan mengecewakan mereka; tak diragukan lagi, apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana. Kepastian bahwa Ia tidak akan melanggar janji-janji-Nya itu sungguh mendatangkan kebahagiaan tak terkira bagi siapa saja yang membangun di atasnya dan berharap darinya. Kesetiaan Allah merupakan keberkatan bagi iman orang-orang kudus. Mereka yang telah mengalami kegenapan janji Allah harus menguatkan orang lain untuk tetap berharap agar firman Allah juga tergenapi dalam hidup mereka, "Aku hendak menceritakan kepadamu apa yang dilakukan-Nya terhadap jiwaku."
    IV. Nyanyian pujian Maria atas kejadian ini. Nubuat Elisabet merupakan gema atas salam yang disampaikan oleh Perawan Maria, dan sebaliknya nyanyian Maria ini menggemakan kembali nubuat Elisabet tadi, dan menunjukkan bahwa ia juga penuh dengan Roh Kudus seperti Elisabet. Pastilah si dara yang terberkati ini sangat lelah akibat perjalanannya; namun, ia melupakannya, dan bangkit semangatnya oleh kehidupan baru, kekuatan, dan sukacita begitu kebenaran imannya diteguhkan. Karena itulah, penyataan dan sukacita besar yang datang dengan tiba-tiba ini menyadarkannya bahwa ia memang ditugaskan untuk datang ke rumah sepupunya itu, dan sekalipun merasa lelah, seperti si hamba Abraham itu, ia tidak akan makan atau minum sebelum pesan yang dibawanya disampaikan.
        . Inilah ungkapan sukacita dan pujiannya, dan hanya Allah saja yang menjadi tujuan pujian dan pusat sukacitanya. Beberapa orang membandingkan nyanyian ini dengan nyanyian sukacita Miryam, saudara perempuan Musa yang namanya mirip dengan Maria, ketika merayakan keberangkatan bangsa Israel keluar dari Mesir dan ketika berhasil melintasi Laut Teberau dengan selamat. Ada juga yang berpendapat lebih baik nyanyian ini dibandingkan dengan nyanyian Hana yang dipersembahkan untuk kelahiran Samuel, karena kelahirannya, seperti kelahiran Yesus, merupakan berkat keluarga yang kemudian turun menjadi berkat bagi banyak orang. Nyanyian Maria ini, seperti nyanyian Hana, dimulai dengan, "Hatiku bersukaria karena TUHAN" (1Sam. 2:1). Amatilah di sini bagaimana Maria berbicara tentang Allah.
            (1) Dengan penuh rasa hormat yang mendalam kepada-Nya, sebagai Tuhan, "Jiwaku memuliakan Tuhan; tidak pernah aku melihat keagungan-Nya seperti sekarang ini ketika aku mendapati betapa baiknya Ia." Perhatikanlah, hanya mereka yang sungguh-sungguh telah menikmati rahmat belas kasihan-Nya yang bisa berpikir betapa tinggi dan mulianya Allah itu; sedangkan mereka yang makmur dan berkedudukan tinggi akan berkata, "Yang Mahakuasa itu apa, sehingga kami harus beribadah kepada-Nya?" Semakin Allah meninggikan kita dengan berbagai cara, kita harus semakin tekun mempelajari kemuliaan apa yang bisa kita berikan kepada-Nya; dengan demikian kita dapat memuliakan Allah, ketika jiwa kita dan semua yang ada di dalam kita memuliakan Dia. Memuji harus menjadi pekerjaan jiwa.
            (2) Dengan rasa puas yang luar biasa di dalam Dia sebagai Juruselamatnya, "Hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku." Tampaknya hal ini berkaitan dengan Sang Mesias, yang untuk-Nya ia akan menjadi seorang ibu. Ia menyebut-Nya Allah Juruselamatnya, karena malaikat telah mengatakan bahwa Dia akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, dan Nama-Nya akan disebut Yesus, Sang Juruselamat. Inilah yang dipegangnya erat-erat bagi dirinya: Dia adalah Allah Juruselamatku. Bahkan ibu Tuhan kita memerlukan Dia sebagai Juruselamatnya, karena ia pun akan binasa tanpa Dia. Ia lebih bersukacita atas kebahagiaan keselamatan yang akan dimilikinya bersama orang-orang percaya lainnya, melebihi kebahagiaan menjadi seorang ibu bagi-Nya, sekalipun ini merupakan kehormatan khusus bagi dia. Dan memang hal ini cocok dengan kehendak Kristus yang meninggikan orang-orang percaya yang taat melebihi ibu dan saudara-saudara-Nya (Mat. 12:50; Luk. 11:27-28). Perhatikanlah, mereka yang memiliki Kristus sebagai Allah dan Juruselamat mereka akan memiliki banyak alasan untuk bergembira, bergembira di dalam Roh, seperti yang dilakukan Kristus (Luk. 10:21), dengan sukacita rohani.
        . Inilah yang membuat Maria bersuka dan memuji Allah.
            (1) Karena keadaannya sendiri (ay. 48-49).
                [1] Hatinya bergembira karena Tuhan, atas semua kebaikan yang telah Dia lakukan kepadanya; atas kemurahan dan rahmat-Nya kepadanya. Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya; maksudnya Ia memandangnya dengan penuh rasa kasihan, seperti yang umum diartikan. "Ia telah memilih aku untuk kehormatan ini, meskipun aku ini sangatlah rendah, miskin, dan tidak dikenal." Ungkapannya ini bahkan menyatakan lebih dari itu lagi (seperti Gideon di dalam Hakim-hakim 6:15), bahwa bukan hanya kaumnya adalah yang paling kecil dan miskin di antara suku Yehuda, namun ia pun seorang yang paling muda di antara kaum keluarganya, seolah-olah ia yang tercela dan terhina di antara kaum kerabatnya, terabaikan dan terbuang dari kaum keluarganya. Namun, Allah melimpahkan segala kehormatan ini kepadanya, ganti segala kehinaannya itu. Saya lebih suka dengan tafsiran seperti ini, karena kehormatan yang demikian juga dialami oleh orang-orang dalam keadaan yang sama. Karena Allah melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya (Kej. 29:31). Karena Hana selalu disakiti hatinya agar ia menjadi gusar, dan ia juga dihina oleh Penina, maka Allah menganugerahkan seorang anak (1Sam. 1:19). Kepada mereka yang ditekan dan dipandang rendah secara semena-mena, adakalanya Allah akan melakukan sesuatu dengan penuh rahmat kepada mereka, khususnya bila mereka menanggungnya dengan sabar, sukarela, dan pantang mundur (Hak. 11:7). Demikian juga halnya dengan kasus Maria ini. Bila Allah memperhatikan kerendahannya, maka dengan demikian Allah bukan saja memberikan contoh tentang kemurahan-Nya kepada seluruh umat manusia, dengan mengingat kerendahan mereka, seperti yang dikatakan oleh pemazmur (Mzm. 136:23), tetapi juga menjamin kehormatan yang kekal baginya (karena kehormatan yang dianugerahkan Allah adalah kehormatan yang tidak akan sirna), "Mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, akan memandangku sebagai perempuan yang berbahagia dan sangat ditinggikan." Semua orang yang memiliki Kristus dan Injil-Nya akan berkata, "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau" (Luk. 11:27). Elisabet pernah dan sekali lagi menyebutnya diberkati. Maria menambahkan, "Namun itu belum semuanya. segala keturunan, baik bangsa bukan Yahudi maupun Yahudi akan menyebut aku demikian."
                [2] Jiwanya memuliakan Tuhan, karena perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan Allah baginya (ay. 49): "Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku." Sebuah perbuatan yang sungguh besar, bahwa seorang perawan akan mengandung. Sebuah perbuatan yang sungguh besar, bahwa Sang Mesias, yang telah begitu lama dijanjikan kepada umat-Nya, dan begitu lama diharapkan oleh umat-Nya, tidak lama lagi akan dilahirkan. Kuasa dari Yang Mahatinggi telah menampakkan diri. Maria menambahkan, "dan nama-Nya adalah kudus." Begitu juga yang dinyanyikan oleh Hana, Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, yang kemudian dijelaskannya dalam kata-kata berikutnya, "sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau" (1Sam. 2:2). Allah adalah satu keberadaan pada diri-Nya sendiri, dan Ia menampakkan keberadaan-Nya, khususnya dalam karya penebusan kita. Ia yang adalah mahakuasa, Ia yang nama-Nya bahkan adalah kudus, telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku. Hal-hal yang mulia dapat diharapkan dari Dia yang adalah baik mahakuasa maupun kudus, yang sanggup melakukan segala sesuatu, dan melakukannya dengan baik untuk tujuan yang terbaik.
            (2) Karena keadaan orang lain. Perawan Maria, sebagai ibu Sang Mesias, ditentukan untuk menjadi semacam tokoh publik. Ia memiliki watak publik, dan karena itu ia diperlengkapi dengan semangat yang lain, semangat yang lebih bersifat publik dibandingkan dengan yang sebelumnya dimiliki. Oleh sebab itu ia berpandangan keluar, memandang di sekitar dirinya sendiri, memandang hal-hal di depan dirinya, serta memperhatikan berbagai cara Allah menangani anak-anak manusia (ay. 50 dst.), seperti Hana (1Sam. 2:3 dst.). Karena itu, pandangannya tertuju kepada kedatangan Sang Penebus dan Allah yang menampakkan diri-Nya sendiri dalam karya keselamatan itu.
                [1] Merupakan sebuah kebenaran yang pasti bahwa Allah menyimpan rahmat yang berkelimpahan dan menyediakannya bagi semua yang memiliki rasa hormat yang mendalam bagi keagungan-Nya, serta menghormati kedaulatan dan kekuasaan-Nya. Namun, belum pernah rahmat-Nya datang kepada kita seperti ketika Ia mengutus Anak-Nya ke dunia ini untuk menyelamatkan kita (ay. 50): Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia, dan akan selalu seperti itu. Dengan mata rahmat Ia selalu memandang mereka yang mencari Dia dengan mata takut dan hormat seorang anak. Namun, Ia telah mewujudkan rahmat yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan mengutus Anak-Nya untuk membawa sebuah kebenaran kekal, untuk mengerjakan karya keselamatan kekal bagi mereka yang takut akan Dia. Rahmat ini berlangsung turun-temurun, karena ada pemberitaan Injil yang disampaikan turun-temurun sampai selama-lamanya. Mereka yang takut akan Allah, sebagai Pencipta dan Hakim mereka, didorong untuk mengharapkan rahmat-Nya, melalui Pengantara dan Pembela mereka. Di dalam Sang Pengantara dan Pembela kita itu rahmat diberikan kepada mereka yang takut akan Allah, rahmat pengampunan, rahmat kesembuhan, rahmat untuk diterima oleh-Nya, rahmat untuk dimuliakan, turun-temurun selama dunia ini ada. Di dalam Kristus Ia menyediakan rahmat bagi banyak orang.
                [2] Kita selalu bisa menyaksikan bahwa Allah dalam pemeliharaan-Nya mendatangkan penghinaan kepada orang yang tinggi hati dan meninggikan orang yang rendah hati. Hal ini telah terjadi secara luar biasa di dalam keseluruhan karya penebusan umat manusia. Demikianlah dengan menyatakan rahmat-Nya kepada Maria, Allah juga menunjukkan diri-Nya sebagai Yang Mahakuasa (ay. 48-49). Dengan rahmat-Nya bagi mereka yang takut akan Dia, Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya.
                    Pertama, dalam pemeliharaan-Nya, sudah merupakan cara yang lazim bila Ia mematahkan pengharapan orang, dan melakukan sesuatu yang berlawanan dari yang telah mereka janjikan kepada diri sendiri. Orang yang sombong berharap bisa melakukan segalanya dengan menggunakan cara dan kehendak mereka sendiri, namun Ia mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya, mematahkan ukuran-ukuran mereka, menghancurkan proyek-proyek mereka, dan merendahkan mereka serendah-rendahnya melalui nasihat dan pendapat mereka sendiri yang mereka anggap akan membawa kemajuan dan kemapanan bagi mereka. Orang-orang yang berkuasa ingin mengamankan takhta mereka dengan kekuatan sendiri, namun Ia menurunkan mereka, dan menjungkirbalikkan takhta mereka. Sebaliknya, mereka yang rendah dan yang berada dalam keputusasaan untuk meningkatkan diri mereka sendiri, dan tidak ada yang dipikirkan selain tetap berada di dalam keadaan rendah, akan ditinggikan secara ajaib. Seperti halnya kehormatan, kekayaan juga demikian adanya. Bagi mereka yang begitu miskin sehingga tidak memiliki makanan untuk diri sendiri dan keluarga mereka, Pemeliharaan Ilahi yang mengherankan melimpahkan segala yang baik. Sebaliknya, mereka yang kaya dan selalu berpikir bahwa hari esok pasti akan sama seperti hari ini, bahwa gunung perlindungan mereka akan tetap kokoh berdiri dan tidak akan pernah beranjak, dengan cara yang aneh tiba-tiba jatuh miskin, dan disuruh pergi dengan tangan hampa. Hal ini juga yang diungkapkan Hana di dalam nyanyiannya sehubungan dengan masalahnya dan musuhnya (1Sam. 2:4-7). Masalahnya melukiskan hal ini dengan jelas (bdk. Mzm. 107:33-41; 113:7-9, dan Pkh. 9:11). Allah sangat suka mengecewakan harapan mereka yang menjanjikan perbuatan-perbuatan besar bagi diri sendiri di dunia ini, dan Ia mengabulkan harapan mereka yang hanya menjanjikan sedikit kepada diri mereka. Sebagai Allah yang benar, Ia merendahkan mereka yang meninggikan diri, dan memukul mereka yang merasa diri aman-aman saja. Allah yang baik, merupakan kesukaan-Nya untuk meninggikan mereka yang rendah hatiya, serta menghibur mereka yang takut akan Dia.
                    Kedua, hal ini tampak jelas dalam cara-cara anugerah Injil bekerja.
                        . Dalam mencurahkan kehormatan-kehormatan rohani. Ketika orang-orang Farisi yang sombong ditolak, dan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa masuk ke dalam Kerajan Sorga di hadapan mereka; ketika orang-orang Yahudi yang sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran tidak memperoleh kebenaran itu, sementara bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran (Rm. 9:30-31); ketika Allah tidak memilih orang yang bijak menurut ukuran manusia, orang yang berpengaruh, atau orang yang terpandang untuk mengabarkan Injil dan menanam benih Kekristenan di dunia ini, tetapi justru memilih apa yang bodoh dan lemah bagi dunia, serta apa yang dipandang hina (1Kor. 1:26-27); saat itulah Ia mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya, dan menurunkan orang-orang yang berkuasa, dan meninggikan orang-orang yang rendah. Yang congkak dicerai-beraikan dan yang rendah ditinggikan ketika tirani imam-imam kepala dan tua-tua diruntuhkan, setelah sekian lama memerintah atas umat warisan Allah dan mau berharap untuk memerintah terus. Yang congkak dicerai-beraikan dan yang rendah ditinggikan ketika murid-murid Kristus, kawanan nelayan miskin yang dipandang rendah diperlengkapi dengan kuasa dan didudukkan di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Yang congkak dicerai-beraikan dan yang rendah ditinggikan ketika kekuasaan keempat kerajaan dihancurkan, dan Kerajaan Mesias, yang adalah batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia, dibuat Allah memenuhi bumi.
                        . Dalam mencurahkan kekayaan rohani (ay. 53).
                            (1) Mereka yang melihat kebutuhan mereka akan Kristus dan sangat merindukan kebenaran dan kehidupan di dalam Dia, akan dilimpahi segala yang baik, bahkan yang terbaik, yang diberikan dengan cuma-cuma kepada mereka, dan mereka akan dikenyangkan dengan berkat yang diberikan-Nya. Mereka yang letih lesu dan berbeban berat akan mendapat kelegaan bersama Kristus. Mereka yang haus diundang untuk datang kepada-Nya dan minum. Hanya orang-orang yang demikianlah yang mengetahui bagaimana menghargai anugerah-Nya. Bagi orang yang lapar segala yang pahit terasa manis, manna adalah makanan malaikat; dan bagi yang haus air biasa akan terasa seperti madu dari bukit batu.
                            (2) Mereka yang kaya, mereka yang tidak merasa lapar, yang sama seperti jemaat di Laodikia mengira tidak memerlukan apa-apa, dipenuhi oleh diri dan kebenaran mereka sendiri, dan mengira bahwa mereka tidak kekurangan apa-apa di dalam diri mereka sendiri. Orang-orang seperti inilah yang diusir-Nya dari pintu-Nya, mereka tidak diizinkan masuk oleh-Nya. Ia menyuruh mereka pergi dengan tangan hampa. Mereka datang penuh dengan diri sendiri dan disuruh pergi dengan tangan hampa tanpa Kristus. Ia menyuruh mereka pergi kepada dewa-dewa yang mereka sembah, kepada kebenaran dan kekuatan mereka sendiri yang mereka percayai.
                [3] Sejak dahulu Sang Mesias diharapkan dengan cara yang khusus menjadi kekuatan dan kemuliaan bagi umat-Nya Israel, dan memang demikianlah Ia adanya (ay. 54): Ia menolong Israel, hamba-Nya, antelabeto. Ia telah menarik mereka dengan tangan-Nya, dan menolong mereka bangkit dari kejatuhan mereka saat mereka tidak bisa menolong diri sendiri. Mereka terpuruk di bawah beban kovenan lama yang berdasarkan ketaatan pada Taurat dan dibangkitkan kembali melalui berkat-berkat kovenan anugerah yang telah diperbarui. Pengutusan Sang Mesias, tumpuan pertolongan bagi orang-orang berdosa yang malang, adalah kebaikan terbesar yang bisa dilakukan, bantuan terbesar yang bisa diberikan kepada umat-Nya Israel, dan yang semakin menunjukkan hal ini adalah:
                    Pertama, ini merupakan peringatan akan rahmat-Nya sifat-Nya yang penuh rahmat, rahmat yang disediakan-Nya bagi hamba-Nya Israel. Sementara berkat ini ditangguhkan, umat-Nya yang menanti-nantikan berkat itu sering bertanya-tanya, "Apakah Allah telah lupa bermurah hati?" Namun, sekarang Ia menyatakan bahwa Ia tidak lupa, Ia tetap mengingat rahmat-Nya. Ia ingat akan rahmat-Nya yang terdahulu, dan mengulanginya dalam bentuk berkat-berkat rohani, yang dahulu diberikan-Nya dalam bentuk berkat-berkat jasmani. Lalu teringatlah mereka kepada zaman dahulu kala. Di manakah Dia yang membawa mereka naik dari laut, keluar dari Mesir? (Yes. 63:11). Ia akan melakukan yang seperti itu lagi, yaitu apa yang dilambangkan dengan peristiwa di Mesir itu.
                    Kedua, bahwa ini adalah penggenapan janji-Nya. Sebuah rahmat yang tidak hanya dirancang begitu saja, namun juga diumumkan (ay. 55), seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita. Keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular itu, Allah akan tinggal di dalam kemah-kemah Sem, dan khususnya kepada Abraham, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat, berkat yang terbaik, berkat yang kekal. Berkat ini akan turun kepada keturunannya yang kekal, yaitu keturunan rohaninya, karena keturunan jasmaninya tidak lama lagi akan terputus. Perhatikanlah, apa yang difirmankan Allah akan dilaksanakan-Nya. Apa yang difirmankan-Nya kepada nenek moyang mereka akan digenapi-Nya di dalam keturunan mereka, dengan berkat-berkat yang kekal.
                    Terakhir, Maria kembali ke Nazaret (ay. 56), setelah ia tinggal bersama Elisabet sekitar tiga bulan lamanya, cukup lama sampai ia merasa yakin perihal dirinya bahwa ia benar-benar mengandung, serta mendapat penegasan dari saudara sepupunya, Elisabet. Beberapa orang berpendapat bahwa meskipun di sini dikatakan bahwa Maria pulang sebelum Elisabet melahirkan, ini hanyalah karena penulis Injil ini ingin mengakhiri kisah tentang Maria sebelum melanjutkan kisah mengenai Elisabet. Mungkin Maria masih tinggal bersama saudara sepupunya itu, walaupun tidak terus-menerus. Dengan kata lain, mungkin ia mondar-mandir ke tempat sepupunya itu. Dengan begitu Maria dapat melayani Elisabet dan menemaninya ketika tiba saatnya untuk bersalin, serta meneguhkan imannya sendiri melalui penggenapan janji Allah kepada Elisabet. Namun, kebanyakan orang terpaku pada kisah seperti yang tertulis, dan memperkirakan bahwa ia pulang ke rumahnya ketika Elisabet sudah dekat bersalin, karena ia masih ingin menyendiri, dan karena itu ia tidak hadir pada saat kelahiran anak perjanjian ini, yang akan menarik banyak orang untuk datang ke rumah itu pada saat kelahirannya. Mereka yang memiliki Kristus di dalam hati akan lebih bersukacita dalam duduk sendiri dan berdiam diri.

-----------------------

Di antara berbagai istilah kristiani, anugerah adalah sebuah kata yang sering kita gunakan. Anugerah dipahami sebagai sikap dan kemurahan Allah yang dicurahkan bagi manusia yang tidak layak menerimanya. Anugerah Allah sesuai berita Injil terwujud melalui kehadiran Yesus Kristus yang memberi keselamatan secara cuma-cuma bagi dunia dan manusia. Anugerah juga mendatangkan damai sejahtera dan sukacita. Elisabet yang didatangi saudara sepupunya Maria mengalami berkat dari anugerah perkunjungan tersebut. Iapun merasa tidak layak. Perasaan ini lahir dari kerendahan hati yang mendalam sehingga ia berkata: "Siapakah aku ini..." Seorang yang merasa menerima anugerah akan selalu merasa bersyukur di dalam hatinya. Mata imannya selalu memandang penuh terima kasih kepada Tuhan sumber anugerah. Berbeda dengan orang yang merasa tidak menerima apa-apa dari Tuhan dan karena itu sulit bersyukur dalam hidupnya.

Tidak hanya pada masa lampau, suasana kehidupan penuh anugerah terus kita alami sampai sekarang. Keluarga adalah anugerah Tuhan. Di dalamnya kita harus beajar untuk memiliki kerendahan hati dan sikap penuh syukur. Kita belajar saling mendahului dalam memberi hormat, bertegur sapa, bahkan saling memaafkan. Amin.

Doa: Ya Yesus Kristus, kami bersyukur untuk anugerah keselamatan yang nyata bagi manusia yang berdosa. Kami memohon agar setiap tapak hidup kami selaku keluarga kristen memancarkan kerendahan hati dan berwujud dalam hidup yang bertanggungjawab. Amin.

Label:   Lukas 1:43 





Daftar Label dari Kategori Pembacaan Alkitab
1 Korintus 15:1-11(1)
1 Korintus 1:1-9(1)
1 Korintus 1:4(1)
1 Korintus 1:8(2)
1 Petrus 2:1-10(1)
1 Samuel 2:8-9; Yakobus 2:5-11(1)
1 Tawarikh 29:1-9(1)
2 Korintus 8:1-9(1)
2 Samuel 7:18-29(1)
Amsal 3:1-10(1)
Amsal 9:1-18(1)
Ayub 36:1-15(1)
azmur 92:14(1)
Filipi 4:2-9(1)
Kejadian 11:1-9(1)
Kejadian 8:1-22(1)
Kisah Para Rasul 3:1-10(1)
Kisah Para Rasul 4:32-37(1)
Kolose 1:3-14(1)
Kolose 3:18-25(1)
Kolose 3:5-17(1)
Lukas 1:39(1)
Lukas 1:39-45(1)
Lukas 1:40(1)
Lukas 1:41-42a(1)
Lukas 1:42b(1)
Lukas 1:43(1)
Lukas 1:44(1)
Lukas 24:13-35(1)
Lukas 2:21-40(1)
Markus 12:41-44(1)
Markus 15:1-20a(1)
Matius 1:20(1)
Matius 1:24(1)
Matius 1:25(1)
Matius 28:16-20(1)
Matius 3:1-12(1)
Matius 3:1-2(1)
Matius 3:10(1)
Matius 3:11-12(1)
Matius 3:3(1)
Matius 3:4-6(1)
Matius 3:7-8(1)
Matius 3:9-10(1)
Mazmur 106:1-12(2)
Mazmur 25:1-22(1)
Mazmur 25:14(1)
Mazmur 25:15-18(1)
Mazmur 25:19-22(1)
Mazmur 25:4-6(1)
Mazmur 25:7-9(1)
Mazmur 34:1-23(1)
Mazmur 40:17-18; Lukas 4:16-19(1)
Mazmur 92:6-16(1)
Nahum 1:11(1)
Nahum 1:12(1)
Nahum 1:13(1)
Nahum 1:15b(1)
Nahum 1:9-10(1)
Nahum 1:9-15(1)
Obaja 1:1-16(1)
Obaja 1:11-12(1)
Obaja 1:15-16(1)
Obaja 1:3-4(1)
Obaja 1:5-7(1)
Obaja 1:8-10(1)
Pengkhotbah 11:1-8(1)
Roma 8:1-17(1)
Ulangan 16:1-17(1)
Ulangan 8:1-20(1)
Wahyu 2:8-11(1)
Yeremia 10:6-16(1)
Yeremia 12:1 -17(1)
Yeremia 12:10-11(1)
Yeremia 12:12-13(1)
Yeremia 12:14(1)
Yeremia 30:1-11(1)
Yesaya 11:1-10(1)
Yesaya 11:10(1)
Yesaya 11:2-4(1)
Yesaya 11:5(1)
Yesaya 11:6-7(1)
Yesaya 11:8(1)
Yesaya 11:9(1)
Yesaya 35:1-10(1)
Yesaya 49:1-7(1)
Yoel 3:12-13(1)
Yoel 3:18 (1)
Yoel 3:19(1)
Yoel 3:9-21(1)
Yohanes 17:1–26(1)
Yohanes 21:1-14(1)
Yohanes 6:48-59(1)
Zakharia 9:9-10; Lukas 2:8-11(1)





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat



MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Pembacaan Alkitab..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,