gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 1221 kali
Download MP3 Music
Secara historis ada tiga hari raya gerejawi
utama, yaitu Paskah, Pentakosta dan Natal, namun hari raya ini berasal
dari dua tradisi yang berbeda. Paskah dan Pentakosta berasal dari
tradisi Yahudi, sementara Natal yang dirayakan pada 25 Desember berasal
dari tradisi Romawi. Selain itu ada pula tradisi dari Mesir - yang
berasal dari abad ke-3 - yang merayakan Natal Yesus Kristus pada setiap
tanggal 6 Januari. Tradisi ini tetap dipelihara oleh gereja-gereja Timur
(yang lebih dikenal sebagai gereja-gereja Ortodoks) hingga kini dan
dikenal dengan nama Epifania yang berarti penampakan diri, hal
kedatangan, hal kelihatan. Kata epifania muncul, misalnya,
dalam Injil Yohanes 2:1: "Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea,
sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya."

Epifania


Bagi gereja Timur, Epifania menandai
permulaan pelayanan Yesus, mulai dari pembaptisan-Nya di Sungai Yordan,
dan bukan melulu kelahiran-Nya. Oleh karena itu tema-tema Epifania
mencakup kisah kelahiran Yesus (Luk. 2:1-20; Mat. 1:18-2:12), kisah
baptisan yang diterima Yesus sebagai permulaan pelayanan-Nya (Mrk.
1:9-11), kisah mujizat pada perkawinan di Kana (Yoh. 2:1-11).
Kisah-kisah tersebut dinilai penting oleh Gereja-gereja Timur karena
lebih jauh merefleksikan manifestasi kehadiran Allah di tengah-tengah
umat manusia dan dunia, bahkan jauh lebih penting ketimbang kisah
kelahiran Yesus itu sendiri (Rachman 2003:109-110).


Tradisi perayaan Natal dari Mesir ini lebih
tua dari tradisi Romawi (Rachman 2003:114). Bahkan perayaan Adven -
yang kemudian menjadi Minggu-minggu Adven - lahir sebagai persiapan
untuk merayakan Natal menurut tadisi dari Mesir ini (6 Januari) (lihat
lebih lanjut Rachman 2003:107-116, dan McGowan 2014:249 dst.). Bagi
Gereja-gereja Timur, Epifania adalah perayaan yang penting, sama
pentingnya dengan perayaan Paskah. Gereja-gereja Barat juga merayakan
Epifania pada 6 Januari, namun tidak semeriah perayaan Natal pada 25
Desember. Bahkan banyak gereja Reformasi - termasuk GMIM - sama sekali
tidak memperingati Epifania.


Masa Adven


Masa persiapan ini disebut adven (dari kata Latin adventus artinya kedatangan, pendekatan, hal mendekati, hal menyongsong).  Adventus adalah kata Latin yang sepadan dengan kata Yunani parousia, yang lazim dipakai untuk menunjuk pada kedatangan Kristus kembali.  Menurut
tradisi yang berkembang di Spanyol dan Galia pada abad ke-4 masa Adven
berlangung selama tiga pekan sejak tanggal 17 Desember hingga perayaan
Epifania pada 6 Januari. Di kemudian hari, masa Adven ini diperpanjang
menjadi 40 hari. Seperti halnya pada masa pra-Paskah, masa Adven ini
adalah juga masa puasa bagi umat untuk mempersiapkan diri merayakan
Epifania.


Semula masa menyongsong atau Adven ini
tidak ada dalam liturgi gereja Roma, melainkan hanya dalam liturgi
gereja di Spanyol dan di Galia. Baru nanti setelah Natal mulai dirayakan
oleh gereja Barat pada abad ke-4, masa Adven pun mulai dirayakan oleh
gereja Roma (Abineno 1985:9-10). Namun, bagi gereja Roma masa Adven
berakhir pada tanggal 24 Desember, sehingga lama Minggu-minggu Adven
tidak lagi 40 hari, melainkan hanya mencakup empat hari Minggu sebelum
hari Natal (Rachman 2003:113). Begitulah perayaan empat Minggu Adven
memasuki tradisi gereja Barat dan kemudian diadopsi juga oleh
gereja-gereja Reformasi atau Protestan, termasuk GMIM sekarang.


Dalam tradisi teologi Protestan, empat
Minggu Adven dalam kalender gerejawi pada dasarnya hendak
menggarisbawahi sifat ganda dari penantian, yaitu penantian akan
ketibaan (adventus) Yesus Kristus dan penantian akan
kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman. Setiap hari Minggu Adven
mengemukakan satu tema tertentu. Minggu Adven I: Yesus masuk ke
Yerusalem; Minggu Adven II: Kedatangan kembali (parousia/adventus) Kristus; Minggu Adven III: Yohanes Pembaptis; Minggu Adven IV: Maria.


Hari Natal Yesus Kristus


Menurut tradisi, Gereja Roma mulai
merayakan Natal pada 25 Desember sejak abad ke-4, tepatnya sejak tahun
336 sebagai pengganti perayaan hari kelahiran Sang Surya Tak Terkalahkan
(dies natalis deus invicti) yang sudah lazim dirayakan dalam
kekaisaran Romawi pada tanggal yang sama. Sejak Konstantin menjadi
kaisar agama Kristen mulai mendapat tempat istimewa dalam kekaisaran
Romawi, sekali pun masih bercampur-aduk dengan peribadatan Sol atau dewa
matahari (lihat juga uraian Nothaft 2013:247-265).


Teks Maleakhi 4:2 dijadikan rujukan bahwa Kristus adalah "surya kebenaran" dan oleh karena itu layaklah Ia mengantikan deus invicti.
Teks lain yang juga mendukung adalah Yohanes 8:12 - "Akulah  terang
dunia" - yang didasarkan pada Yohanes 1:9 - "Terang yang sesungguhnya,
yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia" - turut
berperan memenangkan Surya Kebenaran (Sol Iustitiae) atas Surya Tak Terkalahkan (Sol Invictus) (Rachman 2003:125; bdk. McGowan 2014:249 dst.).


Masa Raya Natal di GMIM


Di lingkungan GMIM masa raya Natal tidak
terlepas dari kegiatan yang lama disebut ibadah "Pohon Terang," yaitu
peribadatan menyongsong perayaan Natal. Entah sejak kapan tradisi ini
dilakukan di Minahasa. Yang pasti, tradisi ini diambil alih dari
kebiasaan orang Eropa, khususnya dari tradisi bangsa Germania, yang
kemudian telah mengalami inkulturasi menjadi tradisi Kristiani yang
dikaitan dengan perayaan Natal Yesus Kristus (Rößiger 2012). Keteguhan
Kristus diasosiasikan dengan pohon cemara yang adalah simbol daya hidup
yang tak pernah pudar, simbol ketegaran serta keabadian, seperti halnya
pohon ini tetap hijau bahkan di tengah musim dingin membeku sekali pun.
Sementara semua dedauan hijau berubah menjadi coklat dan akhirnya gugur
akibat suhu yang perlahan melapaui titik beku menurut peralihan musim,
pohon cemara tetap hijau sepanjang waktu (evergreen).


Pada masa kolonial tradisi pohon Natal ini
dibawa oleh orang Belanda ke Indonesia, termasuk ke Minahasa. Kendati
asing bagi masyarakat yang tidak mengenal musim dingin, tradisi pohon
Natal ini kini telah menjadi bagian dari tradisi lokal. Kini pohon Natal
- walaupun sebagai besar adalah pohon plastik dan kertas - dijumpai di
hampir setiap rumah warga jemaat GMIM pada masa raya Natal. [Kini pohon
Natal yang dipajang di rumah-rumah bukan hanya berwarna hijau, yang
menandakan keabadian (evergreen), melainkan sudah
berwarna-warni; ada yang seluruhnya putih, bahkan ada pula yang merah.
Mungkin dibutuhkan pemaknaan baru bagi warna-warna lain ini!]


Kehadiran Pohon Natal berhias lampu
warna-warni dan hiasan lainnya juga merupakan ciri setiap ibadah "Pohon
Terang." Ciri lain adalah lagu "Malam Kudus" yang mengiringi pemasangan
lilin secara bergiliran dan lagu "Muliakanlah" yang biasanya dinyanyikan
di akhir ibadah. Di tahun 1980-an di Minahasa, ibadah "Pohon Terang"
mulai menjadi acara komunitas Kristen di luar gereja. Hampir setiap
organisasi, perkumpulan maupun instansi yang di dalamnya ada umat
Kristiani, mengadakan ibadah Pohon Terang. Salah satu ciri khas ibadah
yang sudah bersifat komunal ini adalah unsur Pesan Natal yang biasanya
diisi oleh kepala atau ketua organisasi, perkumpulan atau instansi yang
bersangkutan tanpa memandang agama mereka. Pada masa itu Pesan Natal
pada ibadah Pohon Terang komunal ini menjadi salah satu ciri toleransi
antar umat beragama di daerah ini.


Sejak sekurangnya sepuluh hingga lima belas
tahun terakhir ini ibadah Pohon Terang yang dilaksanakan di dalam
wilayah pelayanan GMIM lebih cenderung disebut ibadah pra-Natal atau
ibadah menyongsong Natal.


Sering kurang disadari bahwa dalam urutan
kalender gerejawi, ibadah-ibadah Pohon Terang - atau yang telah disebut
dengan nama lain ini - diadakan bertumpang tindih dengan perayaan
Minggu-minggu Adven yang merupakan awal kalender gerejawi atau tahun
gereja. Kebiasaan ini berakibat pada terjadinya tumpang tindih antara
tema-tema perayaan Minggu-minggu Adven dengan tema-tema perayaan Natal
Yesus Kristus. Namun kenyataan ini tidak terhindarkan lagi. Malahan,
dengan tumpang tindih ini sebenarnya di lingkungan GMIM telah lahir satu
tradisi baru yang tidak secara ketat membedakan Minggu-minggu Adven
dari perayaan Natal itu sendiri. Dan tradisi ini dapat disebut ciri khas
GMIM. Karena itu tidak ada salahnya juga untuk menghidupkan kembali
istilah Pohon Terang bagi semua peribadatan pra-Natal atau menyambut
Natal di luar ibadah-ibadah pada empat hari Minggu Adven. Sehingga bagi
GMIM, masa raya Natal yang diawali dengan hari Minggu Adven I dan
berakhir pada hari Natal 25 dan 26 Desember  dapat pula disebut Masa
Raya Pohon Terang.


Citraland, 5 Desember 2016


Bacaan


Abineno, J.L.Ch., Pemberitaan Firman pada Hari-hari Raya Gerejawi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985)


Nothaft, C. Philipp E., "Early Christian
Chronology and the Origins of the Christmas Date: In Defense of the
'Calculation Theory'" dalam QL 94 (2013), hlm. 247-265.


McGowan, Andrew B., Ancient Christian Worship: Early Church Practices in Social, Historical and Theological Perspective (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2014)


Rachman, Rasid, Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003)


Rößiger, Monika, „ Der erste Weihnachtsbaum stand im Zunfthaus," ZeitOnline, 25 Desember 2012 (http://www.zeit.de/wissen/geschichte/2012-12/geschichte-weihnachtsbaum)


(Penulis : Pdt. David H. Tulaar | Editor: Pdt. Janny Ch. Rende, M.Th)


Label:   Pelayan 





Daftar Label dari Kategori Tentang GMIM
Pembuatan Tata Ibadah GMIM(2)





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat



MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Tentang GMIM..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,