gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 2876 kali
Download MP3 Music
MTPJ 11 - 17 Desember 2016 Minggu Adven III
TEMA BULANAN : "Yesus Datang Menghadirkan Kedamaian, Keadilan dan Keutuhan Ciptaan"
TEMA MINGGUAN : "Menyambut Yesus Dengan Pertobatan"

Bahan Alkitab :
Matius 3:1-12

Yohanes Pembaptis
3:1 Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: 3:2 "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" 3:3 Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya." 3:4 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. 3:5 Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. 3:6 Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. 3:7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? 3:8 Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. 3:9 Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! 3:10 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 3:11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. 3:12 Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."


Penjelasan:
* Mat 3:1-6 - Khotbah Yohanes Pembaptis

    Awal pasal ini, yang mengisahkan perihal baptisan Yohanes, merupakan permulaan Injil (Mrk. 1:1). Semua yang terjadi sebelumnya hanyalah pengantar atau pendahuluan. Inilah "permulaan Injil tentang Yesus Kristus." Petrus juga mengamati waktu yang sama (Kis. 1:22), yaitu mulai dari baptisan Yohanes, sebab ketika itulah bayang-bayang Kristus pertama kalinya tampak dalam diri Yohanes, kemudian Ia menampakkan diri kepadanya, dan sesudah itu, melalui atau oleh dia, kepada dunia ini. Dalam Matius pasal 3 ini kita menemukan:

    I. Kemunculan agung dari Sang Bintang Timur itu -- Yohanes Pembaptis (ay. 1).
        . Ajaran yang diberitakannya (ay. 2).
        . Penggenapan Kitab Suci dalam dirinya (ay. 3).
        . Cara hidupnya (ay. 4).
        . Banyaknya orang yang mengikutinya dan kerelaan mereka untuk dibaptis olehnya (ay. 5-6).
        . Khotbah yang disampaikannya kepada orang Farisi dan Saduki dalam upayanya untuk mengajak mereka bertobat (ay. 7-10), dan dengan demikian membawa mereka kepada Kristus (ay. 11-12).
    II. Terbitnya Sang Surya Kebenaran yang lebih gemilang, segera sesudah itu, dan di dalamnya kita melihat:
        . Penghormatan yang diberikan-Nya kepada baptisan Yohanes (ay. 13-15).
        . Kehormatan yang diberikan kepada-Nya melalui turunnya Roh Kudus atas diri-Nya dan suara yang terdengar dari sorga (ay. 16-17).

Khotbah Yohanes Pembaptis (3:1-6)

    Di sini diceritakan mengenai khotbah dan baptisan Yohanes, yang merupakan fajar yang mengawali hari Injil. Perhatikanlah:

    I. Masa ketika ia tampil, yakni pada waktu itu (ay. 1), atau, sesudah masa itu, lama setelah kejadian-kejadian yang dicatat dalam pasal sebelumnya tentang masa kecil Yesus. Pada waktu itu, pada masa yang ditentukan Bapa sebagai permulaan Injil, ketika kegenapan waktu telah tiba, yang telah sering disebut dalam Perjanjian Lama, Pada waktu itu. Sekarang waktu terakhir dari masa-masa Daniel telah dimulai, atau tepatnya, bagian akhir dari pertengahan tujuh masa, ketika Sang Mesias akan membuat perjanjian bagi orang banyak (Dan. 9:27). Pada masa itu pemunculan Kristus senantiasa disinggung-singgung. Berbagai hal mulia disampaikan perihal Yohanes maupun Yesus, pada saat dan sebelum kelahiran mereka, yang bisa menjadi alasan bagi orang untuk mengharapkan penampilan luar biasa dari hadirat dan kuasa ilahi dalam diri keduanya ketika mereka masih sangat muda. Namun, ternyata bukan demikian halnya. Selain perdebatan Kristus dengan para alim ulama pada usia dua belas tahun, tidak tampak kejadian istimewa menyangkut keduanya, sampai mereka mencapai usia sekitar tiga puluh tahun. Tidak ada catatan mengenai masa kecil maupun masa muda mereka, tetapi sebagian besar kehidupan mereka adalah tempos, adēlon -- terbungkus dalam kegelapan dan ketidakjelasan. Dilihat dari penampilan luarnya, kedua anak ini sedikit pun tidak berbeda dengan anak-anak lain, seperti ahli waris yang masih di bawah umur yang tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa:
        . Sekalipun Allah bertindak sebagai Allah Israel, Sang Juruselamat, namun sesungguhnya Dia tetaplah Allah yang menyembunyikan diri (Yes. 45:15). Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya (Kej. 28:16). Kekasih kita berdiri di balik dinding lama sebelum Ia melihat dari kisi-kisi (Kid. 2:9).
        . Iman kita harus terus tertuju kepada Kristus baik dalam pelayanan maupun pemeliharaan-Nya, sebab di situ kuasa-Nya diperlihatkan; namun di dalam diri-Nya kuasa itu disembunyikan. Selama masa itu Kristus adalah Allah sekaligus juga manusia; namun demikian, kita tidak diberi tahu mengenai apa yang dikatakan atau dilakukan-Nya, sampai Ia tampil sebagai nabi; dan setelah itu, dengarkanlah Dia.
        . Orang-orang muda, meskipun sangat memenuhi syarat, sebaiknya jangan menonjol-nonjolkan diri dalam pelayanan publik, melainkan bersikap rendah hati, bersahaja, dan tahu diri, cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata. Matius tidak mengatakan apa pun mengenai kejadian ketika Yohanes Pembaptis dikandung dan dilahirkan, yang banyak diceritakan oleh Lukas. Sebaliknya, ia langsung mulai saat Yohanes sudah dewasa, seakan turun dari awan-awan untuk berkhotbah di padang gurun. Selama lebih dari tiga ratus tahun gereja tidak memiliki seorang nabi pun. Pelita-pelita itu sudah sejak lama dipadamkan, agar dia, yang akan menjadi nabi yang terbesar, menjadi seorang yang menjadi semakin dirindukan. Sesudah Maleakhi, tidak ada lagi seorang nabi pun, bahkan yang hanya mengaku-ngaku nabi, sampai tampilnya Yohanes Pembaptis, yang disinggung dengan lebih jelas oleh nabi Maleakhi dibandingkan dengan yang dilakukan nabi mana pun dalam Perjanjian Lama (Mal. 3:1), "Aku menyuruh utusan-Ku."
    II. Tempat di mana ia pertama kalinya tampil. Di padang gurun Yudea. Ini bukanlah gurun yang tidak dihuni, melainkan bagian dari negeri yang tidak begitu padat penduduknya, dan juga tidak begitu banyak ladang dan kebun anggurnya dibandingkan dengan tempat-tempat lain. Padang gurun ini luas, karena di dalamnya ada enam kota dengan desa-desanya yang ternama (Yos. 15:61-62). Di kota-kota serta desa-desa inilah Yohanes berkhotbah, sebab selama itu di sanalah ia tinggal dan menjalani kehidupan yang keras sejak lahir. Kegiatannya dimulai di Hebron, tempat ia sejak awal melewatkan waktunya dengan merenungkan perkara-perkara rohani. Bahkan saat menampakkan diri kepada Israel, ia menunjukkan betapa ia menyukai hidup menyendiri, sejauh hal itu tidak bertentangan dengan tugasnya. Firman Allah datang kepada Yohanes di padang gurun. Perhatikanlah, tidak ada tempat yang begitu terpencil yang bisa menghalangi kita dari kunjungan anugerah ilahi. Tidak. Bahkan sebaliknya, yang menjadi tempat perjumpaan yang paling manis antara orang-orang kudus dengan Sorga adalah justru saat mereka mengundurkan diri jauh-jauh dari keramaian dunia ini. Di padang gurun Yudea inilah Daud menulis Mazmur 63 yang berbicara begitu banyak tentang hubungannya yang manis dengan Allah ketika itu (Hos. 2:14). Di padang gurunlah hukum Taurat diberikan; dan sama seperti Perjanjian Lama, begitu pula Israel Perjanjian Baru pertama kali ditemukan di padang gurun. Di sanalah dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya dia (Ul. 32:10). Yohanes Pembaptis adalah imam dari keturunan Harun, namun kita mendapatinya berkhotbah di padang gurun, dan tidak pernah memimpin ibadah di Bait Suci. Namun, Kristus, yang bukan keturunan Harun, sering bisa dijumpai di dalam Bait Suci dan duduk di situ sebagai orang yang memiliki otoritas; demikianlah telah dinubuatkan (Mal. 3:1). Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya; bukan utusan yang mempersiapkan jalan bagi-Nya itu. Hal ini mengisyaratkan bahwa keimaman Kristus haruslah menyisihkan keimaman Harun dan memindahkannya ke padang gurun.

    Permulaan Injil di padang gurun memberitakan penghiburan bagi padang-padang gurun dari bangsa-bangsa bukan-Yahudi. Sekaranglah semua nubuat itu harus digenapi, Aku akan menanam pohon aras di padang gurun (Yes. 41:18-19). Padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan (Yes. 32:15). Padang belantara akan bersorak-sorak (Yes. 35:1-2). Di dalam Septuaginta tertulis, padang gurun Yordan, tempat yang sama di mana Yohanes berkhotbah. Ada sebagian orang yang menyebut dirinya pertapa dan meniru-niru cara hidup Yohanes. Namun, saat mereka berkata tentang Kristus, "Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ" (24:26). Selalu ada penipu yang menuntun para pengikutnya ke padang gurun (Kis. 21:38).

    III. Khotbahnya. Ia menjadikan khotbah sebagai pekerjaannya. Ia datang bukan untuk bertempur ataupun bertengkar, melainkan untuk memberitakan Injil sebab melalui kebodohan pemberitaan itulah kerajaan Kristus harus ditegakkan.
        . Ajaran yang diberitakannya itu berbicara tentang pertobatan (ay. 2); Bertobatlah. Ia mengkhotbahkan pertobatan ini di Yudea, di antara mereka yang disebut orang Yahudi dan yang mengaku beragama, sebab sekalipun demikian, mereka masih perlu bertobat. Ia memberitakannya bukan di Yerusalem, melainkan di padang gurun Yudea, di antara penduduk desa biasa. Bahkan mereka yang menyangka telah menjauhkan diri dari pencobaan sekalipun, dan berada begitu jauh dari kesia-siaan serta kejahatan kota, tidak dapat membasuh tangan mereka begitu saja dengan merasa bahwa mereka tidak bersalah. Sebaliknya, mereka tetap harus bertobat. Pekerjaan Yohanes Pembaptis adalah mengajak orang agar bertobat dari dosa-dosa mereka. Metanoeite -- Ingatlah keadaanmu sendiri; "Berpikirlah untuk kedua kalinya, supaya kamu dapat memperbaiki kesalahan pada pikiran yang pertama -- lakukan suatu perenungan. Pertimbangkan jalan hidupmu, ubahlah pikiranmu; engkau telah berpikir keliru; berpikirlah kembali, dan berpikirlah dengan benar." Perhatikanlah, mereka yang sudah sungguh-sungguh menyesal atas kesalahannya, akan memiliki pikiran lain mengenai Allah dan Kristus, mengenai dosa dan kekudusan, mengenai dunia ini dan alam baka, daripada yang sebelumnya mereka miliki, dan akan menghadapinya dengan cara yang berbeda. Perubahan pikiran membawa kepada perubahan cara. Mereka yang benar-benar menyesal atas perbuatan mereka yang salah, akan berhati-hati agar tidak mengulanginya kembali. Pertobatan adalah kewajiban yang niscaya dalam mematuhi perintah Allah (Kis. 17:30), dan merupakan prasyarat serta persyaratan yang diperlukan untuk melaksanakan Injil Kristus. Seandainya saja hati manusia sejak dahulu tetap benar dan tidak tercemar, penghiburan ilahi bisa diperoleh tanpa harus mengalami proses menyakitkan terlebih dulu. Namun, karena dosa, proses yang menyakitkan itu harus dijalani terlebih dulu sebelum bisa merasa nyaman, bekerja keras dahulu sebelum beristirahat. Luka itu harus ditemukan dahulu; jika tidak demikian, tidak akan bisa disembuhkan. Aku telah meremukkan dan Akulah yang menyembuhkan.
        . Alasan yang digunakannya untuk menguatkan seruan untuk bertobat ini adalah "Sebab Kerajaan Sorga sudah dekat." Para nabi Perjanjian Lama menyerukan orang untuk bertobat supaya untuk sementara waktu bangsa mereka bisa mendapatkan belas kasihan dan perlindungan, dan supaya mereka terhindar dan selamat dari penghukuman yang jatuh atas seluruh bangsa. Namun sekarang, walaupun tugas yang ditekankan sama, alasannya baru dan murni Injili. Dewasa ini manusia dinilai menurut kemampuan pribadinya dan tidak banyak lagi berdasarkan segi sosial dan politik. Sekarang bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat; sebab Injil telah membuka jalan bagi kovenan anugerah, Kerajaan Sorga terbuka bagi semua orang yang percaya, yaitu melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ini adalah sebuah kerajaan dengan Kristus sebagai Penguasanya, dan kita harus bersedia menjadi warganya yang setia. Ini adalah kerajaan sorga, bukan dari dunia ini, suatu kerajaan rohani yang berasal dari sorga dan mengarah ke sorga. Yohanes menyebutnya sudah dekat, artinya sudah di ambang pintu, segera datang kepada kita, melalui pencurahan Roh Kudus dan pengungkapan penuh kekayaan anugerah Injil. Sekarang perhatikanlah:
            (1) Ajakan ini memberikan suatu dorongan yang sangat besar bagi kita untuk bertobat. Tidak ada yang mampu menyamai anugerah ilahi dalam menghancurkan hati, baik terhadap dosa maupun dari dosa. Yang disebut dengan pertobatan Injili adalah pertobatan yang terjadi karena melihat Kristus, merasakan kasih-Nya, dan mengharapkan pengampunan melalui Dia. Kemurahan menaklukkan dan menguasai, tetapi kemurahan yang disalahgunakan kemudian merendahkan hati dan meluluhkan. Betapa celakanya aku kalau sampai berdosa terhadap anugerah yang demikan ini, kalau sampai melawan hukum dan kasih yang berasal dari kerajaan seperti ini!
            (2) Ajakan ini sungguh membesarkan hati kita untuk bertobat, "Bertobatlah, sebab dosa-dosamu akan diampuni ketika kamu bertobat. Kembalilah kepada Allah melalui kewajibanmu, maka melalui Kristus, Dia akan kembali kepadamu melalui belas kasihan." Pengumuman pengampunan dosa akan menemukan dan mendapatkan kembali orang berdosa yang sebelum itu menghindar dan melarikan diri. Dengan demikian kita ditarik mendekat kepada pengampunan itu melalui tangan manusia dan tali kasih.
    IV. Nubuat yang digenapi dalam dirinya (ay. 3). Inilah dia yang disebutkan pada bagian awal nubuat Yesaya, yang paling bersifat Injili dan menunjuk kepada masa-Injil serta anugerah-Injil (Yes. 40:3-4). Di sini Yohanes disebut:
        . Sebagai suara orang yang berseru-seru di padang gurun. Yohanes sendiri juga mengakuinya (Yoh. 1:23), Akulah suara orang yang berseru-seru, hanya itu. Allah sendirilah Pembicara yang memberitahukan pikiran-Nya melalui Yohanes, sama seperti manusia menyampaikan pikiran melalui suaranya. Firman Allah harus diterima benar-benar sebagai perkataan-Nya dalam cara yang seperti ini (1Tes. 2:13). Siapakah Paulus itu dan siapakah Apolos itu? Mereka tidak lain adalah suara itu! Yohanes disebut sang suara, phōnē boōntos -- suara orang yang berseru-seru dengan nyaring, yang mengejutkan dan menggugah. Kristus disebut Firman, yang berbeda dan lebih jelas, dan karena itu lebih memberikan pengajaran sifatnya. Yohanes, sebagai sang suara, menggugah orang, dan setelah itu, Kristus, sebagai Firman, mengajar mereka, sebagaimana yang kita lihat dalam Wahyu 14:2. Suara itu bagaikan desau air bah dan deru guruh dahsyat yang membuka jalan bagi bunyi merdu pemain-pemain kecapi dan nyanyian baru (Why. 14:3). Beberapa orang mengamati bahwa seperti ibu Simson yang tidak boleh minum anggur atau minuman yang memabukkan (yang kuat), namun Simson ditetapkan untuk menjadi seorang yang kuat, demikian pula ayah Yohanes Pembaptis menjadi bisu, namun Yohanes ditetapkan untuk menjadi suara orang yang berseru-seru. Kenyataan bahwa orang yang berseru-seru itu dilahirkan dari seorang ayah yang bisu menunjukkan kehebatan kuasa yang datang dari Allah, dan bukan dari manusia.
        . Sebagai orang yang bertugas untuk mempersiapkan jalan untuk Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya. Begitulah dikatakan mengenai dirinya sebelum ia lahir, bahwa ia harus menyiapkan suatu umat yang layak bagi-Nya (Luk. 1:17). Sebagai pendahulu dan pelopor Kristus, ia sangat menunjukkan sifat kerajaan Kristus dalam dirinya, sebab ia tidak datang dengan pakaian mencolok seperti bentara dengan pakaian kebesaran kerajaan, melainkan dengan penampilan sederhana seorang pertapa. Para petugas biasanya diutus mendahului orang-orang penting untuk mempersiapkan jalan, demikian pula Yohanes mempersiapkan jalan bagi Tuhan.
            (1) Ia melakukan tugas ini di antara orang-orang dari generasi itu. Dalam umat dan bangsa Yahudi pada masa itu, segala sesuatu telah menyimpang dari jalannya, kesalehan sudah sangat membusuk, bagian-bagian penting dalam agama telah tercemar dan terkikis oleh tradisi dan perintah para tua-tua. Para ahli Taurat dan orang Farisi, yakni orang-orang yang paling munafik di dunia, memiliki kunci pengetahuan dan kunci pemerintahan hanya untuk kepentingan golongan mereka saja. Orang-orang ini, umumnya, sangat bangga dengan hak-hak istimewa mereka itu, percaya diri dengan pembenaran yang hanya berdasarkan apa yang mereka sendiri anggap benar. Mereka tidak peka akan dosa, dan, meskipun sekarang berada dalam providensi yang seharusnya merendahkan hati mereka, mengingat daerah mereka belakangan ini dijadikan provinsi dalam Kekaisaran Romawi, mereka tetap tidak menjadi rendah hati. Sikap mereka tidak jauh berbeda dengan perilaku mereka pada masa Maleakhi: kurang ajar dan angkuh, dan siap melawan Firman Allah. Sekarang Yohanes diutus untuk meratakan gunung-gunung ini, untuk merendahkan penilaian tinggi mereka atas diri sendiri, dan untuk menunjukkan dosa mereka, supaya ajaran Kristus bisa lebih diterima dan bekerja dalam diri mereka.
            (2) Ajarannya mengenai pertobatan dan perendahan diri masih sama perlunya seperti pada zaman dulu, untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Perhatikanlah, masih banyak yang harus dikerjakan untuk membuka jalan bagi masuknya Kristus ke dalam hati seseorang, untuk membelokkan hati agar mau menerima Anak Daud (2Sam. 19:14). Guna mencapai hal ini, tidak ada yang lebih diperlukan selain menyadari dosa dan mengakui ketidakbenaran kita sendiri. Sesuatu yang dibiarkan akan tetap demikian, sampai disingkirkan. Prasangka buruk harus dibuang, pikiran yang muluk-muluk harus direndahkan dan ditaklukkan dalam ketaatan kepada Kristus. Pintu-pintu tembaga harus dipecahkan, dan palang-palang besi harus dihancurkan, supaya pintu-pintu abadi terbuka bagi Sang Raja Kemuliaan untuk masuk. Jalan dosa dan Iblis adalah jalan yang bengkok. Untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus, jalan itu harus diluruskan (Ibr. 12:13).
    V. Pakaian yang dikenakannya saat muncul, penampilannya, dan cara hidupnya (ay. 4). Mereka yang mengharapkan Sang Mesias sebagai raja duniawi akan berpikir bahwa pendahulu-Nya pasti datang dalam penampilan mewah dan gemerlap, bahwa perlengkapannya sangat hebat dan meriah. Namun, ternyata sebaliknyalah yang terjadi, ia akan besar di hadapan Tuhan, tetapi rendah di mata dunia. Sama seperti Kristus sendiri, ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada, untuk menyatakan pada waktunya bahwa kemuliaan kerajaan Kristus harus bersifat rohani, dan bahwa para warga negaranya, yang miskin dan hina, ditemukan atau dibentuk olehnya. Mereka akan memperoleh kehormatan, kesenangan, dan kekayaan dari dunia lain.
        . Pakaiannya biasa-biasa saja. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit. Ia tidak mengenakan jubah panjang seperti ahli-ahli Taurat, atau berpakaian halus seperti para bangsawan, melainkan pakaian petani desa, sebab ia tinggal di daerah pedesaan dan menyesuaikan kebiasaannya dengan lingkungan tempat tinggalnya. Perhatikanlah, sungguh baik apabila kita menempatkan diri dalam posisi dan kondisi yang telah ditetapkan Allah bagi kita melalui pemeliharaan-Nya. Yohanes tampil dalam pakaian seperti ini
            (1) Untuk menunjukkan bahwa sama seperti Yakub, ia orang biasa-biasa saja, dan mati terhadap dunia ini dengan segala kesenangan dan gemerlap yang ada di dalamnya. Lihat, inilah seorang Israel sejati! Mereka yang rendah hati harus menampakkan kerendahan hati mereka ini dengan menunjukkan rasa tidak peduli dan tidak senang yang kudus akan penampilan luar. Mereka seharusnya tidak mementingkan pakaian untuk menghiasi diri ataupun menilai orang lain dari pakaiannya.
            (2) Untuk menunjukkan bahwa ia seorang nabi, sebab para nabi mengenakan jubah berbulu, sebagai orang-orang yang mendapat malu (Za. 13:4). Terutama untuk menunjukkan bahwa dialah Elia yang dijanjikan; sebab gambaran khusus diberikan tentang Elia, yaitu bahwa dia orang yang berbulu (yang menurut sebagian orang mengacu kepada pakaian bulu yang dikenakannya), dan bahwa ikat pinggang kulit terikat pada pinggangnya (2Raj. 1:8). Yohanes Pembaptis pun tidak kalah terhadap Elia dalam hal mematikan keinginan dagingnya; Inilah sebabnya dialah Elia yang akan datang.
            (3) Untuk menunjukkan bahwa dia orang yang tegas. Ikat pinggangnya bukan dari bahan halus, seperti yang biasa dikenakan orang pada zaman itu, namun kuat, karena terbuat dari kulit. Diberkatilah hamba yang ketika Tuannya datang, dijumpai dengan pinggang tetap berikat (Luk. 12:35; 1Ptr. 1:13).
        . Makanannya sederhana, yaitu belalang dan madu hutan. Bukannya ia tidak pernah makan sesuatu yang lain, namun kedua jenis makanan inilah yang sering dimakan dan diolahnya bila sedang menyendiri di tempat-tempat sunyi dan melakukan perenungan di situ. Belalang merupakan serangga yang bisa terbang, sangat bergizi, dan boleh dimakan karena halal (Im. 11:22). Serangga ini tidak membutuhkan banyak bumbu, ringan dan mudah dicerna. Namun, untuk para lanjut usia yang lemah, belalang akan menjadi beban bagi perut (Pkh. 12:5). Madu hutan terdapat berlimpah di tanah Kanaan (1Sam. 14:26). Madu itu bisa dikumpulkan langsung karena jatuh bersama embun, atau diambil dalam lubang-lubang pohon dan batu yang dipakai lebah untuk menghimpun madu, tidak seperti lebah peliharaan yang mengumpulkan madu di dalam sarang. Hal ini mengisyaratkan bahwa Yohanes makan dengan hemat, hanya secukupnya, jauh dari memadai untuk mampu mengenyangkan perutnya dengan belalang dan madu hutan. Yohanes Pembaptis datang, tidak makan dan tidak minum (11:18) -- tidak dengan segala kesibukan persiapan, tata cara, dan bersama-sama orang lain, yang biasa dilakukan orang pada umumnya. Ia begitu terfokus pada hal-hal rohani sehingga jarang memiliki waktu untuk menikmati santapan yang lengkap. Begitulah:
            (1) Hal ini sesuai dengan ajaran yang disampaikannya mengenai pertobatan dan buah yang sesuai dengan pertobatan. Perhatikanlah, mereka yang pekerjaannya adalah mengajak orang untuk menangisi dosa-dosanya dan mematikan dosa-dosa tersebut, mereka sendiri harus menjalani kehidupan yang sungguh-sungguh, kehidupan yang menyangkal diri, mematikan keinginan dosa dalam dirinya, dan membenci keduniawian. Dengan demikian, Yohanes Pembaptis menunjukkan perasaannya yang mendalam mengenai keburukan dari masa dan tempat di mana ia hidup, yang semakin menguatkan perlunya pertobatan. Baginya, setiap hari adalah hari berpuasa.
            (2) Hal ini sesuai dengan tugasnya sebagai pendahulu Kristus. Dengan melakukan semuanya ini, ia menunjukkan bahwa ia mengetahui apa sebenarnya Kerajaan Sorga itu, dan bahwa ia telah mengalami kuasanya. Perhatikanlah, mereka yang sudah terbiasa dengan kesenangan ilahi dan rohani tidak bisa tidak pasti akan memandang semua kesenangan dan hiasan indrawi dengan sikap tidak acuh yang kudus, sebab mereka mengenal hal-hal yang lebih baik. Dengan cara memberikan teladan ini kepada orang lain, ia mempersiapkan jalan bagi Kristus. Perhatikanlah, kesadaran mengenai kesia-siaan dunia dan segala sesuatu di dalamnya merupakan persiapan terbaik untuk menyambut Kerajaan Sorga di dalam hati. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.
    VI. Orang-orang yang berbondong-bondong menyertai dan mengikutinya dari mana-mana (ay. 5); maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea. Banyak orang datang kepadanya dari kota maupun seluruh daerah di negeri itu, berbagai macam orang: pria dan wanita, tua dan muda, kaya dan miskin, orang Farisi dan pemungut cukai. Mereka semua datang kepadanya segera setelah mendengar dia berkhotbah tentang Kerajaan Sorga, agar mereka bisa menyimak sendiri hal itu yang sebelumnya sudah sering mereka dengarkan. Lihatlah:
        . Ini merupakan suatu kehormatan luar biasa bagi Yohanes, karena ada begitu banyak orang yang mengikuti dan menghormatinya. Perhatikanlah, sering kali mereka yang tidak mencari penghormatan justru menerimanya. Mereka yang menjalani kehidupan yang mematikan dosa, rendah hati, menyangkal diri, dan tidak mementingkan keduniawian, justru menerima penghormatan. Orang akan menghargai dan menghormati mereka lebih dari yang mereka bayangkan.
        . Hal ini memberi Yohanes peluang yang besar untuk berbuat baik, sekaligus menjadi bukti bahwa Allah menyertainya. Sekarang orang mulai berhimpun dan berebut memasuki kerajaan Allah (Luk. 16:16). Alangkah indahnya melihat bahwa dari kandungan fajar tampil keremajaan seperti embun (Mzm. 110:3), melihat jala ditebar di tempat yang banyak ikannya.
        . Ini adalah bukti bahwa sekaranglah tiba waktunya bagi suatu pengharapan besar, karena sudah diketahui secara umum bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan (Luk. 19:11). Oleh sebab itu, ketika Yohanes menampakkan diri kepada Israel, hidup dan berkhotbah pada masa itu, dengan cara yang begitu berbeda dengan khotbah para ahli Taurat dan orang Farisi, mereka langsung berkata bahwa dia adalah Mesias (Luk. 3:15), dan hal ini menyebabkan banyak orang berkumpul di sekelilingnya.
        . Mereka yang ingin memperoleh manfaat dari pelayanan Yohanes harus datang kepadanya di padang gurun guna mendengarkan tegurannya. Perhatikanlah, mereka yang benar-benar menginginkan susu murni firman Tuhan akan pergi sendiri mencarinya bila firman itu tidak dibawa kepada mereka. Mereka yang mau belajar mengenal ajaran pertobatan harus pergi keluar meninggalkan hiruk-pikuk dunia ini, dan berdiam diri.
        . Sepertinya, dari sekian banyak orang yang datang untuk menerima Baptisan Yohanes, hanya sedikit yang tetap setia. Hal ini terlihat dari sambutan dingin yang diterima Kristus di Yudea dan di sekitar Yerusalem. Perhatikanlah, boleh jadi ada banyak orang yang maju mendengar, namun hanya sedikit yang menjadi pengikut sejati. Rasa ingin tahu, kesukaan semu terhadap sesuatu yang baru dan berbeda bisa membawa banyak orang mendengarkan khotbah yang bagus dan menjadi terpengaruh untuk beberapa waktu lamanya namun tidak pernah tunduk kepada kuasanya (Yeh. 33:31-32).
    VII. Tata cara atau upacara bagaimana Yohanes menerima murid (ay. 6). Mereka yang menerima ajarannya dan menaati peraturannya dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan, dengan demikian mereka mengakui bahwa mereka telah bertobat dan bahwa mereka percaya kerajaan Mesias sudah dekat.
        . Mereka membuktikan pertobatan mereka dengan mengaku dosa mereka. Mungkin mereka melakukan suatu pengakuan umum kepada Yohanes bahwa mereka orang berdosa, dicemari oleh dosa dan membutuhkan penyucian; namun, kepada Allah mereka membuat pengakuan tentang dosa-dosa tertentu, sebab Dia-lah pihak yang disakiti hatinya. Orang Yahudi telah diajar untuk membenarkan diri, namun Yohanes mengajar mereka untuk mendakwa diri mereka sendiri, dan tidak berdiam diri saja seperti yang biasa mereka lakukan dalam pengakuan dosa bersama secara umum bagi seluruh bangsa Israel yang diadakan sekali setahun pada hari pendamaian, melainkan membuat pengakuan khusus untuk setiap hal yang merisaukan hati masing-masing orang. Perhatikanlah, pengakuan dosa yang disertai penyesalan diperlukan untuk mendapatkan rasa damai dan pengampunan. Hanya orang-orang yang berduka dan malu atas kesalahan mereka sajalah yang benar-benar bisa siap menerima Yesus Kristus sebagai Kebenaran mereka (1Yoh. 1:9).
        . Manfaat Kerajaan Sorga yang sekarang sudah dekat, dimeteraikan ke atas diri mereka melalui baptisan. Yohanes membasuh mereka dengan air, sebagai tanda bahwa Allah akan menahirkan mereka. Sudah menjadi kebiasaan orang Yahudi untuk membaptis mereka yang beralih menjadi penganut agama Yahudi, terutama mereka yang hanya merupakan penganut yang tidak disunat, seperti yang dilakukan terhadap para penganut kebenaran. Ada juga yang berpendapat bahwa acara baptisan juga menjadi kebiasaan orang-orang yang menjadi pemimpin-pemimpin dalam agama besar untuk menerima anak didik dan murid. Pertanyaan Kristus menyangkut Baptisan Yohanes, "dari manakah asalnya, dari sorga atau dari manusia?" menyiratkan bahwa memang ada baptisan dari manusia, yang bukan merupakan misi ilahi. Kalau berdasarkan perbedaan demikian, jelaslah bahwa Baptisan Yohanes sungguh berasal dari sorga dan berbeda dari baptisan-baptisan lainnya, karena baptisannya adalah pembaptisan orang yang telah bertobat (Kis. 19:4). Seluruh umat Israel telah dibaptis untuk menjadi pengikut Musa (1Kor. 10:2). Hukum upacaranya terdiri dari pelbagai macam pembasuhan atau baptisan (Ibr. 9:10). Akan tetapi, baptisan Yohanes merujuk kepada hukum yang memperbaiki hidup, hukum mengenai pertobatan dan iman. Dikatakan bahwa ia membaptis mereka di sungai Yordan, sungai yang terkenal dengan peristiwa penyeberangan orang Israel dan kesembuhan Naaman. Ada kemungkinan pada awalnya Yohanes tidak membaptis orang di sungai itu. Di kemudian hari ketika jumlah orang yang ingin dibaptis semakin banyak, ia lalu pindah ke sungai Yordan. Melalui baptisan ia mengharuskan mereka menjalani hidup kudus, sesuai dengan pengakuan yang telah mereka sendiri berikan. Perhatikanlah, pengakuan dosa harus selalu disertai dengan ketetapan hati yang kudus untuk tidak berbuat dosa lagi dengan kekuatan anugerah ilahi.


* Kisah Yohanes Pembaptis (3:7-12)

    Ajaran yang diberitakan Yohanes adalah mengenai pertobatan, dengan mengingat bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat. Dalam perikop ini kita melihat bagaimana ajarannya itu diterapkan. Penerapan adalah inti dari khotbah, begitu pula dengan khotbah Yohanes. Perhatikanlah:

        . Kepada siapa ia menerapkan ajarannya itu, yakni kepada orang-orang Farisi dan Saduki yang datang ke tempatnya membaptis (ay. 7). Kepada yang lain, ia merasa cukup sekadar mengatakan, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat." Namun, saat melihat orang-orang Farisi dan Saduki datang menemuinya, ia menganggap perlu untuk menjelaskan secara langsung mengenai ajarannya dan menanganinya dengan lebih cermat. Pada masa itu mereka termasuk dua dari tiga sekte penting di antara kaum Yahudi. Sekte yang ketiga adalah kaum Essene yang tidak pernah kita dapati dalam keempat Kitab Injil, sebab mereka mengundurkan diri dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan masyarakat. Orang Farisi adalah pengikut fanatik menyangkut upacara, pengaruh bait Allah, dan tradisi para tua-tua. Orang-orang Saduki justru kebalikannya, mereka tidak banyak berbeda dengan para pengikut deisme yang menyangkali adanya roh dan kehidupan yang akan datang. Sungguh aneh bila mereka datang menyaksikan baptisan Yohanes, namun rasa ingin tahu membawa mereka ke sana untuk menjadi pendengar. Boleh jadi beberapa dari mereka menyerahkan diri untuk dibaptis, namun sudah jelas sebagian besar dari mereka tidak melakukan hal itu, sebab Kristus berkata (Luk. 7:29-30), bahwa ketika para pemungut cukai mengakui kebenaran Allah, mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes. Perhatikanlah, banyak yang menerima sakramen-sakramen, namun tidak banyak yang mau berada di bawah kuasanya. Nah, kepada orang-orang inilah Yohanes berbicara dengan penuh kesetiaan kepada kebenaran, dan apa yang dikatakannya kepada mereka, disampaikannya di depan orang banyak (Luk. 3:7), sebab mereka ini memperhatikan semua yang dikatakannya.
        . Seperti apa penerapan ajarannya. Penerapannya jelas dan mengena, dan diarahkan kepada hati nurani mereka. Ia berbicara sebagai orang yang datang bukan untuk berkhotbah di hadapan mereka, melainkan langsung kepada mereka. Meskipun ia belajar sendiri, ia tidak merasa canggung saat muncul di hadapan umum dan tidak takut menghadapi orang, sebab ia penuh dengan Roh Kudus dan kuasa.
    I. Perkataannya menginsafkan dan membangunkan. Ia mengawali kata-katanya dengan keras, tidak menyebut mereka Rabi, tidak menyapa mereka dengan suatu gelar, apalagi puji-pujian yang sudah biasa mereka terima.
        . Gelar yang diberikannya kepada mereka adalah Hai kamu keturunan ular beludak. Kristus juga memberi mereka gelar yang sama (12:34; 23:33). Mereka bagaikan ular beludak, yang meskipun memiliki penampilan memikat, namun berbisa, beracun, dan penuh kedengkian serta kebencian terhadap segala sesuatu yang baik. Mereka adalah keturunan ular beludak, yang benih dan keturunannya berasal dari roh yang sama, dan sifat ini sudah berurat akar dalam diri mereka. Mereka memegahkan diri bahwa mereka adalah keturunan Abraham, tetapi Yohanes menunjukkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah keturunan ular itu (bdk. Kej. 3:15), bahwa mereka berasal dari Iblis, bapa mereka (Yoh. 8:44). Mereka adalah sekumpulan ular beludak, karena sifat mereka semua serupa, yang meskipun saling memusuhi, namun bersekutu dalam kejahatan. Perhatikanlah, keturunan yang jahat adalah keturunan ular beludak, dan mereka harus diberi tahu demikian. Hamba-hamba Kristus harus berani mengungkapkan kepada orang berdosa seperti apa watak asli mereka sebenarnya.
        . Peringatan yang diberikannya kepada mereka adalah, Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka terancam oleh murka yang akan datang, dan bahwa kasus yang mereka hadapi nyaris tidak berpengharapan, bahwa hati mereka begitu keras dalam dosa (orang Farisi oleh kebiasaan memamerkan kesalehan beragama, dan orang Saduki melalui perdebatan mereka melawan agama), bahwa sungguh merupakan suatu mujizat untuk mengharapkan sesuatu yang baik dari mereka. "Apa yang membuatmu datang kemari? Siapa sangka akan melihatmu di sini? Ketakutan apa yang membuatmu mencari Kerajaan Sorga?" Perhatikanlah:
            (1) Ada murka yang akan datang. Di samping murka pada saat ini dan yang sedang ditumpahkan sekarang ini, masih ada murka di masa mendatang, yang tersimpan untuk waktu nanti.
            (2) Sungguh teramat penting bagi kita semua agar melepaskan diri dari murka ini.
            (3) Sungguh suatu belas kasihan yang indah bahwa kita diperingatkan untuk melarikan diri dari murka ini. Pikirkan -- Siapakah yang telah memperingatkan kita? Allah sendirilah yang memperingatkan kita, karena Ia tidak suka bila kita binasa. Ia memperingatkan melalui firman-Nya yang tertulis, melalui para hamba Tuhan, dan melalui hati nurani.
            (4) Peringatan-peringatan ini kadang mengejutkan mereka yang hatinya tampak telah mengeras oleh rasa aman dan penilaian yang tinggi tentang diri sendiri.
    II. Perkataannya mengandung peringatan dan pengarahan (ay. 8). "Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Oleh sebab itu, karena kamu telah diperingatkan agar melarikan diri dari murka yang akan datang, maka biarlah ancaman Tuhan itu mendorongmu untuk menjalani hidup kudus." Atau, "Sebab kamu telah bertobat dan mengikuti ajaran dan baptisan pertobatan, maka ini merupakan bukti bahwa kamu benar-benar telah menyesal." Pertobatan terjadi dalam hati. Di situlah ia berakar, namun sia-sia sajalah bila kita hanya berpura-pura bertobat, bila kita tidak menghasilkan buah pertobatan secara menyeluruh, meninggalkan semua dosa, dan melekat pada segala yang baik. Inilah buah-buah itu, axious tēs metanoias -- sesuai dengan pertobatan. Perhatikanlah, mereka yang berkata menyesali dosa mereka, namun tetap melakukannya, tidak bisa disebut menyesal dan tidak bisa menerima hak-hak istimewa atas pertobatan mereka itu. Mereka yang mengaku sudah bertobat sebagaimana yang dilakukan mereka yang dibaptis, harus benar-benar menyesal, baik dalam sikap maupun perbuatan, dan tidak pernah melakukan apa pun yang tidak pantas dilakukan orang berdosa yang telah menyesal. Orang yang telah menyesal, bersikap rendah hati dan merendah, berterima kasih atas belas kasihan yang sekecil apa pun, sabar menanggung penderitaan seberat apa pun, berhati-hati terhadap semua bentuk dosa dan kedekatan terhadapnya, sangat patuh dalam tugas, dan baik hati dan pemaaf dalam menghakimi orang lain.
    III. Perkataannya berisi peringatan kepada kaum Farisi dan Saduki untuk tidak memercayai hak-hak istimewa lahiriah yang mereka miliki, karena itu bisa menghalangi mereka untuk mematuhi panggilan bertobat (ay. 9). Janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami. Perhatikanlah, hati duniawi seseorang bisa sangat kuat berkata-kata dalam dirinya sendiri untuk mengesampingkan kuasa firman Allah yang berusaha meyakinkan dan menguasai dirinya. Karena itu, para hamba Tuhan harus berusaha dan berjaga-jaga untuk berurusan dengan pikiran-pikiran sia-sia demikian yang mendiami hati mereka yang dipanggil untuk membersihkan hati mereka (Yer. 4:14). Mē doxēte -- Jangan berandai-andai, jangan beranggapan, dengan berkata-kata dalam hatimu sendiri, jangan berpendapat bahwa hal ini akan menyelamatkanmu; jangan menyimpan kecongkakan seperti itu. Ada sebagian orang yang menafsirkannya begini, "Jangan menyukakan dirimu sendiri dengan mengatakan ini. Jangan meninabobokan dirimu sendiri dengan hal ini, atau menyanjung-nyanjung dirimu sendiri dengan kesenangan orang bodoh." Perhatikanlah, Allah mengawasi apa yang kita katakan dalam hati yang tidak berani kita utarakan. Ia mengenal semua ketenangan semu jiwa manusia dan kesalahan pemikiran yang menipu diri, yang tidak akan diketahui kalau orang itu sendiri belum dibukakan matanya. Banyak orang menyembunyikan kebohongan yang merusak mereka dalam tangan kanan mereka, dan menyembunyikannya di bawah lidah mereka, karena mereka malu mengakuinya terus terang. Mereka menjaga kepentingan Iblis dengan menuruti nasihatnya. Demikianlah, Yohanes menunjukkan kepada mereka:
        . Apa yang mereka pegang secara semu adalah, bahwa "Abraham adalah bapa kami; kami bukanlah orang berdosa dari bangsa-bangsa bukan-Yahudi; memang sungguh pantas bahwa merekalah yang perlu bertobat, tetapi kami orang Yahudi, bangsa yang kudus, orang-orang istimewa, apa sangkut paut semuanya ini dengan diri kami?" Perhatikanlah, firman Tuhan tidak akan berguna bagi kita bila kita tidak menerimanya sebagaimana yang difirmankannya kepada kita dan menjadikannya milik kita. "Janganlah mengira, bahwa karena kamu adalah keturunan Abraham, maka"
            (1) "Kamu tidak perlu bertobat, tidak ada yang perlu kamu pertobatkan; bahwa hubunganmu dengan Abraham dan bagianmu dalam kovenan yang dibuat bersamanya, menjadikan kalian orang-orang yang begitu suci, sehingga kalian tidak perlu lagi mengubah jalan pikiran ataupun perilakumu."
            (2) "Oleh sebab itu kamu akan baik-baik saja meskipun tidak bertobat. Jangan menyangka bahwa hal ini akan membebaskanmu dari penghakiman dan menyelamatkanmu dari murka yang akan datang; bahwa Allah akan memihak kamu meskipun kamu tidak menyesal, karena kamu adalah keturunan Abraham."

            Perhatikanlah, sungguh merupakan anggapan yang sia-sia untuk berpikir bahwa dengan menjalin hubungan yang baik kita akan diselamatkan meskipun kita sendiri tidak berlaku baik. Sekalipun kita berasal dari keturunan yang saleh, diberkati dengan pendidikan religius, dibesarkan dalam keluarga yang takut akan Allah, mempunyai sahabat-sahabat yang baik yang menasihati dan berdoa bagi kita, apa gunanya semua ini bila kita tidak bertobat dan menjalani kehidupan yang penuh pertobatan? Dengan memiliki Abraham sebagai bapa kita, kita memang berhak menerima hak-hak istiwewa dari perjanjian yang dibuat bersamanya itu. Dengan menjadi keturunannya, kita adalah anak-anak dari gereja, dari Bait Tuhan (Yer. 7:4). Tetapi perhatikanlah, banyak orang yang hanya mengandalkan kehormatan dan keuntungan-keuntungan lahiriah yang diperoleh karena statusnya sebagai anggota gereja, tidak akan mendapatkan tempat di sorga.

        . Betapa bodoh dan tidak berdasarnya anggapan mereka ini. Mereka menyangka bahwa sebagai keturunan Abraham, merekalah satu-satunya umat yang dimiliki Allah di dunia ini, dan karena itu, kalau mereka disingkirkan, Dia akan kehilangan umat-Nya. Namun, Yohanes menunjukkan kepada mereka kebodohan sikap sombong ini. "Aku berkata kepadamu (tidak peduli dengan apa pun yang kamu katakan dalam hatimu), bahwa Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini." Ketika itu ia sedang membaptis di sungai Yordan di Betania (Yoh. 1:28), yang menjadi tempat penyeberangan, di mana anak-anak Israel menyeberang. Di sana terdapat dua belas batu, sebuah untuk setiap suku, yang ditegakkan Yosua sebagai tugu peringatan (Yos. 4:20). Bukanlah hal yang tidak mungkin bila ia menunjuk kepada batu-batu itu yang bisa saja ditegakkan Allah untuk menjadi kedua belas suku Israel, dan bukan hanya sebagai lambang saja. Atau mungkin ia merujuk kepada Yesaya 51:1, di mana Abraham disebut gunung batu yang daripadanya kamu terpahat. Bahwa Allah yang memunculkan Ishak dari batu yang demikian ini, bisa melakukan hal yang sama lagi, bila Ia menghendakinya, sebab bagi Dia, tidak ada yang mustahil. Ada yang beranggapan bahwa Yohanes menunjuk kepada para serdadu kafir yang sedang hadir di situ, untuk mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Allah akan menegakkan gereja bagi diri-Nya di antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi dan menganugerahkan berkat Abraham ke atas mereka. Jadi, ketika orangtua kita yang pertama, Adam dan Hawa, jatuh ke dalam dosa, Allah bisa saja membiarkan mereka binasa, dan membangkitkan Adam dan Hawa baru dari batu-batu itu. Atau bisa juga diartikan sebagai berikut, "Lebih baik batu-batu itu saja yang diakui sebagai keturunan Abraham daripada orang-orang berdosa yang keras, kering, dan tandus seperti kalian ini." Perhatikanlah, jika hal ini terasa merendahkan bagi kepercayaan orang-orang berdosa di Sion, ini justru membangkitkan pengharapan bagi anak-anak Sion, bahwa apa pun yang terjadi dengan angkatan sekarang, Allah selalu akan memiliki gereja di dunia. Jika orang Yahudi gugur, maka bangsa-bangsa bukan-Yahudi yang akan dicangkokkan (21:43; Rm. 11:12).
    IV. Inilah perkataan yang menakutkan bagi orang-orang Farisi dan Saduki, serta orang-orang Yahudi lainnya, yang tidak awas dan merasa aman-aman saja, yang tidak mengenal tanda-tanda zaman maupun hari saat terjadi lawatan (ay. 10): "Lihatlah di sekelilingmu sekarang ini, perhatikanlah Kerajaan Sorga sudah dekat, dan sadarlah."
        . "Betapa keras dan singkatnya peradilan terhadapmu. Sekarang kapak sudah dibawa ke hadapanmu, dan sudah tersedia pada akar pohon. Sekarang kamu mengandalkan kelakuan baikmu, namun itu pun hanya sementara saja. Sekarang kamu ditandai untuk binasa dan tidak bisa menghindarinya kecuali melalui pertobatan yang segera dan tulus. Sekarang kamu harus sungguh yakin bahwa Allah akan lebih mempercepat penghakiman-Nya atas kamu daripada waktu-waktu sebelumnya, dan itu akan dimulai pada rumah Allah. Saat Allah membolehkan banyak sarana, Ia hanya menyediakan sedikit waktu." Lihatlah, Aku datang segera. Sekarang mereka diberi kesempatan terakhir, sekarang atau tidak pernah lagi.
        . "Betapa menyakitkan dan beratnya hukuman yang harus kautanggung kelak bila kamu tidak memperbaiki diri." Sekarang hal ini dinyatakan lewat kapak pada akar pohon untuk menunjukkan bahwa Allah bersungguh-sungguh dengan amanat-Nya. Setiap pohon, setinggi apa pun dalam talenta dan kehormatan, sehijau apa pun dalam pekerjaan dan pencapaian lahiriah, bila tidak menghasilkan buah yang baik, yakni buah-buah pertobatan, pasti akan ditebang dan disingkirkan dari kebun anggur Allah. Pohon-pohon seperti itu tidak layak untuk menempatinya, dan dibuang ke dalam api murka Allah -- tempat paling sesuai bagi pohon-pohon yang tidak menghasilkan buah, karena guna apa lagi mereka ada? Bila tidak cocok untuk menghasilkan buah, pohon itu cocok sebagai bahan bakar. Barangkali hal ini merujuk kepada penghancuran Yerusalem oleh orang Romawi. Tidak seperti penghakiman lain di mana yang terjadi adalah pemangkasan ranting atau penebangan batangnya agar akarnya masih bisa menghasilkan tunas-tunas baru, penghancuran kali ini, oleh orang Romawi, merupakan pemusnahan menyeluruh, sampai habis, dan tidak bisa ditumbuhkan lagi, di mana semua yang tetap tidak mau menyesali dosanya akan habis binasa. Sekarang tiba saatnya Allah mengakhiri semuanya, dan dengan demikian sampailah juga murka-Nya atas mereka.
    V. Pengajaran tentang Kristus, yang menjadi pusat semua khotbah Yohanes. Para hamba Kristus berkhotbah bukan mengenai diri sendiri, melainkan tentang Dia. Di sini diceritakan tentang:
        . Martabat dan keunggulan Kristus atas Yohanes. Lihatlah betapa rendahnya Yohanes berbicara tentang dirinya sendiri agar bisa meninggikan Kristus (ay. 11), "Aku membaptis kamu dengan air, hanya itulah yang bisa kulakukan." Perhatikanlah, sakramen tidak mengeluarkan kuasanya melalui orang-orang yang menjalankannya, sebab mereka ini hanya sebatas memberikan tanda. Kristuslah yang memegang hak istimewa untuk memberikan arti bagi tanda itu (1Kor. 3:6; 2Raj. 4:31). Tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku. Walaupun Yohanes memiliki kuasa yang besar, sebab ia datang dalam roh dan kuasa Elia, Kristus memiliki kuasa yang lebih besar. Meskipun Yohanes sungguh besar, besar dalam pandangan Tuhan (tidak ada manusia yang lahir dari perempuan lebih besar daripadanya), namun ia merasa tidak layak untuk melayani Kristus bahkan untuk hal yang paling rendah sekalipun, "Aku tidak layak melepaskan kasut-Nya." Dia melihat
            (1) Betapa mahakuasanya Kristus dibandingkan dengan dirinya. Perhatikanlah, sungguh merupakan suatu penghiburan bagi para hamba Tuhan untuk berpikir bahwa Kristus lebih berkuasa daripada mereka, dan dapat melakukan untuk dan melalui mereka apa yang tidak bisa mereka lakukan. Kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan mereka.
            (2) Betapa rendah dirinya bila dibandingkan dengan Kristus, hingga tidak layak melepaskan kasut-Nya! Perhatikanlah, mereka yang diberi kehormatan oleh Allah akan dibuat rendah hati dan tidak berarti menurut pandangan mereka sendiri. Mereka bersedia untuk direndahkan, agar Kristus bisa ditinggikan. Mereka rela menjadi apa saja, atau tidak menjadi siapa-siapa, agar Kristus bisa menjadi segalanya.
        . Rancangan dan tujuan pemunculan Kristus, yang sekarang sangat mereka harapkan. Ketika dinubuatkan bahwa Yohanes akan diutus untuk menjadi pendahulu Kristus (Mal. 3:1-2), nubuat ini langsung diikuti, "Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya," dan akan "duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak" (Mal. 3:3). Sesudah kedatangan Elia, hari itu datang, menyala seperti perapian (Mal. 4:1), yang sepertinya merujuk kepada Sang Pembaptis. Kristus akan datang untuk membuat perbedaan.
            (1) Melalui pekerjaan anugerah-Nya yang penuh kuasa; Ia akan membaptiskan kamu, yakni sebagian dari kamu, dengan Roh Kudus dan api. Perhatikanlah:
                [1] Merupakan hak istimewa Kristus untuk membaptis dengan Roh Kudus. Kristus melakukan ini dengan menganugerahkan karunia-karunia Roh yang luar biasa ke atas para rasul. Dengan demikian, Ia sendiri menggenapi apa yang dikatakan Yohanes ini mengenai diri-Nya (Kis. 1:5). Ia melakukan ini dengan memberikan karunia-karunia dan penghiburan Roh kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Luk. 11:13; Yoh. 7:38-39; Kis. 11:16).
                [2] Mereka yang dibaptis dengan Roh Kudus seakan dibaptis dengan api; ketujuh Roh Allah tampak bagaikan tujuh obor yang menyala-nyala (Why. 4:5). Apakah api menerangi? Begitulah Roh adalah Roh penerangan. Apakah api menghangatkan? Bukankah hati mereka seakan terbakar? Apakah api menghanguskan? Bukankah Roh yang mengadili, sebagai Roh yang membakar, menghanguskan sampah kebusukan mereka? Apakah api menyambar-nyambar? Apakah ia bergerak ke atas? Begitulah Roh itu membuat jiwa menjadi kudus seperti diri-Nya sendiri, dan selalu mengarahkannya ke sorga. Kristus berkata, "Aku datang untuk melemparkan api" (Luk. 12:49).
            (2) Melalui penentuan penghakiman-Nya (ay. 12), "Alat penampi sudah di tangan-Nya." Kemampuan-Nya untuk membedakan, sebagai kebijaksanaan abadi Bapa yang melihat segala sesuatu dalam terang sejati, dan otoritasnya untuk membedakan, sebagai Pribadi yang kepada-Nya seluruh penghakiman diserahkan, merupakan alat penampi yang berada di tangan-Nya (Yer. 15:7). Sekarang Ia duduk sebagai seorang yang memurnikan perak. Perhatikan di sini
                [1] Gereja yang terlihat adalah lantai pengirikan Kristus; Hai pengirikku dan gandum peluburku (Yes. 21:10, TL). Bait Allah, sejenis gereja, dibangun di atas lantai pengirikan.
                [2] Di lantai itu terdapat campuran gandum dan sekam.

                Orang percaya yang bersungguh-sungguh, diumpamakan sebagai gandum, yang penuh isi, berguna, dan berharga, sedangkan orang munafik bagaikan sekam yang ringan, kosong, tidak berguna, tidak berharga, dan mudah diterbangkan angin. Keduanya sekarang bercampur, yang baik dan yang buruk, dengan pekerjaan lahiriah yang sama, serta dalam persekutuan yang sama yang terlihat.

                [3] Akan tiba harinya ketika lantai itu akan disucikan, dan gandum dan sekamnya akan dipisahkan. Hal semacam ini sering dilakukan di dunia ini, ketika Allah memanggil umat-Nya keluar dari Babel (Why. 18:4). Namun, hari penghakiman terakhirlah yang akan menjadi penampian besar-besaran, yakni hari yang membedakan, yang tanpa salah akan menguji dan memisahkan ajaran dan pekerjaan (1Kor. 3:13), serta manusia (Mat. 25:32-33), ketika para orang kudus dan orang berdosa akan dipisahkan selamanya.
                [4] Sorga adalah lumbung tempat Kristus tidak lama lagi akan mengumpulkan seluruh gandum-Nya, dan tidak sebutir pun yang akan tercecer. Ia akan mengumpulkannya sama seperti buah yang telah matang dikumpulkan. Di sorga, orang-orang kudus dikumpulkan dan tidak lagi tercerai-berai. Mereka aman, dan tidak lagi terancam bahaya, secara lahiriah mereka terpisah dari sesama yang jahat, dan secara rohani mereka terpisah dari perasaan yang rusak, dan tidak ada sekam di antara mereka. Mereka bukan hanya dihimpun ke dalam gudang, namun ke dalam lumbung (13:30), tempat mereka dimurnikan sepenuhnya.
                [5] Neraka adalah api yang tidak terpadamkan, yang akan membakar sekam, yang pasti merupakan bagian dan hukuman, serta pemusnahan kekal orang-orang munafik dan tidak percaya. Jadi di sini kita melihat kehidupan dan kematian, baik dan jahat, yang digelar di hadapan kita; sama seperti kita sekarang berada di ladang, kita juga akan berada di lantai pengirikan itu kelak.


ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pertobatan bukanlah hal asing dalam kosa kata kehi-dupan kristiani. Pertobatan menyangkut keseluruhan hidup yang dahulunya tidak berorientasi kepada Allah menjadi sebalik-nya, mempersembahkan kehidupan sesuai yang dike-hendaki-Nya. Dengan pertobatan manusia dapat menemukan damai sejahtera yang sesungguhnya yakni terciptanya relasi yang baik antara manusia dengan Allah, juga dengan sesa-manya. Di masa Adven ini makna penting di balik pertobatan dikaitkan dengan kesiapan kita menyambut kedatangan-Nya melalui peringatan Natal dan kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman. Saatnya kita merenungkan kembali pertobatan yang menyangkut perubahan sikap batin serta kehidupan yang memberi buah dalam berbagai aspek kehidupan untuk menghadirkan perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan. Kerajaan Allah melalui kedatangan Kristus telah datang menerobos dunia. Kitapun diajak untuk bertobat dari berbagai pola hidup yang mengabaikan arti kedatangan-Nya.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kedatangan Kerajaan Sorga menurut teks Matius 3:1-12 digambarkan akan terjadi melalui kedatangan Yesus Kristus. Yohanes memberitakan hal ini di Yudea, sebuah wilayah di Israel meliputi Palestina, Samaria, daerah timur Sungai Yordan dan disebut juga propinsi di wilayah pemerintahan Romawi. Yohanes pembaptis adalah seorang yang memiliki keunikan dari cara berpakaian, makanannya dan tempat di mana ia tinggal. Dengan ini menyatakan sikap Yohanes yang bebas dan berani dalam pewartaannya. Kehadirannya pun telah dinubuat kan oleh nabi Yesaya beratus tahun sebelumnya.

Berita yang dibawa Yohanes Pembaptis sungguh berani, keras dan tegas, meminta orang untuk "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Bertobat, suatu ungkapan yang menandakan adanya perubahan hati, pikiran, sikap, pan-dangan yang sama sekali berubah, berbalik dari keadaan berdosa kepada hidup baru dalam memandang Allah dan bersedia mengabdi kepada-Nya. Perkataan Yohanes merupa-kan panggilan kepada manusia berdosa untuk menyambut Kerajaan Allah atau Pemerintahan Allah yang datang melalui Yesus Kristus. Mereka yang menerima panggilan ini, mengaku dosa dan dibaptis.

Di tengah umat dan masyarakat, khususnya kalangan tokoh agama, Saduki dan Farisi, yang percaya pada bebasnya hukuman dan keselamatan karena pengaruh keturunan Abraham, Yohanes malah menyebut mereka sebagai ketu-runan ular beludak. Ucapan Yohanes pastilah menampar pemahaman dan kehidupan mereka yang salah mengartikan makna keturunan Abraham. Iapun menegaskan bahwa Allah dapat membuat anak-anak Abraham dari batu-batu. Untuk melepaskan diri dari penghukuman yang kepastiannya digam-barkan seperti kapak yang siap menebang pohon yang tidak berbuah baik dan dilemparkan ke dalam api penghukuman, Yohanes kemudian menunjuk kepada Yesus Kristus, Dia yang lebih berkuasa darinya. Dia disertai Roh Kudus dan diberi kuasa untuk menghukum. Menyentuh kasut-Nya pun Yohanes merasa tidak layak. Yesus Kristus-lah yang patut dimuliakan.

Di tangan Kristus alat penampi sudah siap. Suatu alat yang gunannya memisahkan butir gandum dan kulitnya. Setelah digilas di tempat pengirikan yang ditarik seekor sapi jantan, tumpukan gandum dilempar ke udara dengan sebuah garpu besar. Kulit gandum yang ringan akan diterbangkan angin, adapun butir gandum akan jatuh ke tanah, dikum-pulkan, dibawa ke dalam lumbung. Sedangkan debu jerami atau kulit gandum juga akan dikumpulkan, lalu dibakar-Nya ke dalam api yang tak terpadamkan. Pendengar waktu itu tentu dapat memahami arah ucapan Yohanes, mereka yang tidak bertobat akan menerima penghukuman.

Makna dan Implikasi Firman

Kedatangan Yesus Kristus adalah pokok penting dari kedatangan Kerajaan Sorga. Namun Yesus dan berita yang dibawa-Nya adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Menyam-but Yesus dengan pertobatan berarti membuka hati terhadap pesan-pesan yang dibawa-Nya. Di sini, Gereja yakni setiap insan atau pribadi yang percaya kepada Yesus memasuki persekutuan besar dalam rangka membawa kabar kesela-matan bagi segenap ciptaan.

Konsekuensi dari kedatangan Kerajaan Allah memang membuat manusia harus memilih, keselamatan atau peng-hukuman. Dan ketika kita sebagai orang percaya kepada Kristus memilih keselamatan maka kitapun harus bersedia mengikuti kehendak-Nya. Prioritas-Nya hendaknya menjadi prioritas kita. Jalan-jalan yang ditempuh-Nya untuk membawa keselamatan bagi dunia dan manusia, seharusnya menjadi jalan-jalan yang dengan rela dan sadar, harus kita jalani. Sebab itu iman kepada Yesus dan Kerajaan Allah yang dibawa-Nya, hendaknya mendorong kita untuk memperkuat kepedulian pada tanggungjawab sosial kemasyarakatan sehari-hari.

"Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat", bukanlah sekedar slogan atau kalimat tanpa makna. Perintah ini bukan pula semata demi keselamatan pribadi bagi yang mau ber-tobat, tapi mengandung kesediaan mengubah pandangan hidup yang menyaksikan kuasa pemerintahan Allah diber-lakukan bagi banyak orang. Oleh sebab itu, Yesus dan kuasa Kerajaan Allah tidak hanya milik gereja atau hanya diberitakan di dalam gedung gereja, melainkan di setiap segi pergulatan umat manusia. Gereja justeru diutus menjadi pemberita yang hidup, yang mau terus dibarui oleh semangat Kerajaan Allah yang diperjuangkan oleh Kristus sendiri.

Adapun medan pelayanan gereja membentang pada setiap kebutuhan untuk membuka belenggu kemiskinan, radikalisme, ketidakadilan sosial, eksploitasi dan perusakan lingkungan, dsb. Di sanalah kita diutus, turut bergumul, ikut merisaukan, berkorban dan memberikan alternatif jalan keluar dari berbagai ketimpangan yang masih terjadi. Di masa Adven ini, saat menyambut kedatangan Kristus, menggugah setiap bentuk peribadatan kita agar kiranya selalu terbuka bagi usaha menyatakan solidaritas, kasih dan perdamaian sejati, selanjutnya mempraktikkan itu di tengah kenyataan hidup. Inilah bentuk pertobatan yang dikehendaki-Nya. Meng-hasilkan buah sesuai pertobatan kita.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

    Apa dan bagaimana konteks Matius 3:1-12, ketika Yohanes menyatakan: Bertobatlah karena Kerajaan Sorga sudah dekat!
    Apakah buah pertobatan kepada Kristus yang dapat Gereja hasilkan di masa kini?

NAS PEMBIMBING: Lukas 5:32

POKOK-POKOK DOA:

    Berdoa supaya umat hidup dalam kebenaran dan pertobatan dalam masa-masa Adven.
    Berdoa agar kondisi ekonomi dan politik bangsa Indonesia segera pulih dalam menyambut natal.
    Berdoa supaya di masa penantian ini jemaat hidup dalam kesederhanaan.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU ADVEN III

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan : KJ No. 76 Kau Yang Lama Dinantikan

Tahbisan: DSL 118 Sambutlah

Nas Pembimbing/Nyanyian Masuk: Bertobatlah

Ses Hukum Tuhan: NKB No. 211 Pakailah Waktu Anug'rah Tuhan-Mu

Ses Pengakuan Dosa: NKB No 22 Walau Dosamu Merah

Ses Pemberitaan Anugerah Allah: KJ No. 96:3 Di Malam Sunyi Bergema

Persembahan: KJ. No. 85 Kusongsong Bagaimana

Nyanyian Penutup: KJ No. 91 Putri Sion, Nyanyilah

ATRIBUT:

Warna dasar biru muda dengan simbol empat buah lilin berwarna ungu.

Label:   Matius 3:1-12 





Daftar Label dari Kategori Pembacaan Alkitab
1 Korintus 15:1-11(1)
1 Korintus 1:1-9(1)
1 Korintus 1:4(1)
1 Korintus 1:8(2)
1 Petrus 2:1-10(1)
1 Samuel 2:8-9; Yakobus 2:5-11(1)
1 Tawarikh 29:1-9(1)
2 Korintus 8:1-9(1)
2 Samuel 7:18-29(1)
Amsal 3:1-10(1)
Amsal 9:1-18(1)
Ayub 36:1-15(1)
azmur 92:14(1)
Filipi 4:2-9(1)
Kejadian 11:1-9(1)
Kejadian 8:1-22(1)
Kisah Para Rasul 3:1-10(1)
Kisah Para Rasul 4:32-37(1)
Kolose 1:3-14(1)
Kolose 3:18-25(1)
Kolose 3:5-17(1)
Lukas 1:39(1)
Lukas 1:39-45(1)
Lukas 1:40(1)
Lukas 1:41-42a(1)
Lukas 1:42b(1)
Lukas 1:43(1)
Lukas 1:44(1)
Lukas 24:13-35(1)
Lukas 2:21-40(1)
Markus 12:41-44(1)
Markus 15:1-20a(1)
Matius 1:20(1)
Matius 1:24(1)
Matius 1:25(1)
Matius 28:16-20(1)
Matius 3:1-12(1)
Matius 3:1-2(1)
Matius 3:10(1)
Matius 3:11-12(1)
Matius 3:3(1)
Matius 3:4-6(1)
Matius 3:7-8(1)
Matius 3:9-10(1)
Mazmur 106:1-12(2)
Mazmur 25:1-22(1)
Mazmur 25:14(1)
Mazmur 25:15-18(1)
Mazmur 25:19-22(1)
Mazmur 25:4-6(1)
Mazmur 25:7-9(1)
Mazmur 34:1-23(1)
Mazmur 40:17-18; Lukas 4:16-19(1)
Mazmur 92:6-16(1)
Nahum 1:11(1)
Nahum 1:12(1)
Nahum 1:13(1)
Nahum 1:15b(1)
Nahum 1:9-10(1)
Nahum 1:9-15(1)
Obaja 1:1-16(1)
Obaja 1:11-12(1)
Obaja 1:15-16(1)
Obaja 1:3-4(1)
Obaja 1:5-7(1)
Obaja 1:8-10(1)
Pengkhotbah 11:1-8(1)
Roma 8:1-17(1)
Ulangan 16:1-17(1)
Ulangan 8:1-20(1)
Wahyu 2:8-11(1)
Yeremia 10:6-16(1)
Yeremia 12:1 -17(1)
Yeremia 12:10-11(1)
Yeremia 12:12-13(1)
Yeremia 12:14(1)
Yeremia 30:1-11(1)
Yesaya 11:1-10(1)
Yesaya 11:10(1)
Yesaya 11:2-4(1)
Yesaya 11:5(1)
Yesaya 11:6-7(1)
Yesaya 11:8(1)
Yesaya 11:9(1)
Yesaya 35:1-10(1)
Yesaya 49:1-7(1)
Yoel 3:12-13(1)
Yoel 3:18 (1)
Yoel 3:19(1)
Yoel 3:9-21(1)
Yohanes 17:1–26(1)
Yohanes 21:1-14(1)
Yohanes 6:48-59(1)
Zakharia 9:9-10; Lukas 2:8-11(1)





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat



MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Pembacaan Alkitab..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,