gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 3736 kali
Download MP3 Music
TEMA BULANAN: "Diutus Untuk Membebaskan"

TEMA MINGGUAN: "Komunikasi Dapat Menyatukan dan Mengacaukan"
Bahan Alkitab : Kejadian 11:1-9
Menara Babel
11:1 Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 11:2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. 11:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat. 11:4 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." 11:5 Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, 11:6 dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. 11:7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing." 11:8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. 11:9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.


Penjelasan:
* Kisah mengenai menara Babel berasal dari tradisi Yahwista. Dengan cara lain dari Kej 10:32 dan Kej 9:1 (di sana perbedaan bangsa-bangsa nampak sebagai pelaksanaan berkat Allah) kisah ini menerangkan perbedaan bangsa-bangsa dan bahasa. Perbedaan ini diartikan sebagai hukuman atas kesalahan bersama yang sama seperti kesalahan moyang pertama, Kej 11:3, bersumberkan keangkuhan hati, bdk Kej 11:4. Persatuan barulah akan dipulihkan melalui Juruselamat, yaitu Yesus Kristus: mujizat bahasa pada hari Pentakosta, Kis 2:5-12, dan dikumpulkannya semua bangsa di sorga, Wah 7:9-10.

* Kekacauan Bahasa
    Perbedaan lama antara anak-anak Allah dan anak-anak manusia (antara orang-orang yang percaya Allah dan orang-orang fasik) yang selamat dari air bah itu, sekarang muncul kembali sesudah manusia mulai bertambah banyak. Sesuai cara pembedaan itu, di dalam pasal ini kita membaca hal-hal sebagai berikut,
        I. Penyerakan anak-anak manusia di Babel (ay. 1-9), di dalamnya kita mendapati,
            1. Rancangan berani mereka yang membangkitkan amarah Allah dengan membangun sebuah kota dan sebuah menara (ay. 1-4).
            2. Penghukuman yang adil dari Allah atas mereka melalui penggagalan rancangan itu, dengan cara mengacaubalaukan bahasa mereka, dan dengan demikian mencerai-beraikan mereka (ay. 5-9).
        II. Catatan garis silsilah anak-anak Allah ke bawah sampai kepada Abraham (ay. 10-26), dengan disertai catatan umum perihal kaum keluarganya, serta kepindahannya dari negeri asal mereka (ay. 27 dan seterusnya).

Kekacauan Bahasa (Kejadian 11:1-4)

    Penutup pasal sebelumnya memberi tahu kita bahwa melalui anak-anak Nuh, atau dari antara anak-anak Nuh, dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setelah air bah itu. Artinya, mereka dibedakan menjadi sejumlah suku atau wilayah hunian mereka. Sebab kawasan itu telah menjadi semakin sempit bagi mereka, maka atas petunjuk Nuh atau kesepakatan di antara anak-anaknya, beberapa suku atau wilayah hunian harus menentukan arahnya masing-masing, dimulai dari negeri-negeri yang bersebelahan dengan mereka dan dirancang untuk dilanjutkan lebih jauh dan lebih jauh lagi, serta berpindah ke jarak yang lebih jauh dari tempat mereka masing-masing, sesuai luas ruang yang dibutuhkan untuk menampung jumlah peningkatan anggota kelompok mereka. Dengan demikian, masalah itu dapat diselesaikan dengan baik pada masa seratus tahun setelah air bah, sekitar waktu kelahiran Peleg. Namun, tampaknya anak-anak manusia enggan menyebar ke tempat-tempat yang lebih jauh. Mereka beranggapan bahwa tempat mereka lebih menyenangkan dan lebih aman. Oleh karena itulah mereka berusaha untuk tetap tinggal bersama-sama, dan bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepada mereka oleh TUHAN Allah (Yos. 18:3). Mereka mengira diri mereka lebih bijak daripada Allah atau Nuh. Nah, di sini kita membaca perihal,
        I. Keuntungan yang mendasari rancangan mereka untuk tetap tinggal bersama,
            1. Mereka semua berasal dari satu bahasa (ay. 1). Seandainya ada bahasa lain sebelum air bah, maka hanya bahasa yang dipakai Nuh sajalah, yang mungkin sama dengan bahasa Adam, yang masih dipertahankan melalui peristiwa air bah itu, dan terus berlanjut sesudah itu. Nah, sementara mereka masih saling mengerti bahasa masing-masing, mereka cenderung lebih saling mengasihi, semakin mampu untuk saling membantu, dan kecil kemungkinan dapat saling berpisah.
            2. Mereka menjumpai tempat yang nyaman untuk dihuni (ay. 2), sebuah tanah datar di tanah Sinear, dataran yang sangat luas, sehingga dapat menampung mereka semua. Lagi pula, dataran itu subur, dan sesuai dengan jumlah mereka pada saat itu. Kawasan itu sanggup mendukung kebutuhan pangan mereka semua, walaupun mungkin mereka belum mempertimbangkan apakah kawasan itu memiliki daya tampung yang cukup untuk menampung mereka semua ketika jumlah mereka semakin bertambah-tambah. Perhatikanlah, tempat tinggal yang menarik hati pada saat sekarang, sering terbukti menjadi godaan kuat untuk mengabaikan tugas dan kepentingan yang menyangkut masa depan.
        II. Cara yang mereka gunakan untuk saling mengikat diri, dan tinggal bersama-sama dalam satu kesatuan. Bukannya berusaha keras memperluas batas-batas ruang hidup mereka dengan cara berangkat dengan damai di bawah perlindungan ilahi, mereka malah berusaha membentengi diri. Dan sama seperti orang-orang yang terus menentang sorga, mereka tetap bertahan. Kesepakatan yang mereka ambil adalah, Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara. Dapat diamati bahwa para pembangun kota yang pertama, baik di dunia purba (4:17) dan di dunia zaman sekarang, bukanlah orang yang berwatak baik dan memiliki nama yang baik. Kemah-kemah digunakan umat Allah untuk tinggal, sedangkan kota-kota dibangun oleh orang-orang yang memberontak terhadap Dia dan mengingkari Dia. Amatilah di sini,
            1. Betapa bergairahnya mereka dan betapa mereka saling mendorong satu sama lain untuk segera memulai pekerjaan ini. Mereka berkata, Marilah kita membuat batu bata (ay. 3), dan sekali lagi (ay. 4), Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota. Melalui kegairahan bersama ini, mereka saling meneguhkan hati dan semakin berani bertindak. Hal-hal besar dapat terwujud ketika jumlah para pelaksana menjadi sangat besar dan semuanya sepakat untuk melaksanakan tujuan tersebut, serta saling membangkitkan semangat untuk mencapai tujuan. Marilah kita belajar untuk mendorong satu sama lain untuk saling mengasihi dan melakukan pekerjaan baik, seperti orang-orang berdosa saling menyemangati dan mendorong satu sama lain untuk melakukan pekerjaan jahat (lih. Mzm. 122:1; Yes. 2:3, 5; Yer. 50:5).
            2. Bahan-bahan apa saja yang mereka gunakan dalam bangunan mereka. Karena tanah itu datar, tidak ditemukan adanya batu atau campuran bahan semen dan kapur. Namun hal ini tidak menyurutkan tekad mereka untuk melaksanakan kesepakatan ini. Mereka membuat batu bata yang akan digunakan sebagai pengganti batu, dan lumpur atau jerami sebagai pengganti semen. Perhatikan di sini,
                (1) Betapa perubahan yang ingin mereka lakukan sanggup membuat mereka begitu teguh dalam tujuan mereka. Seandainya saja kita bersemangat melakukan sesuatu yang baik, seharusnya kita tidak menghentikan pekerjaan sesering yang kita lakukan, dengan dalih supaya mudah menjalankannya.
                (2) Betapa besar perbedaan bahan bangunan yang digunakan manusia untuk membangun dan bahan bangunan yang digunakan Allah. Ketika manusia membangun Babel mereka, batu bata dan lumpur adalah bahan terbaik mereka, sedangkan ketika Allah membangun Yerusalem-Nya, Ia meletakkan dasar-dasarnya dengan batu nilam, dan segenap tembok perbatasannya dari batu permata (Yes. 54:11-12; Why. 21:19).
            3. Untuk tujuan apa mereka membangun. Sebagian orang berpendapat bahwa dengan membangun menara ini, mereka berharap dapat mengamankan diri terhadap air yang ditimbulkan air bah berikutnya. Allah memang telah memberitahukan kepada mereka bahwa Ia tidak akan menenggelamkan dunia ini lagi, namun mereka lebih mempercayai sebuah menara buatan sendiri daripada janji yang dibuat Allah atau sebuah bahtera menurut petunjuk-Nya. Bagaimanapun, seandainya mereka benar-benar memperhatikan hal ini, seharusnya mereka lebih baik memilih membangun sebuah menara di atas gunung daripada di dataran. Namun, tampaknya ada tiga hal yang ingin mereka capai dalam pembangunan menara ini:
                (1) Menara ini dirancang untuk menentang Allah sendiri. Karena mereka akan membangun sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, yang membuktikan adanya ketidaktaatan yang terang-terangan, setidaknya mereka ingin menyaingi Allah. Mereka hendak menyamai Yang Mahatinggi, atau hendak datang sedekat mungkin sesuai kemampuan mereka kepada Allah, bukan dalam kekudusan, melainkan dalam keangkuhan hati. Mereka lupa akan tempat mereka. Menolak melata di bumi, mereka bertekad memanjat ke sorga, dan tidak dengan melalui pintu atau tangga, tetapi dengan cara-cara lain.
                (2) Dengan ini mereka berharap membuat nama bagi mereka sendiri. Mereka ingin melakukan sesuatu yang akan banyak dibicarakan orang di zaman sekarang ini, dan memberitahukan kepada semua keturunan mereka di segala zaman bahwa pernah ada manusia seperti mereka di dunia ini. Bukannya mati tanpa meninggalkan catatan di belakang mereka, mereka malah meninggalkan tugu peringatan tentang keangkuhan, hasrat yang kuat akan hal-hal duniawi, dan kebodohan mereka. Perhatikan baik-baik hal berikut ini,
                    [1] Mencintai kehormatan dan sebuah nama di antara manusia, umumnya mengilhami munculnya semangat tinggi yang aneh-aneh dan kesepakatan pelaksanaan yang sulit, serta sering membuka diri kepada yang jahat dan melawan Allah.
                    [2] Sudah sepantasnya Allah mengubur nama-nama yang dibangkitkan oleh dosa itu di dalam debu. Para pendiri Babel ini membayar harga yang sangat mahal dan bodoh untuk mengukir sebuah nama bagi mereka. Namun, mereka tidak akan berhasil mencapai cita-cita ini, sebab tidak pernah ada tertulis dalam sejarah mana pun mengenai salah satu dari para pendiri Babel ini. Philo Judaeus (ahli filsafat Helenisme berkebangsaan Yahudi tahun 50 SM - pen.) mengatakan bahwa mereka mengukir nama masing-masing di atas sebuah batu bata, in perpetuam rei memoriam - sebagai peringatan yang abadi, namun perbuatan mereka ini tidak mencapai tujuan yang dimaksud.
                (3) Mereka melakukannya untuk mencegah penyebaran mereka: supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi. " Hal itu dilakukan," (kata Yosefus - sejarawan Yahudi), "dalam ketidaktaatan terhadap perintah, Penuhilah bumi (9:1)." Allah memerintahkan mereka untuk berserak-serak. "Tidak!" kata mereka, "Kami tidak mau, kami ingin hidup dan mati bersama-sama." Dalam hal ini, mereka mengikat diri mereka masing-masing dan mengikatkan diri satu sama lain dalam kesepakatan yang sangat besar ini. Supaya dapat bersatu dalam satu kerajaan yang sangat jaya, mereka memutuskan untuk membangun kota dan menara ini, untuk menjadi kota utama kerajaan mereka serta pusat dari kesatuan mereka. Besar kemungkinan, Nimrod yang sangat haus akan kekuasaan itu ada di balik semua gerakan ini. Ia tidak puas dengan hanya memerintah kawasan tertentu, tetapi sangat menginginkan sebuah kerajaan yang mendunia. Supaya dapat mencapai cita-cita ini, ia berusaha menyatukan mereka di bawah satu lembaga dengan dalih demi keselamatan mereka bersama, sehingga dengan menempatkan mereka di bawah pengawasannya, ia dapat dengan mudah menguasai mereka. Perhatikan kelancangan orang-orang berdosa ini. Di sini kita mendapati,
                    [1] Sebuah perlawanan yang terang-terangan kepada Allah: "Kamu harus berserak-serak," Allah berfirman. "Tetapi kami tidak mau," sahut mereka. Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya.
                    [2] Sebuah persaingan yang terang-terangan dengan Allah. Merupakan hak istimewa Allah sajalah untuk memerintah seluruh dunia, sebagai TUHAN di atas segala tuan, Raja di atas segala raja. Orang yang menginginkan hak istimewa itu berarti berusaha melangkah ke dalam takhta Allah, yang tidak akan pernah memberikan kemuliaan-Nya kepada orang lain.


ALASAN PEMILIHAN TEMA

Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Melalui komunikasi orang akan saling memahami dan mengerti satu sama lain.

 Dewasa ini banyak orang berkomunikasi secara tidak benar sehingga bukan tujuan kesatuan dan penyatuan pikiran dan rencana yang dialami tetapi justru kekacauan yang terjadi. Miskomunikasi ini disebabkan oleh pembawa berita (komunika-tor) salah menyampaikan pesan atau sebaliknya si penerima pesan (komunikan) salah mengartikan pesan yang diterima aki-batnya salah mengambil tindakan yang membawa kerugian bagi salah satu atau kedua-duanya. Keadaan ini sering dialami oleh siapapun dalam berkomunikasi, sebab sudah ada asumsi atau pemikiran negatif terhadap lawan bicara kita, misalnya bila kita berhadapan dengan orang yang biasa melecehkan orang lain tentu kita sudah sangat berhati-hati berkomunikasi dengannya. Berkomunikasi dengan teman yang kita kenal baik akan berjalan lancar karena kita berpikir positif.  Model komunikasi dua arah ini (timbal balik) akan menguntungkan kedua belah pihak dalam menyatukan pemahaman bersama sehingga tidak terjadi "mis-undestanding" (salah pengertian). Bacaan Alkitab minggu ini mengantar kita pada kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar untuk menyatukan tujuan bersama sambil berusaha menghindari diri dari berbagai bentuk kekacauan yang mudah terjadi karena kesombongan atau keakuan pribadi.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Bagian Alkitab ini dimulai dengan gambaran dari sebuah lambang yaitu menara Babel sebagai kelanjutan cerita peristiwa air bah di masa Nuh (Kejadian 10:32). Keturunan Nuh beranak cucu dan mendiami bumi yang dikenal sebagai tempat kediaman bangsa-bangsa.

Ayat 1 menjelaskan tentang letak kota menara Babel itu, bahwa setelah mereka berada pada suatu waktu dan tempat di tanah (Eres) Sinear. Mereka ini menunjuk pada sebagian umat manusia yang dipilih. Kelompok umat inilah yang membangun komunikasi di antara mereka yang sepakat, sehati dan sepikir, untuk merencanakan sebuah pembangunan fisik sebagai lam-bang kebanggaan di kotanya dengan membuat sebuah menara yang besar, kokoh dan sangat tinggi (sampai ke langit). Rencana ini menunjuk pada kesombongan yang tidak terkendali seakan-akan mempertontonkan sebuah kesempatan untuk mendahului Tuhan atau menyaingi kuasa Tuhan.

Kota yang adalah pusat kebudayaan telah dinodai dengan kesombongan dan kecongkakan manusia. Menara di masa itu merupakan benteng sebuah kota (Ulangan 1:28,9:1) dan ini merupakan kesejajaran dalam sastra Babel tentang bangunan dari negeri dan menara kuilnya. Usaha membuat menara Babel melebihi kebiasaan membangun Menara di masa itu karena diikuti dengan keinginan manusia yang tidak ter-kendali untuk membangun menara sampai di langit dengan tujuan mencari nama dan tidak ingin terserak ke ujung bumi. Tindakan umat ini adalah penjelmaan roh kefasikan yang ingin menyamai kemuliaan Tuhan.

Segala sesuatu yang dilakukan manusia ada dalam pandangan Allah (Bnd Mazmur 2). Bacaan ini menyatakan  lalu turunlah Tuhan, dengan mengacaubalaukan bahasa mereka, menegaskan campur tangan Tuhan untuk selalu sedia dan setia melindungi umat-Nya. Pada satu pihak campur tangan Tuhan mengacaukan bahasa adalah campur tangan yang adikodrati artinya sebuah kekuatan besar yang tidak dapat diseimbangkan dengan kekuatan manusia. Tapi pada pihak lain ini merupakan kerja selamat Allah untuk menyelamatkan umat agar bukti kasih sayang Tuhan teralami melalui sesuatu yang adikodrati (penghukuman menjadi penyelamatan). Inilah cara Allah berkomunikasi dengan umat dan ciptaan-Nya, terkadang harus dipahami secara alamiah, tapi tak jarang harus dipahami secara iman. Tuhan bekerja menyatukan umat ciptaan-Nya bukan mengacaukan dunia ciptaan-Nya tapi kekacauan sering menjadi lambang pendurhakaan yang dipakai Allah untuk menyelamatkan.

Pokok penting dalam bagian ini adalah Tuhan menga-caukan bahasa mereka sehingga  tidak lagi saling mengerti untuk melanjutkan pembangunan menara Babel sehingga mereka diserakkan Tuhan ke seluruh bumi.

Makna dan Implikasi Firman

  • Firman Tuhan sebagaimana bacaan kita ini adalah cermin untuk melangkah ke depan sambil bertekad untuk selalu melakukan kebenaran berdasarkan kehendak-Nya yang merupakan pesan yang hendak disampaikan kepada jemaat.
  • Usaha yang benar dalam berkomunikasi untuk mewujudkan rasa kebersamaan di tengah semangat kesatuan yang kuat selalu melahirkan komitmen baru sebagai umat Tuhan dengan tidak mendirikan lambang keangkuhan sebagai-mana maksud perikop ini.
  • Rasa hormat dan taat kepada Tuhan hendaknya menjadi budaya kristiani yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan yang sudah diselamatkan oleh Tuhan Yesus sebagai menara yang kokoh.
  • Kebanggan menjadi hamba dan anak Tuhan yang meng-komunikasikan Firman Tuhan kepada jemaat secara tetap dan benar.
  • Kita sebagai gereja hendaknya menghidari kekacauan da-lam jemaat. Menghormati Tuhan dan pemimpin umat.
  • Bahasa Iman Kristen tidak menjadikan kita menolak kuasa-Nya tetapi justru selalu berupaya dekat dan berjalan ber-sama Tuhan.
  • Allah sungguh berkuasa karena dengan memelihara komu-nikasi dengan-Nya secara benar dan dalam kerendahan menjadikan kita bersatu dan jauh dari kekacauan.
  • Gereja Tuhan terpanggil menjadikan umat terselamatkan walau kadang harus menerima cara selamat Allah yang menyakitkan melalui pelbagai tantangan dan pergumulan.
  • Tuhan Allah kita dalam Yesus Kristus adalah menara hidup kita setiap saat dan ketika. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Jelaskan pengertian mengenai komunikasi yang dapat menyatukan dan mengcaukan menurut perikop ini ?
  2. Apa yang dapat kita lakukan sebagai umat Tuhan untuk mewujudkan komunikasi kebersamaan yang menyatukan?

POKOK-POKOK DOA:

  • Jemaat yang mengalami kebimbangan dalam hidupnya.
  • Penguatan bagi jemaat yang mengalami tantangan dan pergumulan yang berat.
  • Jemaat teguh dalam keyakinan.
  • Jemaat tangguh melawan musuh (kesombongan, kecong-kakan, kemunafikan dll).
  • Kesetiaan dalam komunikasi kebersamaan antar umat Tuhan

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Kemuliaan Bagi Allah: NNBT No.3 Mari Kita Puji Allah

Ses Doa Penyembahan: NNBT No.6 Allah Bapa Yang Kumuliakan

Pengakuan Dosa: NNBT No.11 Ya Allahku Kami Mengaku Dosa

Janji Anugerah Allah: NNBT No. 29 Apakah Yang T'lah Engkau Lakukan

Ses Puji-pujian: NKB No. 164 Kidung Yang Merdu Dihatiku

Persembahan  : NNBT No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan

Penutup : KJ No. 400 Kudaki Jalan Mulia

ATRIBUT:

Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dengan salib berwarna kuning.


Label:   Kejadian 11:1-9 





Daftar Label dari Kategori Pembacaan Alkitab
1 Korintus 15:1-11(1)
1 Korintus 1:1-9(1)
1 Korintus 1:4(1)
1 Korintus 1:8(2)
1 Petrus 2:1-10(1)
1 Samuel 2:8-9; Yakobus 2:5-11(1)
1 Tawarikh 29:1-9(1)
2 Korintus 8:1-9(1)
2 Samuel 7:18-29(1)
Amsal 3:1-10(1)
Amsal 9:1-18(1)
Ayub 36:1-15(1)
azmur 92:14(1)
Filipi 4:2-9(1)
Kejadian 11:1-9(1)
Kejadian 8:1-22(1)
Kisah Para Rasul 3:1-10(1)
Kisah Para Rasul 4:32-37(1)
Kolose 1:3-14(1)
Kolose 3:18-25(1)
Kolose 3:5-17(1)
Lukas 1:39(1)
Lukas 1:39-45(1)
Lukas 1:40(1)
Lukas 1:41-42a(1)
Lukas 1:42b(1)
Lukas 1:43(1)
Lukas 1:44(1)
Lukas 24:13-35(1)
Lukas 2:21-40(1)
Markus 12:41-44(1)
Markus 15:1-20a(1)
Matius 1:20(1)
Matius 1:24(1)
Matius 1:25(1)
Matius 28:16-20(1)
Matius 3:1-12(1)
Matius 3:1-2(1)
Matius 3:10(1)
Matius 3:11-12(1)
Matius 3:3(1)
Matius 3:4-6(1)
Matius 3:7-8(1)
Matius 3:9-10(1)
Mazmur 106:1-12(2)
Mazmur 25:1-22(1)
Mazmur 25:14(1)
Mazmur 25:15-18(1)
Mazmur 25:19-22(1)
Mazmur 25:4-6(1)
Mazmur 25:7-9(1)
Mazmur 34:1-23(1)
Mazmur 40:17-18; Lukas 4:16-19(1)
Mazmur 92:6-16(1)
Nahum 1:11(1)
Nahum 1:12(1)
Nahum 1:13(1)
Nahum 1:15b(1)
Nahum 1:9-10(1)
Nahum 1:9-15(1)
Obaja 1:1-16(1)
Obaja 1:11-12(1)
Obaja 1:15-16(1)
Obaja 1:3-4(1)
Obaja 1:5-7(1)
Obaja 1:8-10(1)
Pengkhotbah 11:1-8(1)
Roma 8:1-17(1)
Ulangan 16:1-17(1)
Ulangan 8:1-20(1)
Wahyu 2:8-11(1)
Yeremia 10:6-16(1)
Yeremia 12:1 -17(1)
Yeremia 12:10-11(1)
Yeremia 12:12-13(1)
Yeremia 12:14(1)
Yeremia 30:1-11(1)
Yesaya 11:1-10(1)
Yesaya 11:10(1)
Yesaya 11:2-4(1)
Yesaya 11:5(1)
Yesaya 11:6-7(1)
Yesaya 11:8(1)
Yesaya 11:9(1)
Yesaya 35:1-10(1)
Yesaya 49:1-7(1)
Yoel 3:12-13(1)
Yoel 3:18 (1)
Yoel 3:19(1)
Yoel 3:9-21(1)
Yohanes 17:1–26(1)
Yohanes 21:1-14(1)
Yohanes 6:48-59(1)
Zakharia 9:9-10; Lukas 2:8-11(1)





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat



MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Pembacaan Alkitab..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,