|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2024 Minggu, 8 September 2024 Khotbah GMIM Minggu, 8 September 2024 - Kejadian 22:1-19 Abraham Diperintahkan untuk Mengorbankan Ishak Kejadian 22:1-19 Kepercayaan Abraham diuji 22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." 22:2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." 22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." 22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" 22:8 Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." 22:12 Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." 22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." 22:15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 22:16 kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri -- demikianlah firman TUHAN --: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 22:17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." 22:19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba. Penjelasan: * Abraham Diperintahkan untuk Mengorbankan Ishak (Kejadian 22:1-2) Inilah ujian bagi iman Abraham, apakah imannya tetap begitu kuat, begitu gigih, begitu gemilang, setelah lama berdiam dalam persekutuan dengan Allah, seperti pada awal-awalnya, ketika dengan iman itu ia meninggalkan negerinya: pada waktu itu tampak bahwa ia lebih mengasihi Allah daripada mengasihi bapaknya. Sekarang tampak bahwa ia lebih mengasihi Dia daripada mengasihi anaknya. Amatilah di sini, I. Waktu ketika Abraham diuji seperti itu (ay. 1): Setelah semuanya itu, setelah semua ujian lain yang sudah dilaluinya, semua kesusahan dan kesulitan yang sudah dilewatinya. Sekarang, mungkin, ia mulai merenungkan semua badai yang telah mengempaskannya. Tetapi, setelah semuanya itu, pencobaan ini datang, lebih dahsyat daripada sebelum-sebelumnya. Perhatikanlah, ujian-ujian yang sudah banyak datang sebelumnya tidak akan menggantikan atau mengamankan kita dari ujian-ujian yang akan datang selanjutnya. Kita belum menanggalkan baju perang kita (1Raj. 20:11). Lihat Mazmur 30:7-8. II. Yang mendatangkan ujian itu: Allah mencoba dia, bukan untuk menariknya kepada dosa, seperti yang dilakukan Iblis dalam mencobai (seandainya Abraham benar-benar mengorbankan Ishak, ia tidak akan berbuat dosa, sebab perintah-perintah dari Allah akan membenarkan dia, dan membelanya), tetapi untuk mengungkapkan kemurnian imannya, seberapa kuat imannya, agar ia memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan (1Ptr. 1:7). Seperti itu jugalah Allah mencoba Ayub, agar ia bisa tampil bukan hanya sebagai orang baik, melainkan juga orang besar. Allah benar-benar mencoba Abraham. Ia benar-benar mengangkat Abraham, begitu sebagian orang membacanya. Seperti diangkatnya seorang cendekiawan yang maju pesat, ketika ia ditempatkan dalam kedudukan yang lebih tinggi. Perhatikanlah, iman yang kuat sering kali diuji dengan cobaan-cobaan yang keras dan ditempatkan untuk menjalankan pelayanan-pelayanan yang sulit. III. Ujian itu sendiri. Allah menampakkan diri kepada-Nya seperti yang sudah dilakukan-Nya sebelumnya, dengan memanggil namanya, Abraham, nama yang sudah diberikan kepadanya untuk mengesahkan janji itu. Abraham, seperti seorang hamba yang baik, segera menjawab, “Ya Tuhan. Apa yang hendak Tuhanku sampaikan kepada hamba?” Mungkin ia mengharapkan suatu pembaruan janji seperti pada janji-janji sebelumnya ( Kejadian 15:1) dan ( Kejadian 17:1). Tetapi, yang sangat mengejutkannya, apa yang ingin disampaikan Allah kepadanya, singkatnya adalah, Abraham, bunuhlah anakmu. Dan perintah ini diberikan kepadanya dalam bahasa yang begitu memancing emosi sehingga membuat cobaan itu teramat sangat menyedihkan. Ketika Allah berfirman, Abraham, tidak diragukan lagi, memperhatikan setiap kata yang diucapkan, dan mendengarkannya dengan penuh perhatian. Dan setiap kata yang terucap di sini adalah pedang yang menusuk tulangnya: ujian itu diperparah dengan ucapan-ucapan yang menguji. Senangkah Yang Mahakuasa membuat umat-Nya menderita? Tidak. Tetapi, ketika iman Abraham hendak diuji, Allah tampak senang memperberat ujian itu (ay. 2). Amatilah, 1. Orang yang harus dikorbankan. (1) “Ambillah anakmu, bukan lembu-lembu dan domba-dombamu.” Betapa relanya Abraham menyerahkan beribu-ribu lembu dan dombanya untuk menggantikan Ishak! “Tidak, tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu (Mzm. 50:9). Aku harus mengambil anakmu. Bukan hambamu, bahkan bukan pula pengurus rumahmu. Semuanya itu tidak akan memenuhi syarat. Aku harus mengambil anakmu.” Yefta, untuk memenuhi nazarnya, mengorbankan anak perempuannya. Tetapi Abraham harus mengorbankan anak laki-lakinya, yang di dalam dia keluarganya akan dibangun. “Tuhan, biarlah yang harus dikorbankan itu anak angkat.” “Tidak, (2) Anakmu yang tunggal itu. Anakmu yang tunggal dari Sara.” Ismael baru saja diusir, yang membuat Abraham bersedih. Sekarang hanya Ishak yang tinggal, dan apakah dia harus pergi juga? Ya, (3) “Ambillah Ishak, dia, yang namanya berarti tertawamu, anakmu yang sesungguhnya itu” ( Kejadian 17:19). Yang diperintahkan bukan “Bawa kembali Ismael, dan korbankan dia,” melainkan harus Ishak. “Tetapi, Tuhan, aku mengasihi Ishak, bagiku dia seperti belahan jiwaku. Ismael sudah tidak ada, dan apakah Engkau akan mengambil Ishak juga? Semua ini melawan aku:” Ya, (4) Anak yang engkau kasihi itu. Ini merupakan ujian bagi kasih Abraham terhadap Allah, dan oleh sebab itu, yang harus dikorbankan adalah anak yang dikasihi. Ungkapan itu pastilah teramat sangat menyentuh hati. Dalam bahasa Ibrani ucapan itu diungkapkan dengan lebih tegas, dan, menurut saya, bisa dibaca seperti ini: Ambillah sekarang anak kepunyaanmu itu, anak tunggalmu itu, yang engkau kasihi, si Ishak itu. Perintah Allah harus mengesampingkan segala pertimbangan ini. 2. Tempat dipersembahkannya korban: Di tanah Moria, yang membutuhkan tiga hari perjalanan. Dengan begitu, Abraham masih mempunyai waktu untuk mempertimbangkannya. Jika ia sungguh mengorbankan Ishak, ia harus melakukannya dengan sadar, agar itu menjadi pelayanan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dan lebih terhormat. 3. Cara persembahan korban: Persembahkanlah dia sebagai korban bakaran. Ia tidak hanya harus membunuh anaknya, tetapi juga membunuhnya sebagai korban, membunuhnya untuk ibadah, membunuhnya atas dasar perintah, membunuhnya dengan segala semarak dan upacara, dengan segala ketenangan dan kejernihan pikiran, yang biasa dilakukannya saat mempersembahkan korban-korban bakarannya. * Ketaatan Abraham (Kejadian 22:3-10) Di sini kita mendapati ketaatan Abraham terhadap perintah yang keras ini. Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak (Ibr. 11:17). Amatilah, I. Kesulitan-kesulitan yang dilaluinya dalam tindakan yang taat ini. Banyak sekali keberatan yang bisa diajukan terhadap perintah ini, karena, 1. Perintah itu tampak langsung bertentangan dengan hukum Allah sebelumnya, yang melarang pembunuhan, dengan ancaman hukuman yang keras (9:5-6). Sekarang, dapatkah Allah yang tidak berubah itu menentang diri-Nya sendiri? Dia yang membenci hasil rampasan dan kecurangan untuk korban bakaran (Yes. 61:8) pasti tidak akan senang dengan hasil pembunuhan untuk korban itu. 2. Bagaimana hal itu diselaraskan dengan perasaan kasih sayang alami seorang bapak kepada anaknya sendiri? Itu bukan hanya pembunuhan, melainkan juga yang paling jahat dari semua pembunuhan. Tidak bisakah Abraham taat tanpa menentang hukum alam? Jika Allah bersikeras ingin mengorbankan manusia, tidak adakah orang lain selain Ishak yang harus dikorbankan, dan tidak adakah orang lain selain Abraham yang harus mengorbankannya? Haruskah bapa orang beriman menjadi monster dari semua bapa? 3. Allah tidak memberinya alasan untuk mengorbankan Ishak.Ketika Ismael hendak diusir, alasan yang baik diberikan untuk itu, yang membuat Abraham puas. Tetapi di sini Ishak harus mati, dan Abraham harus membunuhnya, dan baik Ishak maupun Abraham tidak boleh tahu mengapa atau untuk apa. Seandainya Ishak harus mati syahid demi kebenaran, atau hidupnya dijadikan tebusan bagi nyawa orang lain yang lebih berharga, itu lain perkara. Atau seandainya ia mati sebagai penjahat, pemberontak melawan Allah atau orangtuanya, seperti yang terjadi pada seorang penyembah berhala (Ul. 13:8, 9), atau seorang anak laki-laki yang degil (Ul. 21:18-19), mungkin itu bisa dipandang sebagai pengorbanan demi keadilan. Tetapi persoalannya tidak demikian: ia seorang anak yang penurut, patuh, dan menjanjikan banyak harapan. “Tuhan, apa keuntungan yang bisa diperoleh dari darahnya?” 4. Bagaimana ini dapat diselaraskan dengan janji Allah? Bukankah dikatakan bahwa yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak? Tetapi apa jadinya dengan keturunan itu, apabila pucuk yang tengah mekar ini diremukkan begitu cepat? 5. Bagaimana ia bisa menatap wajah Sara lagi? Dengan muka seperti apa ia bisa kembali kepada Sara dan keluarganya dengan darah Ishak yang terpercik pada bajunya dan menodai semua pakaiannya? “Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku” begitulah Sara akan berkata (seperti dalam Keluaran 4:25-26), dan ada kemungkinan hal itu akan menjauhkan kasih sayangnya untuk selama-lamanya baik dari dia maupun dari Allahnya. 6. Apa yang akan dikatakan orang-orang Mesir, dan orang-orang Kanaan serta orang-orang Feris yang berdiam di negeri itu pada waktu itu? Hal ini akan menjadi cela untuk selama-lamanya bagi Abraham, dan bagi mezbah-mezbahnya. “Sambutlah alam, apabila ini yang dinamakan anugerah.” Keberatan-keberatan ini dan masih banyak keberatan yang serupa bisa saja diajukan. Tetapi ia yakin dengan tidak keliru bahwa itu benar-benar perintah Allah dan bukan khayalannya belaka, dan ini sudah cukup untuk menjawab semua keberatan itu. Perhatikanlah, perintah-perintah Allah tidak boleh diperbantahkan, tetapi harus dituruti. Kita tidak boleh minta pertimbangan kepada manusia tentang itu (Gal. 1:15-16), tetapi dengan kekerasan hati yang penuh rahmat harus tetap patuh terhadap perintah-perintah itu. II. Beberapa langkah yang taat, yang kesemuanya membantu menguatkan ketaatan itu, dan menunjukkan bahwa ia dituntun oleh kebijaksanaan, dan dipimpin oleh iman, dalam seluruh urusan itu. 1. Ia bangun pagi-pagi (ay. 3). Mungkin perintah itu diberikan dalam penglihatan-penglihatan di malam hari, dan keesokan harinya pagi-pagi benar ia sudah bersiap-siap melaksanakannya. Ia tidak menunda-nunda, tidak merasa enggan, tidak mengambil waktu untuk menimbang-nimbang. Sebab, perintah itu tidak bisa ditawar-tawar, dan tidak bisa dibantah. Perhatikanlah, orang-orang yang melakukan kehendak Allah dengan sepenuh hati pasti akan melakukannya dengan segera. Apabila kita menunda-nunda, waktu akan terhilang dan hati mengeras. 2. Ia menyiapkan segala sesuatu untuk mempersembahkan korban, dan, seolah-olah seperti seorang Gibeon sendiri, dengan tangannya sendiri ia membelah kayu untuk korban bakaran, supaya ia tidak repot-repot lagi mencarinya ketika korban itu harus dipersembahkan. Korban-korban rohani pun harus dipersiapkan seperti itu. 3. Besar kemungkinan bahwa ia tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini kepada Sara. Ini adalah perjalanan yang tidak boleh diketahui Sara, supaya jangan ia mencegahnya. Sudah ada begitu banyak hal dalam hati kita yang dapat menghalangi pertumbuhan kita dalam menjalankan kewajiban, sehingga kita perlu, sedapat mungkin, menjauhkan diri dari hambatan-hambatan yang lain. 4. Dengan hati-hati ia melihat-lihat ke sekelilingnya, untuk menemukan tempat yang sudah ditentukan bagi korban ini, yang sudah dijanjikan Allah akan ditunjukkan-Nya dengan suatu tanda. Mungkin petunjuk itu diberikan melalui sebuah penampakan kemuliaan ilahi di tempat itu, semacam tiang api yang menjangkau dari langit ke bumi, tampak di kejauhan, yang ditunjukkan-Nya ketika berkata (ay. 5), “Kita akan pergi ke sana, di mana engkau melihat terang itu, dan beribadah di sana.” 5. Ia meninggalkan hamba-hambanya di kejauhan (ay. 5), supaya jangan mereka menengahi, dan mengganggu persembahan korbannya yang mengherankan itu. Sebab Ishak, tidak diragukan lagi, adalah anak kesayangan seluruh keluarga. Demikianlah, ketika Kristus mulai merasakan ketakutan yang luar biasa di taman Getsemani, Ia hanya mengajak tiga murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan meninggalkan yang lain di pintu taman. Perhatikanlah, adalah hikmat dan kewajiban kita, apabila kita hendak beribadah kepada Allah, untuk mengesampingkan segala macam pikiran dan kekhawatiran yang dapat mengalihkan kita dari ibadah kita. Kita harus meninggalkan semuanya itu di bawah bukit, agar kita dapat melayani Tuhan tanpa gangguan. 6. Ia menyuruh Ishak untuk membawa kayu itu (baik untuk menguji ketaatannya dalam perkara kecil terlebih dahulu, maupun dengan tujuan supaya ia bisa menjadi pelambang Kristus, yang memikul salib-Nya sendiri, Yoh. 19:17), sementara ia sendiri, meskipun tahu apa yang diperbuatnya, dengan tekad bulat dan mantap membawa pisau dan api yang mematikan itu (ay. 6). Perhatikanlah, orang-orang yang dengan anugerah bertekad menjalani pelayanan dan penderitaan apa saja bagi Allah, haruslah mengabaikan perkara-perkara kecil yang justru akan lebih mempersulit darah dan daging. 7. Tanpa kegaduhan atau kekacauan, ia membicarakannya dengan Ishak, seolah-olah hanya korban biasa yang hendak dipersembahkannya (ay. 7-8). (1) Sangatlah menyentuh hati pertanyaan yang diajukan Ishak kepadanya, selagi mereka berjalan bersama-sama: Bapa, kata Ishak. Kata itu meluluhkan perasaan, dan, bisa dibayangkan, akan menembus dada Abraham lebih dalam daripada yang bisa dilakukan pisaunya untuk menembus dada Ishak. Abraham bisa saja berkata, atau berpikir, setidak-tidaknya, “Jangan panggil aku bapamu, yang sekarang akan menjadi pembunuhmu. Dapatkah seorang bapa berlaku begitu biadab, begitu benar-benar hilang segala kelembutannya sebagai seorang bapa?” Namun, ia tetap menjaga perasaannya, dan menjaga raut wajahnya secara mengagumkan. Dengan tenang ia menunggu pertanyaan anaknya, dan inilah pertanyaan itu: Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak dombanya? Lihatlah betapa Ishak ahli dalam masalah hukum dan tata cara mempersembahkan korban. Ini harus diajarkan dengan baik: pertanyaan ini adalah, [1] Pertanyaan yang menguji Abraham. Bagaimana ia bisa tahan untuk berpikir bahwa Ishak sendirilah anak dombanya? Itulah yang sebenarnya, tetapi Abraham, sampai saat ini, tidak berani memberitahukan itu kepadanya. Karena Allah tahu bahwa iman adalah senjata bagi bukti, Ia akan menertawakan ujian pada orang yang tidak bersalah (Ayb. 19:23, KJV; TB: keputusasaan orang yang tidak bersalah -" pen.). [2] Itu adalah pertanyaan yang mengajar kita semua, bahwa, apabila kita hendak beribadah kepada Allah, kita harus sungguh-sungguh mempertimbangkan apakah kita sudah menyiapkan segala sesuatunya, terutama anak domba untuk korban bakaran. Lihatlah, api sudah siap, yaitu pertolongan Roh dan perkenanan Allah. Kayu sudah siap, yaitu ketetapan-ketetapan upacara untuk menyalakan perasaan kita (yang memang, tanpa Roh, hanyalah seperti kayu tanpa api, tetapi Roh bekerja melaluinya). Segala sesuatu sudah siap, tetapi di manakah anak dombanya? Di manakah hatinya? Siapkah hati dipersembahkan kepada Allah, untuk naik kepada-Nya sebagai korban bakaran? (2) Sangatlah bijak jawaban yang diberikan Abraham kepadanya: Allah yang akan menyediakan anak domba bagi-Nya, anakku. Ini merupakan bahasa yang menggambarkan, [1] Ketaatannya. “Kita harus mempersembahkan anak domba yang sekarang sudah ditentukan Allah untuk dipersembahkan,” dan dengan demikian ia memberi Ishak pedoman umum untuk berserah kepada kehendak ilahi, untuk mempersiapkan dia agar menerapkannya langsung kepada dirinya sendiri. Atau, [2] Imannya. Entah ia bermaksud seperti itu atau tidak, itulah arti yang sebenarnya. Sebuah korban disediakan sebagai ganti Ishak. Dengan demikian, pertama, Kristus, korban penebusan yang agung, disediakan oleh Allah. Ketika tidak seorang pun di sorga atau di bumi bisa mendapatkan anak domba untuk korban bakaran itu, Allah sendiri mendapatkan tebusannya (Mzm. 89:21). Kedua, semua korban pengakuan kita disediakan oleh Allah juga. Dialah yang mempersiapkan hati (Mzm. 10:17, KJV; TB: menguatkan hati -" pen.). Hati yang patah dan remuk adalah korban kepada Allah (Mzm. 51:19), yang disediakan-Nya sendiri. 8. Dengan keteguhan dan ketenangan pikiran yang sama, setelah banyak berpikir-pikir di dalam hati, ia segera bekerja untuk menyelesaikan korban ini (ay. 9-10). Ia terus maju dengan tekad yang kudus, setelah menempuh banyak langkah yang melelahkan, dan dengan berberat hati sampai juga akhirnya ia di tempat yang mematikan itu. Lalu ia membangun mezbah (mezbah dari tanah liat, bisa kita duga, mezbah yang paling menyedihkan dari yang pernah didirikannya, dan ia sudah mendirikan banyak mezbah), menaruh kayu sebagai bantal untuk kubur Ishak, lalu memberi tahu dia kabar yang menyentakkan ini: “Ishak, engkaulah anak domba yang sudah disediakan Allah.” Ishak, sepanjang yang bisa disaksikan, sama relanya dengan Abraham. Kita tidak mendapati bahwa dia mengajukan keberatan. Ia tidak memohon untuk tidak dibunuh. Ia tidak berusaha melarikan diri, apalagi sampai bergulat dengan bapaknya yang sudah tua, atau mengadakan penolakan. Abraham melakukannya, Allah ingin agar itu dilakukan, dan Ishak sudah belajar untuk berserah baik kepada Allah maupun kepada Abraham. Abraham, tidak diragukan lagi, mengibur dia dengan harapan-harapan yang sama yang dengannya ia sendiri dengan iman dihiburkan. Tetapi korban itu harus diikat. Korban agung, yang dalam kegenapan waktu akan dipersembahkan, harus diikat, dan oleh sebab itu Ishak pun harus diikat. Tetapi sampai hatikah Abraham yang lembut mengikat tangan yang tidak bersalah itu, yang mungkin sudah sering kali terangkat untuk menerima berkatnya, dan terentang untuk memeluknya, namun sekarang harus diikat lebih erat dengan tali kasih dan kewajiban! Namun, bagaimanapun juga, itu harus dilakukan. Setelah mengikat Ishak, ia membaringkannya di atas mezbah, lalu tangannya diletakkan di kepala korbannya. Dan sekarang, bisa kita duga, dengan banjir air mata, ia memberikan, dan menerima, salam terakhir serta ciuman perpisahan: mungkin ia menerima satu salam dan ciuman lagi untuk Sara dari anaknya yang akan mati. Karena ini harus dilakukan, dengan tekad bulat ia melupakan kerahiman seorang bapak, dan menampakkan kegarangan yang menakutkan dari seorang penyembelih korban. Dengan hati yang mantap, dan mata yang terangkat ke sorga, ia mengambil pisau, dan merentangkan tangannya untuk memberikan potongan yang mematikan itu pada tenggorokan Ishak. Terkejutlah hai langit akan hal ini!. Dan takjublah, hai bumi! Inilah sebuah tindakan iman dan ketaatan, yang pantas ditonton oleh Allah, para malaikat, dan manusia. Anak kesayangan Abraham, gelak tawa Sara, harapan jemaat, ahli waris perjanjian, tergeletak siap berdarah dan mati di tangan bapaknya sendiri, yang tidak pernah berniat untuk mundur melakukannya. Nah, ketaatan Abraham dalam mempersembahkan Ishak ini merupakan gambaran yang hidup, (1) Akan kasih Allah terhadap kita, dalam menyerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk menderita dan mati bagi kita, sebagai korban. TUHAN sendiri berkehendak meremukkan dia. Lihat Yesaya 53:10; Zakharia 13:7. Abraham, baik dalam kewajiban maupun rasa syukur, harus berpisah dengan Ishak, dan berpisah dengan dia sebagai teman. Tetapi Allah tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap kita, sebab kita adalah musuh. (2) Akan kewajiban kita kepada Allah, sebagai balasan terhadap kasih itu. Kita harus menapaki jejak-jejak langkah iman Abraham ini. Allah, melalui firman-Nya, memanggil kita untuk berpisah dengan segalanya demi Kristus, semua dosa kita, meskipun sudah menjadi seperti tangan kanan, atau mata kanan, atau seorang Ishak. Semua hal yang bersaing dan memusuhi Kristus untuk merebutkan kedaulatan atas hati kita (Luk. 14:26). Dan kita harus dengan riang hati melepaskan mereka semua. Allah, melalui pemeliharaan-Nya, yang benar-benar merupakan suara-Nya, adakalanya memanggil kita untuk berpisah dengan seorang Ishak, dan kita harus melakukannya dengan berserah diri dan tunduk pada kehendak-Nya yang kudus, yang harus kita lakukan dengan riang hati (1Sam. 3:18). * Ishak Diselamatkan (Kejadian 22:11-12) Sampai di sini cerita ini sangat menyedihkan, dan tampak bergegas menuju akhir yang teramat tragis. Tetapi di sini langit tiba-tiba cerah, matahari memancarkan sinarnya, dan terbukalah pemandangan yang cerah serta menyenangkan. Tangan yang sama yang sudah melukai dan menekan di sini menyembuhkan dan mengangkat. Sebab, meskipun menyebabkan penderitaan, Allah akan berbelas kasihan. Malaikat TUHAN, yaitu Allah sendiri, Sang Firman yang kekal, Malaikat perjanjian, yang akan menjadi Sang Penebus dan Penghibur yang agung, menengahi dan membawa ujian ini pada akhir yang membahagiakan. I. Ishak diselamatkan (ay. 11-12). Perintah untuk mempersembahkan dia sebagai korban bakaran hanya dimaksudkan sebagai ujian, dan setelah diuji, tampak bahwa Abraham benar-benar lebih mengasihi Allah daripada mengasihi Ishak, dan tujuan dari perintah itu pun terpenuhi sudah. Oleh sebab itu, perintahnya dibatalkan, tanpa sama sekali mengurangi ketidakberubahan keputusan-keputusan ilahi: Jangan bunuh anak itu. Perhatikanlah, 1. Penghiburan-penghiburan kita yang berasal dari makhluk fana akan terus diberikan kepada kita apabila kita sungguh-sungguh rela menyerahkan semuanya itu kepada kehendak Allah. 2. Waktu Allah untuk menolong dan melegakan umat-Nya adalah ketika mereka terjepit dalam keadaan yang paling sukar. Semakin dekat bahaya yang mengancam, dan semakin dekat bahaya itu menimpa kita, semakin ajaib dan semakin disambutlah kelepasan. II. Abraham tidak hanya dibenarkan, tetapi juga dipuji. Ia memperoleh kesaksian yang terhormat sebagai orang benar: Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah. Allah sudah mengetahui itu sebelumnya, tetapi sekarang Abraham memberikan bukti yang akan selalu dikenang. Ia tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Apa yang sudah dilakukannya sudah cukup untuk membuktikan betapa ia sangat beribadah kepada Allah dan tunduk pada wewenang-Nya. Perhatikanlah, 1. Apabila Allah, dengan pemeliharaan-Nya, menghalang-halangi pelaksanaan dari niat-niat kita yang tulus untuk melayani Dia, maka Ia dengan penuh rahmat menerima niat sebagai perbuatan, dan menerima usaha yang tulus itu, meskipun itu tidak terlaksana. 2. Bukti terbaik bahwa kita takut akan Allah adalah kerelaan hati kita untuk melayani dan menghormati Dia dengan apa yang paling kita kasihi, dan berpisah atau menyerahkan semuanya kepada Dia dan demi Dia.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: Khotbah GMIM Minggu, 15 September 2024 - MEMPERLENGKAPI ORANG KUDUS BAGI PEMBANGUNAN TUBUH KRISTUS - Efesus 4:1-16 Sebelum: Renungan GMIM Senin, 2 September sd. Jumat, 7 September 2024 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,