gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 190 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2024
Minggu, 14 Juli 2024

Khotbah GMIM Minggu, 14 Juli 2024 - Bersama Membangun Bait Tuhan - Zakharia 6:9-15
Perhatikanlah, bermacam-macam cara dipakai untuk menopang iman orang-orang kudus di zaman Perjanjian Lama, yang menantikan penghiburan bagi Israel, hingga waktunya, saat yang telah ditentukan, tiba.

Tema Bulanan: "Saksikan dan Kabarkan Injil, Baik atau Tidak Baik Waktunya"
Tema Mingguan: "Bersama Membangun Bait Tuhan"
Bacaan Alkitab: Zakharia 6:9-15

Zakharia 6:9-15
Kerajaan Sang Tunas di Yerusalem
6:9 Datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: 6:10 "Pergilah pada hari ini juga ke rumah Yosia bin Zefanya dan pungutlah persembahan dari pihak orang-orang buangan, yaitu dari Heldai, Tobia dan Yedaya, semuanya orang-orang yang sudah datang kembali dari Babel, 6:11 pungutlah perak dan emas, buatlah mahkota dan kenakanlah itu pada kepala imam besar Yosua bin Yozadak; 6:12 katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Inilah orang yang bernama Tunas. Ia akan bertunas dari tempatnya dan ia akan mendirikan bait TUHAN. 6:13 Dialah yang akan mendirikan bait TUHAN, dan dialah yang akan mendapat keagungan dan akan duduk memerintah di atas takhtanya. Di sebelah kanannya akan ada seorang imam dan permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua. 6:14 Dan mahkota itu akan tetap tinggal dalam bait TUHAN sebagai tanda peringatan akan Heldai, Tobia, Yedaya dan akan Yosia bin Zefanya. 6:15 Orang-orang dari jauh akan datang untuk turut membangun bait TUHAN; maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku kepadamu. Dan hal ini akan terjadi, apabila kamu dengan baik-baik mendengarkan suara TUHAN Allahmu."

Penjelasan:
* Penobatan Yosua; Nubuatan tentang Mesias (6:9-15)

Sejak dahulu kala, Allah telah berbicara kepada umat-Nya lewat para nabi berulang kali dan dengan pelbagai cara. Dalam perikop pertama pasal ini, Ia berbicara lewat sebuah penglihatan yang hanya dapat dilihat oleh Zakharia sendiri. Sekarang, dalam perikop kedua, Ia berbicara lewat sebuah tanda atau perlambang yang dilihat oleh banyak orang. Dijelaskan pula bahwa tanda itu merupakan nubuatan yang mulia mengenai Mesias sebagai imam besar sekaligus raja atas umat-Nya. Pada perikop tersebut kita temukan,

I. Upacara penting yang diperintahkan Allah, yaitu penobatan Yosua sang imam besar (ay. 10-11).
Tampak jelas bahwa dalam Perjanjian Lama ada dua gambaran terkemuka yang menjadi perlambang Kristus, keduanya bernama Yosua (nama ini sama dengan Yesus, dan dalam Septuaginta serta Perjanjian Baru diterjemahkan sebagai Yesus, Kis. 7:45), yakni Yosua sang panglima perang sebagai gambaran Kristus sang panglima keselamatan. Dan Yosua sang imam besar sebagai gambaran Kristus sebagai imam besar dari pengakuan iman kita. Pada zaman mereka, keduanya menjadi penyelamat dan pemimpin umat memasuki tanah Kanaan. Dan khususnya di sini Yosua sang imam besar mengalami perlakuan istimewa oleh ketetapan ilahi yang bertujuan agar ia menjadi gambaran Kristus, seorang imam menurut peraturan Melkisedek, yang adalah raja sekaligus imam. Yosua sama sekali tidak berkeinginan mengemban mahkota, dan rakyat juga tidak bercita-cita mengangkat seorang pemimpin atas mereka. Namun, alangkah mengejutkan bagi kedua belah pihak, Nabi Zakharia diperintahkan untuk memahkotai Yosua layaknya seorang raja. Karena kebijaksanaan dan kesalehan, Zerubabel tidak menganggap hal ini sebagai penghinaan atas dirinya. Penyelenggaraan Allah juga menjaga supaya raja-raja Persia tidak tersinggung dan menganggapnya sebagai pemberontakan terhadap mereka. Saat kita yakin bahwa sesuatu yang kita perbuat berkenan kepada Allah, kita akan berani menghadapi risiko dimurkai manusia.

1. Beberapa orang Yahudi datang dari Babel membawa persembahan ke rumah Allah. Mereka adalah orang-orang buangan, yang disebutkan namanya di sini sebagai kehormatan bagi mereka, yang kembali dari Babel dalam kunjungan ke Yerusalem. Mereka seharusnya sudah meninggalkan Babel dan menetap bersama sanak saudara mereka di negerinya sendiri. Namun, mereka lalai dan abai melakukannya, sehingga bermaksud menebus kesalahan itu dengan mengunjungi Yerusalem. Kemungkinan mereka datang sebagai utusan dari perhimpunan orang Yahudi di Babel yang tinggal di sana dengan nyaman dalam kekayaan. Nah, saat mendengar bahwa pembangunan Bait Suci terhambat karena kekurangan biaya, mereka mengutus orang-orang itu untuk membawakan persembahan emas dan perak bagi pekerjaan pelayanan di rumah Allah. Perhatikanlah, barang siapa tidak dapat memberi diri untuk suatu pekerjaan baik karena alasan jarak dan lainnya, ia harus melakukannya lewat dompetnya semampunya. Yang satu menyediakan tangan, yang lain mengisinya.

2. Ditetapkan waktu dan tempat bagi Zakharia untuk menjumpai mereka. Mereka berencana memberikan persembahannya kepada imam, pelayan Allah yang biasa, tetapi Allah mempunyai seorang nabi, pelayan-Nya yang khusus, yang siap untuk menerima mereka beserta persembahannya. Kehadiran nabi ini akan menjadi penghiburan bagi mereka yang selama dalam pembuangan telah acapkali mengeluh, “Tandatanda kami tidak kami lihat, tidak ada lagi nabi.” Keberadaan nabi juga akan mengundang mereka untuk kembali menempati negeri mereka sendiri, sebab adanya nabi membuat negeri itu terlihat sebagaimana layaknya tanah suci, ketika Roh nubuat dibangkitkan lagi di dalamnya. Zakharia diperintahkan untuk menemui mereka pada hari ini juga ketika mereka datang. Sebab saat mereka tiba, mereka tidak akan membuang waktu, tetapi memberikan persembahan mereka sesegera mungkin, dan menyambut mereka guna meyakinkan bahwa Allah sudah menerima persembahan mereka. Zakharia harus menjumpai mereka di rumah Yosia bin Zefanya, yang kemungkinan adalah pejabat penerima keuangan Bait Suci dan yang menyimpan perbendaharaannya. Mereka membawa emas dan perak untuk dipakai bagi kepentingan Bait Suci, tetapi Allah memerintahkan agar emas perak itu digunakan bagi kehormatan Seseorang yang melebihi Bait Allah (Mat. 12:6).

3. Mahkotanya harus dibuat dan dikenakan pada kepala imam besar Yosua (ay. 11). Sepertinya ada dua mahkota yang disiapkan, satu dari perak dan yang lain dari emas. Yang perak menyatakan martabat keimaman, dan yang emas menunjukkan martabat rajawi (menurut sejumlah penafsir). Atau lebih tepat lagi, karena ia sudah memegang jabatan imam dan sudah mengenakan mahkota emas murni untuk menunjukkan martabat dan kuasa sebagai imam, maka mahkota dari emas dan perak ini sama-sama melambangkan martabat rajawi. Mahkota perak mungkin dimaksudkan untuk melambangkan kerajaan Mesias sewaktu Ia berada di bumi, karena pada saat itu Dialah Raja orang Israel (Yoh. 1:49), sedangkan mahkota emas melambangkan kerajaan-Nya pada saat Ia telah dimuliakan dalam keagungan yang jauh melampaui kemuliaan-Nya saat masih di bumi, sebagaimana emas lebih mulia daripada perak. Matahari bersinar bagaikan emas ketika ia terbit dalam kemegahannya, sementara kemilau rembulan yang beredar dengan indahnya kita sebut cahaya keperakan. Orang-orang yang menyembah matahari dan bulan akan tersungkur di hadapan mahkota emas dan perak dari sang Penebus yang ditinggikan, yang dihadapan-Nya matahari tersipu-sipu dan bulan menjadi malu karena kalah terang.


II. Makna yang Tuhan berikan mengenai upacara ini. Setiap orang tentu bertanya-tanya,
“Apa artinya Yosua dimahkotai?” Dan nabi Zakharia sudah siap menjelaskan maknanya. Dalam perkataan ini terkandung sebuah nubuatan, dan tanda itu dipakai untuk membuat nubuatannya semakin diperhatikan dan lebih diingat. Nah, janji itu adalah,

1. Ketika genap waktunya, Allah berkenan membangkitkan seorang imam besar agung, seperti Yosua. Katakan kepada Yosua bahwa ia hanyalah gambaran dari seorang lain yang akan datang, ia hanya bayang-bayang yang kabur dari orang itu (ay. 12): Katakanlah kepadanya demi nama TUHAN semesta alam, bahwa seorang yang bernama TUNAS akan bertunas dari tempatnya, dari Betlehem kota Daud, tempat yang ditetapkan bagi kelahirannya. Sekalipun keluarganya berakar di tanah kering, namun tunas ini akan tumbuh keluar dari sana, seperti pada musim semi ketika mentari bersinar kembali, bunga-bunga pun bersemi dari tunggulnya, setelah sekian lama terkubur di dalamnya tidak terlihat dan dipikir orang. Ia akan bertunas dari dirinya sendiri (menurut sebagian penafsir) propia virtute -" dengan tenaga kehidupannya sendiri, ia akan bangkit di dalam kuasa-Nya sendiri.

2. Sebagaimana Yosua adalah alat yang giat berperan dalam pembangunan Bait Suci, demikian juga orang yang bernama TUNAS itu akan pembangun ahli, pembangun tunggal yang mendirikan Bait Suci rohani, yakni jemaat Injil. Ia akan mendirikan bait Tuhan, bahkan diulangi lagi dalam ayat 13, Dialah yang akan mendirikan bait Tuhan. Ia akan tumbuh untuk melakukan kebaikan, untuk menjadi alat kemuliaan Allah dan berkat yang besar bagi umat manusia. Perhatikanlah, jemaat Injil adalah bait TUHAN, suatu rumah rohani (1Ptr. 2:5), bait Allah yang kudus (Ef. 2:21). Di dalam Bait-Nya, Allah menyatakan diri kepada umat-Nya, dan di sana pula Ia menerima bakti dan penghormatan dari umat-Nya. Demikian pula di dalam jemaat Injil, cahaya wahyu ilahi bersinar lewat firman, dan persembahan rohani berupa doa dan pujian dipersembahkan. Nah, Kristus bukan hanya pondasi, tetapi juga pendiri Bait ini, oleh Roh dan anugerah-Nya.

3. Kristus akan mendapat keagungan. Keagungan merupakan suatu beban, namun tidak terlampau berat bagi Dia yang menopang segala sesuatu. Salib adalah kemuliaan-Nya, dan Ia memikul salib itu. Demikian juga mahkota adalah kemuliaan yang melebihi segala-galanya, dan Ia menyandangnya. Pemerintahan ada di atas bahu-Nya, dan dengan itu Ia mendapat keagungan (Yes. 9:6). Padanya akan digantungkan segala keagungan rumah Bapa-Nya (Yes. 22:24, KJV). Kemuliaan itu adalah Dia, dan Ia par negotio -" sangat mampu menanggungnya. Selama ini, kemuliaan jabatan imam dan raja terbagi antara keturunan Harun dan keluarga Daud. Namun, sekarang Ia sendiri akan mengemban keduanya. Sesungguhnya, yang akan ditanggung dan dipikulnya adalah kemuliaan orang Israel. Mereka harus menunggunya, dan dalam penantian itu mereka harus berpuas diri dengan ketiadaan keagungan lahiriah yang sebelumnya ada pada mereka. Ia akan mendapat keagungan sedemikian rupa hingga membuat keagungan Bait Suci yang baru lebih besar daripada Bait Suci yang semula. Ia akan meninggikan kemuliaan (demikian dapat dibaca juga), kemuliaan Israel yang pernah dicampakkan dan dipadamkan, akan dibangkitkan-Nya kembali dari dalam debu.

4. Ia akan memiliki takhta dan menjabat sebagai imam sekaligus raja di atas takhta-Nya. Takhta melambangkan martabat dan kekuasaan, suatu kehormatan luhur dengan kekuasaan yang besar dan luas.
(1) Imam ini akan menjadi raja, dan jabatan sebagai imam tidak akan menyusutkan martabat-Nya sebagai raja. Dia akan duduk memerintah di atas takhtanya. Sebagai imam besar, Kristus hidup untuk mengadakan pengantaraan bagi kita, tetapi Ia mengerjakannya sembari duduk di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai pemegang kuasa. Kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang belum pernah dimiliki orang Israel, sebab Ia duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga (Ibr. 8:1), yang menganugerahkan nilai tertinggi pada peran perantaraan-Nya. Ia yang masuk mewakili kita ke balik tirai ruang mahakudus adalah juga Dia yang duduk dan memerintah di sana. Kristus, yang ditetapkan untuk mempersembahkan korban bagi kita, juga dilimpahi kuasa untuk memberi hukum kepada kita. Ia tidak akan menyelamatkan kita kecuali kita bersedia dipimpin oleh-Nya. Allah sudah mempersiapkan bagi-Nya takhta di sorga, dan bila kita ingin mendapat berkatnya, kita pun harus mempersiapkan bagi-Nya takhta dalam hati kita dan dengan senang hati menerima-Nya duduk memerintah di atas takhta itu. Kepada Dialah seluruh akal budi kita harus tunduk dan taat.

(2) Raja ini akan menjadi imam juga, seorang imam di atas takhtanya (6:13, KJV). Dengan keagungan dan kuasa sebagai raja, ia memiliki kelemahlembutan dan kesederhanaan seorang imam, karena imam dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia, dan dapat mengerti orang-orang yang sesat (Ibr. 5:1-2). Dalam segala tindakan pemerintahannya sebagai raja, ia melaksanakan segala maksud anugerah-Nya sebagai imam. Karena itu, hendaklah umat kepunyaan-Nya jangan memandang takhta-Nya, meskipun itu takhta kemuliaan dan takhta penghakiman, dengan rasa gentar dan ngeri, sebab seperti suatu pelangi melingkungi takhta itu, demikian pula Ia adalah imam di atas takhta.

5. Permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua. Artinya,
(1) Di antara Yahweh dan sang Tunas, antara Bapa dan Anak. Permufakatan tentang damai yang diadakan antara Allah dan manusia lewat perantaraan Kristus akan disusun (artinya, akan tampak bahwa sudah selesai disusun) oleh sang Hikmat Kekal dalam kovenan penebusan. Bapa dan Anak saling memahami dengan sempurna dalam perkara tersebut. Atau, perkataan “di antara mereka berdua” lebih tepat berarti,

(2) Antara imam dan takhtanya, yakni antara jabatan imam dan jabatan raja dari Yesus Kristus. Sang Tunas harus bertumbuh untuk menjalankan permufakatan tentang damai, damai di bumi, dan untuk itu diperlukan damai dengan sorga. Rancangan Allah bagi kita adalah rancangan damai sejahtera, dan untuk menggenapkannya, Ia meninggikan Anak-Nya, Kristus Yesus, untuk menjadi Raja sekaligus Juruselamat. Ia mengaruniakan kepada-Nya takhta, namun dengan ketentuan bahwa Ia harus menjadi imam di atas takhtanya. Dengan menjalankan dua jabatan itu, yakni sebagai imam dan raja, Ia akan melaksanakan usaha besar, yaitu mendamaikan manusia dengan Allah dan mendatangkan kebahagiaan manusia dalam Allah. Sebagian penafsir beranggapan bahwa ini mengacu pada bentuk pemerintahan bangsa Yahudi sebelumnya, di mana raja dan imam, dua jabatan yang terpisah, meminta nasihat satu sama lain demi terpeliharanya damai dan kemakmuran mereka sebagai umat dan negara, seperti yang saat itu dilakukan juga oleh Zerubabel dan Yosua. Saya tambahkan juga, mereka dibantu oleh nabi-nabi Allah. Demikianlah damai dan kesejahteraan jemaat Injil serta semua orang percaya dikerjakan, tetapi bukan oleh dua pribadi yang terpisah, melainkan oleh fungsi dua jabatan berbeda yang bergabung dalam satu orang, yaitu Kristus yang membayar seluruh perdamaian dengan keimaman-Nya serta memelihara dan menjaganya dengan kerajaan-Nya, demikian menurut cendekiawan Tuan Pemble. Jabatan kenabian-Nya pun berguna bagi kedua jabatan-Nya dalam rancangan besar ini.

6. Orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain akan bergabung dalam jemaat Injil,
dan mereka semua akan dipersatukan dalam Kristus, sang Imam di atas takhta-Nya, sebagai pusat kesatuan mereka (ay. 15): Orang-orang dari jauh akan datang untuk turut membangun bait Tuhan. Sebagian penafsir mengartikannya sebagai orang-orang Yahudi yang saat itu berada jauh di Babel, menetap di sana setelah pembuangan, sehingga mengecewakan saudara-saudara mereka yang telah kembali dan menginginkan bantuan mereka untuk membangun Bait Suci. Nah, Allah menjanjikan bahwa banyak dari antara mereka, bahkan sejumlah bangsa lain juga, yang masuk ke agama Yahudi, akan datang dan turut membantu pembangunan Rumah Tuhan. Banyak tangan akan meringankan pekerjaan. Raja-raja Persia juga memberi sumbangsih dalam pembangunan Bait Suci (Ezr. 6:8) dan perlengkapannya (Ezr. 7:19-20). Dan juga setelah itu, Herodes Agung dan orang-orang dari bangsa asing juga membantu mempercantik serta memperkaya Bait Suci itu. Akan tetapi, ayat ini memiliki arti lebih jauh lagi, yakni kepada Rumah Tuhan yang akan dibangun oleh sang Tunas. Bangsa-bangsa lain, yakni orang-orang yang dari jauh, akan membantu membangunnya, sebab dari antara mereka Allah akan membangkitkan para pelayan yang akan bekerja bersama Kristus pada bangunan itu. Semua orang dari bangsa lain yang bertobat akan menjadi batu-batu yang disusun pada bangunan ini sehingga menjadi bait Allah yang kudus (Ef. 2:20-22). Ketika Rumah Tuhan harus dibangun, Ia dapat menjemput orang-orang yang jauh sekalipun dan mempekerjakan mereka dalam pembangunannya.

7. Penggenapan hal tersebut akan menjadi bukti nyata kebenaran firman Allah:
Kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku kepadamu. Janji tadi, bahwa orang-orang dari jauh akan datang dan turut membangun bait Tuhan, menjadi tanda yang diberikan kepada mereka. Oleh tanda itu mereka dapat yakin bahwa janji-janji yang lain pun akan digenapi pada waktunya. Janji itu akan digenapi dengan segera. Demikianlah terjadi, sebab orang-orang yang semula menjadi musuh dan pendakwa mereka kemudian taat pada titah raja lalu menjadi penolong mereka, dan dengan cepat mereka mengerjakan apa yang diperintahkan bagi kemajuan pembangunan itu, sehingga pekerjaan tersebut berlanjut dan rampung (lih. Ezr. 6:13-14). Nah, dengan datangnya bantuan tak disangka-sangka dari orang-orang yang jauh dalam pembangunan Bait Suci, mereka akan mengetahui bahwa Zakharia, yang sudah mengatakan itu sebelumnya, diutus oleh Tuhan, dan karena itu juga perkataannya mengenai sang Tunas pun pasti akan terjadi juga.

8. Janji-janji itu menuntut tanggung jawab ketaatan:
“Hal ini akan terjadi, yaitu kamu akan mendapat bantuan untuk membangun Bait Suci, apabila kamu dengan baik-baik mendengarkan suara TUHAN Allahmu. Kamu akan menerima bantuan orang-orang asing dalam pembangunan Rumah Allah, jika kamu sendiri bertekad melakukannya dengan sungguh-sungguh.” Bantuan pihak lain tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk bermalas-malas, sebaliknya harus memacu kita untuk giat bekerja. “Kamu akan menerima berkat dan penghiburan dari semua janji ini bila kamu sadar akan kewajibanmu.” Mereka harus tahu bahwa janji itu bergantung pada perilaku baik mereka, dan meskipun Allah mereka memperlakukan umat-Nya dengan belas kasih, mereka tidak boleh mengharapkan belas kasihan-Nya akan ada terus bila tidak hidup seturut hukum-Nya. Perhatikanlah, yang dituntut Allah dari kita supaya kita layak menerima perkenanan-Nya adalah ketaatan kita pada kehendak-Nya yang telah Ia nyatakan, dan ketaatan itu haruslah dilakukan dengan tekun. Kita tidak dapat mendengarkan suara TUHAN tanpa kepedulian dan usaha yang besar. Ketaatan kita juga tidak akan diterima oleh-Nya jika kita tidak berusaha keras mengerjakannya.


III. Ketetapan yang dibuat agar janji ini tetap diingat.
Mahkota yang dipakai dalam upacara tersebut tidak diberikan kepada Yosua, tetapi harus tetap tinggal dalam bait Tuhan (ay. 14), entah disimpan di dalam perbendaharaan Bait Suci, atau (menurut tradisi Yahudi) digantung di jendela Bait Tuhan untuk dilihat semua orang, in perpetuam rei memoriam  sebagai kenangan yang kekal, untuk menjadi bukti turun-temurun akan janji tentang Mesias dan tanda simbolis yang dipakai untuk meneguhkan janji itu. Mahkotamahkota itu diserahkan kepada mereka yang menyediakan bahan-bahannya (sebagian penafsir beranggapan bahwa nama-nama mereka diukirkan pada mahkota itu), untuk disimpan sebagai kesaksian bagi khalayak ramai akan kemurahan hati mereka dan dorongan semangat bagi yang lain untuk membawa persembahan ke rumah Allah. Perhatikanlah, bermacam-macam cara dipakai untuk menopang iman orang-orang kudus di zaman Perjanjian Lama, yang menantikan penghiburan bagi Israel, hingga waktunya, saat yang telah ditentukan, tiba.



ALASAN PEMILIHAN TEMA
Bagi orang Israel Bait Tuhan merupakan simbol keberadaan pemeluk agama dan diyakini tempat kehadiran Tuhan Allah dalam dunia. Mulanya, umat Israel dalam Perjanjian Lama memiliki Kemah Suci (disebut juga Kemah Pertemuan), tempat Tuhan menyatakan kehadiran-Nya (Kel. 25:8-9) dan tempat memberikan persembahan. Kemah Suci dapat dibongkar-pasang atau diangkat ke mana saja umat Israel berjalan dan berkemah. Daud terpanggil membangun Bait Tuhan permanen (1 Taw. 17:1), sehingga ia mengumpulkan bahan-bahan untuk itu. Namun Salomo yang diperkenankan Tuhan Allah melaksanakan pembangunannya. Bait Tuhan dihancurkan oleh tentara Babel. Dibangun kembali sesudah pembuangan ke Babel, digunakan sebagai pusat peribadatan sampai zaman Yesus Kristus yang telah mengalami berbagai renovasi. Dan dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 M. Selanjutnya ada sinagoge, rumah pertemuan sejak abad ke-3 M menjadi tempat beribadah umat Kristen.

Saat ini, istilah Bait Tuhan dipahami sebagai tempat beribadah persekutuan orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. GMIM memahami ada dua bentuk gereja yaitu gereja yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dua eksistensi Bait Tuhan ini sering diperdebatkan. Ada yang mengutamakan Bait Tuhan secara kelihatan seperti gedung, struktur, sumber daya dan dana sehingga mengabaikan pembangunan spiritual umat. Sebaliknya, ada yang menganggap bahwa Bait Tuhan secara fisik tidaklah sepenting persekutuan orang percaya, sehingga pembangunan fisik terabaikan. Tema perenungan minggu ini akan dituntun oleh tema "Bersama Membangun Bait Tuhan." berefleksi dari Zakharia 6:9-15.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Zakharia adalah anak Berekhya dan cucu Ido (Za. 1:1); Pada bagian lain disebut anak Ido (Ezr. 5:1, 6:14, bnd. Neh. 12:16) - kepala dari sebuah keluarga imam, yang menunjukkan bahwa Zakharia berasal dari suku Lewi, yang setelah pembuangan melayani di Yerusalem sebagai imam dan nabi. Zakharia bersama Hagai, mendorong umat untuk membangun kembali Bait Tuhan setelah dihancurkan Babel pada tahun 587 s.M. Memang, pada tahun 538 s.M, ketika umat Yehuda kembali ke Yerusalem dari pembuangan di Babel, mereka telah meletakan fondasi untuk pembangunan Bait Tuhan yang baru, namun pekerjaan itu terhenti. Umat mengeluh tidak bisa meneruskan pembangunan karena panen sedikit, makanan dan uang kurang (bnd. Hag. 1:1-6), sehingga tahun 520 s.M., Zakharia dan Hagai mendorong umat untuk menyelesaikan
pekerjaan tersebut.

Kitab Zakharia berisi penglihatan, perkataan nabi dan tulisan apokaliptik. Dimulai dengan nasihat agar umat bertobat, Zakharia mendorong umat untuk semangat dalam pembangunan kembali Bait Tuhan. Ia menerima delapan penglihatan untuk meyakinkan umat tentang kepedulian dan kekuasaan Tuhan Allah atas masa kini dan masa depan. Setelah delapan penglihatan, Pasal 6 Zakharia menerima Firman Tuhan (ayat 9). Ungkapan: Datanglah Firman Tuhan kepadaku menegaskan bahwa yang diterima Zakharia bukan berasal dari manusia. Tuhan Allah yang berinisiatif memakai Zakharia. Firman Tuhan itu berisi perintah untuk pergi ke rumah Yosia anak Zefanya; penjaga harta-benda Bait Suci yang dipulangkan dari Babel; pemilik rumah yang kaya raya di Yerusalem.

Pungutlah persembahan dari pihak orang-orang buangan (ayat 10) yaitu dari Heldai, Tobia, dan Yedaya (orang-orang yang kembali dari pembuangan dan tinggal di rumah Yosia). Persembahan tersebut adalah emas dan Perak. Orang-orang Lewi dan imam Yahudi yang kembali dari Babel datang dengan hadiah dari istana Persia untuk membantu membangun kembali Bait Tuhan (Ezra 7:13-16; 8:24-30). Bagian ini menegaskan tentang persembahan/ pemberian menjadi sumber utama pembangunan Bait Tuhan.

Buatlah mahkota, untuk dikenakan pada kepala imam besar Yosua (ayat 11). Imam tidak pernah memakai mahkota. Sebagai gantinya imam besar memakai ikat kepala seperti yang dipakai Harun (Kel. 28:4, 37; 25:6; 39:28-31; Im. 8:9; 16:4). Ada dua pandangan tentang ini: Pertama, Mahkota (Ibrani: atara) ini dipakaikan kepada Zerubabel bukan Yosua. Kedua, ada dua mahkota di sini, dipakaikan kepada Zerubabel dan Yosua, mengingat kata atara yang digunakan berbentuk jamak atereth.

Inilah orang yang bernama Tunas ... akan mendirikan Bait Tuhan (ayat 12). Tunas (Ibrani: zemah) sebagaimana dalam penglihatan keempat, adalah Mesias dari keturunan Daud - yang paling dekat dihubungkan dengan Zerubabel - dialah yang akan membangun Bait Tuhan (Lih. 4:7-10). Lagipula terjemahan kata inilah orang dalam ayat 12 yang lebih tepat adalah "seorang" (tidak ada kata sandang tertentu) yang bernama Tunas, sehingga bukan Yosua yang dimaksudkan di sini. Keterangan ini membuat ayat 13 dapat dimengerti, bahwa di sebelah kanan Tunas (Zerubabel) ada imam (Yosua) dan ada permufakatan tentang damai di antara mereka.

Lalu mengapa hanya Yosua yang dimunculkan dalam teks ini? Tokoh Zerubabel dileburkan dalam diri imam besar Yosua, sepertinya pasal 6 menekankan tentang peran imam dan kerohanian dalam pembangunan Bait Tuhan dan mempersiapkan kedatangan Mesias. Memakaikan mahkota raja kepada imam Yosua adalah sebuah tindakan simbolis untuk menyatakan penggabungan jabatan raja dan imam menjadi satu. Dua jabatan dalam diri seseorang adalah spesial dalam Alkitab (ingat Melkisedek; Kej. 18:14; Ibr. 7). Ini adalah berita penguatan tentang pemimpin agama dan pemerintahan yang dipakai Tuhan Allah untuk melangsungkan pembangunan Bait Tuhan dan perlahan-lahan memulihkan kedamaian umat (ayat 13).

Pada kemudian hari, ini diakui sebagai sebuah petunjuk bahwa Mesias yang akan datang kelak Sang Tunas dari keturunan Daud yaitu Yesus Kristus (bnd. Yes. 11:1; 53:2; Yer. 23:5; 33:15) akan memangku dua jabatan/peran ini menjadi satu. Ia adalah Imam dan Raja, yang akan mendirikan Bait Tuhan, sehingga ini mernberikan pengharapan yang tinggi bagi umat. Jadi, bagi umat yang dalam pergumulan, berita pembangunan Bait Tuhan memberikan pengharapan tentang kehadiran Tuhan Allah dalam hidup umat dan pemulihan keadaan. Tidak ada kehancuran yang tidak dapat diperbaiki Tuhan Allah. Ia mau menyatakan kehadiran-Nya lewat hal-hal yang nampak dalam pandangan manusia dan salah satunya adalah lewat Bait-Nya.

Dan mahkota itu akan tetap tinggal dalam bait TUHAN sebagai tanda peringatan akan Heldai, Tobia, Yedaya dan akan Yosia bin Zefanya. (ayat 14). Dalam Kitab Ibrani (Bnd. juga Terjemahan Baru Edisi 2), nama Helem muncul menggantikan Heldai, dan nama Hen untuk Yosua, ini adalah nama panggilan untuk orang yang sama. Nama-nama mereka akan dikenang (sebuah berkat/ penghargaan) karena telah berkontribusi dalam pembangunan Bait Tuhan. Orang-orang jauh akan datang untuk turut membangun Bait Tuhan (ayat 15): menunjuk pada orang-orang Israel yang terserak di berbagai tempat, bahkan bangsa-bangsa lain akan ambil bagian. Di kemudian hari orang-orang percaya adalah tubuh Yesus Kristus, bangunan Bait Tuhan akan datang dari jauh dikumpulkan dari segala bangsa, suku, dan bahasa. Jelas bahwa membangun Bait Tuhan adalah tugas bersama umat Tuhan.

Dan hal ini akan terjadi, apabila kamu dengan baik-baik mendengarkan suara TUHAN Allahmu." (ayat 15). Tuhan Allah mengingatkan penyebab kehancuran Bait-Nya adalah karena umat tidak mendengar suara-Nya. Maka hal penting untuk bersama membangun Bait Tuhan adalah mendengar perintah dan kehendak -Nya: sehingga petunjuk-Nya yang terlaksana. Mendengar (Ibrani shema) berarti hear, listen to, obey: mendengar untuk memahami/mengerti, dan mematuhi/menaatinya. Ini berarti tanpa pertobatan, pembangunan iman dan kerohanian, mustahil terjadi pembangunan Bait Tuhan. Pembangunan Bait Tuhan secara fisik harus terjadi berbarengan dengan pembangunan rohani/iman.

Makna dan Implikasi Firman
1. Peran pemimpin sangat menentukan untuk membangun bersama Bait Tuhan. Pemimpin gereja kiranya menggunakan kewibawaan untuk mau terlibat aktif dalam pekerjaan pelayanan ini. Jika jemaat adalah bagian dari pemimpin pemerintahan, bekerjasamalah untuk turut membangun bersama, baik gereja maupun bangsa dan negara.

2. Diperlukan kerjasama untuk saling mendukung dengan mempersembahkan apa yang ada pada kita dalam pekerjaan ini. Uang, tenaga, waktu, talentaikemampuan kita, dapat menjadi persembahan yang menopang pembangunan Bait Tuhan. Dan apa yang kita persembahkan akan menjadi tanda peringatan bagi kita yang memberi persembahan.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024








Pelatihan Online EasyWorship 2009 mulai 06 April 2015
- Soal Latihan 1 EasyWorship 2009 - Pembuatan Slide Tata Ibadah
- Register | Login

Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Sebelum:
Obor GMIM Sabtu, 13 Juli 2024 - Selalu Mungkin Bagi Allah - Lukas 18:26-27




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(35)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(104)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(178)
Kidung(4)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(9)
Tentang GMIM(7)
xx(14)
xxx(8)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2024..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,