gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 907 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2024
Minggu, 30 Juni 2024

Khotbah Minggu, 30 Juni 2024 - Muliakanlah Allah Dengan Tubuhmu - 1 Korintus 6:12-20
Kita ini milik Tuhan. Seluruh hasrat badani kita harus seirama hasrat rohani kita, yaitu mengalami kendali Tuhan yang memberi arti dan memuliakan tubuh.

1 Korintus 6:12-20
Nasihat terhadap percabulan
6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun. 6:13 Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. 6:14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. 6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! 6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging." 6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. 6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. 6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Penjelasan:
* Melawan Percabulan (1 Korintus 6:12-20)

Ayat kedua belas dan bagian awal ayat ketiga belas ini tampaknya berkaitan dengan perbantahan sebelumnya yang pernah terjadi di antara orang-orang Kristen perihal perbedaan soal makanan, namun kemudian menjadi pengantar bagi peringatan selanjutnya yang menentang percabulan. Kaitannya cukup jelas jika kita perhatikan ketetapan yang terkenal dari para rasul itu (Kis. 15), di mana larangan memakan makanan tertentu digabungkan dengan larangan melakukan percabulan. Nah, tampaknya ada beberapa orang dari jemaat di Korintus yang begitu bebas dalam melakukan hal percabulan seperti halnya kebebasan memakan semua makanan, terutama karena perbuatan percabulan itu tidak dianggap sebagai dosa menurut hukum di negeri mereka. Mereka siap berkata, bahkan di dalam hal percabulan, segala sesuatu halal bagiku. Di sini Rasul Paulus menentang kesombongan yang merusak ini. Ia memberi tahu mereka bahwa banyak hal yang halal pada dasarnya tidaklah berguna pada waktu-waktu tertentu dan dalam keadaan-keadaan khusus. Lagi pula, seharusnya orang-orang Kristen tidak hanya mempertimbangkan apa yang halal untuk dilakukan, tetapi juga apa yang pantas untuk mereka lakukan, dengan mempertimbangkan pengakuan iman, tabiat, hubungan-hubungan, dan semua pengharapan mereka. Mereka harus sangat berhati-hati supaya jangan memperlakukan kebenaran umum ini terlampau jauh sehingga dapat membawa mereka masuk ke dalam perhambaan, baik dalam bentuk penyesatan yang licik ataupun kecenderungan yang bersifat duniawi. Segala sesuatu halal bagiku, kata Paulus, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun (ay. 12). Bahkan di dalam hal-hal yang dianggap halal sekalipun, ia tidak mau tunduk pada suatu kuasa yang dapat merampas kuasa yang ada pada dirinya. Sama sekali ia tidak menganggap halal bahwa perkara-perkara mengenai Allah dikuasai oleh pengaruh-pengaruh kuasa apa pun yang dari dunia ini. Perhatikanlah, ada suatu kebebasan yang digunakan Kristus untuk membebaskan kita, dan dalam kebebasan inilah kita harus berdiri teguh. Namun, pasti Paulus tidak akan pernah menggunakan kebebasan ini untuk membiarkan dirinya diperhamba oleh berbagai hawa nafsu kedagingan apa pun. Walaupun semua makanan dianggap halal, ia tidak akan pernah menjadi orang yang rakus atau pemabuk. Terlebih lagi, ia tidak akan pernah menyalahgunakan kebebasan yang halal ini untuk menyetujui dosa percabulan. Walaupun percabulan ini diperbolehkan oleh hukum orang Korintus, namun perbuatan ini merupakan pelanggaran terhadap hukum alam dan sama sekali tidak pantas bagi orang-orang Kristen. Ia tidak akan menyalahgunakan kebebasan tentang makan dan minum ini untuk mendorong keinginan makan dan minum secara berlebihan, atau untuk memper turutkan nafsu jasmaniah. “Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan (ay. 13), walaupun perut diciptakan untuk menerima makanan, dan makanan ditentukan untuk mengisi perut, namun jika itu tidak cocok bagiku, terlebih lagi kalau hal itu akan menyusahkan dan kemungkinan besar dapat memperhamba diriku, atau jika hal itu membahayakan diriku untuk diperhambakan oleh perut dan nafsu makanku, maka lebih baik aku tidak makan dan minum. Tetapi keduanya akan dibinasakan Allah, setidaknya hubungan di antara makanan dan perut itu. Akan tiba waktunya tubuh manusia tidak membutuhkan asupan makanan lagi.” Beberapa tokoh dahulu kala berpendapat bahwa hal ini harus dipahami sebagai pemberakhiran fungsi perut dan juga makanan. Dan, walaupun tubuh yang sama akan dibangkitkan pada hari yang mulia itu, namun tidak bersama-sama dengan semua anggota tubuhnya. Beberapa anggota tubuh sama sekali tidak akan diperlukan lagi di kehidupan yang akan datang, seperti perut misalnya, saat orang tidak akan pernah merasa lapar, haus, dan tidak perlu makan atau minum lagi. Namun, apakah hal ini benar atau tidak, nanti akan tiba waktunya kebutuhan dan penggunaan makanan akan dihapuskan. Perhatikanlah, pengharapan bahwa kita akan memiliki tubuh tanpa keinginan-keinginan jasmaniah di kehidupan yang akan datang merupakan alasan yang sangat baik bagi kita untuk berdiri kuat supaya tidak berada di bawah kuasa keinginan-keinginan itu dalam kehidupan sekarang ini. Tampak bagi saya bahwa inilah maksud dari penjelasan rasul Paulus, dan jelas bahwa bagian ini berkaitan dengan peringatannya terhadap percabulan, walaupun ada beberapa orang yang mengaitkan bagian ini dengan bagian penjelasan sebelumnya mengenai gugatan perkara hukum, khususnya gugatan di hadapan hakim-hakim yang tidak mengenal Allah dan musuh-musuh agama yang sejati. Mereka berpendapat, walaupun Rasul Paulus ingin menunjukkan bahwa sah-sah saja untuk menuntut hak kita, namun hal itu tidak selalu pantas, dan sama sekali tidak layak bagi orang-orang Kristen untuk mengajukan tuntutan untuk perkara-perkara sepele itu di bawah kuasa hakim-hakim, penasihat-penasihat hukum, dan pengacara-pengacara yang tidak mengenal Allah. Namun, tampaknya mengaitkan bagian ini dengan bagian mengenai masalah hukum itu tidaklah begitu wajar. Sangat jelas bahwa Paulus menggunakan penjelasan tentang tubuh dan makanan ini untuk beralih ke masalah percabulan: Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh (ay. 13). Makanan dan perut untuk masing-masing satu sama lain, namun tidak demikian halnya dengan percabulan dan tubuh.

I. Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan.
Ini adalah alasan pertama yang digunakan Paulus terhadap dosa ini.
Dosa ini yang memberikan nama buruk bagi penduduk Korintus yang tidak mengenal Allah, dan orang-orang Korintus yang telah bertobat dan percaya kepada Kekristenan tetap sangat menyukai dosa itu. Alasan Rasul Paulus ini menghalangi niat hati dan kebiasaan mereka. Tubuh bukanlah untuk percabulan. Tubuh tidak pernah diciptakan untuk maksud seperti itu, melainkan untuk Tuhan, untuk melayani dan mempermuliakan Allah. Tubuh harus menjadi alat kebenaran yang membawa kepada pengudusan (Rm. 6:19), dan itulah sebabnya tubuh tidak pernah boleh dijadikan alat kecemaran. Tubuh dimaksudkan untuk menjadi anggota tubuh Kristus, dan itulah sebabnya tubuh tidak boleh diserahkan kepada percabulan (ay. 15). Dan Tuhan untuk tubuh, artinya, seperti anggapan beberapa orang, Kristus harus menjadi Tuhan atas tubuh, memiliki hak dan kuasa atas tubuh itu, setelah Ia sendiri telah mengenakan tubuh jasmani dan turut mengambil bagian dalam kodrat kita, supaya Ia dapat menjadi Kepala dari jemaat-Nya dan Kepala dari segala yang ada (Ibr. 2:5, 18). Perhatikanlah, kita harus berhati-hati supaya jangan sampai menggunakan apa yang menjadi milik Kristus seolah-olah sebagai milik kita sendiri, apa lagi untuk mempermalukan Dia.

II. Beberapa orang memahami ayat terakhir ini, Tuhan untuk tubuh sebagai berikut.
Tuhan adalah untuk kebangkitan dan pemuliaan dari tubuh, sesuai dengan ayat 14 yang mengikutinya, yang menjadi alasan kedua melawan dosa ini. Kehormatan untuk dibangkitkan dan dimuliakan diberikan atas tubuh kita: Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya (ay. 14). Itu terjadi oleh kuasa-Nya yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya (Flp. 3:21). Adalah suatu kehormatan bagi tubuh bahwa Yesus Kristus dibangkitkan dari kematian, dan juga akan menjadi kehormatan bagi tubuh kita bahwa ia akan dibang kitkan. Jadi marilah kita jangan menyalahgunakan tubuh-tubuh itu dengan berbuat dosa dan menjadikannya hina. Jika tubuh-tubuh itu tetap dipertahankan kekudusannya, walaupun sekarang ada dalam keadaan hina, nanti akan dijadikan serupa dengan tubuh Kristus yang mulia. Harapan akan adanya kebangkitan menuju kemuliaan harus dapat mencegah orang-orang Kristen untuk tidak mencemarkan tubuh mereka dengan berbagai hawa nafsu kedagingan.

III. Alasan ketiga adalah karena kehormatan itu sudah dikenakan di atas tubuh:
Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? (ay. 15). Jika jiwa dipersatukan kepada Kristus melalui iman, maka manusia secara utuh menjadi anggota dari tubuh rohaniah-Nya. Dengan demikian, tubuh itu telah ada dalam persekutuan dengan Kristus, sama seperti jiwa. Betapa mulianya hal ini bagi orang-orang Kristen! Tubuh dagingnya sungguh menjadi bagian dari tubuh rohaniah Kristus. Perhatikanlah, sangatlah baik untuk mengetahui dalam hubungan terhormat seperti apa kita berada, supaya dengan begitu kita dapat berusaha keras untuk menjadi sesuai dengan hubungan itu. Karena itu Rasul Paulus melanjutkan, jadi akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Atau, akankah kulenyapkan anggota-anggota Kristus? Kalau sampai hal ini terjadi, bukankah ini suatu pelanggaran yang teramat besar, teramat keji? Tidakkah itu akan teramat sangat mempermalukan Kristus dan mempermalukan diri kita sendiri sejadi-jadinya? Ya ampun, menyerahkan anggota Kristus menjadi anggota perempuan cabul, melacurkan mereka untuk maksud yang begitu rendah! Pemikiran semacam itu harus dibenci dan dijauhi. Sekali-kali tidak. Tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, Paulus berkata, keduanya akan menjadi satu daging. Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia (ay. 16-17). Tidak ada lagi yang dapat menghancurkan segala hubungan dan persekutuan terhormat dari seorang Kristen selain dosa percabulan ini. Orang Kristen mengikatkan dirinya pada Tuhan dalam persekutuan dengan Kristus, dan oleh iman menjadi bagian dari Roh-Nya. Roh hidup, bernafas, dan bergerak di dalam kepala dan anggota-anggota. Kristus dan murid-murid-Nya yang setia adalah satu (Yoh. 17:21-22). Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia, sebab keduanya akan menjadi satu daging, oleh persetubuhan, yang hanya dapat dilakukan dalam hubungan pernikahan, sesuai dengan ketetapan Allah. Nah, akankah seseorang yang telah bersatu sedemikian dekatnya dengan Kristus sehingga menjadi satu roh dengannya, terikat erat juga dengan perempuan cabul sehingga menjadi satu tubuh dengan dia? Bukankah menyatukan Kristus dengan percabulan merupakan suatu perbuatan yang keji? Masih adakah penghinaan yang lebih besar daripada yang dilakukannya ini terhadap diri sendiri dan kita semua? Masih adakah perbuatan lain lagi yang membuat kita tidak sejalan dengan pengakuan iman dan hubungan kita dengan Kristus? Perhatikanlah, dosa percabulan mendatangkan kerugian besar bagi kepala dan Tuhan seorang Kristen, serta mendatangkan kehinaan besar dan noda bagi pengakuan imannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau Rasul Paulus berkata, “Jauhkanlah dirimu dari percabulan (ay. 18), hindarilah, jauhkan dirimu dari jangkauan godaan itu, dari hal-hal yang merangsang. Arahkan mata dan pikiranmu kepada hal-hal dan pikiran-pikiran lain.” Alia vitia pugnando, sola libido fugiendo vincitur -" perbuatan-perbuatan buruk lain dapat dikalahkan dengan pertempuran, tetapi yang ini hanya dapat dikalahkan dengan cara melarikan diri, demikianlah nasihat dari banyak bapa-bapa gereja.

IV. Alasan keempat adalah bahwa percabulan merupakan dosa terhadap tubuh kita sendiri.
Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri (ay. 18). Setiap dosa, artinya, setiap dosa lain, setiap perbuatan dosa luar, dilakukan di luar dirinya. Perbuatan dosa luar demikian tidak terlampau banyak menyalahgunakan tubuh seperti sebagian dosa lainnya, seperti halnya anggur bagi seorang pemabuk, makanan bagi orang yang rakus, dan seterusnya. Dosa seperti itu juga tidak memberikan kuasa atas tubuh kepada orang lain, juga tidak terlampau mendatangkan cela dan membawa aib bagi tubuh. Secara khas dosa percabulan disebut kenajisan, pencemaran, karena tidak ada dosa yang mengandung begitu banyak kekejian luar di dalamnya, khususnya di dalam diri seorang Kristen. Ia berdosa terhadap tu buhnya sendiri. Ia mencemarkannya, ia merendahkannya, menjadikannya satu tubuh dengan makhluk keji yang dengannya ia berbuat dosa. Ia melontarkan kehinaan yang keji atas apa yang sangat dimuliakan oleh Sang Penebus dengan mengikatkannya menjadi satu dengan diri-Nya sendiri. Perhatikanlah, kita tidak boleh membuat tubuh kita yang hina ini menjadi semakin hina dengan cara berbuat dosa terhadapnya.

V. Alasan kelima terhadap dosa percabulan ini adalah karena tubuh orang-orang Kristen merupakan bait Roh Kudus yang diam di dalam mereka,
dan yang mereka peroleh dari Allah (ay. 19). Orang yang telah dipersatukan dengan Kristus, menjadi satu roh dengan Dia. Orang itu telah diserahkan kepada Kristus, dan dengan demikian telah dikuduskan dan dipisahkan untuk digunakan-Nya, sehingga dimiliki, ditempati, dan dihuni oleh Roh Kudus. Inilah gagasan yang tepat mengenai suatu bait suci, yaitu tempat Allah berdiam, kudus untuk digunakan-Nya, oleh pernyataan-Nya sendiri dan penyerahan diri makhluk-Nya. Bait orang-orang Kristen sejati semacam itu adalah milik Roh Kudus. Bukankah Roh Kudus itu Allah sendiri? Namun, kesimpulannya jelas bahwa karena itu kita tidak menjadi milik kita sendiri. Kita sudah menyerahkan diri kepada Allah, dimiliki dan dipakai oleh Allah, bahkan merupakan keuntungan dari pembelian yang telah dilakukan bagi kita, kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Singkatnya, tubuh kita diciptakan bagi Allah dan ditebus untuk Dia. Jika kita adalah orang-orang Kristen yang sejati, bila tubuh kita diserahkan kepada-Nya, dan Dia menempati dan mendiami tubuh kita oleh Roh-Nya. Dengan demikian, tubuh kita bukanlah milik kita sendiri, melainkan milik-Nya. Jadi, akankah kita menajiskan bait-Nya, mencemarkannya, melacurkannya, serta menyerahkannya untuk digunakan dan untuk melayani percabulan? Sungguh suatu bentuk pencemaran yang mengerikan! Ini berarti merampasi Allah habis-habisan. Perhatikanlah, bait Roh Kudus harus dijaga kesuciannya. Tubuh kita harus dipelihara sebagaimana adanya milik-Nya, sebagaimana yang pantas untuk digunakan dan didiami-Nya.

VI. Rasul Paulus menunjukkan bahwa kita harus memuliakan Allah,
baik dengan tubuh kita maupun dengan roh kita, yang adalah milik-Nya (ay. 20, KJV). Ia menciptakan tubuh dan roh kita, Ia menebus keduanya, dan itulah sebabnya keduanya menjadi milik-Nya, dan harus digunakan dan dipekerjakan untuk melayani Dia. Itulah sebabnya keduanya tidak boleh dicemari, dipisahkan dari Dia, dan dilacurkan oleh kita. Tidak, itu tidak boleh terjadi, tubuh dan roh harus dijaga sebagai perkakas yang layak digunakan oleh Tuhan kita. Kita harus memandang diri kita sebagai kudus bagi Tuhan, dan menggunakan tubuh kita sebagai milik yang menjadi hak-Nya, serta yang telah dikuduskan untuk digunakan dan untuk melayani Dia. Kita harus memuliakan Allah dengan tubuh dan roh kita, yang adalah milik-Nya. Itulah sebabnya, dengan penuh kepastian kita harus menjauhkan diri dari percabulan. Tidak saja dengan cara menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan percabulan yang nyata, tetapi juga dari perzinahan di dalam hati, seperti yang pernah disebut oleh Tuhan kita (Mat. 5:28). Tubuh dan roh harus dijaga kesuciannya, supaya Allah dapat dimuliakan oleh keduanya. Allah akan dihina ketika keduanya dicemarkan oleh dosa yang seperti binatang itu. Itulah sebabnya, jauhkanlah dirimu dari percabulan, bahkan dari setiap dosa. Gunakan tubuhmu untuk memuliakan dan melayani Tuhan dan Pencipta kita. Perhatikanlah, kita bukanlah pemilik dari diri kita, juga tidak memiliki kuasa atas diri kita sendiri. Karena itu, kita tidak boleh menggunakan diri kita sesuai keinginan dan kesenangan kita sendiri, tetapi harus sesuai dengan kehendak-Nya dan untuk kemuliaan-Nya. Dia yang memiliki kita, dan kepada-Nya kita harus menyembah (Kis. 27:23).

* Penguasaan diri makin sulit ditemukan pada zaman ini. Orang Kristen pun banyak yang setir dan rem kehidupannya sudah melenceng dan "blong." Mengapa? Sebab moto hidup ke-banyakan orang zaman ini adalah, nikmati apa yang tersedia, turuti apa yang kau inginkan.

Tuhan Yesus berkata: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Mat. 16:24). Paulus menegaskan bahwa penguasaan diri adalah salah satu segi dari wujud hadir dan bekerjanya Roh Allah dalam hidup orang milik Kristus (Gal. 5:22-24). Petrus memaparkan bahwa penguasaan diri adalah salah satu tahap dari pematangan iman orang Kristen (ayat 2Ptr. 1:3-8). Jelas kita harus menguasai diri, dan karena itu kita berbeda dari orang kebanyakan yang tidak mengenal Yesus. Jadi bila selama ini kita lepas kendali, kita perlu memohon pengampunan-Nya. Kita perlu mohon Roh-Nya bekerja kuat di dalam hidup kita agar penguasaan diri terwujud.

Paulus menyoroti dua hal yang tentangnya kita paling mudah lepas kendali. Makanan dan seks. Bisa kita tambahkan dalam konteks kini: belanja, hiburan, dan semacam itu. Makan dan seks adalah kebutuhan tubuh. Keduanya berbentuk hasrat atau dorongan kuat yang dalam kondisi tubuh tertentu bisa sangat kuat dan mendesak agar dipuaskan. Celakanya orang di Korintus beranggapan bahwa seperti halnya rasa lapar mendorong orang cari makan, munculnya hasrat seks pun membuat orang dapat dibenarkan untuk mencari pemuxasan juga. Dalam kasus di Korintus, mereka bisa pergi ke ritual di kuil-kuil berhala Yunani yang menyediakan pelacur bakti. Paulus menolak cara berpikir demikian. Selain perut tidak identik dengan seks, keduanya harus tunduk pada Tuhan yang menciptakan hasrat badani dengan mak-sud dan aturan masing-masing.

Bagaimana kita bisa belajar menguasai diri? Pertama, ingat meski semuanya ok, tetapi tidak semuanya berguna. Kedua, meski ok, tetapi kita tidak boleh mengijinkan hasrat dan kebutuhan memperbudak kita. Mengapa? Karena kita milik Tuhan. Seluruh hasrat badani kita harus seirama hasrat rohani kita, yaitu mengalami kendali Tuhan yang memberi arti dan memuliakan tubuh.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 1 Juli 2024 - Menjaga dan Merawat Tubuh Bagi Tuhan - 1 Korintus 6:13-14

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 29 Juni 2024 - Murah Hati - Lukas 6:36




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2024..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,