gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 78 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2024
Minggu, 16 Juni 2024

Khotbah GMIM Minggu, 16 Juni 2024 - Ajarkan Berulang-ulang Perintah Tuhan - Ulangan 6:1-9
Hendaklah firman Tuhan tertulis di gerbang kita, dan biarlah setiap orang yang lewat di depan pintu kita membacanya

Tema Bulanan: "Saksikan dan Kabarkan Injil, Baik atau Tidak Baik Waktunya"
Tema Mingguan: "Ajarkan Berulang-ulang Perintah Tuhan"
Bacaan Alkitab: Ulangan 6:1-9

Ulangan 6:1-9
Kasih kepada Allah adalah perintah yang utama
6:1 "Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, 6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. 6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. 6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. 6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Penjelasan:
* Intisari Agama (6:1-3)

    Amatilah di sini,
        1. Bahwa Musa mengajar umat Israel segala hal, dan hanya hal-hal, yang diperintahkan Allah kepadanya untuk diajarkan kepada mereka (ay. 1). Demikian pula hamba-hamba Kristus harus mengajar jemaat-jemaat-Nya segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya, tidak lebih dan tidak kurang (Mat. 28:20).
        2. Bahwa tujuan mereka diajar adalah supaya mereka dapat melakukan seperti yang diajarkan kepada mereka (ay. 1), dapat berpegang pada segala ketetapan Allah (ay. 2), dan melakukannya dengan setia (ay. 3). Ajaran-ajaran yang baik dari orangtua dan hamba-hamba Tuhan hanya akan memperberat hukuman kita, jika kita tidak hidup sesuai dengan yang diajarkan.
        3. Bahwa Musa berusaha dengan sepenuh hati untuk membuat mereka melekat kepada Allah dan hidup yang saleh, mengingat sekarang mereka akan memasuki tanah Kanaan, supaya mereka siap menikmati penghiburan-penghiburan dari negeri itu, dan dibentengi dari jerat-jeratnya. Dan supaya, karena sekarang mereka mulai menapaki kehidupan di dunia, mereka dapat berjalan dengan baik.
        4. Bahwa takut akan Allah di dalam hati akan menjadi dasar pegangan yang paling kuat untuk berlaku taat: Supaya engkau takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan-Nya (ay. 2).
        5. Pewarisan agama dalam keluarga, atau negeri, adalah pewarisan yang terbaik. Sudah menjadi keinginan kita yang besar bahwa bukan hanya kita, melainkan juga anak-anak kita, dan cucu-cicit kita, takut akan Tuhan.
        6. Agama dan kebajikan mengangkat dan menjamin kesejahteraan bangsa mana saja. Takutlah akan Allah, maka akan baik keadaanmu. Orang-orang yang diajar dengan baik, jika mereka melakukan apa yang diajarkan kepada mereka, akan terpenuhi kebutuhan makanannya dengan baik pula, seperti orang Israel di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (ay. 3).


* Peringatan dan Perintah (6:4-16)

Dalam perikop ini kita mendapati,

I. Intisari agama secara singkat, yang berisi dasar-dasar pegangan pertama tentang iman dan ketaatan (ay. 4-5). Kedua ayat ini dianggap orang Yahudi sebagai salah satu bagian yang paling berharga dari Kitab Suci. Mereka menulisnya pada tali-tali sembahyang mereka, dan berpikir bahwa mereka tidak hanya wajib mengucapkannya setidak-tidaknya dua kali sehari, tetapi juga mereka sangat bahagia karena diwajibkan untuk melakukannya. Hal ini terlihat dari ucapan yang ada di antara mereka: Diberkatilah kita, yang setiap pagi dan setiap petang berkata, dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Akan tetapi, lebih diberkatilah kita jika kita merenungkan dan memanfaatkan sebagaimana mestinya,

1. Apa yang diajarkan kepada kita di sini untuk kita percayai mengenai Allah: Yahweh Allah kita adalah Yahweh yang esa.
                (1) Bahwa Allah yang kita sembah adalah Yahweh, Wujud yang sempurna secara tak terhingga dan secara kekal, yang ada dari diri-Nya sendiri, dan maha mencukupi oleh diri-Nya sendiri.
                (2) Bahwa Dia adalah satu-satunya Allah yang hidup dan yang benar. Dia sajalah Allah, dan Dia hanyalah satu. Keyakinan yang teguh akan kebenaran yang terbukti dengan sendirinya ini, akan mampu mempersenjatai mereka melawan segala bentuk penyembahan berhala, yang muncul karena kesalahan yang mendasar itu, bahwa ada banyak allah. Tidak dapat dibantah lagi bahwa Allah itu esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia (Mrk. 12:32). Oleh sebab itu, janganlah kita memiliki allah lain, atau berkeinginan untuk memiliki allah lain. Sebagian penafsir berpendapat bahwa di sini ada isyarat yang jelas akan tiga pribadi dalam kesatuan Keilahian. Sebab di sini nama Allah disebut tiga kali, namun semuanya dinyatakan sebagai satu. Berbahagialah mereka yang memiliki Tuhan yang esa ini sebagai Allah mereka, sebab mereka hanya memiliki satu Tuan untuk disenangkan, hanya satu Pemberi untuk diminta. Lebih baik memiliki satu mata air daripada seribu kolam, satu Allah yang maha mencukupi oleh diri-Nya sendiri daripada seribu allah yang tidak mencukupi oleh dirinya sendiri.

2. Apa yang diajarkan kepada kita di sini mengenai kewajiban yang dituntut Allah dari manusia. Semuanya itu terangkum dalam kalimat ini sebagai dasar pegangannya, kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu. Musa telah berusaha (ay. 2) untuk mengajar mereka takut akan Allah. Dan, dalam menjalankan upayanya itu, Musa di sini mengajar mereka untuk mengasihi Allah, sebab makin hangat perasaan kasih kita kepada Allah, makin besar pula penghormatan kita kepada-Nya. Seorang anak yang menghormati orangtuanya, tidak diragukan lagi pasti mengasihi mereka. Pernahkah seorang raja membuat hukum bahwa rakyatnya harus mengasihi dia? Namun demikian, seperti itulah kesediaan anugerah ilahi untuk merendah, hingga perintah ini dijadikan sebagai perintah yang terutama dan yang pertama dari hukum Allah, bahwa kita harus mengasihi Dia, dan harus melakukan semua bagian lain dari kewajiban kita kepada-Nya berdasarkan ajaran kasih. Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku. Kita harus menjunjung-Nya tinggi-tinggi, bersuka bahwa ada Wujud yang seperti Dia, bersuka dalam semua sifat-Nya, dan semua hubungan-Nya dengan kita. Kerinduan kita haruslah terarah kepada-Nya, kesukaan kita ada di dalam Dia, kebergantungan kita hanya kepada-Nya, dan kepada Dialah kita harus sepenuhnya mengabdi. Harus menjadi kesenangan kita senantiasa untuk memikirkan Dia, mendengar dari-Nya, berbicara kepada-Nya, dan melayani-Nya. Kita harus mengasihi Dia,
                (1) Sebagai Tuhan, yang terbaik dari segala makhluk, paling unggul dan baik hati dalam diri-Nya sendiri.
                (2) Sebagai Allah kita, Allah yang mengikat kovenan dengan kita, Bapa kita, Teman yang paling baik hati dan Pemberi yang paling murah hati. Kita juga diperintahkan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati kita, segenap jiwa kita, dan segenap kekuatan kita. Artinya, kita harus mengasihi Allah,
                    [1] Dengan kasih yang tulus. Bukan dalam perkataan atau di bibir saja, dengan mengatakan bahwa kita mengasihi Dia padahal hati kita tidak bersama-Nya, melainkan dari dalam hati, dan dengan sebenar-benarnya, sehingga kita menjadikan-Nya sebagai pelipur lara kita.
                    [2] Dengan kasih yang membara. Hati kita harus dibawa kepada-Nya dengan hasrat yang menggebu-gebu dan perasaan kasih yang berkobar-kobar. Dari sini sebagian penafsir berpendapat bahwa janganlah kita berkata (seperti yang biasa kita lakukan dalam mengungkapkan isi hati kita), bahwa kita akan melakukan ini atau itu dengan segenap hati kita, sebab kita tidak boleh melakukan apa pun dengan segenap hati kita, kecuali mengasihi Allah. Dan bahwa ungkapan ini, karena di sini digunakan berkenaan dengan api yang kudus itu, tidak boleh dipakai untuk perkara yang tidak kudus. Dia yang adalah segala-galanya bagi kita, harus mendapatkan segala-galanya dari kita, dan tidak ada yang lain selain Dia.
                    [3] Dengan kasih yang sebesar-besarnya. Kita harus mengasihi Allah lebih dari makhluk ciptaan mana pun, dan tidak mengasihi apa-apa selain Dia, kecuali kita mengasihinya karena Allah, dan dalam sikap yang tunduk kepada-Nya.
                    [4] Dengan kasih yang diterangi pengertian, sebab demikianlah hal itu dijelaskan (Mrk. 12:33). Untuk mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian, kita harus mengenal Dia, dan karena itu harus mengasihi Dia sebagai orang-orang yang melihat alasan baik untuk mengasihi-Nya.
                    [5] Dengan kasih yang seutuhnya. Allah itu satu, dan karena itu hati kita harus menyatu bulat dalam kasih ini, dan seluruh sungai kasih sayang kita harus mengalir kepada-Nya. Oh, kiranya kasih terhadap Allah ini terpancar luas dalam hati kita!


II. Berbagai sarana ditetapkan di sini untuk memelihara dan merawat agama dalam hati dan rumah kita,
sehingga tidak layu dan membusuk. Sarana-sarana itu adalah:

1. Merenungkan firman Tuhan: Apa yang kuperintahkan kepadamu haruslah engkau perhatikan (ay. 6). Meskipun kata-kata saja tanpa pesan-pesan yang terkandung di dalamnya tidak akan bermanfaat bagi kita, namun ada bahaya kita akan kehilangan pesan-pesan itu jika kita mengabaikan kata-katanya. Melalui kata-katalah biasanya terang dan kuasa ilahi disampaikan ke dalam hati. Firman Allah haruslah tersimpan di dalam hati kita, supaya pikiran kita setiap hari terbiasa dengannya dan dipenuhi olehnya. Dan dengan begitu, seluruh jiwa kita dapat dibuat berdiam dan bertindak di bawah kuasa dan kesan firman Allah. Perintah ini langsung mengikuti perintah untuk mengasihi Allah dengan segenap hati. Sebab orang-orang yang mengasihi Allah dengan segenap hati akan menyimpan firman-Nya di dalam hati mereka, baik sebagai bukti maupun dampak dari kasih itu, dan sebagai sarana untuk memelihara dan menumbuhkan kasih itu. Siapa mengasihi Allah pasti mengasihi Alkitab-Nya.

2. Memberikan pendidikan agama kepada anak-anak (ay. 7): “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu. Dan dengan menyampaikan pengetahuanmu, engkau akan meningkatkan pengetahuanmu itu.” Orang-orang yang dengan sendirinya mengasihi Tuhan Allah, harus melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk menggugah perasaan kasih anak-anak mereka kepada-Nya, dan dengan demikian melestarikan warisan agama dalam keluarga mereka, hingga warisan itu tidak terputus. Haruslah engkau mengasahnya berulang-ulang kepada anak-anakmu, demikian sebagian penafsir membacanya. Sering-seringlah mengulangi perkataan-perkataan ini kepada mereka, cobalah segala cara untuk menanamkannya ke dalam pikiran mereka, dan membuatnya menembus ke dalam hati mereka. Sama seperti, ketika mengasah pisau, pisau itu pertama diasah pada satu sisi, dan kemudian pada sisi lain. “Berhati-hati dan telitilah dalam mengajar anak-anakmu. Jadikanlah sebagai tujuanmu, seperti orang yang sedang mengasah pisau, untuk menajamkan mereka, dan meruncingkan mereka. Ajarkanlah firman itu kepada anak-anakmu, bukan hanya anak-anak kandungmu sendiri” menurut orang Yahudi, “melainkan juga semua orang yang berada di bawah asuhan dan bimbinganmu.” Uskup Patrick mencermati dengan baik di sini bahwa Musa menganggap perintahnya begitu sangat sederhana dan mudah, sehingga setiap ayah mampu mengajarkannya kepada anak-anak lelakinya, dan setiap ibu kepada anak-anak perempuannya. Demikianlah, hal yang baik yang dipercayakan kepada kita itu harus kita teruskan dengan hati-hati kepada orang-orang yang datang sesudah kita, agar bisa tetap lestari.

3. Membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kesalehan. “Haruslah engkau membicarakan perintah-perintah ini, dengan rasa hormat dan kesungguhan seperti yang seharusnya, untuk memberikan manfaat bukan hanya bagi anak-anakmu, melainkan juga bagi orang-orang lain dalam rumah tanggamu, bagi para sahabat dan kawanmu. Bicarakanlah itu apabila engkau duduk di rumahmu ketika bekerja, atau ketika makan, atau ketika beristirahat, atau ketika menerima tamu, dan apabila engkau sedang dalam perjalanan untuk mencari hiburan, atau untuk memperluas pergaulan, atau untuk suatu keperluan. Bicarakanlah itu pada waktu malam ketika engkau minta diri dari keluargamu untuk berbaring dan tidur, dan pada pagi hari ketika engkau sudah bangun dan kembali bertemu dengan keluargamu. Manfaatkanlah segala kesempatan untuk berbicara dengan orang-orang di sekitarmu mengenai perkara-perkara ilahi. Bukan tentang rahasia-rahasia yang tidak disingkapkan, atau perkara-perkara yang dapat diperbantahkan, melainkan tentang kebenaran-kebenaran yang mudah dimengerti dan hukum-hukum Allah, dan apa yang perlu untuk damai sejahtera kita.” Menjadikan perkara-perkara suci sebagai pokok pembicaraan kita sehari-hari sama sekali tidak dianggap mengurangi kehormatannya, tetapi justru perkara-perkara suci itu dianjurkan kepada kita untuk diperbincangkan. Sebab, semakin kita mengenal perkara-perkara suci itu, semakin kita akan mengaguminya dan tergerak olehnya, dan dengan begitu kita dapat berperan dalam menyebarkan terang dan sinar ilahi.

4. Sering membaca firman Tuhan: Haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu (ay. 8-9). Ada kemungkinan bahwa pada waktu itu hanya ada sedikit salinan dari seluruh hukum Taurat, dan hanya pada hari raya Pondok Daun hukum Taurat dibacakan kepada umat. Itulah sebabnya Allah memerintahkan mereka, setidak-tidaknya untuk saat itu, untuk menuliskan beberapa kalimat terpilih dari hukum Taurat, yang paling berbobot dan mencakup keseluruhan, pada dinding-dinding mereka, atau dalam gulungan-gulungan perkamen untuk dipakai di pergelangan tangan mereka. Dan sebagian penafsir berpendapat bahwa mulai saat itulah muncul tali-tali sembahyang yang begitu banyak digunakan di antara orang Yahudi. Kristus menegur orang-orang Farisi, bukan karena mereka memakai tali sembahyang, melainkan karena mereka suka memakai tali sembahyang yang lebih lebar daripada tali sembahyang orang lain (Mat. 23:5). Akan tetapi, begitu Alkitab mulai banyak tersedia di tengah-tengah orang Yahudi, kebutuhan akan sarana ini semakin berkurang. Ditetapkan secara bijak dan saleh oleh para pembaharu pertama dari gereja Inggris bahwa pada waktu itu, ketika Alkitab masih jarang tersedia, beberapa bagian terpilih dari Kitab Suci harus dituliskan pada dinding-dinding dan tiang-tiang gereja, sehingga para jemaat dapat mengenal firman Tuhan. Hal itu sesuai dengan perintah ini, yang tampak mengikat bagi orang Yahudi menurut arti harfiahnya, sama seperti perintah itu mengikat bagi kita menurut maksud dan tujuannya. Yaitu bahwa kita harus berupaya dengan segala cara untuk mengakrabkan diri dengan firman Allah, sehingga kita siap menggunakannya dalam segala kesempatan, untuk menahan kita dari dosa dan membimbing serta menggugah kita untuk melakukan kewajiban kita. Firman Tuhan haruslah menjadi seperti sesuatu yang dilukiskan di telapak tangan kita, yang selalu ada di hadapan kita. Lihat 1-3. Tersirat juga dalam perintah ini bahwa kita tidak boleh malu untuk mengakui agama kita, atau untuk mengakui diri kita berada di bawah kekangan dan pemerintahannya. Hendaklah firman Tuhan tertulis di gerbang kita, dan biarlah setiap orang yang lewat di depan pintu kita membacanya, bahwa kita meyakini Yahweh sajalah Allah, dan meyakini diri kita terikat kewajiban untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati kita.


ALASAN PEMILIHAN TEMA
Mengapa manusia harus belajar berulang-ulang? Supaya dapat memahami, mengingat dan cakap mengamalkan apa yang dipelajari. Manusia memiliki kemampuan otak yang berbeda dalam menangkap, merekam dan mengolah data, sebab itu pengajaran yang berulang dibutuhkan.

Manusia cenderung lupa pada sesuatu yang ditangkap sekilas atau dipelajari dalam waktu singkat. Sebaliknya, sesuatu yang diulang-ulang memudahkan otak menyimpan memori dan mendorong orang dapat menerapkan pengetahuannya.
Mengajarkan berulang-ulang adalah strategi jitu dalam mendidik, berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter.

Demikian halnya perintah Tuhan Allah, pengetahuan dan kehendak-Nya harus diajarkan berulang-ulang agar orang percaya paham, ingat dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Pembentukan karakter sebagai umat Tuhan mustahil dicapai tanpa belajar perintah-Nya terus menerus. Proses ini berlangsung dari dalam rumah, dengan menempatkan orangtua sebagai pendidik utama yang memberi perhatian penuh pada pertumbuhan rohani anak agar taat dan setia kepada Tuhan Allah.

Tema "Ajarkan Berulang-ulang Perintah Tuhan" menuntun perenungan di minggu ini, agar kita memahami dan menyadari tanggungjawab mewariskan iman sehingga generasi selanjutnya tidak kehilangan arah di era canggihnya teknologi informasi dan kuatnya pengaruh cara hidup manusia yang hedonis, materialistis dan individualistis.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Musa diyakini sebagai penulis Kitab Ulangan (Yun. Deuteronomion: hukum kedua). Meskipun para ahli Perjanjian Lama juga menyimpulkan ada bagian dalam kitab ini yang berasal dari penulis dan zaman yang berbeda. Pasal-pasal terakhir Kitab Ulangan dianggap ditambahkan kemudian, ketika Israel menghadapi ancaman pembuangan karena ketidaksetiaan pada Tuhan Allah.

Kitab Ulangan berisi Pidato Musa, menceritakan kembali perjalanan Israel menuju Kanaan, sekaligus penegasan tentang hukum dan ketetapan Tuhan Allah. Musa menyampaikan ini kepada generasi barn bangsa Israel yang siap menduduki Tanah Kanaan, meskipun ia sendiri tidak ikut serta.

Pada perikop ini, Musa dan Bangsa Israel sedang berada dalam pengembaraan di padang gurun, sejak keluar dari Mesir. Dalam pengembaraan tersebut, pembentukan generasi baru Israel berproses. Sedangkan generasi sebelumnya tidak diizinkan Tuhan Allah memasuki Tanah Kanaan, akibat ketidakpercayaan mereka kepada Tuhan Allah (lih. Bil 14:1-38), kecuali Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune. Musa meriwayatkan perjalanan Israel sebagai pembelajaran agar generasi baru tidak melakukan kekeliruan yang sama. Sebaliknya supaya mempertahankan hidup sebagai umat yang taat dan setia, sekalipun berada di antara bangsa yang tidak menyembah Tuhan Allah.

Pidato Musa dalam Ulangan 6:1-9, dibuka dengan perintah tentang kewajiban umat untuk berpegang pada hukum dan ketetapan Tuhan Allah seumur hidup supaya baik keadaan mereka (ay.1-3). "Dengarlah hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa" (ay. 4) Ungkapan ini dikenal dengan Shema Israel atau pengakuan iman. Shema (Ibr : mendengar) bukan sekadar menangkap bunyi dengan indera pendengar, tetapi menyimak baik-baik dan merespon dengan tindakan. Shema juga diartikan taat menjalankan perintah, tunduk pada wewenang dan menjauhkan diri dari yang dilarang, sebagai respon tanggungjawab.

"Dengarlah hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa" merupakan pengakuan iman Israel. Disebut sebagai hukum utama Israel (Halakhah). Kalimat tersebut bukan sekedar rumusan teologi tentang monoteisme ataupun penolakan
terhadap penyembahan baal, melainkan terutama menjadi ketetapan bagi bangsa Israel bahwa Tuhan hanya satu yaitu Allah dan Israel dituntut hanya menyembah kepada-Nya saja. Dalam tradisi agama Yahudi, Ulangan 6:4 ini menjadi pengakuan iman yang wajib diucapkan dua kali sehari, yakni di pagi dan malam hari.

Mendengar juga berarti mengasihi Tuhan Allah. "Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (ay.5). Mengasihi bukan soal perasaan saja, melainkan ketaatan. Mengasihi Tuhan Allah berarti mengutamakan dan menaati-Nya (band. Ul 5:10, 7:9, 10:12, 11:1). Tuhan Allah menuntut kesetiaan dan pengabdian penuh umat-Nya. Tuhan Yesus Kristus mengulang perintah ini dengan menyatakannya sebagai hukum yang terutama dan pertama (Matius 22:37-38, Markus 12:29-30).

Menyembah dan mengasihi-Nya dalam ketaatan wajib diajarkan berulang-ulang. Kalimat "mengajarkan berulang-ulang" diterjemahkan dari kata Ibrani wesinnantam, berasal dari kata kerja "Sanan". Kata ini diartikan mengulang-ulang pengajaran terus menerus (say again and again, diligently). Bangsa Israel wajib berusaha sekuat tenaga, menggunakan segala keahlian serta memanfaatkan semua kesempatan untuk membuat setiap generasi menyembah dan mengasihi Tuhan Allah.

Seorang yang mendengar perintah Tuhan Allah, wajib memperdengarkan itu pada keturunannya agar dapat membangun kehidupan sebagai umat-Nya. Dengan kata lain, seseorang barulah bisa membuka mulutnya untuk memperdengarkan pengajaran tentang perintah Tuhan Allah, setelah dia membuka telinganya untuk mendengar dan memperhatikan perintah Tuhan Allah dan meresponnya dengan bertanggungjawab.

Hidup mengasihi Tuhan Allah tidak berpusat pada hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan Allah saja, tetapi juga pada tanggungjawab membangun kehidupan rohani keturunannya. Cara mengasihi Tuhan Allah diungkapkan dengan memperhatikan pertumbuhan rohani anak-anak, karena itu mengajarkan perintah Tuhan Allah hams dimulai dari dalam
rumah.

Kata duduk (sit, dwell, line), dalam perjalanan (in the way, path, journey) atau berjalan (go, walk), berbaring (lie down, to sleep) dan bangun (to arise, stand), merupakan kata-kata yang merepresentasikan kegiatan manusia sehari-hari, mulai dari pagi hingga malam, pada waktu bekerja maupun istirahat. Itu berarti mengajarkan berulang-ulang perintah Tuhan Allah tidak dibatasi waktu dan situasi. Orangtua dapat mengajarkan perintah Tuhan Allah pada anak-anaknya kapan dan di mana saja, termasuk di masa kecil hingga dewasa.

Sedangkan perintah 'mengikatkannya pada tangan, menjadikan lambang di dahi, menuliskan pada tiang pintu rumah dan pada pintu gerbang,' menyatakan dalam mengajarkan perintah Tuhan Allah tak ada sekat ruang. Sehingga ketetapan dan peraturan-Nya menjadi pedoman yang mengatur semua aktifitas kerja, menjaga pandangan mata dalam pergaulan, menuntun kehidupan dalam rumah (keluarga), bahkan melekat sebagai identitas diri.

Perintah ini pada perkembangannya dipraktikkan secara harafiah oleh keturunan bangsa Israel. Dibuatlah kotak-kotak kulit yang kecil (Ibr. Tefillim), bagian dalamnya berisi tulisan beberapa ayat Torah, lalu diikat di tangan kiri, juga di dahi. Kotak-kotak ini disebut "tali sembahyang" yang dikritik Tuhan Yesus Kristus saat mengecam motivasi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Matius 23:5).

Petunjuk pada ayat 7-9 secara implisit menyatakan pengajaran berulang-ulang itu dilakukan tidak hanya dengan kata, melainkan praktik hidup. Generasi yang lebih tua wajib meneladankan cara hidup menyembah dan mengasihi Tuhan Allah, agar generasi berikutnya berpegang teguh pada ketetapan dan perintah-Nya dan mewariskannya turun ternurun.
Advertisement
Jika Muncul Papiloma pada Dada, Leher atau Ketiak, Baca Ini!
Advertisement
Kami TUTUP GUDANG! Veneer - diskon gila 90%. Veneer ini 300 kali lebih baik dari gigi palsu!
Advertisement
Bagaimana cara mengurangi gula menjadi normal dalam 7 hari?
Advertisement
Seorang dokter terkenal telah menemukan obat menyembuhkan persendian selamanya

Makna dan Implikasi Firman
1. Tuhan Allah yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus merupakan pusat penyembahan dan sumber pengajaran iman orang percaya. Pengakuan ini diimplementasikan melalui tindakan mengasihi, menaati dan mengajarkan perintah-Nya berulang-ulang. Mengajarkan berulang adalah bagian dari misi gereja untuk memperlengkapi warganya.

2. Keluarga Kristen adalah basis misi, di mana orangtua menjadi pendidik utama yang bertanggungjawab atas pertumbuhan rohani anak. Orangtua wajib mengajarkan cara hidup mengasihi dan menaati Tuhan Allah setiap saat dalam semua situasi, tanpa batas ruang ataupun waktu.

3. Setiap orang percaya harus mengarahkan pendengarannya untuk memahami pengajaran tentang Tuhan Allah berulang-ulang. Selanjutnya, memperdengarkan tentang pengajaran itu pada orang lain dengan menunjukkannya melalui perbuatan dan ucapan.

4. Gereja sebagai institusi perlu memaksimalkan semua sumber daya sebagai media pengajaran.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
1. Apa perintah Tuhan Allah yang harus diajarkan berulang-ulang menurut Ulangan 6:1-9?
2. Mengapa hal itu perlu dilakukan? Jelaskan pemahaman saudara!
3. Bagaimana gereja mengulang-ulang pengajaran tentang perintah Tuhan Allah, sekaligus menjawab kebutuhan dan tantangan pelayanan di era four point zero dan memasuki era five point zero?

NAS PEMBIMBING: Yosua 22:5

POKOK POKOK DOA:
1. Berdoa bagi gereja agar selalu dimampukan untuk mengajarkan perintah Tuhan Allah berulang-ulang di tengah kemajuan zaman yang penuh tantangan.
2. Berdoa bagi orang-orang percaya agar setia mengasihi dan taat pada Tuhan Allah, sekalipun berada dalam gumul penderitaan dan kesukaran
3. Berdoa bagi semua orangtua agar memperhatikan pertumbuhan rohani anak-anaknya dan mewariskan iman lewat perkataan dan perbuatan.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:
HARI MINGGU BENTUK III

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Nyanyian Masuk : NNBT No. 6 "Allah Bapa yang Kumuliakan"
Nas Pembimbing: PKJ No. 14 "Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan"
Pengakuan Dosa: KJ. No. 29. "Di Muka Tuhan Yesus"
Pemberitaan Anugerah Allah: NNBT No. 36 "Barangsiapa Yang Percaya Kepada Tuhan"
Persembahan: NKB No. 133 "Syukur Padamu Ya Allah"
Nyanyian Penutup: NKB No. 207 "Taat, Setia, Bertekad Yang Bulat"

ATRIBUT
Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu di atas Gelombang.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024








Pelatihan Online EasyWorship 2009 mulai 06 April 2015
- Soal Latihan 1 EasyWorship 2009 - Pembuatan Slide Tata Ibadah
- Register | Login

Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
Khotbah GMIM Minggu, 23 Juni 2024 - Kasihilah Musuhmu dan Berbuatlah Baik - Lukas 6:27-36

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 15 Juni 2024 - Kisah Para Rasul 5:11 - Ketakutan Mendengar dan Melihat Murka Tuhan Allah




MENU UTAMA:
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(35)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(104)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(148)
Kidung(4)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(6)
Tentang GMIM(7)
xx(14)
xxx(8)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2024..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,