gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 639 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2024
Minggu, 9 Juni 2024

Khotbah GMIM Minggu, 9 Juni 2024 - Jangan Berdusta - Kisah Para Rasul 5:1-11
Dosa Ananias dan Safira istrinya, Ananias mendustai Roh Kudus, Dia tewas di tempat, Hukuman ini dimaksudkan untuk memelihara kehormatan Roh Kudus yang saat itu belum lama dicurahkan ke atas para rasul

Kisah Para Rasul 5:1-11  
Bahasa Manado:
Ananias deng Safira mati lantaran badusta pa Tuhan Allah
1Ada tu satu laki-laki, de pe nama Ananias, kong de pe bini pe nama Safira. Dia deng de pe bini lei da jual tu dorang pe tana. 2Tu doi dari hasil bajual tana itu, sbagian Ananias da tahang, kong tu sbagian lei dia kase pa rasul-rasul. Dia pe bini lei tau samua tu Ananias da beking itu.
3Kong Petrus bilang, “Ananias, kiapa dang ngana kase biar tu setang pe bos kuasai tu ngana pe hati, sampe ngana so badusta pa Roh Kudus? Tu doi hasil da bajual tu tana, sbagian ngana da tahang. 4Bagini Ananias, waktu tu tana ngana blum jual, itu tetap ngana punya. Kong waktu so jual lei, tu de pe doi tetap ngana punya, itu samua mana-mana pa ngana. Mar kiapa ada rencana jaha pa ngana pe hati, sampe ngana beking bagini? Ngana nyanda badusta pa manusia, mar ngana so badusta pa Tuhan Allah.”
5Waktu Ananias dengar itu, dia iko tabanting ka tana kong mati. Samua orang yang da dengar tu kejadian itu jadi tako skali. 6Trus datang bebrapa nyong pi bungkus tu Ananias pe mayat deng kaeng puti, klar itu dorang bawa kaluar tu de pe mayat kong pi kase kubur.
7Serta so tiga jam, Ananias pe bini maso, mar dia nintau apa tu da jadi. 8Kong Petrus bilang pa dia, “Co ngana kase tau pa kita. Butul tu tana pe harga bagini?”
Safira manyao, “Butul, de pe harga cuma bagitu.”
9Kong Petrus bilang pa dia, “Kiapa ngana deng ngana pe laki baku skongkol mo coba-coba pa Tuhan pe Roh? Co ngana lia, tu orang-orang yang baru klar se kubur ngana pe laki so di muka pintu, kong dorang lei tu mo kase kubur ngana pe mayat.”
10Waktu itu jo Safira iko tabanting di muka pa Petrus kong mati. Abis itu, tu bebrapa nyong maso ka dalam kong dorang lia tu Safira so mati. Trus dorang bawa kaluar tu de pe mayat kong se kubur di sei pa de pe laki. 11Kong samua orang yang percaya jadi tako skali. Bagitu lei deng tu orang laeng yang da dapa dengar itu, dorang lei jadi tako skali.

Bahasa Indonesia:
Ananias dan Safira
5:1 Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah. 5:2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul. 5:3 Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? 5:4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah." 5:5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. 5:6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya. 5:7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi. 5:8 Kata Petrus kepadanya: "Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?" Jawab perempuan itu: "Betul sekian." 5:9 Kata Petrus: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar." 5:10 Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya. 5:11 Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.

Penjelasan:
* Perkara Ananias dan Safira ( Kis 5:1-11)
Pasal ini dimulai dengan sebuah tetapi yang murung (menurut versi KJV), yang menghentikan gambaran menggembirakan dan menyenangkan tentang hal-hal yang kita temui dalam pasal-pasal sebelumnya. Seperti setiap manusia, demikian pula setiap jemaat, memiliki tetapi dalam keadaannya yang terbaik.

1. Murid-murid sangat kudus, sorgawi, dan semua tampak benar-benar luar biasa baik.
Tetapi ada orang-orang munafik di antara mereka, yang hatinya tidak lurus di hadapan Allah, yang, ketika dibaptis dan mengenakan rupa kesalehan, justru memungkiri kekuatan kesalehan itu, dan tidak mendapatkan apa-apa darinya. Ada campuran keburukan dengan kebaikan dalam perkumpulan orang yang terbaik yang terletak di seberang sorga ini. Lalang akan tumbuh di antara gandum sampai waktu panen.

2. Sungguh terpuji bahwa murid-murid mencapai tingkat kesempurnaan yang dianjurkan Kristus kepada orang muda yang kaya itu.
Mereka menjual segala milik mereka dan memberi kepada orang-orang miskin. Tetapi itu pun terbukti merupakan selubung dan penutup kemunafikan, yang sebelumnya disangka sebagai tanda dan bukti ketulusan yang mendalam.

3. Pertanda dan keajaiban yang diadakan rasul-rasul sampai saat itu adalah mujizat-mujizat belas kasihan,
tetapi saat itu terjadilah mujizat penghakiman. Inilah sebuah tindakan tegas yang menyusul tindakan kebaikan, supaya Allah dikasihi dan juga ditakuti.

Perhatikanlah di sini,

I. Dosa Ananias dan Safira istrinya.
Alangkah indahnya jika suami istri bekerja sama dalam suatu perbuatan baik, tetapi bersekongkol dalam kejahatan berarti menjadi seperti Adam dan Hawa ketika mereka sepakat untuk memakan buah terlarang, dan bersatu dalam ketidaktaatan. Nah, dosa mereka adalah,

1. Bahwa mereka sangat ingin dianggap sebagai murid-murid yang unggul, dan paling utama, padahal sesungguhnya mereka bukan murid-murid sejati. Mereka ingin dipandang sebagai pohon-pohon yang paling banyak berbuah di kebun anggur Kristus, padahal sesungguhnya mereka tidak memiliki akar. Mereka menjual sebidang tanah, dan membawa uangnya (seperti yang dilakukan Barnabas) ke depan kaki rasul-rasul, supaya mereka tidak kelihatan ketinggalan dengan orang-orang percaya yang paling utama, dan mendapatkan tepuk tangan dan sorak-sorai. Mereka juga ingin menjadi calon yang sangat pantas untuk mendapat kenaikan jabatan di gereja, yang mungkin mereka pikir akan segera tampak bersinar dalam kemegahan dan kebesaran duniawi. Perhatikanlah, mungkin saja orang-orang munafik menyangkal diri dalam satu hal, tetapi kemudian itu untuk kepentingan mereka dalam hal lain. Mereka bisa saja melepaskan keuntungan duniawi mereka dalam satu hal, dengan harapan menemukan keuntungan dalam hal lainnya. Ananias dan Safira mau menerima pengakuan iman agama Kristen, dan secara lahiriah suka menonjolkan diri, padahal mereka tahu tidak dapat melaksanakan sepenuhnya pengakuan iman orang Kristen tersebut. Dengan demikian mereka menghina Allah dan menipu orang lain. Orang muda yang kaya itu patut dihargai, dan sikapnya benar sampai di situ, bahwa dia tidak mau berpura-pura mengikuti Kristus. Dia tahu bahwa, jika sampai harus jatuh miskin, dia tidak akan dapat memenuhi persyaratan-Nya, sehingga pergilah ia dengan sedih. Ananias dan Safira berpura-pura mampu memenuhi persyaratan, supaya dapat memperoleh penghargaan sebagai murid, padahal sebenarnya mereka tidak mampu, dan dengan demikian mencemarkan kemuridan. Perhatikanlah, sering kali akibatnya sangat buruk, jika orang membuat pengakuan lebih jauh daripada yang dapat diterima oleh batin mereka.

2. Bahwa mereka tamak terhadap kekayaan dunia, dan tidak percaya pada Allah dan pemeliharaan-Nya. Mereka menjual sebidang tanah mereka, dan mungkin kemudian, karena semangat yang tiba-tiba muncul, tidak bermaksud apa-apa selain mempersembahkan seluruh uang hasil penjualan untuk penggunaan-penggunaan saleh. Mungkin mereka bernazar atau setidaknya benar-benar bertujuan hendak melakukannya. Namun ketika uang penjualan diterima, hati mereka menjadi lemah, lalu menahan sebagian dari hasil penjualan itu (ay. Kis 5:2), karena mereka mencintai uang. Mereka berpikir uang itu terlalu banyak untuk dilepaskan sekaligus dan dipercayakan ke tangan para rasul. Lagi pula siapa tahu, mungkin mereka sendiri membutuhkannya. Walaupun saat itu segala sesuatu adalah milik bersama, namun tidak akan berlangsung lama, lalu apa yang harus mereka lakukan pada waktu kekurangan, jika tidak ada yang mereka sisakan untuk mereka pakai sendiri? Mereka tidak dapat mempercayai firman Allah bahwa mereka akan dipelihara. Sebaliknya, mereka berpikir akan memainkan peranan yang lebih bijak daripada yang dilakukan orang lain, dan menyimpan untuk saat darurat. Demikianlah mereka berpikir hendak melayani Allah dan juga Mamon. Melayani Allah, dengan membawa sebagian uang ke kaki para rasul, dan Mamon, dengan menyimpan sisanya di kantong mereka sendiri. Seakan-akan Allah tidak maha-mencukupi, dan segala kebutuhan mereka tidak akan terpenuhi jika mereka tidak menahan sebagian uang di tangan mereka sendiri untuk berjaga-jaga. Hati mereka bercabang, oleh sebab itu mereka harus menanggung akibat kesalahannya (Hos. 10:2). Mereka bercabang hati. Jika mereka sepenuhnya orang yang duniawi, mereka tidak akan menjual tanah mereka. Dan, jika mereka sepenuhnya orang Kristen, mereka tidak akan menahan sebagian uang hasil penjualan.

3. Bahwa mereka bermaksud menipu para rasul, dan membuat mereka percaya bahwa mereka membawa seluruh uang hasil penjualan, padahal sesungguhnya hanya sebagian. Mereka datang dengan tenang, dan menunjukkan kesalehan dan pengabdian yang hebat, sama seperti orang-orang lain, lalu diletakkannya uang itu di depan kaki rasul-rasul, seakan-akan itu adalah seluruh milik mereka. Mereka berpura-pura di depan Allah dan Roh-Nya, di depan Kristus, gereja, dan pelayan-pelayan-Nya, dan inilah yang menjadi dosa mereka.


II. Tuduhan kepada Ananias,
yang menyatakan hukumannya dan pelaksanaan hukumannya untuk dosa ini. Ketika membawa uang itu, dia berharap akan dipuji dan disemangati seperti yang lain, tetapi Petrus justru menegur dia. Tanpa menanyai atau memeriksa saksi-saksi yang berkaitan dengan uang itu, Petrus memberi dia tuduhan yang tidak terbantahkan atas kejahatan itu. Petrus juga memperberat tuduhannya, dan menambah bebannya, dengan menunjukkan sifat yang sesungguhnya dari kejahatan itu (ay. Kis 5:3-4). Roh Allah di dalam Petrus tidak hanya mengetahui kenyataan tanpa keterangan apa pun (walaupun mungkin tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang mengetahuinya kecuali orang itu dan istrinya sendiri), namun juga mengenali akar ketidaksetiaan yang menguasai hati Ananias, yang mendasari perbuatannya. Oleh karena itu dia segera mengambil tindakan terhadap Ananias. Kalau saja itu adalah dosa kelemahan, karena dikejutkan oleh pencobaan, Petrus pasti akan mengajak dia berbicara secara pribadi. Dia akan meminta Ananias pulang ke rumah, mengambil sisa uangnya, dan bertobat dari kebodohannya yang berusaha melakukan penipuan ini terhadap mereka. Tetapi Petrus mengetahui bahwa hatinya penuh niat untuk berbuat jahat, dan oleh karena itu tidak memberi dia waktu untuk bertobat. Di sini Petrus menunjukkan kepadanya,

1. Sumber dosanya. Hatinya dikuasai Iblis. Iblis bukan hanya menganjurkan perbuatan itu kepadanya, dan memasukkannya ke dalam pikirannya, melainkan menyuruh dia segera memutuskan untuk melakukannya. Apa pun yang bertentangan dengan Roh yang baik berasal dari roh yang jahat, dan hati yang dikuasai Iblis diperintah dan dikuasai oleh keduniawian. Ada yang berpikir bahwa Ananias adalah salah satu dari orang-orang yang telah menerima Roh Kudus dan dipenuhi dengan karunia-karunia-Nya. Namun, setelah dia membuat Roh Kudus mundur darinya, sekarang hatinya dikuasai Iblis, seperti ketika Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN. Iblis adalah roh pendusta. Seperti itulah dia di mulut nabi-nabi Ahab, dan seperti itu pula dia di mulut Ananias. Dan melalui perbuatan ini tampaklah bahwa Iblis menguasai hati Ananias.

2. Dosa itu sendiri. Ananias mendustai Roh Kudus. Suatu dosa dengan sifat yang sangat mengerikan sehingga tidak mungkin dia lakukan jika Iblis tidak menguasai hatinya.

(1) Perkataan yang kita terjemahkan sebagai mendustai Roh Kudus, pseusasthai se to pneuma to hagion, ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai mengingkari Roh Kudus, yang dapat dipahami dengan dua cara:

- Bahwa dia mengingkari Roh Kudus yang ada di dalam dirinya sendiri. Dr. Lightfoot memahaminya seperti itu. Dia juga menduga bahwa Ananias bukanlah seorang percaya biasa, melainkan seorang hamba Tuhan, dan salah satu dari seratus dua puluh orang yang telah menerima karunia Roh Kudus (karena dia disebutkan segera setelah Barnabas). Namun dia berani mengingkari dan mempermalukan karunia itu, dengan menyamarkan dirinya. Atau seperti ini. Orang-orang yang menjual harta mereka, dan meletakkan uangnya di kaki para rasul, melakukannya karena dorongan khusus dari Roh Kudus, yang memampukan mereka untuk melakukan tindakan yang sangat hebat dan murah hati seperti itu. Akan tetapi, Ananias berpura-pura bahwa dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan apa yang dia lakukan, seperti yang lain, padahal tampak dari kerendahan moralnya bahwa dia sama sekali tidak berada di bawah pengaruh roh yang baik. Karena, kalau itu adalah pekerjaan Roh Kudus, pastilah sempurna.

- Bahwa dia mengingkari Roh Kudus yang ada di dalam diri para rasul yang menerima uangnya itu. Dia membuat gambaran yang salah tentang Roh yang menggerakkan para rasul, dengan kecurigaannya bahwa mereka tidak akan membagikan dengan setia apa yang dipercayakan kepada mereka. Itu adalah pemikiran yang buruk, seakan-akan mereka menyalahgunakan kepercayaan yang ada pada mereka. Atau dengan keyakinannya bahwa mereka tidak dapat mengungkap penipuan tersebut. Dia mengingkari Roh Kudus ketika dengan perbuatannya dia berpikir bahwa orang-orang yang diberi karunia Roh Kudus dapat dengan mudah diperdayai seperti orang lain. Dia seperti Gehazi, yang dihukum tuannya karena kesalahannya, dengan perkataan itu, “Bukankah hatiku ikut pergi?” (2Raj. 5:26). Kaum Israel dan Yehuda didakwa memungkiri TUHAN ketika, seperti Ananias di sini, mereka benar-benar berlaku tidak setia dengan berkata “Dia tidak berbuat apa-apa!” (Yer. 5:11-12). Demikianlah Ananias berpikir bahwa para rasul secara keseluruhan sama seperti dirinya, dan ini berarti mengingkari Roh Kudus yang ada di dalam mereka. Seakan-akan Dia yang ada di dalam mereka tidak dapat membedakan rupa-rupa roh, sedangkan mereka memiliki semua karunia Roh di dalam mereka, yang kepada orang lain hanya dibagikan beberapa saja. Lihat 1 Korintus 12:8-11. Orang yang berpura-pura diilhami Roh Kudus, dengan cara memperdayai jemaat dengan khayalan-khayalan mereka, baik melalui pendapat maupun perbuatan, bahwa mereka digerakkan dari atas, padahal sebenarnya mereka didorong oleh keangkuhan, ketamakan, atau cinta kekuasaan, mereka ini mengingkari Roh Kudus.

(2) Namun kita menafsirkannya mendustai Roh Kudus, yang didukung oleh ayat 4, Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.

- Ananias berdusta, dengan sengaja, dan dengan maksud memperdayai. Dia memberi tahu Petrus bahwa dia telah menjual miliknya (rumah atau tanah), dan ini adalah uang hasil penjualannya. Mungkin dia menyampaikannya dengan kata-kata yang dapat bermakna ganda, memakai beberapa kata yang samar-samar. Dia berpikir itu dapat meringankan persoalan sedikit, dan menyelamatkan dia dari kesalahan kalau terang-terangan berbohong. Atau mungkin dia tidak mengatakan apa-apa. Semua orang melakukan hal yang sama, dan dia bersikap sama seperti yang lain yang membawa seluruh hasil penjualan, sehingga dia akan dikira melakukan itu juga. Dan dia mengharapkan pujian yang diperoleh orang-orang yang melakukan itu, serta hak istimewa dan kebebasan menggunakan persediaan umum seperti mereka. Oleh karena itu, perbuatannya itu merupakan pernyataan tidak langsung bahwa dia membawa seluruh hasil penjualan seperti mereka, dan ini adalah kebohongan, karena dia menyimpan sebagian. Perhatikanlah, banyak orang terdorong membuat kebohongan besar karena dikuasai keangkuhan dan mencintai tepuk tangan manusia, terutama dalam berbuat amal kepada orang miskin. Oleh karena itu janganlah sampai kita kedapatan menyombongkan diri dengan pemberian palsu yang diberikan kepada kita, atau yang diberikan oleh kita (Ams. 25:14). Kita bahkan tidak boleh menyombongkan diri bila memberikan pemberian yang sepenuh hati. Inilah arti peringatan Juru Selamat kita mengenai perbuatan amal, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Barangsiapa membanggakan perbuatan baik yang tidak pernah mereka lakukan, atau berjanji melakukan perbuatan baik tetapi tidak pernah melakukannya, atau membuat kesan perbuatan baiknya lebih banyak atau lebih baik daripada sesungguhnya, melakukan dosa kebohongan yang sama dengan Ananias itu. Ini seharusnya membuat kita semua takut memikirkannya.

- Dia menyampaikan kebohongan ini kepada Roh Kudus. Uang itu, dan kata-kata yang diucapkan, bukan hanya disampaikan kepada para rasul, melainkan lebih kepada Roh Kudus yang ada di dalam mereka (ay. Kis 5:4). Engkau bukan mendustai manusia (bukan kepada manusia saja, bukan terutama kepada manusia, walaupun para rasul hanyalah manusia), tetapi mendustai Allah. Dari sini pantas disimpulkan bahwa Roh Kudus adalah Allah, karena orang yang mendustai Roh Kudus mendustai Allah. “Orang-orang yang mendustai para rasul, yang digerakkan dan bertindak oleh Roh Allah, dikatakan mendustai Allah, karena para rasul bertindak dengan kuasa dan wewenang dari Allah. Selanjutnya (seperti yang diamati dengan baik oleh Dr. Whitby), kuasa dan wewenang Roh Kudus pastilah kuasa dan wewenang Allah.” Lebih jauh dia menunjukkan, “Ananias dikatakan mendustai Allah, karena dia mendustai Roh yang ada di dalam diri para rasul, yang memampukan mereka mengenali rahasia-rahasia hati dan tindakan manusia, yang adalah ciri khas Allah sendiri. Orang yang mendustai Roh pastilah mendustai Allah, karena dia mendustai Dia yang memiliki ciri khas Allah yang tidak dapat dialihkan kepada siapa pun, dan karenanya merupakan hakikat ilahi.”

3. Hal-hal yang memberatkan dosa tersebut (ay. Kis 5:4). Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Ini dapat dipahami dengan dua cara:

(1) “Engkau tidak berada di bawah pencobaan untuk menahan sebagian dari hasil penjualan. Sebelum tanah itu dijual, itu adalah kepunyaanmu, dan tidak digadaikan atau dijadikan jaminan pinjaman. Ketika tanah itu dijual, engkau berkuasa untuk memberikan uangnya sesukamu, jadi engkau bisa saja memberikan seluruhnya. Engkau tidak memiliki utang yang harus dibayar, mungkin tidak memiliki anak yang harus dibiayai, jadi tidak berada di bawah pengaruh dorongan khusus apa pun untuk menahan sebagian uang hasil penjualan. Engkau melakukan pelanggaran tanpa alasan.” Atau,

(2) “Engkau sama sekali tidak perlu menjual tanahmu, atau membawa sedikit pun dari uang itu ke kaki para rasul. Engkau bisa saja menyimpan uang itu, jika engkau mau, dan tanah itu juga, dan tidak perlu berpura-pura melakukan tindakan sempurna ini.” Para rasul menetapkan peraturan amal, supaya orang-orang jangan ditekan, dan supaya amal itu tidak dituntut sebagai suatu keharusan, karena Tuhan menyukai orang yang memberi dengan sukacita (2Kor. 9:7). Filemon pun harus melakukan perbuatan baik, jangan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela (Flm. 1:14). Seperti halnya lebih baik tidak bersumpah daripada bersumpah lalu tidak menepatinya, demikian pula lebih baik dia tidak menjual tanahnya sama sekali daripada menjual untuk menahan sebagian uang hasil penjualannya. Lebih baik tidak berpura-pura melakukan perbuatan baik daripada berpura-pura melakukannya padahal hanya setengah-setengah. “Setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Tetapi tidak demikian halnya jika engkau bersumpah atasnya. Engkau sudah berbicara kepada Tuhan dan tidak dapat mundur lagi.” Jadi, ketika memberikan hati kita kepada Allah, kita tidak boleh memberikannya sebagian. Iblis, seperti ibu yang mengakui anak yang bukan miliknya, mau menerima separuh, namun Allah menghendaki seluruh hati kita atau tidak sama sekali.

4. Semua kesalahan ini, dengan hal-hal tadi yang memberatkan, dituduhkan kepadanya: Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Perhatikanlah, walaupun Iblis membisiki hatinya supaya melakukan itu, namun dia dikatakan merencanakan perbuatan itu dalam hatinya, yang menunjukkan bahwa kita tidak dapat memperingan dosa-dosa kita dengan meletakkan kesalahan pada iblis. Iblis mencobai, namun tidak dapat memaksa. Oleh keinginan kita sendirilah, kita diseret dan dipikat. Kejahatan apa pun yang dikatakan atau dilakukan orang berdosa, dia membuahinya di dalam hatinya sendiri. Oleh karena itu, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya. Penutup dakwaan itu sangat berat, namun sangat adil: Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah. Betapa kuat penegasan yang diberikan sang nabi terhadap kejahatan Ahas, Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? (Yes. 7:13). Dan juga Musa terhadap kejahatan Israel, Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN (Kel. 16:8). Jadi di sini, engkau bisa saja memperdayai kami, yang adalah manusia seperti dirimu sendiri, namun jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Jika kita berpikir hendak mencurangi Allah, pada akhirnya kita akan terbukti membuat kecurangan yang mencelakakan jiwa kita sendiri.


III. Kematian dan penguburan Ananias (ay. Kis 5:5-6).

1. Dia tewas di tempat.
Ketika mendengar perkataan itu Ananias diam saja, sama seperti orang yang dituduh menyusup masuk pesta perjamuan kawin tanpa berpakaian pesta. Dia tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membela dirinya. Namun bukan hanya itu saja, dia seketika terdiam, karena tewas seketika: rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Tidak jelas apakah Petrus memaksudkan dan mengharapkan hal ini akan terjadi setelah apa yang dia katakan kepadanya. Mungkin ya, karena kepada Safira istrinya Petrus secara khusus membicarakan kematian (ay. Kis 5:9). Ada yang berpikir bahwa seorang malaikat memukul dia, sehingga dia mati, seperti Herodes (12:23). Atau, hati nuraninya sendiri menampar dia dengan kengerian dan keterkejutan yang amat sangat karena memahami kesalahannya, sehingga dia jatuh dan mati di bawah beban kesalahan itu. Dan mungkin, ketika dia diyakinkan telah mendustai Roh Kudus, dia ingat bahwa hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni, dan ini menusuk dia seperti sebilah pisau ke jantungnya. Lihatlah kuasa firman Allah di mulut para rasul. Seperti halnya bagi sebagian orang kuasa firman itu adalah bau kehidupan yang menghidupkan, demikian pula bagi yang lain itu adalah bau kematian yang mematikan. Seperti halnya ada yang dibenarkan oleh Injil, demikian pula ada yang dihukum olehnya. Hukuman terhadap Ananias ini mungkin tampak keras, namun kita yakin ini adil.

(1) Hukuman ini dimaksudkan untuk memelihara kehormatan Roh Kudus yang saat itu belum lama dicurahkan ke atas para rasul, untuk menegakkan kerajaan Injil. Yang dilakukan Ananias terhadap Roh Kudus adalah penghinaan besar, seolah-olah Dia dapat diperdayai, dan ini sungguh akan menyangkali kebenaran kesaksian para rasul. Karena, jika dengan Roh Kudus mereka tidak dapat mengungkap penipuan tersebut, bagaimana mungkin dengan Roh itu mereka bisa mengungkapkan hal-hal mendalam tentang Allah, yang harus mereka nyatakan kepada anak-anak manusia? Oleh karena itu kepercayaan kepada karunia dan kuasa para rasul penting untuk didukung, walaupun dengan harga yang mahal ini.

(2) Hukuman ini dimaksudkan untuk mencegah orang lain melakukan kesombongan yang sama, pada saat sekarang ini di awal masa bekerjanya Roh Kudus. Simon si penyihir itu sesudah itu tidak dihukum dengan cara yang sama, juga Elimas. Namun Ananias dijadikan contoh saat pertama itu, supaya, bersama bukti layak yang menunjukkan betapa menyenangkannya menerima Roh Kudus, terdapat juga bukti layak yang menunjukkan betapa berbahayanya menolak Roh Kudus dan menghina-Nya. Alangkah kerasnya hukuman atas penyembahan anak lembu emas, dan pengumpulan kayu api pada hari Sabat, ketika hukum kedua dan keempat dari sepuluh perintah Allah baru saja diberikan saat itu! Demikian pula persembahan api yang asing oleh Nadab dan Abihu, dan pemberontakan Korah dan kumpulannya, ketika api dari sorga baru saja diberikan saat itu, dan wewenang Musa dan Harun saat itu baru saja ditegakkan. Selain itu, hukuman Ananias ini dilaksanakan melalui pelayanan Petrus, yang padahal juga telah menyangkal Tuan-Nya dengan berbohong hanya beberapa waktu lalu. Hal ini mengisyaratkan bahwa hukuman itu bukanlah karena Petrus membenci kesalahan yang dilakukan terhadap dirinya. Dia yang telah bersalah akan bermurah hati terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan, dan dia yang pernah bertobat dan diampuni akan mengampuni penghinaan ini, dan berusaha keras membawa orang yang bersalah ini kepada pertobatan. Tetapi hukuman ini adalah tindakan Roh Allah dalam diri Petrus: kepada Dia-lah penghinaan dilakukan, dan oleh Dia-lah hukuman diberikan.

2. Ananias segera dikuburkan, karena ini adalah tata cara orang Yahudi (ay. Kis 5:6).
Beberapa orang muda, yang mungkin diberi tugas di gereja untuk mengubur orang mati, seperti libitinarii dan polinctores di antara orang Romawi. Atau mungkin mereka adalah orang-orang muda yang menyertai dan melayani para rasul. Mereka mengapani mayat itu dengan kain kafan, mengusungnya ke luar kota, dan menguburnya dengan layak, walaupun dia mati dalam dosa dan karena pukulan pembalasan ilahi yang tiba-tiba.


IV. Perhitungan dengan Safira, istri Ananias,
yang mungkin lebih dulu melakukan pelanggaran, dan mendorong suaminya supaya memakan buah terlarang ini. Masuklah dia ke tempat di mana para rasul berada, yang tampaknya adalah Serambi Salomo, karena di sanalah kita biasa menemukan mereka (ay. Kis 5:12), yaitu bagian Bait Allah di mana Kristus dahulu berjalan-jalan (Yoh. 10:23). Kira-Kira tiga jam kemudian masuklah dia, berharap ikut mendapatkan ucapan terima kasih dari semua orang atas kedatangannya, dan atas persetujuannya untuk menjual tanah tersebut. Dari situ mungkin dia berhak mendapatkan sebagian atau sepertiga. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Aneh, tidak ada yang bergegas memberi tahu dia tentang kematian mendadak suaminya, supaya dia dapat menghindar. Mungkin seseorang sudah melakukannya, namun dia tidak ada di rumah. Karena itu dia datang untuk memperkenalkan dirinya di hadapan para rasul, sebagai seorang dermawan, dengan dana yang dia dapatkan dengan pelanggaran, bukan berkat.

1. Dia terbukti bersalah ikut melakukan dosa yang sama dengan suaminya, melalui pertanyaan yang diajukan Petrus kepadanya (ay. Kis 5:8). “Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?” dengan menyebutkan jumlah yang dibawa dan diletakkan Ananias di kaki para rasul. “Inikah semua yang engkau terima dari penjualan tanah itu, dan tidak lebih dari itu?” “Ya,” kata Safira, “kami tidak memperoleh lebih dari itu. Itulah setiap sen yang kami terima.” Ananias dan istrinya sepakat menyampaikan cerita yang sama. Karena tawar-menawar dilakukan secara pribadi, dan ada persetujuan untuk merahasiakannya di antara mereka, tidak ada orang yang dapat menyanggah mereka, dan mereka mengira dapat mempertahankan kebohongan mereka dengan aman, lalu memperoleh keuntungan karenanya. Menyedihkan jika kita melihat hubungan-hubungan yang seharusnya saling mendorong untuk melakukan hal yang baik malah saling mengeraskan dalam melakukan hal yang jahat.

2. Hukuman disampaikan kepadanya, bahwa dia harus ambil bagian dalam hukuman suaminya (ay. Kis 5:9).

(1) Dosanya dibukakan: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?” Sebelum menyampaikan hukuman, Petrus memberitahukan kekejiannya, dan menunjukkan kejahatan dosanya. Perhatikanlah,
- Bahwa mereka mencobai Roh TUHAN. Sama seperti Israel mencobai Allah di padang gurun, ketika mereka mengatakan, “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” setelah mereka melihat begitu banyak bukti menakjubkan atas kuasa-Nya. Dan bukan hanya kehadiran-Nya, melainkan juga kekuasaan-Nya, ketika mereka berkata, “Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?” Demikian pula di sini, “Sanggupkah Roh di dalam diri para rasul mengungkapkan penipuan ini? Sanggupkah mereka mengetahui bahwa ini hanyalah sebagian dari hasil penjualan, saat kita mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah seluruh hasil penjualan?” Dapatkah Ia mengadili dari balik awan-awan yang gelap? (Ayb. 22:13). Mereka melihat bahwa para rasul memiliki karunia lidah, namun apakah mereka memiliki karunia membedakan rupa-rupa roh? Orang yang mengira dapat berbuat dosa dengan aman dan bebas mencobai Roh Allah. Mereka mencobai Allah seolah-olah Dia sama seperti diri mereka sendiri.

- Bahwa mereka sepakat bersama-sama melakukannya, membuat ikatan hubungan mereka satu sama lain (yang karena penetapan ilahi merupakan ikatan yang kudus) menjadi ikatan kejahatan. Sulit dikatakan mana yang lebih buruk di antara teman satu kuk dan hubungan-hubungan lain: perpecahan dalam berbuat baik atau kerukunan dalam berbuat jahat. Sepertinya tersirat bahwa kesepakatan mereka untuk melakukannya bersama-sama adalah tindakan mencobai Roh Kudus lebih jauh. Seakan-akan, ketika mereka berjanji untuk saling mendukung dalam hal ini, bahkan Roh TUHAN sendiri pun tidak dapat menyingkap mereka. Dengan demikian mereka menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, namun dipaksa mengetahui bahwa itu adalah sia-sia. “Mengapa kamu sampai tergoda seperti itu? Kebodohan aneh apa yang merasuki kamu, sehingga mau mengambil risiko mencobai apa yang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi? Mengapa kamu, yang adalah orang-orang Kristen yang sudah dibaptis, tidak memahami dirimu sendiri dengan lebih baik? Berani-beraninya kamu mengambil risiko sebesar itu?

(2) Hukumannya dibacakan: Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu (mungkin Petrus mendengar mereka datang, atau tahu bahwa mereka tidak mungkin lama pergi) dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar. Seperti Adam dan Hawa, yang sepakat memakan buah terlarang, bersama-sama diusir keluar dari taman Firdaus, demikian pula Ananias dan Safira, yang sepakat mencobai Roh TUHAN, bersama-sama dihalau keluar dari dunia ini.


3. Hukuman itu terlaksana dengan sendirinya.
Tidak perlu ada algojo, karena kuasa membunuh menyertai kata-kata Petrus, seperti halnya kuasa menyembuhkan kadang-kadang menyertainya. Karena, Allah, yang dalam nama-Nya Petrus berbicara, mematikan dan menghidupkan, dan dari mulut-Nya (dan Petrus saat itu adalah mulut-Nya) keluar apa yang buruk dan apa yang baik (ay. Kis 5:10): Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus. Terhadap beberapa orang berdosa Allah segera mengambil tindakan, sedangkan terhadap yang lainnya Dia lama bersabar. Sudah pasti Allah memiliki alasan-alasan yang tepat untuk perbedaan itu, namun Dia tidak harus menjelaskannya kepada kita. Safira baru saat itu mendengar bahwa suaminya sudah mati. Pemberitahuan itu, dengan pengungkapan dosanya, dan hukuman mati yang diberikan kepadanya, menyambar dia bagaikan oleh petir dan menerbangkannya bagaikan oleh angin puyuh. Ada banyak peristiwa kematian mendadak yang tidak boleh dianggap sebagai hukuman atas suatu dosa besar, seperti ini. Kita tidak boleh berpikir bahwa semua orang yang mati mendadak adalah orang-orang yang lebih berdosa dari yang lain. Mungkin hal itu menguntungkan bagi mereka, bahwa mereka mengalami perjalanan singkat. Bagaimanapun, itu adalah peringatan bagi semua orang supaya selalu siap. Tetapi di sini sudah jelas bahwa kematian tersebut merupakan penghakiman. Sebagian orang mempertanyakan keadaan kekal Ananias dan Safira, dan cenderung berpikir bahwa kebinasaan daging adalah agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. Dan saya harus mengikuti pendapat yang murah hati itu, kalau saja mereka diberi kesempatan untuk bertobat, seperti dengan orang Korintus yang melakukan hubungan badan dengan sesama anggota keluarganya. Namun, hal-hal yang tersembunyi bukanlah untuk kita. Dikatakan, rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus. Di tempat dia seharusnya meletakkan seluruh hasil penjualan, dan tidak melakukannya, di situlah dia tergeletak, seperti untuk menutup kekurangannya. Orang-orang muda yang mengurus penguburan masuk dan mendapati dia sudah mati, dan tidak dikatakan mereka mengapani dia, seperti yang dia lakukan terhadap Ananias, namun mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya. Dan mungkin sebuah tulisan dipasang di atas kuburan mereka, yang menyiratkan bahwa mereka adalah tugu kemurkaan ilahi terhadap orang-orang yang mendustai Roh Kudus. Ada orang yang bertanya apakah para rasul menyimpan uang yang mereka bawa, yang tentangnya mereka telah berbohong. Saya cenderung berpikir mereka menyimpannya. Mereka tidak memiliki takhayul orang-orang yang mengatakan, “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan,” karena bagi orang suci semuanya suci. Apa yang mereka bawa tidak cemar bagi orang-orang yang menerimanya, tetapi apa yang mereka simpan cemar bagi mereka yang menyimpannya. Perbaraan pemberontak-pemberontak Korah pun digunakan.


V. Kesan yang ditimbulkan pada orang banyak.
Hal ini dicatat di tengah-tengah cerita (ay. Kis 5:5): Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu, yang mendengar kata-kata Petrus, dan melihat apa yang terjadi sesudah itu atau yang mendengar cerita tentang itu, karena pastilah peristiwa itu menjadi bahan seluruh pembicaraan di kota. Dan lagi (ay. Kis 5:11): Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.

1. Orang-orang yang telah menggabungkan diri dengan gereja menjadi takut dan kagum terhadap Allah dan penghakimannya, dan semakin menghormati pengaturan Roh Kudus yang sekarang berlaku atas mereka. Itu bukanlah kabut atau penghalang bagi sukacita kudus mereka, melainkan mengajar mereka untuk bersungguh-sungguh dengan Roh Kudus, dan bersukacita dengan gemetar. Semua yang meletakkan uang mereka di kaki para rasul setelah itu takut menahan sebagian dari hasil penjualan.

2. Semua yang mendengar hal itu menjadi lumpuh ketakutan karenanya, dan segera mengatakan, Siapakah yang tahan berdiri di hadapan TUHAN, Allah yang kudus ini dan Roh-Nya di dalam diri para rasul? Seperti dalam 1 Samuel 6:20.



ALASAN PEMILIHAN TEMA
Ada ungkapan "jangan ada dusta di antara kita", karena pada prinsipnya tidak ada seorang pun yang ingin didustai. Dusta itu menyakitkan dan berakibat buruk yang dapat mencelakakan orang lain. Sedangkan bagi orang yang suka berdusta akan dibenci serta sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari siapa pun. Sebagaimana ungkapan mengatakan, "tidak ada yang percaya kepada pendusta, bahkan saat dia mengatakan kebenaran." Dusta berarti bohong atau tidak benar yang dikenal dalam dunia informasi dengan hoax. Berdusta menunjuk pada perilaku jahat manusia, yang
bertentangan dengan hukum Tuhan, sebagaimana yang ditegaskan antara lain dalam Keluaran 20:16 jangan berdusta. Berdusta itu dosa, upah dosa adalah maut (Roma 6:23), dan Iblis adalah pendusta dan bapa dari semua pendusta (Yoh. 8:44).

Ironisnya dalam realitas hidup ini. ada kecenderungan orang tidak lagi merasa risih, bersalah atau berdosa saat berdusta. Berdusta sudah merasuki sendi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi ketika dusta telah nyata dalam gumul dan tantangan pelayanan gereja.

Dengan begitu marilah kita belajar lagi firman Tuhan dengan tema "Jangan Berdusta" berdasarkan Kisah Para Rasul 5:1-11 yang akan memperkaya nilai-nilai kehidupan iman Kristen warga gereja dalam kehidupan setiap hari.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Memahami perikop Kisah Para Rasul 5:1-11, ada baiknya kita mengetahui bagaimana cara hidup jemaat mula-mula. Hidup mereka begitu mengesankan sebagai murid-murid Yesus Kristus. Mereka hidup bersama dalam satu persekutuan yang tekun berdoa dan memberitakan Injil (4:23-31) serta melaksanakan pelayanan diakonia. Pada pasal 4:32-37, disaksikan bahwa mereka sehati dan sejiwa dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri. Tetapi segala sesuatu mereka pahami sebagai kepunyaan bersama, sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan. Mereka secara sukarela mendiakoniakan tanah atau ladang, dengan cara menjual dan hasilnya mereka bawa atau letakkan di depan kaki rasul-rasul. Dengan tulus hati, kemudian dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya, sebagaimana dilakukan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas.

Cerita Ananias dan Safira diangkat oleh penulis untuk memperlihatkan bahwa dalam hal pemberian diakonia oleh jemaat mula-mula, ada yang memberi seperti Barnabas. Tetapi ada juga serupa Ananias dan isterinya Safira, mereka memberi dengan maksud untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari jemaat dan Para rasul. Motivasi Ananias dan Safira hanyalah sekedar mengikuti apa yang menjadi trend, yakni ada orang menjual tanah dan memberikan hasil penjualan kepada para rasul untuk dibagikan memenuhi kebutuhan jemaat. Rupanya suami-isteri itu, tidak ingin ketinggalan, tidak mau kehilangan muka, ingin terlihat baik dan berharap mendapat pujian dari banyak orang termasuk dari para rasul. Tindakan mereka hanyalah sebuah bentuk pencitraan untuk mengejar popularitas, tetapi mereka berdusta dan tidak tutus. Mereka melakukan dengan akal bulus, tidak menyampaikan yang sebenarnya atau berbohong di hadapan Tuhan Allah dan jemaat berakibat maut seketika itu juga.

Cerita Ananias dan Safira sangat menarik untuk kita kaji secara mendalam terutama saat mereka berdusta di hadapan Rasul Petrus. Lebih menarik lagi untuk mengetahui bentuk dusta mereka dan konsekuensinya.

1. Ananias dan Safira sepakat berdusta (ayat 1-2)
Ananias dan Safira adalah bagian dari jemaat mula-mula. Oleh penulis, mereka digambarkan secara berbeda. Pada pasal 4, ada figur Barnabas, seorang yang memberi dalam keutuhan, kejujuran, ketulusan dan kemurnian hati. Berbeda dengan Ananias dan isterinya, mereka sepakat berdusta. Dikatakan bahwa "dengan setahu istrinya," Ananias menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa di depan kaki rasul-rasul.

Frase "menahan sebagian" menggunakan kata Yunani enosfisato yang artinya put aside secretly for oneself (menyisihkan secara sembunyi-sembunyi untuk diri sendiri dengan tidak jujur). Kata ini juga dapat diartikan mengambil yang bukan haknya, menunjuk pada perilaku curang, tidak jujur, menyeleweng. Ananias dan Safira berlaku curang dan menyeleweng, karena menahan sebagian hasil penjualan tanah itu dan berdusta kepada para rasul.

"Sebagian lain" dibawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul. Kata "dibawa" berasal dari kata Yunani Enegkas yang artinya to carry, to present, to express, sedangkan kata "diletakkan" berasal dari kata Ethepen yang berarti to place, lay on, placed in the... Dua kata ini menegaskan bahwa tindakan dibawa dan diletakkannya sebagai persembahan untuk Tuhan Allah melalui para rasul.

2. Rasul Petrus Berusaha Menyadarkan Ananias (ayat 3-6)
Petrus berusaha menyadarkan Ananias dengan menyentuh hati dan pikirannya dalam suatu percakapan. Pertama, menyentuh hati. Petrus bertanya mengapa hatimu dikuasai iblis? Karakter Iblis adalah jahat, ia adalah bapa dari semua pendusta (Lih. Yoh. 8:44), artinya hati yang dikuasai Iblis yang membuat Ananias, "mendustai Roh Kudus". Kata mendustai Roh Kudus (Yun. pseusasthai se to pneuma to hagion) yang berarti lie, tell what is not true, tell a falsehood. Pertanyaan Petrus hendak menyatakan berdusta itu karakter iblis, bertolak belakang dengan karakter Tuhan Allah yang tidak bisa berdusta. Sehingga dusta Ananias bukanlah kebohongan terhadap para rasul saja, tetapi kepada Tuhan Allah. Kedua, sentuhan pada pikiran. Petrus berusaha memberi pengertian agar Ananias sadar dari mindset (pola pikir) yang sesat. Pertanyaan Petrus jelas, bahwa selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah tetap dalam kuasamu? Kata tanya "bukankah" dua kali dikemukan Petrus, merupakan gaya retoris adalah majas pertanyaan yang tidak perlu dijawab, melainkan harus disadari.

Saat Petrus bertanya bisa menjadi kesempatan Ananias untuk sadar dan bertobat, untuk berkata jujur, bahwa yang benar adalah ia tidak memberikan persembahan seutuhnya berdasarkan hasil penjualan tanah itu, melainkan memberi sebagian saja, dan sebagian lagi untuk keperluan mereka. Tetapi ia diam menutupi kebenaran itu.

3. Safira membenarkan kebohongan Ananias (ayat 7-9)
Tiga jam setelah kematian Ananias, masuklah Safira di depan para rasul. Petrus mengkonfirmasi harga tanah yang mereka jual. Safira berdusta seperti suaminya. "Betul sekian," jawab Safira. Kata betui sekian dari kata Yunani nai tosoutou (yes, certainly! that much). Safira dengan yakin membenarkan Petrus mempertanyakan sikap Ananias saat memberi persembahan. "Mengapa hatimu dikuasai iblis sehingga engkau mendustai Roh Kudus?". Kata mendustai Roh Kudus (Yun. pseusasthai se to pneuma to hagion) yang berarti berbohong, tidak benar; lie, tell what is not true, tell a falsehood. Safira mendukung tindakan Ananias membohongi Tuhan Allah.

4. Kematian Safira tindakan penghukuman Tuhan (10)
Safira mati seperti halnya Ananias suaminya (ayat 5), itu semua terjadi karena mereka telah berdusta saat membawa persembahan. Perbuatan itu jahat di mata Tuhan Allah, sehingga mereka dihukum mati. Penghukuman Tuhan Allah merupakan pernyataan otoritas sorgawi yang tidak dapat diremehkan oleh siapa pun. Serta memberi penegasan kewibawaan pelayanan yang dilaksanakan para Rasul, bahwa mereka menjalankan pelayanan bukan atas dasar keinginan
mereka tetapi berdasarkan kehendak Tuhan, yang memberi perintah dan kuasa dalam Roh Kudus untuk memberitakan Injil Yesus Kristus (Matius 28:18-20). Penghukuman itu adalah bentuk tindakan disiplin Tuhan Allah guna memurnikan semangat memberikan persembahan yang ada di tengah-tengah jemaat agar tidak dikotori oleh dusta.






Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 10 Juni 2024 - Kisah Para Rasul 5:3 - Menjaga Hati

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 8 Juni 2024 - Markus 6:43-44 - Dua Belas Bakul




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2024..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,