|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2024 Minggu, 3 Maret 2024 Khotbah GMIM Minggu, 3 Maret 2024 - Sesungguhnya Seorang Di Antara Kamu Akan Menyerahkan Aku - Yohanes 13:21-30 Perhatikan, saat roh jahat dibiarkan masuk, Roh Kudus akan undur diri. Itulah yang dilakukan Yudas. Ia menghianati Yesus. Yohanes 13:21-30 Yesus memperingatkan Yudas 13:21 Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." 13:22 Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. 13:23 Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. 13:24 Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!" 13:25 Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?" 13:26 Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. 13:27 Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." 13:28 Tetapi tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. 13:29 Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. 13:30 Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam. Penjelasan: * Pengkhianatan Yudas Diberitahukan; Kegundahan Para Murid (13:21-30) Secara lebih khusus lagi Kristus memberi tahu mereka mengenai rancangan yang tengah direka-reka oleh salah satu dari antara mereka (ay. 21): Setelah Yesus berkata demikian, secara umum saja, untuk mempersiapkan mereka akan peristiwa yang lebih khusus lagi yang akan dibukakan-Nya, Ia pun menjadi sangat terharu. Ia menunjukkan perasaan-Nya itu melalui gerak-gerik atau tanda tertentu, lalu bersaksi. Dengan sungguh-sungguh ia mengumumkan hal itu (cum animo testandi -- dengan kesungguhan hati seorang saksi yang ada di bawah sumpah), "Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, salah seorang dari kamu, para rasul dan pengikut-Ku selama ini." Tidak ada yang benar-benar dapat dinyatakan telah berkhianat terhadap-Nya selain dari dia yang selama ini telah mendapat kepercayaan-Nya dan yang telah menjadi saksi dari segala pekerjaan-Nya. Pernyataan-Nya ini tidak menetapkan Yudas untuk berbuat dosa, sebab walaupun peristiwa itu terjadi seperti yang telah dinubuatkan sebelumnya, namun hal itu tidak disebabkan oleh nubuatan itu. Kristus bukanlah pencipta dosa, tetapi mengenai dosa Yudas yang menjijikkan ini, . Kristus dapat mengetahuinya sejak awal, sebab apa yang masih rahasia dan belum terjadi serta terselubung dari mata semua yang hidup, semuanya telanjang dan terbuka di mata Kristus. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati manusia, bahkan lebih baik daripada manusia itu mengenali apa yang ada dalam dirinya sendiri (2Raj. 8:12), dan karena itulah Dia dapat melihat apa yang akan dilakukan oleh mereka. Aku telah mengetahui, bahwa engkau berbuat khianat sekeji-kejinya (Yes. 48:8). . Dia memberitahukan hal tersebut bukan hanya demi kebaikan para murid-Nya yang lain, melainkan juga demi Yudas sendiri, supaya dia menjadi sadar oleh peringatan tersebut dan dapat mengelak dari jebakan si Iblis. Biasanya, para pengkhianat akan membatalkan rencana mereka saat ketahuan. Jadi, Yudas pun pastinya akan mengurungkan niatnya itu saat mengetahui bahwa Gurunya ternyata telah mengetahui rancangannya itu. Jika tidak, maka malapetaka yang akan menimpanya akan menjadi lebih buruk lagi. . Dia mengatakan hal itu dengan nada yang amat prihatin. Dia menjadi sangat terharu saat mengungkapkannya. Dia telah sering membicarakan mengenai penderitaan dan kematian-Nya sendiri, tanpa keterharuan yang kini Ia perlihatkan saat Dia membicarakan pengkhianatan dan kebejatan Yudas. Hal itu sangat menyentuh hati nuraninya. Perhatikan, kejatuhan dan kegagalan para murid Kristus merupakan dukacita yang amat besar bagi jiwa Guru mereka. Dosa-dosa orang Kristen merupakan kepedihan bagi Kristus. "Masakan salah satu dari kalian akan mengkhianati-Ku? Kamu yang telah menerima segala anugerah yang luar biasa daripada-Ku. Kamu yang Kupikir layak akan selalu setia kepada-Ku, yang telah menunjukkan rasa hormat yang begitu besar kepada-Ku. Kesalahan apakah yang telah kamu dapati dalam diri-Ku sehingga seorang dari kalian sampai tega mengkhianati Aku?" Semua pikiran ini berkecamuk dalam hati-Nya, seperti perbuatan durhaka anak-anak mendukakan orang-orang yang telah membesarkan dan mengasuh mereka (Yes. 1:2; Mzm. 95:10; Yes. 53:10). Seketika itu juga para murid menjadi tersadar. Mereka tahu benar bahwa Guru mereka itu tidak mungkin membohongi atau mempermainkan mereka. Karena itulah mereka saling berpandangan dengan sorot mata prihatin, bertanya-tanya siapakah gerangan orang yang sedang Ia bicarakan itu. . Dengan saling memandang seperti itu mereka memperlihatkan kegundahan yang kini mereka rasakan karena peringatan Kristus tadi. Perkataan itu begitu menakutkan mereka sampai-sampai mereka tidak tahu lagi harus memandang ke arah mana atau harus berkata apa. Mereka melihat Guru mereka sedang bersusah hati, sehingga hati mereka pun ikut gundah. Peristiwa ini terjadi justru ketika mereka sedang dijamu dalam sebuah perayaan. Tetapi kita memang harus diajari untuk bersukacita dengan gemetar seperti itu, seolah-olah kita tidak merasakan sukacita itu. Saat Daud meratapi pemberontakan yang dicetuskan oleh anaknya sendiri, seluruh pengikutnya ikut menangis bersama-sama dengan dia (2Sam. 15:30). Begitu pula dengan murid-murid Kristus saat itu. Perhatikan, apa pun yang mendukakan Kristus hendaknya mendukakan pula semua orang kepunyaan-Nya, terutama kegagalan cemar mereka yang telah dipanggil dalam nama-Nya: Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita? . Mereka pun berusaha mencari tahu siapa gerangan si pengkhianat itu. Dengan muram mereka saling memandang wajah satu sama lain, untuk menyelidiki siapa kiranya yang wajahnya memerah atau menunjukkan rasa bersalah dalam hatinya melalui raut muka yang kacau. Akan tetapi, sewaktu orang-orang yang setia memiliki hati nurani yang bersih sehingga mereka sanggup mengangkat wajah mereka tanpa cela, orang yang tidak setia memiliki hati nurani yang begitu kering sehingga dia bahkan tidak merasa malu dan mukanya pun tidak merona, sehingga cara tadi tidak berhasil mengungkapkan siapa si pengkhianat itu. Demikianlah Kristus membiarkan para murid-Nya kebingungan untuk sementara waktu supaya Dia dapat menguji mereka dan menjadikan mereka rendah hati, supaya mereka tergerak untuk menyelidiki diri mereka sendiri dan merasakan amarah karena perbuatan si Yudas yang keji itu. Kadang kala memang baik bagi kita untuk dibuat terpana, untuk mengambil jeda sejenak. Para murid itu mendesak-desak Kristus untuk menjelaskan sendiri dan memberi tahu mereka siapa sebenarnya yang Ia maksudkan itu, sebab hanya itulah yang dapat mengurangi kepedihan hati mereka, karena setiap orang dari mereka kini berpikir bahwa diri mereka pun layak dicurigai, sama seperti saudara-saudara mereka yang lain. Tampaklah, . Dari antara semua murid itu, Yohanes-lah yang paling layak untuk bertanya, sebab dia adalah murid kesayangan dan duduk di sebelah Gurunya (ay. 23): Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Tampaknya orang itu adalah Yohanes, dengan membandingkan pasal 21:20 dengan 21:24. Perhatikanlah: (1) Kebaikan khusus yang diberikan Kristus kepadanya. Yohanes dikenal dengan ungkapan ini, bahwa dia adalah murid yang dikasihi Yesus. Dia mengasihi mereka semua (ay. 1), tetapi Yohanes begitu istimewa bagi-Nya. Nama Yohanes sendiri berarti penuh rahmat. Daniel, yang dihormati melalui pewahyuan-pewahyuan dalam Perjanjian Lama yang diterimanya, seperti halnya Yohanes dalam Perjanjian Baru, disebut sebagai orang yang sangat dikasihi (Dan. 9:23). Perhatikan, Kristus mengasihi beberapa orang di antara para murid-Nya lebih dari yang lainnya. (2) Tempat dan sikap tubuh Yohanes pada saat itu: Dia bersandar dekat kepada Yesus. Beberapa orang berpendapat bahwa di daerah itu, orang memang biasa makan dengan posisi bersandar satu sama lain, yang satu bersandar pada yang lainnya, dan begitu seterusnya. Tetapi, menurut saya ini tidak mungkin, sebab dalam posisi seperti itu mereka pasti tidak dapat makan atau minum dengan nyaman. Akan tetapi, apakah hal itu benar atau tidak, yang pasti Yohanes saat itu bersandar dekat kepada Kristus, dan hal itu sepertinya merupakan perwujudan rasa kasih yang biasa dilakukan pada masa itu. Perhatikan, dari antara murid-murid Kristus, ada beberapa orang yang Ia biarkan bersandar dekat kepada-Nya sehingga mereka bisa lebih leluasa bersekutu dengan-Nya dibandingkan yang lainnya. Bapa mengasihi Anak dan menempatkan-Nya di pangkuan-Nya (1:18), begitu pula para orang percaya menyatu dengan Kristus melalui cara yang sama (17:21). Kehormatan seperti itu juga akan didapat oleh para orang kudus sebentar lagi, di pangkuan Abraham. Orang-orang yang tersungkur di kaki Kristus akan ditempatkan-Nya di pangkuan-Nya. (3) Namun Yohanes tetap merahasiakan namanya sendiri, sebab dia adalah penulis kisah ini. Dia sengaja menulis kalimat tersebut sebagai ganti namanya, untuk menunjukkan bahwa dia senang dengan sebutan itu. Itulah gelar kehormatannya, yaitu bahwa dia adalah murid yang dikasihi Yesus, sebagaimana seorang sahabat raja ada di pelataran Daud dan Salomo. Tetapi, Yohanes juga tidak mencantumkan namanya untuk memperlihatkan bahwa dia tidak menjadi besar kepala karena hal itu dan tidak mau menyombong-nyombongkannya. Dalam sebuah perkara yang mirip, Paulus juga hanya berkata, aku tahu tentang seorang Kristen. . Dari semua murid, Petruslah yang paling ingin tahu (ay. 24). Petrus, yang duduk agak jauh dari sana, mendorong Yohanes, dengan suatu isyarat atau sejenisnya, untuk bertanya. Pada dasarnya Petrus memang memiliki sifat seorang pemimpin dan paling cepat bertindak. Memang, bila sifat alamiah seseorang mendorongnya untuk berani menjawab dan bertanya, dan bila ia melakukannya dengan kerendahan hati dan hikmat, maka hal itu akan menjadikannya begitu berharga bagi pelayanan. Allah memberikan bakat-bakat yang berbeda, tetapi supaya orang-orang terkemuka di gereja tidak menjadi tinggi hati dan supaya orang-orang yang sederhana tidak menjadi tawar hati, di sini perlu ditunjukkan bahwa yang menjadi murid kesayangan-Nya itu bukanlah Petrus, melainkan Yohanes. Keingintahuan Petrus terpicu bukan saja karena dia ingin memastikan bahwa pengkhianat itu bukanlah dia, tetapi supaya dengan mengetahuinya mereka bisa menarik diri dari padanya dan berjaga-jaga terhadapnya, dan jika mungkin, menggagalkan rencananya itu. Mungkin menurut kita memang baik untuk mengetahui siapa dalam gereja yang hendak memperdayai kita, tetapi biarlah kebenaran ini saja cukup, yaitu bahwa Kristus tahu, meskipun kita tidak. Alasan mengapa Petrus tidak bertanya langsung adalah karena Yohanes memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melakukannya, sebab dia diuntungkan dengan posisi duduknya itu sehingga dapat membisikkan pertanyaan tersebut ke telinga Kristus dan menerima jawaban yang bersifat lebih pribadi. Baik sekali jika kita memanfaatkan orang-orang yang dekat dengan Kristus dan meminta mereka mendoakan kita. Apakah kita mengenal orang yang bersandar dekat kepada Kristus? Marilah kita meminta perkataan yang baik dari mereka. . Pertanyaan pun diajukan (ay. 25): Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling, dan setelah posisinya menjadi lebih nyaman untuk berbisik kepadanya, ia pun berkata kepada-Nya, Tuhan, siapakah itu? Di sini Yohanes memperlihatkan: (1) Rasa hormat terhadap rekan sesama murid dan isyarat yang telah diberikan olehnya. Meskipun Petrus tidak mendapat kehormatan seperti yang kini ia nikmati, Yohanes tidak segan-segan menanggapi isyarat yang diberikan olehnya. Perhatikan, orang-orang yang ada di pangkuan Kristus sering kali dapat belajar sesuatu yang berguna dari mereka yang ada di kaki-Nya. Mereka dapat diingatkan mengenai sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka. Yohanes bersedia membantu Petrus memuaskan keingintahuannya karena ia memang memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Demikianlah setiap orang yang telah menerima suatu karunia hendaknya memakai karunia itu untuk kebaikan bersama (Rm. 12:6). (2) Penghormatan terhadap Gurunya. Dia tetap menyebut-Nya sebagai Tuhan, sekalipun pada saat itu dia sedang berbisik ke telinga Kristus. Keakraban yang ia miliki untuk berdekatan dengan-Nya sama sekali tidak mengurangi rasa hormatnya terhadap Sang Guru. Kita memang wajib untuk tetap memakai kata-kata yang menunjukkan rasa hormat dan memelihara sopan santun, bahkan dalam saat teduh kita yang paling pribadi sekalipun, biarpun tidak ada yang melihatnya, sebagaimana yang harus kita lakukan dalam ibadah-ibadah bersama. Semakin erat persekutuan yang dimiliki jiwa-jiwa yang mulia dengan Kristus, semakin mereka menyadari betapa agungnya Dia dan betapa tidak berharganya mereka (seperti dalam Kej. 18:27). . Kristus segera memberi jawaban atas pertanyaan itu, tetapi dengan cara membisikkannya ke telinga Yohanes, sebab kelihatannya (ay. 29) murid-murid yang lain masih tidak tahu-menahu tentang perkara tersebut. Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, psomion -- sekerat, sepotong, sesudah Aku mencelupkannya ke dalam saus. Lalu sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya, sebagaimana yang diamati Yohanes dengan seksama, dan memberikannya kepada Yudas, dan Yudas langsung menerimanya tanpa mencurigai maksud Kristus itu, malahan merasa senang dapat mencicipi roti yang nikmat itu dengan mulutnya. (1) Kristus memberitahukan jati diri si pengkhianat itu melalui sebuah tanda. Dia bisa saja memberitahukan namanya secara terang-terangan kepada Yohanes (musuh dan penentang itu adalah Yudas, dialah si pengkhianat itu). Tetapi, dengan memberi suatu tanda, Ia ingin melatih pengamatan Yohanes dan menegaskan bahwa para pelayan-Nya harus memiliki roh yang bisa mencerna dengan baik, sebab saudara-saudara palsu yang harus kita waspadai tidaklah dikenal oleh kita melalui perkataan, melainkan melalui tanda. Mereka akan dikenal oleh kita dari buah-buah mereka, dari roh mereka. Perlu ketekunan dan kehati-hatian yang luar biasa supaya dapat menilai mereka dengan tepat. (2) Tanda itu berupa sekerat roti yang dicelup yang diberikan Kristus kepadanya. Tanda yang sangat tepat, sebab hal itu merupakan penggenapan firman (ay. 18) bahwa si pengkhianat adalah dia yang makan roti bersama-sama dengan-Nya, yang pada saat itu masih merupakan rekan bagi-Nya. Jadi tanda itu memiliki makna dan mengajari kita, - Bahwa Kristus kadangkala memberikan sepotong roti celupan kepada para pengkhianat. Kekayaan, kehormatan, dan kesenangan adalah roti-roti celupan (jika boleh saya katakan demikian) yang kadang kala diberikan Allah Sang Pemelihara ke dalam tangan orang-orang jahat. Mungkin saja Yudas menganggap dirinya sebagai murid kesayangan, sebab kepadanya diberikan roti celupan itu, seperti yang didapat Benyamin di meja Yusuf, bagian yang hanya khusus bagi Yusuf saja. Seperti itulah kemakmuran orang-orang bebal, seperti sepotong roti celupan yang membodohi itu, bisa membinasakan mereka. - Supaya kita tidak murka terhadap orang-orang yang kita ketahui amat jahat terhadap kita. Kristus memperlakukan Yudas sama baiknya seperti terhadap yang lainnya di meja makan saat itu, meskipun Dia tahu bahwa Yudas sedang merancangkan kematian-Nya. Jika seterumu lapar, berilah dia makan. Lakukanlah ini seperti Kristus juga melakukannya. Yudas sendiri malah semakin kukuh dalam kejahatannya, dan bukannya menginsyafinya. Peringatan yang telah diberikan itu baginya adalah bau kematian yang mematikan, sebab setelah itu, . Iblis lalu menguasainya (ay. 27): Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis: bukan untuk membuatnya sedih atau mengamuk, seperti yang dialami orang ketika kerasukan. Bukan pula untuk menjerumuskannya ke dalam api atau ke dalam air. Akan lebih bahagia kiranya bagi dia jika kejadian buruk itu yang menimpanya, atau jika saja ia tenggelam ke dalam danau bersama babi-babi itu. Akan tetapi, Iblis merasukinya untuk membuat dia semakin berprasangka buruk terhadap Kristus dan ajaran-Nya, untuk membuat dia memandang rendah Kristus sebagai orang yang nyawa-Nya tidak berharga. Iblis merasuki dia untuk mengobarkan rasa rakus dalam hatinya akan upah yang diperoleh dengan cara yang tidak benar, dan supaya dia tetap bertekad untuk melakukan apa pun demi mendapatkan upah itu. Akan tetapi, (1) Bukankah sebelum itu Iblis memang sudah ada di dalam dirinya? Lalu kenapa kini dikatakan bahwa Iblis merasukinya? Sudah dari dulunya Yudas memang seorang iblis (6:70), orang yang telah ditentukan untuk binasa, akan tetapi kini si Iblis merasukinya dengan lebih hebat lagi dan menguasainya dengan lebih leluasa lagi. Tujuannya untuk mengkhianati Gurunya itu kini telah matang menjadi sebuah kebulatan hati. Kini roh jahat itu kembali dengan tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya (Luk. 11:26). (2) Mengapa Iblis merasuki Yudas setelah ia menerima roti itu? Mungkin pada saat itu ia langsung sadar bahwa ia sudah ketahuan, dan hal itu membuatnya semakin ngotot untuk tetap menjalankan ketetapan hatinya. Memang banyak orang justru menjadi lebih jahat lagi setelah menerima karunia kemurahan Kristus. Mereka semakin kukuh dalam kubangan kesalahan mereka oleh hal yang seharusnya membuat mereka bertobat. Bara api yang ditimbun di atas kepala mereka malah semakin membuat mereka membatu, bukannya meleleh. . Kristus akhirnya mengusir dia dan menyerahkannya kepada nafsu hatinya sendiri: Maka Yesus berkata kepadanya, Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera. Perkataan ini tidak bisa diartikan sebagai nasihat bagi dia untuk melakukan kejahatannya ataupun untuk membenarkan dia atas perbuatannya itu. Sebaliknya, perkataan ini harus dimengerti sebagai: (1) Penyerahan Yudas ke dalam pimpinan dan kuasa Iblis. Kristus tahu bahwa Iblis telah merasuki Yudas dan menguasainya sepenuhnya, jadi kini Ia membiarkan Yudas dalam keadaan yang tanpa pengharapan itu. Berbagai cara telah dipakai Kristus untuk menginsafkannya, tetapi tidak membawa hasil, jadi karena itu, "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera. Jika engkau memang telah bertekad untuk membinasakan dirimu sendiri, maka lakukan saja dan rasakan sendiri akibatnya." Perhatikan, saat roh jahat dibiarkan masuk, Roh Kudus akan undur diri. Atau, (2) Sebagai tantangan bagi Yudas untuk melaksanakan tindakannya yang paling jahat itu: "Engkau merancangkan suatu kejahatan terhadap-Ku. Laksanakan saja rencana jahatmu itu, silakan. Lebih cepat lebih baik, Aku tidak tidak takut engkau. Aku siap menghadapimu." Perhatikan, Tuhan kita Yesus begitu siap untuk menderita dan mati bagi kita, dan tidak sabar untuk segera menuntaskan tugas mulia-Nya itu. Kristus berkata seolah-olah maksud yang masih tengah dirancangkan Yudas itu sudah ia lakukan saat itu juga. Di mata Allah, orang-orang yang sedang bertekad dan berencana untuk melakukan kejahatan dianggap sedang melakukan kejahatannya itu. . Orang-orang yang sedang duduk makan itu tidak mengerti maksud Yesus, sebab mereka tidak dapat mendengar apa yang Ia bisikkan ke telinga Yohanes sebelumnya (ay. 28-29): Tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu, baik murid-murid maupun tamu-tamu lainnya, kecuali Yohanes, mengerti apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. (1) Mereka tidak merasa curiga bahwa Kristus berkata seperti itu kepada Yudas sebagai seorang pengkhianat, sebab tidak terpikir di benak mereka bahwa Yudas bisa sejahat itu. Perhatikan, ketidakwaspadaan murid-murid Kristus dalam menilai orang itu dapat dimaafkan. Ketika mendengar hal-hal buruk secara sepintas, kebanyakan orang langsung saja siap untuk berkata, si anu ini begini dan si anu itu begitu. Tetapi murid-murid Kristus telah belajar dengan baik untuk saling mengasihi satu sama lainnya sehingga mereka tidak begitu mudah mencurigai satu sama lain. Amal kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain. (2) Karena itulah tanpa rasa curiga macam-macam mereka tahu Yesus berkata begitu kepadanya sebagai seorang yang dipercaya atau bendahara atas urusan rumah tangga mereka, dan menyuruhnya untuk membelanjakan uang mereka. Praduga mereka itu mengungkapkan kepada kita untuk kegunaan dan tujuan apa saja biasanya Tuhan Yesus kita mengarahkan mereka untuk memakai uang mereka yang jumlahnya tidak seberapa itu, dan dengan begitu mengajari kita bagaimana memuliakan Allah dengan harta benda kita. Jadi mereka berkesimpulan bahwa Yudas disuruh membelanjakan uang untuk: - Kepentingan ibadah: membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu. Meskipun Yesus hanya meminjam sebuah ruangan untuk makan perjamuan Paskah, tetapi Dia membeli sendiri apa-apa yang diperlukan untuk perayaan itu. Kita harus menghitung segala yang harus dikeluarkan untuk membiayai apa-apa yang perlu dalam kepentingan ibadah kita terhadap Allah sebagai penggunaan uang yang baik. Lebih-lebih lagi, kita tidak layak bersungut-sungut ketika harus mengeluarkan uang saat ini, karena ibadah Injil kita jauh lebih ringan dan murah dibanding tata cara ibadah resmi di zaman dulu. - Atau untuk tujuan amal: bahwa ia harus memberi sedekah kepada orang miskin. Dari hal ini kita dapat melihat: Pertama, bahwa Tuhan Yesus kita, meskipun Ia sendiri harus hidup dari pemberian orang lain (Luk. 8:3), masih saja tetap memberi sedekah kepada orang-orang miskin dari sedikit uang yang Ia punyai. Sebenarnya masih bisa dimaafkan jika Ia tidak beramal, karena bukan saja Dia sendiri juga miskin, tetapi juga karena Dia telah banyak melakukan kebaikan dalam hal yang lain dan menyembuhkan banyak orang secara cuma-cuma. Namun demikian, untuk memberi teladan kepada kita, Dia tetap memberi untuk membantu orang-orang miskin dari sesuatu yang sebenarnya Ia miliki hanya cukup untuk kelangsungan rumah tangga-Nya sendiri (Ef. 4:28). Kedua, bahwa saat perayaan ibadah besar dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan pekerjaan amal. Saat Dia sedang merayakan Paskah, Ia juga menyuruh murid-murid-Nya menolong orang-orang miskin. Limpahan kemurahan Allah yang kita rasakan harus membuat kita menjadi murah hati terhadap orang-orang miskin. . Akhirnya Yudas membulatkan tekadnya untuk tetap melaksanakan rancangan jahatnya terhadap Kristus: Dia segera pergi. Perhatikan di sini, (1) Kepergiannya yang terburu-buru itu: Dia lekas-lekas pergi dan keluar dari rumah itu, - Karena takut kejahatannya akan semakin terbongkar di depan orang-orang itu, sebab jika sampai demikian, dia yakin mereka semua akan menyerangnya, dan habislah dia, atau setidaknya rencananya itu. - Dia pergi dengan rasa muak berada di dekat-dekat Kristus dan kumpulan para rasul-Nya. Kristus tidak perlu mengucilkannya, sebab dia sudah mengucilkan dirinya sendiri. Perhatikan, mengundurkan diri dari persekutuan orang-orang beriman merupakan tindakan nyata yang diperlihatkan orang yang tergelincir dalam iman, dan menjadi awal dari kemurtadan. - Dia pergi untuk melaksanakan rancangannya, untuk mencari orang-orang yang akan diajaknya bersekongkol, dan untuk menyelesaikan kesepakatannya dengan mereka. Karena Iblis telah merasukinya, ia pun segera merongrong Yudas supaya cepat-cepat bertindak, jangan sampai Yudas keburu tersadar dan bertobat. (2) Mengenai saat kepergiannya: Pada waktu itu hari sudah malam. - Meski sudah malam, yang merupakan waktu yang kurang tepat untuk bekerja, Yudas tidak kesulitan menghadapi dingin dan gelapnya malam, karena Iblis sudah sedemikian rupa merasukinya. Kenyataan itu hendaknya membuat kita merasa malu akan keengganan dan sikap pengecut kita dalam melayani Kristus, padahal para hamba si Iblis saja begitu bersungguh-sungguh dan berani dalam melaksanakan pekerjaan mereka. - Malam hari justru menguntungkan Yudas karena dia jadi lebih leluasa dalam beraksi secara diam-diam. Dia tidak mau kelihatan sedang berunding dengan para imam kepala, dan karena itulah kegelapan malam menjadi saat yang tepat untuk melangsungkan pekerjaan kegelapan itu. Orang-orang yang suka berbuat jahat lebih menyukai kegelapan daripada terang (Ayb. 24:13, dsb.).
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHk GMIM Senin, 4 Maret 2024 - Berani Mengoreksi Diri Sendiri - Yohanes 13:22 Sebelum: RHK GMIM Sabtu, 2 Maret 2024 - Mengikut Dan Mengiring Yesus Dengan Setia - Markus 9:1 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,