|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2024 Minggu, 14 Januari 2024 Khotbah GMIM Minggu, 14 Januari 2024 - Mengenal dan Cerdas Memilih Pemimpin - Matius 7:15-23 Hal pengajaran yang sesat, Mengenali Nabi Palsu dari Buahnya, Keniscayaan Ketaatan kepada Ajaran Kristus Matius 7:15-23 Hal pengajaran yang sesat 7:15 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Penjelasan: * Mengenali Nabi Palsu dari Buahnya (7:15-20) Di sini diceritakan tentang peringatan terhadap nabi-nabi palsu, supaya kita berhati-hati agar tidak tertipu dan diperdaya oleh mereka. Nabi-nabi seharusnya menyampaikan hal-hal yang akan terjadi dengan semestinya. Di dalam Perjanjian Lama disebutkan tentang beberapa nabi yang pura-pura bernubuat padahal mereka tidak punya wewenang untuk itu, dan ini tampak dari tidak terbuktinya nubuat mereka itu, seperti misalnya Zedekia bin Kenaana (1Raj. 22:11) dan seorang lagi bernama Zedekia bin Maaseya (Yer. 29:21). Namun, nabi-nabi juga mengajarkan kewajiban yang harus dijalankan umat. Jadi, nabi-nabi palsu yang disebutkan di sini adalah guru-guru palsu. Kristus, sebagai Nabi dan Guru yang diutus Allah, yang berencana mengutus guru-guru lain di bawah asuhan-Nya, memberikan peringatan kepada mereka semua agar waspada terhadap nabi-nabi tiruan yang bukannya menyembuhkan jiwa-jiwa melalui pengajaran yang sehat, malah sebaliknya justru meracuni. Mereka adalah guru-guru dan nabi-nabi palsu. . Mereka ini mengeluarkan perintah-perintah palsu, pura-pura mendapatkan wewenang dan petunjuk langsung dari Allah untuk menjadi nabi, dan menerima ilham ilahi, padahal bukan demikian halnya. Meskipun pengajaran mereka mungkin saja benar, kita harus waspada terhadap mereka sebagai nabi-nabi palsu. Rasul-rasul palsu adalah orang-orang yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian (Why. 2:2). "Waspadalah terhadap orang-orang yang mengaku-ngaku memiliki pewahyuan, dan jangan akui mereka tanpa bukti yang cukup, jangan sampai satu kejanggalan diakui, maka seribu lainnya pun menyusul." . Mereka adalah orang-orang yang memberitakan pengajaran palsu mengenai hal-hal mendasar yang merupakan inti dari agama, orang yang mengajarkan hal yang berlawanan dengan kebenaran yang sebenarnya yang ada dalam Yesus, yang bertentangan dengan kesalehan. Jenis nabi yang pertama sepertinya sesuai dengan pengertian pseudo-propheta, nabi palsu atau yang mengaku-ngaku demikian. Namun, yang kedua umumnya termasuk di dalamnya juga, karena siapa pula yang mau menampakkan kepalsuannya selain melalui rancangan palsu dan berpura-pura di dalamnya supaya dengan begitu bisa lebih berhasil menyerang kebenaran. "Jadi, waspadalah terhadap mereka, curigailah mereka, ujilah mereka, dan setelah membongkar kepalsuan mereka, hindarilah mereka. Jangan berurusan dengan mereka. Berdirilah teguh melawan cobaan ini, yang biasanya terjadi pada hari-hari pembaruan dan ketika terjadi pencerahan ilahi yang luar biasa dan penuh kemuliaan." Ketika pekerjaan Allah dihidupkan, Iblis dan para pengikutnya pun semakin sangat sibuk. Berikut ini kita lihat: I. Alasan yang tepat untuk peringatan itu, Waspadalah terhadap mereka, sebab mereka adalah serigala yang menyamar seperti domba (ay. 15). . Kita perlu sangat berhati-hati, sebab kepura-puraan mereka itu tampak sangat wajar dan tidak menimbulkan prasangka orang, sehingga bisa membuat kita mudah terperdaya bila kita tidak berjaga-jaga. Mereka menyamar seperti domba, sesuai kebiasaan nabi-nabi yang penampilannya bersahaja, kasar, dan biasa-biasa saja. Mereka mengenakan jubah berbulu untuk berbohong (Za. 13:4). Septuaginta menyebut jubah Elia h-" m-"lot-" -- jubah kulit domba. Kita harus berhati-hati agar tidak terperdaya dengan pakaian dan penampilan orang, seperti misalnya milik para ahli Taurat, yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang (Luk. 20:46). Atau, ungkapan ini bisa diartikan sebagai kiasan. Mereka berpura-pura seperti domba, dari luar tampaknya begitu suci, tidak berbahaya, lemah lembut, berguna. Pokoknya, segalanya sangat baik dan tidak tertandingi oleh siapa pun. Mereka berpura-pura sebagai orang yang benar, dan dengan penampilan itu mereka diizinkan masuk ke tengah jemaat sehingga memperoleh kesempatan berbuat jahat sebelum jemaat itu menyadarinya. Diri dan kejahatan mereka disepuh dengan kesucian dan ibadah palsu. Iblis mengubah dirinya sebagai malaikat Terang (2Kor. 11:13-14). Musuh kita bertanduk dua sama seperti anak domba (Why. 13:11), dengan muka sama seperti muka manusia (Why. 9:7-8). Mereka adalah penggoda-penggoda yang manis dalam tutur kata dan perilakunya (Rm. 16:18; Yes. 30:10). . Karena di balik segala kepura-puraan mereka ini ada rancangan yang sangat berbahaya dan jahat, maka sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Orang munafik itu seperti kambing berbulu domba, tetapi nabi palsu adalah serigala berbulu domba. Selain memang bukan domba, dia juga musuh domba yang terbesar, yang datang hanya untuk merobek-robek, menelan, dan mencerai-beraikan domba-domba itu (Yoh. 10:12), menggiring mereka menjauhi Allah dan sesamanya ke dalam jalan-jalan yang bengkok. Orang-orang yang hendak merampas kebenaran apa pun dari kita dan menggantikannya dengan sesuatu yang keliru, sebenarnya merancang kejahatan terhadap jiwa kita, apa pun bentuk kepura-puraan mereka. Paulus menyebut mereka serigala-serigala yang ganas (Kis. 20:29). Mereka memangsa untuk diri sendiri, melayani perut mereka sendiri (Rm. 16:18), memangsa dan menarik keuntungan dari mangsa mereka. Mengingat hal ini begitu mudah terjadi dan begitu berbahaya bila tertipu, waspadalah terhadap nabi-nabi palsu. II. Berikut ini ada pedoman yang baik untuk berjaga-jaga. Kita harus menguji segala sesuatu (1Tes. 5:21), menguji roh-roh (1Yoh. 4:1), dan kenalilah batu ujiannya: Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka (ay. 16-20). Perhatikanlah: . Gambaran mengenai perbandingan ini, yaitu buah yang dapat menunjukkan jenis pohonnya. Kita tidak selalu dapat membedakan jenis pohon dari kulit dan daun-daunnya, atau dari rentangan dahan-dahannya, tetapi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Buah selalu sesuai dengan jenis pohonnya. Melalui pengakuannya, manusia bisa saja menentang tabiat alaminya dan melawan asas batinnya. Namun, arus gerakan dan penyimpangan perbuatan-perbuatan mereka selalu akan berjalan sesuai dengan tabiat dan batin mereka. Kristus menekankan hal kesesuaian antara buah dan pohon sedemikian rupa hingga: (1) Jika orang tahu jenis pohonnya, ia bisa tahu buah apa yang dapat diharapkannya. Jangan pernah berharap dapat memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri, sebab memang bukan sewajarnya tanaman-tanaman itu menghasilkan buah-buah tadi. Buah apel bisa saja ditancapkan atau setandan buah anggur digantungkan pada duri. Demikian pula dengan kebenaran, perkataan atau perbuatan baik, bisa saja didapati dalam diri orang jahat. Namun, yakinlah bahwa hal-hal itu tidak pernah bertumbuh dari dalam dirinya. Perhatikanlah: - Hati yang jahat, kejam, dan belum dikuduskan adalah seperti semak duri dan rumput duri, yang penuh dosa, tidak berharga, menjengkelkan, dan akhirnya dibuang ke dalam api. - Perbuatan baik adalah seperti buah yang baik, seperti buah anggur dan buah ara, menyenangkan bagi Allah dan berguna bagi manusia. - Buah yang baik ini tidak pernah bisa diharapkan dari orang jahat. Ini seperti mengharapkan sesuatu yang tahir keluar dari yang najis, karena orang demikian tidak memiliki asas moral yang bisa diterima. Dari perbendaharaan yang jahat akan keluar hal-hal yang jahat. (2) Di lain pihak, jika orang mengenal buahnya, dari situ ia juga akan mengenal jenis pohonnya. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, atau pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Tidak, mau tidak mau yang dihasilkannya adalah buah yang tidak baik. Maka yang harus diperhatikan adalah buah mana yang dihasilkan pohon secara alami dan asli -- yakni yang dihasilkan dalam jumlah besar dan terus-menerus seperti biasa. Manusia dikenali bukan dari perbuatan-perbuatan tertentu, melainkan dari arah dan gerakan perilaku serta tindakan-tindakan yang lebih sering diperbuatnya, terutama yang tampak bebas dan berasal dari dirinya sendiri, bukan karena pengaruh dari alasan dan dorongan luar. . Penerapan hal ini pada nabi-nabi palsu. (1) Melalui ketakutan dan ancaman (ay. 19). Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik pasti ditebang. Ungkapan ini persis sama seperti yang digunakan Yohanes Pembaptis (3:10). Kristus bisa saja memakai ungkapan ini dengan kata-kata lain, mengubahnya atau memberinya makna baru. Namun, Ia tidak segan-segan menggunakan kata-kata yang sama seperti yang diucapkan Yohanes sebelum Dia. Janganlah para hamba Tuhan terlampau ingin menciptakan ungkapan-ungkapan baru; demikian juga jemaat, jangan gatal telinga untuk selalu mau mendengar hal-hal baru. Menulis dan mengatakan hal-hal yang sama bukanlah hal memalukan, sebab ini justru aman. Di sini terdapat: - Uraian mengenai pohon yang tidak subur, yaitu pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik. Kalaupun ada buahnya, tetapi buahnya itu tidak baik (sekalipun kita melakukan sesuatu, yang sebenarnya baik, namun tidak dikerjakan dengan baik, dengan cara dan tujuan yang benar), maka tetap saja pohon itu dianggap tidak subur. - Nasib pohon yang tidak subur, pasti akan ditebang dan dibuang ke dalam api. Allah akan memperlakukan orang jahat seperti manusia memperlakukan pohon kering yang mengotori tanah: Ia akan menandai mereka dengan beberapa tanda rasa tidak senang-Nya. Ia akan menguliti mereka dengan cara mengambil semua bagian berkat dan karunia-karunia dari mereka dan menebang mereka lewat maut serta membuang mereka ke dalam api neraka, api yang dikobarkan dengan murka Allah dan dinyalakan dengan kayu dari pohon-pohon yang tidak menghasilkan buah itu (bdk. Yeh. 31:12-13; Dan. 4:14; Yoh. 15:6). (2) Melalui pengujian. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. - Dari buah pribadi, kata-kata, tindakan, dan gerak-gerik perilaku mereka. Jika ingin tahu apakah mereka orang yang benar atau tidak, amatilah cara hidup mereka, sebab perbuatan mereka akan bersaksi bagi atau melawan mereka. Para ahli Taurat dan orang Farisi duduk di kursi Musa dan mengajarkan hukum Taurat, tetapi mereka bersikap sombong, tamak, palsu, dan suka menindas. Itulah sebabnya Kristus memperingatkan murid-murid-Nya agar waspada terhadap mereka dan juga ragi mereka (Mrk. 12:38). Jika orang berpura-pura sebagai nabi tetapi berperilaku tidak senonoh, itu sudah membuktikan kepura-puraan mereka itu. Mereka ini bukanlah sahabat sejati salib Kristus, apa pun pengakuan mereka, karena Tuhan mereka ialah perut mereka, dan pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi (Flp. 3:18-19). Orang yang kehidupannya membuktikan bahwa ia dipimpin oleh roh najis, bukanlah orang yang diajar atau diutus oleh Allah yang kudus. Allah menempatkan harta ke dalam wadah tanah liat, dan bukan ke dalam wadah yang kotor. Mereka bisa saja menyatakan hukum-hukum Allah, tetapi apakah perbuatan mereka sesuai dengan pernyataan mereka? - Dari buah ajaran mereka, dari buah-buah mereka sebagai nabi: ini bukannya satu-satunya jalan, melainkan salah satu cara saja untuk menguji berbagai ajaran, apakah itu berasal dari Allah atau bukan. Apakah yang cenderung mereka lakukan? Ke dalam kesukaan dan perbuatan, apakah mereka akan membawa orang-orang yang menerima ajaran itu? Jika ajaran itu berasal dari Allah, maka ini akan menimbulkan kesalehan, kerendahan hati, kedermawanan, kekudusan, dan kasih yang sungguh-sungguh, bersama-sama dengan anugerah-anugerah Kristiani lainnya. Namun, bila sebaliknya, ajaran yang disampaikan para nabi ini menunjukkan kecenderungan membuat orang menjadi sombong, duniawi, dan suka bertengkar, berperilaku ceroboh, tidak adil, tidak dermawan, gemar menggolong-golongkan, mengganggu ketenangan umum, memuaskan kebebasan hawa nafsu, dan menyebabkan orang meninggalkan pengendalian atas diri dan keluarga mereka menurut aturan ketat jalan yang sempit itu, kita boleh menyimpulkan bahwa ajakan ini bukan datang dari Dia (Gal. 5:8). Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas (Yak. 3:15). Iman dan hati nurani yang suci dipersatukan (1Tim. 1:19; 3:9). Perhatikanlah, ajaran yang menimbulkan keragu-raguan harus diuji dengan anugerah dan melalui kewajiban-kewajiban, apakah dilakukan atau tidak. Kalau menuntun kepada dosa, maka itu bukan berasal dari Allah. Akan tetapi, bila kita tidak dapat mengenal mereka dari buahnya, kita harus memakai jalan yang hebat itu, yaitu batu ujian, sang hukum itu, dan kesaksian mereka. Apakah mereka berbicara menurut aturan tersebut? * Keniscayaan Ketaatan kepada Ajaran Kristus Di sini kita melihat kesimpulan dari Khotbah di Bukit yang panjang dan sangat luar biasa ini. Tujuan dari kesimpulan ini adalah untuk menunjukkan pentingnya ketaatan terhadap perintah-perintah Kristus. Kesimpulan ini dimaksudkan untuk mengokohkan pakunya agar menancap dengan kuat. Kristus menyampaikannya kepada murid-murid-Nya yang duduk di kaki-Nya setiap kali Ia berkhotbah dan yang mengikuti-Nya ke mana pun Ia pergi. Seandainya Ia mencari pujian dari manusia, Ia cukup mengatakannya saja. Namun, pengajaran yang hendak ditanamkan-Nya itu terdiri dari kuasa, bukan dari perkataan saja (1Kor. 4:20), dan oleh sebab itu diperlukan sesuatu yang lebih dari itu. I. Dengan sebuah pernyataan sederhana, Ia menunjukkan bahwa mengaku-ngaku diri beragama saja, sehebat apa pun juga itu, tidak akan membawa kita ke sorga, kecuali disertai dengan perilaku yang sesuai (ay. 21-23). Penghakiman diserahkan seluruhnya kepada Tuhan Yesus. Kunci-kunci diberikan kepada-Nya. Ia memiliki kuasa untuk menetapkan persyaratan baru mengenai kehidupan dan kematian, serta mengadili manusia sesuai perbuatan mereka. Inilah pernyataan khidmat menurut kuasa yang ada pada-Nya itu. Perhatikanlah di sini: . Hukum Kristus ditetapkan (ay. 21). Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan anugerah dan kemuliaan. Ini adalah jawaban atas pertanyaan dalam Mazmur 15:1. Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? -- Orang percaya yang masih berjuang di dunia ini. Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? -- Orang percaya yang sudah masuk sorga. Di sini Kristus menunjukkan: (1) Bahwa tidaklah cukup untuk sekadar berkata, "Tuhan, Tuhan." Kita bisa mengakui Kristus sebagai Guru dengan kata-kata semata, berseru kepada-Nya, mengakui Dia demikian dalam doa kepada Allah, ketika bercakap-cakap dengan sesama. Kita memanggil-Nya Tuhan, Tuhan. Kita berkata, itu tepat, sebab memang Dialah Guru dan Tuhan (Yoh. 13:13). Namun, coba bayangkan, apakah ini saja sudah cukup untuk membawa kita ke sorga, bahwa sepenggal basa-basi seperti ini akan diberi imbalan sebesar itu, atau bahwa Dia yang mengenal dan menghendaki hati akan bisa diperdaya dengan hal-hal lahiriah seperti ini? Pujian manusia itu hanyalah sekadar sopan santun saja, yang dibalas dengan pujian pula, namun itu tidak pernah dibayar sebagaimana pelayanan-pelayanan yang sebenarnya. Kalau begitu, dapatkah pujian kita diperhitungkan oleh Kristus? Mungkin dalam doa Tuhan, Tuhan, ada maksud mendesak. Namun, jika kesan batiniah tidak sesuai dengan ungkapan lahiriah, kita tak lebih daripada gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh berkata, Tuhan, Tuhan, atau dilarang berdoa dengan sungguh, tidak boleh mengakui nama Kristus, atau tidak boleh mengakuinya dengan terang-terangan. Sebaliknya, yang dimaksudkan di sini adalah supaya kita tidak boleh mengandalkan hal-hal ini saja, atau menjalankan ibadah secara lahiriah saja tanpa kuasa di dalamnya. (2) Bahwa demi kebahagiaan kita, sangatlah penting bagi kita untuk melakukan kehendak Kristus, yang memang merupakan kehendak Bapa-Nya yang di sorga. Kehendak Allah, sebagai Bapa Kristus, adalah kehendak-Nya seperti yang diberitakan dalam Injil, sebab di situlah Ia diperkenalkan sebagai Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus, dan melalui Kristus, menjadi Bapa kita juga. Inilah kehendak-Nya, yaitu agar kita percaya kepada Kristus, agar kita bertobat dari dosa, agar kita menjalani hidup kudus, agar kita saling mengasihi. Inilah kehendak Allah: pengudusan kita. Jika kita tidak mengikuti kehendak Allah, kita menghina Kristus dengan memanggil-Nya Tuhan, seperti orang-orang yang mengenakan jubah mewah kepada-Nya sambil berkata, Salam, hai raja orang Yahudi! Mengatakan dan melakukan sesuatu adalah dua hal yang berbeda dan sering kali juga terpisah, seperti orang yang berkata, Baik, bapa, tetapi ia tidak pergi (21:30). Namun, dua hal ini telah dipersatukan Allah dalam perintah-Nya, dan janganlah manusia yang berani menceraikannya berpikir ia akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. . Seruan orang munafik terhadap ketatnya hukum ini, dengan menawarkan hal-hal lain sebagai pengganti ketidaktaatan (ay. 22). Seruan itu akan terdengar pada hari terakhir, hari yang agung itu, ketika setiap orang akan tampak sebagaimana adanya, ketika segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, antara lain, kepura-puraan tersembunyi yang dipakai orang berdosa sekarang ini untuk mendukung harapan mereka yang sia-sia. Kristus mengetahui kuatnya alasan mereka itu, tetapi yang sebenarnya lemah. Apa yang sekarang mereka simpan di hati, akan mereka kemukakan kelak pada hari penghakiman untuk menghindari malapetaka, tetapi usaha ini akan sia-sia saja. Mereka akan berseru dengan mendesak-desak, Tuhan, Tuhan, dan dengan penuh percaya diri menuntut Kristus mengenai hal tersebut; Tuhan, tidakkah Engkau tahu. (1) Bahwa kami bernubuat demi nama-Mu? Ya, boleh jadi memang demikian. Bileam dan Kayafas tidak diperbolehkan bernubuat, dan Saul termasuk golongan nabi di luar kehendaknya, namun semua ini tidak dapat menolong mereka. Mereka ini bernubuat demi nama-Nya, tetapi Dia tidak mengutus mereka. Mereka hanya memanfaatkan nama-Nya belaka. Perhatikanlah, seseorang bisa saja berkhotbah, memiliki karunia pelayanan dan panggilan lahiriah untuk itu, bahkan mungkin juga berhasil dalam hal itu, namun sebenarnya jahat. Dia mungkin saja menolong orang lain untuk dapat masuk sorga, tetapi dirinya sendiri tidak dapat masuk. (2) Bahwa demi nama-Mu kami telah mengusir setan? Ini mungkin juga; Judas mengusir setan, namun begitu ia adalah yang ditentukan untuk binasa. Origen mengatakan bahwa pada zamannya begitu penuh kuasanya nama Kristus ketika dipakai mengusir roh-roh jahat sampai-sampai orang-orang Kristen yang fasik pun kadang-kadang ikut memanfaatkan nama itu. Seseorang bisa saja mengusir setan keluar dari orang lain, tetapi dalam dirinya sendiri ada setan, atau lebih tepat lagi, malah dia sendirilah setannya. (3) Bahwa demi nama-Mu kami mengadakan banyak mujizat. Mungkin saja ada iman untuk mengadakan mujizat, tetapi iman untuk membenarkan tindakan itu tidak ada. Untuk mengadakan mujizat, perlu iman yang bekerja oleh kasih dan ketaatan. Karunia lidah dan karunia menyembuhkan dapat membuat orang diterima dunia, tetapi hanya kesucian atau pengudusan sejatilah yang dapat diterima Allah. Anugerah dan kasih merupakan jalan yang lebih utama dibandingkan dengan memindahkan gunung atau berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat (1Kor. 13:1-2). Anugerah akan membawa manusia ke sorga tanpa harus mengadakan mujizat, tetapi mengadakan mujizat tanpa memiliki anugerah tidak akan pernah membawa manusia ke sorga. Perhatikanlah, orang yang tergila-gila dengan mujizat selalu menaruh hatinya pada mujizat itu, mereka ingin selalu melakukannya dan mujizatlah yang menjadi kepercayaan mereka. Simon si penyihir terheran-heran melihat semua mujizat yang terjadi (Kis. 8:13) sehingga rela membayar berapa pun agar beroleh kuasa untuk melakukannya juga. Perhatikanlah, orang-orang seperti ini tidak memiliki perbuatan baik sedikit pun, tidak ada alasan bagi mereka untuk mengaku-ngaku telah melakukan banyak perbuatan mulia bahwa mereka telah mengasihani orang dan beramal. Padahal, satu saja dari perbuatan tersebut jauh lebih baik daripada seruan mereka tentang mengadakan banyak mujizat yang sama sekali tidak berguna jika mereka tetap tidak taat. Mujizat-mujizat itu kini telah berhenti, beserta seruan mereka itu. Walaupun demikian, bukankah hati yang duniawi tetap saja akan mendorong dirinya untuk terus menyimpan harapan-harapan yang tanpa dasar seperti ini, dengan macam-macam dukungan yang sia-sia? Mereka menyangka akan dapat masuk ke sorga karena sudah terkenal di antara para pengikut agama, selalu berpuasa, memberi sedekah, dan berjasa bagi gereja. Mereka menyangka seakan-akan semua hal ini akan menebus kesombongan, keduniawian, dan hawa nafsu yang menguasai hati mereka, serta juga menebus ketiadaan kasih mereka terhadap Allah dan sesama. Betel adalah kepercayaan mereka (Yer. 48:13). Mereka meninggikan diri di gunung yang kudus (Zef. 3:11), dan menyombongkan diri bahwa mereka adalah bait TUHAN(Yer. 7:4). Biarlah kita waspada agar tidak mengandalkan diri pada macam-macam hak istimewa yang kita miliki dan pada perbuatan-perbuatan luar saja, supaya jangan sampai kita menipu diri sendiri, dan binasa selamanya seperti yang dialami banyak orang, dengan dusta yang menjadi pegangan kita. . Penolakan terhadap seruan yang tidak pantas ini. Di sini, Sang Pembuat hukum itu (ay. 21) adalah juga Sang Hakim sesuai dengan hukum itu (ay. 23). Dia akan menolak seruan itu secara terbuka. Dia akan berterus terang kepada mereka dengan segala ketegasan, ketika hukuman dijatuhkan oleh Sang Hakim, Aku tidak pernah mengenal kamu, dan karena itu, enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! Perhatikanlah: (1) Mengapa dan atas dasar apa Ia menolak mereka berikut seruan mereka -- sebab mereka adalah pembuat kejahatan. Perhatikanlah, orang bisa saja terkenal sebagai orang yang saleh, tetapi sebenarnya ia seorang pembuat kejahatan, dan orang-orang seperti itu akan menerima hukuman yang lebih berat. Dosa-dosa tersembunyi yang disimpan di balik pengakuan yang tampak, akan menjadi kejatuhan orang munafik. Menjalani kehidupan penuh dosa dengan sadar dapat meniadakan kepura-puraan manusia, tidak peduli sebaik apa pun perbuatannya itu. (2) Cara penolakan itu disampaikan. Aku tidak pernah mengenal kamu. "Aku tidak pernah mengakuimu sebagai hamba-Ku, baik ketika engkau bernubuat demi nama-Ku, mengaku-ngaku dengan lantang mengenai kepercayaanmu, maupun ketika engkau sangat dipuji-puji." Hal ini mengisyaratkan bahwa jika Ia memang pernah mengenal mereka, sebagai Tuhan yang mengenal siapa kepunyaan-Nya, dan pernah mengakui serta mengasihi mereka sebagai milik-Nya, maka Ia pasti akan mengenal, mengakui, dan mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Akan tetapi, jika Dia tidak pernah mengenal mereka, itu karena memang sejak semula Dia tahu bahwa mereka adalah orang munafik, yang hatinya busuk, sama seperti Ia mengenal Yudas. Oleh sebab itu, Ia berkata, enyahlah dari pada-Ku. Apakah Kristus memerlukan tamu-tamu seperti itu? Ketika Ia datang sebagai manusia, Ia memanggil orang berdosa agar datang kepada-Nya (9:13), tetapi ketika Ia akan datang dalam kemuliaan, Ia akan mengusir orang berdosa dari-Nya. Mereka yang tidak mau datang kepada-Nya untuk diselamatkan, harus enyah dari pada-Nya untuk menerima hukuman. Enyah dari Kristus itu sama saja dengan neraka dari segala neraka; itu tempat yang paling bawah dari segala kesengsaraan yang akan dialami orang-orang terkutuk, terpisah sama sekali dari semua pengharapan untuk memperoleh kebaikan Kristus dan perantaraan-Nya. Orang-orang yang hanya sekadar mengaku percaya Kristus tetapi tidak mau melakukan lebih daripada itu untuk melayani-Nya, tidak akan diterima oleh-Nya, atau diakui-Nya pada hari yang agung itu. Lihatlah betapa manusia dapat jatuh dari ketinggian pengharapan ke dasar jurang kesengsaraan! Betapa mereka bisa dicampakkan ke dalam neraka melalui depan pintu sorga! Seharusnya ini menjadi peringatan bagi semua orang Kristen. Jika seorang pengkhotbah yang mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat saja dapat tidak diakui oleh Kristus karena berbuat kejahatan, apa jadinya dengan kita seandainya didapati seperti itu juga? Jika kita memang seperti itu, maka pastilah kita juga akan mengalami hal yang sama. Di hadapan Allah, pengakuan terhadap agama tidak akan mendukung siapa pun yang hidup bergelimang dalam dosa. Oleh sebab itu, setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2024 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHK GMIM Senin, 15 Januari 2024 - Jadilah Teladan - Matius 7:17 Sebelum: RHK GMIM Sabtu, 6 Januari 2024 - Bijak Mendengar Firman Agar Tidak Binasa - Ulangan 8:19-20 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,