|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2023 Tema Bulanan: "Keadilan, Damai dan Kasih Yesus Kristus Menjiwai Pesta Demokrasi"Minggu, 3 Desember 2023 Khotbah GMIM Minggu, 3 Desember 2023 - DAMAI: Bertemunya Kasih, Kesetiaan dan Keadilan - Mazmur 85:1-14 RHK Mazmur 85:1-2, Doa dalam Masa Kesukaran, Jawaban Ilahi bagi Doa; Berkat yang Diberikan sebagai Jawaban atas Doa Tema Mingguan: "DAMAI: Bertemunya Kasih, Kesetiaan dan Keadilan" Bacaan Alkitab: Mazmur 85:1-14 Doa mohon Israel dipulihkan 85:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur bani Korah. (#85-#2) Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, ya TUHAN, telah memulihkan keadaan Yakub. 85:2 (#85-#3) Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka. Sela 85:3 (#85-#4) Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala. 85:4 (#85-#5) Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. 85:5 (#85-#6) Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? 85:6 (#85-#7) Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? 85:7 (#85-#8) Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu! 85:8 (#85-#9) Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? 85:9 (#85-#10) Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. 85:10 (#85-#11) Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. 85:11 (#85-#12) Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. 85:12 (#85-#13) Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. 85:13 (#85-#14) Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan. Penjelasan: * Mzm 85:1-7 - Doa dalam Masa Kesukaran Pada umumnya para penafsir berpendapat bahwa mazmur ini ditulis setelah bangsa Yahudi kembali dari penawanan di Babel, di mana mereka belum sepenuhnya mendapat perkenanan dari Allah. Dalam mazmur ini mereka berdoa agar Ia kembali berkenan kepada mereka. Tidak terdapat apa pun yang menunjukkan bahwa mazmur ini tidak mungkin ditulis pada masa itu, begitu juga Mazmur 137. Isi mazmur tersebut merupakan kepentingan seluruh rakyat, dan itu ada dekat dalam hati si pemazmur, dan karena itu ia menulisnya bagi seluruh umat itu. Di sini, jemaat seakan dilanda air bah. Di atas ada awan tebal, sedangkan di bawah ada ombak. Segala sesuatu gelap dan suram. Keadaan jemaat bagaikan Nuh di dalam bahtera, di antara hidup dan mati, di antara harapan dan ketakutan. Dalam keadaan seperti ini, I. Dikirimlah burung merpati dalam doa. Permohonan dinaikkan supaya mereka terlepas dari dosa dan murka (ay. 5), serta untuk memperoleh belas kasihan dan anugerah (ay. 8). Permohonan-permohonan itu disampaikan berdasarkan kebaikan-kebaikan yang telah ditunjukkan-Nya sebelumnya (ay. 2-4) dan kesusahan-kesusahan yang sedang dialami (ay. 6-7). II. Kembalilah si burung merpati dengan membawa ranting zaitun yang melambangkan damai sejahtera dan kabar baik. Sang pemazmur mengharapkan kembalinya merpati itu (ay. 9) lalu menceritakan lagi perkenan yang diberikan kepada Israel umat Allah. Ia meyakinkan orang-orang lain mengenai hal ini melalui roh nubuat, dan melalui roh iman ia meyakinkan diri sendiri (ay. 10-14). Dalam menyanyikan mazmur ini, kita dapat dibantu untuk berdoa kepada Allah bagi jemaat-Nya secara umum maupun bagi tanah asal kita secara khusus. Bagian pertama berguna untuk mengarahkan keinginan-keinginan kita, sedangkan bagian selanjutnya untuk mendorong iman dan pengharapan kita ketika memanjatkan doa-doa itu. Doa dalam Masa Kesukaran (85:1-8) Di sini, dalam penderitaan dan kesesakan, jemaat memanjatkan permohonan kepada Allah di bawah petunjuk-Nya. Allah begitu siap mendengarkan dan menjawab doa-doa umat-Nya hingga melalui Roh di dalam firman dan di dalam hati, Ia menyusun permohonan mereka dan menaruh perkataan di dalam mulut mereka. Di sini, dalam keadaan yang terpuruk dan lemah umat Allah diajarkan cara membuka hati di hadapan Allah. I. Mereka harus mengakui dengan penuh syukur hal-hal luar biasa yang telah dilakukan Allah bagi mereka (ay. 2-4): “Engkau telah berbuat ini dan itu bagi kami dan nenek moyang kami.” Perhatikanlah, rasa susah karena derita yang sedang dialami janganlah sampai menghapus kenangan atas rahmat yang telah dialami sebelumnya. Sebaliknya, meskipun keadaan kita sangat terpuruk, kita harus mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya tentang kebaikan Allah, yang harus kita resapi dengan penuh rasa syukur dan dengan memuji-muji Dia. Di sini mereka menyampaikan dengan sukacita, 1. Bahwa Allah telah menyatakan Ia berkenan kepada tanah mereka dan tersenyum kepadanya sebagai milik-Nya sendiri: “Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu sebagai kepunyaan-Mu dengan perkenan yang khusus.” Perhatikanlah, perkenan Allah merupakan mata air segala sesuatu yang baik dan sumber kebahagiaan, baik bagi bangsa-bangsa maupun bagi orang per orang. Karena perkenan Allah sajalah Israel mendapatkan dan terus memiliki Kanaan ( 44:4). Dan seandainya Dia senantiasa tidak berkenan kepada mereka, mereka pasti sudah sering kali dihancurkan. 2. Bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan musuh dan memulihkan kebebasan mereka: “Engkau telah memulihkan keadaan Yakub, dan telah menempatkan kembali ke negeri sendiri orang-orang yang sebelumnya telah terusir dari situ dan menjadi orang asing di negeri asing, menjadi tawanan di negeri para penindas mereka.” Penawanan Yakub, meskipun berlangsung lama, akan dipulihkan pada waktunya. 3. Bahwa Ia tidak memperlakukan mereka sesuai dengan ganjaran atas pelanggaran mereka (ay. 3): “Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, dan tidak menghukum mereka seperti yang bisa saja Engkau lakukan sesuai keadilan. Engkau telah menutupi segala dosa mereka.” Ketika Allah mengampuni dosa, Ia menutupinya, dan ketika Ia menutupi dosa umat-Nya, Ia menutupi seluruhnya. Saat Ia membawa mereka kembali dari penawanan, itulah yang merupakan bukti perkenan Allah terhadap mereka, yang disertai pengampunan atas kesalahan mereka. 4. Bahwa sejauh ini Ia tidak terus-menerus murka terhadap mereka, dan tidak selama yang mereka takutkan (ay. 4): “Setelah menutupi segala dosa mereka, Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu,” karena pada saat dosa disingkirkan, murka Allah pun reda. Allah akan kembali tenang apabila kita disucikan. Lihatlah apa arti pengampunan dosa itu: Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, artinya, “Engkau telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala sangat panas yang dapat menghanguskan kami di dalam nyalanya. Sebaliknya, dalam belas kasihan-Mu terhadap kami, Engkau tidak menumpahkan seluruh murka-Mu. Karena, ketika seorang pengantara berdiri di hadapan-Mu untuk menjembatani jurang itu, Engkau telah meredakan murka-Mu.” II. Mereka diajar untuk berdoa kepada Allah memohon anugerah dan rahmat, berkenaan dengan kesusahan yang sedang mereka alami. Hal ini disimpulkan dari ayat sebelumnya: “Engkau telah berbuat baik kepada nenek moyang kami dan juga kepada kami, karena kami adalah anak-anak dari perjanjian yang sama.” 1. Mereka berdoa memohon anugerah pertobatan: “Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, supaya kami dipulihkan dari penawanan kami. Pulihkanlah kami dari kesalahan kami. Pulihkanlah kami kepada diri-Mu dan kepada kewajiban kami. Pulihkanlah kami, maka kami akan pulih kembali.” Semua orang yang akan diselamatkan Allah, cepat atau lambat pasti akan dipulihkan oleh-Nya. Tanpa pertobatan tidak ada keselamatan. 2. Mereka berdoa supaya Allah mengangkat tanda-tanda murka-Nya yang menindih mereka: “Tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami, seperti yang telah sering Engkau lakukan di masa nenek moyang kami, ketika Engkau meredakan murka-Mu dari mereka.” Perhatikanlah dengan baik cara yang digunakan, “Pertama-tama kembalikan kami kepada-Mu, kemudian alihkan sakit hati-Mu dari kami.” Ketika kita diperdamaikan kembali dengan Allah, maka baru saat itulah kita boleh berharap akan mendapat penghiburan dari perdamaian kita dengan Dia. 3. Mereka berdoa meminta pernyataan kehendak baik Allah kepada mereka (ay. 8): “Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, nyatakanlah diri-Mu dengan belas kasihan-Mu kepada kami. Janganlah sekadar berbelas kasihan kepada kami, tetapi izinkanlah kami juga melihat penghiburan sebagai bukti dari kasih setia-Mu itu. Biarlah kami tahu bahwa Engkau berbelas kasihan terhadap kami dan menyediakan rahmat bagi kami.” 4. Mereka berdoa supaya Allah bersedia tampil demi mereka dengan penuh rahmat, dan demi diri-Nya sendiri dengan penuh kemuliaan: “Berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu, berikanlah sesuai dengan janji-Mu, dan setelah itu, tidak diragukan lagi Engkau pasti akan melaksanakannya melalui pemeliharaan-Mu.” Perhatikanlah, pundi-pundi rahmat Allah merupakan pewaris keselamatan-Nya. Ia memperlihatkan kasih setia kepada orang-orang yang dikaruniai keselamatan oleh Dia. Sebab, keselamatan semata-mata diperoleh karena kasih setia. III. Mereka diajar untuk dengan rendah hati berbicara dengan Allah perihal masalah-masalah yang sedang mereka alami (ay. 6-7). Perhatikanlah di sini: 1. Apa yang mereka takuti dan cela: “Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami? Kami akan binasa jika Engkau sungguh-sungguh murka dengan kami, tetapi kami berharap Engkau tidak begitu. Apakah Engkau akan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? Tidak, karena Engkau penuh rahmat, tidak mudah murka, dan cepat memperlihatkan belas kasihan. Engkau tidak akan menentang sampai selamanya. Engkau juga tidak murka selamanya terhadap nenek moyang kami, melainkan cepat berpaling dari keganasan murka-Mu. Jadi, mengapa Engkau akan selamanya murka kepada kami? Bukankah rahmat dan belas kasihan-Mu sama banyak dan kuatnya seperti dahulu? Allah akan murka selamanya terhadap orang-orang berdosa yang tidak mau bertobat. Sebab, apa itu neraka selain kalau bukan murka Allah yang ditumpahkan turun-temurun tanpa kesudahan? Namun, apakah neraka dunia akan menjadi bagian umat-Mu?” 2. Apa yang mereka inginkan dan harapkan: “Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali (ay. 7), menghidupkan dengan mengucapkan kata-kata penghiburan kepada kami, menghidupkan dengan mengadakan pembebasan bagi kami? Sebelum ini Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, dan itulah yang menghidupkan tanah-Mu itu kembali. Tidakkah Engkau akan berkenan lagi, sehingga menghidupkannya kembali? Allah telah memberikan kepada anak-anak yang ditawan itu sedikit kelegaan di dalam perbudakan mereka (Ezr. 9:8). Kembalinya mereka dari Babel adalah seperti hidup dari antara orang mati (Yeh. 37:11-12). Sekarang, Tuhan (kata mereka), Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, dan mengangkat pula tangan-Mu untuk menghimpun kami? ( 126:1, 4). Hidupkanlah pekerjaan-Mu dalam lintasan tahun (Hab. 3:2). “Hidupkanlah kami kembali,” (1) “Supaya umat-Mu dapat bersukacita, dan dengan demikian kami akan terhibur oleh karenanya” ( 14:7). Berilah mereka kehidupan, supaya mereka beroleh sukacita. (2) “Supaya mereka dapat bersukacita di dalam Engkau, dan dengan demikian Engkau akan beroleh kemuliaan karenanya.” Jika Allah adalah mata air dari segala rahmat yang kita perlukan, maka Ia pun harus menjadi pusat seluruh sukacita kita. * Jawaban Ilahi bagi Doa; Berkat yang Diberikan sebagai Jawaban atas Doa (85: 9-14) Di sini kita temukan jawaban atas doa-doa dan pertanyaan-pertanyaan jemaat dalam ayat-ayat sebelumnya. I. Secara umum, ini adalah jawaban berupa damai sejahtera. Pemazmur langsung menyadari hal ini (ay. 9), karena ia berdiri di tempat pengintaian untuk mendengar apa yang hendak difirmankan Allah kepadanya, seperti yang dilakukan sang nabi (Hab. 2:1-2). Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Hal ini menyiratkan tentang, 1. Penenangan perasaannya yang bergolak " dukacitanya, ketakutannya " dan gejolak rohnya yang disebabkan oleh perasaan-perasaan itu: “Tenangkanlah dirimu, hai jiwaku, nantikan Allah dan tindakan-Nya dengan keheningan yang penuh kerendahan hati. Aku telah berbicara cukup atau bahkan terlampau banyak. Sekarang aku mau mendengar apa yang hendak dikatakan Allah dan menyambut kehendak-Nya yang suci. Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?” Jika kita ingin Allah mendengar apa yang kita katakan kepada-Nya melalui doa, kita juga harus siap mendengar apa yang dikatakan-Nya kepada kita melalui firman-Nya. 2. Meningkatnya pengharapannya. Sesudah menaikkan doa, ia menantikan sesuatu yang sangat besar dan sangat baik dari Allah yang mendengarkan doa. Setelah berdoa, kita harus memelihara doa-doa kita, dan menantikan jawabannya. Sekarang amatilah di sini: (1) Apa yang dijanjikannya kepada diri sendiri mengenai jawaban dari Allah atas doa-doanya: Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Ada orang-orang di dunia yang merupakan umat Allah yang disisihkan bagi-Nya, tunduk kepada-Nya, dan akan diselamatkan oleh-Nya. Semua umat-Nya adalah orang-orang yang dikasihi-Nya, dikuduskan melalui anugerah-Nya, dan diabdikan bagi kemuliaan-Nya. Orang-orang ini adakalanya kurang merasakan damai, di luar mereka ada banyak pergumulan dan di dalam batin penuh dengan ketakutan. Namun, cepat atau lambat, Allah akan berbicara kepada mereka. Kalaupun Ia tidak memberikan damai lahiriah, Ia akan memberikan damai batiniah dengan menyampaikannya ke dalam hati mereka dengan Roh-Nya yang telah membisikkan-Nya ke telinga mereka melalui firman dan para hamba-Nya. Ia akan membuat mereka bisa mendengar berita sukacita dan kesukaan. (2) Apa manfaat yang diperolehnya dari pengharapan ini. [1] Ia memperoleh penghiburan darinya, dan begitulah seharusnya dengan kita: “Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, mendengar jaminan damai sejahtera yang diberikan-Nya sebagai jawaban atas doa.” Ketika Allah berbicara tentang damai, janganlah kita menutup telinga, tetapi menerimanya dengan rendah hati dan penuh rasa syukur. [2] Ia memperingatkan orang-orang yang dikasihi-Nya supaya menjalankan kewajiban yang diperlukan untuk memperoleh damai ini: Jangan mereka kembali kepada kebodohan. Karena hanya dengan persyaratan inilah, bukan dengan yang lain, damai bisa diharapkan. Hanya kepada orang-orang yang berpaling dari dosalah, damai dibicarakan. Sebaliknya, apabila mereka kembali berbuat dosa, maka itu adalah tanggungan mereka sendiri. Semua dosa merupakan kebodohan, terutama dosa kembali mengerjakan kebiasaan tercela. Sungguh merupakan kebodohan yang sangat mencolok untuk kembali berbuat dosa setelah kita sepertinya telah berpaling darinya, untuk kembali kepada dosa setelah Allah menyampaikan damai sejahtera. Allah memang menghendaki perdamaian, tetapi saat Ia berbicara, maka perkataan-Nya menjadi perang bagi orang-orang bodoh demikian. II. Di sini ada rincian mengenai jawaban damai sejahtera itu. Ia sama sekali tidak meragukan bahwa tidak lama lagi segala sesuatu akan pulih kembali. Oleh sebab itu ia memberi kita harapan yang menyenangkan perihal pertumbuhan keadaan jemaat di dalam kelima ayat terakhir mazmur ini. Ayat-ayat ini menggambarkan damai sejahtera dan kemakmuran yang akhirnya akan dilimpahkan Allah ke atas anak-anak tawanan yang setelah mengalami berbagai kesukaran dan pergolakan, akhirnya bisa menetap di negeri sendiri. Namun, hal ini juga boleh diartikan, baik sebagai janji bagi semua orang yang takut akan Allah dan yang menegakkan keadilan, bahwa mereka akan merasa tenteram dan bahagia, maupun sebagai nubuat tentang kerajaan Sang Mesias dan tentang berkat-berkat yang akan memperkaya kerajaan itu. Di sini terdapat, 1. Pertolongan yang sudah dekat (ay. 10): “Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat, dekat kepada kita, bahkan lebih dekat daripada yang kita sangka. Sebentar lagi keselamatan itu akan terlaksana saat waktu Allah tiba, sebesar apa pun kesukaran dan kesusahan yang kita alami, dan waktu-Nya tidak lama lagi.” Ketika orang Israel dituntut membuat batu bata sama banyaknya meskipun tidak diberi jerami lagi, datanglah Musa. Pertolongan itu dekat bagi semua orang yang takut akan Dia. Ketika masalah mendekat, keselamatan pun berada dekat. Sebaliknya, keselamatan menjauh dari orang-orang fasik ( 119:155). Hal ini cocok diterapkan kepada Kristus, sumber dari keselamatan kekal. Sungguh merupakan penghiburan bagi orang-orang kudus dari Perjanjian Lama, yang meskipun tidak sempat melihat penebusan di Yerusalem yang mereka nanti-nantikan itu, tetap merasa yakin bahwa keselamatan itu sudah dekat dan akan menjadi bagian semua orang yang takut akan Allah. 2. Kehormatan dipastikan: “Sehingga kemuliaan diam di negeri kita, supaya kita bisa meneguhkan dan menetapkan penyembahan kepada Allah di antara kita, karena itulah yang menjadi kemuliaan suatu negeri. Apabila tidak ada penyembahan, maka Ikabod " kemuliaan itu telah pergi. Di mana ada penyembahan, kemuliaan akan berdiam di situ.” Hal ini bisa mengacu kepada Mesias yang akan menjadi kemuliaan bagi Israel, umat-Nya, dan yang datang serta tinggal di antara mereka (Yoh. 1:4). Untuk alasan itulah negeri mereka disebut negerimu, ya Imanuel (Yes. 8:8). 3. Segala anugerah bertemu dan berpelukan penuh kebahagiaan (ay. 11-12): Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Hal ini bisa diartikan, (1) Sebagai pembaruan rakyat dan pembaruan pemerintahan. Bila keduanya mengalami pembaruan, maka semua anugerah akan tampak jelas dan penuh kuasa di dalam keduanya. Baik penguasa maupun rakyat akan murah hati dan setia, adil dan cinta damai. Tanpa kesetiaan dan kasih, segalanya akan hancur (Hos. 4:1; Yes. 59:14-15). Sebaliknya, apabila kesetiaan dan kasih bertemu dalam pengelolaan segala urusan, mempunyai tujuan, menegakkan hukum, apabila ada banyak kebenaran hingga tumbuh di mana-mana bak rumput yang muncul dari tanah, dan juga keadilan hingga tercurah bak hujan dari langit, maka segala sesuatu akan berjalan dengan baik. Jika dalam setiap pertemuan kasih dan kesetiaan bertemu, dalam setiap pelukan keadilan serta damai sejahtera saling berciuman, dan kejujuran sudah menjadi umum, maka kemuliaan akan diam di negeri, sementara dosa kecurangan merupakan hal tercela bagi siapa pun. (2) Sebagai kembalinya perkenanan Allah, dan kelanjutannya. Ketika umat kembali kepada Allah dan melekat kepada-Nya dengan penuh hormat, Ia akan kembali kepada mereka dan tinggal bersama mereka dengan belas kasih-Nya. Sebagian orang memahaminya seperti ini, bahwa dengan demikian kesetiaan manusia bertemu dengan kasih Allah, dan keadilan manusia bertemu dengan damai sejahtera Allah. Jika Allah mendapati kita setia kepada-Nya, kepada sesama, dan kepada diri sendiri, maka kita akan mendapati Dia bermurah hati terhadap kita. Bila kita menyimpan keadilan di dalam hati nurani kita, kita akan menerima damai sejahtera. Jika kesetiaan akan tumbuh dari bumi, artinya (menurut uraian Dr. Hammond), tumbuh dari hati manusia, yaitu tanah yang baik bagi kesetiaan untuk bisa tumbuh subur, maka keadilan (yaitu kasih Allah) akan turun dari sorga, seperti matahari yang menyinari dunia ketika menyebarkan pengaruhnya atas hasil bumi dan memelihara pertumbuhannya. (3) Sebagai keselarasan sifat-sifat ilahi dalam pekerjaan Mesias. Di dalam Dia yang merupakan keselamatan dan juga kemuliaan kita, kasih dan kesetiaan bertemu. Kasih dan kesetiaan Allah, serta keadilan dan damai sejahtera-Nya akan bercium-ciuman. Artinya, perkara keselamatan kita yang luar biasa itu telah disusun dan direncanakan dengan begitu baik, hingga Allah menaruh belas kasihan terhadap orang berdosa yang malang dan berdamai dengan mereka, tanpa menyalahi kesetiaan dan keadilan-Nya. Dia memang bersungguh-sungguh dalam memberikan ancaman dan adil dalam pemerintahan-Nya, namun Ia juga mengampuni orang berdosa dan membawa mereka ke dalam kovenan dengan diri-Nya sendiri. Kristus, sebagai Pengantara, mempersatukan langit dan bumi kembali, yang tadinya berseteru karena dosa. Melalui Dia, kesetiaan akan tumbuh dari bumi, kesetiaan yang diperkenan Allah dalam batin, dan setelah itu, keadilan akan menjenguk dari langit. Karena Allah itu benar, dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Atau, ini juga menunjukkan bahwa di dalam kerajaan Mesias, semua anugerah ini akan tumbuh dengan subur, berjaya, dan memerintah atas semua. 4. Banyak hal yang didambakan akan diberikan (ay. 13): TUHAN akan memberikan kebaikan, segala sesuatu yang dipandang-Nya baik bagi kita. Semua hal baik datang dari kebaikan Allah, dan ketika kasih, kesetiaan, dan keadilan menanamkan pengaruh secara menyeluruh atas hati dan kehidupan manusia, segala sesuatu yang baik boleh diharapkan. Dengan demikian jika kita mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan (Mat. 6:33). Ketika kemuliaan Injil tinggal di negeri kita, maka kemuliaan itu akan bertambah-tambah, karena kesejahteraan jiwa akan menghasilkan kemakmuran lahiriah bersamanya, atau membuat ketiadaannya terasa manis ( 67:7). 5. Bimbingan yang pasti di jalan yang baik (ay. 14): Keadilan janji-Nya yang telah diberikan-Nya kepada kita dan menjamin kebahagiaan bagi kita, serta keadilan pengudusan, karya baik yang telah dikerjakan-Nya di dalam diri kita, semua ini akan berjalan di hadapan-Nyaguna mempersiapkan jalan bagi-Nya, baik untuk meningkatkan pengharapan kita akan perkenan-Nya maupun untuk melayakkan kita. Semua ini juga akan berjalan di hadapan kita dan menjadi pedoman kita untuk membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan bagi kita. Artinya, untuk membangkitkan pengharapan kita dan membimbing perilaku kita supaya kita dapat maju mendekati-Nya sementara Ia menghampiri kita di jalan kasih. Kristus, surya kebenaran itu, akan membawa kita kepada Allah, dan menempatkan kita di jalan yang menuju kepada-Nya. Yohanes Pembaptis, sang pengkhotbah keadilan itu, akan pergi sebelum Kristus untuk menyediakan jalan bagi-Nya. Keadilan merupakan pedoman yang pasti, baik dalam menjumpai Allah maupun dalam mengikuti Dia. ALASAN PEMILIHAN TEMA Manusia membutuhkan hidup yang damai, karena itulah yang menentramkan hati dan jiwanya. Di dalam jiwa dan hati yang tentram ini mengalirlah kebahagiaan. Tanda adanya damai, saat sikap dan tindakan permusuhan, konflik, peperangan, teror dan kekerasan dihentikan. Ini gampang diucapkan, tapi sulit diwujudkan. Selama manusia membiarkan ego dan emosinya tak bisa dikontrol dan dikendalikan maka ancaman terhadap kehidupan damai tetap potensial. Damai secara sejati tidak berdiri sendiri, di dalamnnya perlu kondisi dan keadaan yang membentuknya. Kondisi yang membetuknya ini yang membuat damai menjadi kuat dan kokoh sehingga mampu merekatkan yang berbeda, terpisah dan tercerai berai. Allah sumber damai sejati. Ia mengajarkan dan mencontohkan tentang damai itu, dalam perwujudan-Nya di dalam Yesus Kristus ketika bertemunya kasih, kesetiaan dan keadilan. Minggu-minggu adven dalam kalender gerejawi adalah perayaan tentang penantian penggenapan janji-janji Allah mengenai datangnya Yesus Kristus sebagai Raja Damai. Menjelang pesta demokrasi di awal tahun 2024 maka warga gereja perlu membekali diri dengan pengajaran-pengajaran tentang panggilan untuk menghadirkan kehidupan yang damai. Karena itu tema minggu ini adalah: DAMAI, bertemunya Kasih, Kesetiaan dan Keadilan. Pembahasan Teks Alkitab (Exegese) Mazmur 85:1-14 adalah doa memohon perkenanan dan pemulihan keadaan Yakub (lihat ayat 2). Suasana kelepasan sudah terasa, namun belum sepenuhnya. Ini gambaran keadaan umat yang sudah pulang dari tanah pembuangan. Keadaan Israel yang digambarkan sebagai “keadaan Yakub”, telah menerima dan merasakan pengampunan Allah dimana Allah telah menyurutkan kemarahan-Nya, atau gemas-Nya (ayat 4a). Israel diperkenankan Tuhan untuk kembali ke tanah leluhur. Namun, masih ada kekuatiran dan ketakutan. Murka dan gemas Allah kepada generasi itu telah surut dan reda, tapi bagaimanakah keadaan generasi berikutnya atau keturunan mereka? Mereka mengira bahwa Allah akan terus “sakit hati” (ayat 5) dan membangkitkan dan melanjutkan murka-Nya kepada keturunan mereka seperti kesusahan yang dialami mereka di tanah pembuangan. Ibarat perdamaian, maka Allah belum mendamaikan sepenuhnya diri-Nya dengan umat itu. Bagaimanakah damai sejahtera itu hadir di tengah-tengah umat bilamana masih ada yang ragu-ragu dengan pemulihan Ilahi? Inilah gambaran suasana batin beberapa kelompok Israel yang baru pulang dari tanah pembuangan. Karena itu pemazmur menyampaikan doa permohonan pemulihan ini dalam bentuk “hadirnya suasana damai”, sebagaimana disebutkan dalam ayat 9 “Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?”. Tindakan kebodohan ialah perbuatan-perbuatan yang menjadi penyebab sehingga bangsa itu dihukum dengan dibuang ke tanah pembuangan. Sekalipun bangsa itu dikasihi Allah, tapi jika mereka membiarkan pikiran dan hati dipikat oleh kekuatan-kekuatan yang bukan Allah, mereka akan berada di titik nadir kebodohan. Spesialis Bekasi Kaget, Ini Hilangkan Keriput Luar Biasa Gila! Pemazmur yang adalah seorang pemimpin atau imam di Israel menjadi agen penggerak Gerakan Doa Permohonan Pemulihan agar ada kedamaian dan ketenangan dalam kehidupan umat yang baru pulang dari tanah pembuangan. Pemazmur menyampaikan harapan tentang bentuk-bentuk “damai, sebagai visi ilahi” yang diperkenankan Tuhan: Pertama: Damai, ketika kasih dan kesetiaan bertemu (ayat 11a). Kasih tanpa ketaatan, bukan kasih. Ibarat bangunan yang kelihatan indah dari depan tapi tidak teratur atau bobrok di dalam. Saat Israel berada di pembuangan, mereka menyadari bahwa ini dikarenakan praktik ritual mereka bagus dan megah, tapi di dalamnya palsu. Mereka bukan menyembah Allah tapi kepada berbagai berhala buatan manusia. Kasih kepada Allah tidak dibarengi dengan kesetiaan kepada-Nya menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan. Sebaliknya ketika kasih dan kesetiaan bertemu maka kemuliaan akan tinggal di tempat kediaman umat dan bangsa. Kedua: Damai, ketika keadilan dan damai sejahtera bercium-ciiman (ayat 11b). Sebelum pembuangan keadilan sosial di Israel sangat memprihatinkan, sehingga nabi Amos berkata “hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan mengempaskan kebenaran ke tanah” (Amos 5:7). Keadilan seperti ipuh menunjuk pada keadilan sangat pahit untuk dicari, atau juga keadilan yang berlaku adalah ketidakadilan. Berbagai usaha untuk mendapatkan keadilan, namun yang diterima adalah kepahitan. Karena itu visi pemazmur adalah keadilan dan damai sejahtera “bercium-cimuan” menunjuk pada berlakunya keadilan yang sejati, yaitu keadilan yang mendatangkan damai sejahtera. Keadilan yang terasa manis dan menyehatkan, seperti sepasang kekasih yang menyatakan kasih sayang kedekatan hubungannya dengan bercium-ciuman. Keadilan yang tidak palsu dan manipulasi. Ketiga: Damai, ketika kesetiaan tumbuh dari bumi dan keadilan akan menjenguk dari langit (ayat 12). Orang Israel insaf bahwa kesetiaan bukan dari langit, artinya kesetiaan itu mesti dimulai dari hal-hal yang kecil. Mulai dari diri sendiri, atau pribadi, keluarga, suku dan bangsa. Mulai dari kesetiaan pada aturan-aturan yang kecil dan sederhana. Kesetiaan yang tumbuh dari bumi, menunjuk pada ketaatan yang datang dari kepenuhan hati. Dimana ada kesetiaaan dengan sepenuh hati maka keadilan dari langit atau dari Allah akan turun menyertai umat-Nya. Keempat: damai, ketika keadilan membuat jejak kaki-nya menjadi jalan (ayat 14). Keadilan yang mendatangkan damai saat bangsa itu taat, tidak ke kiri atau ke kanan, tapi berjalan terus pada jejak kaki Allah. Bangsa itu dapat membuat aturan-aturan kehidupan, namun semua aturan-aturan itu akan mendatangkan berkat bila berpedoman pada Hukum Allah. Musafir yang taat mengikuti jejakl-jejak kaki Ilahi akan tiba di tujuan dengan selamat, begitu gambaran Israel yang baru pulang dari tanah pembuangan. Makna dan Implikasi Firman 1. Permohonan akan Pemulihan Allah. Allah berkenan atas permohonan hamba dan umat-Nya yang percaya akan janji-janji-Nya. Allah tidak mendendam untuk mengungkit-ungkit dosa dan pelanggaran sehingga mereka yang datang memohon pengampunan menjadi putus asa dan hilang harapan. Tetapi, Ia sendiri dengan kuasa kasih-Nya menyurutkan segala kemarahan dan tidak membiarkan hati-Nya terbakar terus menerus dalam dendam dan murka yang menyala-nyala. Kasih setia Allah yang menjadi sumber pemulihan sehingga manusia menerima keselamatan. Berbeda dengan manusia yang seringkali melupakan bahwa dirinya diselamatkan cuma karena kuasa kasih Allah yang penuh belas kasihan. Manusia seringkali membiarkan diri dendam kepada mereka yang pernah menyakitnya atau yang pernah melakukan kesalahan padanya. Dendam telah menjadi kesenangan sehingga tidak ada pengampunan dan perdamaian. 2. Kasih dan kesetiaan akan bertemu adalah gambaran perjumpaan sorga dan bumi, bilamana itu terjadi maka sinar kemuliaan Allah akan terbit dari dalamnya. Sinar itu akan menerangi kegelapan sehingga negeri itu tidak akan tenggelam dan tersesat. Mereka yang tinggal di dalamnya akan hidup berdampingan dengan rukun dan damai tanpa curiga dan dendam. Ini terjadi apabila negeri itu hidup dalam ketaatan dan takut akan Allah. Keindahan kasih dari sorga seringkali tak terwujud dan terasa karena manusia menolaknya. Ketika janji Allah digenapi dalam kelahiran Yesus Kristus di kandang Betlehem, raja Herodes melaksanakan operasi pembunuhan anak-anak di bawah 2 tahun di seluruh kota Betlehem. Dunia menolak dan tidak mau menerima kasih itu. Namun kasih Allah yang besar memurnikan kekurangan dan berbagai bentuk kesetiaan yang palsu. Allah sudah berjanji apabila kasih dan kesetiaan itu bertemu maka keadilan dan damai sejahtera akan bercium ciuman. Ini gambaran puitis tentang hadirnya kedamaian sejati yang di dalamnya ada keadilan sejati. 3. Saat Tuhan Yesus Kristus menyampaikan khotbah di bukit para pendengar yang sedang gelisah hatinya merasakan suatu kedamaian sejati ketika Ia berkata “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Orang banyak yang resah itu terhiburkan ketika berita damai sejahtera dan keadilan itu bertemu di dalam hati oleh kuasa dan kasih Yesus Kristus. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI: 1. Apa arti damai; bertemunya kasih, kesetiaan dan keadilan menurut naskah Mazmur 85: 1-14 2. Bagaimana warga gereja berperan menghadirkan damai di tengah-tengah konstelasi politik menghadapi Pemilu 2024 NAS PEMBIMBING: Matius 5:9 POKOK-POKOK DOA: 1. Agar bangsa-bangsa yang berperang dan bermusuhan dapat berdamai dan hidup rukun berdampingan dengan harmonis. 2. Jadikanlah kami sebagai warga gereja yang membawa damai dimana ada peperangan, membawa ampun dimana ada dendam dan kebencian. 3. Agar para pelayan dapat melaksanakan tugas penggembalaan untuk mendamaikan keluarga atau anggota jemaat yang berseteru. TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: MINGGU ADVEN I NYANYIAN YANG DIUSULKAN: Persiapan : KJ. No. 84 Ya Yesus Dikau Kurindukan Ses. Nas Pemb: Kala Ku Cari Damai Ses. Pengakuan Dosa: KJ. No. 467 Tuhanku Bila Hati Kawanku Ses. Pemb Anugerah Allah: KJ. No. 383 Sungguh Indah Kabar Mulia Ses. Pembacaan Alkitab: KJ. No. 49 Firman Allah Jayalah Persembahan: NNBT. No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan Nyanyian Penutup: PKJ. No.267 Damai Di Dunia ATRIBUT: Warna Dasar Biru Muda dengan Simbol Empat Buah Lilin Berwarna Ungu.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHK GMIM Senin, 4 Desember 2023 - Menyurutkan Kemarahan - Mazmur 85:3-4 Sebelum: RHK GMIM Sabtu, 2 Desember 2023 - Doa dan Puasa, Kekuatan Menghadapi Pergumulan Hidup - Ester 4:15-17 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,