gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 714 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2023
Minggu, 26 November 2023

Khotbah GMIM Minggu, 26 November 2023 - Berkorban Demi Kelangsungan Hidup Banyak Orang - Ester 4:1-17
Usaha Mordekhai untuk menolong orang Yahudi, Kedukaan Besar di Tengah Bangsa Yahudi , Ester Menetapkan Hati untuk Memohon kepada Raja

Ester 4:1-17
Usaha Mordekhai untuk menolong orang Yahudi
4:1 Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih. 4:2 Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorangpun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 4:3 Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya. 4:4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, maka sangatlah risau hati sang ratu, lalu dikirimkannyalah pakaian, supaya dipakaikan kepada Mordekhai dan supaya ditanggalkan kain kabungnya dari padanya, tetapi tidak diterimanya. 4:5 Maka Ester memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan baginda melayani dia, lalu memberi perintah kepadanya menanyakan Mordekhai untuk mengetahui apa artinya dan apa sebabnya hal itu. 4:6 Lalu keluarlah Hatah mendapatkan Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja, 4:7 dan Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta berapa banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman akan ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi. 4:8 Juga salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka itu, diserahkannya kepada Hatah, supaya diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Lagipula Hatah disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda. 4:9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester. 4:10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: 4:11 "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja." 4:12 Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai, 4:13 maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. 4:14 Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." 4:15 Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: 4:16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." 4:17 Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.

Penjelasan:
* Kedukaan Besar di Tengah Bangsa Yahudi (4:1-4)
Dalam perikop ini kita mendapati penjelasan tentang kedukaan besar di tengah bangsa Yahudi akibat terbitnya titah Haman yang berdarah untuk membantai mereka. Sungguh masa yang menyedihkan bagi jemaat.

(1) Mordekhai menangis pedih, mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung (ay. 1-2). Dengan bertindak demikian, ia tidak hanya melampiaskan dukacitanya, tetapi juga memaklumkannya, supaya semua orang mengetahui bahwa ia tidak malu mengakui diri sebagai sahabat orang Yahudi, dan sebagai orang yang turut menderita bersama-sama dengan mereka, saudara dan sekutu dalam kesusahan, betapapun mereka sekarang digambarkan oleh kelompok Haman sebagai orang-orang yang keji dan patut dibenci. Sungguh mulia tindakan Mordekhai yang menyokong di depan umum apa yang diketahuinya sebagai perkara yang benar, dan perkara Allah, bahkan ketika perkara itu tampak tidak ada harapan dan akan kandas. Mordekhai merasakan betul bahaya itu lebih daripada orang lain, karena ia tahu bahwa kemarahan Haman terutama diarahkan kepada dirinya, dan bahwa oleh sebab dirinyalah seluruh orang Yahudi menjadi sasaran Haman. Maka dari itu, meski Mordekhai tidak menyesali apa yang akan dikatakan sebagian orang sebagai kedegilannya, karena ia bersikeras tidak mau menghormati Haman (5:9), namun dirinya sungguh bersusah hati karena bangsanya harus menderita akibat keengganannya untuk melawan suara batin. Hal ini mungkin membuat beberapa dari mereka mencelanya sebagai orang yang terlalu kaku. Akan tetapi, karena ia mampu membela diri di hadapan Allah bahwa perbuatannya itu dilakukannya atas dasar hati nurani, maka ia dapat dengan lepas menyerahkan perkaranya dan perkara bangsanya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Allah akan memelihara orang-orang yang terancam bahaya akibat kelembutan hati nurani mereka. Disorot secara khusus di sini bahwa seorang pun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. Walaupun kekuasaan raja-raja mereka yang sewenang-wenang kerap kali, seperti sekarang ini, membuat banyak orang berduka, namun seorang pun tidak boleh datang kepada raja dengan berpakaian kain kabung, karena raja tidak berkenan mendengarkan keluhan-keluhan orang seperti itu. Tiada hal lain selain segala sesuatu yang riang dan menyenangkan yang diperbolehkan tampil di istana, dan semua yang menyedihkan hati harus dihalau dari sana. Semua orang di dalam istana raja berpakaian halus (Mat. 11:8), bukan kain kabung. Akan tetapi, sungguh konyol menyingkirkan tanda-tanda kesedihan seperti itu, kecuali dengan itu mereka dapat menyingkirkan penyebab-penyebab kesedihan, atau melarang kain kabung untuk masuk, kecuali mereka dapat melarang sakit penyakit, masalah, dan kematian untuk masuk. Bagaimanapun juga, aturan ini mengharuskan Mordekhai menjaga jarak, dan hanya datang sampai di depan pintu gerbang, dan tidak masuk ke dalamnya.

(2) Segenap orang Yahudi di segala daerah merasa sangat terpukul mendengar titah itu (ay. 3). Mereka menolak penghiburan yang datang dari meja hidangan mereka (karena mereka berpuasa dan mencampur makanan dan minuman dengan air mata), serta penghiburan yang datang dari tempat tidur mereka pada malam hari, karena mereka membentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidur mereka. Orang-orang yang karena kurang menaruh percaya pada Allah, dan kurang mencintai negeri mereka sendiri, tetap tinggal di negeri tempat mereka tertawan, pada waktu Koresh memberi mereka kebebasan untuk pergi, sekarang mungkin menyesali kebodohan mereka, dan berharap bahwa mereka mematuhi panggilan Allah, ketika semuanya sudah sangat terlambat.

(3) Ester sang ratu, setelah mendapat gambaran umum tentang masalah yang sedang menimpa Mordekhai, sangatlah risau hati (ay. 4). Duka Mordekhai adalah dukanya juga, seperti itulah rasa hormat yang masih dimilikinya kepada pamannya itu. Dan bahaya yang mengancam orang Yahudi membuatnya susah hati, karena meskipun seorang ratu, ia tidak melupakan hubungannya dengan mereka. Janganlah orang yang terhebat sekalipun berpikir bahwa terlalu hina bagi mereka untuk berduka karena hancurnya keturunan Yusuf, walaupun mereka sendiri berurap dengan minyak yang paling baik (Am. 6:6). Ester mengirimkan pakaian ganti kepada Mordekhai, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar. Akan tetapi, karena Mordekhai ingin membuat Ester menyadari kedalaman dukacitanya, dan dengan demikian penyebab dukacita itu, maka kiriman Ester tidak diterimanya. Sebaliknya, Mordekhai berlaku seperti orang yang menolak untuk dihibur.


* Ester Menetapkan Hati untuk Memohon kepada Raja (4:5-17)
Begitu ketatnya hukum Persia mengekang para istri, khususnya para istri raja, sehingga mustahil bagi Mordekhai untuk bercakap-cakap dengan Ester mengenai perkara penting ini. Tetapi dalam perikop ini kita mendapati sejumlah pesan disampaikan di antara mereka dengan perantaraan Hatah, seorang yang telah ditetapkan baginda raja untuk melayani Ester, dan tampaknya dia merupakan sosok yang dapat dipercaya Ester.

(1) Ester mengutus Hatah kepada Mordekhai untuk mengetahui secara lebih terperinci dan lengkap apa perkara yang kini sedang diratapi Mordekhai (ay. 5), dan mengapa Mordekhai tidak mau menanggalkan kain kabungnya. Sikap menanyakan berita seperti itu, supaya kita lebih mengetahui bagaimana harus mengarahkan dukacita dan sukacita kita, doa-doa dan puji-pujian kita, merupakan sikap yang sepatutnya dimiliki oleh semua orang yang mengasihi Sion. Jika kita harus menangis bersama orang yang menangis, kita harus mengetahui mengapa mereka menangis.

(2) Mordekhai menyampaikan kepada Ester penjelasan yang sesungguhnya perihal seluruh perkara itu, dengan satu pesan baginya untuk memohonkan perkara ini kepada raja: Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya (ay. 7), betapa Haman sakit hati kepadanya karena menolak sujud kepada Haman, dan bagaimana caranya Haman berhasil mendapatkan titah ini. Mordekhai juga mengirimkan kepada Ester salinan surat tentang pembantaian orang Yahudi, supaya Ester dapat melihat betapa bahaya yang mengancam dirinya dan bangsanya sudah di ambang pintu. Lalu Mordekhai menyuruhnya, apabila ia memang mempunyai rasa hormat kepada Mordekhai atau kebaikan kepada bangsa Yahudi, agar ia tampil sekarang mewakili mereka, meluruskan berita-berita miring yang telah memperdaya sang raja, dan menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya, tanpa merasa ragu bahwa setelah itu sang raja akan membatalkan keputusannya.

(3) Ester menyampaikan perkara yang dihadapinya kepada Mordekhai, bahwa ia tidak bisa, tanpa membahayakan nyawanya, berbicara kepada raja, dan bahwa karena itu Mordekhai memberinya beban yang besar dengan mendesaknya untuk melakukan hal itu. Dengan senang hati ia akan menanti, dengan senang hati ia akan merendahkan diri sampai membungkuk, untuk melakukan kebaikan bagi bangsa Yahudi. Akan tetapi, apabila ia harus mengambil risiko dengan dihukum mati sebagai seorang penjahat, pantaslah ia berkata, aku minta dimaafkan, dan mohon supaya ada orang lain yang dapat menjadi penengah.


I. Hukumnya sudah jelas, 
dan semua orang tahu, bahwa siapa pun yang datang kepada raja tanpa dipanggil harus dihukum mati, kecuali raja berkenan mengulurkan tongkat emas kepada orang yang datang itu. Dan Ester sungguh ragu apakah ia akan mendapati raja dalam suasana hati yang sebaik itu (ay. 11). Hukum ini dibuat bukan atas dasar kebijaksanaan, yakni demi memperketat keamanan sang raja, melainkan terlebih dalam kesombongan, bahwa karena jarang terlihat dan sulit dijumpai, maka raja akan dipuja-puja layaknya dewa kecil.

Sungguh hukum yang bodoh, karena
1. Hukum itu membuat para raja sendiri tidak bahagia, dengan mengungkung mereka dalam keterasingan karena takut mereka akan terlihat. Ini membuat istana kerajaan hanya sedikit lebih baik daripada penjara kerajaan, dan para raja sendiri tidak bisa tidak pasti menjadi mudah marah, dan mungkin murung, sehingga menjadi kengerian bagi orang lain dan beban bagi diri mereka sendiri. Banyak orang menjadikan hidup mereka sengsara oleh sebab kecongkakan dan sifat buruk mereka sendiri.
2. Hukum itu buruk bagi rakyat. Sebab apa baiknya mempunyai seorang raja yang tidak bisa ditemui dengan bebas untuk menyampaikan keluhan atau memohon banding dari para hakim yang lebih rendah? Tidak demikian adanya di dalam pelataran Raja segala raja. Tumpuan kaki takhta anugerah-Nya dapat kita hampiri kapan saja dengan penuh keberanian, dan kita bisa yakin akan jawaban damai bagi doa yang dipanjatkan dengan penuh iman. Kita disambut bukan hanya ke dalam pelataran bagian dalam, melainkan juga bahkan ke dalam tempat maha kudus, oleh darah Yesus.
3. Hukum itu secara khusus membuat para istri raja merasa sangat tidak nyaman (karena tidak ada ketentuan di dalam hukum tersebut yang mengecualikan mereka), yang adalah tulang dari tulang mereka, dan daging dari daging mereka. Akan tetapi, mungkin hukum tersebut memang dimaksudkan dengan jahat untuk melawan mereka seperti halnya melawan orang lain, supaya para raja bisa lebih leluasa menikmati selir-selir mereka, dan Ester tahu itu. Sungguh menyedihkan sebuah kerajaan apabila para rajanya merekayasa hukum-hukum mereka untuk melayani hawa nafsu mereka sendiri.


II. Keadaan Ester pada saat ini sangatlah mengecilkan hati. 
Allah Sang Penyelenggara telah mengaturnya sedemikian rupa sehingga, tepat pada saat seperti ini, awan gelap tengah menaungi Ester, dan kasih sayang raja terhadapnya pun menjadi dingin. Sebab ia selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja, supaya iman dan keberaniannya dapat semakin diuji, dan supaya kebaikan Allah dapat bersinar lebih cemerlang, meskipun ia tidak begitu mendapat perkenanan raja sekarang ini. Ada kemungkinan bahwa Haman, dengan mempergunakan wanita serta anggur, berupaya mengalihkan raja agar tidak memikirkan apa yang telah diperbuatnya. Dan dengan demikian terabaikanlah Ester, sosok yang tak ayal lagi hendak dijauhkan Haman sebisa mungkin dari raja, karena ia tahu Ester menentangnya.

(4) Mordekhai masih tetap bersikeras dengan permohonannya bahwa, apa pun bahaya yang akan menimpa Ester, Ester harus tetap menghadap raja di dalam perkara genting ini (ay. 13-14). Tidak ada alasan apa pun yang bisa diterima, Ester harus tampil sebagai pembela dalam perkara ini. Mordekhai mengemukakan kepada Ester,

- Bahwa itu adalah perkara Ester sendiri, karena titah untuk memunahkan semua orang Yahudi tidak mengecualikan dirinya: “Maka dari itu jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, istana akan menjadi perlindunganmu, dan mahkota akan menyelamatkan kepalamu. Tidak, engkau seorang perempuan Yahudi, dan apabila semua orang Yahudi lain dibunuh, engkau juga akan dibunuh.” Jelas lebih bijaksana bagi Ester untuk memperhadapkan dirinya pada sebuah kematian yang masih belum pasti dari suaminya, daripada kematian yang sudah pasti dari seterunya. Bahwa itu adalah sebuah perkara yang, bagaimanapun caranya, pasti akan terlaksana, dan oleh karenanya Ester dapat memberanikan diri untuk melakukannya dengan aman. “Bila engkau menolak melaksanakan tindakan ini, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain.” Ini merupakan bahasa yang mencerminkan iman yang teguh, yang tidak bimbang terhadap janji di tengah bahaya yang paling mencekam, tetapi berharap juga dan percaya, sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Alat bisa saja gagal, tetapi kovenan Allah tidak akan gagal.

- Bahwa apabila Ester meninggalkan kawan-kawannya pada saat ini, karena kecut hati dan tidak percaya, maka ia perlu merasa takut bahwa suatu penghakiman dari sorga akan mendatangkan kehancuran bagi dirinya dan keluarganya: “Engkau dengan kaum keluargamu akan binasa, ketika semua kaum keluarga Yahudi lainnya diselamatkan.” Orang yang ingin menyelamatkan nyawanya dengan cara yang berdosa, dan yang di dalam hatinya tidak dapat mempercayakan nyawanya kepada Allah di jalan kewajiban, akan kehilangan nyawanya di jalan dosa.

- Bahwa Penyelenggaraan Allah mempunyai maksud ini dengan mengangkat Ester menjadi ratu: “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” 

Maka dari itu,
1. “Engkau terikat oleh rasa syukur untuk melakukan pelayanan ini bagi Allah dan jemaat-Nya, karena jika tidak, engkau tidak menggenapi maksud pengangkatanmu.”

2. “Engkau tidak perlu takut gagal dalam upaya ini. Jika Allah telah merancangmu untuk melaksanakan tindakan ini, maka Ia akan menyokongmu dan memberimu keberhasilan.” 

Nah,
I. Melalui kejadian ini, tampak bahwa Ester memang diangkat sebagai ratu dalam kerajaan itu supaya ia dapat menjadi alat kelepasan bagi bangsa Yahudi, sehingga pemikiran Mordekhai ini benar. Karena TUHAN mengasihi umat-Nya, maka Ia menjadikan Ester sebagai ratu. Di dalam segala penyelenggaraan Allah, terdapat nasihat dan rancangan yang bijaksana, yang tidak kita ketahui hingga rancangan itu terlaksana, tetapi pada akhirnya akan nyata bahwa semuanya itu dimaksudkan bagi, dan berpusat pada, kebaikan jemaat.

II. Kemungkinan akan berhasil ini menjadi alasan yang kuat mengapa Ester harus bergerak sekarang, dan berbuat yang terbaik bagi bangsanya. Setiap orang dari kita harus memikirkan untuk tujuan apa Allah telah menaruh kita di tempat kita berada, dan harus membaktikan diri untuk memenuhi tujuan itu. Dan, ketika muncul kesempatan tertentu untuk melayani Allah dan angkatan kita, kita harus memastikan untuk tidak melewatkannya. Sebab kita dipercayakan dengan kesempatan itu agar kita dapat mempergunakannya dengan baik. Mordekhai mendesakkan semua hal ini kepada Ester. Dan sebagian dari para penulis Yahudi, yang pandai mengarang cerita, menambahkan hal lain pada apa yang dialami Mordekhai (ay. 7), yang ingin diceritakannya kepada Ester, “bahwa ketika dalam perjalanan pulang, pada malam sebelumnya, dengan hati yang berat setelah mengetahui rencana Haman, Mordekhai bertemu dengan tiga anak Yahudi yang datang dari sekolah. Kepada mereka ini Mordekhai bertanya apa yang telah mereka pelajari pada hari itu. Salah satu dari mereka berkata kepadanya bahwa apa yang dipelajarinya adalah Kitab 25-26, janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba. Anak kedua berkata kepadanya bahwa apa yang dipelajarinya adalah Kitab Yesaya 8:10, buatlah rancangan, tetapi akan gagal juga. Anak ketiga berkata kepadanya bahwa apa yang dipelajarinya adalah Kitab Yesaya 46:4, Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus, bahkan Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. “Oh betapa baiknya Allah,” seru Mordekhai, “yang telah meletakkan dasar kekuatan dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu!”

(5) Ester dengan demikian bertekad untuk menghadap raja, apa pun harga yang harus dibayarnya, tetapi tidak sebelum ia dan para sahabatnya menghadap Allah terlebih dahulu. Biarlah mereka dengan puasa dan doa memperoleh perkenanan Allah dahulu, dan baru kemudian Ester dapat berharap untuk mendapat perkenanan raja (ay. 15-16). 

Ester berbicara di sini,
I. Dengan kesalehan dan ketakwaan yang sepantasnya dimiliki orang Israel. Mata Ester di sini tertuju kepada Allah, yang menggenggam hati para raja, dan yang dapat diandalkan Ester untuk mencondongkan hati raja ini kepadanya. Ester masuk ke dalam suatu keadaan yang membahayakan hidupnya, tetapi ia ingin berpikir bahwa dirinya aman, dan akan tenang, apabila ia telah mempercayakan pemeliharaan nyawanya kepada Allah dan menempatkan dirinya di bawah perlindunganNya. Ia percaya bahwa perkenanan Allah harus diperoleh melalui doa, bahwa bangsanya adalah bangsa pendoa, dan bahwa Dia adalah Allah yang mendengarkan doa. Ia tahu bahwa dalam perkara-perkara luar biasa, orang-orang baik akan memadukan puasa dan doa, dan banyak dari mereka akan bergabung bersama-sama untuk melaksanakan keduanya. 

Oleh sebab itu Ester,
1. Menghendaki supaya Mordekhai mengarahkan orang-orang Yahudi yang ada di Susan untuk mengadakan puasa yang kudus dan memaklumkan perkumpulan raya. Mereka harus bertemu di sinagoga mereka masing-masing, untuk berdoa baginya dan melaksanakan ibadah puasa, dengan tidak memakan makanan sehari-hari serta segala santapan lezat selama tiga hari, dan sebisa mungkin segala makanan, sebagai tanda perendahan diri mereka karena dosa dan kesadaran akan ketidaklayakkan mereka menerima belas kasihan Allah. Sungguh tidak tahu bagaimana menghargai perkenanan ilahi orang-orang yang menggerutu atas susah payah dan penyangkalan diri yang mereka lakukan dalam mengejar perkenanan itu.

2. Ester berjanji bahwa ia dan keluarganya akan mengadakan puasa yang kudus ini di dalam kediamannya di istana, karena ia tidak dapat menghadiri pertemuan raya mereka. Dayang-dayangnya mungkin merupakan orang-orang Yahudi atau orang-orang dari bangsa lain yang telah benar-benar menganut agama Yahudi hingga mereka ikut berpuasa dan berdoa bersamanya. Inilah contoh baik seorang nyonya yang berdoa bersama dayang-dayangnya, dan ini layak ditiru. Cermati juga bahwa orang-orang yang berada di kamar pribadi dapat menggabungkan doa mereka dengan doa umat Allah di dalam perkumpulan raya. Orang-orang yang tidak hadir secara badani, dapat hadir secara rohani. Orang-orang yang menghendaki, dan memperoleh, doa-doa orang lain untuk mereka, tidak boleh berpikir bahwa hal ini membebaskan mereka untuk tidak berdoa bagi diri mereka sendiri.

II. Dengan keberanian dan tekad bulat yang sepantasnya dimiliki seorang ratu. “Apabila kita telah mencari Allah dalam perkara ini, maka aku akan masuk menghadap raja untuk menjadi perantara bagi bangsaku. Sungguhpun berlawanan dengan undang-undang, tetapi aku tahu ini tidak berlawanan dengan hukum Allah. Oleh sebab itu, apa pun hasilnya, aku akan tetap memberanikan diri untuk menghadap raja, dan tidak menyayangkan nyawaku sendiri, sehingga aku dapat melayani Allah dan jemaat-Nya. Dan kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati. Tidak ada alasan yang lebih baik daripada ini untuk kehilangan nyawaku. Lebih baik melaksanakan kewajibanku dan mati bagi bangsaku daripada mundur dari kewajibanku dan mati versama mereka.” Ester berpikir sama seperti orang-orang yang sakit kusta (2Raj. 7:4): “Jika aku tinggal di sini, aku akan mati juga. Jika aku berani mengambil tindakan, aku mungkin akan hidup, dan membawa kehidupan bagi bangsaku. Kalau memang yang terburuk harus terjadi,” seperti kata kita, “paling-paling aku mati.” Bila tidak berani mengambil tindakan, maka tidak ada kemenangan. Ester tidak mengucapkan semuanya ini dalam keputusasaan atau amarah, tetapi dengan tekad kudus untuk melaksanakan kewajibannya dan mempercayakan hasilnya kepada Allah. Ia menerima kehendak-Nya yang kudus. Di dalam bagian Apokrifa dari Tambahan Ester C, kita membaca doa Mordekhai dan doa Ester pada kesempatan ini, dan kedua doa tersebut sangat khusus dan sehubungan dengan apa yang sedang dibicarakan. Di dalam kelanjutan kisah ini, kita akan menemukan bahwa Allah tidak berkata kepada keturunan Yakub ini, cari aku dengan sia-sia.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 27 November 2023 - Risau Hati Ester - Ester 4:4

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu 25 November 2023 - Ketaatan Pada Tuhan dan Raja - Amsal 24:21-22




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,