gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 669 kali
Download MP3 Music
Galatia 2:15-21
Bahasa Manado:
Torang bole jadi orang yang butul cuma deng percaya pa Yesus Kristus
15Torang ini da jadi orang Yahudi dari lei torang lahir. Tu orang yang bukang Yahudi, dorang itu nyanda percaya pa Tuhan, so itu torang anggap kalu dorang itu orang berdosa. 16Mar skarang torang tu orang Yahudi yang percaya pa Yesus, torang tau kalu nyanda ada orang yang Tuhan beking jadi butul di muka pa Dia lantaran tu orang itu da beking tu atoran-atoran di kitab Taurat. Soalnya Tuhan beking orang jadi butul di muka pa Dia, itu lantaran tu orang itu percaya pa Kristus Yesus. So itu, torang tu orang Yahudi, torang lei percaya pa Kristus Yesus supaya deng torang pe percaya itu, Tuhan beking torang jadi orang yang butul di muka pa Dia, bukang lantaran torang da beking tu atoran-atoran di kitab Taurat. Soalnya di Kitab Suci da bilang bagini, “Nyanda ada orang yang Tuhan beking jadi orang yang butul di muka pa Dia lantaran tu orang itu da beking tu atoran-atoran di kitab Taurat.”
17Torang ini orang Yahudi, kong torang so percaya pa Kristus lantaran torang suka Tuhan Allah beking torang jadi butul di muka pa Dia. Mar mungkin ada orang yang mo bilang kalu torang ini orang yang berdosa, torang so nyanda ja beking lei tu atoran-atoran di kitab Taurat. Jadi kalu sama deng itu, apa Kristus beking torang ini jadi orang berdosa lantaran torang percaya pa Dia kong so nyanda iko lei tu atoran-atoran di kitab Taurat? Sama skali nyanda bagitu! 18Mar kalu misalnya kita mo babale ulang beking tu atoran-atoran di kitab Taurat supaya Tuhan Allah beking kita jadi orang yang butul di muka pa Dia, kita bole mo se sama deng tu orang yang da se badiri ulang tu bangunan tua yang dia so se ancor. Kalu kita beking bagitu, kita komang butul-butul so malawang pa Tuhan Allah. 19Dulu waktu kita brusaha ja iko tu atoran-atoran itu, tu atoran-atoran itu cuma se tunjung tu kita pe dosa-dosa, itu sama deng kita so dapa hukuman mati lewat tu atoran-atoran itu. Mar skarang kita so nyanda taika lei deng tu atoran-atoran itu supaya kita bole hidop for Tuhan Allah. Waktu Kristus mati di kayu salib, kita sama deng so dapa salib sama-sama deng Dia. 20So itu kita hidop skarang, kita hidop nyanda iko tu kita pe cara hidop dulu, mar Kristus yang hidop deng berkuasa pa kita. Kong pa kita pe hidop skarang di dunia ini, kita hidop cuma bagantong pa kita pe percaya pa tu Anak Allah. Dia yang sayang pa kita, kong Dia so srahkan Dia pe diri mati di kayu salib for kita. 21Tuhan Allah so se tunjung tu Dia pe bae pa torang, Dia beking torang jadi orang yang butul di muka pa Dia, kong kita nyanda tolak tu Dia pe bae itu. Soalnya kalu misalnya torang bole jadi orang yang butul di muka pa Tuhan Allah deng beking tu atoran-atoran di kitab Taurat, itu de pe arti tu Kristus pe kematian di kayu salib nyanda ada de pe guna.  

Bahasa Indonesia:
Yang terutama, juga untuk orang Kristen keturunan Yahudi
2:15 Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. 2:16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat. 2:17 Tetapi jika kami sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah orang-orang berdosa, apakah hal itu berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa? Sekali-kali tidak. 2:18 Karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat. 2:19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; 2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 2:21 Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Penjelasan:
* Jemaat di Antiokhia merupakan salah satu jemaat utama orang-orang Kristen yang berasal dari bangsa-bangsa lain, sama seperti Yerusalem yang menjadi pusat dari orang-orang Kristen yang telah meninggalkan agama Yahudi dan memeluk iman kepada Kristus. Tidak ada dasar alasan yang kuat untuk menganggap bahwa Petrus adalah pemimpin jemaat Antiokhia. Seandainya ia menjadi pemimpin jemaat di sana, pastilah Rasul Paulus tidak akan berhasil menentang dia di dalam jemaatnya sendiri, sebagaimana yang kita baca di sini. Sebaliknya, di sini dikatakan bahwa peristiwa itu terjadi ketika ia datang berkunjung ke tempat itu. Di dalam pertemuan mereka yang lain, telah terjalin kerukunan dan permufakatan yang baik. Petrus dan rasul-rasul lainnya telah mengakui tugas pengutusan Paulus dan pengajarannya. Mereka berpisah dengan baik, layaknya di antara sahabat-sahabat yang baik. Tetapi di sini, Rasul Paulus merasa wajib untuk menentang Rasul Petrus, sebab ia salah, dan ini merupakan suatu bukti yang jelas bahwa Rasul Paulus tidak lebih rendah dari padanya. Oleh karena itu, teguran itu menunjukkan lemahnya dalih keunggulan dan keadaan tidak pernah salah dari seorang Paus, sebagai pengganti Rasul Petrus.

Di sini dapat kita amati,
    1. Kesalahan Petrus. Ketika ia datang di antara jemaat-jemaat Kristen yang berasal dari bangsa-bangsa lain, ia mengikuti kebiasaan mereka. Ia makan bersama-sama mereka, meskipun mereka tidak bersunat, sesuai dengan perintah yang diberikan secara khusus kepadanya (Kis. 10), ketika ia diperingatkan melalui suatu penglihatan dari sorga, bahwa ia tidak boleh menyebut sesuatu najis atau tidak tahir. Namun, ketika di sana datang beberapa orang Kristen Yahudi dari Yerusalem, ia merasa enggan berada bersama-sama dengan orang-orang dari bangsa-bangsa lain itu, hanya demi menyenangkan orang-orang bersunat itu dan juga karena takut menyinggung perasaan mereka. Tidak diragukan bahwa perbuatannya itu menimbulkan kesedihan dan keputusasaan jemaat-jemaat Kristen yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Kemudian ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka. Kesalahannya dalam hal ini berpengaruh buruk atas orang-orang lain, sebab orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia. Walaupun mereka sebelumnya dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik, namun sekarang, dari contoh ini, mereka merasa keberatan makan bersama-sama orang-orang Kristen yang berasal diri bangsa-bangsa lain itu, dan berpura-pura tidak dapat melakukannya karena alasan hati nurani, sebab orang-orang itu tidak bersunat. Sampai-sampai (dapatkah pembaca menduganya?) Barnabas sendiri, salah seorang utusan untuk bangsa-bangsa lain, dan seorang yang telah menjadi alat untuk menanam dan mengairi jemaat-jemaat bangsa-bangsa lain, turut terseret oleh kemunafikan mereka. Perhatikanlah di sini,
- Jika kelemahan dan ketidaktetapan hati orang-orang yang terbaik dibiarkan begitu saja, maka dengan mudah mereka menjadi goyah dalam menjalankan kewajiban mereka kepada Allah, karena mereka ingin menyenangkan hati orang dengan cara yang tidak semestinya.
- Pengaruh kuat dari contoh-contoh yang buruk, khususnya contoh-contoh yang datang dari orang-orang besar dan mulia, yang penuh hikmat dan dihormati.

    2. Teguran yang diberikan Rasul Paulus atas kesalahan Rasul Petrus. Walaupun Petrus merupakan seorang rasul yang terpandang, namun ketika Paulus memperhatikan bahwa kelakuannya dapat menimbulkan kerugian besar bagi kebenaran Injil dan kedamaian jemaat, dengan tidak takut-takut Rasul Paulus menegur kesalahannya. Rasul Paulus berpegang teguh pada asas-asasnya, ketika orang lain goyah dalam pendirian mereka. Ia adalah orang Yahudi yang terbaik di antara mereka (sebab ia adalah orang Ibrani asli), tetapi ia ingin memuliakan jabatannya sebagai rasul dari bangsa-bangsa lain. Itulah sebabnya ia tidak rela melihat mereka dibuat putus asa dan diinjak-injak. Waktu ia melihat, bahwa kelakuan mereka tidak sesuai dengan kebenaran Injil, yaitu bahwa mereka tidak menjalankan asas-asas yang diajarkan oleh Injil, yang telah mereka nyatakan untuk diakui dan dipeluk, yakni, bahwa tembok pemisah antara orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain telah dirobohkan oleh kematian Kristus, serta tata cara ibadah menurut hukum Musa sudah tidak berlaku lagi, maka ketika ia melihat bahwa pelanggaran Petrus dilakukan di depan umum, maka ia juga menegur Petrus di depan umum: ia berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua, jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi? Di dalam hal ini sebagian dari kelakuan Rasul Petrus bertentangan dengan bagian yang lain, sebab jika dia, yang adalah seorang Yahudi, kadang-kadang tidak melaksanakan hukum keupacaraan, dan hidup sesuai dengan kebiasaan bangsa-bangsa lain, maka hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya dia tidak memandang tata cara ibadah hukum Musa masih diperlukan, bahkan juga bagi orang-orang Yahudi sendiri. Itulah sebabnya sesuai dengan perbuatannya sendiri, ia tidak dapat memaksakan hukum Musa kepada orang-orang Kristen yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Karena itu, Rasul Paulus menuduhnya, atau menggambarkan dia telah melakukan pemaksaan kepada bangsa-bangsa lain untuk hidup sebagaimana orang Yahudi hidup, memang tidak dengan menggunakan paksaan dan kekerasan secara terbuka, tetapi itulah kecenderungan dari apa yang ia lakukan. Sebab akibatnya terlihat jelas di sini, bahwa orang-orang Kristen yang berasal dari bangsa-bangsa lain harus mengikuti cara hidup orang-orang Yahudi, kalau tidak, mereka tidak akan mendapat tempat di dalam persekutuan Kristen.


* Setelah menegaskan perilaku dan jabatannya, serta memberikan gambaran secukupnya bahwa ia tidak lebih rendah dari pada salah seorang dari rasul-rasul itu, dan bahkan, tidak dari Petrus sendiri, Paulus kemudian berbicara mengenai ajaran dasar yang agung dari Injil, yaitu bahwa pembenaran hanya oleh iman di dalam Kristus, dan bukan oleh perbuatan dengan melakukan hukum Taurat (walaupun ada beberapa orang yang menganggap bahwa semua yang ia katakan sampai akhir pasal ini adalah apa yang ia katakan kepada Petrus di Antiokhia). Dengan ajaran tersebut ia mengecam Petrus karena menyamakan diri dengan orang-orang Yahudi. Sebab, jika asas kepercayaannya mengatakan bahwa Injil itulah yang menjadi alat pembenaran, dan bukan hukum Musa, maka perbuatannya yang menyetujui orang-orang yang menjalankan hukum Musa serta mencampurkannya dengan iman karya pembenaran kita, merupakan suatu perbuatan yang sangat keliru. Inilah pengajaran yang diberitakan oleh Rasul Paulus di antara orang-orang Galatia, pengajaran yang masih ia taati, dan inilah pekerjaan besar yang harus ia sebutkan dan teguhkan di dalam surat kerasulan ini. Nah, berkenaan dengan hal ini Rasul Paulus ingin memberitahukan kepada kita,

1. Mengenai kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Yahudi sendiri, “Kami,” ia berkata, “menurut kelahiran adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain (bahkan kami yang telah dilahirkan dan dibesarkan dalam agama orang Yahudi, dan tidak hidup di antara bangsa-bangsa lain yang tidak murni), tahu bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman di dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Dan, jika kami menganggap perlu untuk mencari pembenaran melalui iman dalam Kristus, maka mengapa kami merintangi diri kami sendiri lagi dengan hukum Musa itu? Untuk apa kami percaya kepada Kristus? Dan, jika demikian, bukankah suatu kebodohan untuk kembali kepada hukum Taurat dan berharap dapat dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan baik atau pengaruh dari korban-korban dan segala pentahiran yang hanya bersifat upacara itu? Dan jika bagi kami sendiri yang menurut kelahiran adalah orang Yahudi menjadi bersalah bila kembali kepada hukum Taurat serta mengharapkan pembenaran melalui hukum itu, bukankah akan lebih besar kesalahannya lagi jika kami mengharuskan bangsa-bangsa lain melakukan hal yang sama, terlebih lagi mereka tidak pernah tunduk pada hukum itu, sebab tidak seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat?” Untuk memberikan bobot yang lebih besar atas pernyataan ini ia menambahkan (ay. 17), “Tetapi jika kami sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah orang-orang berdosa, apakah hal ini berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa?” Jika, sementara kami mencari pembenaran hanya oleh Kristus saja dan mengajarkan kepada orang lain untuk berlaku seperti itu, dan pada saat yang sama kami juga harus menjalankan hukum Musa, dan kalau tidak maka kami akan dilihat setuju dengan dosa atau memperturutkan dosa atau dianggap sebagai pendosa dari bangsa-bangsa lain dan tidak layak diajak bersekutu, maka itu kan berarti Kristus adalah pelayan dosa? Tidakkah akan dianggap seperti itu, jika Ia mengajak kami untuk menerima pengajaran yang memberikan kebebasan untuk berbuat dosa, atau yang olehnya kami menjadi sangat jauh dari dibenarkan, sehingga kami tetap menjadi orang-orang berdosa yang tidak suci dan tidak layak untuk diterima dalam persekutuan?” Inilah, ia mengisyaratkan, yang akan menjadi akibatnya bila orang kembali kepada hukum Taurat, tetapi ia menolak itu dengan rasa jijik: “Sekali-kali tidak,” katanya, “kalau kami sampai berpikir seperti itu tentang Kristus atau pengajaran-Nya, bahwa Ia akan membawa kami ke dalam jalan pembenaran yang tidak sempurna dan tidak berguna, serta membiarkan orang-orang yang memeluknya tetap dalam keadaan tidak dibenarkan, atau menawarkan hati orang berdosa.” Hal ini akan sangat memalukan Kristus, dan akan sangat membahayakan mereka juga. “Karena,” katanya, “jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, yakni, jikalau aku (atau orang lain), yang telah mengajar bahwa ketaatan kepada hukum Musa sudah tidak diperlukan lagi untuk memperoleh pembenaran, dan kemudian, dengan perkataan atau perbuatan, mengajarkan atau mengisyaratkan bahwa hal itu masih diperlukan, maka dengan begitu aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat. Dengan berlaku demikian, maka walaupun imanku ada di dalam Kristus, aku mengaku diri sendiri masih tetap seorang pendosa yang tidak suci dan tetap berada di bawah kesalahan dosa. Atau juga aku akan dituduh menipu dan tidak bertindak selaras dengan diriku sendiri.” Dengan demikian, Rasul Paulus menegaskan ajaran agung mengenai pembenaran oleh iman tanpa perlu menjalankan hukum Taurat dengan memakai asas-asas dan cara hidup orang-orang Kristen Yahudi sendiri. Ia juga menjelaskan akibat-akibat yang akan timbul jika mereka menyimpang dari ajaran itu, ketika ia melihat Petrus dan orang-orang Yahudi lainnya melakukan kesalahan besar dengan menolak bersekutu dengan orang-orang Kristen yang berasal dari bangsa-bangsa lain serta berusaha membawa mereka ke bawah perhambaan hukum Musa.

2. Rasul Paulus memberi tahu kita bagaimana sikap dan pengamalan imannya.
- Bahwa ia telah mati terhadap hukum Taurat. Apa pun pendapat orang mengenai hukum itu, baginya ia telah mati terhadap hukum itu. Ia tahu bahwa hukum akhlak itu telah menyatakan suatu kutukan terhadap semua orang yang tidak mengikuti dan melakukan semua yang tertulis di dalamnya. Itulah sebabnya ia mati terhadap hukum itu, termasuk terhadap semua pengharapan dan keselamatan dengan melakukan cara itu. Mengenai hukum keupacaraan itu, ia juga tahu bahwa hukum itu telah menjadi masa lalu dan digantikan oleh kedatangan Kristus, dan karena itu, hakikat yang sebenarnya telah datang, dan ia tidak berurusan lagi dengan bayangan. Dengan demikian ia mati untuk hukum Taurat, oleh hukum Taurat itu sendiri. Pada akhirnya hukum itu berakhir dengan sendirinya. Dengan mempertimbangkan hukum itu sendiri, ia melihat bahwa pembenaran tidak diharapkan datang dari melakukan hukum itu (sebab tidak seorang pun dapat mematuhinya secara sempurna), dan bahwa sekarang sudah tidak perlu lagi melakukan pengorbanan dan pentahiran sesuai hukum itu, sebab semua itu telah dihapuskan di dalam Kristus, dan waktu penghapusan itu telah terjadi ketika Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban bagi kita. Itulah sebabnya, semakin cermat ia menelitinya, ia menjadi semakin yakin bahwa tidak ada alasan untuk memelihara hal yang dituntut oleh orang-orang Yahudi itu. Namun, walaupun ia telah mati untuk hukum Taurat itu, ia tidak memandang dirinya hidup dengan hukum itu. Ia telah meninggalkan semua pengharapan untuk dibenarkan dengan melakukan hukum itu, dan tidak mau lagi berada di bawah perhambaannya. Namun, jauh dari pemikirannya untuk meninggalkan kewajibannya kepada Allah. Sebaliknya, ia mati untuk hukum Taurat, supaya ia dapat hidup untuk Allah. Ajaran Injil yang ia pegang, bukannya memperlemah kewajiban tugas untuk ia kerjakan, melainkan malah lebih menguatkan dan meneguhkan tugas itu. Itulah sebabnya, walaupun ia telah mati untuk hukum Taurat, namun itu hanyalah supaya ia dapat menjalani hidup baru dan hidup yang lebih baik untuk Allah (seperti Rm. 7:4, 6). Hidup yang demikian akan lebih sesuai dan berkenan kepada Allah dibandingkan dengan kepatuhannya terhadap hukum Musa. Ini adalah hidup dengan iman di dalam Kristus, dan di bawah pengaruhnya, hidup dalam kekudusan dan kebenaran terhadap Allah. Sesuai dengan itu Rasul Paulus memberi tahu kita,

- Bahwa, begitu mati untuk hukum Taurat, ia hidup untuk Allah melalui Yesus Kristus (ay. 20), Aku telah disalibkan dengan Kristus, dan seterusnya. Dan di sini, secara pribadi ia memberikan kepada kita suatu gambaran yang luar biasa mengenai rahasia kehidupan seorang percaya.
            [1] Dia telah disalibkan, namun ia hidup. Manusia lama itu telah turut disalibkan (Rm. 6:6), namun manusia baru itu hidup. Ia mati terhadap dunia ini, dan mati terhadap hukum Taurat, namun hidup untuk Allah dan Kristus. Dosa dimatikan dan kasih karunia dihidupkan.
            [2] Dia hidup, tetapi bukan lagi ia sendiri yang hidup. Pernyataan ini aneh, Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup. Ia hidup dalam menjalankan kasih karunia. Ia memiliki penghiburan dan kemenangan kasih karunia, namun kasih karunia itu tidak datang dari dirinya sendiri, tetapi dari pihak lain. Orang-orang percaya memandang diri mereka hidup dalam keadaan ketergantungan.
            [3] Dia telah disalibkan dengan Kristus, namun, Kristus hidup di dalam dirinya. Keadaan seperti ini berasal dari persekutuan rohani dengan Kristus, yang olehnya ia mengambil bagian dalam kematian Kristus, dan berdasarkan itu ia mati terhadap dosa. Namun, ia mengambil bagian dalam kehidupan Kristus, yang olehnya ia dapat hidup bagi Allah.
            [4] Dia hidup di dalam daging, namun, ia hidup oleh iman. Menurut tampilan lahiriah ia hidup seperti layaknya orang-orang lain, kehidupan sehari-harinya membutuhkan dukungan seperti orang-orang lain, namun ia memiliki asas-asas yang lebih tinggi dan lebih mulia yang mendukung dan menggerakkan hidupnya, yaitu iman di dalam Kristus, dan secara khusus ia menyaksikan keajaiban kasih-Nya dalam menyerahkan diri-Nya untuk dirinya. Selanjutnya pernyataannya adalah, walaupun ia hidup di dalam daging, ia tidak hidup menurut daging. Perhatikanlah, orang-orang yang memiliki iman yang sejati akan hidup oleh iman itu.

Dan hal besar yang diteguhkan oleh iman itu adalah kasih Kristus kepada kita serta penyerahan diri-Nya sendiri untuk kita. Bukti terbesar bahwa Kristus mengasihi kita adalah penyerahan diri-Nya untuk kita. Inilah yang harus menjadi perhatian utama kita untuk menggabungkannya dengan iman itu, supaya kita dapat hidup bagi Dia. Akhirnya, Rasul Paulus mengakhiri pembicaraan ini dengan memberitahukan kepada kita bahwa dengan ajaran pembenaran oleh iman di dalam Kristus, tanpa perlu melakukan hukum Taurat (yang ia tegaskan dan ditentang oleh orang-orang lain), ia dapat menghindari dua kesulitan besar yang dihadapi oleh pendapat yang bertentangan dengan ajaran tersebut:
                1. Bahwa ia tidak menolak kasih karunia Allah, seperti yang dilakukan oleh ajaran pembenaran melalui perbuatan hukum Taurat. Sebab ia menegaskan (Rm. 11:6), jika hal itu terjadi karena perbuatan, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

                2. Bahwa ia tidak menyia-nyiakan kematian Kristus. Sebaliknya, sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka kesimpulannya adalah sia-sialah kematian Kristus. Sebab jika kita mencari keselamatan dengan menjalankan hukum Taurat, maka kita membuat kematian Kristus menjadi tidak ada gunanya. Sebab untuk apa Ia ditentukan harus mati, jika kita dapat diselamatkan tanpa kematian-Nya?





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 6 November 2023 - Dibenarkan Karena Iman - Galatia 2:16a

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 4 November 2023 - Penyambung Lidah Allah - Amos 3:8




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,