gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 1053 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2023
Minggu, 15 Oktober 2023

Khotbah GMIM Minggu, 15 Oktober 2023 - KOMITMEN PEREMPUAN ASING MENGIKUTI ALLAH - Rut 1:1-22
Elimelekh dan Naomi; Kematian Elimelekh dan Anak-anaknya, Naomi Pulang ke Kanaan; Naomi dan Menantunya; Kesetiaan Rut kepada Naomi (1:6-18), Penyambutan Naomi di Betlehem (1:19-22)

Rut 1:1-22
Rut dan Naomi
1:1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. 1:2 Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana. 1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. 1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. 1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. 1:6 Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. 1:7 Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda, 1:8 berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; 1:9 kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras 1:10 dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu." 1:11 Tetapi Naomi berkata: "Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti? 1:12 Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, 1:13 masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?" 1:14 Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. 1:15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu." 1:16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 1:17 di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" 1:18 Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya. 1:19 Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: "Naomikah itu?" 1:20 Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. 1:21 Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku." 1:22 Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.

Penjelasan:
* Elimelekh dan Naomi; Kematian Elimelekh dan Anak-anaknya (1:1-5)

Kalimat pertama menyatakan penanggalan kisah ini. Peristiwa tersebut terjadi pada zaman para hakim memerintah (ay.1), bukan pada zaman kekacauan ketika tidak ada raja di antara orang Israel. Tidak diceritakan pada masa pemerintahan hakim yang mana peristiwa ini terjadi, dan perkiraan para ahli juga sangat tidak menentu. Namun, dapat dipastikan pada permulaan zaman para hakim, karena Boas yang menikahi Rut merupakan anak Rahab, wanita yang menerima para pengintai pada masa Yosua. Sebagian orang menduga pada zaman Ehud, sebagian lain memperkirakan pada zaman Debora. Cendekiawan Uskup Patrick cenderung beranggapan bahwa kisah Rut terjadi pada zaman Gideon, sebab hanya pada masa Gideonlah diceritakan adanya kelaparan karena serangan orang Midian (Hak. 6:3-4). Selagi para hakim memerintah di kota yang satu dan lainnya, Allah sang Penyelenggara memperhatikan Betlehem secara khusus, dan mata-Nya tertuju kepada seorang Raja, yakni Mesias sendiri, yang harus berasal dari keturunan dua orang bukan Yahudi, yaitu Rahab dan Rut. 

Dalam perikop di atas diceritakan tentang,
I. Kelaparan di dalam negeri, di tanah Kanaan, tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Ini merupakan salah satu bentuk penghakiman yang Allah telah ancamkan kepada mereka atas dosa-dosa mereka (Im. 26:19-20). Ada banyak anak panah dalam tabung-Nya. Pada masa hakim-hakim, orang Israel ditindas oleh musuh-musuhnya. Ketika mereka tidak juga berubah meskipun sudah dihukum, Allah pun mendatangkan kelaparan ini, sebab ketika Allah menghakimi, Ia akan menang. Ketika tanah itu ada kedamaian, hasilnya tidak banyak. Bahkan di Betlehem pun, yang artinya rumah roti, ada kekurangan. Tanah yang subur menjadi padang asin, untuk memperbaiki dan mengendalikan penghuninya yang hidup bermewah-mewah dan sembrono.

II. Cerita mengenai sebuah keluarga yang terimpit di tengah kelaparan. Itulah keluarga Elimelekh. Arti namanya ialah Allahku raja, sesuai dengan keadaan Israel sewaktu para hakim memerintah, sebab Tuhan adalah Raja mereka. Hal ini menenteramkan dia dan keluarganya dalam kesengsaraan mereka, yakni bahwa mereka memiliki Allah dan Ia memerintah selamanya. Istrinya adalah Naomi, artinya “yang manis” atau “menyenangkan.” Akan tetapi, anak-anak Elimelekh bernama Mahlon dan Kilyon, penyakit dan kemusnahan. Mungkin karena mereka adalah anak-anak lemah yang kemungkinan tidak berumur panjang. Begitulah hasil dari hal-hal yang menyenangkan, pasti menjadi lesu dan lemah, beranjak pudar dan mati.

III. Kepindahan keluarga ini dari Betlehem ke negeri Moab di seberang sungai Yordan untuk bertahan hidup, karena adanya bahaya kelaparan (ay. 1-2). Tampaknya ada kelimpahan di negeri Moab sementara tanah Israel sedang kekurangan pangan. Anugerah umum penyelenggaraan Allah sering kali dicurahkan jauh lebih banyak kepada yang tidak mengenal Allah daripada kepada yang mengenal dan menyembah Dia. Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, sementara Israel dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain (Yer. 48:11), bukan karena Allah lebih mengasihi Moab, melainkan karena bagiannya adalah dalam hidup ini. Ke sanalah Elimelekh pergi, bukan untuk menetap seterusnya, melainkan untuk singgah sementara selama masa kekurangan. Seperti Abraham dahulu pergi ke Mesir, dan Ishak ke tanah Kanaan, pada saat mereka juga mengalami hal serupa. 

Lihatlah di sini,
1. Kepedulian Elimelekh untuk menafkahi keluarganya dengan membawa istri dan anak-anaknya memang patut dipuji. Jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, orang itu murtad (1Tim. 5:8). Dalam kesukaran, Elimelekh tidak meninggalkan rumahnya dan pergi mencari untung sendiri, lalu membiarkan istri dan anak-anaknya berjuang untuk penghidupan mereka. Akan tetapi, sebagai suami yang baik dan bapa yang penuh kasih, Elimelekh membawa keluarganya serta, tidak seperti burung unta (Ayb. 39:16). 

Namun,
2. Kepindahannya ke negeri Moab pada masa kelaparan ini tidak dapat dibenarkan begitu saja. Abraham dan Ishak dahulu hanya pendatang di Kanaan, sehingga apabila mereka pindah, hal itu dapat dimaklumi. Namun, keturunan Israel sekarang telah menetap. Tidak seharusnya mereka pindah ke wilayah orang kafir. Mengapa Elimelekh tidak pergi kepada sesamanya orang Israel saja? Bila ia menjadi kepala rumah tangga yang buruk dan kehilangan warisan leluhurnya, sehingga harus menjual atau menggadaikan tanahnya (seperti yang tampak dalam 4:3-4), dan menyebabkan dia berada dalam keadaan lebih miskin daripada orang lain, maka menurut hukum Allah, saudara-saudaranya wajib menebus dia (Im. 25:35). Namun, tidak demikian halnya dengan Elimelekh. Ia pergi dengan tangan penuh (ay. 21). Bagi orang yang menetap di rumah, kelaparan itu tampaknya tidak terlalu parah, masih cukup untuk bertahan hidup. Lagi pula tanggung jawab Elimelekh tidak besar, hanya dua orang anak. Namun, jika ia tidak dapat mencukupkan diri dengan sedikit nafkah seperti saudara-saudaranya, dan pada hari-hari kelaparan tidak akan menjadi kenyang bila tidak memiliki makanan berlimpah seperti sebelumnya, bila ia tidak mampu berharap bahwa tahun kelimpahan akan datang lagi pada waktunya, atau tidak bisa bersabar menantikan saat tersebut, maka itu kesalahannya. Dengan demikian Elimelekh tidak menghormati Allah dan tanah yang baik yang telah diberikan-Nya kepada Israel. Ia melemahkan semangat saudara-saudaranya, padahal seharusnya Elimelekh menjalani nasibnya bersama-sama dengan mereka. Ia memberi contoh buruk bagi orang lain. Kalau semua orang pergi seperti dia, Kanaan akan menjadi kosong. Perhatikan, ini menunjukkan sikap yang tidak puas diri, tidak percaya, dan tidak teguh, jika kita merasa jemu akan tempat yang telah ditetapkan Allah bagi kita, dan cepat-cepat meninggalkannya setiap kali datang kesulitan atau ketidaknyamanan. Sungguh bodoh bila kita berpikir untuk lari dari salib yang telah diberikan kepada kita untuk dipikul. Sungguh berhikmat jika kita mengusahakan yang terbaik dengan salib yang ada pada kita, sebab berpindah tempat jarang sekali menyelesaikan masalah. Kalau pun Elimelekh mau pindah, mengapa harus ke Moab? Andai saja ia memeriksa baik-baik, mungkin saja ia akan menemukan kelimpahan di antara sebagian suku Israel, misalnya di seberang sungai Yordan yang berbatasan dengan Moab. Seandainya ia memiliki kerinduan akan Allah dan penyembahan kepada-Nya, serta rasa sayang terhadap saudara-saudaranya orang Israel, tentu tidak akan semudah itu Elimelekh memutuskan untuk pergi dan menumpang di antara orang Moab.

IV. Pernikahan kedua putra Elimelekh dengan perempuan Moab setelah kematiannya (ay. 4). 
Semua orang sependapat bahwa itu merupakan tindakan yang keliru. Alkitab terjemahan bahasa Aram menulis, “Mereka melanggar ketetapan firman Tuhan dengan mengambil istri dari negeri asing.” Kalau saja Mahlon dan Kilyon mau tetap melajang hingga kembali ke tanah Israel yang tidak begitu jauh letaknya, mereka akan mendapat istri di situ. Elimelekh tidak mengira bahwa dalam persinggahannya di Moab, anak-anaknya akan berkerabat dengan orang Moab lewat perkawinan. Orang yang membawa anak-anak muda ke dalam pengaruh buruk serta menjauhkan mereka dari aturan umum, sekalipun orang itu menyangka anak-anak itu sudah terdidik dengan baik dan terlindung dari pencobaan, sesungguhnya ia tidak tahu apa yang diperbuatnya maupun bagaimana kesudahannya. Tidak tampak bahwa kedua wanita yang mereka nikahi itu sudah memeluk agama Yahudi, sebab dikatakan bahwa Orpa kembali kepada para allahnya (ay. 15). Ilah-ilah Moab tetaplah miliknya. Ada tradisi Yahudi yang tidak berdasar menyebut bahwa Rut merupakan putri Eglon, raja Moab. Catatan ini ditambahkan dalam parafrasa Alkitab terjemahan bahasa Aram. Akan tetapi, tradisi ini, beserta tradisi lain yang juga disisipkannya, tidak saling mendukung bahwa Boas yang menikahi Rut adalah Ebzan, yang menjadi hakim atas Israel 200 tahun setelah kematian Eglon (Hak. 12).

V. Kematian Elimelekh dan kedua putranya, yang menyebabkan kepiluan Naomi. 
Suaminya meninggal (ay. 3), begitu juga dengan kedua anaknya (ay. 5) tidak lama setelah pernikahan mereka. Tafsiran Alkitab dalam terjemahan bahasa Aram menulis, “Waktu mereka dipersingkat, sebab mereka melanggar hukum Tuhan dengan memperistri orang asing.” 

Perhatikanlah bahwa,
1. Ke mana pun kita pergi, kita tidak dapat lari dari kematian, yang panah mautnya berdesing di segala tempat.
2. Kita tidak akan memperoleh kesejahteraan jika meninggalkan kewajiban ibadah kita. Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya dengan suatu jalan pintas, ia akan kehilangan nyawanya.
3. Ketika kematian menimpa suatu keluarga, sering kali ia akan menciptakan keretakan demi keretakan. Satu orang diambil untuk mempersiapkan anggota keluarga lain yang akan segera menyusul. Satu orang diambil, dan kesedihan itu tidak juga membaik. Allah pun mengirim kesusahan lain yang serupa. Ketika Naomi kehilangan suaminya, ia menaruh begitu banyak harapan dan kepercayaan pada anak-anaknya. Di bawah naungan penghiburan orang-orang yang masih hidup ini, ia mengira dirinya akan dapat tetap bertahan di tengah bangsa kafir. Ia sangat bersukacita karena pohon jarak itu. Namun, lihatlah, anak-anaknya segera mati. Di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, lisut dan layu sebelum petang, masuk ke alam kubur tidak lama setelah menikah, tanpa meninggalkan anak. Betapa tidak pasti dan sementara segala kenikmatan kita di dunia ini. Karena itu berhikmatlah kita untuk memastikan mana penghiburan yang tetap, yang tidak dapat direnggut dari kita oleh kematian. Betapa kesepiannya keadaan Naomi yang malang, jiwanya berduka, tatkala perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya! Ketika kedua hal itu menimpanya dalam sekejap mata, kepunahan dan kejandaan, menimpa dia dengan sepenuhnya, siapakah yang akan menghibur dia? (Yes. 47:9; 51:19). Hanya Allah sendirilah yang memiliki segala yang diperlukan untuk menghibur orang yang terpuruk seperti ini.

* Naomi Pulang ke Kanaan; Naomi dan Menantunya; Kesetiaan Rut kepada Naomi (1:6-18)

Pada perikop ini, tampaklah
I. Kecintaan Naomi kepada negeri Israel (ay. 6). Meskipun ia tidak dapat tetap tinggal di dalamnya selama masa kelaparan, ia tidak akan tetap tinggal di luar Israel ketika kelaparan itu sudah berhenti. Sekalipun Moab telah menjadi naungannya serta mencukupi kebutuhannya pada masa kekurangan, ia tidak bermaksud menjadikannya tempat peristirahatan selamanya. Tidak ada tempat lain yang akan menjadi perhentiannya selain tanah kudus, tempat Kemah Suci Allah berada, yang tentangnya Allah berfirman, “Inilah tempat perhentianku selama-lamanya.” 

Cermatilah bahwa,
1. Pada akhirnya, Allah kembali berbelaskasihan kepada umat-Nya. Meskipun Ia berbantah untuk waktu yang lama, tidak untuk seterusnya Ia bersikap keras. Sama seperti penghakiman dalam bentuk penindasan yang menyebabkan umat Israel mengerang pada masa hakim-hakim akhirnya berlalu ketika Allah membangkitkan seorang penyelamat, demikianlah penghakiman dalam bentuk kelaparan ini selesai juga. Pada akhirnya, Allah dengan penuh kemurahan memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. Anugerah Allah berlimpah, dan belas kasihan-Nya itulah yang mempertahankan jiwa kami di dalam hidup, yakni dengan memberikan makanan, bahan pokok penghidupan. Memang, kemurahan ini lebih terasa setelah masa kelaparan. Akan tetapi, jika selama ini kita telah senantiasa menikmatinya tanpa pernah merasakan kelaparan, kita tidak boleh memandang rendah berkat ini.
2. Dalam rasa tanggung jawab kepada bangsanya, Naomi pun pulang. Sudah sering ia bertanya-tanya tentang keadaan mereka, ada panen apa, dan bagaimana kegiatan perniagaan, tetapi kabar yang datang selalu mengecewakan. Akan tetapi, seperti bujang Elia yang tujuh kali memeriksa tanda akan datangnya hujan dan hasilnya nihil, pada akhirnya ia melihat segumpal awan kecil sebesar telapak tangan, yang dalam waktu singkat menyebar menutupi langit. Begitulah Naomi akhirnya mendengar kabar baik tentang kelimpahan di Betlehem, dan tidak ada lagi yang ia pikirkan selain kembali ke sana. Sanak keluarganya yang baru di Moab tidak dapat membuat dia lupa akan hubungannya dengan tanah Israel. Camkanlah, meski untuk alasan tertentu kita harus tinggal di tempat yang buruk, tetapi ketika alasan tersebut sudah berlalu, kita tidak boleh terus tinggal di sana. Dipisahkan secara paksa dari ketetapan-ketetapan Allah dan dipersatukan secara paksa dengan orang-orang fasik merupakan kesengsaraan besar. 

Namun, ketika paksaan tersebut berhenti, dan kita memilih untuk tetap ada dalam keadaan itu, maka kita berbuat dosa besar. Tampaknya, Naomi mulai berpikir untuk pulang tidak lama setelah kematian anak-anaknya, karena
(1) Ia memandang kesengsaraan tersebut sebagai hukuman atas keluarganya karena berlama-lama tinggal di Moab. Mendengar ini sebagai suara pukulan tongkat dan suara Dia yang menetapkannya, ia pun taat dan pulang. Kalau saja ia kembali sesudah kematian sang suami, mungkin kedua anaknya akan selamat. Akan tetapi, ketika Allah menghakimi, Ia akan menang. Jika satu kesusahan tidak menyadarkan kita akan dosa dan tanggung jawab, maka Allah akan mendatangkan kesusahan lain. Sewaktu kematian menimpa sebuah keluarga, hal itu seharusnya dipakai untuk memperbaiki apa yang keliru dalam keluarga tersebut. Ketika sanak kerabat diambil dari kita, maka kita harus bertanya apakah dalam satu dan lain hal kita telah lalai dari tanggung jawab, lalu kembali melakukannya. Ketika Allah menyebabkan seorang anak mati, Ia mengingatkan kesalahan kita, 1 Raja-raja 17:18. Tujuan Allah merintangi jalan kita dengan duri ialah supaya kita berkata, “Kami akan pulang kembali kepada suami kami yang pertama,” seperti Naomi kembali ke negerinya (Hos. 2:6).
(2) Negeri Moab kini menjadi tempat yang menyedihkan bagi Naomi. Tidak menyenangkan baginya untuk menghirup udara di tempat kematian suami dan kedua anaknya, ataupun menginjak tanah tempat mereka terbaring dalam kubur tanpa dapat dilihatnya, tetapi masih ada dalam benaknya. Jadi, dia akan kembali ke Kanaan. Demikianlah Allah mengambil penghiburan dan pelipur lara di tempat persinggahan kita yang sementara ini, karena kita terlalu berpaut padanya, supaya kita lebih mengingat akan rumah kita di dunia yang lain. Dengan begitu, dengan iman dan pengharapan, kita dapat bergegas menuju ke sana. Bumi memahitkan kita, agar sorga dirindukan.

II. Kasih sayang para menantu kepada Naomi, terutama salah satu dari mereka, dan balasan kemurahan hatinya yang melimpah kepada mereka yang begitu mengasihi dia.

1. Rut dan Orpa begitu baik mau menemani Naomi dalam perjalanannya kembali ke Yehuda, setidaknya sampai setengah jalan. Kedua menantunya itu tidak bermaksud membujuk dia untuk tetap tinggal di Moab. Malah, jika ia memang telah memutuskan untuk kembali ke tanah Yehuda, mereka akan melepasnya pergi dengan segala keramahtamahan dan rasa hormat yang dapat mereka berikan. Dan inilah salah satu tindakan mereka, keduanya menyertainya dalam perjalanan, setidaknya hingga batas terluar negeri mereka. Keduanya membawakan barang-barangnya sepanjang perjalanan yang mereka tempuh, sebab tidak tampak adanya hamba yang melayani dia (ay. 7). Melalui hal ini, kita melihat dua hal. Pertama, Naomi, sebagai orang Israel, telah berbuat begitu baik dan mengasihi kedua menantunya itu hingga ia mendapatkan kasih sayang mereka. Dalam hal ini, ia merupakan teladan bagi semua ibu mertua. Kedua, Orpa dan Rut sangat tersentuh dengan kebaikan hati Naomi, sehingga rela membalas budinya sampai sejauh itu. Hal tersebut menandakan bahwa Naomi dan menantunya itu selama ini tinggal bersama dengan rukun meski orang yang menjadikan mereka berkerabat telah mati. Walaupun Orpa dan Rut tetap mengasihi para allah Moab (ay. 15), sementara Naomi tetap setia kepada Allah Israel, hal tersebut tidak menghalangi kedua belah pihak untuk saling menunjukkan kasih, kebajikan, dan segala hal baik yang dibutuhkan dalam suatu hubungan. Sering kali ibu mertua dan menantu perempuan tinggal dalam percekcokan (Mat. 10:35), karena itu, makin terpujilah kasih sayang antara Naomi dan kedua menantunya itu. Kiranya semua orang yang ingin mempertahankan hubungan berusaha memperoleh pujian yang seperti ini.


2. Ketika mereka telah berjalan sedikit jauh, dengan penuh kasih sayang yang amat sangat, Naomi mendorong mereka untuk kembali (ay. 8-9). Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya. Sungguh merupakan kasih karunia bahwa orangtua mereka masih hidup, tatkala mereka berdua terputus secara menyedihkan dari pemeliharaan keluarga suami. Mereka masih punya rumah orangtua untuk pulang, di situ mereka akan diterima dan tinggal tenang, tidak tercampakkan ke dunia luar. Naomi menasihatkan bahwa ibu kandung mereka sendiri tentu lebih cocok bagi mereka daripada seorang ibu mertua. Apalagi, ibu kandung mereka memiliki rumah, sementara sang mertua sendiri tidak pasti punya tempat untuk membaringkan kepalanya sendiri. 

Ia pun menyuruh mereka pergi,
(1) Dengan sanjungan. Ini merupakan hutang yang harus dibayar kepada orang yang telah bersikap baik dalam hubungan apa pun. Mereka pantas mendapat pujian: kamu telah menunjukkan kasih kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku. Artinya, “Kalian telah menjadi istri yang baik bagi suamimu yang sudah mati, dan anak yang baik bagiku. Kalian tidak melalaikan tanggung jawab dalam kedua hubungan itu.” Perhatikanlah, ketika kita berpisah dengan keluarga, baik karena kematian maupun hal lain, alangkah menenangkan hati bila ada kesaksian, baik dari pihak keluarga maupun dari hati nurani kita sendiri, bahwa semasa hidup bersama, kita telah berusaha keras memenuhi tanggung jawab satu sama lain. Hal ini akan membantu menghalau kesedihan tatkala berpisah. Selagi masih bersama, kita harus berusaha keras berperilaku sedemikian rupa supaya tidak mengakibatkan penyesalan ketika berpisah.
(2) Dengan doa. Sudah sepatutnya perpisahan dengan saudara-saudara kita dilakukan dalam doa. Naomi menyuruh kedua menantunya pulang dengan mengucap berkat atas mereka. Berkat dari seorang ibu mertua tidak boleh dianggap remeh. Dalam berkat ini, dua kali Naomi menyebut nama Jehovah, Allah Israel, satu-satunya Allah sejati. Dengan demikian, Naomi dapat mengarahkan kedua putrinya itu untuk berpaling kepada Dia, satu-satunya sumber segala yang baik. Secara umum, Naomi berdoa supaya Allah membalaskan segala kebaikan yang telah mereka tunjukkan kepadanya dan anak-anaknya. Dengan iman, kita boleh berharap dan berdoa agar Allah berbuat baik kepada orang-orang yang juga telah berbuat baik kepada kerabat mereka. Siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. Secara khusus, Naomi berdoa agar menantunya menikah lagi serta berbahagia. 

Kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya. Perhatikan bahwa,
[1] Menurut pengarahan Rasul Paulus, sangatlah pantas bagi para wanita muda, yang dimaksudkannya di sini adalah janda muda, untuk kawin lagi, beroleh anak, dan memimpin rumah tangganya (1Tim. 5:14). Sungguh malang bila wanita-wanita yang telah berbakti menjadi istri yang baik tidak diberkati dengan mendapat suami yang baik sekali lagi. Apalagi jika mereka belum mempunyai anak, seperti Rut dan Orpa.
[2] Menikah berarti hidup dalam perhentian, dalam peristirahatan, seperti yang dapat diberikan dalam dunia ini. Yaitu, perhentian di rumah seorang suami, lebih daripada yang dapat diharapkan di rumah seorang ibu atau mertua.
[3] Perhentian ini merupakan karunia Allah. Ketika mengalami kecukupan dan kepuasan dalam kehidupan lahiriah, di situ Allah harus diakui. Ada orang-orang yang ditekan oleh kuk yang tidak sepadan, sehingga tidak mendapat peristirahatan di rumah suaminya sekalipun. Kesengsaraan seperti itu seharusnya membuat orang yang hubungannya rukun lebih beryukur. Akan tetapi, Tuhanlah tempat perhentian jiwa, tidak ada perhentian sempurna di seberang sorga sini.
(3) Naomi menyuruh kedua menantunya pulang dengan kasih sayang yang besar. Diciumnyalah mereka, berharap andai saja ada yang lebih baik untuk diberikan, namun perak dan emas tidak ia punya. Tetapi, ciuman perpisahan ini akan menjadi meterai persahabatan sejati, karena seumur hidupnya ia akan mengingat kenangan manis ini, meskipun tidak pernah melihat mereka lagi. Jika suatu hubungan harus terpisah, maka hendaklah mereka berpisah dalam kasih, supaya mereka bisa berjumpa kembali di dunia kasih abadi (bila mereka tidak bertemu lagi di dunia ini).


3. Dua janda muda itu tidak dapat membayangkan berpisah dengan ibu mertua mereka yang baik hati itu. Begitu banyak perilaku hidup yang indah dari wanita Israel yang saleh itu telah mempengaruhi mereka. Bukan saja menangis dengan suara keras karena enggan berpisah, mereka juga mengucapkan ketetapan hati untuk tetap setia kepadanya (ay. 10). “Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu, dan mempertaruhkan nasib kami bersamamu.” Ini merupakan contoh langka kasih sayang kepada seorang ibu mertua, juga suatu bukti bahwa karena Naomi, mereka memiliki pandangan yang baik tentang orang Israel. Bahkan Orpa, yang belakangan kembali kepada para allahnya, di sini pun tampak bertekad ikut bersama Naomi. Acara perpisahan yang sendu dan air mata yang tertumpah mewarnai kesempatan ini. Namun, Opra tidak bertahan lama. Keinginan yang kuat tanpa disertai dengan pertimbangan yang mantap, biasanya menghasilkan keputusan yang mudah goyah.


4. Naomi menguatkan hati dan mencegah mereka pergi bersamanya (ay. 11-13),
(1) Naomi bersikeras mengutarakan keadaannya yang menderita. Andai saja ia punya anak-anak lelaki atau kerabat dekat di Kanaan yang dapat diharapkan untuk menikahi kedua janda itu, untuk membangkitkan keturunan bagi suami mereka yang sudah mati, serta menebus tanah keluarganya yang telah digadaikan, mungkin hal itu bisa menjadi penyemangat bagi mereka untuk mengharapkan tempat tinggal yang nyaman di Betlehem. Akan tetapi, tidak ada anak laki-laki, dan Naomi juga tidak ingat ada kerabat dekat yang dapat menebusnya. Oleh sebab itu, ia mengemukakan alasan bahwa dirinya tidak akan mungkin lagi melahirkan anak laki-laki bagi kedua menantunya. Ia sudah terlalu tua untuk bersuami. Bukan lagi masanya untuk memikirkan pernikahan dan kembali memulai kehidupan, sebaliknya, sudah saatnya bagi dirinya untuk memikirkan kematian dan meninggalkan dunia ini. Kalaupun ia masih bersuami, ia tidak bisa berharap untuk dapat melahirkan anak lagi. Atau, kalaupun memiliki anak, ia tidak bisa membayangkan kedua janda muda itu mau tetap tidak menikah untuk menunggu hingga anak-anaknya lahir dan cukup dewasa untuk menikah. Selain itu, masih ada lagi. Naomi bukan hanya tidak mampu mengajukkan dirinya untuk menikah lagi, tetapi juga tidak tahu bagaimana menyokong mereka. Keluhan terberat dari kemalangan yang dialami Naomi ialah bahwa ia tidak mampu berbuat apa-apa bagi kedua menantunya, sekalipun ia ingin melakukannya. Aku lebih berduka karena kamu (ay. 13, KJV), daripada karena diriku sendiri, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku. Cermatilah bahwa,
[1] Ia merasa sasaran penderitaan itu tertuju padanya. Perseteruan Allah terutama diarahkan kepada dirinya. “Tangan TUHAN teracung terhadap aku. Akulah yang berdosa. Akulah yang sedang ditentang Allah. Akulah yang dilawan-Nya, dan aku akan menanggungnya sendiri.” Sebaiknya ini pula yang menjadi sikap kita tatkala berada dalam penderitaan. Meski banyak orang lain mengalami persoalan yang sama, kita tetap harus mendengar suara pukulan tongkat ditujukan hanya kepada kita, bukannya menimpakan teguran itu kepada orang lain. Kitalah yang harus menanggungnya.
[2] Yang paling diratapi Naomi adalah hukumannya yang harus turut dirasakan oleh Rut dan Orpa. Ia yang berdosa, tetapi kedua menantunya yang menderita. Aku lebih berduka karena kamu. Jiwa yang mulia dan murah hati lebih bisa menanggung beban untuk diri sendiri daripada melihat orang lain menderita, atau orang lain yang ikut terseret ke dalam persoalannya. Lebih mudah bagi mengalami kekurangan daripada melihat menantunya merana. “Oleh karena itu, pulanglah, anak-anakku, sebab, celaka, aku tidak mampu berbuat apa-apa bagi kalian!” Akan tetapi,
(2) Apakah Naomi melakukan hal yang benar dengan mencegah mereka mengikuti dia? Padahal, jika ia mengajak kedua perempuan itu bersamanya, ia dapat melepaskan mereka dari penyembahan berhala Moab dan membawa mereka kepada iman serta penyembahan Allah Israel. Tentu saja Naomi ingin melakukannya. Namun,
[1] Jika mereka pergi bersamanya, ia tidak mau mereka melakukannya hanya karena demi dirinya. Orang yang memilih beragama hanya karena ingin mengikuti keluarga, atau merasa segan dengan teman, atau demi pertemanan, pertobatannya itu dangkal dan tidak akan berlangsung lama.
[2] Jika mereka ikut bersamanya, ia ingin mereka melakukan itu karena keputusan mereka sendiri. Pertama, mereka harus membicarakannya serta menimbang harga yang harus dibayar. Hal tersebut harus dilakukan oleh orang yang hendak memilih untuk percaya kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya. Adalah baik bagi kita untuk mengetahui kemungkinan terburuk. Juruselamat kita menyampaikan hal ini kepada orang yang dalam kobaran semangatnya dengan berani berujar, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Jawab Kristus, “Mari, datanglah. Dapatkah kamu membayar harga seperti yang Kulakukan? Ketahuilah bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Pertimbangkanlah apakah hatimu kuat untuk mempertaruhkan segala milikmu bagi-Nya,” (Mat. 8:19-20). Demikianlah yang dilakukan Naomi kepada kedua menantunya. Keputusan yang diambil melalui pertimbangan yang sungguh-sungguh biasanya akan terus bertahan di dalam hati, tetapi keputusan yang terlalu cepat diambil akan segera kandas.
5. Dengan mudah Orpa terbujuk untuk menyerah pada kecenderungan hatinya yang buruk, dan untuk kembali ke negerinya, kepada sanak saudaranya, dan ke rumah bapanya, ketika kini ia sudah siap untuk ke sana. Mereka berdua menangis pula dengan suara keras (ay. 14), tersentuh oleh kelemahlembutan yang diucapkan Naomi. Akan tetapi, keduanya menangkap ucapan itu dengan cara berbeda. Bagi Orpa, itu merupakan bau kematian yang mematikan. Gambaran Naomi tentang ketidaknyamanan yang harus mereka hadapi di Kanaan membuat Orpa kembali ke negeri Moab. Hal ini menjadi alasan baginya untuk murtad. Namun, sebaliknya, bagi Rut, perkataan Naomi menguatkan keputusannya dan kasihnya kepada mertuanya itu. Hikmat dan kebaikan Naomi pada saat seperti ini begitu memikat Rut, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Maka, bagi Rut, perkataan Naomi tadi merupakan bau kehidupan yang menghidupkan.
(1) Lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri. Ia meninggalkan Naomi dengan kehangatan, berpamitan untuk seterusnya, tanpa niat untuk kembali mengikuti Naomi. Ia seperti orang yang mengatakan bahwa ia akan mengikut Kristus setelah menguburkan ayahnya atau berpamitan dahulu dengan keluarganya. Ciuman Orpa menunjukkan bahwa ia mengasihi Naomi dan berat untuk berpisah dengannya. Namun, kasihnya tidak cukup besar untuk rela meninggalkan negerinya demi Naomi. Demikianlah, banyak orang menghargai dan mengasihi Kristus, tetapi menolak keselamatan dari-Nya, sebab mereka tidak mau meninggalkan hal-hal lain demi Kristus. Mereka mengasihi Dia, tetapi meninggalkan-Nya, sebab lebih besar cinta mereka bagi hal lain daripada bagi Kristus. Itu sebabnya, orang muda yang meninggalkan Kristus pergi dengan sedih (Mat. 19:22). Akan tetapi,
(2) Rut tetap berpaut padanya. Kita tidak tahu kapan Rut berketetapan untuk mengikuti Naomi, apakah sejak ia pergi dari rumah atau bukan. Kemungkinan, keputusan itu telah dia buat sebelumnya, oleh karena kasihnya kepada Allah Israel yang telah dikenalnya lewat pengajaran Naomi, dan cintanya kepada hukum-Nya.
6. Naomi membujuk Rut untuk pulang, lebih jauh lagi dengan menyebut teladan saudarinya itu (ay. 15). Telah pulang iparmu kepada bangsanya, dan karena itu, tentu saja kepada para allahnya. Apa pun juga yang Orpa lakukan selagi tinggal bersama mertuanya, tetap saja mustahil baginya untuk menghormati Allah Israel ketika ia pergi dan tinggal di antara penyembah dewa Kamos. Orang yang meninggalkan perkumpulan orang kudus dan kembali kepada bangsa Moab, pasti memutuskan persekutuannya dengan Allah dan memeluk ilah-ilah Moab. Jadi, pulanglah mengikuti iparmu itu. Artinya, kalau engkau mau pulang, pulanglah sekarang. Inilah ujian terbesar bagi kesetiaanmu. Bila engkau tahan dalam ujian ini, maka engkau akan menjadi milikku selamanya.” Cobaan untuk berpaling seperti yang diperbuat Orpa itu memang harus ada, supaya tampak siapa-siapa yang sempurna dan tulus, seperti halnya Rut dalam kesempatan ini.
7. Rut pun mengakhiri perdebatan itu dengan pengakuan paling tulus tentang keputusannya yang sudah bulat. Ia tidak akan pernah meninggalkan Naomi ataupun kembali ke negerinya, kepada sanak saudaranya lagi (ay. 16-17).
(1) Tidak ada pernyataan yang lebih murni dan lebih berani daripada ini. Sepeninggal Orpa, Rut tampak memiliki roh yang berbeda, perkataan yang berbeda. Ini merupakan contoh anugerah Allah yang mencondongkan hati manusia kepada pilihan yang lebih baik. Maka tariklah aku di belakangmu, dan marilah kita cepat-cepat pergi. Larangan Naomi justru membuat Rut semakin bulat hati. Sama seperti ketika Yosua berkata kepada umat Israel, “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN,” mereka pun semakin bergelora menjawab, “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.”
[1] Rut memohon kepada mertuanya agar tidak mencegahnya lagi, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau. Sebab segala permohonanmu sekarang tidak bisa lagi menggoyahkan keputusan hatiku yang telah engkau tempa di dalamku dengan pengajaranmu selama ini. Perhatikanlah, orang yang telah berketetapan hati bagi Allah dan agama akan merasa kesal serta gelisah jika ia digoda dan dibujuk untuk mengubah kebulatan hatinya. Orang tidak berpikiran untuk mengubah hati seperti itu, tidak akan mau mendengar bujukan untuk mengubah hatinya. Janganlah desak aku. Tafsiran luas berbunyi, Janganlah menentang aku. Ingatlah, kita harus memperhitungkan orang-orang yang menentang kita sungguh sebagai musuh-musuh kita, yaitu yang mau merintangi kita masuk ke Kanaan sorgawi. Mereka mungkin saja sanak keluarga kita, tetapi tidak bisa menjadi kawan, kalau mereka mau menghalangi dan mematahkan semangat kita dalam menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.
[2] Rut sangat bersungguh-sungguh dalam keputusan hatinya untuk terus mengikuti Naomi dan tidak akan meninggalkannya. Apa yang dia ucapkan merupakan bahasa seseorang yang sudah berketetapan hati bagi Allah dan surga. Ia amat terpikat, bukan pada kecantikan, kekayaan, maupun keceriaan ibunya karena semua itu akan layu dan berlalu, melainkan pada hikmat, kebajikan, dan kemuliaan hatinya. Ketiga hal itu tetap ada pada Naomi sekalipun di tengah keadaan miskin dan menyedihkan, sehingga Rut pun berbulat hati untuk tetap berpegang erat pada mertuanya itu. Pertama, ia akan pergi bersama Naomi. “Ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku akan pergi. Sekalipun harus ke negeri yang belum pernah kulihat dan di tengah lingkungan yang buruk dan hina yang sudah biasa bagiku. Sekalipun jauh dari negeriku sendiri, bersamamu setiap jalan pasti menyenangkan. Kedua, ia akan tinggal bersama Naomi. Di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku akan bermalam. Sekalipun di tempat yang tidak lebih baik daripada tempat Yakub bermalam, ketika ia harus tidur berbantalkan batu. Di mana engkau menegakkan tongkatmu, di situlah aku akan menegakkan tongkatku, di mana pun juga tempatnya. Ketiga, ia akan mengikuti kepentingan Naomi. Bangsamulah bangsaku. Dari sifat Naomi, dengan yakin Rut menyimpulkan bahwa bangsa yang besar itu merupakan umat yang bijaksana dan pengertian. Ia menilai mereka berdasarkan ibu mertuanya. Ke mana pun Naomi pergi, ia merupakan cerminan negerinya (demikian pula semua orang seharusnya belajar menjadi orang yang menyatakan hubungannya dengan negeri yang lebih baik, yaitu negeri sorgawi). Karena itulah, Rut merasa akan berbahagia jika diperhitungkan sebagai salah satu dari bangsa itu. “Bangsamu akan menjadi bangsaku, untuk bersekutu dengan mereka, menyesuaikan diri dengan mereka, dan peduli pada mereka.” Keempat, ia akan masuk ke agama Naomi. Demikianlah ia bertekad untuk menjadi usque ad aras bagi Naomi -" hingga sampai ke mezbah. “Allahmulah Allahku. Selamat tinggal semua ilah Moab, yang adalah kesia-siaan dan dusta. Aku akan memuja Allah Israel, satu-satunya Allah yang hidup dan yang sejati. Percaya kepada-Nya saja, melayani Dia, dan dipimpin oleh Dia dalam segala hal. Ini artinya menerima Tuhan sebagai Allah kita. Kelima, dengan senang hati Rut mau mati di ranjang yang sama. Di mana engkau mati, aku pun akan mati di sana. Ia percaya bahwa mereka berdua pasti akan mati, dan kemungkinan terbesar, Naomi yang lebih tua akan mati lebih dulu. Rut bertekad untuk tetap tinggal serumah dengannya hingga genap masa hidupnya. Hal ini juga menandakan keinginan Rut untuk turut berbagi dalam kebahagiaan Naomi dalam kematian. Rut berharap dapat mati di tempat yang sama, sebagai tanda bahwa ia mati dengan cara yang sama. “Biarkan aku mati seperti Naomi yang saleh, dan biarlah akhir hidupku sama seperti dia.” Keenam, Rut ingin disemayamkan dalam kubur yang sama, tulang-tulangnya dibaringkan di sisi Naomi. Dan di sanalah aku dikuburkan. Ia tidak ingin jasadnya dibawa kembali ke Moab sebagai tanda bahwa masih tersisa kebaikan untuk negerinya itu. Sebaliknya, karena telah bersatu jiwa dengan Naomi, ia ingin bersama dengannya walau sudah menjadi debu, dalam harapan akan dibangkitkan bersama-sama, dan bersama selamanya di dunia yang lain.
[3] Rut mendukung keputusannya untuk melekat pada Naomi dengan sumpah yang sungguh-sungguh: Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, ini merupakan bentuk kutukan pada zaman kuno, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut! Sebuah sumpah peneguhan mengakhiri perdebatan mereka, serta seterusnya menjadi tanggung jawab bagi Rut untuk tidak pernah meninggalkan jalan yang baik yang sekarang dia pilih itu. Pertama, hal ini menandakan bahwa kematian akan memisahkan mereka untuk sementara waktu. Ia bisa berjanji untuk mati dan dikuburkan di tempat yang sama, tetapi tidak dalam waktu yang sama. Mungkin saja terjadi bahwa Naomi mati lebih dahulu, dan hal itu akan memisahkan mereka. Camkanlah, kematian bisa memisahkan siapa pun yang tidak dapat dipisahkan oleh apa pun. Kita harus melihat masa kematian sebagai masa perpisahan, dan bersiap-siap untuk itu. Kedua, sudah ditetapkan bahwa tidak akan ada apa pun yang akan memisahkan mereka selain kematian. Entah itu kebaikan dari keluarga dan bangsa Rut sendiri, atau harapan akan keadaan yang lebih baik di antara orang Moab, atau sikap Israel yang tidak bersahabat, maupun rasa takut akan kelaparan dan aib di tengah mereka. “Tidak, aku sekali-kali tidak akan pernah meninggalkan engkau.”
(2) Inilah pola pertobatan yang teguh untuk berbalik kepada Allah dan agama. Demikianlah kita harus sampai pada titik keputusan ini.
[1] Kita harus menjadikan TUHAN sebagai Allah kita. “Inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Aku telah mengakui Dia sebagai milikku.”
[2] Ketika kita menjadikan Allah sebagai Allah kita, maka umat-Nya pun harus menjadi bangsa kita dalam segala keadaan. Sekalipun mereka adalah orang miskin yang dipandang rendah, namun jika mereka milik-Nya, mereka harus menjadi milik kita juga.
[3] Setelah memutuskan menjadi bagian di antara mereka, kita harus mau bersedia sepenanggungan bersama mereka. Kita harus tunduk di bawah kuk yang sama dan menjalaninya dengan setia, mengangkat salib yang sama dan memikulnya dengan riang. Kita harus pergi ke mana Allah menyuruh kita, sekalipun ke tempat pembuangan, dan bermalam di mana Ia menyuruh kita, sekalipun di dalam penjara. Kita harus mati di mana Dia menetapkan kita untuk mati, serta membaringkan tulang-tulang kita di dalam kubur orang yang tegak hatinya, yang akan masuk ke dalam damai dan bersemayam di tempat peristirahatan mereka, sekalipun hanya di kuburan rakyat biasa.
[4] Kita harus mengambil keputusan untuk tetap teguh berjalan dan bertekun. Dalam hal ini, kesetiaan kita kepada Kristus harus lebih erat daripada kesetiaan Rut kepada Naomi. Ia bertekad tidak akan ada apa pun yang memisahkan mereka selain kematian. Namun, kita harus bertekad bahwa kematian pun tidak akan memisahkan kita dari tanggung jawab kepada Kristus. Dengan demikian, kita pun yakin bahwa kematian itu tidak akan memisahkan kita dari kebahagiaan dalam Kristus.
[5] Kita harus menambat jiwa kita dengan ikatan janji untuk tidak merusak keputusan iman ini, serta bernazar kepada Allah bahwa kita akan melekat pada-Nya. Jagalah baik-baik, maka kita akan tetap memilikinya. Orang yang bermaksud jujur tidak takut akan kepastian.
8. Naomi pun terdiam (ay.18). Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia (inilah tujuan Naomi mengucapkan semua perkataan tadi, untuk memantapkan pikiran Rut dalam mengikut dirinya), ketika dilihatnya bahwa Rut telah menangkap maksudnya, ia pun puas, dan berhentilah ia berkata-kata kepadanya. Ia tidak menginginkan apa pun lagi selain pernyataan Rut yang sungguh-sungguh barusan. Lihatlah betapa kekuatan tekad dapat membungkam pencobaan. Orang yang tidak teguh hati dan mengikuti kehidupan beragama tanpa pikiran yang mantap justru akan menggoda si pencoba. Mereka seperti pintu yang setengah terbuka, mengundang kedatangan pencuri. Tetapi, keteguhan menutup serta mengancing rapat pintu itu, menahan iblis, dan memaksanya kabur.
Tafsiran Alkitab terjemahan bahasa Aram memaparkan perdebatan Naomi dan Rut seperti ini.
Rut berkata, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau, karena aku mau ikut menyembah Allah Israel.”
Jawab Naomi, “Kami diperintahkan untuk memelihara hari-hari Sabat dan hari-hari peringatan. Pada masa itu kami tidak boleh bepergian lebih dari 900 meter -" seperjalanan 1 hari Sabat.”
“Baik,” kata Rut, “ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku akan pergi.”
Jawab Naomi, “Kami diperintahkan untuk tidak tinggal semalaman dengan orang kafir.”
Ujar Rut, “Baik, di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam.”
Jawab Naomi, “Kami diperintahkan untuk mematuhi 613 aturan.”
“Baik,” kata Rut, “Apa pun yang dipatuhi bangsamu akan kupatuhi, karena mereka akan menjadi bangsaku.”
Naomi berkata, “Kami dilarang menyembah ilah lain mana pun.”
“Baik,” kata Rut, “Allahmulah Allahku.”
Tutur Naomi, “Kami memiliki empat macam hukuman mati bagi penjahat. Dirajam, dibakar, dicekik, dan dibantai dengan pedang.”
“Baik,” jawab Rut, “Di mana engkau mati, aku pun mati di sana.”
Kata Naomi, “Kami mempunyai gua-gua pekuburan.”
“Dan di sanalah,” kata Rut, “Aku akan dikuburkan.”

* Penyambutan Naomi di Betlehem (1:19-22)
Setelah perjalanan panjang yang berat, Naomi dan Rut akhirnya tiba di Betlehem. Dapat diduga, kelelahan dari perjalanan itu cukup terobati oleh nasihat yang diberikan Naomi kepada menantunya yang baru memeluk agamanya itu, dan oleh percakapan hangat mereka bersama. Mereka datang pada masa yang tepat, pada permulaan musim menuai jelai. Inilah panen pertama rakyat itu, yang diikuti oleh panen gandum sesudahnya. Sekarang, matanya sendiri meyakinkan dia akan kebenaran kabar yang didengarnya dari Moab, yakni bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. Rut pun melihat negeri subur ini pada keadaannya yang terbaik. Kini, mereka punya kesempatan mengumpulkan persediaan untuk menghadapi musim dingin. Masa hidup kita ada dalam tangan Allah, baik peristiwanya maupun waktu terjadinya. 

Ada beberapa hal yang dicatat khusus dalam ayat-ayat di atas,

I. Kegemparan para tetangga atas peristiwa ini (ay.19). Gemparlah seluruh kota itu karena mereka. Kenalan lama Naomi mengerubungi dia untuk menanyakan keadaannya serta menyambut kedatangannya di Betlehem. Atau, mungkin juga mereka gempar karena dia, kalau-kalau ia harus menjadi tanggungan kota, sebab ia terlihat sangat miskin. Dengan kejadian ini, tampaknya Naomi dahulu adalah orang terpandang, kalau tidak, sekarang ia tidak akan diperhatikan begitu rupa seperti ini. Jika orang yang pernah berada pada kedudukan tinggi dan makmur mengalami kehancuran atau jatuh dalam kemelaratan maupun aib, kejatuhan itu akan sangat kentara. Mereka pun berkata, “Naomikah itu?” Yang berbicara adalah perempuan-perempuan Betlehem, hal ini tampak dari pemakaian kata yang merujuk pada kaum perempuan. Orang-orang yang dahulu akrab dengan Naomi terkejut melihat keadaannya. Ia begitu hancur dan berubah karena penderitaan, sampai-sampai orang-orang itu hampir tidak percaya pada apa yang mereka lihat. Mereka juga tidak mengira bahwa sosok Naomi itu adalah orang yang sama dengan yang dahulu pernah mereka kenal, segar, cantik, dan ceria. Naomikah itu? Mawar yang layu sungguh berbeda dengan mawar yang mekar. Betapa Naomi sekarang telah menjadi sosok yang malang dibandingkan dengan keadaannya ketika masih makmur! “Inikah orang yang tidak bisa mencukupkan diri untuk hidup seperti tetangga-tetangganya, tetapi malah mengembara ke negeri asing? Lihatlah keadaannya sekarang!” Jika ada yang menghardik Naomi dengan perkataan itu, mencibir dia atas kesengsaraannya, berarti orang itu memiliki watak yang kejam dan hina. Tidak ada yang lebih biadab daripada memegahkan diri atas orang-orang yang jatuh. Namun, agaknya kebanyakan warga kota itu bertanya dengan rasa kasihan dan simpati, “Inikah Naomi, yang dulu hidup berkelimpahan, dan memelihara keluarganya dengan amat baik, dan begitu dermawan kepada orang miskin? Ah, sungguh pudar emas itu.“ Demikianlah orang yang pernah menyaksikan kemegahan Bait Suci pertama meratapi keburukan Bait Suci kedua. Camkanlah, dalam waktu singkat, penderitaan akan menyebabkan perubahan besar dan mengejutkan. Ketika kita melihat bagaimana penyakit dan usia renta mengubah manusia, raut muka dan watak mereka, maka kita bisa memikirkan perkataan orang-orang Betlehem, “Naomikah itu? Tidak akan ada yang bisa mengenalinya lagi.” Oleh anugerah-Nya, Allah membuat kita mengalami segala perubahan, khususnya perubahan besar!

II. Ketenangan diri yang dimiliki Naomi. Jika ada yang menghina dia atas kemiskinannya, ia tidak tersinggung. Seandainya Naomi miskin dan sombong, tentu dia akan merasa tersinggung. Namun, dengan besarnya kesabaran Naomi yang saleh, ia menanggungnya sekaligus dampak kesedihan lain dari penderitaannya itu (ay. 20-21). Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara. Naomi artinya manis atau menyenangkan. Namun, segala yang menyenangkan padaku telah terbuang. Sebutkanlah aku Mara, artinya, pahit atau kepahitan. Sebab sekarang akulah wanita yang menderita jiwanya. Demikianlah dia menyadari keadaannya. Seharusnya kita semua melakukan hal yang sama ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita pikirkan. Cermatilah,
1. Perubahan keadaan Naomi dan bagaimana hal itu digambarkan, yakni dengan pandangan saleh akan pemeliharaan ilahi, tanpa bersungut-sungut maupun keluhan.
(1) Perubahan tersebut sangatlah menyedihkan dan memilukan. Ia pergi dengan tangan yang penuh. Begitulah ia memandang dirinya ketika suami dan kedua orang anaknya masih hidup. Kepuasan kita akan penghiburan di dunia ini banyak berasal dari hubungan keluarga yang menyenangkan. Akan tetapi, sekarang ia pulang dengan tangan yang kosong, menjadi janda tanpa anak, dan kemungkinan telah menjual habis barang-barangnya. Segala harta milik yang dibawanya dahulu kini tidak ada lagi selain pakaian yang melekat padanya. Begitu tidak pastinya segala sesuatu yang kita sebut kesempurnaan yang ditemukan dalam makhluk ciptaan (1Sam. 2:5). Bahkan di tengah penuhnya kecukupan itu pun, kita bisa mengalami kesesakan. Namun, ada satu kepenuhan, yaitu kepenuhan rohani dan ilahi, yang tidak akan pernah menjadi kosong. Itulah bagian terbaik yang tidak akan diambil dari mereka yang memilikinya.
(2) Di tengah penderitaannya, Naomi mengakui tangan Allah yang berkuasa. “TUHAN-lah yang telah memulangkan aku dengan tangan yang kosong. Yang Mahakuasalah yang telah menyengsarakan aku.” Perhatikanlah, tidak ada yang dapat memuaskan jiwa orang saleh yang sedang sengsara selain kesadaran akan adanya tangan Allah di balik penderitaan itu. Dialah TUHAN (1Sam. 3:18; Ayb. 1:21). Apalagi jika kita sadar bahwa Dia yang menghajar kita adalah Shaddai, yang Mahakuasa. Berbantah dengan Dia adalah suatu kebodohan, tunduk kepada-Nya adalah kewajiban dan keuntungan kita. Dengan nama itulah Allah mengikat diri-Nya dalam perjanjian dengan umat-Nya: Akulah Allah yang Mahakuasa, Allah yang Maha mencukupi (Kej. 17:1). Ia menghajar sebagai Allah dalam ikatan perjanjian. Kemahakuasaan-Nya menjadi penopang dan pemenuhan kita di tengah segala kesusahan. Dia yang mengosongkan tangan kita dari ciptaan dapat memenuhi kita dengan Diri-Nya sendiri.
(3) Dengan penuh perasaan, Naomi berbicara tentang kesan dari penderitaan yang dia rasakan. “Ia telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.” Cawan penderitaan adalah cawan yang pahit. Sekalipun kemudian menghasilkan buah kebenaran, tetap saja pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita (Ibr. 12:11). Ayub mengeluh, “Engkau menulis hal-hal yang pahit terhadap aku” (Ayb. 13:26).
(4) Naomi mengakui bahwa penderitaan tersebut berasal dari Allah sebagai perlawanan terhadapnya. TUHAN telah naik saksi menentang aku. Ingatlah, ketika Allah sedang mengoreksi kita, Ia naik saksi menentang kita dan berbantah dengan kita (Ayb. 10:17), untuk menunjukkan bahwa Ia tidak berkenan atas kita. Setiap cambukan memiliki suara, yaitu suara seorang saksi.
2. Hati Naomi yang rela menerima perubahan ini. “Janganlah sebutkan aku Naomi, sebab aku tidak lagi menyenangkan, baik bagi diriku sendiri maupun kawan-kawanku. Akan tetapi sebutkanlah aku Mara, nama yang lebih sesuai dengan keadaanku saat ini.” Banyak orang yang telah direndahkan dan menjadi miskin tetap berpura-pura memakai nama kosong dan gelar kehormatan yang mereka nikmati sebelumnya. Akan tetapi, Naomi tidak seperti itu. Karena kerendahan hatinya, ia menolak nama yang mulia di tengah keadaan merana. Apabila Allah melakukan hal yang pahit terhadapnya, ia mau menyesuaikan diri terhadap hukuman tersebut dan rela dipanggil Mara, pahit. Perhatikan, demikianlah seharusnya kita merendahkan hati di bawah pemeliharaan ilahi yang merendahkan kita. Tatkala keadaan kita direndahkan, roh kita juga harus turut direndahkan. Ketika kita menyesuaikan diri dengan permasalahan, maka persoalan tersebut akan menjadi berkat bagi kita. Yang mendatangkan kebaikan bukanlah penderitaan itu sendiri, melainkan penderitaan yang ditanggung dengan cara yang benar. Perdidisti tot mala, si nondum misera esse didicisti -" Begitu banyak bencana terhilang sia-sia saat menimpa engkau jika engkau belum juga belajar bagaimana menanggung sengsara. Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan.






Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 16 Oktober 2023 - Teruslah Berjalan (Move On) - Rut 1:4-6

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 14 Oktober 2023 - Alam Rumah Kita - Mazmur 104:16-18




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,