gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 598 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2023
Kamis, 5 Oktober 2023

RHK GMIM Kamis, 5 Oktober 2023 - Beragama, Namun Nihil Perbuatan Baik - Lukas 10:31-32
Obor GMIM Kamis 5 Oktober 2023 - Samaria Dihati Yesus - Lukas 10:30-33 , Perumpamaan itu sendiri, yang menggambarkan kepada kita perihal seorang Yahudi malang yang mengalami kesulitan

Lukas 10:30-33 
10:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

Penjelasan:
*  Perumpamaan itu sendiri, yang menggambarkan kepada kita perihal seorang Yahudi malang yang mengalami kesulitan, yang ditolong dan diringankan bebannya oleh seorang Samaria yang baik hati.

Mari kita lihat di sini:
[1] Bagaimana ia dianiaya oleh para musuhnya. Laki-laki yang tulus itu sedang melakukan perjalanan dengan tenang untuk melakukan kegiatan yang sah. Ia melewati jalan raya yang terbentang dari Yerusalem ke Yerikho (ay. 30). Disebutkannya kedua kota itu menyiratkan bahwa ini adalah kejadian yang nyata, bukan sebuah perumpamaan. Boleh jadi peristiwa itu belum lama terjadi, tepat seperti yang diceritakan di sini. Kejadian-kejadian tentang pemeliharaan ilahi akan memberi kita banyak pelajaran, asalkan kita mengamatinya dengan saksama dan memanfaatkannya. Kejadian-kejadian seperti ini bisa dirancang menyerupai perumpamaan untuk diberikan sebagai pelajaran, dan akan lebih menyentuh. Laki-laki malang ini jatuh ke tangan penyamun-penyamun. Tidak jelas apakah ini orang-orang Arab yang hidup dari barang rampasan atau penjahat keji yang sebangsa dengannya, atau serdadu Romawi yang meskipun terikat dengan peraturan tentara yang keras bisa saja telah melakukan kejahatan ini. Yang jelas, mereka ini sangat biadab. Mereka bukan saja merampas uang orang itu, tetapi juga pakaiannya, dan supaya ia tidak dapat mengejar mereka, atau sekadar untuk memuaskan nafsu jahat (karena apakah untungnya kalau darahnya tertumpah?), mereka pun memukulnya dan pergi meninggalkannya setengah mati, sekarat karena luka-lukanya. Di sini kita boleh saja merasa marah terhadap para penyamun yang sudah tidak memiliki perikemanusiaan sama sekali, berperilaku seperti binatang buas, binatang-binatang pemangsa, yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Namun, pada saat yang sama kita tidak bisa tidak juga patut berbelas kasihan terhadap orang-orang yang jatuh dalam tangan orang-orang yang begitu jahat dan tidak berakal seperti ini. Rasanya kalau kita punya kekuatan, kita pasti akan menolong mereka. Kita patut bersyukur kepada Allah bila kita telah dipelihara-Nya dari kejahatan para perampok!

[2] Bagaimana ia diabaikan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi sahabat-sahabatnya, yang bukan saja sebangsa dan seagama, tetapi juga seorang imam dan yang satu lagi seorang Lewi, tokoh-tokoh masyarakat dengan kedudukan penting. Mereka bahkan dianggap suci oleh orang. Tugas mereka mewajibkan mereka harus bersikap lemah-lembut dan penuh belas kasihan (Ibr. 5:2). Mereka mengajar orang lain untuk membebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Dr. Lightfoot mengatakan kepada kita bahwa banyak kelompok imam bertempat tinggal di Yerikho, dan dari sana mereka pergi ke Yerusalem ketika tiba giliran mereka untuk bertugas di situ, kemudian pulang kembali. Ini artinya bahwa ada banyak imam yang pulang pergi melalui jalan itu, beserta orang-orang Lewi para pembantu mereka. Mereka melewati jalan itu, dan melihat orang malang yang terluka itu. Mungkin mereka mendengar rintihannya dan tidak bisa tidak pasti tahu bahwa jika tidak segera ditolong, ia pasti akan tewas. Orang Lewi itu bukan saja menoleh kepadanya, tetapi datang ke tempat itu dan melihat orang itu (ay. 32). Namun, keduanya melewatinya dari seberang jalan. Ketika melihat kejadian yang menimpa orang itu, mereka menjaga jaraknya sejauh mungkin, seakan-akan mau berdalih, "Sungguh, kami tidak tahu hal itu." Sungguh menyedihkan bila orang-orang yang seharusnya menjadi teladan kemurahan hati justru berperilaku sangat jahat. Mereka yang seharusnya menunjukkan rahmat Allah dan menyatakan belas kasihan terhadap orang lain, malah menahan diri.

[3] Bagaimana ia ditolong dan dirawat oleh seorang asing, seorang Samaria, dari suku bangsa yang paling dianggap hina dan dibenci oleh orang-orang Yahudi yang tidak mau berurusan dengan mereka. Orang ini masih memiliki perikemanusiaan dalam dirinya (ay. 33). Imam itu mengeraskan hatinya terhadap salah seorang dari bangsanya sendiri, tetapi orang Samaria itu membuka hati terhadap salah seorang dari bangsa lain. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan sama sekali tidak mempermasalahkan kebangsaannya. Walaupun korbannya seorang Yahudi, dia tetap saja seorang manusia, manusia yang berada dalam penderitaan, dan orang Samaria itu telah diajar untuk menghormati semua orang. Dia tidak tahu kapan kejadian yang menimpa orang malang tersebut akan menimpa dirinya sendiri. Oleh sebab itu ia menaruh iba terhadapnya, sama seperti dia ingin dikasihani seandainya mengalami kejadian seperti ini. Bahwa kasih sebesar ini bisa ditemukan dalam diri seorang Samaria, boleh juga dianggap sama indahnya dengan iman orang Romawi dan perempuan Kanaan yang dikagumi oleh Kristus itu. Namun, sebenarnya bukan demikianlah halnya, sebab rasa iba adalah pekerjaan manusia, sedangkan iman adalah pekerjaan anugerah ilahi. Belas kasihan yang ada pada diri orang Samaria ini bukanlah belas kasihan yang berpangku tangan. Baginya, belumlah cukup untuk sekadar berkata, "Semoga cepat sembuh, semoga ada yang menolongmu" (Yak. 2:16), tetapi saat hatinya tergerak, ia mengulurkan tangannya kepada orang malang yang miskin ini (Yes. 58:7,10; Ams. 31:20). Lihatlah betapa baik hatinya orang Samaria ini.

Pertama, 
ia pergi kepada orang yang malang itu, yang dihindari oleh imam dan orang Lewi itu. Tidak diragukan lagi bahwa orang Samaria itu menanyakan bagaimana ia sampai berada dalam keadaan yang menyedihkan itu, dan turut merasa prihatin terhadapnya.

Kedua, 
ia melakukan tugas seorang tabib, karena tidak ada lagi siapa-siapa di situ. Ia membalut luka-lukanya, mungkin memakai kain lenannya sendiri, lalu menyiraminya dengan minyak dan anggur, yang mungkin dibawa olehnya. Anggur untuk membersihkan luka-luka, dan minyak untuk meredakan rasa sakit, dan setelah itu ia membalutnya. Dia berbuat sebisa-bisanya untuk meredakan rasa sakit dan mencegah bahaya yang disebabkan oleh luka-luka itu, sebagai seseorang yang turut merasakan kepedihan.

Ketiga, 
Ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, sementara ia sendiri berjalan kaki, dan membawanya ke tempat penginapan. Sungguh merupakan rahmat bila terdapat tempat penginapan di jalan, sehingga kita bisa memperoleh makanan dan istirahat dengan uang kita. Mungkin malam itu orang Samaria ini bisa mengakhiri perjalanannya seandainya tidak menjumpai rintangan ini. Namun, karena belas kasihannya terhadap orang malang itu, ia turut bermalam di penginapan. Ada yang berpendapat bahwa imam dan orang Lewi itu beralasan tidak dapat tinggal sejenak untuk menolong orang malang itu karena mereka sedang bergegas untuk menghadiri ibadah di Yerusalem. Namun, kita juga bisa menduga bahwa orang Samaria itu pergi untuk suatu urusan. Tetapi, meskipun demikian, ia mengerti bahwa baik urusan sendiri maupun memberikan korban kepada Allah pun harus mengalah terhadap tindakan belas kasihan semacam ini.

Keempat, 
Ia merawat orang itu di penginapan, membaringkannya di tempat tidur, memberikan makanan yang layak baginya, menemaninya, dan mungkin juga berdoa dengannya. Dan bukan itu saja.

Kelima, 
Seolah-olah orang ini adalah anaknya sendiri atau orang yang ada di bawah pemeliharaannya, saat berangkat keesokan paginya, ia menyerahkan uang kepada pemilik penginapan untuk dipergunakan bagi semua keperluan si sakit, serta menjanjikan pengembalian kelebihan uang yang akan dibelanjakan. Dua dinar pada masa itu dapat dipergunakan untuk berbagai-bagai keperluan. Namun, di sini uang sebanyak itu pun diperhitungkannya saja seolah-seolah bisa mencukupi semua keperluan orang itu. Semuanya ini sungguh-sungguh merupakan kebaikan dan kemurahan hati yang hanya bisa diharapkan bisa diperoleh dari seorang sahabat atau saudara, padahal ini dilakukan oleh seorang asing yang tidak dikenal.

Sekarang, perumpamaan ini bisa juga diterapkan untuk tujuan yang lain daripada tujuannya yang semula. Tepatlah kalau perumpamaan ini dikemukakan untuk menggambarkan kebaikan dan kasih Allah Juruselamat kita kepada manusia berdosa yang malang. Dahulu kita bagaikan orang malang yang melakukan perjalanan ini. Iblis, musuh kita, telah merampok kita habis-habisan, dan menyakiti kita. Seperti itulah celaka yang diakibatkan dosa terhadap kita. Pada dasarnya kita lebih daripada sekadar setengah mati, bahkan mati dua kali, karena melakukan pelanggaran dan dosa. 

Kita sama sekali tidak mampu menolong diri sendiri, karena tidak berdaya. Hukum Musa, seperti imam dan orang Lewi itu, para pelayan hukum, hanya bisa memandang kita, namun tidak berbelas kasihan kepada kita, tidak memberi kita kelepasan, dan hanya melewati kita dari seberang jalan, seakan-akan tidak memiliki rasa iba ataupun kuasa untuk menolong kita. Namun, kemudian datanglah Yesus, si orang Samaria yang baik hati itu (dan dengan nada mencela mereka mengatai Dia: Engkau orang Samaria). 

Dia menaruh belas kasihan terhadap kita dan membalut luka-luka kita (Mzm. 147:3; Yes. 61:1), dan menuangkan, bukannya minyak dan anggur, tetapi yang tak terkirakan lebih berharga lagi daripada itu, yakni darah-Nya sendiri. Ia merawat kita, dan meminta kita memasukkan semua pengeluaran bagi kesembuhan kita atas nama-Nya. Dan Ia melakukan semua ini meskipun Ia bukan termasuk salah satu di antara kita, bahkan Ia bersedia merendahkan diri dengan rela, padahal kedudukan-Nya sebenarnya jauh di atas kita. Hal ini semakin menunjukkan kedalaman kasih-Nya dan membuat kita semua wajib berkata, "Betapa kita ini semua sangat berutang. Apakah yang bisa kita berikan?"







Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Jumat, 6 Oktober 2023 - Penolong Yang Tak Diduga - Lukas 10:33-35

Sebelum:
RHK GMIM Rabu 4 Oktober 2023 - Kesempatan Untuk Berbuat Baik - Lukas 10:30




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,