gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 1369 kali
Download MP3 Music
Roma 5:1-11
Hasil pembenaran
5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. 5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati --. 5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 5:9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. 5:10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! 5:11 Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Penjelasan:
* Pembenaran dan Pengaruhnya (Roma 5:1-5)

Segala keuntungan dan hak istimewa berharga yang mengalir dari pembenaran, seharusnya mendorong kita bertekun untuk memastikan bahwa kita sendiri sudah dibenarkan, dan kemudian mengambil penghiburan yang diberikan kepada kita, serta melaksanakan kewajiban yang diminta dari kita. Buah-buah dari pohon kehidupan ini amat sangat berharga.

I. Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (ay. 1). Dosalah yang menimbulkan permusuhan antara kita dengan Allah. Dosa tidak saja menciptakan keterasingan, tetapi juga perseteruan. Allah yang kudus dan benar tidak mungkin dapat berdamai dengan seorang berdosa sementara orang itu terus berada di bawah kesalahan dosa. Pembenaran melenyapkan kesalahan itu dan dengan demikian membuat jalan bagi pendamaian. Begitulah kemurahan dan perkenan Allah kepada manusia, bahwa begitu hambatan itu disingkirkan, terjadilah pendamaian. Oleh iman kita berpegang erat pada lengan Allah dan kekuatan-Nya, dan dengan demikian berada di dalam damai (Yes. 27:4-5). Selain penghentian permusuhan, ada lebih banyak hal lagi di dalam pendamaian ini. Di dalamnya ada persahabatan dan kasih sayang, sebab Allah adalah lawan yang paling buruk atau sahabat yang paling baik. Abraham yang dibenarkan oleh iman, disebut sebagai sahabat Allah (Yak. 2:23), yang merupakan kehormatan baginya. Namun kehormatan itu bukanlah kehormatan yang khusus diberikan kepadanya seorang saja: sebab Kristus juga menyebut murid-muridNya sahabat (Yoh. 15:13-15). Pasti orang tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk membuatnya berbahagia selain memiliki Allah sebagai sahabatnya! Tetapi pendamaian ini hanya terjadi melalui Tuhan Yesus kita, melalui Dia sebagai juru damai agung, Pengantara antara Allah dan manusia, Sang Pahlawan yang terberkati itu, yang telah membentangkan tangan-Nya di antara Allah dan manusia. Adam, ketika berada di dalam keadaan tidak berdosa, memiliki damai dengan Allah secara langsung, sehingga tidak membutuhkan pengantara semacam itu. Tetapi bagi orang berdosa yang bersalah, merupakan hal yang sangat mengerikan untuk berpikir tentang Allah di luar Kristus, karena Dia-lah damai sejahtera kita (Ef. 2:14). Ia tidak saja menjadi pendamai, tetapi juga merupakan pokok dan pemelihara damai bagi kita (Kol. 1:20).

II. Kita beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini, dan di dalam kasih karunia ini kita berdiri (ay. 2). Ini adalah hak istimewa kita selanjutnya. Kita tidak saja memperoleh damai sejahtera, tetapi juga mendapat kasih karunia, yaitu kemurahan ini. 

Amatilah,
1. Keadaan bahagia orang-orang kudus. Itu adalah keadaan kasih karunia. Kasih sayang Allah kepada kita dan ketaatan kita kepada Allah. Orang yang memiliki kasih Allah dan rupa Allah, berada dalam keadaan kasih karunia. Nah, ke dalam kasih karunia inilah kita beroleh jalan masuk prosagōg-"n, pengantaraan, yang secara tidak langsung menyatakan bahwa kita tidak lahir dalam keadaan ini. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai dan keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah, tetapi kita dibawa ke dalam keadaan itu. Kita tidak dapat masuk sendiri, juga tidak dapat mengatasi semua kesulitan menuju ke sana, namun kita memperoleh tuntunan, bimbingan dari tangan itu. Kita dibimbing masuk ke dalamnya seperti orang buta atau lumpuh, seperti orang-orang lemah yang dibimbing. Kita diperkenalkan sebagai orang-orang bersalah yang diampuni. Diperkenalkan oleh seorang kesayangan istana yang mencium tangan raja, yang memperkenalkan kita sebagai orang-orang asing yang ingin menghadap, sehingga perlu dibimbing. Prosagōg-"n esch-"kamen -" Kami beroleh jalan masuk. Paulus berbicara mengenai orang-orang yang telah dibawa keluar dari keadaan duniawi ke dalam keadaan kasih karunia. Di dalam pertobatannya sendiri, ia beroleh jalan masuk ini, dan saat itulah ia dibuat menjadi dekat. Barnabas memperkenalkannya kepada rasul-rasul (Kis. 9:27), dan masih ada beberapa orang lain lagi yang menuntun dia masuk ke Damsyik (ay. 8), namun Kristus sendirilah yang memperkenalkan dan menuntun dia dengan tangan-Nya ke dalam kasih karunia ini. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk karena iman. Oleh Kristus sebagai Sang Pencipta dan Pelaku utama, oleh iman yang menjadi alat menuju jalan masuk ini. Kristus melakukan hal ini tidak dengan mempertimbangkan jasa dan kelayakan kita, tetapi dengan mempertimbangkan ketergantungan dan kepercayaan kita kepada-Nya dan penyerahan diri kita kepada-Nya.

2. Mereka berdiri dengan bahagia dalam keadaan ini: di dalam kasih karunia ini kita berdiri. Di dalam keadaan itu kita tidak saja berada, tetapi juga berdiri, yang merupakan sikap tubuh yang menunjukkan bahwa kita telah dibebaskan dari kesalahan. Kita tahan berdiri dalam penghakiman (Mzm. 1:5). Tidak dibuang seperti penjahat-penjahat yang dihukum, tetapi martabat dan kehormatan kita terjamin, tidak dilemparkan ke tanah sebagai benda. Ungkapan ini juga menunjukkan kemajuan kita lebih jauh lagi, yakni sementara kita berdiri, kita bergerak maju. Kita tidak boleh berbaring, seolah-olah sudah berhasil mencapai tujuan, tetapi harus berdiri seperti orang-orang yang sedang mendesak-desak untuk bergerak maju. Kita harus berdiri seperti hamba-hamba yang mengiringi Kristus, Tuhan kita. Lebih lanjut ungkapan ini menunjukkan ketekunan kita: kita berdiri dengan teguh dan aman, ditunjang oleh kuasa Allah. Berdiri sebagaimana para prajurit, mempertahankan kedudukan mereka, dan tidak jatuh karena tekanan kuasa musuh. Hal itu tidak saja menunjukkan izin masuk, tetapi juga penegasan kita terhadap perkenan Allah. Pengadilan sorgawi tidak sama seperti yang terjadi di dalam pengadilan-pengadilan duniawi kita, di mana tempat-tempat yang tinggi merupakan tempat-tempat yang licin. Sebaliknya, di sana kita berdiri di dalam keyakinan yang penuh kerendahan hati akan hal ini, bahwa Ia yang memulai pekerjaan yang baik, akan meneruskannya sampai pada akhirnya (Flp. 1:6).

III. Kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 

Di samping kebahagiaan yang telah kita terima, masih ada satu kebahagiaan lagi di dalam pengharapan, yaitu kemuliaan Allah, kemuliaan yang akan diberikan kepada orang-orang kudus di sorga, kemuliaan yang berupa melihat dan menikmati hadirat Allah.

1. Mereka, dan hanya mereka saja, yang sekarang ini memiliki jalan masuk oleh iman ke dalam kasih karunia Allah yang dapat mengharapkan kemuliaan Allah di kehidupan yang akan datang. Tidak ada pengharapan akan kemuliaan yang benar, selain yang ditemukan di dalam kasih karunia. Kasih karunia adalah permulaan kemuliaan, tanda jaminan dan kepastian akan kemuliaan. Ia akan memberikan kasih dan kemuliaan (Mzm. 84:12).

2. Orang-orang yang mengharapkan kemuliaan Allah di kehidupan yang akan datang mengalami rasa sukacita di kehidupan yang sekarang ini. Merupakan kewajiban bagi orang-orang yang mengharapkan sorga untuk bersukacita di dalam pengharapan itu.
IV. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita. Tidak saja karena penderitaan kita (penderitaan-penderitaan ini tidak dapat menghalangi sukacita di dalam pengharapan kita akan kemuliaan Allah), tetapi bahkan di dalam penderitaan-penderitaan kita, sebab penderitaan-penderitaan itu mengerjakan kemuliaan yang jauh lebih besar bagi kita (2Kor. 4:17). Amatilah, betapa semakin besarnya kemuliaan orang-orang kudus ini: Bukan hanya itu saja. Dapat saja orang berpikir bahwa damai sejahtera seperti itu, kasih karunia seperti itu, kemuliaan seperti itu, dan sukacita dalam pengharapan akan kemuliaan seperti itu terlalu muluk untuk diterima oleh makhluk-makhluk malang seperti kita yang tidak layak ini. Namun, bukan hanya itu saja, malah ada lebih banyak hal lagi dari kebahagiaan yang bisa kita dapatkan, yaitu kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, khususnya kesengsaraan karena kebenaran. Memang tampaknya kesengsaraan itu merupakan penghalang utama bagi kebahagiaan orang-orang kudus, namun sesungguhnya kebahagiaan mereka tidak saja terdiri dari kesengsaraan itu, tetapi juga berasal dari situ. Mereka bergembira karena mereka telah dianggap layak untuk menderita (Kis. 5:41). Hal ini menjadi pokok yang paling sulit. Paulus menempatkan dirinya sendiri untuk menunjukkan dasar dan alasan dari kebahagiaan itu. Bagaimana kita dapat bermegah di dalam penderitaan? Mengapa? Karena oleh suatu rantai sebab-akibat, penderitaan itu sangat akrab dengan pengharapan, yang ia tunjukkan dalam cara kesengsaraan itu memberikan pengaruhnya.

1. Bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, bukan di dalam dan dari kesengsaraan itu, tetapi dari kasih karunia Allah yang penuh kuasa yang bekerja di dalam dan dengan kesengsaraan itu. Kesengsaraan itu menimbulkan dan meningkatkan ketekunan, seperti halnya karunia bertambah oleh latihan iman. Bukan penyebabnya yang membuat hal demikian terjadi, melainkan karena berserah pada apa yang terjadi itu, seperti baja dibuat menjadi keras oleh api. Lihatlah bagaimana Allah mengeluarkan makanan dari yang makan, dan manisan keluar dari yang kuat. Yang mengerjakan ketekunan itu adalah sukacita. Sebab ketekunan akan memberikan lebih banyak kebaikan dibandingkan dengan kesengsaraan yang hanya dapat menyakiti kita. Kesengsaraan itu sendiri menimbulkan ketidaksabaran atau ketidaktekunan. Tetapi, karena kesengsaraan itu dikuduskan bagi orang-orang kudus, hal itu dapat menimbulkan ketekunan.

2. Ketekunan menimbulkan tahan uji (ay. 4). Ketekunan menimbulkan tahan uji dari Allah, seperti nyanyian yang Ia berikan di malam yang gelap. Orang-orang yang memiliki ketekunan di dalam kesengsaraan akan mengalami penghiburan ilahi yang sangat. Penghiburan itu akan semakin melimpah ketika kesengsaraan bertambah. Ketekunan menimbulkan tahan uji. Melalui kesengsaraan itulah kita dapat menguji ketulusan kita sendiri, dan itulah sebabnya kesengsaraan semacam itu disebut juga sebagai ujian. Ketekunan menimbulkan dokim-"n, sebuah pujian, karena terbukti lulus dalam ujian itu. Dengan demikian, kesengsaraan Ayub menimbulkan tahan uji, dan tahan uji itu menghasilkan pujian, bahwa ia tetap tekun dalam kesalehannya (Ayb. 2:3)

3. Tahan uji menimbulkan pengharapan. Oleh karena itu orang yang diuji akan muncul seperti emas, sehingga mereka akan didorong untuk berharap. Tahan uji ini atau pujian yang diberikan, bukan hanya menjadi dasar tetapi juga menjadi bukti dari pengharapan kita. Tahan uji yang berasal dari Allah menjadi penyangga dari pengharapan kita. Ia yang telah melepaskan akan sanggup dan mau menolong. Tahan uji yang berasal dari diri kita sendiri akan membantu membuktikan kesungguhan hati kita.

4. Pengharapan ini tidak mengecewakan. Artinya, pengharapan itu bukanlah pengharapan yang menipu kita. Tidak ada yang lebih mengagetkan daripada kekecewaan. Rasa malu dan kebingungan yang tak henti-hentinya akan ditimbulkan oleh hancurnya pengharapan orang fasik, tetapi harapan orang benar akan menjadi sukacita (Ams. 10:28; lih. Mzm. 22:6; 71:1). Atau, kesengsaraan kita tidak akan mempermalukan kita. Walaupun kita disamakan dengan kotoran dari segala sesuatu, dan diinjak-injak seperti lumpur di jalan, tetapi dengan memiliki pengharapan akan kemuliaan, kita tidak dipermalukan dengan semua penderitaan ini. Kesengsaraan kita adalah untuk perkara yang baik, karena Tuhan yang baik, dan dalam pengharapan yang baik. Itulah sebabnya kita tidak akan menjadi malu. 

Kita tidak akan pernah menganggap diri kita hina oleh kesengsaraan yang akan berakhir dengan demikian indah. Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita. Pengharapan ini tidak akan mengecewakan kita, karena penderita an ini dimeteraikan oleh Roh Kudus sebagai Roh kasih. Merupakan pekerjaan mulia yang dikerjakan oleh Roh Kudus untuk mencurahkan kasih Allah di dalam hati semua orang kudus. Kasih Allah, yakni pengalaman adanya kasih Allah kepada kita, menarik keluar kasih kita kembali kepada-Nya lagi. Atau, ada pengaruh yang dahsyat dari kasih-Nya, yang berupa:
(1) Kasih karunia yang khusus, dan
(2) Embusan kuat atau rasa yang menyenangkan akan kasih itu.Kasih itu dicurahkan seperti minyak narwastu, mengharumkan jiwa, seperti hujan yang mengairi dan membuatnya berbuah lebat. Dasar dari semua penghiburan dan kekudusan kita serta ketekunan kita di dalam keduanya terletak di dalam pencurahan kasih Allah di dalam hati kita(2Kor. 5:14). Inilah yang mendorong kita. Dengan demikian, kita ditarik dan diikat oleh tali-tali kasih. Perasaan akan kasih Allah kepada kita membuat kita tidak malu dengan pengharapan kita di dalam Dia dan penderitaan kita bagi-Nya.


* Adam yang Pertama dan Kedua; Pengaruh Kasih Karunia (Roma 5:6-21)
Di sini Rasul Paulus ingin menggambarkan sumber dan dasar pembenaran, yaitu di dalam kematian Tuhan Yesus. Aliran sungai itu sungguh sangat indah, tetapi jika Anda menyusurinya sampai ke mata airnya yang ada di hulu, Anda akan menemukan bahwa sumbernya adalah kematian Kristus bagi kita. Di dalam aliran darah yang mulia dari Kristus-lah semua hak istimewa itu mengalir kepada kita. Itulah sebabnya Paulus menguraikan panjang lebar perihal kasih Allah yang dicurahkan ini. 

Ada tiga hal yang diperhatikan oleh Rasul Paulus untuk menjelaskan dan menggambarkan ajaran ini:
1. Orang-orang yang bagi mereka Dia telah mati (ay. 6-8).
2. Buah-buah kematian-Nya yang sangat berharga (ay. 9-11).
3. Perbandingan yang dibuat Paulus antara mengalirnya dosa dan maut oleh Adam yang pertama dengan mengalirnya kebenaran dan hidup oleh Adam yang kedua (ay. 12 sampai terakhir).

I. Watak dan sifat yang ada pada diri kita ketika Kristus mati untuk kita.

1. Kita masih lemah (ay. 6), dalam keadaan yang menyedihkan. Dan yang lebih buruk lagi, kita sama sekali tidak dapat menolong diri kita sendiri keluar dari keadaan ini. Kita terhilang, dan tidak ada jalan yang tampak terbuka bagi pemulihan kita. Keadaan kita sangat menyedihkan, dan tiada harapan. Itulah sebabnya dikatakan di sini bahwa keselamatan kita datang pada waktu yang telah ditentukan. Waktu yang ditetapkan Allah untuk menolong dan menyelamatkan adalah ketika orang-orang yang akan diselamatkan ada dalam keadaan lemah, supaya kuasa dan kasih karunia Allah dapat lebih me limpah (Ul. 32:36). Itulah cara pertolongan Allah saat jalan sudah buntu.

2. Kristus telah mati untuk orang-orang durhaka. Tidak saja untuk makhluk-makhluk yang tidak berdaya, dan oleh sebab itu akan binasa, tetapi juga untuk makhluk-makhluk yang bersalah dan penuh dosa, dan karena itu pantas untuk binasa. Tidak saja untuk orang yang jahat dan tidak berguna, tetapi juga untuk orang-orang keji dan menjijikkan, yang tidak pantas untuk menerima perkenan Allah yang kudus. Karena menjadi orang-orang yang durhaka, mereka memerlukan satu orang untuk mati bagi mereka, untuk menebus kesalahan mereka dan membenarkan mereka. Inilah yang digambarkan oleh Rasul Paulus (ay. 7-8) sebagai contoh kasih yang tidak seimbang. Di dalam hal ini pikiran dan jalan Allah berada di atas pemikiran dan jalan kita. Bandingkanlah dengan Yohanes 15:13-14, Tidak ada kasih yang lebih besar.

(1) Tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar, artinya, orang yang tidak bersalah, orang yang dihukum secara tidak adil. Banyak orang akan mengasihani orang seperti itu, tetapi hanya sedikit yang mau menghargai hidupnya sampai mau membahayakan, apalagi sampai mengorbankan hidup mereka sendiri ganti orang yang benar itu.

(2) Tetapi mungkin ada orang yang berani mati untuk orang yang baik, yaitu orang yang berguna, yang lebih dari pada orang yang benar. Banyak orang yang berbuat baik bagi dirinya sendiri, namun kurang berbuat baik kepada orang-orang lain. Tetapi, orang-orang yang berguna umumnya membuat diri mereka dikasihi oleh orang banyak, dan akan ada di antara mereka yang jika perlu membahayakan diri sendiri untuk menjadi antipsychoi, mau memberikan hidup ganti hidup, mau menjadi penanggung mereka, badan ganti badan. Dalam hal ini Paulus adalah seorang yang sangat baik, seorang yang sangat berguna, dan ia telah bertemu dengan orang-orang yang mau mempertaruhkan nyawa mereka untuk nyawanya (16:4). Sekarang amatilah bagaimana Paulus menjelaskan hal ini: mungkin ada orang yang akan berbuat seperti itu, dan jika ia melakukannnya, itu adalah suatu tindakan yang berani, harus ada jiwa yang berani mempertaruhkan diri. Walaupun demikian, itu pun hanyalah sesuatu yang sifatnya belum tentu.

(3) Tetapi Kristus telah mati untuk orang-orang berdosa (ay. 8), yang bukan orang benar dan juga bukan orang baik. Orang-orang seperti itu tidak saja tidak berguna, tetapi juga keji dan menjijikkan. Seandainya mereka binasa tidak ada yang merasa rugi, bahkan kehancuran mereka akan membawa kemuliaan besar bagi keadilan Allah, karena mereka menjadi pelanggar hukum dan penjahat yang pantas untuk dihukum mati. Beberapa orang berpendapat bahwa Paulus menyinggung pembedaan umum yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap umat mereka. Mereka dibedakan sebagai orang-orang ndyqym -" benar, hsdym -" berbelas kasihan (bdk. Yes. 57:1), dan rssym -" jahat. Nah, Allah menunjukkan kasih-Nya, tidak saja membuktikan atau memberikan bukti (Ia sudah melakukannya pada tingkat yang lebih sederhana), tetapi sekarang Ia mengagungkannya dan membuatnya menjadi gemilang. Keadaan ini benar-benar mengagungkan dan meninggikan kasih-Nya. Tidak saja menjadi tak terbantahkan, tetapi membuatnya menjadi sumber keajaiban dan kekaguman: “Sekarang segala ciptaan-Ku akan melihat bahwa Aku mengasihi mereka, Aku akan memberikan sebuah contoh yang tidak ada bandingannya.” Menunjukkan kasih-Nya, seperti para pedagang yang memuji-muji barang dagangan mereka ketika melihat para pembeli mulai mengelak untuk membeli. Menunjukkan kasih-Nya ini adalah untuk mencurahkan kasih-Nya di dalam hati kita oleh Roh Kudus. Ia menunjukkan kasih-Nya dengan cara yang penuh rasa sayang, sepenuh hati dan perhatian tak terbayangkan. Ketika kita masih berdosa, menyiratkan bahwa kita tidak akan selalu ada dalam keadaan berdosa, melainkan ada perubahan yang akan dikerjakan. Sebab Ia mati untuk menyelamatkan kita, bukan di dalam dosa-dosa kita, melainkan dari dosa-dosa kita. Ketika Ia mati untuk kita, kita masih orang berdosa.

(4) Bahkan, terlebih lagi, Ia mati ketika kita masih seteru (ay. 10), dan bukan saja sebagai penjahat, tetapi juga pengkhianat dan pemberontak, yang mengangkat senjata melawan sang penguasa. Juga, penjahat yang paling jahat, dan yang paling menjijikkan dari semua penjahat. Pikiran duniawi bukan saja merupakan seteru Allah, tetapi juga musuh bagi dirinya sendiri (8:7; Kol. 1:21). Permusuhan ini merupakan permusuhan timbal balik, Allah merasa muak terhadap orang berdosa, dan sebaliknya orang berdosa juga merasa muak terhadap Allah (Za. 11:8). Bahwa Kristus harus mati untuk orang-orang seperti ini sungguh merupakan suatu misteri, suatu hal yang bertentangan dengan pikiran manusia, suatu contoh kasih yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga menjadi kewajiban kita untuk mengagumi dan terkesima dengan perbuatan kasih ini sampai selama-lamanya. Ini sungguh merupakan suatu pembuktian kasih. Pantaslah jika Ia yang begitu mengasihi kita menjadikannya sebagai salah satu hukum kerajaan-Nya supaya kita mengasihi musuh-musuh kita.


II. Buah-buah kematian-Nya yang mulia.

1. Pembenaran dan pendamaian merupakan buah yang pertama dan utama dari kematian Kristus: Kita dibenarkan oleh darahNya (ay. 9), diperdamaikan oleh kematian-Nya (ay. 10). Dosa diampuni, orang berdosa diterima sebagai orang benar, perselisihan didamaikan, permusuhan disingkirkan, kejahatan diakhiri, dan kebenaran yang kekal dibawa masuk. Hal ini sudah dilakukan, artinya Kristus telah memenuhi semua persyaratan yang harus dilakukan oleh-Nya secara resmi, dan atas kepercayaan kita, dengan segera kita benar-benar ditempatkan pada keadaan yang dibenarkan dan diperdamaikan. Dibenarkan oleh darah-Nya. Pembenaran kita bersumber dari darah Kristus karena tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22). Darah adalah nyawa, dan darah itulah yang harus dicurahkan untuk membuat pendamaian. Di dalam semua korban pendamaian, pemercikan darah adalah hakikat dari pengorbanan. Karena darah itulah yang mengadakan pendamaian bagi nyawa (Im. 17:11).

2. Oleh karena itu kematian Kristus dapat menghasilkan keselamatan dari murka: Diselamatkan dari murka Allah (ay. 9), diselamatkan oleh hidup-Nya (ay. 10). Ketika hal-hal yang menghalangi keselamatan kita disingkirkan, keselamatan pun mengikuti. Bahkan alasan yang mendasari teramat kuat: Jika Allah membenarkan dan memperdamaikan kita ketika kita masih menjadi seteru, dan memberikan diri-Nya sendiri untuk menanggung semua itu, terlebih lagi pasti Ia akan menyelamatkan kita ketika kita sudah dibenarkan dan diperdamaikan. Ia yang telah mengerjakan bagian yang lebih besar dengan menjadikan kita sahabat dari seteru, lebih-lebih lagi pasti, ketika kita menjadi sahabat-Nya, akan bertindak kepada kita secara bersahabat dan bersikap baik hati kepada kita. Itulah sebabnya Rasul Paulus sekali lagi dan berulang-ulang berbicara dengan menggunakan kata lebih-lebih. Ia yang telah menggali begitu dalam untuk meletakkan dasar bangunannya, tidak diragukan bahwa Ia akan membangun di atas dasar itu. Kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah, dari neraka dan hukuman. 

Murka Allah adalah api neraka. Murka yang akan datang, begitulah yang disebut (1Tes. 1:10). Pembenaran dan pengampunan akhir orang-orang percaya pada hari yang mulia itu, bersamaan dengan melayakkan dan mempersiapkan mereka untuk hari itu, adalah keselamatan dari murka yang dibicarakan di sini. Hal itu merupakan penyempurnaan dari pekerjaan kasih karunia. Diperdamaikan oleh kematian-Nya, diselamatkan oleh hidup-Nya. Hidup-Nya yang dibicarakan di sini tidak boleh dipahami sebagai hidup-Nya di dalam daging sebagai manusia, tetapi hidup-Nya di sorga, hidup yang terjadi setelah kematian-Nya (bdk. 14:9). Ia telah mati, namun Ia hidup (Why. 1:18). Kita diperdamaikan oleh Kristus yang direndahkan, dan diselamatkan oleh Kristus yang dimuliakan. Kristus yang mati meletakkan dasar bangunannya, dalam memenuhi tuntutan dosa, dan menyingkirkan permusuhan, dan dengan demikian membuat kita menjadi dapat diselamatkan. Demikianlah tembok pemisah diruntuhkan, pendamaian terjadi, dan hak-hak dipulihkan. Sedangkan, Yesus yang hidup itulah yang menyempurnakan pekerjaan itu: Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara (Ibr. 7:25). Kristus itulah, dalam kemuliaan-Nya, oleh firman dan Roh-Nya, yang memanggil, mengubah, dan mendamaikan kita kepada Bapa. Dialah Pembela kita di hadapan Bapa, sehingga menyelesaikan dan menyempurnakan keselamatan kita (bdk. 4:25; 8:34). Kristus yang mati merupakan Sang Pemberi warisan, yang memberikan kepada kita warisan itu. Sedangkan Kristus yang hidup adalah pelaksananya, yang membayar lunas semuanya. Nah, alasan yang mendasari sangatlah kuat. Ia yang memberikan diri-Nya sendiri untuk menanggung harga pembelian keselamatan kita, tidak akan mundur untuk melanjutkan penerapannya.

3. Semua ini membuat kita bermegah dalam Allah (ay. 11), hak istimewa lebih lanjut. Sekarang Allah tidak lagi menjadi kengerian bagi kita, sebab Ia telah menjadi sukacita kita dan perlindungan kita pada hari malapetaka (Yer. 17:17). Kita diperdamaikan dan diselamatkan dari murka Allah. Syukur kepada Allah, kejahatan tidak akan menjatuhkan kita. Dan bukan hanya itu saja, masih ada banyak hal lain lagi dalam aliran kemurahan-Nya yang tidak habis-habisnya. Kita tidak saja pergi ke sorga begitu saja, tetapi pergi ke sorga dengan sorak sorai. Tidak saja datang masuk ke pelabuhan, tetapi datang dengan layar yang berkembang penuh: Kita bermegah dalam Allah, tidak saja diselamatkan dari murka-Nya, tetapi menikmati penghiburan dalam kasih-Nya. Dan semua ini terjadi melalui Yesus Kristus, yang adalah Alfa dan Omega, batu dasar bangunan dan batu penjuru dari semua penghiburan dan pengharapan kita. Ia bukan saja keselamatan kita, melainkan juga kekuatan dan nyanyian kita. Dan semua ini (yang diulangi oleh Paulus sebagai dawai yang suka dipetiknya) oleh karena kebajikan dari pendamaian itu, sebab oleh Dia-lah kita orang-orang Kristen, kita orang-orang percaya, sekarang memiliki, sekarang di zaman Injil ini, atau sekarang di dalam hidup ini, menerima pendamaian, yang dahulu di bawah hukum Taurat dilambangkan oleh korban-korban persembahan. Pendamaian itu juga yang menjadi tanda jaminan akan kebahagiaan kita kelak di sorga. Orang-orang percaya yang sejati sungguh menerima pendamaian itu melalui Yesus Kristus. Menerima pendamaian itu berarti kita sungguh-sungguh telah diperdamaikan kepada Allah sebagai hasil pembenaran yang didasarkan atas penebusan yang diadakan oleh Kristus. 

Menerima pendamaian itu berarti,
(1) Memberikan persetujuan kita atas pendamaian itu, dengan menyepakati dan setuju dengan cara-cara yang digunakan oleh Sang Hikmat yang tidak terhingga dalam menyelamatkan dunia yang berdosa ini melalui darah Yesus yang disalibkan. Yang artinya, kita bersedia dengan sukarela dan sukacita diselamatkan menurut jalan Injil dan sesuai dengan semua persyaratan Injil.
(2) Menerima penghiburan dari pendamaian itu, yang merupakan sumber dan landasan kita bermegah di dalam Allah. Sekarang kita bermegah dalam Allah, dan sekarang kita benar-benar menerima pendamaian itu, kauchōmenoi -" bermegah di dalamnya. Allah telah menerima pendamaian itu (Mat. 3:17; 17:5; 28:2): kalau kita mau menerimanya, maka pendamaian itu pun terjadi.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 25 September 2023 - Bermegah Dalam Pengharapan - Roma 5:2

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 23 September 2023 - Berjalan Bersama Tuhan Menyenangkan - Yesaya 55:12-13




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,