gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 846 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2023
Minggu, 3 September 2023

Khotbah GMIM Minggu, 3 September 2023 - MENGASIHI SAUDARA WUJUD MENGASIHI ALLAH - 1 Yohanes 4:7-21
Allah adalah kasih, Kasih Kristen merupakan jaminan kediaman ilahi: Jika kita saling mengasihi

1 Yohanes 4:7-21
Allah adalah kasih
4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. 4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. 4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. 4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 4:21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Penjelasan:
* Kasih Persaudaraan (4:7-13)
Sebagaimana Roh kebenaran dikenali melalui pengajarannya (begitulah roh-roh harus diuji), begitu juga Roh itu juga dikenali melalui kasih. Jadi di sini terdapat dorongan tegas untuk memiliki kasih kristiani: Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi (ay. 7). Rasul Yohanes hendak mempersatukan mereka dalam kasihnya, sehingga dia bisa mempersatukan mereka dalam kasih terhadap satu sama lainnya: “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku memohon kepada kalian, dengan kasihku kepada kalian, supaya kalian juga menerapkan kasih yang sungguh-sungguh seorang terhadap yang lainnya.” Nasihat ini ditekankan dan didorong dengan beragam alasan, seperti,

I. Dari turunnya kasih sorgawi yang luhur: 
sebab kasih itu berasal dari Allah. Dialah sumber, pencipta, pemelihara, dan penggerak kasih. Kasih adalah inti dari hukum dan Injil-Nya: Dan setiap orang yang mengasihi (yang rohnya dibentuk untuk menunjukkan kasih kudus yang bijaksana) lahir dari Allah (ay. 7). Roh Allah ialah Roh kasih. Sifat baru dalam anak-anak Allah adalah keturunan dari kasih-Nya: dan tabiat serta coraknya ialah kasih. Buah Roh ialah kasih (Gal. 5:22). Kasih turun dari sorga.

II. Kasih menyatakan pengertian yang benar dan tepat mengenai kodrat ilahi: 
Orang yang mengasihi, mengenal Allah (ay. 7). Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah (ay. 8). Betapa sifat dari Allah yang mulia bercahaya dengan terangnya di seluruh dunia ketika Ia menyampaikan kebaikan-Nya, yaitu kasih. Hikmat, kebesaran, keharmonisan, dan manfaat penciptaan yang luas ini, yang sepenuhnya menunjukkan jati diri-Nya, di saat yang bersamaan juga menunjukkan dan membuktikan kasih-Nya. Dan akal budi, dengan menyimpulkan dan memahami sifat dan keunggulan pribadi yang paling mutlak ini, harus memahami dan mendapati bahwa Dia adalah yang Mahabaik: dan barangsiapa tidak mengasihi (tidak tergugah oleh pengetahuan yang dimilikinya mengenai Allah untuk memiliki kasih sayang dan menerapkan kasih) ia tidak mengenal Allah. Ini merupakan bukti meyakinkan bahwa pengetahuan yang sehat dan sepatutnya mengenai Allah tidak berdiam dalam jiwa seperti itu. Kasih-Nya harus bersinar di antara kesempurnaan-kesempurnaan utama-Nya yang paling cemerlang, sebab Allah adalah kasih (ay. 8), kodrat dan jati diri-Nya adalah kasih, kehendak dan pekerjaan-Nya terutama adalah kasih. Bukan hanya ini saja satu-satunya pengertian yang harus kita miliki mengenai-Nya. Kita sudah mendapati bahwa Dia adalah terang sekaligus kasih (1:5), dan Allah memang terutama ialah kasih dalam diri-Nya sendiri, dan Dia memiliki kesempurnaan-kesempurnaan sedemikian rupa yang berasal dari kasih yang perlu ditunjukkan-Nya bagi keberadaan, keagungan, dan kemuliaanNya. Tetapi kasih merupakan kodrat dan jati diri Keagungan ilahi: Allah adalah kasih. Hal ini ditegaskan dari apa yang dibukakan dan ditunjukkan-Nya mengenai hal itu kepada kita, yaitu,

            1. Bahwa Dia telah mengasihi kita, sebagaimana adanya: Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita (ay. 9), terhadap makhluk fana seperti kita, para pemberontak yang tidak tahu berterima kasih. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8). Sungguh mengherankan bahwa Allah mau mengasihi debu dan abu yang najis, sia-sia, dan kotor ini!

            2. Bahwa Dia telah mengasihi kita dengan demikian dalamnya, dengan nilai yang tidak berbanding seperti yang telah diberikan-Nya bagi kita. Dia telah memberikan Anak-Nya sendiri, satu-satunya, yang terkasih dan terberkati: bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya (ay. 9). Pribadi ini merupakan Anak Allah dalam beberapa cara istimewa yang luar biasa. Dia adalah AnakNya yang tunggal. Seandainya kita menduga Dia diperanakkan sebagai seorang makhluk atau ciptaan, maka Dia bukanlah anak tunggal. Seandainya kita menganggap Dia adalah pribadi yang sudah seharusnya dienyahkan dari kemuliaan atau hakikat mulia Sang Bapa, maka Dia pasti adalah anak tunggal: dan kalau begitu adanya, maka ini sungguh suatu misteri dan keajaiban dari kasih ilahi bahwa Anak yang demikian itu harus diutus ke dalam dunia bagi kita! Maka dapatlah dikatakan, karena begitu besar (begitu ajaib, begitu mengagumkan, begitu luar biasa) kasih Allah akan dunia ini.

            3. Bahwa Allah mengasihi kita terlebih dahulu, dan dalam segala keadaan kita yang dulu: Inilah kasih itu (kasih istimewa yang tidak pernah terjadi sebelumnya), bahwa bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita (ay. 10). Dia mengasihi kita, saat kita tidak memiliki kasih terhadapNya, saat kita berada dalam kesalahan, kesengsaraan, dan darah kita sendiri, saat kita tidak layak dikasihi, pantas dihukum, tercemar, dan najis, serta perlu dibersihkan dari dosa-dosa kita dalam darah yang sakral.
            4. Bahwa Dia mengaruniakan Anak-Nya bagi kita, demi tugas dan tujuan seperti ini.
                (1) Untuk tugas ini, sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita, dan sebagai akibatnya, harus mati bagi kita, mati di bawah hukum dan kutukan Allah, untuk menanggung dosa-dosa kita dengan tubuh-Nya sendiri, untuk disalibkan, dilukai jiwa-Nya dan ditusuk lambung-Nya, untuk mati dan dikuburkan bagi kita (ay. 10), dan lalu,
                (2) Untuk tujuan ini, untuk tujuan yang begitu baik dan menguntungkan kita, yaitu supaya kita hidup oleh-Nya (ay. 9), hidup selamanya melalui Dia, hidup di sorga, hidup bersama Allah, dan hidup dalam kemuliaan abadi dan keadaan penuh berkat bersama-Nya dan melalui Dia: Oh, betapa indahnya kasih ini! Lalu,


III. Kasih ilahi terhadap saudara-saudara lainnya harus menggalakkan kasih kita: 
Saudara-saudaraku yang kekasih (aku hendak memohon kepada kalian, melalui kepentingan kalian di dalam kasihku untuk mengingat), jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi (ay. 11). Ini seharusnya merupakan pernyataan yang tidak bisa digoyahkan. Teladan Allah seharusnya menggerakkan kita. Kita harus menjadi pengikut (atau peneladan) Dia, sebagai anak-anak terkasih-Nya. Sasaran kasih ilahi harus juga menjadi sasaran kasih kita. Akankah kita menolak untuk mengasihi orang-orang yang sudah dikasihi oleh Allah yang abadi? Kita harus menjadi pengagum kasih-Nya, dan kekasih dari kasih-Nya (dari kebaikan dan kepuasan yang ada di dalam Dia) dan dengan demikian juga menjadi kekasih dari orang-orang yang dikasihi-Nya. Kasih Allah atas seluruh isi dunia ini seharusnya menghasilkan kasih atas semua orang di antara umat manusia. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5:45). Kasih istimewa Allah terhadap jemaat dan orang-orang kudus harus menghasilkan kasih istimewa di sana juga: jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga (dengan kadar yang sesuai) saling mengasihi.

IV. Kasih Kristen merupakan jaminan kediaman ilahi: Jika kita saling mengasihi, 
Allah tetap di dalam kita (ay. 12). Kini Allah berdiam di dalam kita, bukan dengan kehadiran yang tampak, atau penampilan fisik yang segera terlihat bagi mata (Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah ([ay. 12]), melainkan oleh Roh-Nya (ay. 13), atau, “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Dia tidak hadir di dunia sini dengan menunjukkan diri-Nya di depan mata atau indra langsung kita, dan karena itu Dia juga tidak meminta dan mengharuskan kita untuk mengasihi Dia dengan cara demikian. Sebaliknya, Ia meminta dan mengharapkan kasih kita ditunjukkan dalam cara yang dianggap-Nya layak untuk diterima dan dituntut-Nya, yaitu dalam gambaran yang sudah diberikan-Nya mengenai diri-Nya sendiri dan kasih-Nya (dan dengan demikian mengenai kesukaan hati-Nya juga) dalam jemaat yang am, dan terutama di antara saudara-saudara seiman, para anggota jemaat itu. Allah harus dikasihi di dalam mereka, dan dalam penampakan jati diri-Nya bagi dan bersama mereka. Demikianlah, jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita. Para kekasih suci dari saudara-saudara seiman merupakan bait Allah. Keagungan ilahi memiliki kediaman yang istimewa di sana.”

V. Di sinilah kasih ilahi meraih tujuan dan pencapaian yang berarti di dalam kita: 
“Dan kasih-Nya sempurna di dalam kita (ay. 12). Kasih itu sudah dituntaskan di dalam dan atas kita. Kasih Allah tidak disempurnakan di dalam Dia, melainkan di dalam dan bersama kita. Kasih-Nya tidak dapat dirancangkan begitu saja untuk tidak berdaya guna dan tidak berbuah atas kita. Saat tujuan dan maksud dari kasih-Nya yang tulus itu tercapai dan dihasilkan di dalam dan atas kita, maka boleh dibilang kasih itu sudah disempurnakan. Demikianlah iman disempurnakan oleh perbuatan, dan kasih disempurnakan oleh pekerjaannya. Saat kasih ilahi sudah bekerja dalam diri kita dan menghasilkan rupa yang sama, yaitu menjadikan kita memiliki kasih kepada Allah, dan dengan demikian kasih terhadap saudara-saudara seiman, yaitu anak-anak Allah, demi Dia, maka kasih itu pun disempurnakan dan dituntaskan, meskipun kasih kita saat ini tidaklah sempurna, begitu pula dengan tujuan akhir kasih ilahi bagi kita.” Betapa kita harus memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan kasih persaudaraan Kristen ini, sebab Allah menganggap kasih-Nya sendiri terhadap kita disempurnakan di dalamnya! Terhadap hal inilah Rasul Yohanes, setelah menyebutkan kebaikan besar Allah yang berdiam di dalam kita, menambahkan catatan dan kekhasan mengenai kasih persaudaraan itu: Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya (ay. 13). Tentu saja kediaman timbal balik ini merupakan sesuatu yang lebih mulia dan lebih hebat daripada yang kita sudah kenali atau yang dapat kita kumandangkan. Orang mungkin berpikir bahwa membicarakan Allah yang berdiam di dalam kita, dan kita di dalam Dia, terlalu angkuh untuk para makhluk fana, seandainya Allah tidak memulainya terlebih dulu. Makna kediaman timbal balik seperti ini sudah diterangkan dengan singkat dalam pasal 3:24. Arti sepenuhnya haruslah diserahkan pada pewahyuan mengenai dunia yang terberkati ini. Tetapi kita mengenali kediaman timbal balik ini, tutur Rasul Yohanes, sebab Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dia sudah menanamkan rupa dan buah Roh-Nya di dalam hati kita (ay. 13), dan Roh yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita itu ternyata adalah milik-Nya, atau berasal dari-Nya, karena Roh itu adalah Roh yang membangkitkan kekuatan, hasrat dan hati bagi Allah. Roh yang membangkitkan kasih terhadap Allah dan manusia, dan (Roh) ketertiban, Roh yang memberi pengajaran dan pemahaman yang benar tentang perkara-perkara Allah dan agama serta kerajaan-Nya di antara manusia (2Tim.1:7).


* Kasih Ilahi (4:14-16)
Karena iman di dalam Kristus mengerjakan kasih terhadap Allah, dan kasih kepada Allah harus menyalakan kasih kepada saudara-saudara, maka di sini Rasul Yohanes menegaskan iman Kristen ini sebagai dasar bagi kasih yang demikian. Di sini,
        I. Dia mengumandangkan pokok iman agama Kristen, yang begitu mewakili kasih Allah: Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia (ay. 14). Di sini kita melihat,
            1. Hubungan Tuhan Yesus dengan Allah: Dia adalah Anak dari Bapa, Putra yang tiada duanya, dan dengan demikian Dia adalah Allah bersama-sama dengan Bapa.
            2. Hubungan dan jabatan-Nya terhadap kita, yaitu Juruselamat dunia. Dia menyelamatkan kita melalui kematian, teladan, syafaat, Roh, dan kuasa-Nya melawan para musuh keselamatan kita.
            3. Dasar yang menjadikan-Nya demikian, yaitu pengutusan diri-Nya: Bapa telah mengutus Anak-Nya, memberi perintah dengan keputusan dan menghendaki kedatangan-Nya itu, di dalam dan dengan persetujuan Sang Anak.
            4. Keyakinan Rasul Yohanes mengenai hal ini, yakni dia dan saudara-saudaranya sudah melihatnya. Mereka telah menyaksikan Anak Allah dalam kodrat manusiawi-Nya, dalam kehidupan dan pekerjaan kudus-Nya, dalam perubahan rupa-Nya di atas gunung, dan dalam kematian serta kebangkitan-Nya dari maut, dan kenaikan agung-Nya ke sorga. Mereka sudah melihat-Nya sedemikian rupa sehingga yakin bahwa Dialah Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
            5. Pembuktian Rasul Yohanes mengenai hal ini: “Kami telah melihat dan bersaksi. Bobot kebenaran ini mewajibkan kami untuk bersaksi dan membuktikan kebenarannya. Keselamatan dunia terletak di atas kebenaran ini. Bukti kebenaran itu menuntut kami untuk bersaksi mengenainya: mata, telinga, dan tangan kami, sudah menyaksikannya.”

Dengan demikian kita bisa belajar,
            1. Bahwa Allah adalah kasih (ay. 16). Dia adalah kasih yang paling hakiki dan tidak terhingga. Kasih-Nya tiada tandingannya dan tidak dapat terselami bagi kita di dunia ini, yang sudah ditunjukkan-Nya lewat pengutusan dan pengantaraan Putra terkasih-Nya. Inilah yang menjadi keberatan besar dan prasangka melawan pewahyuan Kristen, yaitu bahwa kasih Allah begitu janggal dan tak berdasar, sampai-sampai Dia memberikan Anak-Nya sendiri yang kekal bagi kita. Inilah yang menjadi prasangka banyak orang melawan kekekalan dan ketuhanan Sang Anak, bahwa seorang yang sedemikian agungnya masakan harus diberikan bagi kita. Memang, saya akui ini penuh misteri dan tidak dapat terselami. Namun, memang ada kekayaan yang tak terselidiki di dalam Kristus. Sayang sekali bahwa kebesaran kasih ilahi malah dijadikan prasangka melawan penyingkapan dan kepercayaan terhadap kasih itu. Tetapi apa pula yang tidak akan diperbuat Allah saat Dia bermaksud menunjukkan tingginya kesempurnaan-Nya? Saat Dia hendak memperlihatkan kuasa dan hikmat-Nya, Dia pun menciptakan dunia yang seperti ini.

Saat Dia hendak menunjukkan lebih banyak kebesaran dan kemuliaan-Nya, diciptakan-Nyalah sorga bagi roh-roh yang melayani di depan takhta. Jadi, apa yang tidak akan diperbuat-Nya saat Dia bermaksud menunjukkan kasih-Nya, dan untuk memperlihatkan kasih-Nya yang terluhur, atau bahwa Dia sendiri adalah kasih, atau bahwa kasih-Nya itu adalah salah satu dari keunggulan-keunggulan yang paling gemilang, berharga, mengatasi segalanya, ampuh, dari kodrat-Nya yang tidak terbatas? Dan kasihNya ini bukan hanya ditunjukkan kepada kita saja, melainkan kepada dunia malaikat, dan kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di udara, dan ini bukan sekedar untuk sejenak mengejutkan kita saja, melainkan demi mendatangkan rasa kagum, pujian, penyembahan, dan ketakjuban kita terhadap Dia yang Mahakuasa untuk selama-lamanya.

Jadi apa yang tidak akan diperbuat Allah? Tentunya akan terlihat lebih sesuai bagi maksud, dan kebesaran, dan makna dari kasih-Nya itu (jika saya bisa menyebutnya demikian) untuk memberikan Anak-Nya yang kekal bagi kita, daripada dengan sengaja menciptakan seorang Anak bagi kelepasan kita. Dalam tindakan seperti itu, yaitu memberikan Anak-Nya yang tunggal, yang hakiki dan kekal bagi kita dan kepada kita, Dia sungguh hendak mengulurkan kasih-Nya kepada kita. Dan apakah yang tidak akan diperbuat Allah yang penuh kasih itu saat dia merencanakan untuk mengulurkan kasihNya, dan mengulurkan-Nya dengan disaksikan oleh sorga, dan bumi, dan neraka, dan saat Dia akan mengulurkan diri-Nya dan menawarkan diri-Nya kepada kita, supaya kita diyakinkan sepenuh-penuhnya dan memiliki kasih seperti kasih-Nya itu? Dan bagaimana jika pada akhirnya akan terbukti (yang hanya bisa saya tawarkan untuk dipertimbangkan oleh orang yang bijaksana) bahwa kasih ilahi itu, dan terutama kasih Allah di dalam Kristus, memang menjadi dasar dari kemuliaan sorga, yang kini sedang dinikmati oleh roh-roh yang melayani dan berlaku seturut dengannya, dan dasar dari keselamatan dunia ini, dan juga dasar dari siksaan neraka? Yang terakhir ini tampaknya paling janggal. Tapi bagaimana jika terbukti nantinya bukan hanya bahwa Allah adalah kasih bagi-Nya sendiri, dalam menegakkan hukum, pemerintahan, kasih, dan kemuliaan-Nya, tetapi juga bahwa para orang yang terkutuk dijadikan terkutuk, atau dihukum seperti itu,
                (1) Sebab mereka meremehkan kasih Allah yang sudah dijelmakan dan ditunjukkan itu.
           (2) Sebab mereka menolak untuk dikasihi dalam apa yang telah diulurkan dan dijanjikan kepada mereka.
            (3) Karena mereka membuat diri mereka tidak layak menjadi sasaran kepuasan dan kebahagiaan ilahi. Jika hati nurani orang-orang terkutuk menuduhkan hal-hal tersebut kepada mereka, dan terutama karena menolak karya tertinggi kasih ilahi, dan jika bagian penciptaan yang paling agung dan berakal budi justru berupa keadaan diberkati melalui karya kasih ilahi itu, maka yang dapat digambarkan dengan indah mengenai seluruh ciptaan Allah adalah bahwa Allah adalah kasih.
            2. Bahwa sebagai akibatnya, barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia (ay. 16). Ada persekutuan agung antara Allah sumber kasih dan jiwa yang mengasihi, yaitu, orang yang mengasihi ciptaan Allah, sesuai dengan hubungan ciptaan itu dengan Allah, yang menerima Dia dan memiliki kepentingan di dalam Dia. Orang yang berdiam dalam kasih yang kudus memiliki kasih Allah yang telah dicurahkan di dalam hatinya, memiliki pengaruh Allah tertanam dalam rohnya, Roh Allah menyucikan dan memeteraikan dia. Juga, dia hidup dengan merenungkan, memandang, dan mengecap kasih ilahi, dan mendambakan untuk segera berdiam dengan Allah selama-lamanya.


* Kasih Ilahi (4:17-21)
Rasul Yohanes, setelah menggalakkan dan menekankan kasih suci dengan memberikan contoh dan alasan agungnya, yaitu kasih yang adalah Allah dan berdiam di dalam Allah sendiri, terus menganjurkannya lebih jauh lagi dengan pertimbangan-pertimbangan lainnya, dan dia menganjurkannya dalam kedua cabangnya, baik sebagai kasih terhadap Allah, maupun terhadap saudara kita atau sesama orang Kristen.

I. Sebagai kasih terhadap Allah, terhadap sang primum amabile - yang pertama dan kepala dari seluruh mahluk dan hal-hal yang layak dikasihi, yang adalah titik temu dari seluruh keindahan, keunggulan, dan keelokan dalam diri-Nya, dan menganugerahkan kepada mahluk-mahluk lain apa pun yang menjadikan mereka baik dan layak dikasihi. Di sini, kasih terhadap Allah tampaknya dianjurkan berdasarkan alasan-alasan berikut:
            1. Kasih itu akan memberi kita kedamaian dan kepuasan roh di hari ketika kasih itu paling diperlukan, atau ketika kasih itu akan menjadi kenikmatan dan berkat terbesar yang bisa dibayangkan: Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman (ay. 17). Pasti ada hari penghakiman atas seluruh dunia. Berbahagialah mereka yang memiliki keberanian kudus di hadapan Sang Hakim pada hari itu, yang mampu mengangkat kepala mereka dan memandang langsung wajahNya, dengan mengetahui Dia sebagai sahabat dan pembela mereka! Berbahagialah mereka yang memiliki keberanian dan keyakinan dalam pengharapan akan hari itu, yang memandang dan menanti-nantikan hari itu, dan menunggu kemunculan Sang Hakim! Begitulah, dan memang layak untuk melakukan begitu, orang-orang yang mengasihi Allah. Kasih mereka terhadap Allah membuat mereka yakin akan kasih Allah terhadap mereka, dan dengan demikian juga akan persahabatan mereka dengan Anak Allah. Semakin dalam kita mengasihi sahabat kita, terutama saat kita yakin dia mengetahuinya, maka semakin besar pula kita bisa mempercayai kasihnya.

Karena Allah itu baik dan penyayang, dan setia terhadap janjiNya, maka kita pun bisa dengan mudahnya yakin akan kasihNya, dan akan buah-buah membahagiakan dari kasih-Nya, dan kita pun bisa berkata, Engkau yang tahu segala sesuatu, tahu bahwa kami mengasihi Engkau. Dan pengharapan tidaklah membuat malu. Pengharapan kita, yang timbul dari pertimbangan mengenai kasih Allah, tidak akan mengecewakan kita, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Rm. 5:5). Mungkin di sini, yang dimaksudkan dengan kasih Allah ialah kasih kita terhadap Allah, yang dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus. Inilah dasar pengharapan kita, atau keyakin an kita, bahwa pengharapan kita pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan. Atau, jika kasih Allah di sini berarti rasa dan pemahaman mengenai kasih-Nya terhadap kita, maka ini harus berarti juga atau termasuk kita sebagai orang-orang yang mengasihi-Nya. Dan memang, rasa dan bukti kasih-Nya terhadap kita mencurahkan kasih terhadap-Nya di dalam hati kita, dan karena itulah kita memiliki keyakinan terhadap-Nya dan kedamaian serta kebahagiaan di dalam Dia.

Dia akan memberikan mahkota kebenaran kepada semua orang yang mengasihi kemunculan-Nya. Dan kita memiliki keberanian menghadap Kristus karena keserupaan kita dengan-Nya: karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini (ay. 17). Kasih sudah membuat kita serupa dengan-Nya, sebagaimana Dia adalah kekasih Allah dan manusia, Dia pun sudah mengajari kita untuk menjadi seperti itu sesuai dengan kemampuan kita, dan Dia tak akan menyangkal gambar-Nya sendiri. Kasih mengajari kita untuk serupa dalam penderitaan juga. Kita menderita bagi-Nya dan dengan-Nya, dan karena itu kita bisa berharap dan percaya bahwa kita juga akan dimuliakan bersama dengan Dia (2Tim. 2:12).

            2. Kasih mencegah atau menyingkirkan akibat dan buah yang tidak menyenangkan dari rasa takut yang memperbudak: Di dalam kasih tidak ada ketakutan (ay. 18). Sejauh kasih berkuasa, rasa takut pun berhenti. Di sini, menurut hemat saya, kita harus membedakan antara rasa takut dan ketakutan. Atau, dalam kasus ini, di antara rasa takut akan Allah dan merasa ketakutan terhadap-Nya. Rasa takut akan Allah sering kali disebut-sebut dan diperintahkan sebagai inti dari agama (1Ptr. 2:17; Why. 14:7), dengan demikian rasa takut itu mengandung makna rasa hormat dan kagum yang tinggi terhadap Allah dan kewenangan serta pemerintahan-Nya. Rasa takut seperti itu sesuai dengan kasih, ya, dengan kasih yang sempurna, seperti yang juga dimiliki para malaikat. Tetapi ada juga rasa ketakutan terhadap Allah, yang ditimbulkan oleh perasaan bersalah, dan harap-harap cemas mengenai kesempurnaan-kesempurnaan-Nya yang memberi hukuman. Dalam pertimbangan ini, Allah digambarkan sebagai api yang menghanguskan. Jadi rasa takut di sini bisa diartikan sebagai kegentaran. Di dalam kasih tidak ada kegentaran.

Kasih menganggap yang dikasihi itu baik dan unggul, dan karenanya menyenangkan dan layak dikasihi. Kasih menganggap Allah sebagai yang paling baik, dan yang paling mengasihi kita di dalam Kristus, dan dengan demikian menghapuskan kegentaran dan menaruh rasa sukacita orang di dalam Dia. Dan, seiring dengan bertumbuhnya kasih, sukacita juga bertumbuh, sehingga kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan atau rasa gentar. Orang-orang yang benar-benar mengasihi Allah karena sifat, nasihat, dan kovenan-Nya, juga benar-benar yakin akan kasih-Nya, dan sebagai akibatnya, mereka juga bebas dari dugaan menakutkan apa pun mengenai kuasa dan keadilan penghukuman-Nya, sebab mereka dipersenjatai untuk menghadapinya. Mereka tahu betul bahwa Allah mengasihi mereka, dan mereka pun bermegah di dalam kasih-Nya. Dengan begitu, Rasul Yohanes dengan bijak menekankan bahwa kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan ini, bahwa kasih yang melenyapkan hukuman juga melenyapkan rasa takut atau kegentaran: sebab ketakutan mengandung hukuman (ay. 18). Rasa takut diketahui sebagai gejolak perasaan yang meresahkan dan menyiksa, terutama ketakutan berupa rasa gentar terhadap Allah Mahakuasa yang menuntut balas. Tetapi, kasih yang sempurna melenyapkan hukuman, sebab kasih itu mengajari pikiran rasa tenteram dan kepuasan sempurna dalam diri Sang Terkasih, dan karena itulah kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Atau, yang juga sejajar di sini, barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (ay. 18). Itu adalah tanda bahwa kasih kita jauh dari sempurna, karena banyaknya keraguan, ketakutan, dan pemahaman kita yang menggelisahkan mengenai Allah. Marilah kita menanti-nantikan, dan bergiat menuju dunia kasih yang sempurna, di mana ketenteraman dan sukacita dalam Allah akan sesempurna kasih kita!

            3. Dari sumber dan asal-muasalnya, yang merupakan kasih Allah yang memulai terlebih dahulu: Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (ay. 19). Kasih-Nya adalah dorongan, alasan, dan landasan moral dari kasih kita. Kita tidak bisa tidak mengasihi Allah yang begitu baiknya, yang pertama-tama mengambil tindakan dan pekerjaan kasih, yang mengasihi kita sewaktu kita masih tidak layak dikasihi dan tidak elok, yang begitu mengasihi kita sedemikian besarnya, yang terus mencari-cari dan meminta kasih kita dengan mengorbankan darah Anak-Nya, dan sudah merendahkan diriNya untuk mengundang kita supaya didamaikan dengan-Nya. Biarlah sorga dan bumi tertegun menyaksikan kasih yang seperti itu! Kasih-Nya adalah penyebab timbulnya kasih kita: Atas kehendak-Nya sendiri (menurut kehendak-Nya sendiri yang bebas dan penuh kasih) Dia telah menjadikan kita. Segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Orang-orang yang mengasihi Allah adalah orang-orang yang terpanggil ke dalamnya sesuai dengan rencana-Nya (Rm. 8:28). Sesuai dengan tujuan-Nya, mereka itu dipanggil ke dalam kasih-Nya ditegaskan dengan cukup jelas di dalam kalimat berikutnya: mereka yang ditentukan-Nya dari semula (atau yang direncanakan sebelumnya, sesuai rupa Anak-Nya) mereka itu juga dipanggil-Nya, dipulihkan menuju ke sana. Kasih ilahi menanamkan kasih pada jiwa kita. Kiranya Tuhan tetap dan terus menujukan hatimu kepada kasih Allah! (2Tes. 3:5).


II. Sebagai kasih terhadap saudara-saudara dan sesama dalam Kristus. Kasih ini dipaparkan dan ditekankan berdasarkan alasan-alasan ini:

            1. Karena sesuai dan sejalan dengan pengakuan iman Kristen kita. Dalam pengakuan iman Kristen, kita mengaku kasih terhadap Allah sebagai akar agama: “Jikalau seorang berkata, atau mengaku sedemikian rupa sehingga berkata, aku mengasihi Allah, aku mengasihi nama, bait, dan penyembahan-Nya, tetapi ia membenci saudaranya, yang harus dikasihinya demi Allah, maka ia adalah pendusta (ay. 20). Dengan begitu dia membohongi pengakuannya itu.” Rasul Yohanes membuktikan bahwa orang seperti itu tidak mengasihi Allah melalui kemudahan mengasihi apa yang terlihat dibandingkan dengan apa yang tidak terlihat: Karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (ay. 20). Mata cenderung memengaruhi hati. Hal-hal yang tidak terlihat tidak begitu tertanam dalam pikiran, demikian pun oleh hati. Ketidakmengertian mengenai Allah sebagian besar timbul karena Dia tidak terlihat. Anggota Kristus menampakkan Allah di dalam dirinya. Jadi, bagaimana mungkin pembenci rupa Allah yang terlihat berpura-pura mengasihi sumber aslinya yang tidak tampak, yaitu Allah yang tidak terlihat?

            2. Karena selaras dengan hukum Allah yang tegas, dan alasan yang adil mengenainya: Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (ay. 21). Sebagaimana Allah sudah menyampaikan rupaNya dalam sifat dan kasih karunia-Nya, begitu pula Dia berkehendak supaya kasih kita sepatutnya meluas. Kita harus mengasihi Allah dengan tulus dan dengan sungguh-sungguh, dan juga orang lain di dalam Dia, atas dasar asal-muasal mereka dan diterimanya mereka oleh Dia, dan juga atas dasar kepentingan-Nya di dalam mereka. Nah, karena saudara-saudara Kristen kita memiliki kodrat baru dan hak-hak istimewa besar dari Allah, dan Allah memiliki kepentingan di dalam mereka sebagaimana di dalam kita, maka sewajarnyalah ada kewajiban ini: barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.






Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 4 September 2023 - Kasih Allah Di Dalam Yesus Kristus Jaminan Keselamatan - 1 Yohanes 4:9-10

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 2 September 2023 - Allah Yang Benar, Hidup dan Raja Kekal - Yeremia 10:10




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,