gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 734 kali
Download MP3 Music
Khotbah MTPJ GMIM 2023
Kamis, 17 Agustus 2023

KHOTBAH MTPJ GMIM Kamis, 17 Agustus 2023 - HUT KEMERDEKAAN - JANGAN ADA LAGI KUK PERHAMBAAN - Galatia 5:1-11
Obor GMIM Kamis, 17 Agustus 2023 - Aturan Pakai (2) - Bilangan 10:5-7

Galatia 5:1-11
Kemerdekaan Kristen
5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. 5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. 5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. 5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. 5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. 5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. 5:7 Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi? 5:8 Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu. 5:9 Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. 5:10 Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia. 5:11 Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi.

Penjelasan:
* Nasihat dan Ajakan untuk Berdiri Teguh (5:1-12)

    Pada bagian terdahulu pasal ini Rasul Paulus memperingatkan orang-orang Galatia supaya mewaspadai guru-guru yang masih berpegang pada ajaran agama Yahudi, yang berusaha membawa mereka kembali kepada perhambaan hukum Taurat. Dia sudah menentang mereka sebelumnya, dan sudah banyak menunjukkan betapa bertentangannya pandangan-pandangan dan jiwa guru-guru ini dengan jiwa Injil. Dan sekarang bagian ini seolah-olah adalah kesimpulan umum atau penerapan dari seluruh penjelasannya itu. Tampak dari hal-hal yang telah dikatakannya bahwa kita dapat dibenarkan hanya oleh iman di dalam Yesus Kristus, dan bukan karena melakukan hukum Taurat, dan bahwa hukum Musa tidak lagi berlaku, dan orang-orang Kristen pun tidak harus tunduk kepadanya. Oleh karena itu dia menginginkan supaya mereka berdiri teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan, karena supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.

Di sini perhatikanlah,
            1. Di bawah Injil kita dibebaskan, kita dibawa ke dalam keadaan merdeka, di mana di dalamnya kita dibebaskan dari kuk hukum yang menekankan pada upacara, dan dari kutuk hukum moral. Dengan demikian kita tidak lagi terikat pada ketaatan terhadap yang satu, ataupun terikat pada kekakuan yang lain, yang mengutuk semua orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis di dalamnya (3:10).
            2. Kita berhutang kepada Yesus Kristus atas kemerdekaan ini. Dialah yang telah memerdekakan kita. Dengan jasa-Nya Dia telah memenuhi tuntutan hukum yang telah dilanggar. Dan dengan wewenang-Nya sebagai seorang raja Dia telah membebaskan kita dari kewajiban melakukan ketetapan-ketetapan lahiriah yang dibebankan kepada bangsa Yahudi itu. Dan,
            3. Oleh karena itu tugas kita adalah berdiri teguh dalam kemerdekaan ini, dengan tidak henti-hentinya dan dengan setia mengikuti Injil dan kemerdekaannya, dan tidak membiarkan diri kita, atas pertimbangan apa pun, kembali dikenakan kuk perhambaan, ataupun terbujuk untuk kembali kepada hukum Musa. Ini adalah peringatan atau nasihat umum, yang dalam ayat-ayat selanjutnya diperkuat oleh Rasul Paulus dengan beberapa alasan atau pernyataan. Seperti,
        I. Bahwa ketundukan mereka pada sunat, dan ketergantungan mereka pada perbuatan-perbuatan menurut hukum supaya dibenarkan, sepenuhnya bertentangan dengan iman mereka sebagai orang Kristen, dan menghilangkan semua keuntungan mereka yang diperoleh melalui Yesus Kristus (ay. 2-4). Dan di sini kita dapat mengamati,
            1. Dengan sangat bersungguh-sungguh Rasul Paulus menegaskan dan menyatakan hal ini: Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu (ay. 2), dan dia mengulanginya (ay. 3), Sekali lagi aku katakan. Seperti yang pernah dia katakan, “Aku, yang telah membuktikan diri sebagai seorang rasul Kristus, dan telah menerima wewenang dan perintah dari Dia, sungguh-sungguh menyatakan, dan aku siap mempertaruhkan kehormatan dan nama baikku untuk itu, bahwa jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu, dst.” Dalam perkataannya itu dia menunjukkan bahwa apa yang sekarang dia katakan bukan hanya sangat penting, namun juga pasti dapat diandalkan. Dia sama sekali tidak mengajarkan sunat (seperti yang mungkin dilaporkan beberapa orang), malah sebaliknya ia memandang sangat penting agar mereka tidak tunduk kepada sunat.
            2. Hal yang dia nyatakan dengan sangat sungguh-sungguh, dan dengan sangat yakin, adalah bahwa jikalau mereka menyunatkan diri mereka, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagi mereka, dst. Janganlah kita mengira bahwa hanya sunat saja yang sedang dibicarakan Rasul Paulus di sini, atau bahwa dia bermaksud mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang disunat yang dapat memperoleh manfaat apa pun dari Kristus. Semua orang kudus Perjanjian Lama pernah disunat, dan dia sendiri pun pernah menyetujui penyunatan Timotius. Tetapi harus dipahami bahwa dia sedang berbicara tentang sunat dalam pengertian guru-guru agama Yahudi ketika mewajibkannya, yang mengajarkan bahwa jikalau mereka tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, mereka tidak dapat diselamatkan (Kis. 15:1). Bahwa inilah maksud Rasul Paulus yang tampak dari ayat 4, di mana dia menyatakan hal yang sama dengan mereka yang mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat, atau mencari pembenaran dengan melakukan hukum Taurat. Nah, dalam hal ini, jika mereka tunduk kepada sunat dalam pengertian ini, dia menyatakan bahwa Kristus sama sekali tidak akan berguna bagi mereka, bahwa mereka wajib melakukan seluruh hukum Taurat, bahwa mereka lepas dari Kristus, dan bahwa mereka hidup di luar kasih karunia. Dari semua ungkapan ini tampak bahwa dengan cara demikian mereka meninggalkan cara pembenaran yang sudah ditetapkan oleh Allah. Ya, benar, mereka menempatkan diri mereka sendiri menjadi tidak mungkin dibenarkan dalam pandangan-Nya, karena mereka menjadi orang-orang yang berutang untuk melakukan seluruh hukum Taurat, yang menuntut ketaatan yang tidak mampu mereka lakukan, dan menyatakan kutuk terhadap orang-orang yang gagal melakukannya, dan oleh karena itu hanya dapat menghukum, tetapi tidak dapat membenarkan mereka. Dan, sebagai akibatnya, karena mereka sudah memberontak dari Kristus, dan membangun harapan-harapan mereka berdasarkan hukum Taurat, maka Kristus sama sekali tidak akan berguna bagi mereka dan tidak berpengaruh apa-apa terhadap mereka. Jadi, karena dengan disunat mereka melepaskan Kekristenan mereka, maka mereka memisahkan diri mereka sendiri dari semua keuntungan yang diberikan Kristus. Dan oleh karena itu ada alasan kuat mengapa mereka harus teguh berpegang kepada ajaran yang sudah pernah mereka terima, dan tidak membiarkan diri dikenakan kuk perhambaan. Perhatikanlah,
                (1) Walaupun Yesus Kristus sanggup menyelamatkan dengan sempurna, namun ada banyak orang yang tidak akan menerima keuntungan apa pun dari-Nya.
                (2) Semua orang yang mencari pembenaran dengan jalan melakukan hukum Taurat, membuat Kristus tidak berguna bagi diri mereka. Dengan membangun harapan-harapan mereka berdasarkan perbuatan-perbuatan menurut hukum Taurat, mereka kehilangan semua harapan mereka dari Kristus. Sebab, Dia tidak akan menjadi Juruselamat bagi siapa pun yang tidak mau mengakui dan bergantung kepada Dia sebagai Juruselamat satu-satunya.

II. Untuk mengajak mereka supaya berdiri teguh di dalam ajaran dan kemerdekaan dari Injil, Rasul Paulus memberi mereka teladannya sendiri, dan teladan orang-orang Yahudi lain yang telah memeluk agama Kristen. Dan dia memberi tahu mereka apa yang menjadi harapan mereka, yaitu, bahwa oleh Roh, dan karena iman, mereka menantikan kebenaran yang mereka harapkan. Walaupun mereka dilahirkan sebagai orang Yahudi, dan dibesarkan di bawah hukum Taurat, namun oleh Roh Kudus mereka menjadi mengenal Kristus. Karena itu mereka telah melepaskan semua ketergantungan pada perbuatan-perbuatan menurut hukum Taurat, dan mencari pembenaran dan keselamatan hanya oleh iman di dalam Dia. Dan oleh karena itu pula pastilah benar-benar bodoh jika orang-orang yang tidak pernah berada di bawah hukum Taurat malah membiarkan diri mereka sendiri dibuat tunduk kepadanya, dan mendirikan harapan mereka di atas perbuatan-perbuatan menurut hukum tersebut. Di sini kita dapat mengamati,
            1. Apa yang dinantikan oleh orang-orang Kristen, yaitu harapan akan kebenaran, yang terutama harus kita pahami sebagai kebahagiaan dari dunia lain. Ini disebut sebagai harapan orang-orang Kristen, karena inilah yang mereka harap-harapkan, yang mereka inginkan dan kejar di atas segalanya. Dan disebut sebagai harapan akan kebenaran, karena harapan mereka akan hal itu didirikan di atas kebenaran, bukan kebenaran mereka sendiri, melainkan kebenaran Yesus Tuhan kita. Karena, walaupun hidup dalam kebenaran adalah jalan menuju kebahagiaan ini, namun kebenaran Kristus sajalah yang telah mendapatkannya untuk kita, dan dengan dasar inilah kita dapat berharap untuk memilikinya.
            2. Bagaimana mereka berharap dapat mempertahankan kebahagiaan ini, yaitu, dengan iman, di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Bukan dengan mengerjakan hukum Taurat, atau apa pun yang dapat mereka lakukan supaya layak mendapatkannya, melainkan hanya dengan iman, menerima dan bergantung kepada Dia sebagai Tuhan kebenaran kita. Hanya dengan cara ini sajalah mereka berharap untuk mendapatkan hak atas kebahagiaan itu di dunia sini atau memilikinya nanti. Dan,
            3. Dari mana mereka menantikan harapan akan kebenaran, yaitu oleh Roh. Dalam hal ini mereka bertindak di bawah bimbingan dan pengaruh Roh Kudus. Di bawah pimpinan-Nya, dan dengan pertolongan-Nya, mereka diyakinkan dan dimampukan untuk percaya kepada Kristus, dan mencari harapan akan kebenaran melalui Dia. Ketika Rasul Paulus menggambarkan perkara orang-orang Kristen demikian, tersirat bahwa jika mereka berharap supaya dibenarkan dan diselamatkan dengan cara lain mana pun mereka akan mengalami kekecewaan. Oleh karena itu sangat perlu bagi mereka untuk tetap setia kepada ajaran Injil yang telah mereka terima.

III. Dia memberikan penjelasan berdasarkan sifat dan rancangan ketetapan Kristen, yang adalah untuk menghapuskan perbedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, dan untuk menetapkan iman di dalam Kristus sebagai jalan untuk diterima oleh Allah. Rasul Paulus memberi tahu mereka (ay. 6) bahwa di dalam Kristus Yesus, atau di bawah masa penyelenggaraan Injil, hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti. Walaupun, selama masa penyelenggaraan hukum Taurat berlaku, ada perbedaan yang dibuat antara orang Yahudi dan orang Yunani, antara yang disunat dan yang tidak disunat, dan yang disebut pertama yang menerima hak-hak istimewa jemaat Allah, sedangkan yang lainnya tidak, namun tidak demikian halnya dalam masa penyelenggaraan Injil. Karena, Kristus, yang adalah kegenapan hukum Taurat, sudah datang, maka sekarang tidak ada bedanya lagi, baik di sini maupun di sana nanti, apakah seseorang disunat atau tidak. Seseorang tidak lebih baik karena disunat ataupun lebih buruk karena tidak disunat. Disunat maupun tidak disunat tidak membuat dia lebih baik di mata Allah. Dan oleh karena itu, sama seperti halnya guru-guru yang masih berpegang pada ajaran agama Yahudi sangat keterlaluan dalam mewajibkan sunat kepada mereka, dan mengharuskan mereka mematuhi hukum Musa, demikian pula mereka pastilah sangat tidak bijaksana jika sampai mau tunduk kepada guru-guru itu dalam hal ini. Namun, walaupun dia meyakinkan mereka bahwa baik disunat maupun tidak disunat tidak akan membantu mereka diterima oleh Allah, namun dia memberi tahu mereka apa yang dapat membantu mereka, yaitu iman yang bekerja oleh kasih. Artinya, iman di dalam Kristus yang membuktikan kesejatian dan kesungguhannya dengan cara menunjukkan kasih yang tulus kepada Allah dan sesama kita. Jika mereka memiliki iman seperti ini, tidak masalah apakah mereka disunat atau tidak, tetapi tanpa iman tersebut tidak ada yang akan membantu mereka. Perhatikanlah,
            1. Tidak ada hak istimewa ataupun pengakuan iman lahiriah yang akan membuat kita diterima oleh Allah, selain iman yang tulus di dalam Tuhan kita Yesus.
            2. Iman, jika sungguh-sungguh, adalah anugerah yang bekerja, yang bekerja melalui kasih, yaitu kasih kepada Allah dan kepada saudara-saudara kita. Dan iman, yang bekerja melalui kasih seperti ini, adalah segala-galanya dalam Kekristenan kita.


IV. Untuk memulihkan mereka dari kemerosotan rohani mereka, dan mengajak mereka untuk lebih teguh di masa depan, Rasul Paulus mengingatkan mereka bagaimana keadaan mereka yang baik pada awalnya, dan meminta mereka mempertimbangkan penyebab mereka begitu banyak berubah dari keadaan yang dahulu itu (ay. 7).
            1. Dia memberi tahu mereka bahwa dahulu mereka berlomba dengan baik. Pada saat mereka baru mulai menjadi orang Kristen, mereka berperilaku sangat terpuji. Mereka siap sedia menyambut agama Kristen, dan bersemangat dalam berjalan di jalannya dan mengerjakannya. Seperti halnya dalam baptisan mereka, mereka mengabdi kepada Allah, dan telah menyatakan diri mereka sebagai murid-murid Kristus, demikian pula perilaku mereka sesuai dengan sifat dan pengakuan mereka. Perhatikanlah,
                (1) Hidup seorang Kristen adalah sebuah perlombaan, di mana dia harus berlari, dan bertahan, jika dia mau memperoleh hadiah.
                (2) Tidaklah cukup kita berlari dalam perlombaan ini, dengan mengaku sebagai orang Kristen, melainkan kita harus berlari dengan baik, dengan cara hidup sesuai dengan pengakuan itu. Demikianlah yang pernah dilakukan orang-orang Kristen ini untuk sementara waktu, tetapi mereka telah dihalangi dalam kemajuan mereka, dan dihalau keluar dari jalan atau setidaknya dibuat goyah dan bimbang. Oleh karena itu,
            2. Dia bertanya kepada mereka, dan meminta mereka bertanya kepada diri mereka sendiri, Siapakah yang menghalang-halangi kamu? Bagaimana mungkin mereka sampai tidak bertahan di jalan di mana mereka sudah mulai berlari dengan sangat baik? Rasul Paulus sangat mengetahui bagaimana mereka pada masa lalu, dan apa itu yang telah menghalangi mereka, namun dia ingin supaya mereka mengajukan pertanyaan itu kepada diri mereka sendiri. Dia ingin mereka sungguh-sungguh mempertimbangkan apakah mereka memiliki alasan yang bagus untuk mendengarkan orang-orang yang mengganggu mereka itu, dan apakah hal yang mereka tawarkan cukup untuk membenarkan tingkah laku mereka saat ini. Perhatikanlah,
                (1) Banyak orang yang memulai dengan cukup baik dalam agama, dan berlari dengan baik untuk sementara waktu, yaitu berlari dalam batas-batas yang ditentukan untuk perlombaan tersebut, dan juga berlari dengan penuh semangat dan cekatan. Namun dengan berbagai cara kemajuan mereka terhalang, atau mereka menyimpang keluar dari jalan.
                (2) Orang-orang yang sudah berlari dengan baik, namun sekarang mulai keluar dari jalan atau letih di jalan, perlu memeriksa apa yang menghalangi mereka. Orang-orang yang baru menerima Kristus harus siap sedia menantikan bahwa Iblis pasti akan meletakkan batu-batu sandungan di jalan mereka, dan melakukan apa pun yang bisa dia lakukan untuk mengalihkan mereka dari jalan yang sedang mereka tempuh. Namun, kapan pun mereka menyadari diri mereka mungkin akan menyimpang dari jalan itu, mereka harus mempertimbangkan baik-baik siapa yang menghalangi mereka. Siapa pun itu yang menghalangi orang-orang Kristen ini, Rasul Paulus memberi tahu mereka bahwa dengan mendengarkan orang-orang itu mereka akan dihalangi dari menuruti kebenaran, dan dengan demikian terancam akan kehilangan manfaat dari hal-hal yang telah mereka lakukan dalam agama. Injil yang telah dia ajarkan kepada mereka, dan yang telah mereka terima dan akui, dia jamin sebagai kebenaran. Hanya di dalam Injil itulah jalan yang benar untuk mendapatkan pembenaran dan keselamatan dapat selengkapnya ditemukan. Dan supaya mereka dapat menikmati keuntungan darinya, mereka harus menaatinya, erat berpegang kepadanya, dan terus membangun hidup dan harapan mereka sesuai dengan bimbingannya. Oleh karena itu jika mereka membiarkan diri mereka dijauhkan dari Injil, mereka sudah pasti bersalah karena benar-benar lemah dan bodoh. Perhatikanlah,
                    [1] Kebenaran bukan hanya harus dipercaya, melainkan juga harus ditaati, harus diterima bukan hanya tuntunannya saja, melainkan juga kasih dan kuasanya.
                    [2] Orang-orang yang tidak menaati kebenaran itu dengan benar, tidak berpegang teguh kepadanya.
                    [3] Kita menaati kebenaran karena alasan yang sama dengan alasan kita menyambutnya. Oleh karena itu jika orang-orang yang sudah mulai berlari dengan baik dalam perlombaan Kristen, membiarkan diri mereka dihalangi, bukan bertekun di dalamnya, itu adalah perbuatan yang sangat tidak masuk akal.


V. Rasul Paulus memberikan alasan mengapa mereka harus bertekun di dalam iman dan kemerdekaan Injil, dan melawan ajakan yang menjauhkan mereka dari Injil (ay. 8): Ajakan untuk tidak menurutinya lagi, kata Rasul Paulus, bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu. Pendapat atau ajakan yang dibicarakan Rasul Paulus di sini sudah pasti mengenai perlunya mereka disunat dan menuruti hukum Musa, atau mengenai mereka mencampurkan perbuatan-perbuatan menurut hukum Taurat dengan iman di dalam Kristus dalam usaha mendapatkan pembenaran. Inilah yang guru-guru agama Yahudi itu berusaha wajibkan kepada mereka, dan mereka terlalu mudah jatuh ke dalamnya. Untuk meyakinkan mereka tentang kebodohan mereka dalam hal ini, dia memberi tahu mereka bahwa ajakan ini tidak datang dari Dia yang telah memanggil mereka, yaitu Allah. Dengan wewenang-Nya Injil telah diberitakan kepada mereka dan mereka telah dipanggil masuk ke dalam persekutuan-Nya. Ajakan dari guru-guru palsu itu juga tidak berasal dari Rasul Paulus sendiri, yang telah dipakai sebagai alat untuk memanggil mereka. Ajakan itu tidak mungkin datang dari Allah, karena bertentangan dengan jalan pembenaran dan keselamatan yang telah Dia tetapkan. Mereka pun tidak mungkin telah menerimanya dari Rasul Paulus sendiri, karena apapun yang dikarang-karang oleh sebagian orang, dia sejak semula sudah menjadi penentang dan bukan pemberita sunat. Dan, kalaupun dia pernah menyerah demi perdamaian, namun dia tidak pernah menekankan manfaatnya kepada orang Kristen, apalagi sampai mewajibkannya kepada mereka sebagai hal yang diperlukan untuk keselamatan. Jadi karena ajakan ini tidak datang dari Dia yang telah memanggil mereka, dia membiarkan mereka menilai dari mana timbulnya ajakan tersebut. Dia cukup menyiratkan bahwa ajakan itu tidak berasal dari siapa-siapa selain dari Iblis dan antek-anteknya, yang dengan cara ini berusaha keras menjatuhkan iman mereka dan menghalangi kemajuan Injil. Oleh karena itu orang-orang Galatia itu mempunyai cukup alasan untuk menolaknya, dan tetap berdiri teguh dalam kebenaran yang telah mereka terima sebelumnya. Perhatikanlah,
            1. Untuk menilai dengan benar ajakan-ajakan yang berbeda dalam hal agama yang ada di antara orang-orang Kristen, kita perlu menyelidiki apakah ajakan-ajakan itu datang dari Dia yang memanggil kita, apakah didasarkan pada wewenang Kristus dan rasul-rasulnya atau tidak.
            2. Jika, berdasarkan penyelidikan, ajakan-ajakan itu tampak tidak memiliki dasar tersebut, betapapun giatnya orang lain memaksakannya kepada kita, kita sama sekali tidak boleh menurutinya, melainkan harus menolaknya.


VI. Adanya bahaya penyebaran infeksi ini, dan pengaruh buruk yang bisa saja dimilikinya terhadap orang lain, adalah alasan lebih jauh yang disampaikan Rasul Paulus supaya mereka tidak menuruti guru-guru palsu mereka dalam hal yang hendak mereka wajibkan kepada mereka. Mungkin saja bahwa, untuk meringankan kesalahan mereka, mereka siap mengatakan bahwa hanya sedikit saja guru-guru seperti itu di antara mereka yang berusaha menarik mereka ke dalam kepercayaan dan perbuatan ini. Atau, bahwa mereka menuruti guru-guru itu dalam hal-hal sepele saja, bahwa walaupun mereka mau disunat, dan menuruti sedikit upacara peraturan dan hukum Yahudi, namun mereka sama sekali tidak pernah meninggalkan Kekristenan mereka dan beralih ke agama Yahudi. Atau, andaikata ketaatan mereka sejauh itu memang sesalah yang dia gambarkan, namun mungkin mereka berkata lebih jauh bahwa hanya sedikit saja di antara mereka yang melakukannya, dan karenanya dia tidak perlu begitu khawatir mengenai hal itu. Nah, untuk menyingkirkan kepura-puraan semacam ini, dan untuk meyakinkan mereka bahwa ada bahaya yang lebih besar di dalamnya daripada yang mereka sadari, dia memberi tahu mereka (ay. 9) bahwa sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. Seluruh adonan Kekristenan dapat dicemarkan dan dirusakkan oleh satu pandangan mendasar yang salah seperti itu, atau bahwa seluruh adonan masyarakat Kristen dapat tertular oleh satu anggotanya. Oleh karena itu mereka benar-benar tidak boleh menyerah dalam satu hal ini. Atau, jika ada yang telah melakukannya, maka mereka harus berusaha keras dengan segala cara yang pantas untuk membersihkan infeksi itu dari antara mereka. Perhatikanlah, sangatlah berbahaya bagi jemaat-jemaat Kristen jika mereka sampai mendukung orang-orang di antara mereka yang memeluk kesalahan-kesalahan yang merusak, terutama yang bertekad untuk menyebarluaskannya. Inilah masalahnya di sini. Ajaran yang dengan giat disebarluaskan oleh guru-guru palsu, dan yang telah menarik beberapa orang di dalam jemaat-jemaat ini, adalah perlawanan terhadap Kekristenan itu sendiri, seperti yang sudah ditunjukkan sebelumnya oleh Rasul Paulus. Walaupun jumlah orang yang terlibat mungkin hanya sedikit, namun ajarannya bisa mendatangkan kerusakan yang mematikan bagi kodrat manusia bila orang sampai terpengaruh olehnya. Oleh karena itu dia tidak mau membiarkan mereka tenang-tenang saja dan tidak peduli, tetapi mengingatkan mereka bahwa sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. Jika dituruti, pengaruh buruknya bisa segera menyebar lebih jauh dan lebih luas. Dan, jika mereka membiarkan diri mereka diwajibkan dalam hal ini, maka segera saja kebenaran dan kemerdekaan Injil akan hancur.


VII. Agar supaya orang-orang Galatia itu lebih memperhatikan hal-hal yang telah dia katakan, Rasul Paulus menyatakan harapan-harapannya mengenai mereka (ay. 10). Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, katanya, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Dia memiliki banyak kekhawatiran dan keraguan tentang mereka (yang merupakan alasannya begitu terus terang dan bebas dengan mereka). Namun demikian, dia berharap supaya melalui berkat Allah atas hal-hal yang telah dia tulis, mereka dapat diyakinkan untuk berpikiran sama dengan dia, dan mengakui dan mematuhi kebenaran dan kemerdekaan Injil yang telah dia beritakan kepada mereka, dan yang sekarang sedang dia usahakan supaya mereka semakin kuat di dalamnya. Dalam hal ini dia mengajar kita bahwa kita harus mengharapkan yang terbaik bahkan dari orang-orang yang mengenai mereka kita memiliki alasan untuk mengkhawatirkan yang terburuk sekalipun. Supaya mereka tidak terlalu tersinggung oleh teguran yang telah dia berikan karena ketidakteguhan mereka dalam iman, dia lebih menyalahkan orang lain daripada mereka. Karena itu dia menambahkan, Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapa pun juga dia. Dia memahami bahwa ada orang yang mengacaukan mereka dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus (seperti Gal. 1:7). Dan mungkin dia menunjuk kepada satu orang tertentu yang lebih sibuk dan giat daripada yang lain, dan merupakan alat utama kekacauan yang ada di antara mereka. Dan orang-orang seperti inilah yang lebih dia salahkan atas penyimpangan atau ketidakgigihan jemaat Galatia itu. Ini memberi kita kesempatan untuk mempelajari bahwa, dalam menegur dosa dan kesalahan, kita harus selalu membedakan antara pemimpin dan yang dipimpin, antara yang bertekad menyeret orang lain ke dalam dosa dan yang diseret oleh mereka. Jadi Rasul Paulus melunakkan dan meringankan kesalahan orang-orang Kristen ini, bahkan ketika sedang menegur mereka, supaya lebih bisa mengajak mereka untuk kembali dan berdiri teguh dalam kemerdekaan yang dengannya Kristus telah membebaskan mereka. Tetapi mengenai orang atau orang-orang yang telah mengacaukan mereka, siapa pun itu, dia menyatakan mereka akan menanggung hukumannya. Dia tidak ragu bahwa Allah akan berurusan dengan mereka sesuai dengan pembelotan mereka, dan karena kemarahan-Nya yang adil terhadap mereka, sebagai musuh-musuh Kristus dan gereja-Nya. Dia mengharapkan supaya mereka mengebirikan saja dirinya (KJV: supaya mereka dipisahkan). Bukan dipisahkan dari Kristus dan seluruh harapan akan keselamatan oleh-Nya, melainkan dipisahkan oleh hukuman dari gereja, yang harus bersaksi melawan guru-guru yang merusak kemurnian Injil. Orang-orang, baik para hamba Tuhan maupun yang lainnya, yang bertekad meruntuhkan iman Injil dan mengganggu kedamaian orang-orang Kristen, dengan cara demikian benar-benar kehilangan hak-hak istimewa persekutuan Kristen dan pantas untuk dipisahkan dari persekutuan itu.


VIII. Untuk meyakinkan orang-orang Kristen ini supaya tidak mendengarkan guru-guru mereka yang masih berpegang pada ajaran agama Yahudi itu, dan untuk memulihkan mereka dari pengaruh buruk orang-orang itu, dia menggambarkan guru-guru itu sebagai orang-orang yang telah menggunakan cara-cara yang sangat hina dan licik untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Ini karena mereka menjelek-jelekkan dia, supaya mereka bisa lebih mudah mencapai tujuan-tujuan mereka. Apa yang mereka usahakan adalah untuk membuat orang-orang Kristen tunduk kepada sunat, dan mencampurkan agama Yahudi dengan Kekristenan. Dan, supaya lebih berhasil mencapai tujuan ini, mereka menyebarluaskan kabar di antara jemaat Galatia bahwa Paulus sendiri adalah seorang pemberita ajaran sunat. Karena dari perkataannya (ay. 11): Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, tampak jelas bahwa mereka telah melaporkan dia berbuat demikian. Dan mereka telah memanfaatkan ini sebagai alasan untuk membujuk orang-orang Galatia supaya tunduk kepada sunat. Mungkin mereka mendasarkan laporan ini pada penyunatan yang sudah dilakukannya pada Timotius (Kis. 16:3). Tetapi, walaupun untuk alasan-alasan yang bagus dia telah mengalah kepada sunat dalam peristiwa itu, namun bahwa dia adalah seorang pemberita sunat, terutama dalam pengertian yang mereka maksudkan dalam mewajibkan sunat, dia sepenuhnya menyangkal. Untuk membuktikan ketidakadilan tuduhan atas dirinya itu, dia memberikan alasan-alasan yang, jika mereka mau mempertimbangkannya, pasti akan dapat meyakinkan mereka.



Obor GMIM Kamis, 17 Agustus 2023 - Aturan Pakai (2) - Bilangan 10:5-7
10:5 Apabila kamu meniup tanda semboyan, maka haruslah berangkat laskar-laskar yang berkemah di sebelah timur; 10:6 apabila kamu meniup tanda semboyan kedua kalinya, maka haruslah berangkat laskar-laskar yang berkemah di sebelah selatan. Jadi tanda semboyan harus ditiup untuk menyuruh mereka berangkat; 10:7 tetapi untuk menyuruh jemaah itu berkumpul kamu harus meniup saja tanpa memberi tanda semboyan.

Penjelasan:
* Untuk menyuruh laskar-laskar yang berkemah berangkat, untuk memberitahukan kapan tiap-tiap kelompok harus berangkat. Sebab tidak ada suara manusia yang bisa menjangkau sedemikian jauh untuk memberikan perintah itu: para prajurit kita yang betul-betul patuh dapat dilatih dengan pukulan genderang. Ketika nafiri-nafiri dibunyikan untuk tujuan ini, mereka harus meniup tanda semboyan (ay. 5), bunyi yang pecah, bergetar, dan berselang-seling di antara kedua nafiri, yang sesuai untuk menggugah dan menyemangati pikiran orang dalam berbaris maju melawan musuh-musuh mereka. Sementara bunyi yang panjang dan seirama lebih sesuai untuk memanggil seluruh jemaat berkumpul (ay. 7). Namun, ketika umat dipanggil berkumpul untuk menjauhkan penghakiman-penghakiman Allah, kita mendapati sebuah tanda bahaya diperdengarkan (Yl. 2:1, KJV).

Pada bunyi yang pertama, kelompok Yehuda berangkat, pada bunyi yang kedua kelompok Ruben, pada bunyi yang ketiga kelompok Efraim, dan pada bunyi yang keempat kelompok Dan (ay. 5-6). Dan sebagian orang berpendapat bahwa ini dimaksudkan untuk menguduskan perjalanan mereka. Sebab dimaklumkan demikian oleh para imam, yang adalah juru bicara Allah kepada umat, bukan hanya perintah-perintah ilahi kepada mereka untuk berangkat, melainkan juga berkat ilahi atas mereka dalam semua perjalanan mereka. Siapa yang mempunyai telinga, hendaklah ia mendengar bahwa sungguh, Allah ada di tengah-tengah mereka. Raja Abia menghargai tinggi dirinya sendiri dan tentaranya dengan hal ini (2Taw. 13:12), pada pihak kami Allah yang memimpin, sedang imam-imam-Nya siap meniup tanda serangan.

Untuk menghidupkan dan menyemangati tentara-tentara mereka, ketika mereka pergi berperang (ay. 9): “Apabila kamu maju berperang, kamu harus memberi tanda semboyan dengan nafiri, yang dengan demikian menandakan seruanmu kepada sorga untuk memberikan keputusan atas perseteruan itu, dan doamu kepada Allah untuk memberimu kemenangan. Dan Allah akan mengakui ini sebagai ketetapan-Nya sendiri, dan kamu akan diingat di hadapan TUHAN, Allahmu.” Allah akan memperhatikan bunyi nafiri ini, dan melibatkan diri-Nya untuk berperang bagi mereka. Dan, hendaklah semua orang memperhatikan bunyi nafiri itu juga, dan tidak perlu takut untuk berperang bagi-Nya, seperti Daud, ketika ia mendengar bunyi derap langkah di puncak pohon-pohon kertau. Bukan berarti bahwa Allah perlu dibangunkan oleh bunyi nafiri, seperti halnya Kristus juga tidak perlu dibangunkan oleh murid-murid-Nya ketika ada badai (Mat. 8:25). Apabila Ia bermaksud berbelas kasih, adalah kehendak-Nya bahwa kita harus memohonkan belas kasih itu. Hamba-hamba Tuhan harus menggugah prajurit-prajurit Yesus Kristus yang baik untuk berperang dengan perkasa melawan dosa, dunia, dan Iblis, dengan meyakinkan mereka bahwa Kristuslah Sang Kapten, Pemimpin keselamatan mereka, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dan akan menginjak-injak Iblis di bawah kaki mereka.

Untuk membuat khidmat perayaan-perayaan suci mereka (ay. 10). Salah satu dari perayaan-perayaan mereka diperingati dengan meniup serunai (Im. 23:23, dst.). Dan tampak bahwa mereka harus menyemarakkan kekhidmatan semua perayaan mereka (Mzm. 81:4), dan semua korban mereka (2Taw. 29:27) seperti itu, untuk menunjukkan betapa dengan sukacita dan gembira mereka melaksanakan kewajiban mereka kepada Allah. Juga, untuk membangkitkan pikiran yang penuh dengan kemenangan yang kudus dalam diri orang-orang yang mengikuti ibadah-ibadah itu, supaya mereka bersorak-sorak di dalam Allah yang mereka sembah. Pada saat itulah ibadah-ibadah mereka diingat di hadapan Allah. Sebab Ia bersuka dalam ibadah-ibadah penyembahan kita, bila kita bersuka saat merayakannya. Pekerjaan yang kudus harus dilakukan dengan sukacita yang kudus.







Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Jumat, 18 Agustus 2023 - BERDOA DAN MENGUCAP SYUKURLAH KEPADA TUHAN - Bilangan 10:9

Sebelum:
RHK GMIM Rabu 16 Agustus 2023 - PERSEKUTUAN IBADAH DI GEDUNG GEREJA - Bilangan 10:7




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,