gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 557 kali
Download MP3 Music
1 Petrus 2:6
2:6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."

Penjelasan:
* 1Ptr 2:6 - Sebab ada tertulis dalam kitab suci

Sebab ada tertulis dalam kitab suci. Petrus kini menyebutkan sumber kutipannya, Yesaya 28:16. Menarik untuk dicatat bahwa yang ditekankan di dalam kitab Yesaya tersebut ialah fungsi dari batu sebagai dasar yang kokoh (bdg. I Kor. 3:11). Tidak diragukan bahwa pemahaman Petrus mengenai gambaran ini mengacu balik kepada cara Tuhan memakainya (Mat. 21:42), dengan mengikuti kata-kata dalam Mazmur 118:22, 23. Petrus sendiri telah menggunakan ayat itu ketika menjawab Sanhedrin, "Inilah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri" (Kis. 4:11).


* Batu Yang Terpilih

Saudara-saudara, tak ada yang mudah di dunia ini, segala sesuatu harus diperjuangkan untuk mendapatkannya. Di masa kini, untuk menjadi sesuatu yang dapat dipilih harus melewati banyak tantangan dan perjuangan, kerja keras dan usaha. Terkadang segala cara sudah ditempuh namun tetap ada yang berbuah nihil, akibatnya kecewa, sakit hati sampai putus asa. Orang Kristen, yang sungguh percaya kepada Tuhan Allah, terpilih atau tidak, semua dalam kehendak-Nya karena segala sesuatu diamini ada dalam rancangan terindah-Nya.

Firman hari ini, menekankan fungsi dari batu yang terpilih, batu sebagai dasar yang kuat dan kokoh dalam pembangunan iman. Kata Firman “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” Sion adalah nama lain untuk Yerusalem dan bukit di mana bait Allah didirikan. Batu yang dimaksud adalah Tuhan Allah sendiri, memberikan harapan untuk keselamatan umat. Penggenapan akhir ayat ini dalam PB ada dalam diri Yesus Kristus. Tuhan Allah berbicara kepada penduduk Yehuda yang sombong dan pencemooh dan Tuhan Allah berjanji akan mengutus Sang Batu Penjuru, Anak-Nya akan menjadi dasar yang kuat, kokoh bagi kehidupan umat jika mereka percaya. Firman ini untuk menguatkan dan mengokohkan iman orang Kristen yang sementara teraniaya dan menderita supaya tetap bertumbuh di tengah badai cobaan. Mereka juga umat yang dipilih untuk menikmati anugerah selamat dari Tuhan Allah. Harganya mahal karena melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib yang tidak dapat diukur dengan apapun.

Sebagai keluarga Kristen, kita dipanggil untuk menjadi batu-batu yang tidak hanya terpilih tetapi juga sebagai batu-batu yang membawa kehidupan bagi sesama dan seluruh ciptaan Tuhan Allah. Dengan selalu setia menjalankan tugas, kerja dan belajar sehingga kita diberkati dan menjadi berkat. Dengan demikian kita menghargai keterpilihan kita yang mahal ini dengan respon iman yang berbuah pada kesetiaan dan ketaatan sekalipun kita diperhadapkan dengan badai dan gelombang yang datang silih berganti dalam hidup. Kita termotivasi untuk terus percaya pada-Nya dan tetap menampilkan karya dan pengabdian kepada Tuhan Allah sehingga kita tidak dipermalukan. Amin.

* KRISTUS, BATU YANG HIDUP; ORANG KRISTEN, RUMAH ROHANI (1 Petrus 2:4-8)

4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. 6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci:

"Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, Dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, Telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan." 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman
Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

Transisi dari kehidupan baru dalam Kristus dengan gambaran batu dari ayat-ayat berikut ini adalah tiba-tiba. Rasul itu memilih nas-nas dari Perjanjian Lama di mana batu-batu itu digunakan sebagai kiasan bagi kekuatan dan kemantapan dan menerapkan mereka kepada Kristus dan umat-Nya. Yesus adalah batu penjuru, batu yang ditolak, dan batu sandungan. Selanjutnya, umat-Nya adalah batu-batu di bait Allah. Orang Kristen mengambil bagian sifat-sifat Kristus ketika mereka memodelkan hidup mereka menurut hidup-Nya. Sebagai batu yang hidup mereka itu membentuk bangunan Allah.

Ayat 4. Bahasa kiasan sering muncul dan berwarna-warni di sepanjang bagian 1 Petrus ini. Semua yang hidup adalah seperti rumput; kemuliaan manusia seperti bunga rumput (1:24). Orang Kristen harus menginginkan susu dengan segenap semangat yang dimiliki oleh bayi yang baru lahir (2:2). Yesus adalah batu yang hidup … yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan.4Para pembaca Petrus, seperti Tuhan sendiri, adalah "batu yang hidup." Mereka adalah "rumah rohani" atau, dilihat secara berbeda, mereka adalah "imamat yang kudus" (2:5). Setiap kiasan menantang orang percaya untuk mempertimbangkan beberapa aspek tambahan tentang apa artinya menjadi pengikut Kristus. Dengan menambahkan warna itu, dalam ayat-ayat yang belakangan Petrus berkata bahwa orang Kristen adalah "bangsa pilihan" dan "bangsa yang kudus" (2:9). Rasul itu memilih bahasa kiasan sehingga para pembacanya bisa melihat keberlanjutan antara mereka sebagai umat pilihan dan Israel sebagai umat pilihan Allah.

Sebelum 2:4, Petrus memusatkan perhatiannya pada kekudusan kehidupan Kristen di hadapan pelbagai pencobaan. Sekarang ia mengalihkan perhatian secara lebih jelas kepada orang-orang percaya sebagai sebuah komunitas, kepada agama Kristen yang dianggap sebagai milik dan didefinisikan oleh orang-orang itu yang dengan siapa orang berbagi pengakuan dan harapan.

Inilah yang paling penting bahwa orang Kristen didefinisikan oleh kedatangan mereka kepada Yesus, "batu yang hidup." Petrus menambahkan dalam ayat selanjutnya bahwa Yesus adalah "batu penjuru yang mahal" (2:6). Ada ketidakpastian tertentu mengenai apa yang Petrus maksudkan dengan kiasan ini. Joachim Jeremias menyatakan bahwa kata yang diterjemahkan "batu penjuru" tidak perlu mengacu kepada batu pondasi. Ia berargumentasi bahwa kiasan itu sepertinya lebih menggambarkan Yesus sebagai batu utama atau batu penjuru sebuah bangunan.5Apakah Petrus ingin para pembacanya memahami Yesus sebagai (1) batu pondasi, atau (2) batu penjuru, akan membuat perbedaan tertentu mengenai maksud yang rasul itu buat. Sebagai batu utama, orang-orang percaya akan memahami Yesus sebagai Pribadi yang telah menyelesaikan semua maksud Allah bagi umat manusia, atau mungkin bahwa melalui Dia hasil iman pada akhirnya terwujud. Tentu meragukan, bagaimanapun, bahwa Jeremias adalah benar. Paulus menggunakan kata yang sama, "batu penjuru," dalam Efesus 2:20, di mana konteksnya membuat jelas bahwa artinya adalah "batu pondasi." Selanjutnya, dalam 1 Petrus 2:6 kata-katanya adalah, "Aku meletakkan di Sion … sebuah batu penjuru yang mahal." Meletakkan sebuah batu menyiratkan batu pondasi.

Mengatakan bahwa Yesus atau para pengikut-Nya adalah "batu yang hidup," pada kesan pertama, tampaknya menjadi suatu ketololan. Batu itu benda mati. "Batu yang mati" adalah kiasan yang bisa lebih dimengerti daripada "batu yang hidup." Namun demikian, Petrus menggunakan kiasan "batu yang hidup." Kata-katanya itu kembali kepada tema terkenal Perjanjian Baru, yaitu tentang batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan (Mazmur 118; Matius 21:42; Markus 12:10; Lukas 20:17; Kisah 4:11). Rasul itu ingin para pembacanya tahu bahwa Yesus adalah batu penjuru kehidupan gereja. Ia adalah pedoman yang dengannya semua kepercayaan dan perilaku harus diukur. Ungkapan Yesus adalah batu pondasi, batu penjuru, menimbulkan sedikit kesulitan, tetapi mengatakan tentang Tuhan bahwa Ia adalah "batu yang hidup" adalah sebuah kiasan yang berani. Petrus tidak takut. Sebagaimana kehidupan adalah kualitas yang melekat pada Allah, begitu juga halnya dengan Kristus (Yohanes 1:4). Yang orang Kristen sembah bukan Yesus yang mati, tapi Tuhan yang bangkit. Ia secara aktif terlibat dalam kehidupan gereja-Nya. Ketika umat-Nya berseru kepada Dia, Ia mendengar dan bertindak. Yesus hidup di sebelah kanan Allah; dari sana Ia akan datang lagi, dan kemudian harapan akan diwujudkan. Yesus itu hidup; Yesus adalah batu. Setiap kiasan membantu orang Kristen bertumbuh dalam pemahaman mereka tentang Tuhan yang mereka layani.

Orang Kristen menikmati pelbagai berkat Kristus hingga tingkatan mereka itu datang… kepada-Nya. Kata kerja yang sama yang Petrus gunakan, "datang" (prose÷rcomai, proserchomai), diterjemahkan "menghampiri" dalam Ibrani 4:16: "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia." Diundang oleh Allah untuk menghampiri Dia harus jangan dianggap enteng. Berada di hadirat Allah yang kudus adalah tugas yang mengagumkan. Ketika Yesaya melihat Allah di bait suci, ia diliputi rasa takut. "Celakalah aku! aku binasa! Sebab … mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam" (Yesaya 6:5). Bahkan seorang imam yang menghampiri Allah dengan tidak sopan adalah berbahaya, sebagaimana yang dialami oleh dua anaknya Harun (Imamat 10:1, 2). Datang ke dalam hadirat Allah, apakah untuk berdoa atau ibadah, tidak pernah merupakan masalah kecil, tapi orang Kristen menghampiri Dia dengan keyakinan. Juruselamat yang orang Kristen layani pernah menjadi manusia dan mati bagi dosa manusia; mereka telah mengecap bahwa Ia itu baik. Mungkin saja orang takut datang ke dalam hadirat Allah yang hidup, tetapi dengan Kristus sebagai pengantara, orang percaya bisa selalu "datang kepada-Nya."

Paradoksnya, "batu yang hidup" yang melalui siapa manusia menghampiri Allah telah "ditolak oleh manusia." "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya" (Yohans 1:11). Rasul itu mengikuti jejak Tuhan itu sendiri ketika ia mengingatkan para pembacanya bahwa Yesus adalah batu yang ditolak, tapi yang Allah telah pilih untuk menjadi batu penjuru rumah-Nya (Lukas 20:17). Yang lebih penting daripada penerimaan atau penolakan atas Dia oleh manusia adalah kenyataan bahwa Yesus adalah pilihan dan berharga bagi Allah. Terjemahan lain menulis "dipilih dan berharga" (NRSV, lihat KJV; NIV). Rasul itu telah menggunakan kata "dipilih" dan menerapkannya kepada para pembacanya (1:2). Implikasinya adalah bahwa sama seperti Yesus sudah dipilih dan berharga meski ditolak oleh manusia, para pembaca Petrus juga dipilih dan berharga bagi Allah meski mereka menanggung pelbagai pencobaan dari manusia. Penderitaan dan pencobaan mereka bukan petunjuk bahwa Allah telah meninggalkan mereka. Mereka sedang mengikuti jejak Yesus (2:21).

Ayat 5. Hanya ada sedikit keraguan bahwa Petrus ingin para pembacanya memikirkan bait suci di Yerusalem ketika ia menggunakan kata-kata rumah rohani. Dalam Perjanji-an Lama, "rumah" sering merupakan kata yang digunakan untuk bait suci.6Sulit bagi orang Yahudi untuk memutuskan hubungan dengan bait suci sebagai titik fokus bagi masyarakat mereka dan eksistensi kebangsaan mereka (Kisah 6:13, 14). Yesus telah mengisyaratkan bahwa Ia sendiri, tubuh-Nya sendiri, akan menggantikan bait suci itu sebagai faktor paling penting dalam hubungan Allah dengan umat pilihan-Nya (Yohanes 2:19-21). Bait suci adalah lembaga hukum Musa dan kehidupan nasional Yahudi. Mengapakah orang Kristen tidak meninggalkan gagasan itu? Jawaban bagi pertanyaan itu untuk Petrus adalah bahwa bait suci bisa mengajarkan orang Kristen hal-hal penting tentang siapa mereka. Setelah mengatakan bahwa Yesus adalah "batu yang hidup," rasul itu melanjutkan kiasan tentang bangunan dengan mengatakan bahwa orang Kristen "dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani."

Di antara konsep-konsep Perjanjian Lama yang ditolak penerimaannya oleh Perjanjian Baru adalah konsep bait Allah. Sebagaimana bait suci adalah tempat di mana Allah telah menempatkan nama-Nya dan membuat kehadiran-Nya diketahui dalam Perjanjian Lama, maka bait suci adalah tempat di mana Allah tinggal di dalam Perjanjian Baru.

Bait Tuhan tetap ada. Meski batu-batu pada bait suci dibukit itu sangat indah (Markus 13:1), namun batu-batu yang hidup pada bait suci yang baru adalah jauh lebih berharga. Ketimbang batu emas yang menyilaukan dan permata, batu-batu di rumah Allah dibuat indah dengan iman dan kebaikan kehidupan Kristen. Salah satu kiasan yang para penulis Perjanjian Baru suka gunakan adalah tentang gereja yang secara menakjubkan diletakkan bersama seperti rumah yang dibangun dengan baik, bait suci di mana Allah menetap (1 Korintus 3:16, 17; Efesus 2:21; Ibrani 3:6).

Adalah menarik bahwa Petrus tidak pernah menggunakan kata "gereja" di salah satu dari surat-suratnya itu. Pada saat yang sama, rasul itu sangat menyadari sifat komunal kehidupan Kristen. Dalam ayat 5 ia mengetengahkan interdependensi Kristen dengan menyebut orang-orang percaya secara kolektif sebagai "rumah rohani."Dalam 5: 2, ia menyebut mereka "kawanan domba Allah." Sama sekali tidak jelas apa yang Petrus ingin katakan tentang gereja Tuhan ketika ia menyebutnya "rumah rohani." "Rohani" digunakan dalam sejumlah cara yang berbeda dalam Perjanjian Baru. Pelbagai kemungkinannya mencakup hal-hal berikut ini: (1) Gereja adalah "rumah rohani" karena gereja tidak dibuat dari bahan-bahan materi. Tampaknya itu adalah arti kata itu dalam ungkapan "korban rohani" (juga dalam 2:5), "batu rohani" (1 Korintus 10:4) dan "tubuh rohani" (1 Korintus 15:44). (2) Paulus menegaskan bahwa Roh Kudus tinggal di dalam orang Kristen (Roma 8:4-16). Gereja mungkin adalah "rumah rohani" karena Roh Kudus tinggal di dalamnya. (3) Pokok pikirannya mungkin adalah bahwa gereja adalah "rumah rohani" karena Roh Kudus membimbing dia. Gereja adalah rohani sebagaimana Taurat adalah rohani (Roma 7:14), atau pelbagai karunia adalah rohani (1 Korintus 12:1)-"karena mereka semua adalah alat yang digunakan oleh Roh untuk mencapai apa yang Ia kehendaki. Kemungkinan yang ketiga adalah yang terbaik. Umat Allah adalah "rumah rohani" yang terdiri dari batu-batu yang hidup karena Roh Kudus bekerja di dalam dan melalui gereja.

Pemahaman orang tentang apa arti kata "rohani" akan mempengaruhi penafsirannya atas kata kerja membangun. Itu mungkin sebuah pernyataan, "Kamu sedang dibangun," atau sebuah perintah, "bangunlah irimu sendiri." Dalam contoh ini bahasa Yunani tidak membuat perbedaan antara kata kerja dalam modus indikatif atau imperatif. Alkitab NRSV memahami kata kerja itu sebagai imperatif, sedangkan Alkitab NASB memahami kata kerja itu sebagai indikatif. Alkitab NASB memiliki kasus yang lebih baik. Ketika orang-orang percaya berbagi kehidupan tubuh Kristus, Roh Kudus bekerja di antara mereka untuk membangun mereka ke dalam "rumah rohani" yang akan menjadi kemuliaan Allah.

Seperti sebuah kaleidoskop, Petrus merubah gambarannya dari batu, kepada bait suci, kepada para imam yang mempersembahkan korban, kepada korban-korban itu sendiri. Orang-orang percaya adalah batu, bait suci, dan imamat kudus. Di bawah hukum Musa para imam berdiri di antara umat itu dan Allah. Hanya para imam yang boleh mempersembahkan korban. Saul, raja pertama Israel, mengecewakan Allah karena mempersembahkan korban ketika ia bukan seorang imam (1 Samuel 13:8-14). Tidak semua orang Israel adalah imam, tapi semua orang Kristen adalah imam. Imamat semua orang percaya adalah imamat yang agung yang menyerukan Reformasi (Wahyu 1:6), meski konsep itu tidak dikenal dalam Taurat (Keluaran 19:6; lihat Yesaya 61:6). Seperti anak-anak Harun yang memiliki hak istimewa untuk menghampiri Allah untuk mempersembahkan pelbagai persembahan Israel, orang Kristen bisa datang dengan keyakinan ke dalam hadirat Tuhan, dengan mempersembahkan persembahan mereka sendiri. Allah tidak membedakan orang. Setiap anak-Nya dapat menghampiri Dia karena masing-masing adalah imam sesuai haknya sendiri.

Sebagaimana orang-orang percaya dibangun menjadi "rumah rohani," begitu juga mereka harus mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Kata Yunani dan kata Ibrani untuk "korban" menunjukkan persembahan darah. Sebuah korban adalah hewan yang disembelih, tapi kata itu akhirnya digunakan secara kiasan untuk hal-hal lain yang dipersembahkan kepada Allah. Pemazmur menulis, "Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah" (Mazmur 50:14); "Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran" (Mazmur 51:16). Secara jelas penulis kitab Ibrani tidak berpikir tentang pengorbanan darah ketika ia menulis, "Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya" (Ibrani 13:15).

Ketika Alkitab diterjemahkan dari bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam bahasa Latin, kadang-kadang bahasa Latin menggunakan kata sacrificium, yang berarti "persembahan yang sakral," "persembahan yang dipersembahkan kepada Allah." Karena tidak memiliki kata yang artinya "persembahan darah," pelbagai terjemahan bahasa Inggris secara tetap meminjam dari bahasa Latin dan menerjemahkan kata-kata yang artinya "persembahan darah" dengan kata "sacrifice [pengorbanan]." Itu bukan pilihan yang buruk. Pengorbanan, pada kenyataannya, adalah persembahan yang umat Allah bawa untuk diberikan kepada Dia. Sangat disayangkan bahwa dalam penggunaan populer arti "pengorbanan" telah berubah. Maknanya adalah "memberikan persembahan kepada Allah," tetapi bagi kebanyakan orang moderen berkorban berarti "menyangkal diri atas sesuatu." Pengorbanan tidak seharusnya memusatkan perhatian pada penyangkalan diri si penyembah, tetapi pada keinginannya untuk mengungkapkan kasihnya dengan pemberian. Bahwa orang Kristen dapat memberikan apa saja kepada Allah adalah luar biasa. Allah membolehkan kita untuk memberikan sesuatu kepada Dia karena memberi melekat dalam pengungkapan kasih itu sendiri.

Ayat 6. Rasul itu menerima begitu saja bahwa kutipan dari Kitab Suci, yaitu Perjanjian Lama, akan memperkuat apa yang ia telah tegaskan dalam ayat 4 dan 5. Dalam wahyu Allah kepada Israel, umat Kristen menemukan Yesus dari Nazaret. Petrus menawarkan sekumpulan ayat: Yesaya 28:16; Mazmur 118:22; Yesaya 8:14. Tema umum nas-nas itu bukan tentang latar belakang mereka di dalam Perjanjian Lama bukan juga tentang apa yang mereka ajarkan. Justru tema itu adalah tentang penggunaan kata "batu." Nas pertama, Yesaya 28:16, bukanlah kutipan yang tepat dari LXX, tapi me-ngandung banyak kata yang sama. Ungkapan terakhir, "Dan siapa yang percaya …," adalah kata demi kata dari LXX. Paulus mengutip nas yang sama dalam Roma 9:33 di mana ia satukan bersama Yesaya 8:14. Maksud yang Paulus buat dengan kutipan itu adalah bahwa Yesus telah ditolak oleh orang Yahudi.

Pembaca yang meneliti Yesaya 28:16 dalam konteks akan segera melihat bahwa nabi itu telah menulis tentang mereka "yang memerintah rakyat … di Yerusalem ini!" (Yesaya 28:14). Ia sedang bicara tentang para pemimpin agama Israel. Melalui nabi itu, Allah menjanjikan penguasa lain yang, berbeda dengan para penguasa saat ini, akan "membuat keadilan menjadi tali pengukur, dan kebenaran menjadi tali sipat" (Yesaya 28:17). Apakah Yesaya berpikir tentang Yesus ketika ia menulis? Tidak ada cara untuk mengetahuinya, tetapi Petrus yang dirinya adalah seorang rasul terilham dan nabi berpendapat bahwa Yesus, pada kenyataannya, adalah batu penjuru yang mahal yang Allah telah letakkan di Sion. Sebagai batu penjuru, Yesus telah menjadi ukuran dari semua yang Allah inginkan dalam umat-Nya. Setiap batu yang hidup dalam bangunan itu, semua orang Kristen, mencari orientasi mereka kepada Allah dan sesama mereka orang percaya melalui hubungan mereka dengan batu penjuru itu. Dengan mengutip Yesaya 28:16, Petrus pada saat yang sama menggambarkan keberlanjutan antara Israel jasmani dan rohani dan menunjukkan bahwa Allah telah melakukan sesuatu yang baru secara radikal di dalam Kristus. Ernest Best menulis bahwa di dalam Kristus "Allah telah menciptakan sesuatu yang baru, penebusan umat manusia."7

"Sion," dinyatakan dengan benar, adalah kota Daud, punggung bukit selatan yang mengarah ke bukit bait suci (2 Samuel 5:7). Seiring waktu, dengan gaya bahasa metonimi, nama itu akhirnya diterapkan ke seluruh Yerusalem (Mazmur 102:21) dan kemudian khususnya ke bukit bait suci (Yesaya 8:18; Mikha 4:7). Karena Petrus baru saja menegaskan bahwa Yesus dan orang-orang yang percaya kepada Dia adalah "batu yang hidup" dalam "rumah rohani," maka dalam ayat ini "Sion" kemungkinan merupakan acuan kepada bukit bait suci.

Mengenai Yesus, batu yang terpilih yang diletakkan di "Sion," Petrus berkata bahwa siapa saja yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." Ia menggunakan bentuk negatif ouj mh÷ (ou m-") yang kuat, tegas. Sama sekali tidak ada kemungkinan bahwa percaya kepada Dia akan menimbulkan kekecewaan. Kata Yunani kataiscu/nw (kataischunō), yang diterjemahkan "kecewa "dalam NASB, umumnya diterjemahkan "dibuat malu." Alkitab NIV menulis" tidak akan pernah dipermalukan." Ketika orang beriman kepada Kristus, tidak akan pernah ada kesempatan untuk penghinaan dan permaluan. "Dipermalukan" memiliki komponen sosial yang lebih kuat dalam dunia Yunani-Romawi dibandingkan yang disiratkan oleh kata Inggris. Dalam bahasa Inggris sekarang ini perasaan malu sebagian besar merupakan perasaan batin, kejiwaan. Orang-orang di dunia Yunani di mana Petrus hidup akan sudah menganggap perasaan malu dalam hal kehilangan muka di hadapan rekan-rekan atau, mungkin di hadapan Allah.

Ayat 7. Banyak komentator berpendapat bahwa di mana Alkitab NASB menulis nilai yang mahal ini, lalu, adalah untuk kamu yang percaya, terjemahan yang lebih baiknya akan berupa "Oleh karena itu kehormatan adalah untuk kamu orang-orang percaya." Terjemahan itu bukan hanya cocok dengan tata bahasa secara lebih baik, namun juga memberikan perbedaan yang bagus dengan "perasaan malu" di akhir 2:6. Francis Wright Beare adalah salah seorang di antara mereka yang mendukung terjemahan ini. Ia menulis, "Kehormatan yang diberikan kepada orang-orang percaya adalah bagian kehormatan yang Allah telah berikan kepada Kristus, dengan siapa mereka bersatu dalam membangun rumah rohani."8Para penerjemah Alkitab NASB memahami frasa Yunani itu secara berbeda daripada yang Beare pahami. Mereka memahami "nilai yang mahal" yang dikumpulkan untuk orang Kristen adalah tindakan Allah dalam meletakkan batu yang mahal di Sion.

Kutipan di Mazmur 118:22 (117: 22 dalam LXX) menggambarkan akibat bagi orang-orang yang tidak percaya. Yesus mengutip mazmur itu dalam Matius 21:42, dan Petrus kutip dalam Kisah 4:11. Dalam kedua kasus itu yang menolak Yesus adalah kepemimpinan Yahudi yang adalah tukang-tukang bangunan. Maksud Petrus di sini tidak berbeda secara radikal daripada maksud yang Yesus nyatakan atau yang ia buat dalam Kisah 4:11. Kepemimpinan Yahudi itu tetaplah tukang-tukang bangunan yang menolak Kristus, sang batu. Meski itu yang terjadi, Petrus menyatakannya di hadapan dunia non-Yahudi pada umumnya, Allah telah membuat batu yang dibuang sebagai batu penjuru. Ungkapan Yunani yang lebih harfiah adalah "kepala sudut" (KJV; ASV).

Sepertinya "kepala sudut" tidak bermakna sesuatu yang berbeda selain makna batu penjuru yang diletakkan di Sion di 2:6, meski "batu penjuru" itu sendiri bisa mengacu kepada batu utama. Dalam konteks ini, "batu penjuru" dalam ayat sebelumnya (2:6), dan "batu sandungan" dalam ayat setelahnya (2:8), menyiratkan bahwa "kepala sudut" dan "batu penjuru" adalah sama. Orang akan sulit tersandung batu utama, karena ia terletak tinggi dalam bangunan batu. Bahwa Allah telah menjadikan Yesus "batu penjuru" adalah kesaksian kepada orang-orang yang tidak percaya. itu menyatakan bahwa Allah aktif dalam kehidupan Yesus dan kehidupan umat-Nya.

Ayat 8. Bagian pertama dari ayat ini, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan" (ay. 7h; TB), adalah terjemahan longgar atas Yesaya 8:14 dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Bicara melalui nabi Yesaya, Allah menegaskan bahwa Ia adalah kudus dan harus ditakuti. Mereka yang membentuk konspirasi harus jangan ditakuti. Allah adalah tempat perlindungan bagi mereka yang percaya kepada Dia, tetapi bagi orang-orang Yehuda dan Israel Ia telah menjadi batu yang membuat orang tersandung. Petrus melihat dalam kata-kata Yesaya yang berlaku bagi orang-orang sezamannya. Bagi mereka yang tidak percaya, Allah bukan saja sudah membuat Yesus batu penjuru, namun Ia telah menjadi sandungan, suatu kesempatan untuk tersandung. Petrus hanya memikirkan dua kelompok orang. Ada orang-orang yang percaya kepada Yesus dan orang-orang yang tersandung dan tidak percaya.

Bagian terakhir ayat ini memang sulit. Secara harfiah itu berbunyi, "dan untuk itu mereka juga telah disediakan." Para teolog Reformed telah dengan cepatnya melihat adanya predestinasi individu dalam ayat tersebut. Masalah dengan penafsiran itu adalah bahwa di sepanjang surat itu Petrus telah meminta para pembacanya untuk taat, berpaling dari dosa, bersikap bijaksana, berharap dengan sungguh-sungguh, dan hal-hal lain seperti itu. Jika para pembaca Petrus telah ditetapkan secara individu menuju hidup kekal atau hukuman kekal lewat tindakan Allah yang berdaulat dalam kekekalan yang tak kenal waktu, maka pelbagai nasihat rasul itu merupakan ejekan belaka. Tidak masuk akal bagi Allah untuk memanggil manusia melakukan apa yang Ia sudah tetapkan harus mereka lakukan. Alkitab NASB menempatkan kata "malape-taka" dalam huruf miring dalam kalimat ke dalam malapetaka ini mereka juga ditetapkan. Huruf miring menunjukkan bahwa kata itu dipasok oleh para penerjemah.

Makna Petrus adalah bahwa Allah sudah mengetahui bahwa beberapa orang akan tersandung dan menjadi tidak taat , bahkan ketika Ia mengutus Anak-Nya sebagai Penebus. Seharusnya tidak ada kesempatan untuk terkejut bagi para pembaca Petrus bahwa beberapa orang akan tersandung. Dalam pikiran Petrus tidak ada individu-individu, yang beberapa di antaranya ditetapkan untuk tidak taat. Sebaliknya ia menegaskan bahwa rencana Allah bagi penebusan manusia telah dicapai dengan kesadaran penuh bahwa beberapa orang akan percaya kepada Kristus dan beberapa orang akan tersandung.





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Jumat, 30 Juni 2023 – Menjadi Batu Penjuru Ataukah Batu Sandungan! – 1 Petrus 2:7-8

Sebelum:
Khotbah GMIM Minggu, 25 Juni 2023 - JADILAH BATU PENJURU YANG HIDUP UNTUK PEMBANGUNAN IMAN - 1 Petrus 2:1-10




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,