|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2023 Minggu, 18 Juni 2023 Khotbah MTPJ GMIM Minggu, 18 Juni 2023 - IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN FIRMAN - Roma 10:16-21 Roma 10:16-21 Ketidakpercayaan Israel 10:16 Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. 10:18 Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi." 10:19 Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal." 10:20 Dan dengan berani Yesaya mengatakan: "Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku." 10:21 Tetapi tentang Israel ia berkata: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah." Penjelasan: * Rm 10:16 Sekalipun kabar baik dari Allah diberitakan, ini tidak berarti bahwa para pendengarnya menaati kabar baik itu. Paulus mengutip Yesaya sebagai bertanya, 'Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" (bdg. Yes. 53:1). * Rm 10:17 - iman // pendengaran // Firman Kristus. Sang rasul berkesimpulan bahwa iman timbul dari pendengaran. Dan pendengaran timbul oleh Firman Kristus. 18. Sebab Israel memiliki baik para utusan yang memberitakan kabar baik maupun kabar baik itu sendiri, lalu mengapa orang-orang Yahudi tidak menaatinya? Sang rasul membahas dua dalih yang bisa dikemukakan. Adakah mereka tidak mendengarnya? Mereka sudah mendengar. Paulus mengutip Mazmur 19:5 yang semula berbicara tentang pemberitaan kemuliaan dan kuasa Allah secara universal oleh alam. Sang rasul memakai kata-kata pemazmur ini untuk Injil - suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Dalih kedua berhubungan dengan kegagalan untuk memahami. * Rm 10:19 - Adakah Israel menanggapnya? Adakah Israel menanggapnya? Tidak, walau mereka sudah mengetahui. Musa adalah orang pertama yang mengatakan bahwa Allah akan mempergunakan suatu bangsa yang tidak tahu apa-apa untuk membuat orang Yahudi iri dan marah (bdg. Ul. 32:21). Orang-orang Yahudi bukan hanya telah mendengarkan pemberitaan mengenai Kristus, tetapi mereka juga mengetahui bahwa Allah akan memperhatikan bangsa-bangsa lain di samping mereka. * Rm 10:20 - Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku. Paulus mengutip nabi Yesaya sebagai membenarkan pernyataan ini (Yes. 65:1, 2). Sebetulnya, dua ayat yang dikutip dari Yesaya mengacu kepada Israel yang tidak taat. Tetapi di dalam Roma 10:20 ini penulis memakai Yesaya 65:1 untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi. Di dalam Roma 10:21 sang rasul memakai Yesaya 65:2 untuk Israel. Memakai kalimat Yesaya 65:1 untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi sama dengan memakai Hosea 2:23 dan 1:10 (bdg. Rm. 9:25-26) untuk mereka. Sang rasul menggambarkan Allah sebagai berfirman kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi: Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku. 21. Sebaliknya, Tuhan meminta dengan sangat kepada Israel - Dia mengulurkan tangan-Nya kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah. * Pentingnya Memberitakan Injil; Kedegilan Bangsa Israel (Roma 10:16-21) Bagian awal perikop di atas menunjukkan maksud Rasul Paulus melalui ayat-ayat ini, yaitu untuk mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, sebab keduanya memiliki kedudukan yang setara dalam hal penerimaan oleh Allah. Dalam Yesus Kristus tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi (Kol. 3:11). Allah tidak menyelamatkan atau menolak orang-orang tertentu hanya karena mereka orang Yahudi, atau karena mereka orang Yunani. Sebaliknya, Ia memperlakukan mereka tanpa pandang bulu, berdasarkan syarat-syarat Injil: Tidak ada perbedaan. Untuk membuktikannya, Paulus mengemukakan dua hal: I. Bahwa Allah itu sama bagi semua orang: Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang. Tidak benar bahwa ada satu Allah yang lebih baik bagi orang Yahudi, dan satu lagi Allah lain yang kurang baik bagi orang bukan Yahudi. Tetapi, Dia itu sama bagi semua orang, Bapa bagi seluruh umat manusia. Saat Dia mengumandangkan nama-Nya, Tuhan, Tuhan Allah, pengasih dan penyayang, Ia tidak hanya menunjukkan jati diri-Nya bagi bangsa Yahudi saja, tetapi juga menunjukkan siapa Dia dan akan seperti apa Dia bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya yang mencari Dia. Dia bukan hanya baik, tetapi juga kaya dan berlimpah dengan kebaikan: Dia dapat menyediakan segala hal bagi mereka dan memberikan segalanya untuk mereka dengan murah hati. Dia mampu dan mau: bukan hanya kaya, tetapi kaya bagi kita, leluasa melimpahkan kebaikannya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Untuk menikmati kemurahan-Nya, kita hanya perlu melakukan satu hal kecil saja, yaitu berseru kepada-Nya. Allah menginginkan supaya umat-Nya meminta kepada-Nya (Yeh. 36:37), dan tentu saja apa yang tidak layak diminta tidak layak diperoleh. Kita hanya perlu berdoa setiap kali berkesempatan melakukannya. II. Bahwa janji itu berlaku bagi semua orang (ay. 13): barangsiapa yang berseru, yaitu orang per orang, tanpa kecuali. Kesamaan hak yang dimiliki bangsa Yahudi dan bangsa bukan Yahudi untuk memperoleh janji ini tidaklah mengejutkan menurut Paulus, sebab hal itu sudah dinubuatkan oleh sang Nabi (Yl. 2:32). Di sini, berseru kepada nama Tuhan mencakup semua pelaksanaan ibadah agama. Apa itu kehidupan seorang Kristen kalau bukan kehidupan doa? Ini menyiratkan ketergantungan kita kepada-Nya, pengabdian diri kita secara menyeluruh bagi-Nya, dan pengharapan dalam iman mengenai segala hal dari-Nya. Maka dari itu, orang yang berseru kepada-Nya akan diselamatkan. Hanya perlu meminta dan menerima. Apa lagi yang kita inginkan selain dari itu? Untuk menggambarkannya lebih lanjut, Paulus menelaah, 1. Betapa perlunya Injil diberitakan kepada bangsa bukan Yahudi (ay. 14-15). Inilah yang menyebabkan orang-orang Yahudi begitu geram terhadap Paulus, yaitu bahwa dia menjadi rasul bagi bangsa bukan Yahudi dan memberitakan Injil kepada mereka. Kini ia menunjukkan bagaimana pentingnya membawa mereka mendekat kepada janji yang telah disebutkan tadi. Janji ini sebenarnya merupakan suatu kepentingan yang tidak seharusnya mereka cemburui dari sesama makhluk ciptaan. (1) Mereka tidak dapat berseru kepada Dia yang tidak mereka percayai. Mereka tidak akan berseru kepada-Nya melalui doa, kecuali jika mereka percaya bahwa Dia itu Allah. Jika tidak demikian, untuk apa mereka berdoa? Anugerah iman mutlak diperlukan supaya orang bisa melakukan kewajiban doa mereka. Tanpanya, kita tidak dapat berdoa dengan benar, dan doa kita tidak akan diterima. Orang yang datang kepada Allah melalui doa harus percaya (Ibr. 11:6). Sebelum mereka percaya kepada Allah yang sejati, mereka hanyalah berseru kepada berhala-berhala, Ya Baal, jawablah kami. (2) Mereka tidak dapat percaya kepada Dia yang tidak pernah mereka dengar. Pewahyuan ilahi harus dibukakan kepada kita, bagaimana pun caranya, sebelum kita dapat mene rima dan berserah di dalamnya, sebab hal itu tidaklah dilahirkan bersama-sama dengan kita. Mendengar juga mencakup membaca, yang sama pentingnya dan telah menyebabkan banyak orang menjadi percaya (Yoh. 20:31): Semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya. Tetapi di sini hanya mendengar saja yang disebutkan, sebagai cara yang lebih biasa dan alamiah dalam menerima informasi. (3) Mereka tidak dapat mendengar tanpa seorang pemberita. Bagaimana mereka bisa, jika tidak ada yang memberitakan? Harus ada orang yang memberi tahu mereka apa yang harus mereka percayai. Para pemberita dan pendengar saling terkait. Berbahagialah mereka saat bisa bergirang satu dengan yang lainnya. Para pendengar bersuka karena kecakapan dan kesetiaan sang pemberita, dan sang pemberita bersuka karena kerelaan dan ketaatan para pendengar. (4) Mereka tidak dapat memberitakan jika mereka tidak diutus, jika mereka tidak ditugasi dan dengan demikian dilayakkan untuk memberitakan Injil. Bagaimana mungkin seseorang berlaku sebagai seorang duta jika dia tidak memiliki surat kuasa dan perintah dari penguasa yang mengutusnya? Hal ini membuktikan bahwa pengutusan dan pelantikan resmi wajib diadakan bagi pelayanan yang teratur. Mengutus para pelayan merupakan hak istimewa Allah. Dia-lah Tuan yang empunya tuaian, dan karena itu, kepada Dia-lah kita harus berdoa supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Mat. 9:38). Hanya Dia saja yang dapat memperlengkapi manusia dan menggerakkan mereka untuk bekerja di ladang pelayanan. Namun, kecakapan yang dikaruniakan Allah dan ketulusan niat untuk melayani tidak boleh dinilai oleh orang itu sendiri, meski hal ini lumrah terjadi. Akan tetapi, demi keteraturan dalam gereja, keduanya harus diserahkan dan ditangani oleh sejumlah orang yang juga pelayan Allah, yang memiliki hikmat serta pengalaman di dalamnya. Sebagaimana dalam panggilan-panggilan lainnya, mereka dianggap sebagai hakim yang paling cakap, yang diperlengkapi untuk memilih orangorang yang dinilai layak dan terpanggil untuk melayani, sehingga nama Kristus terus bergaung sampai selama-lamanya, dan takhta-Nya seumur langit. Lalu, orang-orang yang telah dipilih itu bukan saja dimampukan, tetapi juga diwajibkan memberitakan Injil, sebagai orang-orang yang telah diutus. 2. Bagaimana Injil harus disambut dengan gembira oleh orang-orang yang mendengarnya, sebab Injil menunjukkan jalan keselamatan (ay. 15). Untuk tujuan inilah Paulus mengutip Yesaya 52:7. Kita juga bisa membaca perikop lainnya (Nah. 1:15). Di sana, kabar gembira tentang kebebasan bangsa Israel dari Babilonia sebenarnya melambangkan dan melihat jauh kepada Injil, yang merupkan kabar baik tentang keselamatan kita melalui Yesus Kristus. Perhatikanlah, (1) Apa sebenarnya Injil itu: Itu Injil damai sejahtera. Ialah firman pendamaian antara Allah dan manusia. Damai sejahtera di bumi (Luk. 2:14). Atau juga, damai sejahtera dimaksudkan untuk menunjukkan semua hal baik secara umum. Inilah yang diterangkan di sini, yaitu kabar baik. Hal-hal di dalam Injil memang baik, hal-hal yang terbaik. Berita mengenainya merupakan berita yang paling menyukakan hati, berita terindah yang pernah datang dari sorga ke bumi. (2) Apa pekerjaan para hamba Tuhan: Untuk memberitakan Injil ini, untuk membawa kabar baik ini, untuk memberitakan damai sejahtera (begitulah teks aslinya), untuk memberitakan hal-hal baik. Setiap pemberita Injil yang baik juga merupakan penyebar kabar baik: dia bukan saja seorang utusan pembawa berita, melainkan juga seorang duta untuk menjadi teladan. Pemberita Injil yang pertama adalah para malaikat (Luk. 2:13, dst.). (3) Betapa terhormatnya para hamba Tuhan itu di hadapan anak-anak manusia, oleh karena tugas mereka tadi: Betapa indahnya kedatangan (KJV: kaki-kaki) mereka. Artinya, betapa mereka layak disambut! Maria Magdalena mengungkapkan kasihnya terhadap Kristus dengan menciumi kaki-Nya, dan setelah itu dengan memeluk kaki-Nya (Mat. 28:9). Lalu, ketika Kristus mengutus murid-murid-Nya, Dia membasuh kaki mereka. Orang-orang yang mengabarkan Injil damai sejahtera harus menjaga kaki mereka (yaitu hidup dan perilaku mereka) supaya selalu indah: kekudusan kehidupan para hamba Allah merupakan keindahan kaki mereka. Betapa indahnya! yaitu, indah di mata orang-orang yang mendengarkan mereka. Orang-orang yang menyambut kabar itu tentunya juga mengasihi para pemberitanya (1Tes. 5:12-13). 3. Paulus memberi jawaban atas keberatan-keberatan yang diajukan, yang mungkin timbul akibat kurangnya penerimaan Injil di banyak tempat (ay. 16): Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Tidak semua orang Yahudi, tidak semua orang bukan Yahudi. Kebanyakan dari mereka justru tetap tidak percaya dan tidak taat. Perhatikanlah, Injil diberikan kepada kita bukan hanya untuk diketahui dan dipercayai, tetapi juga untuk ditaati. Injil bukanlah sekumpulan paham semata, melainkan aturan-aturan untuk dijalankan. Kurangnya penerimaan terhadap Injil telah dinubuatkan sebelumnya oleh sang nabi (Yes. 53:1): Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar? Hanya sedikit saja. Ini di luar dugaan, mengingat betapa berita itu begitu benar dan layak disambut. Sedikit saja yang percaya, dibandingkan banyak orang yang berkeras hati untuk tidak mau percaya. Memang bukan hal yang aneh, tetapi sangat menyedihkan dan menyusahkan hati para hamba Kristus yang datang membawa berita Injil dan tidak dipercayai di dalam pemberitaan mereka itu. Keadaan memilukan seperti inilah yang menjadi kesempatan baik bagi kita untuk datang kepada Allah dan berkeluh kesah di hadapan-Nya, Tuhan, siapakah yang percaya, dst. Menanggapi keluhan ini, (1) Paulus menunjukkan bahwa firman yang diberitakan merupakan sarana lumrah dari iman yang bekerja (ay. 17): Jadi, ara -" bagaimanapun juga. Meski banyak orang yang mendengarnya tidak percaya, akan tetapi orang-orang yang percaya pasti mendengarnya terlebih dahulu. Iman timbul dari pendengaran. Ini merupakan ringkasan dari apa yang telah ia katakan sebelumnya (ay. 14). Permulaan, pertumbuhan, dan kekuatan iman diperoleh melalui pendengaran. Karena itulah firman Allah disebut juga firman iman: firman yang menghasilkan dan memelihara iman. Allah mengaruniakan iman, tetapi dengan memakai firman sebagai sarananya. Pendengaran (pendengaran yang menimbulkan iman) timbul oleh firman Kristus. Pertumbuhan iman tidak dicapai dengan mendengarkan kata-kata indah yang bersumber dari hikmat manusia, melainkan mendengarkan firman Allah dan mendengarnya sebagai firman Allah (1Tes. 2:13). (2) Bahwa orang-orang yang telah mendengar pemberitaan Injil tetapi tetap tidak mempercayainya, tidak akan diampuni karenanya dan akan menyesali kebinasaan mereka sendiri nantinya (ay. 18), sampai kesudahannya. [1] Bangsa bukan Yahudi sudah mendengarnya (ay. 18): Adakah mereka tidak mendengarnya? Ya, kurang lebih begitu. Mereka pasti telah mendengar Injil, atau setidaknya, pernah mendengar tentangnya. Suara mereka sampai ke seluruh dunia. Bukan semata suara yang samar-samar saja, tetapi juga perkataan mereka (kalimat-kalimat yang jelas dan dapat dimengerti mengenai kabar tersebut) sampai ke ujung bumi. Jadi, beginilah amanat yang diterima para murid: Pergilah ke seluruh dunia, kabarkan ke segala makhluk, jadikan semua bangsa menjadi murid-murid. Dan mereka melakukan amanat itu dengan ketekunan dan keberhasilan yang luar biasa. Lihatlah cakupan wilayah yang telah dijelajahi Paulus (15:19). Beberapa tahun setelah kenaikan Kristus, gaung dan perkataan dari kabar Injil juga mendatangi wilayah pulau Inggris yang terpencil ini, salah satu penjuru dunia yang terjauh. Inilah mengapa karunia bahasa lidah diberikan secara melimpah pertama-tama kepada para rasul (Kis. 2). Di sini Paulus jelas-jelas merujuk pada Mazmur 19:5, yang membicarakan tentang pekerjaan Allah yang nyata di dalam ciptaan-Nya yang mengumandangkan kepada seluruh dunia mengenai kuasa dan ke-Allah-an sang Pencipta. Sebagaimana dalam Perjanjian Lama Allah memakai matahari, bulan, dan bintang untuk mengumandangkan karya penciptaan-Nya, demikian pula Ia memakai pemberitaan Injil oleh para hamba-Nya untuk mengu mandangkan karya penebusan-Nya bagi seluruh dunia. Karena itulah hamba-hamba-Nya juga disebut bintang-bintang. [2] Bangsa Yahudi juga telah mendengarnya (ay. 19-21). Paulus mengemukakan dua perikop dari Perjanjian Lama untuk menunjukkan bahwa mereka pun tidak luput dari penghukuman. Adakah Israel menanggapnya dan mengetahui bahwa bangsa bukan Yahudi juga dilibatkan? Mereka mungkin telah mengetahuinya dari Musa dan Yesaya. Pertama, salah satunya diambil dari Ulangan 32:21, Aku akan membangkitkan cemburumu.Bangsa Yahudi bukan saja yang pertama ditawari, tetapi juga menyaksikan bangsa bukan Yahudi menerima penawaran itu dan berkat di dalamnya, dan hal itu menggeramkan mereka. Bangsa Yahudi selalu menolak: bagi kamulah pertama-tama(Kis. 3:26). Di semua tempat yang didatangi oleh para rasul, orang-orang Yahudi selalu mendapat kesempatan pertama, sedangkan orang-orang bukan Yahudi mendapat sisanya. Jika yang satu menolak, yang lain mendapat kesempatan untuk memperolehnya. Inilah yang membangkitkan cemburu bangsa Yahudi. Mereka seperti sang kakak dalam perumpamaan anak yang hilang (Luk. 15), yang merasa iri karena si bungsu disambut dan diterima setelah ia bertobat. Di sini bangsa Yahudi disebut sebagai orang-orang yang bukan umatdan bangsa yang bebal,artinya bukan umat yang mengakui Allah. Tidak peduli seberapa banyaknya akal budi dan hikmat dunia ini, orang-orang yang bukan umat Allah dinamakan bangsa yang bebal, dan akan terbukti demikian pada akhirnya nanti. Demikianlah keadaan bangsa bukan Yahudi sebelum dijadikan umat Allah dan sebelum menerima Kristus sebagai hikmat Allah. Betapa tertusuknya hati orang-orang Yahudi melihat bangsa bukan Yahudi mendapat berkat itu, seperti yang bisa kita lihat (Kis. 13:45; 17:5, 13, dan terutama Kis. 22:22). Hal ini merupakan contoh dari kejahatan besar bangsa Yahudi, yaitu bahwa mereka dikuasai amarah oleh karenanya. Dalam Kitab Ulangan, sikap mereka itu begitu mengancam. Allah sering kali menjadikan dosa manusia sebagai hukuman mereka sendiri. Tidak ada hal yang lebih menyusahkan hati seorang manusia daripada amarah yang ditimbulkan oleh nafsunya sendiri. Kedua, yang lain terambil dari Yesaya 65:1-2, yang begitu jelas. Di dalamnya, Yesaya sangat berani, betul-betul berani, membeberkan dengan jelas penolakan rekan-rekan sebangsanya. Orang-orang yang ingin didapati setia memang harus memiliki banyak keberanian. Mereka yang bertekad untuk menyenangkan Allah tidak boleh takut mengecewakan manusia. Nah, Yesaya berbicara dengan jelas dan berani, a. Mengenai kasih karunia yang mendahului dan kebaikan Allah yang berkenan menerima dan menjamu bangsa bukan Yahudi (ay. 20): Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku. Ada resep demikian: carilah, maka akan ditemukan. Itu hanya berlaku bagi kita, tapi tidak bagi Allah, yang sering kali ditemukan oleh orang-orang yang tidak mencari-Nya. Kasih karunia yang luar biasa itu adalah milik-Nya, dan Dia memakainya sesuai dengan kedaulatan-Nya, mengaruniakan dan menahan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dia mempersiapkan kita untuk menerima berkat-berkat dari-Nya, berkat terpilih yang terbaik dari kebaikan-Nya. Demikianlah Ia menyatakan diri-Nya kepada bangsa bukan Yahudi, yaitu dengan mengirimkan cahaya Injil ke tengah-tengah mereka, bahkan ketika mereka belum mencari dan menanyakan-Nya, malah masih mengikuti kebohongan yang sia-sia dan melayani berhala-berhala yang bisu. Tidakkah hal serupa juga terjadi atas diri kita? Bukankah Allah yang telah memulai dalam kasih dan menyatakan diri-Nya kepada kita saat kita tidak mencari-cari Dia? Dan bukankah kejadian itu sungguh merupakan sebuah saat pengungkapan kasih yang layak dikenang dengan rasa syukur yang melimpah? b. Mengenai kekerasan hati dan kebebalan bangsa Israel, meskipun mereka yang pertama kali diberi ke sempatan dengan ajakan-ajakan yang penuh kasih (ay. 21). Perhatikanlah, (a) Kebaikan Allah yang begitu melimpah bagi mereka: Sepanjang hari aku telah mengulurkan tangan-Ku. [a] Tawaran-Nya: Aku telah mengulurkan tanganKu, menawari mereka hidup dan keselamatan dengan sungguh-sungguh dan tulus hati, dengan segala cara yang penuh kasih dan kesungguhan, menunjukkan kepada mereka tawaran kebahagiaan, memperhadapkannya di depan mereka dengan bukti-bukti hebat, menerangkan perkaranya kepada mereka. Mengulurkan tangan merupakan sikap tubuh orang-orang yang ingin didengarkan (Kis. 26:1) atau menginginkan penerimaan (Ams. 1:24). Kristus disalibkan dengan tangan yang terulur. Mengulurkan tangan-Ku untuk menawarkan pendamaian. Mari berjabat tangan dan menjadi kawan. Dan tugas kita adalah mengulurkan tangan kepada-Nya (2Taw. 30:8). [b] Kesabaran-Nya dalam memberi tawaran-tawaran ini: Sepanjang hari. Kesabaran Allah begitu luar biasa dalam menghadapi para pendosa yang membangkitkan amarah. Dia begitu pengasih. Kesabaran Allah di sini disebut sebagai hari, terang bagaikan hari dan cocok untuk bergiat dalam pekerjaan, tetapi terbatas hanya sehari sebab malam akan mengakhirinya. Dia memang panjang sabar, tapi semua itu ada batasnya. (b) Kejahatan mereka yang besar terhadap-Nya. mereka adalah bangsa yang tidak taat dan membantah. Di sini, satu kata bahasa Ibrani yang tercantum dalam kitab Yesaya ini dijelaskan dengan baik melalui dua kata: mereka bukan saja tidak taat terhadap panggilan mereka dan tidak berserah di dalamnya, tetapi lebih buruk lagi, mereka membantah dan bertengkar mengenainya. Banyak orang yang tidak mau menerima tawaran baik, setidaknya mengakui bahwa mereka tidak memiliki keberatan terhadap penawaran tersebut. Akan tetapi, bangsa Yahudi yang tidak percaya itu tidak puas sampai di situ saja. Mereka juga berbantah-bantah dan menghujat. Kesabaran Allah terhadap mereka malah mempertebal ketidaktaatan mereka, dan itu memperbesar dosa mereka, sebagaimana ketidaktaatan mereka memperbesar kesabaran Allah dan membuktikan bahwa Dia sangat penyayang. Belas kasihan Allah begitu mengherankan, kebaikan-Nya tidak pupus oleh keburukan manusia. Keburukan manusia juga begitu mengherankan sebab kejahatannya tidak luluh oleh kebaikan Allah.
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: RHK GMIM Senin, 19 Juni 2023 - Iman Timbul Dari Mendengar Firman - Roma 10:17 Sebelum: RHK Sabtu, 17 Juni 2023 - Jangan Takut Mengikut Yesus - Lukas 5:10b-11 MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,