gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 1755 kali
Download MP3 Music
Keluaran 14:15-31
Menyeberangi Laut Teberau
14:15 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. 14:16 Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. 14:17 Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku. 14:18 Maka orang Mesir akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda." 14:19 Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. 14:20 Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu. 14:21 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. 14:22 Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. 14:23 Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka -- segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda -- sampai ke tengah-tengah laut. 14:24 Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. 14:25 Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: "Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir." 14:26 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda." 14:27 Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. 14:28 Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. 14:29 Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. 14:30 Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut. 14:31 Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.

Penjelasan:
* Tiang Awan (14:15-20)

I. Arahan yang diberikan kepada pemimpin bangsa Israel.

            1. Apa yang harus Musa kerjakan. Untuk saat ini, Musa harus menghentikan doanya dan mulai bertindak (ay. 15): Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Meski Musa telah diyakinkan akan adanya kesudahan yang baik dari masalah yang kini sedang terjadi, ia tidak mengabaikan doa. Kita memang tidak membaca satu kata pun yang Musa ucapkan di dalam doanya, tetapi ia mengangkat hatinya kepada Allah. Inilah bahasa yang dipahami dan diperhatikan oleh-Nya. Doa Musa yang penuh iman di dalam hatinya lebih berkuasa daripada teriakan bangsa Israel yang penuh ketakutan (ay. 10). Perhatikan,
                (1) Doa yang benar adalah berseru-seru kepada Tuhan, yang menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang terjadi secara alamiah dan penuh permohonan.
                (2) Untuk mendorong Musa supaya bertindak dengan gigih. Ada pekerjaan lain yang harus Musa lakukan selain berdoa, yakni memimpin tentara Israel, dan sekaranglah saatnya ia harus menjalankan tugasnya. Segala sesuatu indah pada waktunya.

            2. Apa yang harus diperintahkan Musa kepada bangsa Israel. Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Beberapa orang berpikir bahwa di dalam doanya, Musa lebih mendoakan pengampunan bagi bangsa Israel atas sungut-sungut mereka daripada mendoakan keselamatan bagi mereka (karena Musa sudah yakin akan hal itu), dan perintah Allah agar bangsa Israel berangkat merupakan penyataan akan pengampunan-Nya. Tidak ada suatu perjalanan yang lebih menguatkan hati selain perjalanan yang dilakukan dalam rasa tenteram dengan Allah. Musa telah meminta bangsa Israel untuk berdiri tetap dan menantikan perintah Allah, dan sekarang perintah itu telah diberikan. Bangsa Israel berpikir bahwa mereka pasti akan diperintahkan untuk berangkat ke sisi kanan atau sisi kiri. “Tidak”, sahut Allah, “katakanlah kepada orang Israel untuk berangkat maju lurus terus, langsung ke tepi laut,” seolah-olah di sana telah siap satu armada kapal pengangkut yang siap mereka tumpangi. Perhatikan, ketika kita sedang menjalankan tanggung jawab, meski menemui kesulitan, kita harus terus maju dan tidak diam tertegun. Kita harus bertekun di dalam pekerjaan yang ada di depan mata dan meninggalkan lainnya bagi Allah, mempergunakan segala cara yang ada dan mempercayakan kesudahannya kepada Dia.

            3. Apa yang Musa harapkan akan diperbuat Allah. Biarkan orang Israel berjalan di tanah kering sejauh yang mereka mampu, dan kemudian Allah akan membelah lautan dan membuka jalan bagi mereka untuk lewat (ay. 16-18). Allah tidak hanya merancang keselamatan bangsa Israel, tetapi juga kehancuran bangsa Mesir.Dan rencana dari keputusan hikmat Allah sesuai dengan itu.
                (1) Allah akan menolong bangsa Israel, dan lautan akan dibelah-Nya agar mereka dapat berjalan melaluinya (ay. 16). Kuasa yang sama dapat saja membekukan air laut agar bangsa Israel dapat lewat di atasnya, tetapi Kebijaksanaan yang Kekal lebih memilih untuk membelah laut itu bagi bangsa Israel agar mereka dapat lewat melaluinya, karena jalan keselamatan yang dipilih selalu adalah jalan yang paling bersahaja. Mengacu kepada hal ini, demikianlah dikatakan di dalam Kitab 13-14: Dia menuntun mereka melintasi samudera raya, seperti ternak yang turun ke dalam lembah, sehingga oleh karenanya Dia membuat nama yang agung bagi-Nya.
                (2) Allah akan memperoleh bagi diri-Nya sendiri kemuliaan atas Firaun. Bila hak kehormatan tak kunjung diterima oleh Sang Tuan Tanah Agung, yang oleh-Nya dan dari-Nya kita menerima dan tetap memiliki segala kepunyaan dan penghiburan, maka Dia sendiri akan merampasnya dan memperolehnya kembali. Allah tak akan membiarkan diri-Nya dikalahkan siapapun. Seturut dengan itu, ancaman berikut disampaikan: Aku, lihatlah Aku, akan mengeraskan hati Firaun (KJV) (ay. 17). Gaya ungkapan tersebut jelas terlihat: Aku, lihatlah Aku, akan melakukannya. “Aku, yang dapat melakukannya.” Pernyataan ini memperlihatkan kedaulatan Allah. Kita tidak mampu mengeraskan hati siapapun, atau melakukan sesuatu untuk melembutkan hati seseorang, tetapi kasih karunia Allah adalah milik-Nya sendiri, Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya. “Aku, yang mampu melakukannya.” Pernyataan ini memperlihatkan kuasa Allah. Tiada lain selain Sang Mahakuasa yang mampu melembutkan hati (Ayb. 23:16), dan tiada makhluk lain mana pun yang mampu mengeraskannya. “Aku, yang akan melakukannya.” Pernyataan ini memperlihatkan keadilan Allah. Allah benar dan berhak mendatangkan murka-Nya ke atas mereka yang telah sekian lama menolak ajakan kasih karunia-Nya. Firman-Nya ini disampaikan dengan cara yang berkemenangan atas pemberontakan yang keras kepala dan lancang: “Aku, Akulah yang akan bertindak untuk merendahkan dia. Ia yang tidak mau dibengkokkan supaya lurus, akan diremukkan.” Ungkapan ini serupa dengan ayat berikut (Yes. 1:24), Ah, Aku akan melampiaskan dendam-Ku kepada para lawan-Ku.

II. Pengawal ditempatkan berjaga-jaga di tengah umat Israel, yang saat ini ada di tempat yang sangat terancam bahaya, yakni di belakang (ay. 19-20). Malaikat Allah, yang karya pelayanan-Nya nyata di dalam tiang awan dan api, bergerak dari depan tentara Israel, karena mereka saat ini tidak memerlukan pemandu di depan lagi (tidak ada bahaya kehilangan arah sewaktu berjalan melewati laut dan tidak perlu perintah lain selain bergerak maju terus). Malaikat Allah berjalan di belakang mereka, tempat mereka sekarang memerlukan seorang pengawal karena orang Mesir sudah bersiap menyerang mereka dari belakang. Demikian pula, ada tiang awan yang menjadi pembatas di antara tentara orang Israel dan tentara orang Mesir. Tiang ini tidak hanya melindungi orang Israel, tetapi juga menyinari perjalanan mereka melintasi lautan, dan pada waktu bersamaan, tiang ini mengganggu orang Mesir sehingga tidak bisa melihat mangsa mereka tepat ketika tangan mereka sudah siap menerkam. Firman dan tindakan pemeliharaan Allah memiliki sisi yang hitam dan gelap terhadap dosa dan pendosa, tetapi di lain pihak, memberikan sisi yang cerah dan menyenangkan bagi orang-orang yang hidup sebagai orang Israel sejati. Firman dan pemeliharaan Allah yang merupakan bau kehidupan yang menghidupkan bagi beberapa orang, adalah bau kematian yang mematikan bagi yang lain. Ini bukanlah kali pertama Allah, yang pada mulanya memisahkan antara terang dan gelap (Kej. 1:4), dan masih membuat semuanya ini (Yes. 45:7), pada waktu bersamaan telah menentukan kegelapan bagi bangsa Mesir dan terang bagi bangsa Israel. Inilah satu contoh dari pembedaan yang selamanya akan ada antara keturunan para orang kudus di dalam terang dan para orang munafik di dalam kegelapan. Allah akan memisahkan antara mereka yang berharga dan yang jahat di mata-Nya.


* Laut Terbelah (14:21-31)

    Kita dapati di sini sejarah karya ajaib yang sangat sering disebut di Perjanjian Lama dan Baru, yakni terbelahnya Laut Teberau tepat di depan mata orang Israel. Peristiwa itu menimbulkan kengerian bagi orang Kanaan (Yos. 2:9-10), membuat orang Israel menaikkan puji-pujian dan bersorak-sorak (Mzm. 114:3, 106:9, 136:13-14). Peristiwa ini menjadi gambaran untuk baptisan (1Kor. 10:1-2). Perjalanan bangsa Israel melintasi Laut Teberau menggambarkan pertobatan jiwa-jiwa (Yes. 11:15), dan kehancuran bangsa Mesir di dalamnya menggambarkan kehancuran akhir dari semua pendosa yang tidak mau bertobat (Why. 20:14). Di sini kita dapati,

        I. Satu contoh dari kuasa dahsyat Allah atas alam semesta. Ia membelah lautan dan membuka jalan melaluinya. Air yang terbelah ini menjadi teluk, atau selat, atau ceruk laut, dengan lebar sekitar sebelas hingga enam belas setengah kilometer (ay. 21). Tanda yang dipakai untuk mengawali mujizat Allah ini adalah uluran tangan Musa ke atas laut, yang menandakan bahwa mujizat ini diperbuat Allah sebagai jawaban atas doa Musa, untuk membenarkan tugas perutusan Musa, dan tanda keberpihakan Allah terhadap bangsa yang dipimpin Musa. Tanda alam yang menjadi perantara adalah angin timur yang keras, yang menunjukkan bahwa kuasa Allah yang mengerjakannya, di mana angin dan laut pun patuh kepada-Nya. Apabila ada bagian di dalam Kitab Ayub yang merujuk kepada mujizat yang dikerjakan untuk keselamatan bangsa Israel keluar dari Mesir, bagian itu adalah 12, Ia telah meneduhkan laut dengan kuasa-Nya, dan meremukkan Rahab dengan kebijaksanaan-Nya. Rahab yang dimaksud di sini adalah Mesir. Perhatikan, Allah dapat membawa umat-Nya berjalan menembus kesulitan terbesar sekalipun dan menerobos dengan kekuatan yang membuka jalan ketika seolah-olah tiada jalan. Allah semesta alam tidak terikat oleh segala hukum alam, tetapi dengan sesuka hati-Nya, Ia mempergunakan hukum alam itu, sehingga tidaklah mengherankan apabila api menjadi tak kuasa membakar, dan air pun tak kuasa mengalir.

        II. Satu contoh kebaikan Allah yang luar biasa bagi kepunyaan-Nya Israel. Bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau dan berhasil mencapai daratan di sisi seberang, meski saya percaya mereka tidak memiliki kompas kala itu, sehingga bisa saja mereka keluar lagi di sisi daratan yang sama dengan sisi tempat mereka berangkat (ay. 22). Orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut (ay. 29), dengan tiang awan, yakni kemuliaan Tuhan, menjadi barisan belakang mereka (Yes. 58:8), sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok agar orang Mesir tidak menyerang mereka dari sisi sayap. Musa dan Harun kemungkinan berjalan terlebih dulu di depan, melintasi jalur yang belum pernah dilalui ini, baru setelahnya bangsa Israel mengikuti mereka. Perjalanan melalui jalur yang membelah lautan ini akan membuat perjalanan berikutnya di padang gurun tidaklah terlampau menakutkan. Mereka yang sudah mengikuti Allah menyeberangi lautan tidak perlu takut mengikut-Nya ke mana pun Ia memimpin mereka. Perjalanan menyeberangi laut ini berlangsung di malam hari, dan malam itu bukanlah malam yang diterangi cahaya bulan, karena saat itu adalah tujuh hari setelah bulan purnama, sehingga mereka tidak mempunyai penerangan apa pun selain dari tiang awan dan api. Ini membuat perjalanan bertambah mengerikan. Akan tetapi, ke mana pun Allah memimpin kita, Ia akan menerangi kita. Sementara kita mengikuti tuntunan-Nya, kita tidak akan kekurangan penghiburan-Nya.
            Peristiwa ini terjadi dan dicatat demi menguatkan umat Allah di segala zaman untuk percaya kepada-Nya di tengah kesesakan terhebat sekalipun. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Dia yang mengerjakan peristiwa ini? Apa yang tidak akan Dia lakukan bagi orang yang takut kepada-Nya dan mengasihi-Nya, Dia yang mengerjakan peristiwa ini bagi orang Israel yang bersungut-sungut dan tidak percaya itu, yang menjadi kekasih Allah oleh karena nenek moyang mereka dan oleh karena suatu kaum sisa di antara mereka? Kita melihat para orang kudus, lama sesudah peristiwa itu, turut mengambil bagian di dalam kemenangan perjalanan ini (Mzm. 66:6): Orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu, kita bersukacita karena Dia. Dan baca juga bagaimana karya ajaib ini dikenang dalam Mazmur 77:12, 17, 20.

        III. Satu contoh murka Allah yang adil dan benar atas musuh umat-Nya, yakni orang Mesir. Perhatikan di sini,
            1. Bagaimana mereka menjadi lupa diri. Saking panasnya hati mereka, mereka menyusul orang Israel sampai ke tengah-tengah laut (ay. 23). “Masakan,” pikir mereka, “kita tidak berani pergi ke mana orang Israel juga pergi?” Sekali atau dua kali, ahli-ahli sihir Mesir telah mengerjakan apa yang Musa kerjakan, dengan ilmu tenung. Firaun ingat akan hal ini, tetapi lupa bagaimana mereka pada akhirnya dibuat terheran-heran. Mereka sesungguhnya lebih diuntungkan karena memiliki banyak kereta dan kuda, sementara orang Israel hanya berjalan kaki. Firaun telah berkata, tidak kenal aku Tuhan itu, dan dengan nekat menyusul orang Israel ke tengah-tengah laut. Tindakan ini jelas memperlihatkan bahwa Firaun tidak mengenal Tuhan, karena bila ia mengenal-Nya, tentu ia tidak akan berbuat senekat itu. Tidak ada orang yang lebih berani daripada orang buta. Kemarahan terhadap orang Israel membuat orang Mesir keras kepala dan tidak berpikir panjang. Mereka telah lama mengeraskan hati mereka sendiri, dan kini Allah mengeraskan hati mereka demi kehancuran mereka, dan menyembunyikan dari mata mereka segala sesuatu yang memberi mereka rasa damai dan aman. Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang bersayap (Ams. 1:17). Akan tetapi, orang Mesir terlanjur gelap mata sehingga mereka dengan cepat menuju perangkap (Ams. 7:23). Perhatikan, kehancuran orang berdosa terjadi oleh kesombongan mereka sendiri, yang membuat mereka bergegas masuk ke dalam jurang. Orang berdosa menghancurkan diri mereka sendiri.

            2. Bagaimana mereka menjadi kacau dan kebingungan (ay. 24-25). Selama beberapa jam, mereka berjalan melintasi laut yang terbelah dengan aman dan gagah seperti bangsa Israel, tidak merasa ragu bahwa sebentar lagi mereka akan mampu menyusul bangsa Israel. Akan tetapi, pada waktu jaga pagi, Tuhan memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. Mereka melihat atau mendengar sesuatu yang lain dari tiang awan dan api yang membuat mereka sangat kebingungan, dan memberi mereka bayangan kehancuran mereka sebelum kehancuran itu nyata atas mereka. Sekarang jelas terlihat bahwa sorak-sorai orang fasik hanya sebentar saja, dan bahwa Allah mempunyai cara menimbulkan kengerian bagi para pendosa hingga mereka putus asa, sebelum Dia menjebloskan mereka ke dalam kehancuran. Dia yang mematahkan semangat para pemimpin, Dia yang dahsyat bagi raja-raja di bumi.

                (1) Mereka menggertak dan menyombongkan diri seakan-akan hari itu sudah menjadi milik mereka, tetapi sekarang mereka gelisah, khawatir, dan dihantui ketakutan dan kepanikan yang luar biasa.
                (2) Mereka bergerak maju dengan garang, tetapi sekarang mereka maju dengan berat dan menemukan diri tersendat-sendat dan merasa malu di tiap langkah. Jalan di hadapan mereka menjadi kelam, hati mereka muram, roda kereta mereka terlepas dari tuasnya, dan tangan-tangan roda kereta mereka patah. Demikianlah Allah mengatasi kekejaman mereka yang mengejar umat-Nya.
                (3) Mereka terbang membayangi Israel, seperti elang mengintai merpati yang gentar terhadapnya. Akan tetapi, sekarang mereka berteriak, Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, yang bagi mereka telah menjadi seperti suluh berapi di tengah-tengah timbunan bulir gandum (Za. 12:6). Bangsa Israel sekonyong-konyong berubah menjadi kengerian bagi mereka, seperti halnya mereka dahulu bagi bangsa Israel. Mereka bisa saja tidak mengusik bangsa Israel, tetapi mereka tidak lakukan itu. Sekarang, mereka hendak lari dari orang Israel, tetapi tidak bisa. Manusia tidak akan dapat diyakinkan sampai sudah terlambat waktunya, bahwa mereka yang menindas umat Allah sesungguhnya membawa penindasan bagi diri mereka sendiri. Pada saat Tuhan datang dengan sepuluh ribu orang suci-Nya untuk melaksanakan penghakiman, orang-orang perkasa pun akan dengan sia-sia mencari perlindungan di bawah batu karang dan pegunungan dari hadapan orang Israel dan Raja Israel (Why. 6:15). Bandingkan dengan kisah yang ada di dalam Kitab Ayub 27:20.

            3. Bagaimana mereka semua ditenggelamkan. Segera setelah orang Israel tiba dengan selamat di pantai, Musa mendapat perintah untuk mengulurkan tangannya ke atas laut, yang dengan begitu memberi tanda kepada air laut untuk tertutup kembali, seperti sebelumnya ketika dengan perkataannya ia memerintahkan air laut supaya terbuka di kiri dan kanan orang Israel, menjadi sebagai tembok (ay. 29). Musa pun mengulurkan tangannya dan air laut pun segera berbalik ke tempatnya seperti semula dan menelan segenap tentara Mesir (ay. 27-28). Firaun beserta anak buahnya yang telah saling mengeraskan hati satu sama lain di dalam dosa, sekarang bersama-sama lenyap dan tidak ada satu pun yang berhasil selamat. Menurut cerita turun-temurun, ahli-ahli sihir Firaun, yakni Yanes dan Yambres, turut tewas bersama yang lainnya, seperti Bileam bersama orang-orang Midian yang telah ia sesatkan (Bil. 31:8). Sekarang,
                (1) Allah membalas dendam kepada orang Mesir atas darah semua anak laki-laki sulung orang Israel yang telah mereka tenggelamkan, dan Allah membalasnya dengan berlipat ganda, yakni laki-laki Mesir yang telah tumbuh dewasa menjadi pembayar ganti rugi bagi bayi-bayi Israel yang baru lahir. Demikianlah, Allah menunjukkan keadilan-Nya dan memperlihatkan betapa mahal harga darah umat Israel di mata-Nya (Mzm. 72:14).
                (2) Allah membuat perhitungan dengan Firaun atas kesombongan dan penghinaan yang ia lakukan terhadap duta-Nya, yakni Musa. Kehancuran penuh akan menimpa mereka yang menghina dan melecehkan utusan Tuhan. Sekarang, Tuhan memperlihatkan kemuliaan-Nya terhadap Firaun, menatap manusia sombong itu, lalu merendahkannya (Ayb. 40:12). Datang dan saksikan kedahsyatan perbuatan-Nya, lalu catatlah itu, tidak di atas air, tetapi dengan besi pengukir pada gunung batu untuk selama-lamanya. Di tempat ini, berbaringlah sang penguasa haus darah yang menentang Penciptanya, menentang segala tuntutan, peringatan, dan penghakiman-Nya. Ia menjadi seorang pemberontak Tuhan, seorang budak terhadap nafsu bengisnya sendiri. Sepenuhnya ia telah kehilangan kemanusiaan, kebajikan, dan segenap kehormatan sejati. Di laut itulah ia berbaring, terkubur dalam-dalam, menjadi suatu tugu keadilan ilahi yang abadi. Di situlah ia jatuh ke dalam jurang, meski dahulu ia adalah sang pembawa kengerian di dunia orang hidup. Inilah yang dialami Firaun serta semua pengikutnya (Yeh. 31:18).

IV. Inilah catatan yang dibuat bangsa Israel mengenai pekerjaan ajaib yang Allah kerjakan bagi mereka, serta penghiburan yang dibawa mujizat itu bagi mereka.
            1. Orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut (ay. 30). Pemeliharaan Allah telah mengaturnya sedemikian rupa sehingga gelombang pasang yang berikutnya menghempaskan mayat-mayat orang Mesir ke permukaan,
                (1) Untuk menimbulkan aib yang lebih besar bagi bangsa Mesir. Sekarang, segala binatang dan burung pemakan bangkai dipanggil untuk makan daging para panglima serta para pahlawan (Why. 19:17-18). Orang Mesir sangat mahir dan teliti dalam membalsam dan mengawetkan jenazah para penguasa mereka, tetapi sekarang penistaan yang terbesar ditimpakan ke atas segenap bangsawan Mesir. Pandanglah bagaimana mayat mereka berserakan, bertumpuk-tumpuk, layaknya kotoron di permukaan bumi.
                (2) Untuk memperbesar nilai kemenangan orang Israel, dan semakin memperlihatkan karya keselamatan yang telah dikerjakan bagi mereka, karena apa yang dilihat mata akan memengaruhi hati. Perhatikan ayat yang terdapat dalam Kitab Yesaya 66:24 berikut, Mereka akan keluar dan melihat mayat orang-orang yang memberontak melawan Aku. Orang Israel mungkin melucuti mayat-mayat orang Mesir itu dan memperoleh segala senjata dari mayat-mayat itu. Juga, karena sebelumnya mereka telah meminjam perhiasan dari orang Mesir, sekarang, karena dengan mengejar mereka, orang Mesir telah mengingkari itikad baik mereka terhadap orang Israel, maka sekarang orang Israel pun tak lagi harus mengembalikan perhiasan-perhiasan yang dahulu mereka pinjam itu. Begitulah, ketika Allah meremukkan kepala-kepala Lewiatan, Ia memberikannya kepada penduduk padang pasir sebagai makanan (Mzm. 74:14).

            2. Mujizat tersebut sangat memengaruhi orang Israel, dan sekarang takutlah bangsa itu kepada Tuhan dan mereka percaya kepada Tuhan dan kepada Musa, hamba-Nya itu (ay. 31). Kini mereka menjadi malu atas ketidakpercayaan dan sungut-sungut mereka. Sekarang mereka tidak lagi akan putus asa akan datangnya bantuan dari Sorga, sekalipun berada dalam kesesakan terhebat. Mereka tak akan lagi bertengkar dengan Musa ataupun berbicara untuk kembali ke Mesir. Mereka telah dibaptis di dalam laut untuk mengikut Musa (1Kor. 10:2). Mujizat yang telah Allah kerjakan bagi mereka melalui pelayanan Musa dengan demikian mengikat mereka untuk mengikut Musa di bawah pimpinan Allah. Mujizat ini menguatkan iman mereka akan janji yang kelak akan digenapi, dan dengan dibawa keluar dari Mesir dengan penuh kemenangan, mereka tak lagi ragu bahwa sesaat lagi mereka akan tiba di tanah Kanaan, karena mereka memiliki Allah yang demikian dahsyat, serta seseorang yang memperantarai mereka dengan Allah. Bayangkan, sekarang mereka telah memiliki hati yang sedemikian rupa! Belas kasihan yang masih baru dirasakan, menghasilkan kesan yang sangat terasa. Akan tetapi, dalam diri banyak orang, kesan seperti ini segera menjadi luntur. Sewaktu mereka menyaksikan pekerjaan Allah dan merasakan manfaatnya, mereka menjadi takut dan percaya kepada-Nya. Akan tetapi, mereka segera melupakan semua karya ajaib-Nya itu, lalu meremehkan-Nya. Alangkah baiknya bila kita senantiasa mengingat kedahsyatan mujizat Allah dalam hidup kita!





Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2023





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat

Selanjutnya:
RHK GMIM Senin, 15 Mei 2023 – Tuhan Allah Menyatakan Kemuliaan-Nya – Keluaran 14:17-18

Sebelum:
RHK GMIM Sabtu, 13 Mei 2023 – Penjara Tidak Membatasi Kasih Tuhan – Kejadian 39:21-23




MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(35)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Khotbah MTPJ GMIM 2023..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,