|
gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa |
|
|
Download MP3 Music Khotbah MTPJ GMIM 2022 Minggu, 3 April 2022 Khotbah GMIM Minggu, 3 April 2022 - KEBENARAN MEREDUP DEMI KEPENTINGAN - Markus 15:1-15Oleh Pdt. Jouke O. Bambulu, S.Th, M,Pd Kita biasa mendengar kata musyawarah untuk mufakat. Berembuk, duduk bersama mencari solusi supaya menemukan satu kesepakatan yang tentu untuk kebaikan. Sayangnya mufakat yang ditemukan disini, justru mengarah pada sesuatu yang negative. Ayat 1 menyatakan “pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli taurat dan seluruh mahkamah agama sudah bulat mufakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawaNya dan menyerahkannya kepada Pilatus”. Berarti dibawanya Yesus kepada Pilatus adalah hasil kesepakatan, konspirasi imam kepala, ahli taurat dan mahkamah agama. Tokoh-tokoh penting itu, mensiasati sebuah situasi yang mencelakakan orang lain. Mengawali hari dengan melakukan kejahatan. Hari yang Tuhan berikan, seharusnya diawali dengan sesuatu yang mendatangkan berkat dan manfaat, bukan merancang rancangan kecelakaan bagi orang lain. Jelas di ayat 1, Yesus dibawa pada Pilatus, Gubernur Romawi yang bertugas di Yudea. Sebenarnya bisa saja Mahkamah Agama yang menjatuhkan hukuman pada Yesus karena pemerintah Romawi mengizinkan mahkamah agama Yahudi menjatuhkan hukuman berat jika ada pelanggaran tetapi mahkamah agama menginginkan Pilatus yang menjatuhi hukuman tetapi Pilatus juga mungkin ragu, karena ia tahu siapa Yesus. Tetapi ia menjalankannya juga. Pertanyaan pertama yang diajukan Pilatus di ayat 2 “Engkaukah Raja orang Yahudi” Jawab Yesus “engkau sendiri mengatakannya”. Tuduhan terhadap Yesus telah sampai ke telinga Pilatus. Tanpa restu dan dukungan dari Pemerintah Roma, orang yang mengaku diri Raja dianggap sebagai pemberontak. Secara tidak langsung dengan pertanyaannya itu, Pilatus langsung menuduh Yesus sebagai pemberontak, ditambah lagi banyak tuduhan yang dialamatkan kepadaNya oleh siapa? Ayat 3 “lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia” Berbagai tuduhan yang memberatkan sudah disebutkan oleh imam-imam kepala yang semuanya untuk memuluskan rencana jahat mereka. Ada pertanyaan lanjutan Pilatus di ayat 4 “Tidakkah Engkau memberi jawab? lihatlah betapa banyaknya tuduhan terhadap Engkau” bagaimana reaksi Yesus atas tuduhan-tuduhan itu, nyata di ayat 5 “tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran”. Perhatikan reaksi Yesus yang tenang, walau mungkin ada yang berkecamuk dalam hatinya. Karena memang, kadangkala kita dituntut untuk memilih reaksi yang tepat ketika berhadapan dengan situasi yang sulit. Reaksi yang ditunjukkan Yesus bukan reaksi yang arogan dan tanpa pertimbangan. Karena ada orang yang memperjuangkan kebenaran malah menjadi salah, karena reaksi yang ditunjukkan kurang elegan dan cenderung melanggar etika. Memang benar tidak salah, tetapi berteriak, mengancam, bahkan menggunakan barang tajam itu tidak dapat dibenarkan. Seandainya kita berada dalam situasi seperti itu, dituduh berbagai macam hal, padahal kita tidak pernah melakukannya, maka sudah pasti, dengan suara kita akan membantah semua tuduhan itu. Sedangkan, ada yang terbukti salah, kadang-kadang ada orang yang mengelak untuk mengaku. Berdalih dengan berbagai cara, padahal nyata-nyata bersalah. Sudah bersalah, tapi selalu mengelak bahkan bersumpah demi nama Tuhan. Untuk membersihkan diri dari tuduhan ada yang bawa-bawa nama Tuhan. Dituduh, difitnah tidak membuat Yesus hilang kendali. Tidak ada perkatan kotor yang keluar dari mulutnya. Diamnya Yesus tak membuat mereka menyerah untuk menghukum Dia, sampai-sampai, orang yang tak bersalah ditukar dengan yang nyata-nyata penjahat kelas berat. Ayat 6-9 “Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak. Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya kebiasaan ini diikuti juga”. Pada hari raya Paskah, pemerintah Roma biasanya membebaskan seorang tawanan dari penjara. Barabas yang dikenal sebagai penjahat yang kejam malah dibebaskan. Barabas ini dipenjarakan karena terlibat dalam pemberontakan melawan pemerintah Roma, ketika mereka memperjuangkan kemerdekaan bangsa Yahudi. Orang banyak memaksa untuk mengikuti kebiasaan itu. Situasi ini telah dirancang oleh imam-imam kepala, tua-tua Yahudi dan mahkamah agama. Mereka tau akan ada kebiasaan itu dan menggiring Pilatus untuk ada di situasi itu, supaya Yesus benar-benar dihukum. Apa jawab Pilatus, ayat 10-11 “Pilatus menjawab mereka dan bertanya : apakah kamu menghendaki, supaya kubebaskan orang Yahudi ini?. Ia memang mengetahui bahwa imam - imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki”. Pilatus bertanya sekali lagi, seakan hendak menyadarkan mereka bahwa orang ini tidak ditemukan kesalahanya. Dengan pertanyaannya itu, Pilatus hendak menggugah mereka untuk memikirkan kembali tindakan jahat itu. Kadangkala, kita berada disitusi yang salah, tetapi masih ada saja jalan yang akan membawa kita pada kebenaran. Kalau kita salah dan ada yang bertanya lagi. Pikirkan kembali, mungkin ada yang salah ini, berbaliklah sebelum terlambat. Kedengkian imam kepala yang memicu terjadinya kejahatan itu. Kalau ada pertanyaan seperti itu Pilatus hendak mengusahakan, mungkin ada yang akan memberikan pembelaan terhadap Yesus, tetapi ternyata tidak. Mereka tetap kekeuh, tak mau berubah pendirian. Di tambah lagi imam-imam kepala tetap berusaha memberatkan Yesus, seperti di ayat 11 “tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka”. Tak puas, tak ada rasa belas kasih, mereka menghasut, pengaruhi lagi orang banyak untuk meminta agar Barabas dibebaskan dan Yesus disalibkan. Dengan pertanyaan di ayat 12 yaitu “Jika begitu, apakah yang harus ku perbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini? Pilatus rupa mo bilang bagini “ngoni yang bilang, dia Raja orang Yahudi”. Yaa, sepertinya Pilatus hendak menyatakan bahwa menghukum Yesus itu bukan kehendaknya sebagai gubernur. Pilatus pun sebenarnya bimbang dalam situasi ini, tetapi suara orang banyak lebih didengarkannya daripada suara hati nuraninya sendiri yang mengatakan bahwa Yesus tidak bersalah. Kebenaran yang sesungguhnya telah tertutup oleh ketidakbenaran yang direncanakan dengan matang. Karena pada akhirnya di ayat 13-15 “Maka mereka berteriak lagi katanya : Salibkanlah dia. Lalu Pilatus berkata kepada mereka “tetapi kejahatan apa yang telah dilakukannya? Namun mereka makin keras berteriak “salibkan dia” Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan”. Orang-orang yang berteriak salibkan Dia, itu mungkin ada di antara mereka yang pernah merasakan jamahan Yesus sehingga sembuh, pernah diberi makan dalam kumpulan orang yang menikmati 5 roti dan 2 ikan atau pernah diberi semangat dengan pengajaranNya yang meneduhkan, tetapi malah di situasi itu, dalam hasutan imam kepala dan tekanan euphoria, tega berteriak salibkan dia. Situasi ini memang harus terjadi supaya nubuat digenapi, tetapi ada banyak hal yang kita dapatkan yaitu : Pertama, bersikap tenanglah dalam situasi yang tertekan, jangan gegabah mengeluarkan perkataan yang kotor dan tak berfaedah, Kedua, jangan menjadi penyebab penderitaan orang lain, jangan membuat orang lain terjebak dalam kesalahan supaya dihukum. Ketiga, nyatakanlah yang benar, jika benar, katakan benar, jika salah, katakan salah. Jangan karena takut kehilangan jabatan maka kebenaran digadaikan, yang salah kita jadikan benar dan yang benar kita jadikan salah, Keempat, karena Yesus telah mengalami betapa sakitnya difitnah, dituduh, maka jangan jadikan mulut dan lidah kita ini alat untuk memfitnah, menuduh dan menyudutkan orang lain. Jangan jadikan mulut dan lidah kita bagaikan pedang yang membunuh harga diri orang lain, yang merusak sukacita orang lain, merendahkan martabat orang lain dan membuat orang lain tersinggung dan kecewa. Tuhan Yesus menolong kita menjadi alat kesaksianNya dalam kata dan tindakan. Amin. Film Yesus di hadapan Pilatus Markus 15:1-15 Yesus dapa sidang di muka pa gubernur Pilatus (Mat. 27:1-2, 11-14; Luk. 23:1-5; Yoh. 18:28-38) 1Waktu amper siang, tu imam-imam kapala, tua-tua Yahudi, ahli-ahli Taurat deng samua anggota Mahkamah Agama da bakumpul kong baku ator mo kase hukum mati pa Yesus. Dorang ika pa Yesus kong srahkan pa gubernur Pilatus. 2Kong Pilatus batanya pa Yesus, “Apa butul Bapak tu orang Yahudi pe Raja?” Yesus manyao, “Bapak sandiri yang da bilang itu.” 3Kong imam-imam kapala bilang banya tuduhan pa Yesus. 4Pilatus batanya lei pa Dia, “Tarukira jo, pe banya skali tu dorang da tudu pa Ngana. Apa Ngana nyanda mo manyao apa-apa?” 5Mar Yesus nyanda manyao lei apa-apa sampe Pilatus jadi heran. Yesus dapa hukum mati (Mat. 27:15-26; Luk. 23:13-25; Yoh. 18:39-19:16) 6Tiap taong, orang Yahudi ja beking dong pe hari raya Paskah. Kong di prayaan itu, Pilatus pe biasa ja kase bebas satu orang dari bui, tu orang yang dia se bebas itu ja iko orang Yahudi pe mau. 7Kong waktu itu, ada tu satu orang, de pe nama Barabas. Dia da dapa maso bui sama-sama deng tu orang-orang laeng, lantaran waktu dorang da malawang pa pemerenta Romawi, dorang da babunung orang. 8Kong datang orang banya pa Pilatus, dorang minta pa dia supaya se bebas satu orang dari bui sama deng tu dia ja beking. 9Kong Pilatus batanya pa dorang, “Ngoni suka kita mo kase bebas tu ngoni pe Raja Yahudi ini?” 10Pilatus batanya bagitu, lantaran dia tau kalu tu imam-imam kapala da srahkan Yesus pa dia lantaran dorang mangiri pa Yesus. 11Mar tu imam-imam kapala hasut pa tu orang banya for minta pa Pilatus supaya se bebas pa Barabas for dorang. 12Kong Pilatus batanya ulang pa dorang, “No kalu bagitu, apa tu kita musti beking deng ni orang yang ngoni ja bilang raja orang Yahudi?” 13Dorang bataria lei, “Se salib jo pa Dia!” 14Kong Pilatus batanya pa dorang, “Apa so tu kejahatan yang Dia da beking?” Mar dorang tare cuma bataria lebe kuat, “Se salib jo pa Dia!” 15Kong lantaran Pilatus suka mo se snang pa tu orang banya itu, dia se bebas pa Barabas for dorang, deng dia suru cambok pa Yesus kong srahkan for se salib. ------------------------------ Yesus di hadapan Pilatus 15:1 Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus. 15:2 Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 15:3 Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia. 15:4 Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!" 15:5 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran. 15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak. 15:7 Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan. 15:8 Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga. 15:9 Pilatus menjawab mereka dan bertanya: "Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?" 15:10 Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki. 15:11 Tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka. 15:12 Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?" 15:13 Maka mereka berteriak lagi, katanya: "Salibkanlah Dia!" 15:14 Lalu Pilatus berkata kepada mereka: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!" 15:15 Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan. Penjelasan: * Diam, bukan kalah! Mengapa Yesus memilih berdiam diri di hadapan Pilatus, padahal Ia memiliki kuasa dan otoritas untuk menjawab pertanyaan Pilatus? Hanya satu kali Yesus menjawab pertanyaan Pilatus mengenai apakah Ia raja orang Yahudi. Selebihnya Ia bungkam. Pertanyaan Pilatus didasarkan atas keingintahuannya akan Yesus karena orang-orang Yahudi menuduh Yesus telah mengklaim diri sebagai raja dalam artian politik. Yesus menjawab ya atas pertanyaan Pilatus, tetapi dalam artian rohani. Namun Pilatus tidak memahaminya. Maka kemudian Yesus membungkam dan membuat Pilatus heran (ayat 5). Kata heran ini adalah kata yang sama yang digunakan pada orang banyak yang menyaksikan Yesus saat membuat tanda-tanda (ayat 5:20; 6:6; lihat juga Mrk. 15:44). Kata heran ini secara teknis menunjuk pada kekaguman dan pengakuan akan keilahian dan kemesiasan Yesus. Sikap Yesus yang diam menyingkapkan tiga hal: Pertama, menyatakan kemesiasan-Nya yang sebenarnya, sesuai nubuat kitab suci (band. Yes. 53:7) dan bukan dalam artian politik. Maka Ia menolak menggunakan kuasa-Nya itu untuk menghadapi lawan-lawan-Nya. Kedua, Yesus menerima keputusan untuk tetap dihukum. Tindakan ini menggantikan Barabas yang bersalah, sekaligus sebagai simbol kemesiasan-Nya yang akan mati menggantikan orang berdosa. Ketiga, Yesus tetap membiarkan diri-Nya disesah dan diserahkan untuk disalibkan sebagai bagian dari kemesiasan-Nya yang harus menjalani penderitaan dan hukuman mati. ----------------------Sebagai pengikut Yesus, bagaimana sikap kita dalam mempertahankan kebenaran itu, walaupun harus menemui berbagai tantangan bahkan menjalani penderitaan? Tetap setiakah menjalankan tugas yang Allah percayakan? Ataukah malah berkompromi dengan dunia sehingga tidak setia lagi pada kebenaran Allah? Belajarlah dari Yesus yang dalam kesetiaan menjalankan tugas-Nya tanpa kompromi sedikit pun dengan tawaran dunia. * Kristus Dibawa ke Hadapan Pilatus (15:1-14) Ini menceritakan tentang beberapa hal: 1) Bahwa perundingan yang dilakukan oleh Mahkamah Agama dalam menentukan hukuman yang pantas bagi Tuhan Yesus. Mereka bertemu pagi-pagi benar dan membentuk semacam panitia utama untuk mencari cara dan sarana apa yang bisa digunakan untuk membuat Kristus dihukum mati. Mereka tidak membuang-buang waktu tetapi langsung menindaklanjuti rencana mereka dengan sungguh-sungguh supaya jangan sampai timbul kegaduhan di antara orang banyak. Kerajinan dan perasaan tidak kenal lelah pada orang jahat dalam berbuat kejahatan seharusnya membuat kita malu akan ketertinggalan dan kemalasan kita dalam berbuat kebaikan. Orang yang berperang melawan Kristus dan jiwamu sudah bangun pagi-pagi; sedangkan kamu, hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? 2) Penyerahan Yesus kepada Pilatus sebagai seorang tahanan; mereka membelenggu-Nya. Kristus akan menjadi korban agung, dan korban harus dibelenggu dengan tali (Mzm. 118:27). Kristus dibelenggu untuk membuat belenggu terasa mudah bagi kita dan untuk membuat kita mampu bernyanyi di dalam belenggu, seperti Paulus dan Silas. Baiklah bagi kita untuk sering mengingat belenggu Tuhan Yesus, bahwa kita ini orang yang terbelenggu dengan Dia yang dibelenggu karena kita. Mereka menggiring-Nya melalui jalan-jalan di Yerusalem untuk menghina Dia di depan orang banyak, Dia yang sewaktu mengajar di Bait Allah hanya sekitar satu atau dua hari yang lalu begitu dipuja. Kita juga dapat membayangkan betapa menyedihkannya penampilan Kristus setelah apa yang Dia alami semalaman, dipukuli, diludahi, dan dilecehkan. Penyerahan Kristus oleh orang Yahudi kepada penguasa Romawi merupakan contoh jenis kehancuran yang akan dialami jemaat bangsa Yahudi. Dengan cara ini orang Yahudi pantas menerima kehancuran itu, yang mereka sendiri timpakan ke atas diri mereka. Ini menandakan bahwa janji, perjanjian, sabda-sabda Allah, dan kumpulan jemaat yang jasmaniah, yang selama ini merupakan kemuliaan bagi Israel, dan yang telah begitu lama menjadi milik mereka, kini harus diserahkan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Dengan menyerahkan raja, maka sebagai akibatnya mereka menyerahkan kerajaan Allah, dan dengan begitu, atas persetujuan mereka sendiri, kerajaan itu diambil dari mereka dan diberikan kepada bangsa lain. Seandainya mereka menyerahkan Kristus untuk memenuhi keinginan-keinginan bangsa Romawi atau untuk memuaskan kecemburuan-kecemburuan bangsa Romawi akan Kristus, masalahnya bisa jadi lain. Akan tetapi, sekarang mereka secara sukarela mengkhianati seseorang yang merupakan mahkota bagi Israel dan menyerahkan-Nya kepada suatu bangsa yang justru merupakan kuk bagi Israel. 3) Pemeriksaan Kristus oleh Pilatus (ay. 2); "Engkaukah raja orang Yahudi?" Apakah Engkau mengaku seperti itu, mengaku sebagai Mesias yang diharapkan orang Yahudi untuk menjadi raja di dunia ini?" -- "Ya," jawab Kristus, "seperti yang engkau sendiri katakan, Akulah Mesias itu, tetapi bukan mesias seperti yang mereka harapkan." Mesias yang dimaksudkan adalah raja yang akan memerintah dan melindungi umat Israel-Nya menurut roh, yaitu orang Yahudi yang disunat hatinya secara rohani, dan raja yang akan menahan dan menghukum orang Yahudi yang duniawi, yang tetap tidak mau percaya. 4) Berbagai tuduhan pelanggaran yang dilontarkan untuk melawan-Nya dan sikap bungkam-Nya di bawah tuduhan dan dakwaan itu. Imam-imam kepala lupa akan martabat jabatan mereka ketika mereka berubah menjadi pemberi informasi, dan secara pribadi mengajukan banyak tuduhan terhadap Kristus (ay. 3), serta bersaksi melawan-Nya (ay. 4). Banyak dari nabi-nabi Perjanjian Lama mendakwa para imam pada zaman mereka dengan kejahatan yang besar, dan lewat dakwaan-dakwaan ini mereka bernubuat dengan tepat tentang para imam pada zaman Kristus ini (lih. Yeh. 22:26; Hos. 5:1, 6:9; Mi. 3:11; Zef. 3:4; Mal. 1:6, 2:8). Penghancuran Yerusalem oleh orang Kasdim dikatakan terjadi karena kedurjanaan imam-imamnya yang di tengah-tengahnya mencurahkan darah orang yang tidak bersalah (Rat. 4:13). Perhatikanlah, imam yang jahat pada umumnya merupakan manusia yang paling buruk. Semakin baik suatu hal, semakin buruk jadinya hal itu apabila hal itu rusak. Penyiksa yang adalah orang awam pada umumnya lebih berbelas kasihan daripada penyiksa yang adalah seorang imam. Para imam ini sangat gaduh dan menggebu-gebu dalam melontarkan tuduhan mereka; tetapi Kristus sama sekali tidak menjawab (ay. 3). Ketika Pilatus mendesak-Nya untuk memberikan pembelaan, dan ia ingin agar Kristus melakukannya (ay. 4), Kristus tetap diam (ay. 5), Ia sama sekali tidak menjawab, dan ini sangat aneh menurut Pilatus. Kristus memberikan jawaban langsung kepada Pilatus (ay. 2), tetapi tidak mau menjawab para pendakwa dan saksi, karena hal-hal yang mereka tuduhkan itu nyata sekali tidak benar, dan Kristus tahu bahwa Pilatus sendiri yakin bahwa tuduhan mereka palsu. Perhatikanlah, ketika Kristus berbicara, Ia membangkitkan kekaguman, dan begitu pula halnya ketika Ia terus berdiam diri. 5) Usulan yang diajukan Pilatus kepada orang banyak, untuk membebaskan Yesus bagi mereka, karena telah menjadi kebiasaan pada hari raya untuk menunjukkan belas kasihan di dalam khidmatnya hari raya itu dengan membebaskan seorang tahanan. Orang banyak mengharapkan dan meminta Pilatus untuk berbuat seperti yang selama ini dia lakukan terhadap mereka (ay. 8). Praktik semacam ini bukanlah praktik yang keliru, dan mereka ingin agar praktik ini terus dijalankan. Nah, Pilatus melihat bahwa imam-imam kepala menyerahkan Yesus karena dengki, karena Kristus mempunyai reputasi yang membuat reputasi para imam kepala itu pudar (ay. 10). Dengan membandingkan betapa bersemangatnya para pendakwa dan begitu tipisnya bukti-bukti yang ada, maka mudahlah untuk melihat bahwa bukan kesalahan-Nya melainkan kebaikan-Nya, bukan sesuatu yang jahat atau merusak, melainkan sesuatu yang patut dipuji dan mulia, yang membuat imam-imam kepala ini berang. Oleh sebab itu, mendengar betapa Kristus menjadi pujaan orang banyak, Pilatus berpikir bahwa dia bisa dengan aman mengalihkan permohonan dari para imam kepada orang banyak dengan harapan bahwa mereka akan merasa bangga untuk menyelamatkan-Nya dari tangan para imam. Pilatus mengajukan suatu cara agar orang banyak dapat melakukannya tanpa menimbulkan kegaduhan; biarlah mereka meminta agar Kristus dibebaskan, maka Pilatus akan siap melakukannya dan membungkam mulut para imam dengan hal itu -- yaitu agar orang banyak bersikeras sehingga Ia dibebaskan. Memang saat itu ada satu tahanan lain yang bernama Barabas yang mempunyai hak untuk dibebaskan melalui pungutan suara orang banyak, tetapi Pilatus tidak ragu bahwa suara yang diberikan kepada Yesus akan jauh mengunggulinya. 6) Teriakan kemarahan dari orang banyak untuk menghukum mati Kristus, dan khususnya untuk menyalibkan Dia. Pilatus sangat terkejut ketika melihat bagaimana orang banyak begitu terhasut oleh para imam sehingga mereka semua setuju untuk menginginkan agar Barabas dibebaskan (ay. 11). Pilatus melawannya sekuat mungkin, "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?" "Tidak inginkah kalian agar Ia juga dibebaskan?" (ay. 12). "Tidak!" sahut mereka, "Salibkanlah Dia!" Para imam, setelah menaruh kata-kata itu pada mulut orang banyak, bersikeras agar penyaliban ini dilaksanakan. Ketika Pilatus berkeberatan, "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" (pertanyaan yang sangat penting dalam kasus seperti itu), mereka tidak berusaha menjawabnya, tetapi makin keras berteriak, karena mereka semakin disulut dan dipanas-panasi oleh para imam, "Salibkanlah Dia, salibkanlah Dia!" Para imam, yang sangat sibuk menyebar ke sana-sini di antara kerumunan orang banyak untuk membuat mereka terus berteriak, berpikir bahwa dengan jalan begini mereka bisa mempengaruhi Pilatus dalam dua cara untuk menghukum Kristus. . Apabila teriakan-teriakan yang melawan Kristus begitu kedengaran banyaknya, maka hal itu dapat membuat Pilatus cenderung percaya bahwa Kristus memang bersalah. "Pasti," mungkin pikir Pilatus, "Kristus tentulah orang yang sangat jahat, dan seluruh dunia kini sudah muak terhadap-Nya." Pilatus akan menyimpulkan bahwa dia telah diberikan informasi yang salah ketika dia diberi tahu bahwa Kristus begitu disenangi orang banyak, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Di lain pihak, para imam pun mempercepat proses penghukuman itu dengan melakukan begitu banyak cara, sehingga kita bisa beranggapan bahwa orang-orang yang adalah teman-teman Kristus, dan yang akan menentang teriakan-teriakan ini, sedang berada di bagian ujung lain dari kota itu, dan tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini. Perhatikanlah, sudah menjadi kebiasaan umum bahwa Iblis selalu melakukan tipu muslihat untuk mencemarkan nama baik Kristus dan ajaran-Nya, dan dengan begitu berusaha menghancurkannya. Apabila sekte ini, demikian para imam menyebutnya, sudah ditentang di mana-mana, walaupun tanpa penyebab, maka kenyataan bahwa ia ditentang di mana-mana sudah cukup untuk dijadikan alasan untuk mengutuknya. Maka dari itu, marilah kita menilai orang dan segala sesuatu berdasarkan kebaikannya dan dengan standar firman Allah, dan bukan menghakimi terlebih dulu berdasarkan ketenaran dan teriakan umum dari rakyat. . Teriakan orang banyak tersebut bisa mendorong Pilatus untuk menghukum Kristus untuk menyenangkan mereka, karena dia memang takut tidak menyenangkan mereka. Pilatus bukanlah orang yang begitu lemah sehingga bisa dikendalikan oleh pendapat orang banyak dan percaya bahwa Kristus bersalah. Hanya saja, dia begitu jahat sehingga dapat digoyahkan oleh kemarahan mereka dan kemudian menghukum-Nya, walaupun dia yakin Kristus tidak bersalah. Dengan demikian, Pilatus terbujuk karena alasan-alasan kenegaraan dan hikmat dunia. Tuhan Yesus mati sebagai korban untuk dosa orang banyak, Pilatus menjadi korban kemarahan orang banyak. Pilatus, karena ingin memuaskan maksud jahat orang Yahudi, menyerahkan Kristus untuk disalibkan (ay. 15). Karena ingin memuaskan hati orang banyak, untuk melakukan apa yang memadai bagi mereka (begitulah maksudnya), dan untuk menenangkan mereka supaya mereka tetap diam, Pilatus membebaskan Barabas bagi mereka, yang merupakan kecemaran dan tulah bagi bangsa mereka, dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan, yang sebenarnya merupakan kemuliaan dan berkat bagi bangsa mereka. Walaupun sudah menyesah Yesus sebelumnya, dengan berharap bahwa hal itu dapat memuaskan mereka, dan tidak berencana untuk menyalibkan Dia, Pilatus pada akhirnya jadi juga menyalibkan Dia. Tidaklah mengherankan bahwa seseorang yang bisa dibujuk untuk menghajar orang yang tidak bersalah (Luk. 23:16), juga sedikit demi sedikit dapat dibujuk untuk menyalibkan orang seperti itu. Kristus disalibkan, penyaliban itu adalah: . Kematian yang berdarah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22). Darah adalah nyawa (Kej. 9:4); darah merupakan sarana dari roh makhluk hidup untuk menghubungkan jiwa dan tubuh, sehingga karena itu, kehabisan darah berarti kehabisan nyawa. Kristus mau menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, dan oleh sebab itu Ia menumpahkan darah-Nya. Darah mengadakan pendamaian bagi nyawa (Im. 17:11), dan karena itu, di dalam setiap persembahan pendamaian ada peraturan khusus yang dibuat untuk penumpahan darah dan pemercikannya di hadapan Tuhan. Nah, supaya Kristus dapat memenuhi semua syarat ini, Ia menumpahkan darah-Nya. . Penyaliban merupakan kematian yang menyakitkan. Kesakitan itu sangat terasa dan menyengat, karena kematian menyerang hal-hal yang penting bagi kehidupan melalui bagian-bagian luar, yang merupakan bagian indra yang paling merasakannya. Kristus mati, supaya Dia dapat merasakan diri-Nya sendiri meninggal dunia, karena Dia akan menjadi imam sekaligus korban. Ia meninggal, supaya Ia dapat aktif berperan dalam kematian, karena Ia akan menyerahkan nyawa-Nya sebagai korban persembahan untuk dosa. Tully menyebut penyaliban dengan Teterrimum supplicium -- hukuman yang paling dahsyat, Kristus akan menghadapi maut dengan bentuk ketakutannya yang terhebat, supaya dengan demikian Ia menaklukkan maut itu. . Penyaliban merupakan kematian yang memalukan, kematian bagi para budak dan penjahat yang paling keji; begitulah penyaliban dipandang oleh orang Romawi. Salib dan malu dipadukan bersama-sama. Karena Allah telah dinodai kehormatan-Nya oleh dosa manusia, maka di dalam kehormatan Allah pula, Kristus menjadikan diri-Nya sebagai korban pemuasan bagi Allah, bukan hanya dengan menyangkal dan memisahkan diri-Nya sendiri selama suatu waktu dari kehormatan yang patut didapat-Nya berdasarkan sifat keilahian-Nya, tetapi juga dengan menyerahkan diri-Nya di bawah celaan dan penghinaan yang paling keji yang bisa ditanggung oleh manusia. Walaupun begitu, semuanya ini bukanlah yang terburuk. . Lebih dari itu, penyaliban merupakan kematian yang terkutuk; begitulah penyaliban dicap di dalam hukum Yahudi (Ul. 21:23); Seseorang yang digantung, ia terkutuk oleh Allah, dan ia sedang berada di bawah tanda khusus bahwa Allah tidak senang kepadanya. Penyaliban merupakan kematian yang ditimpakan kepada anak-anak Saul, ketika mereka harus menebus kesalahan yang dilakukan oleh rumah tangga ayah mereka yang penuh darah (2Sam. 21:6). Haman dan anak-anaknya disulakan pada tiang (Est. 7:10; 9:13). Kita tidak pernah membaca ada seorang pun dari nabi-nabi Perjanjian Lama yang digantung, tetapi kini Kristus menyerahkan diri untuk digantung di pohon. Dengan demikian, celaan dan kutuk dari kematian semacam itu sudah terhapuskan, agar kematian seperti itu bisa menjadi penghiburan bagi mereka yang mati dengan tidak berdosa atau sudah bertobat, dan juga supaya mereka yang mati syahid bagi Kristus dengan cara digantung seperti Dia, bisa mendapat kemuliaan dan bukan kehinaan. Khotbah GMIM Minggu, 3 April 2022 - KEBENARAN MEREDUP DEMI KEPENTINGAN (Pilatus Takut Kehilangan Jabatan dan Nyawa Tapi Akhirnya ....) Usaha keras Pilatus untuk membebaskan Yesus tidak membuahkan hasil. Segala tawaran Pilatus untuk berkompromi demi membebaskan Yesus tidak berhasil. Hal ini terjadi karena Pilatus sejak awal sudah salah dalam bertindak. Ketika Pilatus tahu dengan pasti bahwa Yesus tidak bersalah, maka seharusnya tindakannya adalah melepaskan Yesus. Hal ini bisa dilakukannya dengan otoritasnya sebagai wali negeri serta dukungan militer yang kuat. Seandainya rakyat melakukan perlawanan, maka Pilatus dengan sah bisa mengerahkan kekuatan militer dan dia tidak akan bisa dilawan. Kaisar di Roma pun tidak akan menyalahkannya jika Pilatus membebaskan Yesus, sebab ia telah melakukan penyelidikan yang cermat serta tidak menemukan apapun kesalahanNya. Namun, yang dilakukan Pilatus justru berkompromi dengan keinginan orang-orang Yahudi. Akibatnya Pilatus sudah terlambat untuk mengantisipasi keadaan, massa sudah semakin beringas! Akibat kompromi yang dilakukannya, Pilatus pun menuai bencana. Ketika Pilatus bersikeras melakukan negosiasi, ia ditolak dan ia pun menyerah. Padahal istrinya sudah mengingatkannya agar tidak mencampuri perkara Yesus yang ia anggap sebagai “orang benar”, sebab ia mendapat mimpi dan susah tidur (Matius 27:19). Sebenarnya ini adalah sebuah peringatan bagi Pilatus. Namun demikian, meski Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah dan telah diperingatkan oleh istrinya, ia akhirnya menyalibkan Yesus. Alasan utama Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalibkan sebenarnya bukan karena ingin menyenangkan orang Yahudi. Ia takut kehilangan nyawanya. Pilatus takut jika orang Yahudi melaporkannya kepada Kaisar Tiberius, karena mereka berkata bahwa jika Pilatus membebaskan Yesus maka Pilatus bukanlah sahabat kaisar (Yohanes 19:12), artinya ia melawan kaisar. Jadi bisa saja orang Yahudi mengadukan Pilatus kepada kaisar sebagai pemimpin yang tidak becus, sehingga ia bisa dipecat bahkan dihukum mati. Ketika emosi massa tidak lagi terkendali, Pilatus malah mencuci tangannya tanda tak bersalah. Pilatus tak mau bertanggung jawab atas penyaliban dan kematian Yesus. Pilatus pun menyerahkan Yesus untuk disalibkan! (Lukas 23:23-25). Pilatus rela mengorbankan Yesus yang tak bersalah demi mempertahankan jabatannya dan nyawanya di hadapan kaisar Romawi! Tetapi dengan mencuci tangannya, sebenarnya Pilatus tidak bisa lepas tanggung jawab, sebab ia adalah seorang pemimpin yang seharusnya dapat mengendalikan situasi. Seharusnya Pilatus punya kuasa untuk melepaskan Yesus yang tidak bersalah, tetapi tidak dilakukannya. Karena itu, Pilatus pastilah ikut terlibat dalam penyaliban Yesus. Alkitab dengan jelas menyatakan hal itu (Kisah Para Rasul 4:26-27). Jadi orang yang menyalibkan Yesus bukan hanya prajurit Pilatus, para pemimpin dan rakyat Yahudi, serta Yudas Iskariot, tetapi juga Pilatus sendiri! Akibat yang ditimbulkan keputusan fatal Pilatus ini (menyalibkan Yesus yang tidak bersalah), sangat mengerikan. Sebab, sebagaimana kita tahu dari sejarah, Pilatus kemudian dihukum mati oleh Kaisar Romawi, Gayus (memerintah tahun 37-41 Masehi) dengan cara dipaksa bunuh diri. Ini terjadi karena kasus pembantaian terhadap orang-orang Samaria oleh Pilatus, yang diadukan kepada kaisar. Benarlah yang dikatakan Tuhan Yesus, "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:25)
Daftar Label dari Kategori Khotbah MTPJ GMIM 2022 Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Lagu-lagu Remaja GMIM,
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat Selanjutnya: MTPJ 10-16 April 2022 Sebelum: MTPJ 3 - 9 April 2022 (Minggu Sengsara V) MENU UTAMA: Album Remaja GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM(6) Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46) Berita GMIM 2022(2) Contoh Doa GMIM(7) Contoh Tata Ibadah GMIM(30) Doa Doa GMIM(3) Dua Sahabat Lama (DSL)(115) Khotbah MTPJ GMIM 2020(47) Khotbah MTPJ GMIM 2021(95) Khotbah MTPJ GMIM 2022(88) Khotbah MTPJ GMIM 2023(269) Khotbah MTPJ GMIM 2024(233) Khotbah MTPJ GMIM 2025(59) Khotbah MTPJ GMIM 2026(35) Kidung(5) Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467) Lagu Pilihan(11) Lagu-lagu Remaja GMIM(9) Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20) MARS GMIM(9) MTPJ 2019(42) NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51) Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124) Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53) Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11) Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6) Tata Ibadah GMIM(26) Tentang GMIM(8) xx(15) xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1) xxx(9) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Khotbah MTPJ GMIM 2026 Rabu 24 Juni 202 Khotbah RHK GMIM Rabu 24 Juni 2026, Membangun Keluarga Yang Diberkati - Kejadian 9:7 Minggu, 21 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 21 Juni 2026 - INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI - Kejadian 9:1-17 Rabu, 17 Juni 2026 Khotbah RHK GMIM Rabu, 17 Juni 2026 - Pelayanan Yang Berkesinambungan - Yohanes 4:37-38 Minggu, 14 Juni 2026 Khotbah GMIM Minggu, 14 Juni 2026 - PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA - Yohanes 4:27-42 Rabu, 10 Juni 2026 Khotbah Ibadah Keluarga GMIM Rabu, 10 Juni 2026 - Jangan Iri kepada Orang Fasik - Mazmur 92:8–9 Jumat, 3 April 2026 TATA IBADAH JUMAT AGUNG KEMATIAN TUHAN YESUS KRISTUS DAN PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS - Jumat, 3 April 2026 25 Desember 2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Jemaat, Desember 2023 25 Desember2023 Tata Ibadah GMIM, Menyambut Natal Yesus Kristus Wilayah, Desember 2023 24 Desember 2023 Tata Ibadah Malam Natal GMIM 26 Maret 2023 Tata Ibadah Remaja GMIM 26 Maret – 1 April 2023 |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagugereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |
https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036, renungan gmim untuk ibadah remaja, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852, khotbah gmim Filemon 1 : 4-22, buku lagu pemuda gmim, tata ibadah pemuda gmim, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851, teks mars pria kaum apa gmim, tata ibadah pemuda gmim, Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021, tata ibadah menyambut natal remaja gmim, MTPJ GMIM minggu adven 2, khotbah gmim markus 4 : 35-41, Renungan pemuda Remaja GMIM 2021, mtpj 8 november 2021, Dodoku GMIM MTPJ, Khotbah GMIM Minggu ini, MTPJ GMIM 2021, mtpj, mtpj gmim bulan nopember 2021,