gmim.lagu-gereja.com
Gereja Masehi Injili di Minahasa

View : 237 kali
Download MP3 Music
'\'\''

KETERANGAN

UMUM
-    Judul semua unsur Tata Ibadah dalam buku ini, yaitu Tahbisan, Salam, Nas Pembimbing, Nyanyian Masuk, dan seterusnya, tidak perlu diucapkan oleh pemimpin ibadah. Demikian juga dengan keterangan-keterangan di belakang judul-judul itu (mengenai duduk, berjalan dan berdiri), tidak diucapkan.
-    Dalam buku ini tercantum nyanyian-nyanyian dari Mazmur, Kidung Jemaat, Nyanyikanlah Nyanyian Baru Bagi Tuhan terbitan BPS GMIM. Juga diambil dari buku “Dua Sahabat Baru” terbitan PGI; buku “Sahabat Kita” ciptaan Johny Mapaliey; terbitan; Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB); Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ); Nyanyian Kemenangan Iman (NKI); Mazmur dan Nyanyian Rohani (MNR); Mazmur dan Kidung Jemaat
-    Baik nyanyian maupun bacaan-bacaan Alkitab yang disebut dalam Tata Ibadah di buku ini, hanya merupakan usul-usul; setiap pemimpin ibadah dan setiap jemaat bebas memilih mazmur-mazmur, nyanyian dan bacaan-bacaan Alkitab yang lain dari yang telah diusulkan.
-    Kecuali Doa Janji Anugerah Allah (TATA IBADAH HARI MINGGU BENTUK II) dan Doa Syukur Agung (TATA IBADAH PERAYAAN PERJAMUAN KUDUS BENTUK II), maka sebenarnya dalam buku ini tidak ada teks-teks doa yang disediakan. Dengan demikian kebebasan berdoa diper-tahankan. Karena itu setiap pemimpin ibadah berkewajiban untuk mempersiapkan, bukan hanya khotbah, tetapi juga doa-doa sejalan dengan pokok yang hendak dikhotbahkan. Dalam buku RENUNGAN HARIAN KELUARGA yang diterbit-kan oleh Sinode GMIM ada contoh-contoh doa yang disusun sehubungan dengan pokok yang direnungkan.

PERSIAPAN
-    Doa pribadi oleh setiap anggota jemaat di dalam gereja dan doa jabatan oleh seorang Pelayan Khusus bersama dengan pemimpin ibadah di konsistori (=tempat pertemuan majelis jemaat).
Pembacaan WARTA JEMAAT oleh salah seorang Pelayan Khusus.
-    Mempelajari bersama-sama lagu-lagu yang akan dinyanyikan dalam ibadah dengan dipimpin oleh seorang pemimpin biduan/nyanyian (=prokantor) yang telah ditunjuk oleh BPMJ.
-    Penyerahan stola kepada pemimpin ibadah oleh salah seorang Pelayan Khusus di konsistori atau di depan jemaat.
-    Bilamana perlu, pemimpin ibadah memberi keterangan-keterangan tertentu mengenai Tata Ibadah yang akan diikuti kepada jemaat.

TAHBISAN
    Tahbisan ibadah merupakan suatu kata pembukaan, yang diucapkan oleh pemimpin ibadah dan yang menyatakan bahwa hanya dalam Nama TUHAN (Mzm. 124:8; 138:8; 146:6), yaitu nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19), kita dapat beribadah.
    Dalam Tata Ibadah Hari Minggu Bentuk II dan beberapa tata ibadah yang lain, Tahbisan diganti dengan Panggilan Untuk Berdoa dan Doa Penyembahan kepada Allah, yang di dalamnya dipanggil nama Allah sebagai TUHAN atau sebagai Bapa Yesus Kristus dan memohon kehadiran-Nya oleh Roh Kudus di tengah jemaat.

SALAM
    Salam diucapkan oleh pemimpin ibadah kepada jemaat dan oleh jemaat kepada pemimpin ibadah. Salam itu disebut dalam Peranjian Lama (a.l. Rut 2:4; 1Sam. 25:6), juga diucapkan oleh Yesus Kristus (baik sebelum, maupun sesudah kebangkitan-Nya), tetapi khususnya diberikan pada permulaan surat-surat rasul-rasul dalam Perjanjian Baru (Rm. 1:7; 1Kor. 1:3; 2Kor 1:2; Gal 1:3-5; Ef. 1:2; Flp. 1:2; Kol. 1:2; 1Tes. 1:1; 2Tes. 1:2; 1Tim. 1:2; 2Tim. 1:2; Tit. 1:4; Flm. 3; 1Ptr. 1:2; 2Yoh. 3; Yud. 2; Why. 1:4,5). Oleh jemaat masa kini dapat juga dipakai suatu rumusan salam modern.
    Pemimpin ibadah boleh mengucapkan salam dengan mengangkat satu tangan lurus ke depan.


NAS PEMBIMBING
    Nas pembimbing menyatakan sifat khusus ibadah dalam hubungannya dengan tahun gereja, dengan pelayanan sakramen, dengan peneguhan, pelantikan, penetapan, pengutusan; dengan peristiwa-peristiwa khusus atau dengan tema khotbah.

NYANYIAN MASUK
    Nyanyian masuk merupakan jawab jemaat atas pembacaan nas pembimbing, sehingga nyanyian ini juga harus dikaitkan dengan tahun Gereja, dengan pelayanan sakramen, dengan peneguhan, pelantikan, penetapan, dengan peristiwa-peristiwa khusus atau dengan tema khotbah. Sesuai dengan suatu tradisi yang tua sekali, maka sebaiknya nyanyian masuk dipilih dari Mazmur-mazmur, namun juga Kidung Jemaat antara lain; No. 84; 7; 242; 2; 1; 60; 243; 10; 5; 45; 3:1,4 dan 57 dapat dipakai.
    Bila jemaat telah menyanyikan NNBT,mazmur atau Kidung Jemaat sebelum Tata Ibadah, maka sebaiknya nyanyian masuk sesudah pembacaan nas pembimbing ditiadakan, karena dalam hal ini nyanyian sebelum tahbisan berfungsi sebagai nyanyian masuk.

PENGAKUAN DOSA
    Pengakuan dosa merupakan suatu unsur penting dalam tiap-tiap ibadah, oleh karena tidak ada seorang Kristen pun atau suatu jemaat pun yang tidak berbuat dosa. Pemimpin ibadah mengaku dosa jemaat dan anggota-anggotanya, termasuk dosa pemimpin ibadah sendiri, kepada TUHAN yang suci dan sempurna, dan memohon kepada-Nya pengampunan dosa.
    Pengakuan dosa bukan hanya dapat diucapkan oleh pemimpin ibadah dan dibenarkan oleh jemaat melalui nyanyian sesudah pengakuan dosa; tapi juga dapat diucapkan dalam bentuk dwibicara, yaitu oleh pemimpin ibadah bersama dengan jemaat, umpamanya:
P    (Kami mengaku di hadapan hadirat-Mu, bahwa kami telah berbuat dosa dalam pikiran)
    Ya TUHAN, berpalinglah kepada kami,
J        dan kasihanilah kami.
P    (Kami mengaku di hadapan hadirat-Mu, bahwa kami telah berbuat dosa dalam perkataan)
    Ya TUHAN berpalinglah kepada kami,
J        dan kasihanilah kami.
P    (Kami mengaku di hadapan hadirat-Mu, bahwa kami telah berbuat dosa dalam perbuatan)
    Ya TUHAN berpalinglah kepada kami,
J        dan kasihanilah kami.
P    Amin.
    
    Rumusan ini diambil dari Mazmur 25:16. Ayat-ayat lain yang dapat dipakai untuk pengakuan dosa dalam bentuk dwibicara ialah: Bil. 14:19; Mzm. 26:11; 41:5; 41:5; 41:11; 51:3; 130:3; Yes. 59:12; 13; 64:9; Dan. 9:19; Amos 7:1; Mat. 6(9); 12; Luk. 11:(2),4. 
    Sebenarnya doa pengakuan dosa dan nyanyian sesudah pengakuan dosa harus diucapkan dan dinyanyikan sambil berlutut, sedangkan puji-pujian sesudah pemberitaan Anugerah Allah dipersembahkan sambil berdiri. Oleh karena dalam Gereja-gereja protestan hampir tidak dilakukan lagi hal berlutut di hadapan TUHAN, maka arti kata “merendahkan diri di hadapan TUHAN, Allah kita”, tidak dihayati lagi dengan baik. Untuk mengem-bangkan unsur pengakuan dosa dan nyanyian sesudah pengakuan dosa, maka sungguh-sungguh diusahakan, supaya baik pemimpin ibadah maupun jemaat tunduk kepala sementara mengaku dosa dan sementara menyanyikan nyanyian sesudah pengakuan dosa.

NYANYIAN SESUDAH PENGAKUAN DOSA
    Nyanyian sesudah pengakuan dosa merupakan sambutan jemaat atas pengakuan dosa yang diucapkan oleh pemimpin ibadah atas nama jemaat. Untuk maksud ini dapat dipakai:
    Tuhan kasihani kami.
    Kristus kasihani kami.
    Tuhan kasihani kami.
atau:
    Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia 
    kasihani kami.
    Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, 
    berilah kami damai. Amin.
atau: 
    Mzm. No. 25:3; 26:6,7; 40:6; 51:1 KJ. 5:3; 29; 39:2; 25:1 345:1; 466:1 30:4; 254:3.
    Bila pengakuan dosa diucapkan dalam bentuk dwibicara, maka nyanyian sesudah pengakuan dosa ditiadakan, karena secara langsung nyanyian jemaat telah diikutsertakan dalam doa pengakuan dosa.

JANJI ATAU PEMBERITAAN ANUGERAH ALLAH
    Janji atau Pemberitaan Anugerah Allah menyusul pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dosa. Dalam Tata Ibadah yang memakai rumusan-rumusan “Janji Anugerah Allah” diberi pengharapan tentang pengampunan dosa kepada setiap orang yang merendahkan diri, menyesali dosanya dan bertobat. Sedangkan dalam Tata Ibadah yang memakai rumusan “Pemberitaan Anugerah Allah” diberi kepastian bahwa pengampunan dosa telah berlaku dalam Nama BAPA, ANAK dan ROH KUDUS, bagi setiap orang yang merendahkan diri, menyesali dosa dan bertobat. Dalam rumusan “...sebagai pelayan Yesus Kristus kami memberitakan pengampunan dosa kepada…” dipakai kata “kami” dan bukan “aku”. Ini dimaksudkan untuk menekankan bahwa kabar kesukaan tentang Anugerah Allah hanya dapat diucapkan dalam rangka persekutuan orang-orang kudus. Sebagai nas pemberitaan anugerah Allah dapat dipilih: Mzm. 102:8-13; Yes. 1:18; Yoh. 3:16; 3:36; 2Kor. 5:21; 1Tim. 4:15.

NYANYIAN SESUDAH PEMBERITAAN ANUGERAH ALLAH
    Nyanyian ini merupakan sambutan jemaat atas pemberitaan tersebut. Nyanyian ini bersifat pengucapan syukur atas pem-beritaan Anugerah Allah, bahkan puji-pujian kepada Allah yang oleh karena nama-Nya mengampuni dosa setiap orang yang merendahkan diri, menyesali dosanya dan bertobat. Sebagai nyanyian sesudah pemberitaan anugerah Allah dapat dipilih: Mzm. No. 32:1,2; 103:1,4,5; KJ No. 45:1,3; 287:1 442:3; 379:2; 289:4,6; 39; 25:3,4; 31; 281; 367:1; 37:2,3.

PUJI-PUJIAN
    Puji-pujian ini dipersembahkan oleh jemaat kepada TUHAN Allah. Ia dapat dipersembahkan dalam bentuk bacaan sebuah mazmur puji-pujian atau syair puji-pujian yang lain; dapat juga dipersembahkan dalam bentuk nyanyian. 
Sebagai Mazmur puji-pujian dapat dibacakan: Mzm. 33; 68; 98; 100; 103; 104; 105; 117; 118; 135; 138; 144; 146; 147; 148; 149; 150. Sebagai nyanyian puji-pujian dapat dipakai: KJ No. 1; 7; 62; 243; 10; 5; 45; 9; 287 (atau menggunakan buku nyanyian lainnya, seperti PKJ, NKB, NNBT, dst). Khususnya bila sebuah Mazmur puji-pujian dibaca, maka puji-pujian diakhiri dengan menyanyikan KJ No. 48.

HUKUM TUHAN
    Hukum TUHAN dapat dibacakan sebelum atau sesudah pengakuan dosa dan pemberitaan anugerah Allah. Kalau hukum TUHAN dibacakan sebelum pengakuan dosa dan pemberitaan anugerah, maka ia berfungsi sebagai cermin, yang menyatakan kepada kita pelanggaran-pelanggaran, yakni dosa kita. Bila hukum TUHAN dibacakan sesudah pengakuan dosa dan pemberitaan anugerah, maka ia berfungsi sebagai petunjuk kehidupan baru yang patut dimulaikan dan atau dikembangkan, karena Allah dalam Yesus Kristus telah memberikan pengampunan kepada kita yang menyesali dosa kita.

NYANYIAN SESUDAH HUKUM TUHAN
    Nyanyian sesudah hukum TUHAN (sebagai petunjuk ke-hidupan baru) merupakan sambutan jemaat. Dalam hal ini dapat dinyanyikan: KJ No. 419; 309; 378; 25:2; 460; 411:1; 466:3,4.

DOA UNTUK PEMBACAAN DAN PEMBERITAAN FIRMAN TUHAN
    Doa untuk pembacaan dan pemberitaan Firman TUHAN, yang sering disebut doa mohon penerangan Roh Kudus, ialah suatu doa permohonan. Yang dimohon ialah kedatangan dan penerangan Roh Kudus, agar Firman TUHAN, yang akan dibacakan dan diberitakan akan dihayati dengan baik oleh pemimpin ibadah dan jemaat, sesuai dengan maksud dan tujuan Allah, Pemberi Firman.

PEMBACAAN ALKITAB
    Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama (Taurat, Nabi-nabi dan Kitab-kitab) dan Perjanjian Baru (Injil-Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat dan Wahyu).
    Pembacaan Alkitab yang paling lengkap terdiri dari empat bagian: 
        1. Taurat; 
        2. Nabi-nabi (atau Kitab-kitab); 
        3. Injil-Injil; dan 
    4. Surat-surat (atau Kisah Para Rasul/Wahyu). 
Biasanya dibacakan juga tiga bagian (Perjanjian Lama, Injil-Injil, dan Surat-surat), dua bagian (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), dan satu bagian.
    Jika lebih dari satu bagian Alkitab dibacakan, maka Injil selalu akan dibacakan sebagai bagian terakhir. Di antara segala buku Alkitab, Injil-Injil adalah yang paling agung dan mulia. Karena itu salah satu tradisi yang tua menghendaki pembacaan Injil sambil berdiri.

NYANYIAN SESUDAH PEMBACAAN ALKITAB
Nyanyian sesudah pembacan Alkitab merupakan sambutan jemaat. Sesudah pembacaan Perjanjian Lama salah satu ayat dari Mazmur-mazmur dapat dinyanyikan; sesudah pembacaan Surat-Surat dinyanyikan: “Haleluya”; dan sesudah pembacaan Injil dan ucapan “Terpujilah Kristus” oleh pemimpin ibadah, dinyanyikan: “Selamanya Amin”. Dalam masa Advent dan masa sengsara “Haleluya” diganti dengan “Hosana”.
Juga dapat dinyanyikan: “Firman-Mu pelita bagi kakiku.......” Atau NNBT No.2,3,6,7,16,46,49,50 atau KJ No. 49; 50; 51; 52; 53; 54:2; 57; 59; 252:1; 352:2; juga Mazmur atau KJ yang sejiwa dengan pembacaan Alkitab dalam masa Adven (salah satu nyanyian Adven), dan seterusnya.

NAS KHOTBAH; KHOTBAH
    Ada hubungan erat antara pembacaan Alkitab, Nas Khotbah dan Khotbah. Karena itu nas khotbah dipilih dari bagian (-bagian) Alkitab yang dibacakan. Jika salah satu bagian Alkitab seluruhnya dipilih sebagai dasar pemberitaan Firman TUHAN, maka nas khotbah ditiadakan; dalam hal ini sebaiknya dijelaskan kepada jemaat bagian mana dari bacaan-bacaan Alkitab yang dipilih sebagai dasar khotbah. Khotbah yang menerangkan dan menerap-kan Firman Tuhan, harus disiapkan dengan baik dan tidak boleh makan waktu lebih banyak dari setengah jam.
NYANYIAN SESUDAH KHOTBAH
    Nyanyian sesudah khotbah merupakan sambutan jemaat. Dalam hal ini dapat dinyanyikan NNBT No.7, 10, 17,1 9, 20, 21, 24, 26, 28, 29, 35 atau  KJ No. 308; 252:1; atau salah satu nyanyian dipilih yang sesuai dengan isi khotbah. Dalam buku MAZMUR DAN KIDUNG JEMAAT  ada daftar ayat-ayat Alkitab dan nyanyian paralel dengan ayat-ayat Alkitab itu. Tentu ini bisa membantu dalam memilih nyanyian sesudah khotbah.

PENGAKUAN IMAN
    Dalam persekutuan dengan Gereja segala abad dan tempat, GMIM menerima sebagai pengakuan iman:
1.    PENGAKUAN IMAN RASULI
    Aku percaya kepada Allah Bapa, Yang Mahakuasa, 
    Khalik langit dan bumi.
    Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, TUHAN kita, yang dikandung dari pada Roh Kudus, lahir dari Anak dara Maria, yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Yang Mahakuasa, dan akan datang dari sana untuk meng-hakimi orang yang hidup dan yang mati.
    Aku percaya kepada Roh Kudus; 
    Gereja yang kudus dan am; persekutuan orang kudus; 
    pengampunan dosa; kebangkitan daging; 
    dan hidup yang kekal. Amin.

2.    PENGAKUAN IMAN NICEA-KONSTANTINOPEL
    Aku percaya kepada satu Allah Bapa,
    Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi,
    segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
    Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus,
    Anak Allah yang tunggal,
    yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman,
    Allah dari Allah, Terang dari terang,
    Allah yang sejati dari Allah yang sejati,
    diperanakkan, bukan dibuat, 
    sehakikat dengan sang Bapa,
    yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat;
    yang telah turun dari sorga untuk kita manusia
    dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging, 
    oleh Roh Kudus, dari Anak dara Maria,
    dan menjadi manusia, yang disalibkan bagi kita 
    di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, 
    menderita dan dikuburkan; 
    yang bangkit pada hari ketiga;
    sesuai dengan isi kitab-kitab, dan naik ke sorga, 
    yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa,
    dan akan datang kembali dengan kemuliaan
    untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati;
    yang kerajaan-Nya takkan berakhir.
    Aku percaya kepada Roh Kudus, 
    yang adalah Tuhan dan yang menghidupkan,
    yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak,
    yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak 
    disembah dan dimuliakan, 
    yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi.
    Aku percaya kepada satu Gereja 
    yang kudus dan am dan rasuli.
    Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa.
    Aku menantikan kebangkitan orang mati 
    dan kehidupan di zaman yang akan datang. Amin.

    Baik pengakuan Iman Rasuli maupun pengakuan Nicea-Konstantinopel dapat dipergunakan dalam ibadah-ibadah, walau-pun pengakuan Iman Rasuli lebih biasa bagi jemaat.
    Pengakuan Iman GMIM yang juga dapat dipergunakan dalam ibadah-ibadah, sedang disusun.

NYANYIAN (SESUDAH) PENGAKUAN IMAN
    Sebagai nyanyian pengakuan iman (yang menggantikan pembacaan Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel) dan/atau sebagai nyanyian sesudah pengakuan iman (yang mengaminkan pembacaan pengakuan iman oleh pemimpin ibadah) dapat dipilih dari NNBT No.2, 3, 4, 7, 36, 37, 38, 42,43 atau KJ No. 280; dan nyanyian-nyanyian yang lain.

PERSEMBAHAN
    Persembahan jemaat ialah suatu unsur ibadah yang tidak dapat ditiadakan. Persembahan jemaat adalah penting karena uang atau bahan in natura dikumpulkan untuk membangun persekutuan gereja dan jemaat setempat, bahkan untuk membiayai misi gereja di dunia ini dan melayani orang-orang miskin, dll. Tetapi persembahan jemaat juga terutama penting sebagai tanda pengucapan syukur atas perdamaian dengan TUHAN, Allah kita yang diperoleh berdasarkan korban Yesus Kristus.
    Karena itu terdapat hubungan erat antara persembahan dan perayaan perjamuan kudus. Meja persembahan tidak berbeda dengan meja perjamuan kudus, di mana orang kaya bersekutu dengan orang miskin dan di mana Yesus Kristus yang mem-persembahkan tubuh-Nya demi perdamaian manusia dengan Allah, melayani sesama peserta perjamuan.
    Persembahan dapat diminta satu kali, dua kali atau paling banyak tiga kali. Jikalau dua kali atau tiga kali diminta, maka tujuan persembahan-persembahan ini harus berbeda-beda. Secara liturgis tidak dapat dipertanggungjawabkan, jikalau dua kali atau tiga kali dipungut untuk maksud dan tujuan yang sama.

NYANYIAN PERSEMBAHAN
    Sebagai nyanyian persembahan dapat dipilih: NNBT No.6,16,17,19,29,37,38,43,44 atau KJ No. 286; 287; 289; 290; 367; 365. Nyanyian persembahan dinyanyikan sebelum doa persembahan yang diucapkan oleh Pemimpin Ibadah (atau Syamas).

DOA UMUM
    Doa umum ialah doa jemaat kepada Allah, yang diucapkan oleh Pemimpin Ibadah atau pemimpin ibadah bersama dengan jemaat -" jikalau dipilih bentuk dwibicara (litani).
    Dalam doa ini pertama-tama Allah sebagai Pencipta, Penye-lamat dan Pembebas, bahkan segala kesempurnaan-Nya dan seluruh pekerjaan-Nya disembah. Bilamana pada permulaan ibadah Doa Penyembahan (mis. TATA IBADAH HARI MINGGU BENTUK II) telah diucapkan, maka unsur penyembahan dapat ditiadakan; apa yang telah diucapkan dalam doa penyembahan yang khusus janganlah terulang lagi dalam doa umum.
    Unsur kedua dalam doa umum ialah pengucapan syukur atas segala karunia, yang telah diterima dari Allah, baik yang bersifat jasmani maupun yang bersifat rohani. Unsur ini bersangkut paut dengan segala sesuatu di dalam dan di luar jemaat, yang membuat anggota-anggota jemaat bersukacita karena kebaikan dan ke-murahan TUHAN terhadap mereka.
    Unsur ketiga ialah doa permohonan. Di dalam jemaat tidak hanya ada karunia-karunia yang telah diterima, tetapi juga kebutuhan-kebutuhan. Apa yang dibutuhkan jemaat, baik dalam bidang jasmani maupun dalam bidang rohani, disampaikan kepada Allah, bahkan untuk itu dimohon pertolongan dari pada-Nya. Oleh karena dalam ibadah terlebih dahulu telah dimohon pengampunan dosa dan penerangan Roh Kudus, maka hal-hal ini tidak dimohon lagi dalam doa umum.
    Unsur keempat ialah doa syafaat, yaitu doa bagi orang-orang lain dari yang hadir maupun yang tidak hadir  dalam ibadah, antara lain bagi orang-orang di rumah sakit atau di penjara, bagi orang-orang yang diutus bagi jemaat-jemaat dan gereja lain (baik yang berada di dalam maupun yang berada di luar negeri), bagi orang-orang yang bukan Kristen, bagi pemerintah, bangsa dan negara dan dunia, dan sebagainya.
    Jikalau doa permohonan atau doa syafaat dibuat dalam bentuk dwibicara, maka rumusan 1Raj. 8:30; 2Taw. 6:21 atau Mzm. 143:1 dapat dipakai: 

P    .........
    Ya TUHAN, ya Allah kami.
    Dengarlah permohonan hamba-Mu,
J        doa permohonan umat-Mu.
P    .........
    Ya Tuhan, ya Allah kami.
    Dengarlah permohonan hamba-Mu,
J        doa permohonan umat-Mu.
        dst.
atau:
P    .........
    Ya Tuhan, dengarlah doa kami,
J        berilah telinga kepada permohonan kami,... dst.
    
    Doa umum biasanya diakhiri dengan Doa Bapa Kami, yang di dalamnya sebenarnya semua doa yang dinaikkan terlebih dahulu itu disimpulkan dan disempurnakan. Doa ini dapat di-ucapkan bersama, dapat juga hanya diucapkan oleh Pemimpin Ibadah, bahkan dapat diucapkan oleh Pemimpin Ibadah sampai dengan “...yang jahat...” dan sesudah itu, mulai dari “Karena Engkaulah...” oleh Pemimpin Ibadah bersama dengan jemaat.

DOA BAPA KAMI
    Bapa kami yang di sorga,
    Dikuduskanlah nama-Mu,
    datanglah Kerajaan-Mu,
    jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
    Berikanlah kami pada hari ini
    makanan kami yang secukupnya
    dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
    seperti kami juga mengampuni 
    orang yang bersalah kepada kami;
    dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
    tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
    Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan
    dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.
Untuk teks lagu Doa Bapa Kami, yang dapat dinyanyikan, seperti NNBT No.18 atau  lihatlah keterangan: Musik.

NYANYIAN PENUTUP
    Sebagai nyanyian penutup dapat dipilih: NNBT No.6,7,9,20,21,22,28,37 atau KJ No. 345; 346; 347; 348; 350; 375; 386 (dan nyanyian lain yang sejiwa).
    Jikalau Doa Bapa Kami dinyanyikan, maka nyanyian penutup ditiadakan; dalam hal ini nyanyian Doa Bapa Kami berfungsi sebagai nyanyian penutup.

BERKAT DAN  SAAT TEDUH    
    Ibadah diakhiri dengan memberi berkat kepada jemaat yang diucapkan oleh Pemimpin Ibadah dengan dua tangan terulur dan terangkat. Rumusan-rumusan yang tersedia ialah: Bil. 6:24-26 dan kata-kata terakhir dari hampir semua surat-surat dalam Perjanjian Baru, khususnya 2Kor. 13:13.
    Sebagaimana dalam bagian terakhir dari surat-surat dalam Perjanjian Baru seringkali disampaikan kepada salah seorang anggota jemaat, suatu nasihat terakhir diberitahukan atau di-peringatkan sebelum berkat diberikan, maka demikianlah ibadah kita dapat memberi “pesan penutup” sebelum berkat diberikan kepada jemaat. Sebab itu sebelum mengucapkan berkat, khadim perlu mengingatkan kembali apa yang harus dilakukan oleh jemaat ketika kembali ke dalam hidup sehari-hari.
    Sesudah berkat, yang disambut oleh jemaat dengan menyanyi: “Amin, Amin, Amin,” tidak adalagi unsur-unsur ibadah.
    
    SAAT TEDUH yang tercantum dalam semua Tata Ibadah buku ini, tidak merupakan suatu unsur baru, tetapi sebagaimana persiapan berfungsi sebagai jembatan memasuki ibadah, maka demikianlah saat teduh berfungsi sebagai jembatan keluar dari ibadah, kembali ke kehidupan sehari-hari.
    Baru setelah pemimpin ibadah turun dari mimbar, maka anggota-anggota jemaat meninggalkan tempat masing-masing. Kepada pemimpin ibadah bersama dengan Pelayan Khusus yang bertugas juga dapat diberikan kesempatan untuk berjalan ke pintu keluar gereja, supaya mereka dapat berjabat tangan dengan anggota jemaat.

PADUAN SUARA
    Walaupun dalam buku Tata Ibadah ini paduan suara tidak dicantumkan, namun ia adalah suatu unsur yang tetap dalam ibadah jemaat. Ia tidak dicantumkan hanya karena tempatnya yang tidak tetap dalam urutan unsur-unsur ibadah.
    Paduan Suara dapat menyanyi sebelum ibadah, sesudah nas pembimbing (menggantikan nyanyian masuk), sesudah khotbah (menggantikan Nyanyian sambutan jemaat), pada waktu per-sembahan (sebelum atau sesudah persembahan uang atau bahan in natura), sesudah berkat, dll.
    Oleh karena paduan suara harus menyesuaikan diri dengan Tata Ibadah, maka patutlah pemimpin paduan suara menghubungi pemimpin ibadah mengenai persembahan nyanyian-nyanyian sebelum ibadah dimulaikan (berhubung dengan latihan sebaiknya beberapa hari sebelum ibadah bersangkutan). 
Dalam hal ini juga pemimpin ibadah dapat mengambil suatu inisiatif untuk mencapai suatu persetujuan mengenai persembahan nyanyian-nyanyian oleh Paduan Suara.
    Kecuali seorang pengajar nyanyian, maka juga paduan suara dapat mengembangkan nyanyian jemaat. Beberapa lagu baru atau lagu lama yang salah dinyanyikan dapat dipelajari bersama sebelum ibadah dimulai dan langsung sesudah itu dapat dinyanyikan dalam ibadah pada tempatnya yang fungsional sesuai dengan pentunjuk-petunjuk pemimpin ibadah.

MUSIK
    Pada akhir bagian keterangan buku ini terdapat musik sambutan-sambutan jemaat yang tidak tercantum dalam buku MAZMUR DAN KIDUNG JEMAAT.
    Dalam bagian ini dicatat ragam-ragam yang sudah lazim dipakai oleh jemaat, tetapi juga dari beberapa ragam baru yang masih harus dipelajari bersama. Bilamana di bawah ini diberi beberapa ragam untuk satu sambutan, maka setiap jemaat bebas untuk memilih ragam mana yang akan berlaku di jemaat bersangkutan. Juga setiap jemaat bebas untuk memilih antara hanya satu kali atau tiga kali menyanyikan “Amin”, “Hosana”, “Haleluya”, walaupun dalam 50 Tata Ibadah sudah diberikan usul-usul tertentu mengenai hal ini.
                 
Menyanyi:      NNBT No.47,48


1. AMIN
Direkomendasikan:
    



Atau:
        




2. AMIN, AMIN, AMIN
Direkomendasikan :
        



Atau:
        



Atau:
        



Atau:
            



Atau:
        



3. AMIN. AMIN. AMIN. AMIN. AMIN.
Direkomendasikan:







Atau:
        


4. HOSANA
Direkomendasikan :
                




5. HOSANA, HOSANA, HOSANA
Direkomendasikan :
            



Menyanyi : NNBT No.49,50

6. HALELUYA
Direkomendasikan :
        

    


7. HALELUYA, HALELUYA, HALELUYA
Direkomendasikan :
        




8.   SELAMANYA. AMIN.
        




9.   TUHAN KASIHANI KAMI (Lihat KJ No. 42; 43; 44;( NKB No. 24; 25)

10. ANAK DOMBA ALLAH (Lihat KJ No. 312)
11. FIRMANMU PELITA BAGI KAKIKU
        
















12. BAPA KAMI  YANG DI SORGA (Lihat NNBT No. 18)







Daftar Label dari Kategori Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya





Lagu-lagu Remaja GMIM, Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat



MENU UTAMA:
Album Remaja GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM(6)
Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya(46)
Berita GMIM 2022(2)
Contoh Doa GMIM(7)
Contoh Tata Ibadah GMIM(30)
Doa Doa GMIM(3)
Dua Sahabat Lama (DSL)(115)
Khotbah MTPJ GMIM 2020(47)
Khotbah MTPJ GMIM 2021(95)
Khotbah MTPJ GMIM 2022(88)
Khotbah MTPJ GMIM 2023(269)
Khotbah MTPJ GMIM 2024(233)
Khotbah MTPJ GMIM 2025(59)
Khotbah MTPJ GMIM 2026(19)
Kidung(5)
Kumpulan Lagu Ibadah Kreatif dan KKR (KLIK)(467)
Lagu Pilihan(11)
Lagu-lagu Remaja GMIM(9)
Lagu-lagu Sebelum Doa Syafaat(20)
MARS GMIM(9)
MTPJ 2019(42)
NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU BAGI TUHAN (NNBT)(51)
Pembacaan Alkitab GMIM 2017(124)
Pembacaan Alkitab GMIM 2018(53)
Pembacaan Alkitab GMIM 2019(11)
Pembacaan Alkitab GMIM Setahun(6)
Tata Ibadah GMIM(26)
Tentang GMIM(8)
xx(15)
xxKhotbah MTPJ GMIM 2025(1)
xxx(9)

Arsip Bentuk Tata Ibadah GMIM Lainnya..

Register   Login  

https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1036,   renungan gmim untuk ibadah remaja,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1375#.Ylqy7_f7MWM,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?tag=Khotbah%20MTPJ%20GMIM%202022,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1852,   khotbah gmim Filemon 1 : 4-22,   buku lagu pemuda gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   https://gmim.lagu-gereja.com/index.php?ipage=1851,   teks mars pria kaum apa gmim,   tata ibadah pemuda gmim,   Tata ibadah menyambut NATAL gmim 2021,   tata ibadah menyambut natal remaja gmim,   MTPJ GMIM minggu adven 2,   khotbah gmim markus 4 : 35-41,   Renungan pemuda Remaja GMIM 2021,   mtpj 8 november 2021,   Dodoku GMIM MTPJ,   Khotbah GMIM Minggu ini,   MTPJ GMIM 2021,   mtpj,   mtpj gmim bulan nopember 2021,